Sleep With the Devil (KookV version)
Original story by Santhy Agatha
Rated : M
Cast :
Kim Taehyung as Lana
Jeon Jungkook as Mikail Reveno
Kim Namjoon as Norman
Ren as Theo
Warning : YAOI, M-preg, typo(s).
...
a/n : Seperti yang tertera di atas, semua isi cerita ini adalah milik kak Santhy Agatha. Saya hanya meremake cerita ini dengan tambahan/pengurangan beberapa kata agar lebih cocok dengan tema yaoi-nya. Mohon maaf kalau ada beberapa kata yang tidak teredit. Intinya, saya cuma mau memuaskan para KookV shipper yang barangkali ingin membaca remake novel ini versi KookV-nya.
...
BAB 10
Taehyung tertegun. Ulang tahunnya yang kedua puluh lima sebentar lagi. Kenapa Jungkook bisa mengetahui detail hari ulang tahunnya? Taehyung tertarik, tetapi ia akan memuaskan Jungkook kalau ia mengikuti Jungkook untuk berbicara dengannya. Jangan-jangan memang itu tujuan Jungkook, supaya ia tidak hujan-hujanan dan mengikuti perintah Jungkook.
"Nanti aku akan menyusulmu kalau aku sudah puas di sini."
Api menyala di mata Jungkook, dan tampak jelas lelaki itu mencoba menahan diri.
"Terserah, setelah kau selesai dengan urusanmu, temui aku di ruang kerjaku," suaranya lebih seperti geraman, kemudian membalikkan badan dengan marah.
Setelah puas menikmati hujan, Taehyung masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian dan makan malam. Ia sengaja tidak menemui Jungkook, lagipula sepertinya lelaki itu tadi hanya asal bicara ketika bilang ingin berbicara tentang hari ulang tahunnya. Dan Taehyung tidak yakin kalau Jungkook akan menunggunya. Lelaki itu sepertinya sangat sibuk dan punya banyak urusan.
"Kenapa kau tidak menemuiku di ruang kerjaku?"
Suara di kegelapan itu mengagetkan Taehyung. Ia menajamkan matanya dan melihat Jungkook duduk di sana, di keremangan kamarnya.
"Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa izin?" Taehyung berteriak kaget, tangannya meraba-raba saklar lampu di dinding, berusaha menghilangkan kegelapan yang menyelubungi Jungkook, karena lelaki itu tampak lebih menyeramkan di antara cahaya yang remang-remang.
Taehyung berhasil menyalakan lampu dan cahaya itu langsung menyelubungi Jungkook. Dia duduk di sofanya, dengan santai, hanya memakai piyama sutera warna hitam dan di sebelah tangannya memegang gelas minuman. Taehyung melirik ke botol brendy yang entah berasal dari mana, yang sepertinya sudah dituang Jungkook selama menunggunya.
Apakah lelaki itu mabuk? Jantung Taehyung mulai berdegup. Dalam keadaan sadar saja emosi Jungkook sangat tidak mudah ditebak, apalagi dalam kondisi mabuk.
"Apa yang kau lakukan di sini, Jungkook?"
Jungkook mendengus dan menatap Taehyung dengan tajam, "kau pikir apa? Aku menunggumu di ruang kerjaku dan kemudian menyadari bahwa kau, dengan kepalamu yang keras itu memutuskan untuk melawanku."
Taehyung mundur ke belakang, melirik pintu putih itu, dan berusaha sedekat mungkin di sana, sehingga ketika Jungkook bertindak di luar batas ia bisa segera melarikan diri.
Jungkook tersenyum melihat tingkah Taehyung, "kau seperti kelinci ketakutan lagi, Taehyung. Apakah kau takut aku akan melakukan sesuatu yang kejam? Seperti mencampurkan obat ke dalam minumanmu, atau... melemparkanmu dari balkon lagi?" Jungkook menyeringai, meletakkan gelasnya dan berdiri, kemudan berjalan mendekati Taehyung.
"Apa kau sedang mabuk, Jungkook?" Taehyung melirik ke arah pintu, hanya butuh beberapa detik Jika Taehyung ingin melarikan diri dari Jungkook. Ia pasti bisa melakukannya.
"Jeon Jungkook tidak pernah mabuk," Jungkook melangkah mendekat dengan tenang, seperti singa yang mengendap endap mengincar mangsanya, "dan kau... seharusnya kau mendengarkan apa yang kuperintahkan, Taehyung."
Taehyung tahu di situlah titiknya. Di situlah titik Jungkook kehilangan kesabarannya, karena itulah Taehyung langsung melompat dan mencoba melarikan diri ke pintu. Ia berhasil membuka pintu itu sedikit, sebelum dengan gerakan lebih cepat dan tanpa suara, Jungkook sudah ada di belakangnya, mendorong pintu itu hingga menutup kembali sebelum sempat terbuka sepenuhnya.
Jungkook mendorongnya rapat ke pintu, dan dengan terkejut Taehyung bisa merasakan kejantanan Jungkook yang mendesak keras di bagian belakang tubuhnya. Ia ingin bergerak dan menghindar, tetapi ternyata Jungkook sudah menahannya di semua sisi.
Taehyung ketakutan. Apakah ia akan dipaksa lagi? Udara mulai terasa menyesakkan dan Taehyung mulai terengah-engah.
"Aku tidak pernah bercinta sambil berdiri," Jungkook berbisik di telinganya dengan bisikan panas yang membuat sekujur tubuh Taehyung menggelenyar, "dan kau membuatku ingin melakukannya."
Taehyung terkesiap, mencoba meronta sekuat tenaga. Tetapi percuma, karena Jungkook begitu kuat menahannya.
"Apakah kau akan memaksaku lagi, Jeon Jungkook?!" Taehyung berteriak di tengah usahanya membebaskan diri, "kalau iya, maka kau sudah membuktikan kepadaku, kalau kau memang lelaki bajingan yang hanya bisa mendapatkan kepuasan dari pemerkosaan."
Kata-kata Taehyung rupanya berhasil membuat kesadaran Jungkook kembali. Lelaki itu tertegun. Dan sedetik kemudian yang melegakan, Jungkook melepaskan Taehyung.
"Sialan kau!" Jungkook berbisik marah di telinga Taehyung dan meninggalkannya sendirian.
Taehyung berusaha menyandarkan dirinya di pintu, napasnya terengah-engah dan ia merasa lepas. Gairah Jungkook ternyata juga mempengaruhinya. Dan Taehyung semakin takut akan tiba saat dimana ia menyerah ke dalam pelukan Jungkook.
.
Hari ini hari Minggu, seharusnya menjadi hari istirahat yang menyenangkan bagi semua orang. Tetapi emosi Jungkook luar biasa buruknya pagi itu dan menyebar ke seluruh penjuru rumah. Suasana rumah jadi menegangkan. Seluruh pelayan berbicara sambil berbisik-bisik ketakutan, membicarakan Tuan mereka yang hanya marah-marah seharian ini.
Pagi tadi Jungkook sudah membanting gelas di meja hingga anggurnya berceceran menodai taplak meja yang berwarna putih, hanya karena minumannya tidak cocok dengan seleranya, ia memanggil Namjoon dan membentaknya karena beberapa pengawal belum berjaga di gerbang depan. Bahkan sekretaris dan pengatur keuangan rumah tangganya pun ikut terkena kemarahannya ketika ia memeriksa laporan di ruang kerjanya tadi.
Sekarang semua orang saling bersembunyi berusaha menghindari agar tidak berurusan dengan Tuan mereka yang begitu mengancam, seperti beruang yang terluka.
Namjoon masuk dengan hati-hati ke ruang kerja Jungkook.
"Ada apa?"
"Baju-baju untuk Tuan Taehyung sudah datang."
"Bagus."
"Apakah kita harus memesan pakaian sebanyak itu? Bukankah Tuan sendiri bilang tidak akan menahan Taehyung lebih lama?"
"Tutup mulutmu, Namjoon!" Jungkook menggeram, "biarkan aku mengurus apa yang menjadi urusanku sendiri!"
Namjoon mengangguk, menyadari bahwa tuannya sudah hampir meledak marah dan memilih pergi daripada terkena semprotan kemarahan lagi seperti pagi tadi.
Jungkook berdiri mondar-mandir dalam ruangannya, kemudian berhenti dan menuangkan segelas vodka murni untuk dirinya sendiri. Ia meneguknya, dan cairan putih itu terasa begitu membakar ternggorokannya.
Tubuhnya begitu bergairah. Mengingat sekian lama ia menahan diri. Ia bisa saja melampiaskan gairahnya kepada orang-orang yang memujanya dan pasti bersedia melakukan apapun untuknya. Tetapi ia tidak ingin sembarang orang, ia ingin Taehyung. Sialan! Kenapa pikirannya terus-menerus tertuju kepada lelaki itu?
Dengan rasa frustrasi yang masih memenuhinya, ia melangkah panjang-panjang ke arah kamar Taehyung, membuka kamar itu tanpa permisi, dan menemukan Taehyung ada di kamar.
Ren ada di sana, memamerkan baju-baju pesanan yang baru datang untuk Taehyung, sedangkan lelaki itu hanya duduk di sana, menatap pakaian-pakaian mahal itu dengan bosan.
Ren langsung menghentikan kegiatannya dan meminta izin keluar begitu Jungkook masuk dengan wajah muram.
"Kau menyukai pakaian-pakaian itu?"
"Apakah pendapatku penting?"
Jungkook menatap Taehyung marah, "apa maksudmu?"
"Bukankah di rumah ini apa yang diinginkan Jeon Jungkook bagaikan perintah raja yang harus dituruti? Aku melihat sendiri bagaimana orang-orang hilir mudik, panik seharian mengatasi amarahmu yang tidak ada habisnya itu."
"Oh, ya? Dan kau pikir itu karena siapa?"
Taehyung menegakkan dagunya menantang, "karena siapa?"
"Karena kau, dasar pria kecil yang keras kepala!"
Taehyung mengernyit marah, "dan apa yang kulakukan padamu wahai Tuan Jeon Jungkook yang baik hati?"
"Kau selalu menantangku hingga aku harus menahan diri di batas kesabaranku, sikapmu itu membuatku muak!"
"Kau pikir aku harus bagaimana, Jungkook? Kau musuhku, meskipun sekarang aku memutuskan sedikit bekerjasama dengan tidak mencoba kabur, kau tetaplah musuhku. Dan ketika aku merasa keadaan sudah baik, aku akan tetap menuntut dibebaskan."
"Selalu ke arah itu," gumam Jungkook kesal, "aku masih belum ingin membahasnya," lelaki itu menatap Taehyung tajam, "aku memintamu melakukan sesuatu untukku."
Taehyung mengangkat alisnya, tertarik. Jungkook tidak pernah meminta sesuatu. Lelaki itu terbiasa memerintah lalu ketika perintahnya tidak dituruti, ia akan memaksakan apapun yang diinginkannya.
"Ya, aku memintamu menghilangkan dendammu itu dan mencoba menerimaku sebagai kekasihmu."
Taehyung melangkah mundur tanpa sadar, "menerimamu sebagai apa...? Apa kau sudah gila?!"
"Hmm... Aku bahkan punya rencana yang lebih gila dari itu, lebih daripada yang bisa kau bayangkan, kau akan tahu nanti," matanya menatap Taehyung penuh rahasia, "tapi yang pasti, gairah di antara kita begitu membara dan aku tidak munafik untuk mengakuinya di depanmu, aku selalu terangsang ketika melihatmu. Aku terangsang ketika membayangkanmu, aku ingin menidurimu setiap saat..."
"Hentikan kata-kata vulgarmu itu!" Taehyung berteriak, ingin menutup telinganya yang terasa panas.
Jungkook terkekeh, "mungkin kau perlu merasakan sendiri, bagaimana aku tergila-gila pada tubuhmu," lelaki itu meraih Taehyung ke dalam pelukannya dengan lembut, dan langsung melumat bibirnya. Jungkook melumat seluruh bibir Taehyung, dan kemudian lidahnya masuk, menjelajahi mulut Taehyung, bertautan dengan lidah Taehyung dan kemudian menjelajahi seluruh diri Taehyung, bibirnya bergerak melumat bibir Taehyung tanpa ampun. Lelaki itu begitu bergairah tetapi tetap bersalut kelembutan, dan sejenak Taehyung terhanyut dalam ciuman yang luar biasa itu, sampai kemudian ia merasakan kejantanan Jungkook yang begitu keras kembali menekan tubuhnya.
Dengan napas terengah-engah Taehyung melepaskan dirinya dari pelukan Jungkook.
"Taehyung... kau sudah siap untukku." mata Jungkook menyala penuh gairah, "kenapa kau tidak mau mengakuinya dan tidak saling menyiksa seperti ini?"
"Aku tidak menginginkanmu sebagai kekasihku dan aku tidak siap untuk apapun yang berhubungan denganmu." Bantah Taehyung keras.
Jungkoo menyipitkan mata, menatap Taehyung dengan tatapan menuduh.
"Benarkah? Tadi kau hanyut dalam ciumanku, bibirmu panas dan melembut untukku, siap menerimaku."
Siapa yang tidak menginginkan lelaki yang luar biasa tampan ini? Semua perempuan dan lelaki biseks pasti bermimpi bisa ada di dalam pelukannya, semua pasti membayangkan bagaimana kalau lelaki sekejam Jungkook berperilaku lembut. Oh, Taehyung pernah merasakannya, beberapa kali malahan, dan ingatan tentang hal itu membuat tubuhnya memanas.
"Kau adalah pembunuh orang tuaku," Taehyung menatap Jungkook dengan penuh kebencian, "dan bagiku itu adalah dosa yang tak termaafkan, aku akan selalu menyalahkanmu atas hal itu."
Tertegun sejenak, lalu Jungkook mundur selangkah dengan begitu dingin, "baik."
Dan ketika Taehyung mengangkat kepalanya, Jungkook sudah keluar dari ruangan itu. Taehyung menghembuskan nafas panjang.
Apakah ia salah? Tetapi bukankah semua yang dilakukan Jungkook atas dasar nafsu? Lelaki itu jelas-jelas bergairah kepadanya dan menginginkannya. Tetapi setelah itu apa? Taehyung tidak mau jatuh dalam jerat rayuan Jungkook. Seperti para kekasih Jungkook yang dicampakkan begitu saja setelah lelaki itu puas. Setidaknya meskipun ia gagal membalaskan dendamnya, ia bisa pergi dari kehidupan Jungkook dengan penuh harga diri.
.
Jungkook berdiri malam itu di tengah taman di depan rumahnya, berharap udara dingin bisa meredakan gairahnya yang membuat tubuhnya begitu panas. Ditatapnya jendela kamar Taehyung di lantai dua.
Jendela itu terbuka, dan cahaya temaram memantul dari sana, tampak begitu jelas. Jungkook menatap jendela itu dengan frustrasi. Lelaki itu ada di sana dan Jungkook seharusnya bisa dengan mudah memilikinya. Tetapi sikap lelaki itu seolah-olah membuatnya merasa menjadi bajingan menjijikkan kalau ia sampai memaksakan kehendaknya kepada Taehyung.
Jungkook tertegun ketika melihat bayangan Taehyung terpantul dari jendela kamar. Sepertinya Taehyung berdiri di dekat lampu tidur di samping ranjangnya, karena bayangannya muncul dari gorden jendela bagaikan siluet gelap yang erotis.
Taehyung tampak sedang berjalan mondar-mandir di kamarnya, dan Jungkook menatapnya dengan penuh minat. Lalu lelaki itu membuat gerakan membuka pakaiannya. Jungkook menelan ludah, melirik ke sekelilingnya yang sepi, mulai merasa tidak nyaman karena membuat dirinya seperti seorang pengintip mesum yang mengintip siluet seseorang yang sedang berganti baju dengan penuh gairah.
Siluet Taehyung melepas kemejanya, dan tubuh bagian atasnya yang polos terpantul dalam bayangan gelap dengan bentuk tubuh yang menggoda. Sialan! Jungkook mulai mengumpat ketika bayangan Taehyung di jendela membuat gerakan mengangkat salah satu kakinya ke ranjang dan tampaknya melepas celana panjangnya.
Gerakan itu tampak sangat seksi di bawah sini, dan Jungkook menggertakkan giginya dengan marah. Ia benar-benar siap meledak, dan Taehyung malah memperburuk keadaan dengan pantulan bayangannya di jendela –meskipun dia tidak sengaja. Dan Jungkook sungguh-sungguh siap meledak dalam arti yang sebenarnya saat ini mengingat kejantanannya sudah begitu keras hingga terasa menyakitkan. Dengan geraman marah, Jungkook melangkah terburu-buru menaiki tangga, membanting kakinya di setiap langkahnya, dibukanya pintu kamar itu dengan kasar. Matanya membara dan siap untuk bertengkar.
Jungkook menemukan Taehyung sedang duduk di sofa, sudah berganti dengan pakaian tidurnya dan sedang membaca sebuah buku.
Taehyung mengangkat alis melihatnya, tampak begitu tenang, "ada apa, Jungkook?"
Jungkook terengah menahan kemarahan, "jendela itu!" tunjuknya marah, lalu melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan dan menutup kaca jendela itu dengan kasar, ia membalikkan tubuhnya menghadap Taehyung dengan posisi siap bertarung, "lain kali tutup rapat-rapat jendela itu kalau sudah malam!" teriaknya marah.
Taehyung menatap Jungkook bingung, "memangnya kenapa?"
Karena aku melihatmu berganti pakaian, bagaikan siluet erotis dari bawah! Karena pemandangan itu membuatku terangsang sampai terasa nyeri! Karena...
Jungkook berdiri dengan tatapan membakar, siap memuntahkan emosinya, tetapi kemudian menyadari bahwa ia hanya akan tampak bodoh kalau meluapkan apa yang ada di pikirannya. Ditatapnya Taehyung dengan dingin dan mendesis pelan, "pokoknya tutup jendela itu kalau sudah malam!" Dan dengan penuh harga diri, Jungkook melangkah keluar dari kamar Taehyung, meninggalkan pintu berdebam di belakangnya.
.
Pagi itu tak seperti biasa, ada dua pelayan muda yang membereskan kamar Taehyung, sepertinya mereka orang baru.
Taehyung masih duduk di sana selepas mandi dan membiarkan para pelayan itu membereskan ranjangnya.
Salah seorang pelayan itu menarik bed cover Taehyung, ia tampak memeriksa sepreinya, lalu berbisik-bisik satu sama lain dan tertawa cekikikan, ketika Taehyung menatap mereka dengan dahi berkerut, dua pelayan perempuan itu memasang muka datar dan bergegas pergi.
Taehyung menoleh ke arah Ren, yang juga ada di ruangan itu, sedang membereskan baju-baju Taehyung yang sepertinya tidak ada habisnya dan terus berdatangan itu ke dalam lemari pakaian Taehyung.
"Kenapa mereka bersikap seperti itu?" tanya Taehyung ingin tahu.
Ren melirik ke arah kepergian pelayan itu dan tersenyum, "mereka orang baru, dan tentu saja sangat penasaran denganmu."
"Penasaran denganku?"
"Kekasih Tuan Jungkook yang terbaru," jawab Ren datar, "ah, kau tidak tahu, ya? Semua orang membicarakan kalian. Bahkan, namamu sempat muncul di beberapa tabloid gosip dan acara-acara gosip, yang membahas kekasih terbaru Jeon Jungkook yang misterius. Kau adalah satu-satunya kekasih Tuan Jungkook yang pernah tinggal bersamanya, dan mereka menebak-nebak serta mencari bukti bahwa kalian telah bercinta, karena itulah tadi para pelayan tertawa cekikikan ketika memeriksa sepraimu."
Pipi Taehyung merah padam, tetapi Ren sepertinya tidak menyadarinya, dan tetap melanjutkan kata-katanya, "yah, para pelayan itu mungkin saling berspekulasi dan menanti, kapan saat mereka akhirnya bisa menemukan bukti-bukti bahwa kalian tidur bersama untuk dijadikan bahan gosip selanjutnya," gumamnya dalam senyum, lalu menatap Taehyung sambil mengangkat alisnya, "hei, aku juga penasaran. Kalau mereka serius mencarinya, apakah mereka akan menemukan bukti-bukti itu, Taehyung?" Tanyanya penuh arti, membuat pipi taehyung semakin merah padam.
.
"Tuan Taehyung?" Namjoon masuk dan mengangkat alis ketika melihat Taehyung mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah.
"Apa?" Suara Taehyung tanpa sadar menegang. Semua yang berhubungan dengan Jungkook membuatnya tegang dan ingin mengumpat pada siapapun yang ada di dekatnya.
"Tuan Jungkook ingin bertemu anda."
Bagus. Taehyung menganggukkan kepalanya dan mengikuti Namjoon, lalu tertegun setengah mengernyit ketika Namjoon membawa Taehyung ke kamar Jungkook.
"Di kamar ini?"
Namjoon mengangguk, dan entah Taehyung salah lihat atau tidak, hanya sedetik ia sempat melihat sinar geli di mata lelaki itu. Kurang ajar. Jangan-jangan mereka semua mentertawakan ketakutannya pada Jungkook.
"Ya, Tuan. Tuan Jungkook ingin menemui anda di kamar ini."
Sejenak Taehyung ingin kabur saja. Tetapi Taehyung sadar, ini sebuah tantangan, Jungkook menantangnya dan Taehyung tidak akan kalah.
"Baiklah," Taehyung menghela napas dalam-dalam dan membiarkan Namjoon membukakan pintu untuknya.
Ia langsung berhadapan dengan Jungkook yang berdiri dengan begitu tampan di tengah ruangan. Lelaki itu menunggu Namjoon menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua sendirian.
"Selamat malam, Taehyung," Jungkook tersenyum tenang, "sebenarnya aku ingin membahas hal-hal yang berkaitan dengan ulang tahunmu yang ke duapuluh lima..." Senyumnya berubah misterius, "tetapi kemudian aku sadar bahwa pembiacaraan baik-baik tidak akan ada gunanya di antara kita, jadi aku langsung saja."
Hening, Jungkook terdiam dan Taehyung menunggu dengan penuh ingin tahu pada apa yang akan dikatakan lelaki itu.
"Aku sudah memutuskan masa depanmu."
Mata Jungkook begitu kelam seperti danau kecoklatan di kegelapan malam.
Masa depannya? Memangnya siapa lelaki ini bisa memutuskan masa depannya? Taehyung ingin meledak dalam kemarahan, tetapi tidak mampu. Jungkook tampak berbeda, dia tampak begitu tenang tetapi dibalut kemarahan berbahaya, begitu dingin sekaligus mempesona.
Lagipula, kenapa Taehyung berpikir bahwa Jungkook mempesona? Sambil mengutuk dirinya sendiri, Taehyung mencoba menghapus pikiran-pikiran yang mengarah pada keterpesonaannya kepada Jungkook.
Taehyung mengamati Jungkook lagi dan sedikit merasa tidak nyaman, karena melihat Jungkook begitu tenang, tanpa sedikitpun emosi malah terasa lebih menakutkan.
Taehyung tidak suka, ia lebih suka Jungkook yang meledak-ledak karena amarahnya daripada Jungkok yang seperti ini. Dengan Jungkook yang meledak-ledak, Taehyung bisa melawan dengan emosinya, tetapi dengan Jungkook yang begitu dingin yang bisa dilakukan Taehyung hanyalah menyurut mundur, ketakutan.
Jungkook mengamati reaksi Taehyung, ia melemparkan pandangan menilai, lalu melanjutkan kata-katanya, "kau harus menjadi kekasihku yang sebenar-benarnya, Taehyung. Mulai malam ini," Jungkook mulai berdiri, "aku hanya sekali memberikan penawaran. Kau jadi kekasihku, dan aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kalau kau menolak, aku akan menganggapmu tak berharga dan melemparmu kepada pengawal-pengawalku."
Apa?
Keringat membasahi dahi Taehyung. Jungkook bercanda, bukan? Apa maksudnya melemparnya kepada pengawal-pengawalnya? Apakah Jungkook ingin memberikannya supaya diperkosa oleh para pengawalnya? Jungkook tidak mungkin sekejam itu, bukan? Taehyung menatap mata Jungkook dengan ketakutan, mencoba mencari kebenaran di sana, tetapi ia tidak menemukannya.
Lelaki ini kejam, dan siapa tahu apa yang akan dilakukannya?
"Bagaimana, Taehyung? Aku atau kau dibuang ke para pengawalku?"
Taehyung menatap Jungkook marah, "kau tidak akan berani melakukan hal menjijikkan semacam itu."
"Jangan menantangku, Taehyung," desis Jungkook tajam, "aku bukannya belum pernah melakukannya kepada kekasih yang kuanggap tidak berguna lagi."
Taehyung tertegun. Apakah Jungkook benar-benar serius?
"Kau hidup di sini dengan mewah, diperlakukan seperti anak raja, dihormati layaknya kekasih Jeon Jungkook dan aku sudah muak dengan kelakuanmu yang selalu menantangku setiap ada kesempatan. Sekarang hanya ini pilihanmu dan kau akan memutuskan sekarang. Aku atau dibuang kepada para pengawalku?"
Apakah ia bisa melarikan diri dari sini? Taehyung ingin berteriak panik, ataukah ia harus bunuh diri saja? Tetapi Taehyung yakin Jungkook tidak akan membiarkannya. Oh, dengan kekejamannya mungkin Jungkook akan membiarkan Taehyung mati, tetapi dia akan memastikan Taehyung menderita dulu sebelumnya.
"Kau..." Taehyung menelan suara yang dikeluarkannya dengan berat.
Ada nyala di mata Jungkook, "apa, Taehyung? Aku tidak mendengar."
Jungkook sengaja dan Taehyung menggeram marah dalam hatinya, kurang ajar lelaki itu!
"Kau, aku memilih kau."
Senyum di bibir Jungkook adalah senyum kemenangan yang dingin.
"Kalau begitu, datanglah kemari, kekasihku," lelaki itu membuka tangannya, dan Taehyung melangkah dengan tertahan ke arahnya.
Dengan sensual, lelaki itu meraih Taehyung dan mengecup bibirnya sekilas.
"Bagus, jangan uji kesabaranku, aku tidak mau dilawan malam ini."
*TBC*
Mind to review?
Author's note :
(Penting! Harus dibaca demi masa depan ff ini.)
Halo, readers-deul, saya mau mengadakan voting, nih.
Menurut kalian, tokohnya Natasha Revano(yang udah pernah baca pasti tahu) disini cocoknya tetep cewek atau atau jadi cowok? Saya sudah edit yang bab itu tapi ada dua versi, yang pertama si Natasha Revano-nya saya ubah jadi cowok dan (pastinya) Mpreg, terus yang kedua tetap jadi cewek dengan OC buatan saya, tapi masih bingung mau publish yang versi apa. Jadi saya adain vote, saya menyerahkan keputusannya pada kalian. Jadi jangan lupa review ya? #ini bukan modus buat nambah review lho~
.
Ngomong-ngomong.. saya sudah lama gak update, ya? kalian pasti kesal ya sama saya? maaf ya, lagi-lagi buat kalian nunggu. Tapi saya sangat berterimakasih karena kalian masih mau baca ff ini. Juga menyempatkan waktu untuk ngereview(walaupaun reviewnya lagi-lagi gak di balas, tapi saya baca satu-satu kok, dan saya senang banget baca respon dari kalian).
Soal review-nya taennie, saya mungkin gak bakal publish ff Back Together di FFn, karena ceritanya masih ngambang(itu juga belum di update sampai sekarang), jadi cukup di wattpad saja. Jika memungkinkan, saya bakal publish ff yang lebih bagus di FFn.
Sekian author's note kali ini(karena sudah terlaaaaaalu panjang). Sekali lagi terimakasih buat yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca, ngereview, ngefav, ngefollow ff ini, saya sangat berterimakasih, karena kalian ff ini masih berlanjut, jangan bosen baca sama ngereview lagi yaa!
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
