Criteria That Boy

.

.

Sehun – Luhan

.

.

E

.

.

Humor, Romance, NC (Cuma sepenggal), Drama

.

.

.

Blam!

Luhan keluar dari sebuah ruangan sambil menutup mulutnya. Setetes liquid mengalir di pipinya yang putih dan sedikit tirus. Telapak yang tengah membekap mulutnya di tuntun untuk menghapus satu tetes air mata itu seraya berjalan menjauhi ruangan kekasihnya yang tengah asik dengan seorang namja.

Ia sangat kecewa dengan kekasihnya yang bahkan tak menghiraukan kepergiannya dan malah asik dengan namja itu di dalam ruangan. Luhan rasa ia adalah orang paling bodoh sedunia. Ia bahkan tak seharusnya bersikap lemah seperti ini. Pemuda jangkung yang baru saja jadi mantan kekasihnya beberapa menit yang lalu itu tak pantas untuk setets liquid dari mata indahnya.

Kaki mungilnya tergesa-gesa keluar gedung dengan napas memburu ia berbalik menghadap gedung bertingkat 200 itu dengan raut wajah geram menengadah ke atas dan menunjuk gedung itu dengan telunjuk tangannya membuat orang-orang yang melihat itu menatapnya aneh.

"KAU!" teriak Luhan membahana membuat dirinya jadi tontonan sekitar "KAU NAMJA BRENGSEK JANGAN PERNAH TAMPAKAN DIRIMU LAGI DI HADAPANKU! AKU MEMBENCIMU, KRIS WU SIALAN! SEMOGA KAU MENDAPAT KARMA! Uhuk! Uhuk!" teriaknya penuh amarah. Tatapan aneh sekitar ia hiraukan dan memilih pergi setelah berteriak sampai terbatuk. Namun, belum beberapa jauh dari gedung itu, ia berbalik kembali dan berteriak sambil menunjuk gedung tempat Kris Wu, mantan pacarnya berada

"AKU MENGUTUKMU KRIS WU! SEMOGA NAMJA PENDEK ITU JUGA MENGKHIANATIMU KELAK!" teriaknya tak sadar kalau dirinya juga pendek.

.

.

.

.

"HAH?! KALIAN PUTUS?! BAGAIMANA BISA?!"

Luhan memasukan sesendok nasi ke mulutnya dengan kasar seraya menatap Kyungsoo yang matanya sudah mau keluar dengan raut wajah kesal.

"tentu saja bisa! Memangnya apa yang membuatku harus mempertahankan namja brengsek dan payah seperti dia?!" bentak Luhan muncrat. Ia sedang kesal dan tambah kesal mendapati pertanyaan tak berbobot dari Kyungsoo yang hanya bisa mengusap wajahnya dengan kesal karna kena muncratan nasi dari Luhan.

Pemuda dengan bentuk mata bak anak rusa itu meletakan sumpitnya di atas meja dan meminum airnya lalu meletakan gelas itu dengan kasar di atas meja. Ia tak perduli dengan tatapan seisi café karna dari kemarin ia sudah tak perduli lagi dengan sekitarnya. Ia benar-benar kesal

"kau tau? Aku sangat membencinya, aku harus membencinya tapi kenapa air mataku keluar untuk menangisi ini?.." Luhan mengambil tisu yang di sodorkan oleh Kyungsoo saat sahabatnya itu mendengar suara Luhan mulai bergetar dengan rengekan di akhir kata. Matanya sudah bengkak karna semalaman menangis. Ia tak menyangka percintaannya sepayah ini.

"kami putus, dan sekalipun dia belum pernah menciumku…., bibirku masih perawan.. huhuhu…" Luhan benar-benar tak sadar apa yang ia katakan di dengar seisi café. Memalukan! Kyungsoo kembali menyodorkan selembar tisu dan Luhan menerimanya setelah membuang tisu tadi ke keranjang sampah yang entah sejak kapan sudah ada di sampingnya.

"dia hanya memberiku barang-barang yang sudah pasti bisa aku dapatkan dengan uang dan kekayaan orang tuaku! Tapi, sesuatu yang ku inginkan tak pernah terpenuhi. Aku ingin memenuhi hasratku tapi dia selalu menghindar saat aku mencoba untuk menciumnya atau menggodanya melakukan 'itu' padaku. Aku tak tau apa yang salah padaku—"

SROOOTT!

Luhan menarik ingusnya menatap Kyungsoo

"apa aku terlihat begitu jelek hingga dia tak menginginkanku?" Kyungsoo menggeleng

"percayalah, kau bahkan nyaris sempurna." Luhan membenturkan kepalanya di atas meja café dan tangisanya pecah setelah mendengar penuturan Kyungsoo. Beberapa pengunjung café menatap Luhan ngeri dan para pelayan hanya bisa menunduk saat melewati meja Kyungsoo dan Luhan.

.

.

.

Satu minggu berlalu dan Luhan sudah bisa kembali ke aktivitas biasanya. Pergi ke kantor dan menjabat sebagai presdir muda di salah satu saham ayahnya. Menyibukan diri dan membuang semua yang menyangkut tentang Kris.

Setelah ia pikir-pikir. Kyungsoo memang benar, ia nyaris sempurna dengan fisik yang bagus, tenar dan kekayaan melimpah. Hanya orang bodoh yang akan mencampakannya seperti Kris. Yeah, Kris itu juga termasuk orang bodoh. Kris, cinta dan pacar pertamanya di usia yang sudah menginjak 21 tahun.

Bahkan di usia seperti itu ia belum pernah merasakan sesnsasi berciuman atau lebih. Luhan pikir dirinya benar-benar payah. Pacar Kyungsoo yang lebih muda darinya saja lebih hebat. Kyungsoo pernah cerita kalau pacarnya itu sangat mesum, padahal Kai—pacar Kyungsoo—hanya seorang remaja SMA tapi sudah pernah bertarung ranjang dengan Kyungsoo.

Luhan cemberut. Ia merasa telah menjadi perjaka tua.

Sebenarnya dengan segala yang ia miliki. Ia bisa saja dengan mudah mengajak kencan pria atau wanita manapun. Bahkan putri presiden yang terkenal sangat cantik sentario Korea itu, tapi mengingat kelakuan Kris membuatnya tak ingin menginjak ranjau yang sama.

Ia akan memikirkan baik-baik pria/wanita seperti apa yang pantas dan tidak akan mencampakannya.

Hhh…. Memikirkan itu membuat Luhan ingin buang air besar hingga kini kaki mungilnya membawa pemuda itu ke toilet yang ada di ujung lobi kantornya. Berjalan santai sesekali ia melirik karyawannya yang tengah bekerja. Menelisik ada yang cocok dengan criteria barunya atau tidak.

Ia melihat wakil direktur ayahnya yang entah ada angin apa datang ke sana. Postur tubuh pemuda jangkung itu mengingatkannya pada Kris. Tapi tidak dengan senyuman lebar dan tingkah konyolnya yang berniat membungkuk memberi salam hormat pada Luhan namun kepalanya malah mengenai nampan seorang OB yang lewat di depannya hingga kopi di atas nampan itu terlempar dan mengenai berkas-berkas di tangannya.

Luhan tertawa sangat keras dan berjalan memelewati Park Chanyeol seraya menepuk pundak pemuda jangkung itu untuk berterimakasih karna telah menghiburnya. Sempat terpikir di benak Luhan menjadikan Chanyeol sebagai teman kencan namun tidak jadi mengingat kesialan Chanyeol yang mungkin akan berdampak buruk padanya.

Luhan memasuki toilet yang kosong. Tadinya ia ingin buang air besar, tapi, setelah tertawa begitu keras ia jadi tak ingin buang air besar dan malah merasa ingin pipis

Maka ia pun menuju salah satu closet dan mulai membuka celananya saat tiba-tiba pintu di dorong dengan kasar lalu masuk seorang pemuda berseragam SMA berjalan terburu-buru ke closet yang ada di dekat Luhan lalu membuka celananya tanpa sadar tengah di perhatikan.

Luhan hanya menggantungkan celananya tanpa berniat mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi mendesak ingin keluar. Ia tertegun melihat orang di sampingnya. Pemuda dengan kulit putuh nyaris pucat yang tengah menengadah menikmati keluarnya cairan yang dari tadi membebaninya.

Mata Luhan beralih ke bawah. Lebih tepatnya menatap benda milik pemuda itu yang membuat Luhan menelan kasar air liurnya. Cepat-cepat ia mengeluarkan benda miliknya karna sudah tak tahan ingin mengeluarkan air kencingnya setelah melihat benda milik pemuda itu namun matanya tetap fokus pada benda milik si pemuda hingga tanpa sadar pemuda berseragam SMA itu tengah memperhatikan arah pandangnya.

"bagus bukan?"

Luhan hampir terperanjat mendengar seruan pemuda itu yang tiba-tiba. Ia mendongak dan langsung mengalihkan wajahnya malu tertangkap basah.

"kata hyung milikku sangat bagus. Temanku juga bilang seperti itu." Luhan langsung menoleh dan mendapati mata pemuda itu yang tengah memperhatikan milik Luhan membuat Luhan cepat-cepat meresleting celananya dan menyembunyikan miliknya membuat pemuda itu refleks menatapnya dan tertawa.

"wae? Kau malu karna punyamu tak sebagus miliku?" Luhan sweatdrop dengan raut wajah cengo. Pemuda itu kembali memasukan miliknya dan meresleting celananya lalu berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan meninggalkan Luhan yang masih memikirkan perkataan pemuda itu.

"um.. me-memangnya hyungmu pernah melihat punyamu?" tanya Luhan tiba-tiba tersadar dengan sesuatu yang mengganjal dari perkataan pemuda itu. Si pemuda berbalik menatap Luhan yang masih pada tempatnya

"ne. Waktu aku masih Junior High School. Tapi, sekarang tidak lagi. Sekarang hanya temanku yang melihatnya saat dia terasa sakit setelah menonton film aneh." Alis Luhan berkedut-kedut. Ia menatap wajah pemuda itu lekat-lekat dan tersadar akan sesuatu yang membuatnya mengembangkan senyum

Anak idiot!

Criteria baru Luhan. Seorang penurut, bodoh dan selalu berkata jujur. Jelas tipe seperti ini tak akan mengkhianatinya.

Luhan berjalan mendekati pemuda albino itu dengan senyuman manis yang tercetak jelas di wajahnya.

"siapa namamu?" tanyanya

"Oh Sehun." Luhan mengangguk-angguk masih dengan senyuman manis di wajahnya. Sehun memperhatikan Luhan bingung sambil menyentakan tas ransel kuningnya. Mereka terdiam beberapa saat sebelum Sehun buka suara setelah memperhatikan Luhan lekat-lekat "kau tau? Kau mengingatkanku pada hyung. Kau punya wajah yang cantik sepertinya. Kalian juga tidak lebih tinggi dariku. Eum… terlihat sangat manis."

Sehun nyengir lebar, tak sadar ucapannya telah membuat Luhan merona dan sedikit salah tingkah. Sehun lalu melihat jam spiderman yang melingkar di tangannya sebelum beralih lagi menatap Luhan.

"aku harus pergi. Hyung akan membelikanku PSP, pasti dia mencariku karna terlalu lama di toilet." Ia melambai di depan wajah Luhan sambil tersenyum namun Luhan langsung meraih tangannya membuat Sehun kehilangan senyum dan di gantikan raut wajah bertanya.

"kau punya ponsel?" Sehun menggeleng

"kata hyung. Aku belum boleh menggunakan ponsel, jadi, aku memintanya membelikanku PSP saja." Luhan tersenyum lagi dan mengambil benda persegi panjang yang cukup besar dari saku celanannya.

"kau ingin ini?" Sehun mengerutkan alisnya. Luhan menyalakan i-padnya dan memperlihatkannya pada Sehun sraya menjelaskan kalau i-pad miliknya lebih hebat dari PSP yang akan di belikan oleh hyung Sehun.

Ia juga memperlihatkan berbagai macam games yang ada di dalamnya dan berkata bahwa Sehun juga bisa mencari games yang ia inginkan untuk di mainkan membuat Sehun menatap benda itu penuh binar. "kau boleh memilikinya." Dan perkataan Luhan yang itu membuat Sehun tersenyum semakin lebar hingga matanya tinggal terlihat seperti garis kecil

"benarkah?" Luhan tersenyum mengangguk "woah! Gomawo!" ujarnya semangat sambil memainkan i-pad milik Luhan yang sekarang telah menjadi miliknya.

"hanya itu caramu berterimakasih?" Sehun menatap Luhan setelah kehilangan senyumnya. Luhan meraih lagi benda itu dan membalik tubuh Sehun untuk meletakan benda itu ke dalam tas ransel kuning milik Sehun sebelum membalik lagi tubuh Sehun menghadapnya. "ekhem! Apa kau pernah berciuman?" Dengan polosnya Sehun mengangguk. Luhan melotot

"dengan siapa? Hyungmu?" Sehun mengangguk lagi. Luhan semakin melebarkan matanya "di bibir? Apa kau menyukai hyungmu?" Sehun menggeleng

"dia selalu mencium pipiku dan aku juga mencium pipinya. Aku menyukai hyung dan semua teman-temanku." Sehun menjeda "aku juga menyukaimu. Karna kau memberiku sebuah ponsel."

Luhan yang awalnya sudah melotot lebar, perlahan merubah bentuk matanya menjadi eyes smile. Ia tersenyum dengan rona merah di kedua pipinya mendengar ucapaan Sehun yang terakhir. Oh, kenapa dia jadi kekanakan seperti ini?

"benarkah?" Luhan menangkup kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya seraya menatap Sehun yang mengangguk semangat. "kalau kau menyukaiku, apa kau juga akan menciumku?" Luhan semakin merona. Sehun hanya mengangguk semangat sekali lagi sebelum sedikit menunduk dan mencium pipi Luhan yang merah membuat Luhan kehilangan senyum karna tak puas akan hal itu.

Ayolah, bukan di pipi. Ia ingin Sehun mencium bibirnya walau Luhan tak yakin Sehun tau caranya berciuman dengan bibir karna pemuda tinggi itu terlihat sangat polos.

"hanya itu?" Luhan mengangkat sebelah alisnya. Sehun mengerutkan alis "maksudku…., baiklah. Aku juga menyukaimu, jadi, aku juga akan menciummu."

Berpikir bahwa Sehun terlalu bodoh, Luhan mengambil inisiatif mencium Sehun lebih dulu dengan menangkup kedua pipi Sehun dan menarik kepala pemuda albino itu mendekat ke wajahnya agar bibirnya bisa menggapai bibir Sehun yang kecil dan tipis

Mereka terdiam dengan bibir yang menempel satu sama lain. Luhan coba meresapi sensasi yang kata Kyungsoo menakjubkan itu tapi yang ada hanya ada perasaan menggelitik di perut dan dadanya hingga beberapa saat kemudian Luhan merasa pergerikan di bibirnya. Mata yang awalnya menerawang kini beralih menatap Sehun yang juga menatapnya sambil memainkan bibir Luhan dengan bibirnya.

Luhan tersenyum. Sepertinya yang bodoh di sini adalah dirinya karna dengan mudahnya menyimpulkan kalau saling menempelkan bibir adalah sesuatu yang menakjubkan. Tapi, nyatanya itu hanya pengawalan. Maka Luhanpun menarik Sehun yang tengah asik mengecapi rasa bibir Luhan mendekat hingga pemuda albino itu menghimpitnya ke wastafel dan Luhan mulai menggerakan bibirnya melumat bibir atas dan bawah Sehun bergantian. Sehun yang tengah menjilati bibir Luhanpun ikut bergerak melumat bibir bawah Luhan ketika pemuda yang lebih pendek darinya itu melumat bibir atasnya.

Luhan sempat mengerutkan alis, ia sedikit heran Sehun bisa melakukannya namun ia memilih tak perduli dan semakin menarik kepala Sehun mendekat lalu melingkarkan kedua lengennya di leher Sehun yang jenjang untuk merapatkan diri ke tubuh Sehun hingga ciuman mereka semakin dalam.

Sehun memiringkan kepalanya ke kanan menghisap sudut bibir kiri Luhan sambil menekan-nekan lidahnya menjilati bibir bawah Luhan sebelum meraupnya dengan rakus hingga Luhan kewalahan dan memilih membuka mulutnya yang langsung di gunakan Sehun sebagai kesempatan menelusupkan lidahnya ke dalam ronga mulut Luhan yang hangat dan licin di akibatkan kumpulan saliva yang mengenang siap menetes dari sudut bibir Luhan.

Sehun sedikit mendorong Luhan hingga Luhan semakin terhimpit dan melepaskan salah satu tangannya yang mengalung di leher Sehun untuk menyangga tubuhnya di wastafel agar pinggangnya tak tertekan pada dinding wastafel. Lidah Sehun masuk semakin dalam menari ke kiri dan kanan hingga menyentuh daging kecil yang menggantung di ujung rongga mulut Luhan membuat Luhan mengeram tertahan dan hal itu menambah sensasi tersendiri pada lidah Sehun yang ada di dalam mulut Luhan. Pemuda yang lebih mungil tak mau kalah, ia menggerakan lidahnya melilit lidah Sehun namun tak berhasil karna pemuda berseragam SMA itu lebih dulu menekan lidah Luhan, mendorongnya hingga diam pada tempat semula dan dengan cepat meraup lidah Luhan dengan mulutnya yang tipis lalu menghisapnya dan mempermainkannya seperti permen karet yang di gesekan dengan giginya yang sedikit bertaring seperti vampire sambil di tekan dengan lidah lalu di hisap keluar masuk dengan bibir. Sesekali Sehun juga meraup bibir Luhan saat ia memajukan bibirnya untuk memasukan lidah Luhan kedlam mulutnya membuat Luhan bersusah payah kembali menarik lidahnya sebelum menyatukan lagi bibirnya dan Sehun. Mereka saling menghisap, menjilat dan menekan bibir lawan mainnya dengan liar tanpa sadar beberapa orang telah masuk ke toilet dan sesekali memperhatikan aksi mereka

"ekhem!" dehem seseorang membuat Luhan langsung menarik diri dari Sehun dan terkejut mendapati banyak orang melakukan aktivitas di sana. Ia mendorong Sehun dan menunduk malu dengan pipi merona merah sedangkan Sehun hanya mengerjab beberapa kali sambil menatap sekitarnya sebelum beralih lagi menatap Luhan dengan bibir manyun

"kalau hyung tau aku mencium orang seperti itu, dia pasti akan marah." Luhan mendongak menatap Sehun menghiraukan lirikan orang-orang yang ada di dalam sana. Sehun kembali melihat jam tangan spiderman yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum beralih lagi menatap Luhan dan melambai di depan wajah pemuda itu "aku pergi. Pasti hyung mencariku." Sehun sedikit mundur dan menunduk dalam di hadapan Luhan "anyeong~" ucapnya lagi sebelum berlalu di balik pintu toilet meninggalkan Luhan yang termanggu menatap kepergiannya hingga beberapa saat kemudian Luhan tersadar.

Pemuda berambut soft pink itu menyentuh bibirnya dan mengukir senyum manis yang membuat heran orang-orang di sana.

"bibirku tidak perjaka lagi." gumamnya tersenyum makin lebar. Pemuda itu berbalik menghadap cermin wastafel memperhatikan bibirnya yang makin merah merekah karna baru saja kehilangan keperjakaannya. Tiba-tiba Luhan berteriak heboh membuat sekitarnya kaget dan terheran-heran melihat Luhan yang sudah keluar sambil jingkrak-jingkrak.

.

.

.

Sementara Sehun yang sudah berada di dalam bus bersama hyungnya tengah gelisah. Sesekali ia melirik hyungnya yang melihat ke luar jendela. Ia benar-benar takut ketahuan melakukan ciuman dengan lidah karna menurut hyungnya, Sehun masih belum cukup umur untuk melakukan hal seperti itu.

Padahal ia sering melihat teman-temannya melakukan hal seperti itu, bahkan teman-temannya juga sering mengajak Sehun melakukan ciuman dengan lidah dan rasanya menyenangkan hingga Sehun tak bisa menolak jika seseorang sudah mencium bibirnya. Ia akan dengan senang hati membalasnya tapi, ujung-ujungnya ia takut memikirkan amukan hyungnya. Bukan, bukan mengamuk padanya, tapi orang yang menciumnya. Menurut hyung Sehun, hal itu bisa di kata pelecehan karna Sehun masih di bawah umur

"kau kenapa?"

Sibuk dengan pikiran sendiri. Sehun tak sadar kalau hyungnya tengah memperhatikan gerak geriknya yang aneh. Sehun hanya diam sanbil menatap kedua telunjuknya yang ia satukan di atas perut. Baekhyun melihat itu dan sadar kalau adiknya tengah menyembunyikan sesuatu

"Sehun, kau tau kalau berbohong itu tidak baik?" Sehun mengangguk sambil melirik Baekhyun sekilas "jadi, maukah kau menceritakannya padaku?" Sehun memilin ujung blazernya sambil menjilat bibir bawahnya

"tapi, hyung tidak akan marah kan?" cicit Sehun menatap Baekhyun yang mengangguk meyakinkan. Sehun menghela napas kembali menatap ujung blazernya "aku tidak akan meminta hyung membelikanku PSP lagi asalkan hyung tidak memarahi namja itu." Baekhyun menautkan kedua alisnya

"namja itu?" bingungnya memutar badan menghadap Sehun yang mengangguk

"tadi aku bertemu dengannya di toilet dan aku bilang kalau aku menyukai hyung dan juga teman-temanku." Sehun menjeda "aku juga bilang aku menyukainya lalu aku menciumnya dan dia balas menciumku, kami berciuman dengan lidah." Baekhyun melebarkan kedua mata sipitnya mencerna ucapan Sehun yang sesekali melirik ke arahnya. Ia hendak bicara namun tak satupun kata di otaknya yang tersusun dengan baik keluar dari mulutnya.

.

.

.

.

Seperti kata Sehun. Mereka tak perlu membeli PSP lagi karna Sehun sudah tak menginginkannya lagi walau Baekhyun tetap ingin membelikannya dan tidak memarahi namja yang menciumnya.

Sehun juga sudah sangat lelah dan mengantuk pulang sekolah tak langsung pulang ke rumah. Ia malah ke tempat kerja Baekhyun karna Baekhyun berjanji membelikannya PSP hari itu namun ia harus rela menunggu sampai Baekhyun pulang kerja tapi akhirnya ia tak menginginkan benda itu lagi.

Sehun masuk ke apartemen sederhana mereka sambil terkantuk-kantuk menuju kamarnya. Sedangkan Baekhyun hanya menggeleng berjalan di belakang sambil membawa ransel kuning Sehun. Ia meletakan ransel itu di sofa depanTV dan berjalan ke dapur menyiapkan makan untuk Sehun. Beberapa saat kemudian ia selesai dengan makanannya dan melesat ke kamar Sehun sambil membawa ransel adiknya itu untuk di letakan di kamar.

Baekhyun membuka pintu kamar Sehun dan mendapati Sehun yang tidur terlantang dengan seragam lengkap. Baekhyun tersenyum berjalan menghampiri adiknya, meletakan ransel Sehun di atas ranjang lalu melepas sepatu, kaos kaki, dasi dan blazer Sehun. Awalnya ia berniat membangunkan Sehun namun melihat adiknya tertidur pulas ia jadi tak tega dan memilih menunggu Sehun bangun. Nanti makannya bisa ia panaskan lagi.

Baekhyun berniat pergi meninggalkan kamar Sehun namun sesuatu yang berdering menyala-nyala di dalam tas ransel Sehun menarik perhatian Baekhyun untuk menggeledah tas itu. Pemuda pecinta eyeliner itu mengerutkan alis menemukan benda persegi panjang yang terlihat sangat mahal berada di dalam tas Sehun. "dari mana Sehun mendapatkan benda ini?"

Kontak asing tertera di sana. Baekhyun beralih menatap Sehun yang tertidur sebelum beralih lagi menekan deal hijau untuk menjawab panggilan masuk

"yeoboseo? Sehun, ini aku." Ucap seorang di seberang sana dengan riang. Baekhyun makin mengerutkan alis seraya menatap Sehun

"nugu? Aku bukan Sehun, dia sedang tidur." Sejenak hening di seberang

"Sehun sedang tidur? Lalu, siapa kau? Kenapa kau ada di sana bersamanya saat dia sedang tidur? Bangunkan Sehun, aku ingin bicara dengannya." terdengar nada tidak suka di seberang sana

"tidak bisa, dia baru saja pulang. Aku hyungnya. Kau siapa?" Baekhyun mengerutkan alis saat mendengar suara bisik-bisik di seberang sana sebelum bergantikan suara orang yang tengah menelepon tadi

"oh, jadi kau hyungnya? mianhae, bukan bersikap tidak sopan padamu. Tapi, bisakah kau berikan ponselnya pada Sehun? Aku butuh bicara dengannya." Suara di seberang makin terdengar sinis membuat Baekhyun makin mengerutkan alis sambil menatap layar ponsel sebelum menempelkannya lagi di telinga.

"siapapun kau, jangan pernah hubungi adiku lagi. Sepertinya kau membawa pengaruh buruk."

Tut...

Tanpa menunggu aba-aba. Baekhyun mematikan sambungan telepon yang entah dari siapa dan membawa serta I-pad Sehun keluar kamar.

.

.

.

Di tempat lain, Luhan menggerutu kesal menatap smartphonenya dan meletakan benda itu di atas meja. Sudah berkali-kali ia menghubungi Sehun namun tak di angkat sama sekali membuat Luhan yakin kalau i-pad yang di berikannya pada Sehun di ambil hyung Sehun.

Kakinya menendang laci yang ada di bawah mejanya seraya bersandar pada kursi saat ketukan pintu terdengar dan masuklah Kyungsoo setelah Luhan memberi izin. Ia langsung berdiri dan berpindah duduk ke sofa yang ada di ruang kerjanya seraya menekuk wajah membuat Kyungsoo terheran-heran karna sebelumnya pemuda bermata rusa itu meneleponnya dengan nada riang.

"wae?" Luhan menatap Kyungsoo kesal

"dia tidak mengangkat panggilanku. Pasti hyungnya menyita i-pad itu." Luhan manyun sementara Kyungsoo tengah berpikir. Kyungsoo tau apa yang terjadi karna Luhan langsung meneleponnya dan bercerita sekeluarnya Luhan dari toilet. Ia bercerita sambil berteriak heboh yang membuat orang-orang di tempat Kyungsoo bisa mendengar suara Luhan melalui ponselnya.

"eum, tidak usah bertemu. Ceritakan saja seperti apa dia."

Saat Luhan meneleponnya tadi. Luhan berkata bahwa criteria barunya adalah seorang idiot dan ia berciuman dengan seorang idiot yang ia temui di toilet. Dan menurut Kyungsoo, seorang idiot pasti memiliki penampilan idiot juga. Sejujurnya Kyungsoo kasihan pada Luhan yang jadi seperti ini. Luhan nyaris sempurna menurut Kyungsoo, tapi, ia malah mengincar orang yang tak selevel dengannya.

Di bayangan Kyungsoo. Sehun pasti memiliki senyuman aneh seperti Chanyeol wakil direktur appa Luhan tapi tidak menawan seperti milik Chanyeol, lalu, idiot itu pasti kekanakan, cupu dan tentu saja bodoh.

Kyungsoo tak bisa bayangkan Sehun ada di samping Luhan sambil menarik-narik ingisnya yang keluar dari lubang hidungnya seperti anak kecil. Bahkan, gaya rambut yang di sisir rapi ke samping memperlihatkan jidat tonggosnya dan kaca mata kodok yang besar bertengger di atas hidungnya. Lalu, tatapan kunang-kunang di balik kacamata kodok dengan baju yang rapi atau seharusnya ketinggalan zaman itu membuat Kyungsoo ingin muntah. Bagaimana mungkin selera Luhan yang perfectionis seperti Kris bisa turun serendah itu?

Menyedihkan..

Dan bukankah Luhan bilang ia berciuman dengan Sehun? oh, apa ingus Sehun tidak meleleh? Atau, mungkin ingusnya sudah bercampur darah karna saking bersyukurnya mendapatkan ciuman Luhan? Orang-orang idiot kan sering mimisan saat mendapati sesuatu yang tak terduga dan membahagiakan..

Oh, Kyungsoo lebih suka Luhan meratapi nasib yang di campakan dari pada bersanding dengan orang seperti itu. Ia juga rela meninggalkan Kai dan menjadi seme Luhan kalau ia bisa tapi itu tidak mungkin. Jadi, satu-satunya hal yang harus ia pastikan adalah…

"Sehun tidak se-idiot yang kau pikirkan, bodoh!" Luhan menimpali seakan bisa membaca pikiran Kyungsoo. Satu pukulan ia layangkan di kepala pemuda bermata bulat dengan bibir love itu membuat Kyungsoo mengaduh sakit sambil mengusap kepalanya lalu meminta Luhan segera menguraikannya.

"dia bahkan sangat jauh dari penampilan seorang idiot. Hanya cara bicara dan sikapnya yang kekanakan. Selebihnya ia selevel dengan Kris, bahkan lebih." Luhan menerawang

"tubuhnya tinggi." Luhan mengangkat tangan kanannya melewati kepala sambil menoleh pada Kyungsoo yang membayangkan Sehun setinggi Kris karna kata Luhan mereka selevel.

"kulitnya sangat putih." Kyungsoo membayangkan salah satu jenis hantu dengan kulit pucat

"tatapan matanya benar-benar memikat walau kadang terlihat seperti orang yang sedang mengantuk saat dia diam." Seekor kura-kura berumur ratusan tahun yang ingin segera tutup usia melintas di kepala Kyungsoo

"hidungnya sangat mancung dengan ujung yang bagus, bibirnya tipis dan kecil." Jika Luhan tak mengatakan bentuk bibir Sehun, Kyungsoo membayangkan Sehun seperti Squidward versi putih dengan tatapan malas melihat kekonyolan spongebob karna squidward selalu memasang wajah datar dan mata mengantuk saat bertemu spongebob dan Patrick atau mungkin semua orang yang mengganggu ketenangannya.

Kyungsoo mangut-mangut menatap Luhan yang tengah tersenyum-senyum sendiri

.

.

.

Baekhyun dan Sehun menghabiskan waktu makan malam dengan diam. Sehun yang baru bangun tidur masih malas membuka suara. Bahkan pemuda itu makan dengan terkantuk-kantuk. Sedangkan Baekhyun sesekali melirik Sehun. mengamati sang adik mencari kesempatan menyampaikan maksudnya hingga beberapa saat kemudian mereka selesai. Sehun hendak beranjak namun Baekhyun menyuruhnya duduk kembali. Sehun mengeryitkan alis dan bertanya dengan raut wajah penasaran

Baekhyun merogoh saku celananya. Menarik keluar sebuah benda persegi panjang berwarna silver yang cukup muat di telapak tangannya lalu meletakan di atas meja makan sambil menatap Sehun yang memandang i-pad itu dan Baekhyun bergantian.

"Sehun." Baekhyun mencodongkan tubuhnya kedepan, menempel di pinggir meja makan. "dari mana, kau mendapat benda ini? Kau tidak mencurinya kan?." Baekhyun menampakan wajah khawatir menanti jawaban Sehun. "hyung selalu mengajarimu untuk berkata jujur dan k au tau kalau mencuri itu tidak baik?" Sehun mengangguk "jadi, maukah kau memberitau hyung dari mana kau dapatkan benda mahal ini?" Baekhyun mengangkat i-pad itu lalu meletakannya lagi di atas meja. Sehun menunduk mengulum bibir bawahnya seraya melirik-lirik kearah Baekhyun. Ia tidak ingin berbohong, tapi ia juga tidak mau hyungnya mengamuk dan mengembalikan benda itu. Hanya saja, bagaimanapun ia harus berkata jujur karna berbohong bukanlah hal terpuji, apa lagi berbohong pada hyungnya.

"eummm…. Aku sudah menceritakannya pada hyung di dalam bis." Baekhyun menautkan kedua alisnya seraya berfikir sebelum mengangguk, ia teringat cerita Sehun yang mencium seseorang di toilet saat ia menemani atasannya.

"tapi, hyung tidak ingat kau bicara soal benda ini." Baekhyun menunjuk i-pad di atas meja. Sehun meliriknya lagi sebelum menatap kedua telunjuknya yang bertaut di atas paha

"ia menanyakan ponsel tapi aku tak memilikinya. Lalu aku bilang kalau hyung akan membelikanku PSP dan dia memberiku benda itu. Katanya itu lebih keren dari PSP yang akan hyung beli." Sehun melirik Baekhyun lagi sekilas. Mereka terdiam. Baekhyun menunggu lanjutan ceritanya tapi Sehun terlihat tak ingin bercerita lagi

"hanya itu?" Sehun mengangguk dan mendongak menatap Baekhyun "kau tidak berbohong pada hyung kan?" Sehun menggeleng

"setelahnya aku sudah menceritakan pada hyung di dalam bis." Sehun menunduk lagi. "hyung~" rengek Sehun mendongak menatap Baekhyun. "hyung, aku boleh memiliki benda ini kan? Kulihat teman-teman di sekolah juga memainkan benda seperti ini. Hyung tidak perlu membelikanku PSP tapi biarkan benda ini untukku ne. Jebal~" Sehun menangkupkan kedua tangannya di depan dada menatap Baekhyun dengan raut wajah memohon yang membuat Baekhyun pasrah menghela napas dan mengangguk. Sehun langsung tersenyum menegakkan tubuhnya "jinjja?" Baekhyun mengangguk sekali lagi. Sehun beranjak dari duduknya dan memeluk Baekhyun seraya berterimakasih sebelum meraih i-padnya dan berlari ke dalam kamar meninggalkan Baekhyun yang tersenyum melihat kegembiraannya.

Sehun sudah mengganti seragamnya dan duduk di atas ranjang sambil mengotak-atik i-padnya. Raut wajah pemuda itu berganti-ganti membuatnya terlihat menarik. Sehun masih seius dengan i-pad di tangannya saat tiba-tiba layarnya berganti dan benda itu berdering cukup keras membuat Sehun yang tengah asik sedikit kesal. Ia memperhatikan benda itu menimang memilih menggeser deal hijau atau merah. Karna penasaran, iapun memilih deal hijau hingga benda itu berhenti bordering dan di gantikan suara pekikan de seberang sana memanggil namanya membuat Sehun langsung mendekatkan benda itu ke telinga

"Sehun! akhirnya kau mengangkatnya juga."

"nugu? Nuguya?" bingung Sehun

"ini aku, Luhan! Kau ingat? Kita bertemu di toilet." Suara di seberang sana terdengar begitu bersemangat. Sehun berpikir sejenak sebelum sebuah senyum mengembang di bibir kecilnya

"ah~ ne, aku ingat. Kau orang yang menciumku." Ucap Sehun tak sadar ucapannya itu membuat Luhan merona di seberang sana. "eum.. gomawo. Kata hyung, aku harus berterimakasih pada orang baik sepertimu. Benda yang kau berikan benar-benar keren." Sehun sedikit menjauhkan i-pad itu dari telinga sebelum menempelkannya lagi "sekarang aku punya ponsel seperti teman-temanku. Gomawo~" terdengar kekehan di seberang sana

"ne, cheonma. Eum, besok, apa kau punya waktu?" Sehun tak menjawab "maksudku, err…. Aku ingin bertemu denganmu lagi." Sehun masih berpikir

"eum…besok aku akan menonton TV pulang sekolah." Luhan menautkan alis. "dan bermain games." Luhan mengangguk mengerti

"kau pernah menonton film dengan TV yang sangat besar?" Sehun menggeleng walau Luhan tak melihatnya. "lalu, apa kau pernah ke game attractions excluded yang ada di lotte world?" Sehun terlihat bingung namun mendengar nama lotte world ia sedikit berpikir

"aku pernah ke lotte world bersama hyung." Sehun menerawang "waktu aku masih JHS. Tapi kami hanya naik satu wahana karna saat itu hyung sangat sibuk." Lemas Sehun. Luhan mengut-mangut

"kalau begitu, kau mau kesana lagi? Bersamaku? Kau boleh bermain sepuasnya" Sehun langsung terlihat sangat bersemangat

"benrkah? Kau akan mengajaku kesana?" Luhan mendengung. Sehun masih terlihat bersemangat namun tiba-tiba raut wajahnya berubah lesu lagi. "tapi, hyung pasti akan memarahimu kalau aku meminta izin padanya. Aku memberitaunya kalau kau menciumku dan dia pasti tidak akan mengizinkanku pergi." Sehun cemberut

"kalau begitu jangan memberitaunya." Sehun mengerjab beberapa kali sebelum bertanya "ku bilang jangan bertau hyungmu. Kau bersekolah di mana?"

"Seoul performing art School. Tapi, berbohong itu tidak baik." Luhan berdehem

"kau tidak akan berbohong. Nanti aku yang meminta izin untukmu. Jadi, kau jangan memberitaunya apa-apa sebelum kita bertemu, okay?!" Sehun mengangguk dan Luhan memberinya ucapan selamat tidur sebelum mematikan sambungan telepon.

.

.

.

Esok harinya Luhan berdiri di depan ferarri kuningnya seraya melihat-lihat ke dalam sebuah gedung tinggi tempat keluarnya anak-anak berseragam SMA. Setiap anak berseragam kuning yang keluar dari gedung pasti menyempatkan diri untuk melihat Luhan yang terlalu menonjol.

Sesekali mereka melakukan hal konyol untuk menarik perhatian Luhan namun Luhan hanya mencibir beralih lagi menatap gedung itu hingga sosok pemuda berambut cokelat gelap dengan tas ransel kuning berjalan keluar gedung sambil mengembungkan pipi layaknya berkumur-kumur karna mulutnya terlihat bergoyang ke kiri dan kanan. Sementara kedua tangannya menggenggam erat tali ranselnya di kedua sisi dengan gaya kekanakan yang kentara

Luhan tersenyum lebar dan berlari kecil menghampiri pemuda itu membuat si pemuda menghentikan langkahnya melihat kedatangan Luhan. "hai!" sapa Luhan setelah berhadapan dengan Sehun. Beberapa siswa siswi yang berlalu lalang memperhatikan mereka. Tidak menyangka saja orang seperti Sehun akan di hampiri orang seperti Luhan.

Yeah, siapapun tau. Di sekolah orang normal. Sehun pasti sangat menonjol dengan kelakuannya yang kekanakan atau lebih tepatnya idiot dan siapapun akan menyayangkan anugerah berwajah tampan dengan tubuh yang bagus di berikan pada orang seperti Sehun. Hal itu jelas membuat Sehun cukup di kenal di sekolah, banyak yang baik padanya tapi tidak sedikit pula yang mengolok-olok atau membullynya karna sikapnya yang terlalu polos kadang membuat para sunbae yeoja memekik gemas dan memperlakukan Sehun lebih istimewa membuat sebagian orang iri dan ingin menyingkirkannya namun keberuntungan selalu memihak saat para sunbae yeoja atau guru memergoki mereka.

Cup~

Sehun membuka mulutnya hendak bicara setelah Luhan memberinya sebuah kecupan yang membuat beberapa orang ternganga melihat itu, namun Luhan lebih dulu angkat bicara tak memberi Sehun kesempatan "ayo berangkat. Bukankah kita akan ke lotte world?"

Mendengar lotte world. Sehun langsung lupa dengan kecupan singkat tadi dan mengangguk semngat. Luhan tersenyum lalu menarik Sehun mengikutinya masuk ke mobilnya dan berjalan meninggalkan tempat itu.

.

.

.

Sepanjang perjalanan. Luhan bercerita dan sesekali Sehun menanggapi saat di tanya. Luhan juga berkata bahwa ia sudah meminta izin pada hyung Sehun untuk membawanya ke Lotte World dan memberitau hyung Sehun kalau adiknya pulang sedikit larut. Sehun percaya saja hingga mereka tiba di lotte world dan mencoba banyak wahana

Luhan menuruti semua keinginan Sehun. Untung saja ia tak punya ketakutan tertentu hingga harus menolak untuk menaiki salah satu wahana. Mereka juga pergi bermain ski dan membeli ice cream lalu makan di sebuah café sebelum akhirnya memasuki bioskop untuk menonton film yang tentu saja pilihan Sehun, rise of guardians. Benar-benar kekanakan. Bahkan sepanjang bangku penonton yang Luhan lihat hanya kebanyakan anak kecil duduk di sana dengan popcorn namun tak apa-apa s saat ia beralih menatap Sehun yang terlihat sangat senang. Luhan menikmatinya

Jam menunjukan pukul 11 malam namun mereka masih berada di taman rekreasi terbesar di korea itu. Duduk di pinggir pembatas lantai melihat orang-orang yang tengah bermain ski di bawah sana sambil menikmati bakso ikan yang dibeli Luhan di sebuah stand seberang tempat duduk mereka.

Luhan membeli bakso dengan rasa berbeda walau sama-sama terbuat dari ikan. Sehun terlihat ingin menggigit baksonya namun Luhan tiba-tiba meraih tangan pemuda itu dan menggigit bakso milik Sehun

"eh? Kenapa punyamu lebih enak? Kau mau bertukar?" Dan Sehun mengangguk saja meraih bakso milik Luhan lalu menukar dengan miliknya

"eum, ini juga enak." Komentar Sehun setelah mencicipi bakso milik Luhan. Mereka tersenyum lalu Luhan meraih segelas bubble tea yang ia letakan di sampingnya lalu meminumnya sebelum beralih mengarahkan sedotannya pada Sehun. Mereka minum di gelas dan sedotan yang sama karna Luhan sengaja.

Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di luar taman rekreasi Lotte World dengan senyum mengembang di kedua susut bibir mereka.

"apa kau senang?" tanya Luhan menatap Sehun yang langsung mengangguk semangat

"tadi sangat menyengkan, gomawo~" Luhan hanya mengangguk lalu masuk kedalam mobilnya saat mereka sudah berada di area parkir Lotte World dan berjalan pulang. Benarkah berjalan pulang? Yeah, setidaknya itu kata Luhan

.

.

.

"aku sudah meminta izin hyungmu. Katanya aku boleh membawamu ke rumahku dan menginap. Ia bahkan menyuruhku untuk menemanimu tidur."

Sehun hanya memperhatikan isi kamar Luhan saat Luhan menjelaskan kenapa pemuda itu tidak mengantarnya pulang dan malah ke tempat itu. Ia bahkan tak curiga sama sekali, ia percaya saja karna Luhan sangat baik. Sehun beralih menatap Luhan saat pemuda yang lebih kecil darinya itu menyodorkan sepasang piyama untuk di pakai tidur. Sehun menerimanya dan berniat berganti pakaian namun sadar Luhan tak beranjak dari sana membuatnya menghentikan kegiatannya.

"wae?" heran Luhan saat Sehun tak melanjutkan aktifitasnya

"aku akan berganti di kamar mandi saja. Di mana kamar mandimu?" Luhan mengerjab dua kali sebelum tersenyum dan berjalan duduk di pinggir ranjang besarnya

"ganti di sini saja. Aku juga berganti pakaian di sini tadi. Bukankah kau juga berganti pakaian di depan hyung dan teman-temanmu?" Sehun terlihat berpikir sebelum mengangguk dan mulai melanjutkan kegiatannya berganti pakaian yang membuat Luhan ingin meleleh melihat kulit Sehun yang begitu putih dan mulus. Benar-benar terlihat enak di sentuh. Menurut Luhan, hyung Sehun pasti sangat menjaga Sehun hingga pemuda itu punya fisik yang nyaris sempurnya. Seperti seorang pangeran yang sangat di perhatikan para dayang dan kasim. Walaupun Sehun tak memiliki banyak otot seperti Kris, tapi menurut Luhan badan Sehun lebih bagus. Dia terlihat bersinar

Sehun berbalik menghadap Luhan setelah selesai memakai piyamanya dan berjalan menghampiri pemuda itu lalu duduk di sebelahnya. "ayo tidur." Ucapnya mengajak Luhan namun Luhan malah menggeleng

"aku ingin menonton. Kau mau menemanikukan? Aku sudah menemanimu mencoba semua wahana di lotte world jadi, bagaimana kalau sekarang kau membalas budi?" Sehun menguap lebar. Sejujurnya ia sudah sangat mengantuk namun ia menurut saja saat Luhan mengajaknya duduk di sofa hitam depan TV dan memutar film yang akan mereka tonton dengan judul 'intimate lover'. #kyaaa! O.O .

Durasi mulai berjalan. Keduanya diam menatap layar datar TV. Sesekali Luhan melirik Sehun yang terlihat sangat serius membuat wajahnya begitu menarik di mata Luhan hingga pemuda itu tersenyum-senyum sendiri.

15 menit kemudian

Glek!

Adegan tidak senonoh tengah berlangsung di layar datar. Luhan sudah beberapa kali menelan air liurnya susah payah sesekali melirik Sehun yang terlihat berkeringat. Ia lalu beralih melihat kedua tangan Sehun yang bersarang di atas 'anu'nya. Mungkin pemuda itu berpikir untuk menutupi anunya dengan tangan agar benda itu tidak semakin bereaksi.

Luhan tersenyum aneh. Ia menggeser duduknya lebih dekat kearah Sehun dan mengelap keringat yang bercucuran di dahi Sehun dengan jarinya. Sehun menoleh sambil menelan air liurnya susah payah membuat Luhan semakin mengembangkan senyum aneh. Luhan beralih menatap kedua tangan Sehun yang menutupi selangkangannya lalu menyingkirkan kedua tangan Sehun

"apa sakit?" Luhan mendongak lagi menatap Sehun yang mengangguk. "kau bilang, teman-temanmu melihat ini jika ia sedang sakit setelah menonton film aneh. Apa film aneh seperti itu?" Luhan menunjuk layar TV dan lagi-lagi Sehun mengangguk. Luhan tersenyum makin aneh

"lalu, apa yang teman-temanmu lakukan saat milikmu terasa sakit?" Sehun melihat kebawah menatap gundukan besar di antara selangkangannya. Luhan mengikuti arah pandang Sehun sebeleum beranjak duduk di pangkuan Sehun membuat pemuda yang lebih muda darinya itu menatapnya. Luhan mengalungkan kedua tangannya di leher Sehun dan menggigit bibir bawahnya seduktif. "apa mereka melakukan ini?" Luhan menggoyang-goyang pinggulnya, menggesek-gesek bokongnya dengan tonjolan Sehun hingga pemuda berkulit putih pucat itu meleguh tertahan

Luhan menghentikan goyangannya dan menatap Sehun yang membuat raut wajah tersiksa. "punyaku juga sakit. Bagaimana kalau kita saling membantu?" Sehun mengerjab dua kali. "sebelum ke sekolahmu. Aku membelikanmu PSP," Luhan menarik keluar sebuah PSP dari piyama tidurnya dan memperlihatkannya pada Sehun yang langsung berbinar menatap benda itu. "aku akan memberikannya untukmu asal kau mau membantuku. Kau mau coba memainkannya?" Dengan semangat Sehun mengangguk dan Luhan langsung memberikan PSP itu.

Beberapa saat kemudian

"ahh~ ah… ohh… Sehunahh~" luhan terus mendesah seraya menaik turunkan tubuhnya agar kejantanan Sehun masuk makin dalam menusuk holenya. Tangan kanan Luhan berada di bahu Sehun sementara tangan kirinya berada di paha Sehun yang duduk di atas sofa seraya bermain PSP. Sesekali pemuda itu melirik Luhan yang sangat berisik menurutnya saat pergantian level dan saat permainan di mulai lagi, Sehun akan serius dengan PSP nya membiarkan Luhan memanjakan miliknya sendiri.

Sehun hanya bisa mengerang tertahan seraya mengatup rapat kedua bibirnya merasakan nikamat di bawah sana dan pikirannya yang sangat senang dengan PSP di tangannya. Ia menoleh ke samping kiri dan ikut menarik PSP nya ke samping kiri saat Luhan menunduk meraup leher dan bahu kanannya untuk di cumbui.

Skip!

"Yak! Kenapa diam saja?" Luhan kesal. Ia terbaring di atas sofa dengan kaki mengangkang dan Sehun berada di antara selangkangannya seraya bermain PSP. Kejantanan pemuda itu masih berada di dalam hole Luhan yang sempit namun tak di gerakan sama sekali membuat Luhan hanya merasa penuh dan sesak di bawah sana.

Luhan mendecih. Ia sedikit menaikkan tubuhnya dan merebut PSP Sehun membuat pemuda yang tengah asik itu mengeluh "aku tidak akan memberikan benda ini kalau kau tidak menggerakan milikmu di dalam holeku." Dan dengan segera Sehun memaju mundurkan kejantanannya seraya menatap PSP yang ada di tangan Luhan. mengabaikan Luhan yang kini sibuk mendesah kembali terkapar di atas sofa karna tusukannya.

.

.

.

.

Sehun turun dari mobil Luhan dengan raut wajah cemberut. Luhan yang iku turun menghampiri dan menggandeng lengannya.

"wae?" tanyanya tersenyum. Sehun hanya meliriknya sekilas sebelum menghela napas dan berjalan ke halaman sekolah dengan Luhan yang masih bergelantungan di lengannya. "kau mau ini?" Luhan mengeluarkan sebuah PSP dari saku jasnya dan memamerkan di depan wajah Sehun yang langsung mengangguk dengan raut wajah memohon. Lagi-lagi Luhan mengambil PSP nya saat ia tertidur karna kelelahan mengagahi Luhan.

"aku akan memberikannya asal kau mau melakukan seperti yang tadi malam lagi denganku." Sehun menghela napas dan mengangguk. Ia hendak meraih PSP di tangan Luhan namun Luhan langsung menjauhkan tangannya membuat Sehun manyun.

"untuk sekarang. Cium aku seperti di toilet waktu itu." Sehun makin manyun. Ia melirik Luhan dan PSP di tangan Luhan secara bergantian. "apa kau tidak menyukaiku lagi?" sedih Luhan membuat raut wajah kecewa. Sehun langsung menggeleng panic seraya menggoyangkan kedua tangannya

"ani, aku sangat menyukaimu. Bahkan aku lebih menyukaimu dari hyung." Sehun meyakinkan membuat senyum Luhan kembali mengembang dan menunjuk bibirnya sendiri. Sehun tersenyum. Ia lalu mendekat kearah Luhan sebelum mempertemukan kedua belah bibir mereka tak perduli dengan siswa siswi yang lewat

Mereka saling berpangutan dan menghisap satu sama lain saat sebuah teriakan menggelegar di depan halaman sekolah terdengar.

"YAAAAAKKKK!"

Dan hal berikutnya yang terjadi. Luhan merasa ciuman Sehun lepas dan tubuhnya terkapar di atas aspal dengan tidak elitnya. Luhan meringis seraya memegangi punggungnya

"Luhan!" teriakan Sehun terdengar membuat Luhan mendongak menatap Sehun yang berada jauh beberapa meter darinya bersama seorang pemuda mungil yang memasang raut wajah garang yang terlihat aneh.

"Kau! Berani-beraninya kau!"

"hyung!" Sehun menahan Baekhyun yang hendak menghampiri Luhan namun sia-sia saja karna akhirnya terjadilah perkelahian tak terelakan di antara Baekhyun dan Luhan yang berlangsung aneh.

.

.

.

Baekhyun menyeret Sehun keluar dari ruang uks sekolah. Pemuda berseragam kuning it uterus merengek di belakangnya namun tak indahkan sama sekali oleh Baekhyun.

"Hyung, jebal~~" rengek Sehun hampir menangis namun Baekhyun hanya memberinya death glear dan terus berjalan. Sementara itu

"SEHUN-AH!"

Sehun menoleh ke belakang dan mendapati Luhan yang berlari dengan konyolnya kearahnya "LUHAN!" teriak Sehun tak kalah kencang. Ia mengulurkan tangannya untuk menggapai Luhan namun Baekhyun tetap menyeretnya dan Kyungsoo menarik Luhan agar membiarkan Sehun pergi. -_-'

Luhan terus berteriak sementara Sehun hanya menatap sendu ke arahnya. Siswa siswi yang ada di koridor hanya melongo menatap drama keduanya yang begitu… err… entah bagaimana aku mengatakannya. Kenapa FF ini sangat tidak jelas ni?

"sudahlah, biarkan saja dia." Bujuk Kyungsoo membantu Luhan berdiri namun pemuda itu hanya terus meraung sambil meneriakan nama Sehun.

"Aaa! Kyungsoo! Namja itu merebutnya lagi dariku…., dia, dia namja yang ada di ruangan Kris waktu itu dan sekarang dia membawa Sehunku… huhuhu.. Kyungsoo-ya…. Ottokhaeji?!" raung Luhan tak perduli tindakan dan rengekannya sangat memalukan. Kyungsoo hanya bisa tersenyum menatap setiap orang yang ada di sana dengan maklum tak menyerah membantu Luhan berdiri dan membawanya pulang dengan keadaan mengenaskan.

.

.

.

1 minggu berlalu dan Luhan selalu mengunjungi sekolah Sehun namun 1 minggu itu pula Sehun tak pernah menampakan batang hidungnya di sekolah membuat Luhan frustasi. Ia tak berani ke rumah Sehun walau ia sudah tau alamatnya karna ia takut mendapati amukan Baekhyun yang ganas bak induk singa.

Dan di awal minggu yang baru Luhan hanya bisa termanggu di belakang meja kantornya seraya memutar-mutar i-pad yang sebelumnya ia berikan pada Sehun namun kini telah kembali ke tangannya saat di uks waktu itu. Luhan menghela napas berat saat dering telepon kantor berbunyi. Luhan menjawab dan sekretarisnya berkata bahwa wakil direktur appanya ada di depan ruangannya. Dengan malas Luhan mengizinkan orang itu masuk

"anyeong Luhan-shii." Luhan tidak menjawab dan tetap fokus pada putaran i-pad di atas meja. Chanyeol yang merasa terabaikan berdehem, sementara sekretaris Chanyeol yang berdiri di samping Chanyeol hanya bisa menganga menatap Luhan.

Chanyeol menatap sekretarisnya dan mengerutkan alis melihat tingkah dua orang di hadapannya itu yang begitu aneh. "waeirae? Kalian kenapa?" heran Chanyeol. Luhan mendongak untuk menatapnya yang otomatis juga menatap sekretaris Chanyeol dan langsung ternganga lebar.

"NEO?!" Luhan berdiri menunjuk Baekhyun tidak percaya. Ia lalu beralih menatap Chanyeol yang mengerutkan alis "ige mwoya?" Chanyeol berdehem seraya merapikan jaznya

"ah, ini Baekhyun-shii. Dia sekretarisku sekaligus namjachiguku dan kami ke sini untuk meminta anda menandatangani berkas yang sudah di sah kan oleh direktur sekaligus memberitau anda kalau rapat antar pemilik saham akan di mulai 5 menit lagi." Luhan tak mendengar Chanyeol. Ia sibuk memelototi Baekhyun yang hanya bisa menunduk.

"jadi kau bekerja di sini?" Luhan mengangkat sebelah alisnya begitupun Chanyeol yang heran. Baekhyun hanya mengangguk "chuoayo! Lalu, Chanyeol-shii adalaj namjachigumu?" Baekhyun sedikit melirik Chanyeol dan mengangguk lagi. Luhan mengerutkan alis

"lalu, bagaimana dengan K—"

"itu tidak seperti yang kau pikirkan." Baekhyun mendongak menatap Luhan dan sedikit melirik Chanyeol. "jangan salah paham Luhan-shii." Baekhyun memasang raut wajah memohon agar Luhan tak menceritakan soal Kris di hadapan Chanyeol. Luhan mengangkat dagunya tinggi-tinggi menatap Baekhyun dengan sengit sebelum membuang muka seraya melipat tangan di depan dada.

"hhh…. Kau boleh menemui Sehun setelah selesai rapat." Baekhyun mempoutkan bibirnya yang membuat Chanyeol jadi gemas dan mencubit pipi pemuda itu. Luhan tersenyum diam-diam namun segera memasang raut jutek lagi sadar masih ada Baekhyun di sana. "dia menangis terus satu minggu ini hingga tak mau berangkat sekolah karna aku tak mengizinkannya bertemu denganmu." Luhan berdehem. Chanyeol mencerna ucapan namjachigunya sebelum meletakan berkas yang harus Luhan tanda tangani di atas meja

"geurae! Tentu saja." Luhan menandatangani berkas-berkas di atas meja. "aku akan menemuinya dan mengajaknya tinggal bersamaku agar kau tak bisa memisahkan kami lagi!" Luhan berteriak di depan wajah Baekhyun membuat Chanyeol harus melerai mereka. Baekhyun hanya menutup mata sebelum meniup poninya saat Luhan sudah menjauh

"ekhem! Jadi, kau berkencan dengan Sehun? Luhan-shii?" Luhan menatap Chanyeol seraya memajukan bibirnya sambil melipat tangan di depan dada yang di busungkan.

"geurae! Wae?!" Chanyeol tertawa. Luhan menatapnya sengit

"kalian pasangan yang cocok." Luhan mengebangkan senyum seraya melirik Baekhyun dengan sinis. "sama-sama kekanakan." Sambung Chanyeol membuat Luhan kehilangan senyum dan hendak protes saat Chanyeol menatap arlojinya "rapat 3 menit lagi. Sebaiknya kau bergegas Luhan-shii. Anyeong.." dan sebelum Luhan mengamuk. Chanyeol sudah menyeret Baekhyun keluar dari ruangan Luhan sambil berlari.

.

.

.

Sehun terbangun dan kebingungan di atas ranjang. Ia menatap sekitar namun tak menemukan apapun yang familiar di matanya. Semuanya tampak asing dan baru. Padahal Sehun yakin, terakhir kali ia sedang tidur siang di kamarnya sendiri tapi, sekarang….

Cklek!

"Kau sudah bangun?"

Sehun menoleh ke sumber suara. Tepat di depan pintu kamar mandi Luhan berdiri dengan buthrob putih yang melilit tubuhnya dan handuk kecil di bahu dengan rambut yang basah. Sehun mengerjab beberapa kali lalu menggosok-gosok matanya. Luhan yang melihat itu hanya tersenyum berjalan menghampiri Sehun dan duduk di pinggir ranjang.

Luhan meraih tangan Sehun yang sibuk menggosok matanya. "wae? Kau tidak percaya ini aku?" Sehun mengangguk

"apa aku masih bermimpi?" pertanyaan Sehun membuat Luhan terkikik. Ia lalu mencodongkan tubuhnya dan mengecup bibir Sehun sekilas

"apa masih terasa seperti mimpi?" Sehun mengangguk. Luhan cemberut namun beberapa saat kemudian ia tersenyum aneh. "kau mau aku membuktikan bahwa ini nyata?" Sehun mengangguk lagi. Luhan manrik laci yang ada di dekat tempat tidur dan mengeluarkan sebuah benda persegi panjang berwarna hitam lalu memamerjkannya di depan wajah Sehun.

"ini edisi terbaru. Tidak akan rusak walau di celupkan ke dalam air dan tidak akan pecah walau di banting. Hebat bukan?" Sehun hanya memasang raut wajah biasa. Luhan bedehem "dan games di dalamnya tidak terbatas." Raut wajah Sehun langsung bersemangat. "aku akan memberikannya padamu tapi—"

"arraseo!" Sehun langsung beranjak dari tempat tidur membuat Luhan terheran-heran namun saat Sehun menggendongnya memasuki kamar mandi. Luhan langsung tersenyum nakal dan menjatuhkan i-pad yang di pegangnya tadi begitu saja.

.,.,.,.,.,.

"sekarang, apa kau masih menyukaiku karna aku memberimu barang-barang yang keren?"

"ani. Aku tetap menyukaimu walau kau tidak memebriku psp dan ponsel."

"bagaimana kalau ada orang lain yang memberimu barang yang lebih bagus dari itu? Apa kau akan menyukainya juga?"

"tentu saja, niat baik harus di terima dengan baik pula."

"kau menyebalkan!"

"tapi, di banding barang-barang dan orang baik itu. Aku sangat sangat menyukaimu."

"benarkah? 'sangat' mana antara aku dan teman-temanmu?"

"tentu saja kau."

"aku dan hyungmu?"

"err… tunggu, ini sangat sulit."

"YAK!"

"hahaha… tentu saja kau. Aku sangat menyukaimu sampai rasanya ingin menjatuhkan diri dari balkon rumah kalau tak melihatmu. Untung saja hyung mengunci semua jendela rumah dan mengunciku di kamar agar tak berbuat nekat."

"jinjja?"

"apa yang harus ku lakukan agar kau percaya?"

"setubuhi aku."

.

.

.

END!

.

.

Ell note :

Hhh… ini sebagai hadiah karna Ell mau hiatus lumayan lamaaaaaa~ . Jujur, dari semua karakter Sehun yang pernah Ell buat. Ell paling suka karakter Sehun yang ini sama Luhan yang ini juga. kkk~

Kalau sebelum-sebelumnya Ell bikin oneshot ngegantung. Itu karna buru-buru pengen publis dan yang kemarin katanya sweet banget itu sebenarnya FF udah lama Cuma Ell ngerasa aneh sama FF nya jadi gak di publis dan karna gak ada FF oneshot yang selesai jadilah FF dengan judul 'festival games' itu publish. Terus yang ini gimana? geje yah? Norak? Lucu?

Yaudah, HITAUS HIATUS…. SAYONARA~