*Hai, saya kembali lagi dengan chapter sepuluh, nggak bosen kan? xD #plak tenang aja, beberapa chapter lagi beres kok~ #spoiler #dibejek. Chapter ini saya bikin pagi-pagi sebelum berangkat kuliah karena kuliah saya kebetulan siang, rasanya beda ya moodnya kalau nulis pagi dan nulis tengah malam? Terima kasih banyak buat Baby Blue Vanilla Shake, Shaun the Rabbit, zuleviyana (yang bela-belain review via PM dan belom saya balesin, eniwei tokorode saya juga belom balesin review lain ya xD;; #shot), annpui, Winter Cocoa, Anon V, sukikawai-chan, Haru Baskerville, dan Foschia Cielo atas reviewnya, Fujimaki Tadatoshi untuk Kuroko no Basuke-nya, dan Sheila on 7 buat Kisah Klasik Untuk Masa Depan-nya (jleb, asli, sungguhan, seperti biasa). Seperti biasa, dimohon kesediaannya buat baca dan nyampah di kotak review ya~*
Juli 2022, Tokyo.
Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali,
Kita berbincang tentang memori di masa itu...
Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi...
Lelah, namun bahagia. Itulah yang dirasakan sang pilot sepulang reuni sekolah menengah pertamanya.
Ternyata kehidupan selalu menyiapkan paket-paket kejutan menyenangkan bagi mereka yang bersabar.
Perjalanan kereta malam dari Shinjuku menuju Taito pun ditempuhnya dengan senyuman. Ia bersyukur, meskipun banyak sekali hal yang berubah dari kawan-kawan seperjuangannya di masa silam, mantan kekasihnya masih sama seperti saat mereka berpisah; masih sehat, masih terbiasa hidup dibalik cahaya, dan masih terlalu baik untuknya. Ah, setidaknya ia tak lupa menitipkan kartu nama padanya barusan, jadi tak salah bukan, kalau ia berharap suatu hari kelak ponselnya bergetar, lampu merah yang ada di pojok kiri atas ponselnya berkelip mesra, ikon amplop mungil bergerak-gerak di layarnya, dan saat dibuka, ada satu-dua salam dari Kuroko meskipun sekedar bertanya "apa kabar?".
Tidak perlu hari itu juga, memang. Ia paham, meskipun kebekuan diantara mereka sudah dicairkan secara tidak sengaja, pasti masihlah ada rasa tidak nyaman, kekagetan, dan kebingungan akan apa lagi skenario yang akan dibawa sang waktu selanjutnya. Sepuluh tahun tanpa henti berada dalam diam memang bukan waktu yang singkat, dan matahari mana yang bisa mencairkan es yang membeku begitu lamanya dalam lima menit interaksi saja? Tidak ada, bukan? Meski dahulu ia selalu gagal di kelas Fisika (dan berakhir dengan lari ke arah Kuroko meminta dijelaskan materinya sesaat sebelum ujian, ah, lagi-lagi nostalgia), kalau soal yang sederhana seperti itu, Kise paham betul. Saking pahamnya, ia bisa menganalogikannya pada hubungannya dengan sang mantan pebasket berambut biru muda.
Ngomong-ngomong soal email, rasa-rasanya ia melupakan satu hal; email Kuroi Kage yang barusan diterimanya sebelum tiba di Club Velfarre belum dibalas. Ia pun mengeluarkan ponsel pintar hitamnya, membuka pesan-pesan yang sudah diterima, dan memilih pesan kedua dari daftar. Pesan pertama adalah pembaruan Tetsu no Shima dari penulis yang tengah berkirim email dengannya, dan ia akan membaca sekaligus mengulasnya nanti setibanya di rumah. Untuk sekarang, ia akan membalas pesan si penulis duluan. Tidak enak bukan, membuat seseorang menunggu lama?
"shinkirou-san,
di daerah tempat tinggal saya juga baru saja turun hujan.
Memang benar, hujan adalah sarana nostalgia paling indah,
namun terkadang nostalgia bisa membutakan realita,
jadi jangan terperangkap dalam masa lalu terlalu lama, ya..."
Tentu saja, peringatan itu akan ia camkan benar-benar. Ia tahu saat ini hatinya tengah diselimuti eforia setelah bersua kembali dengan belahan jiwanya. Namun belum tentu bukan, sang mantan kekasih merasakan hal yang sama? Kana demi kana pun ditulisnya sebagai balasan pesan untuk Kuroi Kage-san.
"Kuroicchi,
mohon maaf baru dibalas, ya... ;A;
Ngomong-ngomong soal nostalgia, saya baru pulang dari reuni sekolah~
Rasanya senang juga, bertemu teman-teman lama, lalu melihat perubahan mereka.
Kekasihku saat SMA juga datang, lho.
Ia masih belum berubah juga, dan ia tak membawa siapa-siapa ke sana...
Lama-kelamaan aku jadi berharap untuk berhubungan lagi dengannya...
(Sungguh! Baru saja kami tukaran kartu nama...
Dia tidak memberi punyanya memang, tapi ia janji mengirimiku email kelak)
Nggak salah, kan, ya, sejenak terjebak dalam eforia?
Oh, iya. Pembaruan 'Tetsu no Shima', barusan juga sudah kuterima, tapi belum kubaca~
Sekarang aku dalam kereta dari Shinjuku ke Taito. Sinyal LTE-nya jelek sekali ya, cuma cukup buat kirim-kirim email saja ;A;"
Klik. Pesan terkirim. Sekeping apologi karena telah membuat si penulis menunggu terlalu lama pun terselip. Ia tidak suka penantian, dan ia pikir semua orang pun sama, jadi membuat orang menunggu lama meskipun tanpa disengajanya cukup mengganggu hatinya. Tentu saja, ia tak ingin membuat kesalahan yang sama, membuat sang mantan kekasih menunggu bertahun-tahun lamanya hanya untuk komunikasi sesaat.
Oke, analoginya memang berlebihan. Kuroi Kage, kan, bukan kekasihnya (mungkin lebih cocok disebut sahabat lama yang sejatinya bertemu belum lama, saking kompatibelnya mereka). Lagipula, email yang barusan, masih dibalasnya dalam hitungan jam. Ah, Kise jadi tertawa sendiri jadinya. Benar juga ucapan sang penulis lewat email sorenya. Bahwa nostalgia, terkadang, akan membutakan fungsi logika dan realita.
Perjalanan dari Shinjuku menuju Taito cukup ditempuhnya dalam dua puluh menit saja, karena tidak seperti saat ia berangkat, ia menggunakan kereta malam yang lebih cepat. Pukul sembilan lewat lima belas, ia telah tiba di stasiun Ueno. Sepuluh menit lagi berjalan kaki, ia akan tiba di rumahnya.
Namun entah mengapa, malam itu, ia memutuskan untuk tidak langsung menuju apartemen mungilnya.
Kuil Kinryuuzan Sensouji, yang selalu ia lewati saat ia pergi maupun pulang, masih cukup ramai saat ia melintas di depannya. Ia pun berbelok ke sana meskipun ia tak pernah berniat untuk berdoa sama sekali pada awalnya, karena sejak dulu ia tak terlalu percaya (atau lebih tepatnya, terlalu sibuk untuk sekedar peduli) pada Tuhan, pada dewa-dewa, pada entitas sesembahan lainnya. Ia memang tetap datang ke kuil-kuil itu, sih, saat hatsumode (perayaan tahun baru dalam tradisi Jepang), atau saat ia akan menghadapi ujian, namun ia melakukannya semata karena hal itu masuk koridor tradisi Jepang dan ia tak ingin dicap sebagai pembangkang kalau melewatkannya.
Namun tentu saja, tidak pernah ada penyesalan saat ia mengikuti tradisi-tradisi itu, karena ia pun menyukainya. Tumpukan kenangan akan semuanya pun, ia masih menyimpannya. Kuil Kinryuuzan Sensouji itu, dulu sering dikunjunginya bersama seluruh punggawa tim sekolah menengah pertama Teikou saat tahun baru tiba. Bersama-sama, mereka menepukkan tangan mereka di hadapan altar sebagai simbol penyerahan diri mereka pada sang dewa, juga sebagai simbol pengharapan untuk tahun yang akan mereka lewati bersama. Setelah itu, mereka bergiliran mengucapkan doa untuk masing-masing mereka, dan pergi mengambil kertas ramalan yang menunjukkan peruntungan mereka untuk setahun kedepan (biasanya Midorima yang berlari paling cepat untuk mengambilnya, dan seluruh tim terengah-engah membuntuti jejaknya. Ada mitos juga bahwa kertas paling bawah dalam tumpukan kertas peruntungan yang tersedia itu bertuliskan "Keberuntungan Buruk", jadi tak ada satupun dari mereka yang ingin mendapatkannya, tentu saja).
Soal doa, yang paling ia ingat, saat sekolah menengah pertama (hingga sekolah menengah atas, kecuali salah satu tahun baru diantaranya) ia selalu berharap agar kemampuan basketnya meningkat. Berada dalam lingkar Generasi Keajaiban memang membuatnya bahagia, namun di saat yang sama, ia merasa cemas. Bagaimana kalau kemampuan basketnya menurun secara mendadak? Bagaimana kalau ia menjadi alasan tim mereka kalah dalam pertandingan tingkat nasional? Ia tak menyukai kecemasan, jadi yang bisa ia lakukan hanyalah berlatih sepenuh jiwa raga. Soal doa pada hatsumode, itu hanyalah bonus semata.
Ia pun hafal doa-doa yang diucapkan anggota-anggota lainnya. Midorima berdoa agar keberuntungannya lancar, Aomine berdoa agar koleksi pornonya tidak ketahuan orangtuanya (atau agar ia segera mendapat wanita cantik untuk bersanding di sampingnya, atau agar lawannya di tim basket kalah semua, atau ketiganya secara bersamaan. Ia tahu Kannon-sama takkan berkenan, karena mitosnya doa yang didengar saat hatsumode hanyalah doa yang pertama diucapkan karena doa tersebut adalah simbol ketulusan. Doa kedua, ketiga, dan seterusnya? Itu cuma simbol kerakusan seorang manusia). Murasakibara berdoa agar suplai makanannya tahun ini tak terbatas. Akashi berdoa agar kekuasaannya kekal. Momoi berdoa agar Kuroko menyadari perasaannya (yang ironisnya, sama sekali tak pernah terwujud karena sesosok Kise Ryota). Intinya, mereka berdoa untuk diri mereka sendiri saja. Ia pun tak munafik, doanya pun hanya untuknya, karena ia berpikir, untuk apa mendoakan orang lain yang bisa berdoa sendiri? Siapa tahu doanya meleset, dan orang yang didoakannya tak pernah menginginkan sesuatu yang dimohonkannya. Sia-sia, bukan?
Kecuali satu orang anggota bayangan di lingkar Generasi Keajaiban.
Setiap tahun, ia selalu berdoa agar Generasi Keajaiban tetap utuh, bahagia, dan tetap mencintai basket sebesar dirinya.
Ia tak pernah berdoa tentang kemenangan, atau kemampuan, atau kekuasaan, padahal di balik layar, ia adalah alasan mengapa Generasi Keajaiban bisa mencapai gelar yang mereka banggakan bahkan hingga tahun-tahun selepas mereka berhenti berolahraga basket, hingga mereka menua, berkeluarga, dan bisa menceritakannya pada keluarga masing-masing dari mereka.
Hal itu mengajarkan Kise satu hal: ketika kau mencintai suatu hal, ataupun orang, kau harus siap untuk berkorban atas namanya.
"Kurokocchi, kenapa kau tidak berdoa untukmu saja, sih?," tanya Kise penasaran, setelah mereka pulang dari perayaan tahun baru terakhir mereka bersama sebagai tim basket SMP Teikou. Ia tahu doanya adalah untuk dirinya, dan doa anggota tim lainnya pun adalah untuk mereka, jadi mengapa Kuroko mau repot-repot berdoa atas nama mereka?
"Karena saya mencintai kalian. Kise-kun juga, Aomine-kun juga, Murasakibara-kun juga, Akashi-kun juga, Midorima-kun juga. Rasanya saya terlalu jahat kalau saya berdoa hanya untuk keuntungan saya," jawab Kuroko kemudian. Kise yang kebingungan hanya bisa mengangguk. Jawaban Kuroko itu, baru ia mengerti saat ia pergi meninggalkan klub basket itu sejenak setelah tahun baru terakhir mereka.
Saat tim yang dibangun dengan asas kekeluargaan itu mulai hilang tali pengikatnya karena kemenangan membutakan mata mereka, apa lagi yang tersisa?
Kise masih mengunjungi kuil itu untuk bertahun baru bersama Kuroko saat mereka berhubungan, dan doa Kuroko tak pernah berubah intinya. Ucapan "Generasi Keajaiban" bergeser sedikit menjadi "tim basket sekolah menengah atas Seirin," memang, dan barulah pada tahun terakhirnya bertemu Kuroko dan merayakan tahun baru bersama, doanya berubah.
"Semoga Kise-kun selalu berbahagia dan tidak pernah lagi menangis."
Bagi seorang Kuroko Tetsuya, mengubah doa tahun baru adalah proses sakral yang tak setiap orang bisa mempengaruhinya. Saat Kise mendengar lirih bisik doa terakhirnya, ia pun merasa hatinya dipenuhi kebahagiaan.
Maka saat hubungan mereka berakhir sejenak sebelum tahun baru ketiga mereka, Kise pun mengubah doanya.
"Semoga di luar sana, Kurokocchi berbahagia..."
Ia pun penasaran, untuk siapakah kini doa Kuroko dipanjatkan? Untuk siapa sepuluh doanya dikabulkan? Bahagiakah sang guru taman kanak-kanak, dan apakah ia juga menerima doa yang sama dari orang-orang yang ia doakan? Tentu saja, rasa ingin tahu itu sah-sah saja berada dalam benaknya, selama tidak ditanyakan langsung pada orang yang bersangkutan. Menanyakan doa setelah diucapkan itu tabu hukumnya, bukan? Kecuali kau mengetahuinya karena kau mendengar saat doa itu diucapkan dengan lirih, tulus dalam hati sebagai bukti penyerahan diri.
Lalu kini, ia berhenti di kuil itu untuk mengucapkan sekeping doa yang tulus untuk sang mantan kekasih yang telah kembali membuka akses untuknya. Ia juga akan mengucapkan puji syukurnya pada sang pemilik skenario atas umat manusia, karena sudah menuliskan sebuah skenario yang menurutnya terlalu indah untuk disebut kebetulan.
Setelah membeli dupa di pintu depan kuil sebagai persembahan, ia pun masuk ke dalam kuil untuk mulai berdoa. Caranya seharusnya tidak jauh berbeda dengan hatsumode, kan? Bakar dupanya, simpan di altar, kemudian mulai berdoa. Tuh, beberapa orang tua di sana pun melakukan hal yang sama. Kemudian, ia pun menggunakan kekuatannya yang sudah lama tersembunyi dan tak ia gunakan, kekuatan untuk menyalin dengan sempurna gerakan orang yang berada di sebelahnya.
"Kannon-sama, terima kasih atas kejadian hari ini, ya.. Aku juga berdoa semoga Kurokocchi selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan..."
Di hadapan patung Kannon-sama, ia tenggelam dalam doa, dalam kesadaran bahwa sebesar-besarnya daya seorang manusia dalam berencana, semua rencana itu takkan terwujud jika Dia tak berkehendak. Sang penerbang pun disadarkan bahwa ada suatu kekuatan maha adil dan maha melihat yang menyiapkan segala sesuatunya pada waktunya, dengan cara yang tidak pernah bisa ditebak oleh siapapun jua.
Tak terasa, setengah jam sudah ia tenggelam dalam doa tulus dan puji syukurnya hingga ponselnya bergetar. Setelah mengucapkan syukur untuk terakhir kalinya karena ia tak lupa menyalakan modus diam sebelum meninggalkan rumah tadi (tidak etis bukan, jika ponselnya berteriak saat orang-orang tenggelam dalam sunyi persembahan mereka?), ia pun meninggalkan kuil. Getaran tersebut menandakan ia baru saja menerima sebuah pesan, dan pesan itu dibukanya setelah ia berada di luar kuil.
"shinkirou-san,
operator ponselnya apa? Beberapa operator memang sinyalnya sangat buruk di dalam gedung dan kereta.
Operator yang saya pakai juga sinyalnya benar-benar kacau di dalam ruangan,
tapi kalau dipakai di rumah, cepat sekali aksesnya.
Bisa jadi karena daerahnya tinggi, ya?
Wah, baru pulang reuni, ya?
Sepertinya menyenangkan.
Tidak salah memang kalau sesekali terjebak, selama kembalinya cepat...
Ngomong-ngomong, gadis yang mengakhiri hubungan dengan shinkirou-san rugi sekali, ya...
Ada selentingan yang sering terdengar,
bahwa dibalik kesuksesan seorang pria, banyak mantan pasangan yang menyesal karenanya.
Tapi kalau langsung menyatakan cinta begitu saja, bukannya nanti sang gadis akan kaget, ya?
Berteman saja dulu, kalau dia berani mengirim email duluan...
Ah, iya, tadi saya kirim chapternya dari sebuah acara yang saya hadiri,
jadi saya baru bisa mengirim satu chapter malam ini.
Tidak apa-apa, kan?"
Kise pun tersenyum bahagia. Sejauh ini, diluar Mahou Island, inilah pesan terpanjang yang pernah dikirim Kuroi Kage-san padanya. Nampaknya sang penulis maya sudah mulai terbuka padanya untuk berbincang-bincang tentang banyak hal, mulai dari hal remeh-temeh seperti pilihan operator ponsel yang digunakan, hingga hal yang cukup pribadi seperti pasangan. Hei, di umur dua puluhan, percakapan seperti itu kan takkan terelakkan, yang bisa kau lakukan hanya memilih apa yang akan kau katakan tentangnya dan pada siapa kau akan mengatakannya. Biasanya sih, kalau pada orang asing yang pertanyaannya tak jauh dari "kapan menikah", ia sudah terlatih untuk menebar tawa semu dan menyatakan "segera". Bahkan jawaban yang sama pun ia berikan pada Aomine, sahabatnya di lingkar Generasi Keajaiban yang sudah lama hilang jejaknya.
Namun entah mengapa, tanpa ditanya, ia mau dengan sukarela membagi kisah cintanya (yang kontras daripada bayangan orang-orang; entah mengapa banyak orang menganggap kisah cintanya selalu mulus dan berbunga-bunga bak hikayat para pangeran dan putrinya, padahal yang terjadi adalah sebaliknya) pada sesosok penulis yang bahkan wajah dan tubuhnya saja belum pernah ia temui di dunia nyata. Mungkin karena si penulis telah membagi fakta bahwa tulisannya adalah sekeping enigma tentang hidupnya yang ia harap dibaca dan dimengerti oleh tokoh-tokoh yang pernah hidup di dalamnya? Bisa saja.
Ah, betapa Tuhan menyiapkan segala sesuatunya agar indah pada waktunya. Setahap lebih dekat dengan restorasi kepingan hatinya, dan seorang sahabat baru yang kelihatannya mulai membuka diri padanya? Ia tak tahu lagi bagaimana cara berterima kasih pada Sang Pemilik Skenario atas semuanya.
Langkah si pirang itu menuju lantai delapan belas apartemennya begitu ringan, begitu pula gerak jemarinya menyentuh papan ketik virtual pada ponsel pintarnya setelah ia tiba di sana.
"Kuroicchi,
aku pakai au. Di dalam gedung atau kereta, sangat susah dapat sinyal!
Reuninya memang menyenangkan, anaknya temanku benar-benar lucu~
Ah, ngomong-ngomong, sebenarnya...
(jangan diberitahu pada siapapun, ya!)
...mantan kekasihku itu seorang pria...
Katanya dia sekarang bekerja sebagai guru TK di distrik tetangga.
Rasanya lega juga, ya, mengetahui 'ia' masih baik-baik saja.
Ah, iya, chapternya belum kubaca!
Sebentar ya..."
Setelah mengirimkan email pada Kuroi Kage, ia pun membuka Mahou Island untuk membaca chapter terbaru dari "Tetsu no Shima", sekalian meninggalkan komentar yang relevan. Ia tahu Kuroi Kage-san menulis berdasarkan kisah nyata dan karenanya tak terlalu berharap lagi ada perubahan mendasar pada karakterisasi dalam cerita (memang masih ada yang mengganjal, namun hei, untuk ukuran penulis yang baru memulai karirnya, karakter-karakter yang ditampilkan di sana cukup sesuai dengan realita. Sepanjang karirnya sebagai "komentator" setia di Mahou Island, kekesalan utamanya memang berada pada karakterisasi cerita. Hei, cerita dengan karakter berstereotip ibu tiri, Cinderella, dan sang pangeran sudah terlalu banyak di pasaran, juga cerita dengan karakter pria yang berlaku seperti wanita), namun ia tetap berharap perubahan-perubahan kecil pada cerita, seperti akurasi hingga ke detil terkecil atau penggunaan kosakata, berubah menuju arah yang lebih baik setiap instalasinya. Harapan itu terkandung di setiap komentarnya, yang seringkali disebut sebagai terlalu pedas, dan sejauh ini, seorang Kuroi Kage belum pernah mengecewakannya. Ceritanya yang dari awal sudah rapi, selalu bertambah rapi di setiap chapter barunya.
"Shima-kun tercekat saat ia melihat tamu yang datang lewat pintu depan restoran.
Kelihatannya pria yang lewat itu, ia mengenalnya.
Pria itu kelihatannya berumur empat puluhan, masih perlente dan segar.
Sepertinya, ia pekerja di bidang media, makanya Shima-kun mengenal mereka.
'Shima-kun, selamat malam!',
pria itu memanggilnya.
Wajah Shima-kun kemudian pucat pasi, kehilangan seluruh warnanya.
Saya yang tak mengerti hanya bisa terdiam."
Ia tertegun.
Entah mengapa, kali ini ia merasa seorang Kuroi Kage memiliki kekuatan supranatural. Kalau tidak, bagaimana bisa ia menggambarkan momen dimana ia kepergok manajernya sedang berkencan dengan Kuroko di sebuah restoran mahal belasan tahun lalu?
Ah, bisa saja kebetulan. Lagipula sangat kecil kemungkinan Kuroi Kage adalah mantan kekasihnya yang ditemuinya barusan. Ia tahu menulis adalah proses yang cukup panjang, dan notifikasi pembaruan novel itu nampaknya tertunda karena sinyal yang tak bersahabat. Karena seluruh ponsel kelihatannya mempunyai sinyal buruk di dalam gedung Club Velfarre yang dipakai untuk reuni barusan, bagaimana bisa ia memperbarui novelnya, sekali lagi jika memang benar bahwa Kuroko-lah sebenarnya penulis novel ponsel indah yang belakangan ini rajin ia baca dan komentari?
Kali ini, sinyal-sinyal kebetulan itu tak lagi bisa ia abaikan, dan ia tuliskan dalam ulasannya.
"Kuroicchi,
kau paranormal ya?
Aku pun dulu mengalami kisah yang persis sama dengan ini...
Aku masih ingat, wajahku pucat luar biasa, sampai dikira mayat, hahaha...
Tapi kau hebat, bisa menggambarkan kejadian menegangkan itu hanya dalam satu chapter pendek saja.
Di chapter lalu aku malah mengira Shima mau melamar Tetsu, kan sudah mengajaknya ke restoran mahal begitu..."
Klik. Ulasannya pun terkirim. Hampir saja ia mengetik "Kurokocchi", alih-alih "Kuroicchi", pada kotak ulasannya.
Namun bagaimanapun alasan yang benar-benar logis tersebut terpikir olehnya, alasan itu tak bisa meyakinkannya. Maka hanya ada satu hal yang bisa membuatnya benar-benar yakin bahwa "Kurokocchi" yang baru saja diterimanya bukanlah "Kuroi Kage", sang penulis.
Paranoid? Memang. Namun bukan karena ia tak ingin kisah lamanya terbongkar, toh nama-nama tokoh, sekolah, dan waktu kejadian dalam "Tetsu no Shima" sudah disamarkan, bukan? Sekalipun kelak siapapun menemukan bahwa kisah itu adalah kisah masa lalunya, ia tak lagi peduli. Biar saja, karena rasa cintanya sejak dulu hingga kini toh tak pernah berubah.
Yang membuatnya takut adalah bagaimana ia harus menghadapi Kuroko kelak. Haruskah ia senang karena kisahnya telah diabadikan, atau sedih karena kisah yang berpusat pada tokoh Tetsu itu mengabadikan juga sudut-sudut gelap hubungan mereka yang bahkan ia pun dahulu tak menyadarinya? Bagaimana jika sudut-sudut gelap itu menyebabkan Kuroko tak ingin menjumpai lagi dirinya, karena trauma? Selain itu, apa yang harus ia lakukan jika ternyata Kuroko menulisnya sebagai ajang balas dendam?
Tak ada yang lebih menyakitkan daripada dijauhi layaknya najis oleh sang belahan jiwa, bukan?
Maka, sebelum membalas pesan Kuroi Kage, ia pun menggerakkan kedua jempolnya untuk mengetik pesan pada Aomine. Beberapa menit baru meninggalkan pukul sepuluh malam, dan malam di musim panas rasanya memang selalu panjang. Jadi tak salah, bukan, kalau ia mengganggu Aomine sejenak dengan emailnya? Semasa sekolah saja, mereka bisa bertukar email sampai subuh tiba.
"Aominecchi~
Boleh minta alamat email Kurokocchi, tidak?"
Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah Kuroi Kage adalah Kuroko adalah mencocokkan alamat email yang mereka gunakan. Apabila sama-sama bukan alamat email ponsel (Kuroi Kage memberinya alamat email dengan domain sekolahnya, yang menyebabkan kolom "Pengirim" pada setiap email yang dikirimnya muncul sebagai "Pengirim Tidak Dikenal" pada ponselnya, hingga email itu disimpannya pada buku alamat. Selain itu cukup logis juga keputusan Kuroi Kage memberinya email selain email ponsel, karena akhir-akhir ini banyak sekali kasus yang melibatkan email ponsel di Mahou Island, hingga akhirnya situs itu mengizinkan pemakaian email biasa untuk pendaftarannya akhir-akhir ini. Bisa jadi ia tak ingin mengekspos email pribadinya, bukan?), maka dugaannya benar, dan ia dijamin akan dibuat tak bisa tidur setelahnya. Jika dugaannya salah? Abaikan sajalah, manusia kan memang tempatnya kekeliruan.
Sementara dugaannya belum terbukti, ia akan tetap berkirim email seperti biasa dengan Kuroi Kage. Baru saja email balasannya masuk saat ia membaca dan meninggalkan komentar atas ceritanya, nampaknya.
"shinkirou-san,
au memang terkenal buruk sinyalnya.
Banyak yang mengutuknya, tapi tarifnya kan murah, jadi bagaimana, ya...
Ah, teman-teman saya juga banyak yang sudah memiliki anak.
Yang menunda juga banyak dengan alasan pekerjaan,
jadi tidak heran kalau Jepang sekarang mengalami krisis kependudukan...
Wah, rupanya nasib kita sama, ya...
Saya jadi mengerti bagaimana kesedihan shinkirou-san.
Guru TK? Profesinya sama seperti saya, ya...
Sepertinya banyak sekali kebetulan, misalnya profesi shinkirou-san yang sama dengan teman saya.
Lucu juga... hahaha"
Oke, ia bisa mengambil kesimpulan bahwa ponsel Kuroi Kage menggunakan operator yang sama dengannya. Baginya menggunakan operator murahan itu sih tidak masalah, karena selain ia tak lama berada di Jepang, nomor ponsel yang dipakainya sudah dipakainya sejak lama sehingga rasanya sayang untuk menggantinya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana derita sang penulis maya setiap kali harus mengirim email atau mengakses situs di luar ruang, pasti menyebalkan harus menunggu lama untuk mengakses satu halaman situs saja.
Lalu entah mengapa, email itu pun berfungsi sebagai salah satu alat pembuktian. Jika, dan hanya jika, Kuroi Kage mendaftar dengan alamat email ponselnya dan memberinya alamat email sekolah, salah satu langkah untuk membuktikan teori bahwa Kuroi Kage adalah Kuroko adalah dengan membandingkan operator yang digunakan. Memiliki dua kontrak ponsel di Jepang kan tidak murah, dan ia ragu Kuroko mau melakukannya hanya untuk hal sebodoh ini.
"Kuroicchi,
sejak SMA aku sudah pakai au, jadi kalau harus mengganti rasanya sayang, ya...
Lagipula nomor ini cuma kugunakan di Jepang, kalau harus mengganti operator kelihatannya cukup mahal...
Aku suka ponsel-ponsel dari DoCoMo, padahal. ;A;
Lalu iPhone dari SoftBank juga menggiurkan ;_;
(meskipun ada juga di au, sih, tapi ya...
Rumput tetangga memang selalu lebih hijau dari rumput di taman kita, nampaknya)
Krisis kependudukan?
Ah, iya, benar, sering kudengar di berita,
bahwa negara kita tingkat kelahirannya paling rendah sedunia,
sudah begitu, tingkat bunuh dirinya tinggi pula!
Seringkali disebut juga bahwa negara kita bakal punah kalau generasi mudanya malas beranak.
Hm... Banyak juga ya kebetulan diantara kita.
Kalau dipikir-pikir, mengagetkan juga..."
Baru saja pesannya untuk Kuroi Kage terkirim, pesan dari Aomine sudah diterimanya. Sialnya, pesan itu bukan berisi hal yang diinginkannya.
"Hah?
Bukannya tadi kau ngobrol dengannya?
Aku tak punya, kau tanya saja pada yang lain.
Baru saja aku mau minta padamu."
Kise tertohok luar biasa, namun teringat bahwa wajar saja Aomine tak memiliki email Kuroko. Email sang mantan pebasket berambut biru muda kan, sudah berubah berkali-kali sejak SMA, sementara emailnya sendiri belum digantinya. Pencariannya mengalami titik buntu, sepertinya, tapi ia tak menyerah untuk meminta.
"Tolong minta pada Akashicchi, dong!
Suaminya kan pernah setim dengan Kurokocchi!
(siapa ya namanya, Furihata, kalau tak salah?)
Aku tak sempat minta email Akashicchi, dan cuma sempat memberi kartu namaku padanya,
dan dia belum mengirimiku email kelihatannya"
Setelah pesan balasan untuk Aomine terkirim, ia pun menanti pesan balasan dari Kuroi Kage (atau Aomine, siapapun yang duluan membalas pesannya) sambil berguling-guling di kasurnya. Tak berapa lama kemudian, pesan balasan yang ditunggunya itu tiba. Dari Kuroi Kage, nampaknya
"shinkirou-san,
saya pakai iPhone. Enaknya adalah bentuknya kecil dan bisa menggunakan beberapa email bersamaan.
shinkirou-san memakai ponsel Android, ya?
Atau malah masih memakai ponsel lipat yang layanannya EzWeb itu?
(tua sekali kita, sampai pernah merasakan layanan EzWeb...)
Ngomong-ngomong, karena saya tidak bisa berkontribusi dalam memperbaiki krisis kependudukan dengan memiliki anak,
saya ingin cerita saya bisa mengurangi angka bunuh diri saja...
Seperti 'Rikkaboshi' punya Kei, lho...
Saya tidak sengaja membuka kotak komentarnya, dan ada beberapa orang yang menyatakan bahwa nyawanya terselamatkan.
Saya harap cerita saya punya efek yang sama, biarpun cuma satu nyawa, hal itu sangat berarti, bukan?"
"Ah, sungguh Kuroicchi, kau terlalu altruistik, dan itu mengingatkanku pada Kurokocchi," ujar Kise dalam hati setelah email itu dibacanya sampai tuntas.
Batin Kise bergejolak setelah mengetahui maksud asli Kuroi Kage menulis ceritanya, dan seketika ia merasa bersalah telah meragukan niatnya. Meskipun demikian, rasa penasarannya tidak selesai begitu saja, ia tetap ingin memastikan bahwa Kuroi Kage yang ia kenal bukanlah Kuroko Tetsuya, mantan kekasihnya.
Karena kelak, jika "Tetsu no Shima" diterbitkan dan mereka bertatap muka, ia tak tahu apa yang harus ia katakan, juga ekspresi apa yang harus ia kenakan pada wajahnya.
Kise terlihat tenggelam dalam pemikirannya sampai tidak menyadari ponselnya bergetar. Rupanya, Aomine membalas pesannya setelah ia membalas pesan Kuroi Kage-san. Cepat juga, pikirnya.
"Nih.
Aku minta pada suaminya, malas aku berurusan dengan Akashi."
Sebuah lampiran berupa berkas informasi kontak pun diterimanya bersama email itu. Begitu diklik, berkas itu masuk pada buku alamatnya. Sedikit tak sabar, ia pun melihat kontak yang baru saja masuk ke buku alamatnya dari berkas yang diterimanya barusan.
"Kuroko Tetsuya, email:..."
Maka pada titik itu, ia merasa malu sekaligus aneh pada dirinya sendiri karena telah menyangka Kuroi Kage sebagai Kuroko. Emailnya saja berbeda, operator yang dipakai saja tak sama (email ponsel Kuroko adalah email ponsel dari operator SoftBank, rupanya). Jadi, apa alasannya mencurigai si penulis maya?
Namun demikian, ia tetap mengirim sebuah email pada alamat email Kuroko itu, sembari berdoa bahwa emailnya dibalas dan email itu tak membuat Kuroko merasa tak nyaman.
Tapi sebelumnya, pindah akun dulu ke akun kerja. Nanti kalau Kurokocchi membalas ke email ponsel dan tidak masuk karena emailnya tidak bisa diakses dari luar Jepang, bagaimana?
"Kurokocchi,
aku menggunakan email kantor~.
Jangan takut ya, aku mendapat alamat emailmu dari Furihata.
Aku cuma berharap kita bisa saling berhubungan lagi, sebagai teman,
atau sahabat, kalau Kurokocchi tidak keberatan?"
