Disclaimer : Naruto – Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : Genre, OOC, Typos, Alur kecepatan dan lainnya

Summary : Naruto, gadis berparas cantik yang membenci satu hari di hidupnya. Saat semua orang bahagia ketika hari paling spesial di hidup mereka itu datang. Naruto justru sangat membencinya. Ya, dia sangat membenci hari ulang tahunnya. Sangat benci.

Special Gift for You

By

Sentimental Aqumarine

Sasuke berjalan menuju kelasnya. Hari ini adalah hari pertama ia kembali berekolah setelah ketidakhadirannya selama seminggu akibat sakit yang diderita pemuda itu. Sweater berwarna drak blue tampak menutupi seragam sekolahnya. Ya, sweater itu adalah pemberian dari Naruto kemarin saat gadis itu datang berkunjung ke rumahnya bersama dengan teman-temannya yang lain.

Kaki jenjang itu memasuki kelas 1-A. Para fans girl Sasuke langsung berteriak histeris tak kalah melihat pangeran sekolah itu datang.

"Kyaa! Sasuke-kun!"

"Dia semakin tampan saja"

"Sweater itu cocok sekali dengannya"

"Sasuke-kun menikahlah denganku!"

Dan begitulah teriakan-teriakan gila dari para siswi yang menyebut diri mereka sebagai Sasuke Lovers tersebut . Sakura tampak tersenyum di bangkunya saat melihat Sasuke memasuki kelas. Gadis pinky itu merasa senang karena Sasuke sudah sembuh dan dapat bersekolah kembali. Jujur saja, sejak Sasuke sakit dan tak hadir di sekolah. Entah kenapa dia merindukan pemuda tanpa ekspresi itu. Seakan-akan tak melihat Sasuke sehari saja dadanya terasa sakit dan dia tak mengerti perasaan apa yang sedang dialaminya. Sakura menggelengkan kepalnya kuat. Mengusir pemikirannya akan Sasuke dari kepala pink-nya.

"Ada apa denganku? Aku tak mungkin menyukai Sasuke" ucap Sakura pelan

Sasuke sudah duduk dengan tenang di kursinya. Kiba menepuk pelan pundak pemuda itu. "Kau sudah sembuh, Suke?" tanya pemuda jabrik tersebut. "Hn" gumam Sasuke tak jelas.

"Kalau ku tahu kau sudah bisa bersekolah hari ini. Aku tak mungkin mengorbankan acara kencanku dan menjengukkmu kemarin" ujar Kiba. "Aku juga tak ingin dijenguk olehmu" ucap Sasuke ringan.

Empat sudut siku-siku muncul di sudut kepala Kiba saat di dengarnya ucapan ringan dari salah satu sahabatnya itu. Kiba mendengus keras. "Dasar tak tahu terima kasih" ucap Kiba sebal.

"Sweater yang bagus, Suke. Kau beli dimana?" tanya Neji pada Sasuke tapi tak dijawab oleh yang bersangkutan. Sasuke melirik ke kursi yang di tempati oleh Naruto. Kosong. Sepertinya gadis itu belum datang. Sasuke mengalihkan sebentar pendangannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Lima belas menit lagi bel masuk akan berbunyi, tapi Naruto belum juga datang. Dimana dia? tanya Sasuke dalam hati.

Naruto sedang berada di perpustakaan, gadis pirang itu tengah mencari beberapa buku untuk ia pinjam. Setelah menemukan buku-buku yang akan ia pinjam, gadis itu berjalan menuju meja penjaga perpustakaan dengan beberapa buku didekapannya.

"Secret karya Nathan Lucas. Kau menyukai novel berbahasa asing Naruto?" tanya penjaga perpustakaan bernama Shizune itu. "Begitulah" ucap Naruto seraya memamerkan senyumannya. Shizune membalik novel yang ada digenggamannya. "Tak kusangka gadis seusiamu menyukai novel beralur rumit seperti ini, Naruto" komentar Shizune. Wanita berambut hitam itu menyodorkan buku-buku yang dipinjam Naruto kepada gadis dihadapannya.

"Ini buku yang kau pinjam dan ingat kembalikan tepat waktu" ucap Shizune. "Baik, Shizune-san" ujar Naruto. "Dan satu lagi, jangan hilang ataupun rusak" perintah Shizune. Naruto tersenyum. "Tentu saja, kalau negitu aku pamit Shizune-san. Terima kasih atas pinjaman bukunya" ucap Naruto kemudian membungkuk member hormat dan beranjak dari tempat itu.

Beberapa detik setelah Naruto keluar dari perpustakaan, bel berbunyi cukup nyaring. Naruto terlonjak kaget. Gadis itu kemudian berlari menuju kelasnya. Mata pelajaran pertama hari ini adalah Fisika. Naruto tak ingin dihukum oleh Asume karena dia terlambat masuk di jam pelajaran guru itu. naruto berlari di sepanjang koridor sekolah yang mulai sepi itu. Dia semakin mempercepat laju berlarinya saat dilihatnya Asuma sedang berjalan diujung korodor sekolah. Beberapa meter lagi dan dia akan sampai di kelasnya.

Sasuke duduk dengan gelisah di kursinya. Pasalnya Naruto belum juga datang padahal bel sudah berbunyi sedari tadi. Beberapa meint lagi pasti Asuma akan datang dan jika Naruto datang terlambat sudah dipastikan gadis itu akan mendapatkan hukuman dari guru paling disiplin di sekolah tersebut. Sasuke bangkit dari kursinya, berniat untuk mencari Naruto. Jika Naruto terlambat masuk setidaknya gadis itu tak akan di hukum sendirian. Ya, pemuda itu bermaksud untuk terlambat masuk bersama dengan gadis pirang tersebut.

"Kau mau kemana Sasuke?" tanya Neji

"….."

"Duduklah, sebentar lagi Asuma-sensei akan datang" perintah Neji tapi Sasuke tak menggubris perintah dari sahabatnya itu. Pemuda itu malah berjalan menuju pintu kelas.

Naruto semakin berlari cepat. "Sedikit lagi" ucap gadis itu. Naruto berbelok ke kiri untuk masuk ke kelasnya.

BRUK!

Suara buku terjatuh terdengar oleh para siswa di kelas itu. "Kyaa!" teriak Naruto saat dirinya dan Sasuke bertabrakan. Sasuke dengan refleks mendekap tubuh Naruto saat gadis itu hampir terjatuh. Onyx dan Sapphire bertemu. Keduanya saling menatap. Untuk yang kesekian kalinya Naruto dapat melihat wajah Sasuke dengan sangat jelas. Gaara memandang tak suka melihat pemandangan itu di depan matanya. Bagaimana perasaaanmu saat kau melihat gadis yang kau sukai tengah berada di dekapan laki-laki lain. Cemburu? Kesal? Marah? Ya, itulah yang sedang dirasakan oleh Gaara saat ini.

Shikamaru melirik kearah Gaara, dilihatnya rahang pemuda itu mengeras. Merepotkan, sepertinya Gaara pun menyukai gadis itu, batin Shikamaru. Puluhan pasang mata melihat adegan Sasuke dan Naruto. Sedangkan kedua objek yang menjadi pusat perjatian itu masih saling diam sampai suara seseorang mengagetkan keduanya.

"Apa yang kalian berdua lakukan di ambang pintu seperti ini, huh?" tanya Asuma yang sedang berdiri tepat dibelakang Sasuke dan Naruto. Naruto melekapkan dekapan Sasuke dari tubuhnya dan kemudian menoleh ke belakang.

"T-tidak ada sensei" ucap Naruto gugup

"Kalau begitu kembali kembali ker kursi kalian"

"Hn/ Baik sensei" ucap Sasuke dan Naruto bersamaan

Naruto membereskan buku-bukunya yang terjatuh di lantai karena bertabrakan dengan Sasuke tadi. Sasuke membantu Naruto membereskan buku-bukunya sampai tangan Sasuke tak sengaja menyentuh tangan Naruto saat keduanya ingin mengambil buku yang masih tergeletak di lantai. Untuk beberapa detik mereka berdua kembali saling menatap sampai Asuma berucap.

"Heem, saya rasa kalian bisa kembali saling memandangi satu sama lain saat di jam istirahat nanti" tegur Asuma. Naruto yang malu langsung meraih buku yang masih tergeletak di lantai itu. "Terima kasih" ucap Naruto pelan kepada Sasuke kemudian bangkit dan melangkah ke kursinya begitu juga dengan Sasuke.

Naruto mendudukan dirinya di kursi, mengeluarkan buku dan peralatan tulis miliknya. Gadis itu meremas bagian atas seragam sekolahnya. Entah kenapa mendadak jantungnya berdetak tak sepertinya biasanya. Sangat kencang. Apalagi saat dia dan Sasuke saling bertatapan.

"Ada apa dengan jantungku?" tanya Naruto pelan pada dirinya sendiri. Hinata yang duduk disamping Naruto menoleh kearah gadis dissampingnya tersebut saat didengarnya Naruto berbicara sendiri.

"Kau baik-baik saja, Naru-chan?" tanya Hinata khawatir saat dilihatnya Naruto meremas seragamnya. "Ah, a-aku baik-baik saja, Hinata" jawab Naruto. "Kau yakin?" tanya Hinata memastikan. "Tentu saja aku yakin" ujar Naruto.

Naruto mengumpat dalam hati, merutuki dirinya yang tidak mengambil kelas Fiika saat dia masih bersekolah di L.A. waktu itu. Andai Menma ada disini, batin Naruto seraya mengingat sahabat jangkungnya, Menma.

Hari ini, Asuma memberikan soal yang harus dikerjakan dalam waktu satu jam kepada para muridnya. Naruto mengerjakan soal-soal itu dengan tenang walau dalam hati dia sangat meragukan jawaban yang ia tulis itu. Salahkan saja kemampuannya yang terbatas jika berhubungan dengan pelajaran menghitung. Menurut Naruto, Fisika adalah pelajaran paling membosankan dan kurang kerjaan. Untuk apa kau menghitung laju sebuah kendaraan? Kalau kau bisa menggunakan speedomater untuk mengukur laju kendaraan tersebut.

Kadang Naruto bingung kepada pencetus mata pelajaran paling membosankan semacam Fisika dan Matematika yang hanya menghitung jarak, menghafal rumus dan membuat otakmu yang sudah keriting semakin bertambah keriting saja.

Satu jam berlalu, semua lembar jawaban para siswa sudah berada di meja guru. Asuma sedang memeriksa lembar jawaban para muridnya. Selagi menunggu sang guru memeriksa dan memberitahukan hasil mereka. Para murid tampak asyik dengan kegiatannya masing-masing. ada yang mengobrol dengan teman sebangku, ada yang sedang mematut dirinya di cermin seperti yang dilakukan Ino dan ada juga yang hanya duduk diam sembari membunuh waktu.

Naruto tampak asyik membaca novel yang tadi dipinjamnya. Dia benar-benar menyukai novel karya Nathan Lucas ini. Menurutnya, setiap cerita yang ditulis oleh Nathan Lucas selalu memberikan kesan mendalam baginya. Seperti salah satu novel Nathan yang berjudul 'Believe'. Novel itu menceritakan tentang perjuangan seorang pemuda yang berusaha keras membuat kekasihnya yang mengalami amnesia untuk kembali mengingatnya. Naruto bahkan sempat menangis saat sang pemuda bernama Nicholas yang ternyata menderita kanker itu, tersenyum kearah sang pujaan hatinya, Amelia, Saat kekasihnya itu mengatakan jika dia sudah mengingat Nicholas kembali. Tapi, disaat ingatan Amelia kembali, Nicholas menghembuskan nafas terakhirnya didekapan sang kekasih. Dan yang paling Naruto ingat dari novel itu adalah saat Nicholas berucap pada Amelia "Aku tahu kau sekarang tak mengingatku, tapi aku akan berusaha untuk membuatmu ingat, karena aku mencintaimu dan cintaku akan menuntunmu untuk mengingatku kembali".

Naruto tak pernah bosan dengan novel itu walau sudah berpuluh kali dia membacanya. Karena baginya, perjuangan Nicholas itu sangat menakjubkan, membuatnya berimajinasi ingin memiliki seorang kekasih seperti tokoh fiksi dalam novel karya penulis favorite-nya tersebut. Naruto tersenyum ditengah kegiatannya membaca novel. Gadis itu membalik salah satu halaman, terlalu asyik dengan kegiatannya hingga tak menyadari ada sepasang mata tengah memandanginya.

Asuma berdiri dari posisi duduknya dengan puluhan lembar jawaban di tangannya. Pria yang hobi merokok itu berkata. "Saya sudah memeriksa lembar jawaban kalian dan seperti perjanjian kita diawal tadi. Siapapun yang mendapatkan nilai dibawah 80 harus menerima hukuman dari saya" ucap Asuma.

Asuma menatap lembar jawaban yang ada ditangannya. "Nara Shikamaru, kau mendapat nilai 98" ucap Asuma. Shikamaru melangkah ke depan kelas untuk mengambil lembar jawabannya seraya menguap, tak peduli dengan nilai yang ia dapatkan itu. Dia sudah memprediksi nilainya sebelum mengerjakan soal-soal itu dan prediksinya tak salah.

"Hyuuga Neji, kau juga mendapat nilai 98" ucap Asuma, Neji bangkit dari kursinya dan melangkah ke depan kelas, sama halnya dengan Shikamaru, Neji juga tak terlalu peduli dengan nilai yang bisa didaptkannya dengan mudah itu.

"Uchiha Sasuke dan Sabaku no Gaara. Selamat, kalian mendapat nilai sempurna" ucap Asuma bangga pada kedua muridnya itu dan beberapa detik setelahnya terdengar suara tepuk tangan.

Beberapa siswi tampak berbisik-bisik saat Sasuke dan Gaara melangkah bersamaan di depan kelas untuk mengambil lembar jawaban mereka.

"Sasuke dan Gaara hebat ya"

"Selain tampan mereka juga pintar"

"Mereka berdua memang kekasih idaman"

Asuma melirik kearah Sasuke dan Gaara yang tampak biasa saja dengan nilai yang mereka dapatkan tersebut. Asuma menghela nafas berat, Kenapa tak ada ekspresi senang di wajah mereka berdua? tanya Asuma dalam hati.

"Pertahankan terus prestasi kalian berdua" ucap Asuma

"Arigatou, sensei" ucap Gaara sopan

"Hn" gumam Sasuke

Asuma kembali membacakan nilai para muridnya. "Hyuuga Hinata, kau mendapat nilai 95" ucap Asuma. Hinata berjalan kedepan kelas. "Arigatou, sensei" ucap gadis Hyuuga itu. Hinata kembali ke kurinya Naruto menoleh kearah gadis indigo yang kini sudah duduk disebelahnya. "Selamat, Hinata" ucap Naruto. "Arigatou, Naru-chan" ujar Hinata seraya tersenyum.

"Haruno Sakura dan Uzumaki Naruto" panggil Asuma Naruto dan Sakura bangkit dari kursi mereka dan berjalan ke depan kelas. "Selamat kalian mendapat nilai 99, jika kalian lebih giat lagi. Saya rasa untuk mendapat nilai sempurna bisa dengan mudah kalian dapatkan" ujar Asuma seraya menyodorkan lembar jawaban kepada Naruto dan juga Sakura

"Arigatou, sensei" ucap Sakura

"Benarkah?" ucap Naruto pelan

Naruto memandang lembar jawabannya, matanya berkedip-kedip tanda tak percaya dengan nilai yang tertera di lembar jawabannya itu. "Aku tak percaya bisa mendapat nilai seperti ini" bisik Naruto

"Ada apa Nruto?" tanya Asuma

"Ah, t-tidak ada apa-apa, sensei" ucap Naruto sembari memamerkan cengiran khasnya. Sakura dan Naruto kembali ke kursi mereka. "Selamat Naruto" ucap Sakura. "Kau juga, Sakura" ujar Naruto.

Asuma kembali membaca nilai para muridnya. "Inuzuka Kiba dan Yamanaka Ino, sepertinya kalian harus menjalani hukuman dari saya" ucap Asuma.

"Eh?" tanya Ino bingung

Asuma memperlihatkan lembar jawaban keduanya di depan kelas. "Tujuh puluh sembilan" beo Kiba saat dilihatnya nilainya di lembar jawaban yang ditunjukan oleh Asuma

"Kalian tidak mendapatkan nilai yang sudah kita sepakati bersama" ucap Asuma. Ino mengerang frustasi begitu juga dengan Kiba. Bel berbunyi pertanda pelajaran Asuma telah berakhir. Asuma beranjak dari tempatnya berdiri, membereskan pelengkapan mengajarnya. Tapi sebelum keluar dari kelas Asuma berucap. "Kiba, Ino temui saya di kantor sepulang sekolah nanti. Kita akan membahas hukuman apa yang saya berikan pada kalian berdua" ujar Asuma kemudian melangkah pergi.

"Aaaargh! Yang benar saja, tidak bisakah guru sialan itu member toleransi sedikit?! Aku hanya membutuhkan satu angka lagi untuk nilaiku itu" ucap Kiba kesal

Sama halnya degan Kiba, Ino juga sedang frustasi. Bingung. Seperti apa hukuman yang akan diberikan oleh guru paling kejam di sekolahnya itu. sakura menepuk-nepuk pundak Ino pelan. "Tenanglah, aku rasa Asuma sensei tak akan memberikan hukuman yang sangat berat padamu dan juga Kiba" hibur Sakura.

"Itu menurutmu, Sakura" ujar Ino. Ino menghela nafas berat. "Kenapa harus ada pelajaran Fisika di dunia ini?!" teriak gadis itu seraya beranjak keluar dari kelasnya. "Hei, Ino! Kau mau kemana?" tanya Sakura sedikit berteriak. "Menyusul Naruto dan Hinata ke cafeteria" sahut Ino. Sakura bangkit dari kursinya dan menyusul Ino.

.

.

.

.

.

.

Naruto sedang membawa nampan berisi makanan pesanannya menuju meja yang sedang ditempati oleh Hinata. Beberapa hari yang lalu Sakura cs menemui Naruto yang sedang duduk sendirian di dalam kelas. Sakura, Ino dan Hinata memutuskan untuk memulai semuanya dari awal, kembali berkenalan dengan Naruto seperti yang mereka lakukan saat pertama kali bertemu dengan Naruto tiga tahun lalu. Merajut kembali tali persahabatn diantara mereka yang sempat terputus. Mengenyampingkan kenyataan bahwa Naruto tak pernah ingat jika mereka pernah bersahabat tiga tahun yang lalu. Semua sudah mereka kubur, menganggap bahwa itu adalah bagian dari masa lalu yang tak perlu mereka ingat kembali. Dan, sekarng mereka harus fokus di masa sekarang. Di masa dimana Naruto mereka sudah kembali.

"Ini pesananmu, Hinata" ucap Naruto

"Arigatou, Naru-chan" ucap Hinata. "Sama-sama" ujar Naruto seraya mendudukkan dirinya di kursi. Naruto mengambil sumpitnya, memegang sumpit itu dengan kedua ujung jarinya. Naruto memejamkan matanya, menresapi aroma ramen yang meguar di indera penciumannya.

"Selamat makan" ucap Naruto dan kemudian menyantap ramennya.

Sasuke cs baru saja memasuki area cafeteria. Mereka berlima berhenti sejenak, memandang ke penjuru cafeteria tersebut. "Sepertinya tak ada kursi kosong untuk kita, Suke" ujar Neji. "Merepotkan" ucap pemuda Nara yang berdiri di samping kiri Sasuke. Kiba melihat Hinata yang sedang menyantap makan siangnya bersama dengan Naruto di sudut cafeteria dan disana ada kursi kosong yang cukup untuk mereka belima. "Ikut aku" perintah Kiba kemudian melangkahkan kakinya menuju meja Hinata dan Naruto.

Neji berdiri disamping kanan Hinata. Hinata yang merasa ada seseorang yang berdiri disampingnya, mendongakkan kepalanya. "Nii-san" ucap Hinata. Naruto yang sedang menyantap ramennya langsung mendongakkan kepalanya yang sempat tertunduk tadi, memandang kelima pemuda yang berdiri tak jauh darinya.

"Boleh kami bergabung disini, Hina-chan?" tanya Kiba

"T-tentu saja boleh, K-kiba-kun" jawab Hinata sembari menundukkan kepalanya. Kelima pemuda itu mendudukkan diri mereka satelah mendapat ijin dari Hinata. Kiba duduk disamping Shikamaru. Padahal dia berniat untuk duduk disamping Hinata. Tapi, diurungkan niatnya itu saat Neji menatapnya tajam seolah-olah Neji member isyarat 'Jangan. dekat-dekat. dengan. adikku.' Neji duduk disamping Hinata menjaga sang adik dari Kiba.

Sedangkan Sasuke dan Gaara, kedua pemuda itu duduk disamping kanan dan kiri Naruto. "Bisakah kalian berdua duduk di kursi yang kosong itu?" tanya Naruto sembari menunjuk kursi kosong dengan sumpitnya. "Memangnya kenapa?" tanya Sasuke dan Gaara bersamaan.

"Aku tak bisa memakan ramenku jika kalian menghimpitku seperti ini" ujar Naruto. Baik Sasuke maupun Gaara, sama-sama tak menggubris perkataan Naruto semakin kesal. Gadis itu kembali menyantap ramennya dengan Sasuke dan Gaara yang menghimpitnya. Untung saja, tubuh Naruto ramping sehingga dia masih bisa memakan ramennya.

Sakura dan Ino baru saja tiba di cafeteria setelah sebelumnya ke toilet sebentar. Ino menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, membuat Sakura yang tepat berjalan dibelakangnya sukses menabrak punggung gadis berpony tail itu.

"Kenapa kau berhenti secara tiba-tiba, huh?" tanya Sakura kesal sembari mengelus hidungnya yang sakit karena menabrak punggung Ino.

"Gaara" ujar Ino tak nyambung

"Eh?"

Sakura mengikuti arah pandang Ino dan gadis pinky itu tahu alasan kenapa sahabatnya berhenti tiba-tiba begitu. Itu karena Ino melihat sang pujaan hatinya, Gaara. Ino merogoh saku roknya, mengambil cermin dan kemudian menatutkan dirinya. Gadis itu merapikan tatanan rambutnya. "Sudah cantik" ucap Ino. Gadis itukembali memasukkan cerminnya ke dalam sakurok seragamnya dan kemudian melangkahkan kakinya ke tempat Gaara berada. Meninggalkan Sakura yang masih berdiri di belakangnya.

'Ino!" panggil Sakura tapi Ino tak merespon panggilannya. "Aiisssh! Anak itu" erang Sakura kemudian menyusul Ino.

"Hai, Naruto" sapa Ino

"Hai jugu, Ino" sahut Naruto

"Hai, Gaara" sapa Ino pada Gaara

"Hai juga, Ino" sahut Kiba. "Aku tak menyapamu, Kiba" sembur Ino. Gadis itu mendudukkan dirinya di kursi yang tersisa begitupula dengan Sakura. Naruto mendorong pelan mangkuk ramennya yang sudah kosong ke tengah meja kemudian meraih minumannya dan meminumnya hingga setengah.

Beep! Beep!

Handphone Naruto yang berada diatas meja bergetar. Naruto meraih handphone miliknya, melihat siapa yang menelponnya. Naruto mengernyit, kode telpon dari luar negeri. Naruto menggeser tombol hijau yang berada dilayar handphone touch screen-nya.

"Halo" ucap Naruto

"….."

"Yes, Naruto here" ujar Naruto lagi

"….."

"Menma!" ucap Naruto setengah berteriak. Naruto menutup mulutnya saat menyadari bahwa suaranya tadi membuatnya menjadi pusat perhatian. Naruto menutup speaker handphone-nya dengan tepalak tangannya. Membungkuk meminta maaf karena suaranya yang cukup keras itu.

"Maaf" ucap Naruto

Naruto kembali menaruh speaker handphone-nya di telinganya. "Halo, Menma" ucap Naruto. Gadis itu memberikan isyarat kepada teman-temannya untuk berbicara sebentar kepada orang yang sedang menelponnya itu. setelah mendapatkan ijin, Naruto beranjak pergi dari cafeteria tersebut. Sasuke memandang punggung Naruto yang mulai menjauh itu. Mengumpat kepada siapapun yang sedang menelpon Naruto itu.

"Apa yang orang yang menelpon itu kekasih Naruto yang berada di L.A.? tanya Kiba

"Mungkin saja, kau lihat wajahnya yang berubah senang saat menyebut nama orang itu" komentar Shikamaru. "Hei Sakura, kau itu 'kan sahabat Naruto. Apa kau tahu siapa itu Menma?" tanya Kiba pada Sakura. "Entahlah, aku sendiripun tak tahu. Naruto tak pernah bercerita apapun tentang kehidupannya di L.A." jawab Sakura.

"Kalau orang bernama Menma itu memang pacar Naruto, kenapa kau tampak repot sekali Kiba?" tanya Neji. "Aku hanya penasaran saja" ujar Kiba. "Benarkah? Atau kau ingin memasukkan Naruto sebagai bagian dari gadis-gadismu itu?" sindir Neji

"It's not your business, Neji" ujar Kiba kemudian meminum orange juicenya

Sasuke bangkit dari kursi, melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat itu. Tak peduli dengan Kiba yang memanggil namanya. 'Siapa orang bernama, Menma itu?' gumam Sasuke dalam hati.

Naruto masih berbicara dengan Menma di telpon. Gadis itu tampak senang saat sahabat jangkungnya menelponnya. Hampir dua minggu dia berada di Tokyo tapi sahabatnya itu tak pernah menelponnya atau membalas e-mail yang dikirimkan Naruto, padahal Menma sudah berjanji akan sering menghubunginya.

"Jadi, kau menjadi perwakilan sekolah untuk kompetisi matematika di Amerika dan kau menang?" tanya Naruto. Ya, sekarang Menma sedang berada di negeri paman Sam itu. Mengikuti ajang paling bergengsi di dunia pendidikan itu dan pemuda itu memengkan kompetisi tersebut.

"Congratulation for you, Menma" ucap Naruto

"….."

"Jadi, kapan kau akan ke Tokyo?" tanya Naruto

"….."

"Aku akan menunggu kedatanganmu" ujar Naruto

"….."

"Aku juga merindukanmu, Menma"

"….."

"Baiklah, kalau begitu. Oh ya, kirimkan salamku pada Mr. Smith dan Mrs. Smith"

"….."

"See you" ucap Naruto dan kemudian memutuskan panggilan telpon itu. Naruto memasukkan handphone-nya ke dalam saku. Gadis itu beranjak dari tempatnya berada, saat membalikkan tubuhnya Naruto memekik kaget saat dilihatnya Sasuke berdiri di belakangnya.

"Sasuke" ucap Naruto

"Hn"

"Sejak kapan kau ada disini?" tanya Naruto

"Sejak kau mengucapkan selamat pada Menma-mu itu" ujar Sasuke tak suka

"Jadi, kau menguping pembicaraanku?" tanya Naruto

"Hn"

"Kau tahu itu tidak sopan 'kan?"

"Menma itu kekasihmu?"

"Apa?"

"Aku tanya, apa yang menelponmu itu kekasihmu?"

"Tidak, Menma itu sahabatku saat di L.A." jawab Naruto

Sasuke bersorak dalam hati, cukup tenang saat tahu jika pemuda bernama Menma itu bukan kekasih Naruto. "Ayo kembali ke kelas, sebentar lagi bel istirahat akan berakhir" ujar Sasuke seraya menarik pergelangan tangan Naruto. Naruto tak memberikan penolakan yang berarti saat Sasuke menarik pergelangan tangannya.

.

.

.

.

.

.

Bel istirahat sudah berbunyi, Sasuke dan Naruto masuk ke kelas bersamaan dengan Sasuke yang menggenggam pergelagan tangan gadis itu. Para siswi yang melihat adegan tak biasa itu tampak berbisik-bisik. Membuat Naruto yang tahu jika dia sedang dibicarakan hanya menundukkan kepalanya seraya melangkahkan kakinya menuju kursinya. Beberapa menit kemudian Anko masuk dengan setumpuk kertas.

"Konichiwa minna-san" sapa Anko

"Konichiwa sensei" sahut para murid bersamaan

"Hari ini sensei akan memberikan daftar ekskul yang bisa kalian ikuti. Kalian hanya perlu menulis nama kalian dan nama ekskul yang kalian inginkan. Dan kalian hanya bisa memilih dua ekskul saja" terang Anko

"Kalian mengerti?" tanya Anko

"Mengerti sensei"

"Neji, tolong bantu saya untuk membagikan kertas-kertas ini" perintah Anko pada anak didiknya yang berstatus sebagai ketua kelas itu

"Ha'i, sensei" ucap Neji

Neji mulai membagikan kertas-kertas itu kepada teman-temannya. Setelah selesai, Neji kembali ke kursinya. "Kalian sudah bisa memulai mengerjakannya" ucap Anko.

"Kau akan memilih ekskul apa, Naru-chan?" tanya Hinata

"Sepertinya ekskul musik dan melukis" jawab Naruto

"Kau bisa melukis, Naru-chan?" tanya Hinata yang dibalas anggukan kecil oleh Naruto. "Kau mau aku melukismu?" tawar Naruto. "Apa boleh?" tanya Hinata.

"Tentu saja boleh, aku akan sangat tersanjung jika kau bersedia untuk aku lukis" ujar Naruto. "Aku bersedia, Naru-chan" ujar Hinata antusias. "Kalau begitu bagaimana jika kau berkunjung ke rumahku, aku akan melukismu disana. Tapi sebelum itu, kita harus membeli beberapa perlengkapan terlebih dahulu" ucap Naruto.

"Arigatou" ujar Hinata sembari memeluk Naruto. "Sama-sama, Hinata" ucap Naruto

"Dan bagaimana denganmu? Kau akan mengambil ekskul apa?" tanya Naruto. Hinata melepaskan pelukannya dari Naruto. "Photography" jawab Hinata

"Kita akan mengambil ekskul apa, Sakura?" tanya Ino sembari mengetuk-ngetuk pena miliknya ke meja.

"Bagaimana dengan cheerleaders? Aku yakin kita akan masuk dan menjadi anggota inti" ucap Sakura yakin. "Bagaimana bisa kau seyakin itu, Sakura?" tanya Ino sembari melirik Sakura dari ekor matanya. Sakura mengetuk-negetuk dahi Ino dengan jari telunjuknya. "Tentu saja aku yakin, kita 'kan pernah menjadi anggota cheerleaders saat SMP dulu" ujar Sakura.

"Ah! Kenapa aku bisa melupakannya"

"Karena di kepala pirangmu itu hanya ada Gaara saja" sindir Sakura

"Apa maksud perkataanmu itu, Sakura?" tanya Ino. Sakura hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu kemudian menuliskan namanya di kertas yang berada dihadapannya tersebut.

Sasuke cs sudah memilih ekskul apa yang akan mereka ikuti dan pilihan mereka jatuh pada ekskul basket. Semua siswa sudah mengumpulkan kertas mereka dan memberikannya kepada Anko. "Besok kalian sudah bisa mengikuti ekskul yang kalian pilih itu" ucap Anko.

"Dan ingat, apapun ekskul yang kalian pilih itu tak boleh membuat kalian melupakan tugas kalian sebagai pelajar yaitu belajar. Sensei tidak ingin melihat nilai jelek di setiap ujian kalian, mengerti?"

"Mengerti sensei"

.

.

.

.

.

.

Waktu berlalu sangat cepat dan jam pelajaran terakhir sudah usai lima menit yang lalu. Naruto sedang membereskan buku-bukunya saat Sasuke menghampirinya. "Aku akan mengantarmu pulang" perintah Sasuke. Naruto menatap Sasuke bingung. "Jangan memasang wajah seperti itu, Naru" ucap Sasuke.

"Maaf, Sasuke. Hari ini aku akan pulang bersama Hinata" ucap Naruto

"Naru-chan apa sudah selesai?" tanya Hinata yang berada diambang pintu kelas

"Sebentar lagi Hinata" teriak Naruto

Naruto menepuk pundak Sasuke kemudian tersenyum kearah pemuda raven itu. "Lain kali aku akan pulang bersamamu" ucap Naruto. "Hn" gumam Sasuke. "Nah, aku pulang dahulu Sasuke. Jaa ne" ucap Naruto kemudian berlari-lari kecil untuk menghampiri Hinata.

Sasuke membalikkan tubuhnya, memandang Naruto yang sedang berdiri diambang pintu bersama dengan Hinata. "Kami duluan Sasuke-kun" ucap Hinata. Naruto memandang Sasuke kemudian melambaikan tangannya kearah pemuda itu. "Daah, Sasuke" ucap Naruto. Beberapa detik setelah kepergian Naruto, Sasuke mengangkat tangannya, melambaikan tangan kearah pintu. "Daah, Naru" ucap Sasuke pelan.

Naruto dan Hinata sedang berada di toko yang menjual peralatan untuk melukis. Kedua gadis itu berada di sudut toko di sebuah rak yang berisi berbagai macam cat. Naruto mengambil sekotak cat, kemudian mereka berdua berjalan ke rak selanjutnya untuk mengambil kuas. Setelah sudah mendapatkan barang-barang yang mereka butuhkan. Naruto dan Hinata berjalan ke meja kasir. Membayar dan setelah itu beranjak pergi untuk menuju rumah Naruto.

Naruto dan Hinata berada di dalam bis sembari memakan ice cream yang mereka beli tak jauh dari halte tempat mereka menunggu bis. "Kenapa kau lebih suka naik bis daripada mobil pribadi, Naru-chan?" tanya Hinata. Gadis itu cukup penasaran karena dia sering melihat Naruto menunggu bis saat pergi maupun pulang sekolah. "Aku menyukai suasana yang ada di dalam bis yang tak bisa kudapati jika berada di dalam mobil pribadi" jelas Naruto.

"Lagipula, sewaktu di L.A. aku sering naik bis kemanapun aku pergi" jelas Naruto lagi.

Selama berada di Tokyo, Naruto memang lebih memilih untuk menaiki transportasi umum itu untuk pergi dan pulang sekolah atau hanya sekedar pergi untuk berjalan-jalan. Bagi gadis berumur 16 tahun itu, naik bis jauh lebih menyenangkan daripada naik kendaraan pribadi. Kau bisa melihat orang-orang baru ataupun orang-orang yang sering satu bis denganmu dan itu adalah satu keasyikan tersendiri untuk Naruto.

Naruto dan Hinata turun dari bis, kemudian berjalan memasuki salah satu district paling elit di Tokyo. Mereka berdua sudah berada di dalam mansion Uzumaki, beberapa maid menyambut kedatangan mereka. Naruto memberi hormat kepada salah satu maid.

"Selamat datang, Hime" ucap maid itu

"Aku 'kan sudah bilang, jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu, Iruka-san" ucap Naruto. "Nah, Iruka-san perkenalkan, ini Hinata, dia adalah sahabatku. Dan Hinata, pria tampan dihadapanmu ini adalah Iruka-san, dia adalah maid senior di mansion ini. Dia sangat cerewet" jelas Naruto

"Saya tidak cerewet, Hime. Senang bertemu dengan anda lagi, nona"

"Saya juga Iruka-san" ucap Hinata

"Kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Naruto heran

"Ano.. saya pernah bertemu dengan Hinata-san di supermarket. Benar begitu, Hinata-san"

"I-iya, aku dan Iruka-san pernah bertemu di supermarket, Naru-chan" ucap Hinata gugup

"Oh, begitu" beo Naruto

Itachi sedang duduk di ruang tamu saat Sasuke masuk dan mendudukkan dirinya disamping pemuda itu. Sasuke meraih remote televisi, menekan tombol power untuk menyalakan benda dihadapannya tersebut. Sasuke menonton televisi dalam diam, Itachi melirik sosok disampingnya itu. "Bagaimana kabar Naru-chan?" tanya Itachi sembari membalik halaman majalah yang dia baca.

"Baik-baik saja" ucap Sasuke tanpa sekalipun memalingkan pandangannya dari acara yang sedang ditontonnya itu. Dan keheningan kembali melanda kedua Uchiha itu.

Naruto tampak serius dengan kegiatannya, sesekali gadis itu menuangkan cat ke dalam tempat cat yang berada di genggaman tangan kirinya kemudian mengusapkan kuasnya ke permukaan kanvas. Sekarang dia sedang melukis wajah Hinata. Hinata sudah pulang karena mendapatkan telpon dari ayahnya. Jadilah, Naruto hanya melukis wajah sahabatnya itu dari foto yang tadi di berikan oleh Hinata. Gadis itu terlalu fokus sehingga menyadari jika kakak laki-lakinya masuk ke dalam kamarnya. "Kau sedang apa Naru?" tanya Kyuubi

Naruto menoleh kesumber suara. "Naru sedang melukis, Kyuu-nii" jawab Naruto. Kyuubi melihat lukisan Naruto. "Siapa yang kau lukis itu Naru?" tanya Kyuubi lagi. "Dia sahabatku, namanya Hinata" ujar Naruto.

"Makan malam sudah siap, kakek dan nenek juga sudah menunggu di ruang makan. Turunlah" perintah Kyuubi pada Naruto. "Naru akan turun sebentar lagi Kyuu-nii" jawab gadis itu. Tangannya masih menari-nari diatas permukaan kanvas. "Baiklah, Kyuu-nii tunggu kau di bawah" ujar Kyuubi yang dibalas anggukan kecil oleh adikknya itu.

Beberapa menit setelah kepergian Kyuubi, Naruto bangkit dari posisi duduknya. Memandang hasil lukisannya sejenak. Dan senyum terukir di wajah gadis itu. "Aku harap Hinata menyukai hasil lukisanku ini" ucap Naruto pelan. Gadis itu membereskan peralatan lukisnya, menyimpannya ke dalam kotak dan menaruhnya di lemari penyimpanan barang-barang yang terdapat disudut kamarnya. Setelah semuanya beres, Naruto melangkah keluar untuk menuju ruang makan, tempat dimana anggota keluarga yang lain sudah menunggunya.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya…

Naruto lebih memilih untuk menghabiskan jam istirahatnya dengan membaca buku yang dipinjamnya kemarin. Sakura dan Ino sedang berada di ruang audiotorium untuk mengikuti pemilihan anggota cheerleaders sedangkan Hinata, gadis indigo itu sedang berada di ruang mading bersama dengan para siswa lain yang memilih pahotography untuk ekskul mereka. Gaara masuk ke dalam kelas, menghampiri Naruto yang sedang asyik dengan bukunya.

"Kau sedang membaca apa, Naruto?" tanya Gaara. Naruto tersentak kaget karena suara Gaara. "Apa aku mengagaketkanmu?" tanya Gaara lagi. "Ya" jawab Naruto. "Maafkan aku" ucap Gaara menyesal. "Tidak apa-apa" ujar Naruto.

Gaara melihat sampul buku yang sedang di baca oleh Naruto dan dia mengenal buku yang sedang dipegang gadis pirang itu. "Kau menyukai buku itu juga ya?" tanya Gaara.

"Apa?" tanya Naruto bingung. "Bukankah itu karya Nathan Lucas?"

"Bagaimana kau tahu?" tanya Naruto pada Gaara seraya menutup buku yang sedari tadi dibacanya. "Sulit dipercaya, aku ini adalah Nathanever" ujar Gaara. "Benarkah?" tanya Naruto tak percaya. "Begitulah" ucap Gaara.

"Tak kusangka, aku akan bertemu dengan Nathanever disini" ucap Naruto. Dan untuk beberapa menit mereka berdua saling mengobrol sampai kehadiran Sasuke engintrupsi kegiatan mereka itu. Sasuke memandang tak suka atas kedekatan keduanya. "Ikut aku, Naru" perintah Sasuke dan kemudian beranjak pergi dari tempat itu.

Naruto menatap bingung kepergian Sasuke, gadis itu sejenak terdiam. "Sebaiknya kau menyusul Sasuke, Naruto" ucap Gaara yang membunyarkan lamunan Naruto. "Kau benar Gaara, kalau begitu aku akan menyusul Sasuke" ucap Naruto dan kemudian berlalu meninggalkan Gaara sendirian di dalam kelas.

Sakura dan Ino sedang berada di toilet, mereka baru saja mengikuti pemilihan anggota cheerleaders beberapa menit yang lalu. Sakura mengelap keringatnya dengan handuk yang tadi disorkan oleh Ino padanya. "Aku tak menyangka kita akan mendapatkan posisi inti dengan semudah itu" ujar Ino.

"Aku 'kan sudah bilang padamu kemarin, kita akan masuk dan menjadi anggota inti" ucap Sakura. Ino hanya memutar bola matanya bosan, gadis itu kemudian melangkahkan kakinya menuju salah satu bilik toilet.

Hinata sedang duduk disalah satu kursi yang sediakan oleh senior di ekskul photography. Gadis itu menunggu dengan gelisah hasil keputusan para senior untuk memilih siapa-siapa saja yang dapat bergabung dan menjadi anggota dari salah satu ekskul paling populer di Tokyo International High School itu.

"Kami sudah memutuskan untuk memilih 5 orang terbaik diantara kalian" ucap seorang gadis berambut biru bertage name Konan itu. Gadis bernama Konan itu menyebutkan nama-nama yang akan bergabung di ekskul photography yang dipimpin olehnya.

"Dan untuk orang terakhir kami sepakat untuk memilih orang ini karena hasil fotonya yang sangat bagus, dia adalah….." ucap Konan menggantung

Hinata semain gelisah di kursinya, dia sangat berharap jika namanyalah yang akan disebut. Gadis itu berharap-harap cemas.

"….. Hyuuga Hinata" sambung Konan. Hinata terdiam di kursinya, cukup terkejut karena doanya dikabulkan. Gadis itu menatap sang senior tidak percaya. "Kenapa kau diam saja? Kemarilah. Kami akan menobatkan kau dan lainnya sebagai anggota kami" ucap Konan dan bersamaan dengan itu Hinata bangkit dari kursinya dan melangkah ke tengah ruangan.

Naruto sedang berdiri tepat di belakang Sasuke. "Ada apa Sasuke?" tanya Naruto. Sasuke membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah gadis dihadapannya itu. "Kau akan pulang bersamamuku nanti" ujar Sasuke. "Apa?" tanya Naruto bingung.

"Kau mendengarnya, Naru" ucap Sasuke santai.

"T-tapi aku…"

"Aku tak menerima penolakan, Naru" ujar Sasuke lagi kemudian berlalu pergi dan meninggalkan Naruto dengan sejuta kebingungan. Naruto membalikkan tubuhnya dan menatap punggung Sasuke yang mulai menjauh itu. Gadis itu menghela nafas berat, kemudian ikut berlalu meninggalkan tempat itu dan menyusul Sasuke yang sudah berlalu terlebih dahulu.

Kring! Kring!

Bel pertanda pelajaran terakhir telah usai, berbunyi sangat nyaring. Kurenai mengucapkan salam kepada muridnya sebelum meninggalkan kelas. Semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Sasuke sedang menunggu Naruto diluar kelas. Naruto baru saja keluar bersama dengan ketiga sahabatnya.

"Kenapa kau ada disini, Sasuke?" tanya Naruto

"Menunggumu" jawab Sasuke

"Menungguku? Untuk apa?" tanya Naruto bingung

"Untuk mengantarmu pulang"

"Eh?"

Naruto menatap Sasuke bingung sedangkan ketiga sahabatnya saling menatap satu sama lain. Ikut bingung dengan apa yang dikatakan Sasuke tadi. "Jangan bilang kalau kau melupakan perkataanku tadi siang, Naru" ujar Sasuke datar.

"Hehehe, maaf. Aku melupakannya Sasuke"

"Hn" gumam Sasuke dan kemudian menarik pergelangan tangan Naruto

"Kyaa! Jangan menarikku seperti ini, Sasuke" pinta Naruto

Ketiga sahabat Naruto hanya mentap kepergian Sasuke dan Naruto dengan bingung. "Aku pulang duluan Sakura, Ino, Hinata. Jaa" teriak Naruto saat jarak diantara dirinya dan ketiga sahabatnya semakin jauh.

"Jaa Naru-chan/Jaa" ucap Hinata dan Ino bersamaan. Sakura menatap kepergian keduanya dalam diam, entah kenapa saat tahu jika Sasuke akan mengantar Naruto pulang, dada mendadak nyeri. Sakura meremas baju seragamnya, Mungkin nyeri ini karena aku terlalu bersemangat menari saat pemilihan anggota cheerleaders tadi, batin Sakura.

.

.

.

.

.

.

Sepanjang perjalanan baik Naruto maupun Sasuke, mereka berdua hanya saling diam. Naruto tampak asyik memandang keluar jendela sedangkan Sasuke, pemuda raven itu tampak fokus mengemudikan mobilnya.

Naruto menoleh kearah Sasuke saat pemuda itu membelokkan mobilnya kearah yang berlawanan dari arah pulang ke mansion Uzumaki. "Ini bukan jalan menuju ke rumahku, Sasuke" ucap Naruto

"Hn"

"Kau akan membawaku kemana?" tanya Naruto

"….."

"Sasuke" panggil Naruto

"….."

"Sasuke, sebenarnya kau akan membawaku kemana?" tanya Naruto lagi

"….."

"Sasuke!" panggil Naruto, kali ini dia sedikit menaikkan nada suaranya

"Diam dan ikut saja" ujar Sasuke

Sasuke menghentikan laju mobilnya di sebuah restaurant ramen bernama Ichiraku Ramen. Sasuke keluar dari dalam mobil begitu juga dengan Naruto. Naruto menutup pintu mobil dibelakangnya dengan pelan, menatap bangunan dihadapannya dengan instens sampai suara Sasuke membuyarkan lamunannya. "Ayo masuk" ajak Sasuke.

Naruto melangkahkan kakinya mengikuti Sasuke yang berjalan di depannya. Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restaurant itu. Dia seperti tak asing dengan tempat ini. Suasana di restaurant ini seperti pernah ia rasakan sebelumnya. Sasuke menarik kursi di depannya, mengisyaratkan Naruto untuk duduk di kursi itu.

Beberapa detik setelah mereka duduk, seorang pelayan menghampiri meja mereka. Pelayan bertage name Ayame itu memandang Naruto dengan intens, membuat Naruto risih karena tatapan tak biasa dari wanita dihadapannya. "Apa kau Naruto?" tanya pelayan itu

"Bagaimana bisa kau tahu namaku?" tanya Naruto

"Ya Tuhan, jadi kau benar-benar Naruto?"

"I-iya"

"Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi, Naru-chan" ucap Ayame itu seraya memeluk tubuh Naruto. Naruto memandang Sasuke dengan bingung. "Kau sudah lama sekali tak berkunjung kemari, Naru-chan" ujar Ayame kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Naruto saat dirasakannya Naruto kesulitan bernafas di dalam pelukannya.

"Aku tak menyangka, kau akan tubuh menjadi gadis secantik ini, Naru" ujar Ayame lagi

"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Naruto

"Kau melupakanku, Naruto?" tanya Ayame kaget dengan reaksi yang diberikan oleh Naruto padanya. Sasuke bangkit dari kursinya. "Bisa kita bicara sebentar, Ayame-san?" tanya Sasuke. Ayame menoleh kearah Sasuke dan kemudian menganggukkan kepalanya.

"Tunggu disini, aku urusan sebentar dengannya" ujar Sasuke yang dipatuhi oleh Naruto. Naruto melihat Sasuke tampak membicarkan sesuatu dengan pelayan bernama Ayame itu. Beberapa menit kemudian Sasuke kembali. "Kalian membiacarkan apa?" tanya Naruto penasaran. "Bukan hal yang penting, sekarang pilih makan yang akan kau pesan, Naru" ucap Sasuke.

Sasuke dan Naruto sudah keluar dari Ichiraku Ramen tiga puluh menit yang lalu, dan sekarang mereka berdua sedang berada di sebuah bukit dengan pemandangan kota Tokyo di bawahnya. Kini mereka berdua sednag duduk diatas cap mobil sport Sasuke. Sebentar lagi matahari akan ternggelam, Naruto menyesap mocc-nya, cuaca sore ini cukup dingin. Angin berhembus cukup kencang. Naruto mengeratkan genggaman kedua tangannya pada cangkir mocca miliknya, berusaha mengusir dingin yang mulai menyelimutinya. Sasuke melirik gadis disampingnya, pemuda itu melepaskan sweaternya kemudian memakaikannya ke tubuh Naruto.

Naruto menoleh kearah Sasuke. Hembusan nafas Sasuke menerpa wajah tan-nya. "Kau masih merasa kedinginan?" tanya Sasuke yang dibalas anggukan kepala oleh Naruto. Tanpa ragu, Sasuke membawa tubuh Naruto ke dalam dekapannya. Menghangatkan tubuh Naruto yang kedinginan itu. Awalnya Naruto cukup kaget dengan apa yang dilakukan Sasuke padanya, tapi entah mengapa dia merasa hangat di dalam dekapan pemuda itu.

Semburat merah mulai tampak di langit Tokyo, matahari juga mulai menunduk sedikit demi sedikit dan bersamaan dengan itu perasaan Sasuke menghangat. Dan semakin menghangat seiring dengan tenggelamnya matahari. Senyum terukir d' wajah tampan Sasuke.

'Aku akan membuatmu kembali mengingat kenangan kita, Naru' ucap Sasuke dalam hati

.

.

.

.

.

.

Kyuubi sedang berada di ruang baca saat ponselnya berbunyi. Pemuda itu meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Kyuubi melepas kacamata bacanya kemudian menekan tombol hijau di ponselnya.

"Moshi-moshi"

"….."

"Ya, ini aku Kyuubi"

"….."

"Ada apa Pein?" tanya Kyuubi

"….."

"Berita buruk apa?"

"….."

"Apa?! Bagaimana bisa orang itu kabur?"

"….."

"Brengsek!" umpat Kyuubi

"….."

"Baiklah, aku akan segera kesana" ucap Kyuubi kemudian mematikan sambungan telpon itu.

Kyuubi meremas ponselnya, perkataan Pein yang mengatakan jika orang itu kabur benar-benar berita buruk. Kyuubi bangkit dari tempat duduknya. "Aku akan membawamu kembali ke penjara" ucap Kyuubi dingin dan bersamaan dengan itu seringai muncul di bibir pemuda berambut orange kemerahan tersebut.

To be Countinue

Pojok Suara :

Balasan review :

Me to Namikaze Sholkhan : Hehehe, sepertinya memang ada cinta segiempat di fic ini. Terima kasih sudah mereview yaa..

Me to DheKyu : Naruto adalah obat paling mujarab untuk segala penyakit yang diderita oleh si bungsu Uchiha itu. Soal Sakura, kita lihat aja. Apa dia bakal di tolak Sasuke atau tidak. Hehehe, terima kasih sudah mereview…

Me to Misha Haruno : Ini sudah saya lanjutkan

Me to Nitya-chan : Naruto bakal ingat kok, tapi nggak sekarang. Yosh! Ini sudah saya lanjutkan

Me to Akbar123 : Ini sudah saya lanjutkan

Me to Namikaze Hinata : Terima kasih, ini sudah saya lanjutkan

Me to Guest : Yep! Chapter kemarin memang belum ada konflik yang berarti karena saya ingin memberi jeda sejenak sebelum menghadirkan kembali konflik dan penyiksaan batin untuk Naruto dan para tokoh lainnya. Soal ending saya belum kepikiran buat fic ini jadi happy atau malah jadi sad ending..

Me to BlackRose783 : Yosh! Ditunggu aja perjuangan Sasuke untuk membuat Naruto mengingatnya kembali. Terima kasih sudah mereview..

Me to Mitsuka Sakurai : Ini sudah saya lanjutkan, terima kasih sudah bersedia mereview

Me to Namikaze Kazura : Ini sudah saya lanjutkan. Arigatou ne

Me to Axa Alison Ganger : Saya sudah melanjutkannya, terima kasih sudah mereview

Me to Narumi Kadaya : Terima kasih, chapter 10 sudah saya lanjutkan

Me to Ruma Gami : Oh yeah! Sudah pasti Sasuke harus berjuang ekstra kuat untuk mendapatkan Naruto kembali mengingat ada Gaara yang juga menyukai Naruto.

Me to : Salam kenal juga, terima kasih sudah membaca dan bersedia mereview ya..

Me to Hanazawa Kay : Ini sudah saya lanjutkan

Me to LNaruSasu : Senyum Sasuke saya pastikan tak akan bertahan lama, karena di chapter yg akan datang, saya akan membuat Sasuke kembali bergalau. Hohohoh..

Me to Lavender-chan : Terima kasih sudah mereview dan membeca fic saya ne

Me to : Uchiha kalau lagi galau emang gitu, suka mukuli apapun yang ada dihadapannya, hahaha. Ini sudah saya lanjutkan.

Me to Wildapolaris : Moment SasuSaku dan GaaNaru itu hanya sebagai pemanis fic ini saja, tapi 'kan diakhir sudah saya buat moment SasuNaru yang sweet banget. Jadi saya adil 'kan?

Me to Luca Marvell : Sepertinya yang akan bersaing itu adalah Sasuke dan Gaara deh bukan Naruto dan Sakura, karena nanti di chapter yg akan datang Sakura akan dekat dengan Sasuke.

Me to Nei-chan : Sama-sama, terima kasih juga sudah bersedia membaca fic saya Nei-chan.

Maaf sudah lama menunggu, saya hanya punya sedikit waktu untuk menulis kelanjutan fic ini. Setelah pulang dari Surabaya, saya harus terbang kembali ke Pekanbaru dan menetap disana beberapa hari sebelum pulang ke Medan. Alhasil fic ini jadi terbengkalai. Kenapa saya jadi curhat begini? Ah! Sudahlah kita akhiri saja sesi curhat itu.

Nah, bagaimana dengan fic kali ini? Baguskah? Atau biasa saja? Sebenarnya, saya agak kaget karena fic ini sudah sampai di chapter 10. Hahahah, padahal seingat saya baru kemarin saya mempublish fic ini.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih

Sentimental Aquamarine pamit

See you and bye, bye, bye

Mind to review?