Cast:

BTS member and Other

Disclaimer:

BTS and other belongs to their parents, but this fanfic is mine!

Pair:

VJin, HopeKook, MinSu

WARNING!

Typo(s) bertebaran, author masih amatiran ._.v

YAOI or BoyxBoy

v

v

v

v

29 December, 20xx

.

.

.

Taehyung tak tahu sudah berapa lama hari terlewati semenjak ia dan yang lainnya terkunci di perpustakaan. Yang pasti hari ini ia senang sekali. Hari ini, atau lebih tepatnya malam ini, festival tahun baru diadakan. Dan untuk pertama kalinya Taehyung akan menikmati festival itu bersama Jungkook selama ia menjadi mahasiswa di Big Hit University.

Taehyung telah selesai bersiap dan mengambil ponselnya di nakas. Ia berjalan turun tergesa menuju ruang tengah. Disana ia bertemu dengan Namjoon yang duduk membelakangi tangga, sibuk berkutat dengan ponselnya di tangan.

"Hyung, di festival nanti hyung bebas, kan?"

Namjoon menoleh mendengar suara adiknya dari tangga. Ia melepas headset yang digunakannya lalu mengangguk. "Ne. Aku bebas dari kegiatan tampil nanti. Setelah Hoseok tampil nge-dance, kami akan berjalan-jalan menelusuri stand. Kau mau ikut?"

"Ani, aku akan bersama Jungkook," jawab Taehyung. Namja imut itu mengambil segelas susu di kulkas dan menenggaknya cepat.

"Bagaimana dengan Jin hyung?"

Taehyung sempat merona ditempat begitu mendengar nama orang yang selama ini mulai perhatian padanya. Taehyung buru-buru menggeleng menepis segala pikiran anehnya.

"Kuyakin Jin hyung akan bersama Yoongi hyung," jawab Taehyung lagi, kalem.

"Bagaimana dengan Jimin?"

Taehyung mendengus tertahan mendengar pertanyaan Namjoon yang tidak berhenti. "Jimin pasti punya teman! Kalau tidak salah namja bernama Minhyuk dan Jongup,"

"Jongup? Moon Jongup? Bukankah ia sudah punya pasangan—Junhong? Apa kau pikir di festival kali ini Jongup tidak modus menjadikannya sebagai kencan? Kuyakin ia meninggalkan Jimin dan Minhyuk," Namjoon bermonolog ria tanpa melihat Taehyung sama sekali.

"Aish! Ya sudahlah, hyung tidak berangkat sekarang? Aku sudah ditunggu Jungkook, nih! Aku berangkat, ya!"

Dengan sekali gerakan, Taehyung membuka pintu dan keluar rumah. Ia memberikan lambaian kecil pada Namjoon sebelum akhirnya keluar pagar dan menemukan Jungkook berdiri tak jauh dari sana.

"Kookie! Kau sudah lama menunggu?" Taehyung tersenyum lebar dan berlari kecil menuju tempat Jungkook.

"Aniya, baru sampai." Jungkook menjawab disertai senyuman manis di wajah baby-nya.

"Oh, baguslah. Ayo jalan..."

Kedua sahabat itu berjalan berdampingan. Taehyung menatap langit diatasnya dengan pandangan tak sabar. Sekarang jam menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit, waktu yang sangat mengasyikkan untuk mengadakan festival. Cuaca sangat mendukung, benar-benar mendukung untuk ukuran cuaca di musim salju seperti ini. Udaranya tidak terlalu dingin dan sangat menenangkan.

"Tae hyungie, kita mau kemana saja nanti? Aku belum pernah merasakan festival di Big Hit, tentu saja karena kita angkatan baru. Tapi... aku berpikir apa seperti festival biasanya, ya?"

Taehyung menerawang. "Kuharap tidak. Mungkin saja keadaannya mirip, dengan panggung dan stand-stand seperti biasa. Tapi yah... kuharap disana ada sesuatu yang menarik,"

"Pasti banyak yang menarik. Ada duet Jimin hyung dan Yoongi hyung, kan?"

"Dan..." Taehyung mengerling jenaka sembari menyeringai penuh rasa jahil. "penampilan memukau dari Jung Hoseok?"

Jungkook membatu ditempatnya. Namja mungil itu buru-buru memalingkan wajahnya sembari meringis tak terima sekaligus malu-malu. "Shut up, jebal."

Taehyung menahan tawanya agar tidak meledak terlalu keras. Ia menyenggol lengan Jungkook. "Aigoo... nae Jungkookie tertarik pada Hoseok hyung!"

Jungkook melirik Taehyung. "Sejak kapan aku menjadi milikmu?"

Taehyung yang mendengarnya gantian terdiam. Ia berhenti menyenggoli lengan Jungkook dan kini berdiri ditempat dengan mulut melengkung ke bawah. Ia menatap Jungkook dengan pandangan yang membuat Jungkook kini menahan tawanya.

"Jahat sekali kau, Kookie! Kupikir kita sahabat! Tapi apa ini?! Apa ini yang namanya sahabat?!" Taehyung berseru dan melanjutkan jalannya dengan langkah dihentak-hentakkan mendahului Jungkook.

Pecahlah tawa geli Jungkook. Ia kemudian berlari menghampiri Taehyung. Perbedaan tinggi yang nyaris sama memudahkan Jungkook untuk merangkul pundak sahabatnya itu dan mengelusnya pelan.

"Tae hyungie ngambek." desahnya kecil, masih merangkul bahu Taehyung.

"Aniya, aku bukan anak kecil!"

"Tapi Tae hyungie ngambek sambil pouty."

Alis Taehyung berkerut samar mendengarnya. "Mwo? Terus kenapa?"

"Berarti Tae hyungie ngambeknya tidak secara dewasa," balas Jungkook kalem.

"Kau juga begitu," Taehyung menarik nafas. "Ngambeknya sambil nge-pouty macam-macam gaya."

"Tae hyungie pernah bilang aku masih anak kecil, kan? Jadi tidak masalah, dong. Hehehe..." Jungkook nyengir disisi Taehyung dengan tampang sepolos mungkin.

"Stop it, Kook. You look like really wants to make me feel bored now,"

"Aniya! Jangan bosan duluan, kita belum sampai ke festival! Nanti kalau bukan dengan Tae hyungie, Kookie tidak bisa mendapatkan permen kapas disana. Kookie mau makan permen kapas!"

"Eh? Permen kapas? Aku juga mau!" Taehyung berseru girang sembari membalas merangkul pundak Jungkook. Keduanya jalan beriringan saling merangkul.

-0-0-0-

Jimin masih setia duduk di salah satu kelas yang menjadi tempat berkumpulnya mereka yang akan tampil di panggung. Ia duduk dibangku sendirian di sudut. Sedangkan di depan sana Yoongi berdiri sembari memegangi kertas lirik. Wajahnya yang seputih salju tertimpa cahaya bulan dari jendela, menyorot dengan indah seakan menjadikan Yoongi sebagai pusat perhatian yang spesial.

Jimin tidak tahu sejak kapan ia bisa menemukan titik menarik di wajah kurang ekspresi milik Yoongi. Walau terlihat dingin dan datar, Jimin mengakui bahwa Yoongi pastinya memiliki beberapa penggemar. Bagaimana pun juga wajahnya sangat menarik, putih, manis, dan begitu misterius.

Mata bening Yoongi selalu bisa membuatnya tenggelam. Iris hitam mengilap itu membuat Jimin merasa siapapun yang tenggelam kesana pasti tidak dapat keluar. Dan tubuh mungil itu... ugh, Jimin ingin merasakan rasanya merengkuh tubuh mungil itu. Mencari kehangatan disana. Karena Jimin tahu, hati Yoongi tidaklah sedingin ekspresinya. Perhaps he is a kind-hearted-boy?

"Jiminie!"

Jimin terlempar dari lamunannya menatap Yoongi. Didepannya kini berdiri sosok hyung-nya. Kim Seokjin berdiri dengan balutan sweater hitam, jaket, dan jeans. Terlihat santai dan Jimin mengakui bahwa kakaknya memang menawan.

Keduanya berbincang dengan tenang. Sesekali Jimin atau Jin tertawa pelan. Kemudian hening tercipta... dan Jimin memulai kembali obrolan setelah memberi jeda tarikan nafas.

"Jin hyung, bagaimana rasanya naik panggung? Dilihat banyak orang?"

Jin menoleh mendengar pertanyaan Jimin. Walau Jimin cukup populer, namun Jimin itu belum pernah bicara didepan banyak sekali orang yang perhatiannya fokus terpusat pada dirinya. Pantas kalau Jimin menanyakan ini.

"Rasanya... menyenangkan, tentu saja. Tapi ada rasa nervous juga wajar. Yang penting kita sudah menyiapkan yang sebaik mungkin." Jin membalas dengan senyuman menenangkan.

"Kalau sudah selesai tampil?" Jimin menatap Jin lagi.

"Tentu saja kau akan merasa lega," jeda karena Jin menghela nafas. "Tapi kau juga harus profesional,"

"Profesional...?"

"Ya," Jin menatap Jimin. "Melakukan sebisa mungkin apa yang mereka minta, dengan sepenuh hati dan senyuman. Mungkin rasanya agak janggal dan sulit untuk dilakukan, tapi senyumin saja. Nanti kau juga akan menikmatinya,"

"Oh..." Jimin mengangguk mengerti.

Seulas senyum Jimin terkembang. Ia menatap jendela didepannya, membuat cahaya bulan menyoroti wajah putihnya. Namja ber-eyesmile itu bangun dari duduknya dan berniat menghampiri Yoongi.

"Jin hyung, gomawoyo." Jimin melambai sambil berjalan menjauhi Jin yang kini juga akan keluar kelas. Jin tersenyum kemudian menghilang di pintu.

"Yoongi hyung!"

Yoongi mengerjap ditempatnya. Kemudian ia mengangkat wajahnya dari display ponsel ditangannya. "Ada apa?"

Jimin menggeleng. Ia mengambil duduk disamping Yoongi, mengatur deru perasaannya sendiri. Jimin pikir yang mendominasi perasaannya adalah perasaan nervous akan tampil. Tapi ternyata... perasaan lain mencuat begitu saja. Perasaan hangat dan senang ketika ia mendapati sepasang iris hitam mengilap menatapinya dengan bingung dari sisi kanannya. Dan Jimin bisa menangkap dengan jelas sebuah pouty dan dengusan di bibir merah menggoda itu.

Wow. Jimin benar-benar tak salah apresiasi kalau ternyata namja dingin disebelah sana sungguhlah manis. Jimin tersenyum dalam diam, berusaha menyimpan memori dimana untuk pertama kalinya ia melihat rengutan lucu di wajah sunbae-nya itu.

-0-0-0-

Taehyung menyingkap poninya ketika mendapati gerbang Big Hit terbuka lebar dengan berbagai hiasan meriah ala festival. Senyum Taehyung merekah lebar, ia menarik Jungkook untuk cepat-cepat menyusuri lapangan luas yang kini terdapat banyak stand-stand menarik. Tidak semua stand didirikan oleh anak-anak Big Hit, ada juga stand yang didirikan oleh masyarakat untuk memeriahkan festival yang tidak setiap tahun diadakan itu.

"Kookie! Lihat! Sepertinya pembukaan pertama akan dilakkukan," Taehyung menarik lengan Jungkook mendekat dan menunjuk ke atas panggung.

"Oh ya? Siapa yang bicara?"

"Suho sunbae."

Taehyung dan Jungkook berjalan menuju panggung dengan langkah ringan. Keduanya memang sempat berdesakan agar mendapat pijakan yang agak dekat dengan panggung, supaya bisa melihat dengan jelas. Taehyung celingukan disana, pasalnya ia tidak menemukan sosok kakaknya atau setidaknya ya... ekhm, Kim Seokjin. Taehyung tidak tahu tapi rasanya ia ingin sekali melihat sunbae tinggi dengan tampang menawan itu.

"TaeTae?" seseorang memanggilnya.

Taehyung sontak menoleh diikuti Jungkook. Disisinya kini telah berdiri sosok hyung-nya yang memamerkan senyum lebar khasnya. "Oh, Namjoon hyung. Kukira hyung telat karena ketiduran?"

"Tidak mungkin aku ketiduran, Tae. Kau sudah bilang kalau aku wajib datang untuk memberi semangat pada Hoseok," Namjoon mengingatkan.

"Hyung datang hanya untuk itu?" tanya Jungkook menimpali percakapan dua bersaudara Kim itu.

"Aniya. Aish, tentu saja juga ingin menikmati festival!"

Jungkook dan Taehyung bergumam paham secara bersamaan, membuat mereka telihat sangat lucu dan menggemaskan dengan mulut yang sama-sama maju membentuk bulat. Namjoon memutar bola matanya malas, dua sahabat itu sangat mengherankan baginya.

"YA! Kalian!" Kim Seokjin menepuk pundak Namjoon membuat ketiganya menoleh bersamaan.

Taehyung tersenyum kecil melihat sosok malaikat itu berdiri diantaranya dengan Namjoon. Nafas Jin agak tersengal dan beberapa tetes keringat mengalir di wajahnya. Ia pasti berusaha menerobos kerumunan depan panggung itu supaya bisa ke sini. Dan Taehyung salah fokus melihati keringat yang terlihat begitu... err... akh! Taehyung jadi merona sendiri!

"Jin hyung capek?" celetuk Taehyung jujur.

Jin menoleh menatapnya masih dengan senyuman. "Yeah, tapi tidak apa-apa. Ada kau sekarang disisiku."

OMO! Taehyung hampir saja menjerit layaknya gadis ketika Jin mengatakan hal seperti itu. Taehyung menarik nafas panjang dan berusaha mengontrol ekspresinya. Ia menyerahkan sebuah tisu dan membiarakn Jin mengelap sendiri keringatnya.

Keempatnya benar-benar sibuk berbicara satu sama lain, melupakan keadaan mereka yang sudah berdiri lumayan lama namun tidak merasa lelah. Dan tiba-tiba saja Suho sudah berhenti berbicara. Senyum malaikat yang selalu diminati itu terkembang, dan ia berseru dengan lantang.

"Penampilan pembuka untuk festival tahun ini adalah nyanyian untuk kita semua. Semoga kalian senang, enjoy the festival, guys!"

Suara riuh penonton membuat Taehyung, Jungkook, Namjoon, dan Jin tertarik dari obrolan mereka. Mata Taehyung berbinar antusias, ia secara reflek ikut berteriak senang walau dengan suara kecil. Hal pertama yang dipikirkan Taehyung semenjak tahu hyung manis namun datar ekspresi itu akan menyanyi bersama Jimin adalah... membayangkan senyumnya yang—pasti—akan semanis gula. Ukh, Taehyung benar-benar penasaran dengan raut Yoongi nanti!

Taehyung berdebar. Gosh, ia memang selalu ingin tahu! Sifatnya kambuh dan ia benar-benar menantikan saat musik dimulai. Yoongi sudah naik ke atas panggung bersama Jimin. Sudah pasti Jimin tersenyum lebar ketika menghadapi banyak orang didepannya. Ia melambai ramah layaknya biasa.

Dan... kini tebakan Taehyung benar. Sangat benar. Untuk pertama kalinya, Taehyung bisa melihat senyum Yoongi secara jelas. Jelas sekali hingga membuat Jungkook menjerit kecil dan Namjoon menahan nafas ketika menyadari bibir tipis itu terangkat. Senyum semanis gula itu telah dianugrahkan pada sosok Min Yoongi diatas sana dan Taehyung sempat berharap kalau saja Yoongi dilahirkan dengan memiliki sifat terbuka.

"Yoongi hyung manis sekali..." bisik Jungkook masih berbinar kagum.

"Apa aku terdengar berlebihan jika aku menahan nafas ketika melihatnya tersenyum?" tanya Namjoon pada Jin yang masih lekat menatap dua sosok diatas panggung.

Jin menoleh. "Tidak, sama sekali tidak. Aku juga jarang sekali melihat senyum Yoongi. Adapun selebihnya mungkin hanya senyum supertipis sehingga terlihat sinis." Jin menarik nafas. "Beruntunglah kalian bisa melihatnya,"

-0-0-0-

Jimin harus mengakui kalau jantungnya benar-benar berdetak cepat. Selain karena perasaan senang berada diatas panggung, ia juga berkali lipat senang bisa melihat senyuman Yoongi. Jimin terkesima. Senyuman itu lucu sekali.

Mata sipit Yoongi terdorong semakin menyipit ketika tulang pipinya terangkat karena mengukir senyum. Eye smile itu mirip dengannya. Namun Jimin percaya bahwa Yoongi-lah pemilik eye smile paling manis yang pernah ia temui.

Musik mulai mengalun lembut. Jimin menarik nafas sembari mengontrol detak jantungnya sendiri.

"Yeah... yeah... just one day, one night..."

"Haruman naege sigani itdamyeon, dalkomhan ni hyanggie chwihaeseo gonhi nan jamdeulgopa..."

Taehyung senang sekali melihat senyuman diwajah Yoongi terkembang sempurna. Walau ia tak yakin apakah senyuman itu akan bertahan hingga ia turun panggung, namun setidaknya ia bisa melihatnya dengan jelas seolah tanpa paksaan. Riuh para penonton terutama yeoja semakin jelas. Apalagi disaat reff berlangsung. Mereka benar-benar menikmatinya. Membuat Jimin untuk yang kesekian kalinya memuji keahlian Yoongi. Memuji salah satu kelebihannya dalam bidang membuat lagu.

"Haruman neowa naega hamkkehal su itdamyeon—Just one day, If I can be with you...

Haruman neowa naega sonjaebul su itdamyeon—Just one day, If I can hold your hands...

Haruman neowa naega hamkkehal su itdamyeon—Just one day, If I can be with you..."

Jimin semakin melebarkan senyumnnya. Yoongi disisinya juga tidak menujukkan ekspresi datarnya. Mereka benar-benar menikmati waktu berduet mereka. Namun telinga Jimin menangkap beberapa teriakan dari ujung sana. Suara itu berusaha menembus yang lainnya. Jimin awalnya tidak peduli, namun suara teriakan itu akhirnya membuat suara lain ikut berseru.

"Tunjukkan! Tunjukkan! Tunjukkan!"

Jimin merengut samar tidak mengerti. Tapi ia tidak menghentikan nyanyiannya. Ekor mata Jimin melirik Yoongi yang tampaknya juga mendengar teriakan itu. Semakin jelas, dan akhirnya suara itu terdengar dengan sangat jelas.

"Tunjukkan! Peluk! Peluk!"

Jimin hampir saja berhenti bernyanyi karena matanya melotot bingung. Ia buru-buru mengambil alih keterkejutannya. Kaget, tentu saja. Apa-apaan ia disuruh menunjukkan kegiatan yang dilakukan pada ref lagu itu? Yang benar saja! Jimin mana berani memeluk tubuh mungil Yoongi, memegang tangannya saja ia ragu. Tapi jauh dilubuk hatinya, ia sebenarnya ingin. Hanya... mengingat betapa jarang bicaranya Yoongi membuat Jimin berpikir akan berakhir seperti apakah ia nantinya setelah memeluk Yoongi. Mungkin ia akan jamuran karena diacuhkan oleh Yoongi?

"Peluk! Peluk! Peluk!"

Taehyung dan Jungkook berpandangan dengan dahi sukses mengerut. Kenapa semua penonton jadi berteriak begitu? Mereka ingin Jimin memeluk Yoongi, kah?

"Jin hyung, apa Yoongi hyung akan marah jika di peluk?" tanya Taehyung.

"Kuharap begitu... Yoongi tidak suka di peluk didepan banyak orang. Kau tahu dia orang seperti apa," Taehyung terdiam mendengarnya. Tak lama ia kembali menatap ke atas panggung.

Jimin terus-terusan melirik Yoongi, seolah melakukan telepati disana. Jimin tidak memaksa. Ia hanya ingat apa yang dikatakan Jin sebelumnya, kalau mereka harus profesional. Argh... Jimin jadi gemas sendiri!

Namun jauh dari apa yang dipikirkan Jimin, ia menangkap pergerakan bola mata Yoongi. Mata sipit itu mengerling, dengan sebuah senyum yang Jimin artikan sebagai jawaban. Jawaban ya dari apa yang ditanyakannya.

"Haruman neowa naega sonjaebul su itdamyeon—Just one day, If I can hold your hands..."

Jimin mendekat ke arah Yoongi dan menggenggam tangan mungil itu. Oh, ternyata tangan itu kecil dan pas sekali dalam genggaman mereka. Dan kulitnya... ya Tuhan, Jimin bahkan berpikir apa Yoongi selalu melakukan perawatan tubuh sehingga kulitnya sehalus ini.

Dan Jimin mulai menatap Yoongi langsung di matanya. Ia sama sekali tak melepaskan senyumannya. Perlahan, tangan Jimin terulur melewati pundak Yoongi. Melingkarinya dan menariknya mendekat. Mereka berpelukan.

"KYAAAA...!" sorak sorai memenuhi arena panggung melihat aksi Jimin yang memeluk Yoongi. Jeritan para yeoja membahana.

Hal pertama yang didapati Yoongi adalah dekapan itu begitu lembut dan hangat. Pelukan Jimin hangat. Oh, mungkin setiap pelukan memang hangat. Hanya saja Yoongi jarang mendapatkannya. Ketika pelukan itu terlepas, Yoongi mendongak dan mendapati Jimin tersenyum dengan segaris eye smile di wajahnya. Jantung Yoongi bergerak cepat... ia berdebar.

Dan Yoongi bersumpah jika mereka tidak berpelukan diakhir lagu, Yoongi pasti akan buru-buru melepas pelukan mereka dan berteriak. Tak lupa juga merutuki seluruh rona merah diwajahnya.

Taehyung dan Jungkook menjerit tertahan ditempatnya karena senang melihat hyung semanis gula itu dipeluk oleh Jimin. Namjoon terkekeh bersama Jin, mereka ber-high five ria tanpa diketahui alasannya. Dan akhirnya, duet mereka selesai.

-0-0-0-

"Siapa yang selanjutnya tampil?" tanya Jungkook menyenggol lengan Taehyung agar namja itu menoleh.

"Aku tidak tahu. Mungkin Hoseok hyung?" jawab Taehyung.

"Jin hyung, habis ini Hoseok hyung tampil?" kini Jungkook beralih pada Jin disebelah Namjoon.

"Ne, dia habis ini tampil." Namjoon-lah yang menjawab pertanyaan Jungkook.

Jungkook mengangguk di tempatnya. Saat itulah sosok Hoseok muncul diatas panggung. Dengan balutan kemeja putih, celana hitam, dan cardigan hitam ia muncul mengundang sorakan keras. Jungkook tanpa sadar tersenyum di tempatnya saat melihat musik pengiring mengalun. Dan dengan penuh kharisma Hoseok menggerakan tubuhnya. Dance seirama dengan lagu, membuat siapa pun yang melihatnya pasti bersorak.

Dance Hoseok selesai bertepatan dengan Hoseok yang sempat mengedipkan sebelah matanya, membuat para yeoja berteriak histeris. Jungkook merona di tempatnya. Ia benar-benar merutuki bagaimana bisa hyung itu terlihat sangat keren.

"Nah!" Hoseok mengambil mic yang diberikan padanya. "Apa kalian senang dengan festival ini?"

"NE!" koar semua yang menonton.

"Aku juga senang bisa tampil didepan kalian semua," Hoseok menebar senyumannya. "Kalau begitu—"

"Lagi! Lagi! Lagi!"

Hoseok nyengir di tempatnya. Ia mengangguk sambil berseru. "Ini terasa seperti konser. Tapi aku akan menari lagi. Kalian ingin aku menari apa?"

"Sexy dance~!"

Hoseok tertawa kecil di atas sana. Jungkook benar-benar merona sambil itu tertawa-tawa, sebelah tangannya menutup mulutnya. Taehyung, Jin, dan Namjoon menjerit heboh ketika mendengar jawaban dari penonton di sekeliling mereka. Padahal Namjoon ingin Hoseok nge-dance hip hop lagi, tapi sepertinya para yeoja disini memiliki tenaga suara lebih nyaring sehingga terpilihlah sexy dance.

Musik mengalun. Oh... demi Tuhan! Dari nadanya saja sudah benar-benar bisa tertebak bahwa siapapun yang menari diiringi lagu ini, pastilah akan melakukan sexy dance. Hoseok menggerakkan tangannya. Dan apapun yang dilakukan Hoseok saat itu sukses membuat para yeoja menjerit. Sedanhkan Jungkook... namja imut itu sukses merona hebat.

"Oh, shit. Hoseok tega sekali menodai mata polos Jungkook. Hei Kook, kau sebaiknya berputar." Namjoon melirik Jungkook yang diam disebelah Taehyung.

Jungkook menggeleng sambil terkikik kecil. Bagaimana pun ia menyukai penampilan Hoseok. Hyung itu keren sekali! Tampan dan... begitulah.

Dance itu berakhir dengan aksi Hoseok yang membuka cardigannya, menambah jeritan heboh disana. Hoseok menunduk sebentar lalu turun kembali ke belakang panggung. Disana ia disambut dengan cengiran Jimin dan acungan jempol darinya juga Yoongi.

Hoseok mendekati tasnya dan menemukan sebuah bungkusan disana. Sebuah hadiah, tampaknya. Kertas pembungkusnya lucu dan ia berpikir pastilah yeoja yang memberikannya. Juga didekat hadiah itu ada beberapa coklat. Hoseok mendesah. Hadiah... pasti dari para penggemarnya. Hoseok buru-buru memasukkan coklat itu ke tasnya kecuali hadiah berbungkus lucu itu.

"Hyung!" sebuah suara manis menelusup di indra pendengaran Hoseok. Hoseok menoleh, menemukan sosok Jungkook tak jauh darinya.

"Kookie, annyeong!" Hoseok tersenyum dan menghampiri Jungkook.

"Hyung, tadi keren sekali!" Jungkook mengacungkan kedua jempolnya dengan senyum yang makin mengembang.

"Gomawo. Kupikir yang tadi agak mengecewakan,"

"Aniya. Hyung benar-benar hebat dalam menari!" balas Jungkook lagi.

"Kau imut sekali, Kook!" Hoseok mencubit kedua pipi Jungkook gemas.

"Hyung... hyung pegang apa?" tanya Jungkook.

Namja tinggi itu memandang tangannya yang memegang bungkusan. Ia tersenyum kembali dan membuka bungkusannya. Hoseok sudah bisa menembak isi dari bungkusan itu pastilah sebuah bando bahkan saat pertama kali ia memegangnya. Bando kelinci lucu dengan telinga yang tidak panjang, namun benar-benar imut.

"Bando. Untukmu," Hoseok memasangkan bando itu pada Jungkook didepannya. "Aigoo, Kookie lucu sekali! Kau manis seperti yeoja,"

"Ish! Kookie bukan yeoja!" pipi Jungkook yang merona menggembung tak suka. Ia mencibir sambil mem-pout-kan bibir.

"Arraseo, arraseo. Tapi aku tidak bisa bohong, kau benar-benar lucu!" Hoseok terkekeh ditempat melihat ekspresi Jungkook. Dengan gemas ia mengacak surai karamel Jungkook.

Tak jauh dari tempat mereka, sesosok yeoja baru saja masuk ke backstage. Yeoja dengan wajah cantik itu menghentikan langkah lebarnya ketika menemukan dua sosok namja yang saling memandang dengan senyuman. Kaki jenjangnya yang terbalut legging dan high heels membuatnya jadi terlihat sedikit angkuh.

Ia mendengus kesal, lalu berbalik dengan tangan mengepal. Tepat dibelakangnya berdiri sosok teman dekatnya, seorang yeoja berambut lurus.

"Kau kenapa?" tanya temannya dengan alis terangkat.

"Lihat apa yang terjadi dibelakang sana!" desisnya.

Yeoja tinggi itu melirik ke belakang temannya. Ia tersenyum maklum lalu kembali memperhatikan temannya. "Kau bukan orang yang memberikannya,"

"Memang bukan!" ia kembali berseru gusar.

"Kalau begitu, kenapa harus marah? Bukankah kau sekarang sudah punya namjachingu, eh? Kau cemburu karena dia perhatian? Wajar saja, biarkan dia. Salahmu juga dulu tidak jujur,"

"Aku yang tidak jujur atau dia yang tidak peka? Siapa yang lebih bodoh?" erangnya tertahan, masih dengan nada kesal.

"Sudahlah. Kau hanya akan merusak mood mala mini. Ayo pergi!"

Yeoja itu melirik sengit sebelum akhirnya pergi dari sana.

-0-0-0-

Jungkook dan Taehyung sama-sama menikmati permen gula kapasnya. Mereka menaiki tangga bersama-sama menuju rooftop. Pasalnya sebentar lagi pergantian hari dan itu artinya... acara fireworks akan dimulai. Sebelumnya Taehyung dan Jungkook benar-benar menikmati festival dibawah sana. Mereka mencoba banyak makanan juga beberapa permainan sederhana seperti lempar dart, dan mereka mendapat hadiah sekaligus gulungan kertas dari penjaga stand tersebut.

"Tae hyungie, belum buka gulungannya?" tanya Jungkook sambil menggosok kedua telapak tangannya.

"Belum. Kupikir itu hanya gulungan biasa," Taehyung menyentuh pagar pembatas di depannya dengan pandangan sulit diartikan.

"Maksudnya dia menyampah?" Jungkook mengerjap polos.

"Aku tidak bilang begitu, Kook." Taehyung memutar bola matanya sembari terkekeh. Temannya itu sungguh polos. Jadi Taehyung merongoh saku jaketnya dan mengeluarkan gulungan yang dimaksud.

Hanya kertas biasa. Putih dan diikat dengan kain pita hitam. Taehyung yakin didalamnya ada tulisan, tapi ia tak berpikir disana akan ada sesuatu yang begitu penting. Akhirnya tangan Taehyung menarik pita pengikatnya dan membuka gulungan itu. Jungkook mendekat. Sebaris kalimat pertama yang menyambut mereka adalah...

"Forecast. Next year..."

Mata Taehyung dan Jungkook menyusuri bagian bawah kertas dan menemukan lanjutan dari kalimat itu.

"... sesuatu yang telah menjadi bagian dari hidupmu, akan terus bersamamu."

Taehyung dan Jungkook saling menangkat pandangan. Alis Jungkook terangkat, sedangkan Taehyung mengerut. Tapi Taehyung tak ambil pusing. Ia merangkul Jungkook dan tanpa sadar meremas kertas tersebut.

"Artinya aku tidak akan kehilangan Kookie, kan?" gumam Taehyung senang.

Jungkook mengembangkan senyum manisnya, membuat matanya menyipit lucu. "Ya, tentu saja."

"YA! Taehyung, Jungkook, kalian sudah kesini." Jimin menepuk bahu keduanya, membuat mereka sama-sama menoleh.

"Sendirian?" Taehyung menahan tawa ketika mengucapkannya.

"Shut up. Aku tidak sendirian, mereka yang meninggalkanku. Jongup dengan Junhong dan taulah si Minhyuk kemana..." Jimin memutar bola matanya pasrah.

"Itu artinya Jimin hyung..." Jimin mengerang mendengar perkataan Jungkook.

"Fine! Aku tidak sendirian, sekarang aku bersama kalian, oke?" elak Jimin lagi.

"Memangnya kami mau bersamamu?"

Jimin membatu. "Shit."

Lepaslah suara tawa Taehyung dan Jungkook. Membuat seseorang lagi-lagi memanggil keduanya. "Kookie! TaeTae!"

Jung Hoseok, Kim Seokjin, dan Min Yoongi melambai dari arah tangga menuju rooftop. Jin tersenyum dan berdiri disamping Taehyung. "Kupikir kalian sudah pulang karena sekarang sudah larut."

"Ani. Disini masih ramai sekali, sepertinya mereka semangat sekali ingin melihat fireworks," jawab Jungkook.

"Aku ingin tertawa mendengarnya. Awalnya kukira mereka takkan berhasil membuat acara fireworks diaat musim dingin, apalagi tengah malam. Tapi sepertinya ini akan terjadi, dan akan berhasil."

"Yeah..."

-0-0-0-

Jimin suka sekali fireworks. Ia menyukai saat api itu meledak diatas sana, membentuk bunga api berbagai warna yang cantik. Tapi ini pertama kalinya ia menyaksikan fireworks itu secara ramai-ramai. Dengan teman-teman disekelilingnya. Juga sosok Min Yoongi yang diam-diam memegangi lengan atasnya, berharap dirinya takkan jauh dari Jimin.

Jimin tak bisa menghentikan detak jantungnya saat hyung putih itu terlihat lucu saat memandang lurus kearah beberapa salju yang berjatuhan. Bibirnya yang mengeluarkan uap panas membuat Jimin akhirnya bersuara.

"Hyung, kedinginan?" tanyanya pelan.

"Memangnya kau tidak?" kepala Yoongi menoleh kepadanya dengan alis naik.

"Uhm... ya. Tapi tidak apa-apa, kan ada hyung disini," Jimin lagi-lagi menampilkan senyuman manisnya.

Alis Yoongi mengerut. "Maksudnya? Apa itu berkaitan?"

"Ya, tentu—"

DUAR!

Yoongi dan Jimin sontak menoleh ke atas langit, bukan hanya mereka, namun semua yang menonton fireworks itu. Jimin menghela nafas tanpa menghilangkan senyuman diwajahnya. Ia melirik Yoongi lewat ekor matanya. Lagi. Sunbae manis itu mengeluarkan senyumnya walau kecil, jauh dari saat berada diatas panggung. Dan Jimin menyukai fakta bahwa Yoongi semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Jimin.

Taehyung sendiri sibuk menatapi bagaimana bunga-bunga api indah itu terbentang diatas sana. Tangannya tak bisa diam, menunjuk bunga-bunga api yang menarik perhatiannya dan Jungkook. Layaknya anak kecil, mereka tertawa bersama.

"Jin hyung! Lihat! Yang itu warnanya ungu," seru Taehyung lagi. namun suaranya sama sekali tak mengganggu karena jelas terendam oleh ramai.

"Ne."

"Aish! Aku senang sekali melihatnya!"

"Ne, aku juga..."

Taehyung mengernyit ditempatnya. Apa itu tadi? Jawaban dari Jin? Kenapa singkat dan terdengar... ada nada aneh disana? Taehyung menatap Jin penasaran, sedangkan yang ditatap hanya balas menatapnya dengan alis terangkat.

"Wae?" seru keduanya bersamaan.

Taehyung sontak merona, sedangkan Jin terkekeh ditempat.

"Hyung/Tae duluan," lagi-lagi keduanya berseru kompak.

Taehyung mengerang sedangkan Jin tertawa. Taehyung yang mendengar suara tawa itu menghela nafas lega. Jin hyung tidak apa-apa. Maksudnya, mood-nya tidak hancur.

"Ekhm, Tae." suara Jin membuat kepala Taehyung tertoleh kembali.

"Ne?" balas Taehyung.

"Kau..." Jin diam kembali.

"Mwo?" Taehyung mengerjap bingung. "Apa? Aku kenapa? Ada sesuatu di wajahku?"

Jin menggeleng. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan cukup keras.

"Kenapa? Aku merepotkan, ya? Apa aku membuat mood Jin hyung rusak karena tadi berisik terus?" Taehyung memasang wajah memelasnya begitu mendengar helaan nafas Jin.

"Aniya, aku tidak akan pernah merasa direpotkan olehmu,"

Taehyung merengut lucu ditempatnya. "Lalu, kenapa?"

"Boleh aku bicara padamu?"

"Ne. Bicara saja! Cepatlah!"

"Aku..."

"Hum?"

"Aku..." Jin melirik Taehyung, berusaha menggodanya.

"Apa? Ayo cepat!"

"Aku... aku..."

Taehyung mengerang. Ia kesal. "Aish, Jin hyung! Katakan saja apapun itu secara jujur! Aku akan mendengarkan, kok! Jangan lama-lama dan tolong ju—"

"Saranghae."

.

.

.

Blank. Wajah blank Taehyung tertampang tiba-tiba diwajahnya. Ia mengerjap, lalu menatap Jin pelan-pelan. Jin yang melihat wajah cengo itu tertawa. Ia mencubit gemas pipi Taehyung.

"Aku boleh jujur, kan? Ya sudah. Kukatakan padamu, aku mencintaimu."

"Hyung... sayang Tae?"

"Cinta Tae,"

Wajah Taehyung merona hebat. Ia mengalihkan pandangannya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Jin merangkul bahunya sambil tertawa. Tanpa sadar, apa yang mereka bicarakan terdengar oleh Jungkook, Hoseok, Jimin, dan Yoongi.

"Wae? Kau kenapa? Tae malu, ya?" goda Hoseok.

"Diam, hyung!" desisnya masih merona.

"Jadi kau terima tidak?" kini Jimin menyahut dari sana.

"..."

"..."

"Ya,"

"Wooohooo! Traktiran! Traktiran!" Hoseok dan Jimin heboh. Mereka ber-high five sambil tertawa keras.

Jin sendiri memeluk Taehyung dengan senyum yang tak hilang. Taehyung tidak bisa menghentikan luapan rasa senang dihatinya. Sebuah fireworks kembali meledak indah diatas sana. Dan udara malam semakin dingin, menandakan malam sudah benar-benar larut, namun tidak menyurutkan suasana ramai di festival tahun ini.

Taehyung melepaskan pelukannya dan beralih menghadap Jungkook dibelakangnya. Disana, namja mungil itu sudah tersenyum lebar sembari mengulurkan kedua tangannya, menyambut Taehyung dalam pelukan. Mereka berpelukan.

"Boleh aku jadi orang pertama yang mengatakan ini?" bisiknya tanpa melepaskan pelukan.

"Apa? Jangan bilang kau juga akan berucap 'saranghae'."

"Tidak, tidak. Aku sudah menunjukkannya selama ini sebagai sahabatmu. Aku ingin mengatakan hal lain. Apa kau mau aku yang mengucapkannya duluan?"

"Kookie, katakan saja."

Jam besar di gedung Big Hit berdentang keras, menandakan hari telah berganti. Senyum Jungkook mengembang. "Aku hanya ingin bilang... sae—"

"Kookie, hyung yang akan bilang duluan!"

Jungkook membiarkan mulutnya terbuka kaget saat pelukannya dipisahkan oleh Jin. "Mwo?! Kenapa?! Aku sudah lama bersama Tae hyungie, lho!"

"Ya, tapi aku kekasihnya,"

"Aku sahabatnya! Aku sudah bertahun-tahun bersamanya, dan biarkan untuk kesekian kalinya aku menjadi orang pertama yang mengucapkannya!" Jungkook masih tak mau kalah dengan mimiknya yang malah terlihat lucu.

"Aish, Jin hyung, Kookie, kalian ngomong apa?"

"TaeTae!" sebuah suara lain menginterupsi mereka. Suara khas yang begitu di kenal Taehyung sebagai suara kakaknya.

Sosok Namjoon berdiri di tangga rooftop, ia melambai sambil tersenyum cerah. Dan menit berikutnya, sebuah kalimat meluncur dari mulut Namjoon tanpa ada rasa bersalah, ditambah dengan senyuman percaya diri disana.

"Saengil chukka, TaeTae!"

Berakhir dengan Taehyung yang dipeluk oleh sang kakak.

"Oh...?"