Why Should I
Bagian ke-sembilan
Chanyeol : Kita.
Aku mendengar banyak kisah
Tentang pematung yang jatuh cinta
Pada patung pahatannya sendiri
Lantas, aku mulai bertanya tanya
Mengapa ia ia dapat jatuh pada paras sesuatu yang bahkan dia ketahui,
Tak akan pernah ia miliki?
Lalu kau memberikan jawabannya padaku,
Karena cinta bukanlah suatu seperti kau membuat kue dan membuangnya begitu saja.
Cinta adakah soal perasaan dan waktu,
Menolak dan membuang perasaan itu,
Tak 'kan cukup biar seribu tahun
...
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti neraka.
Baekhyun akan termenung, diam sepanjang hari tanpa kata. Dia akan menatapku sesekali—kadang untuk memintaku meninggalkannya sendirian.
Dia tertidur lebih sering—itu sebenarnya bagus jika ia melakukannya saat jam sibuk kami. Tapi sekarang, terlihat seperti dia menggunakan cara itu untuk melarikan diri. Tidur untuk berhenti memikirkan apapun.
Dia juga makan seperti burung, tidak menghabiskan sisanya dan berakhir memuntahkan semuanya di kamar mandi. Aku menyingkirkan semua vas, kaca, ataupun gunting untuk menghindari sesuatu yang mungkin terjadi tapi aku tetap tidak dapat menarik nafas saat dia terbangun dengan nafas terengah seakan akan menarik nafas adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan.
Aku mencoba berbicara padanya, sepatah dua kata, tapi selalu berakhir dengan diabaikan olehnya. Dia tidak ingin menanggapi perkataanku, dan setiap kali aku mencoba mengucapkan kalimat yang lebih panjang, satu satunya yang dia lakukan adalah ; memintaku pergi.
—Byun Baekhyun, kau tidak tahu semua itu membuat hatiku sakit.
Bahkan saat ini, biarpun aku berada bersamanya dalam satu ruangan, yang mana jarak antara kami hanyalah sebatas hembusan nafas, dia menatapku seolah olah aku tidak ada.
Dan, setiap kali maniknya yang putus asa menatap ke arahku, aku merasa begitu berdosa.
Agensi tidak juga mengatakan apapun untuk membungkam media yang mulai mengaitkan kematian Yejin dengan Baekhyun sesuka hati mereka—agensi brengek itu. Ssehingga setiap saat aku akan mengetikkan nama Baekhyun di kolom pencarian naver, agar aku mengetahui seberapa buruk rumor itu telah beredar.
Dan, hari itu, aku menemukan yang terburuk.
"Halo semua, aku menulis ini bukan karena ingin mencari popularitas atau apapun, tapi aku hanya ingin kalian tahu.
Aku dan Byun Baekhyun adalah teman baik saat SMA, ya, benar. Byun Baekhyun yang itu, dan aku juga pernah berpapasan beberapa kali dengan Park Chanyeol. Mereka memang akrab selama SMA. Mereka seperti sepasang kekasih yang tidak terpisahkan, dan kau tahu bagian terbaiknya? Suatu hati Park Chanyeol berkencan dengan Kim Yejin.
Saat itu, Byun Baekhyun begitu lusuh. Dia menjauh dari Park Chanyeol dan aku tidak perlu memperjelas apa yang terjadi padanya, bukan? Sayang sekali, ya. Padahal aku suka sekali mendengar suaranya. Bagaimana pendapat orang tuanya jika tahu dia adalah seorang Gay? Kalau aku jadi mereka, aku akan mengutuknya ke neraka dan membuangnya ke jalanan."
—Siapa dirimu sehingga berhak menghakimi seseorang seperti itu?
"Hey, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dengan permasalahan ini karena Chanyeol-Oppa adalah bias utamaku. Tapi, aku tidak bisa tinggal diam ketika aku menemukan sesuatu yang mengejutkan. Kalian tahu? Aku belakangan menyadari bahwa selama ini, Byun Baekhyun selalu mencoba mencuri perhatian dan mendekati Chanyeol-Oppa. Aku menyertakan fancam di bawah, kalian bisa melihatnya dengan sangat jelas disana, Baekhyun mendekati Chanyeol-Oppa berkali kali dan Chanyeol-Oppa terlihat sangat terganggu dan marah. Dan juga, apa kalian ingat Juju fansite-nim yang pernah memposting foto Chanyeol yang mendorong Baekhyun di depan gedung agensi? Aku juga sempat berpikir itu adalah editan, tapi setelah Yejin berkata seperti itu semalam, semua menjadi jelas.
Wah, kalau begitu sangat menyeramkan, ya. Byun Baekhyun memang menyukai Chanyeol-Oppa bahkan sebelum mereka debut. Duh, jadi merinding. Apa Chanyeol-Oppa juga sedang merinding sambil menatap Byun Baekhyun? Chanyeol-Oppa, jangan takut! Kami akan melindungimu!"
—Yang kutakuti sekarang adalah kalian, bukan dia.
Menatap ke belakang, aku bertanya tanya ke mana semua orang yang mencintainya selama ini. Ke mana orang yang selalu meneriakkan nama kami, ke mana orang orang yang selalu berkomentar "Aku mencintaimu, Oppa " padanya.
Penggemar kami yang sekarang, para aeris yang mana dia sayangi, mengapa mereka sekarang berubah menjadi seekor monster yang membuatnya terpuruk seperti ini?
Aku terdiam dengan ponsel menyala. Pandangku beralih pada Baekhyun yang bernafas patah patah di sampingku, dia mengigil beberapa kali dan terlihat ketakutan.
Bahkan dalam mimpinya yang begitu jauh, dia ketakutan.
Aku perlahan meraih jemarinya, menatap dalam ke arah wajahnya yang memucat. Dia membuka matanya saat aku mendekapnya erat, kudengar dia bergumam beberapa kali sebelum tertidur lagi.
Aroma shampoo miliknya yang menguar membuatku merasa nyaman sekaligus mengantuk. Aku menatapnya sekali lagi sebelum membiarkan diriku jatuh tertidur. Walaupun sebenarnya, hatiku sangat kacau. Aku membayangkan bagaimana seorang yang sekecil, serapuh dia, harus menghadapi ribuan orang yang membalikkan punggung padanya. Bagaimana dia akan tersenyum sementara semua orang memaksanya untuk menangis darah. Bagaimana dia akan menyanyi sementara semua orang mengharapkan dia diam. Bagaimana dia akan menghadapi semua ini?
—.. Byun Baekhyun, mengapa kau harus menanggung semua ini sendirian?
...
"Kalian akan masuk ke Stage dalam dua menit. Bersiaplah, dan jangan lupakan koreonya, oke?"
Kami semua mengangguk.
Aku melirik Byun Baekhyun yang menunduk di kursinya. Sehun dan Kai mencoba melontarkan candaan ke sana dan kemari namun sama sekali tidak membuatnya tersenyum barang sedikit pun. Aku menatapnya lamat dan duduk disampingnya, menggenggam tangannya.
"Kau bisa." Bisikku kecil, dia menatapku beberapa saat tapi tidak mengatakan apapun—tidak juga menepis tanganku yang melingkupi telapak tangannya yang dingin dan berkeringat.
—Kau pasti bisa.
Kami memasuki stage, dan saat itulah semua menjadi jelas. Aku melihat ribuan banner yang diangkat tinggi tinggi, aku melihat ribuan penggemar kami yang menangis keras keras, aku melihat ribuan kilat kamera. Aku melihatnya. Satu satunya yang tidak dapat kulihat adalah senyumnya ; dan penggemarnya.
Suho memulai dengan bagian pertama, selanjutnya Jongdae ikut mengambil bagiannya, semua berjalan baik hingga musik mengalun sendirian—pada part Byun Baekhyun.
Dia, aku menatapnya segera dan kulihat dia menatap lurus ke depan, dengan manik yang menatap kosong ke arah kerumunan, tubuhnya terdiam namun jemarinya yang menggenggam microphone bergetar begitu hebat. Baekhyun tidak menyanyikan bagiannya. Musik latar yang mengalun sendirian, sepersekian detik kemudian tertutup oleh teriakan penggemar yang sepertinya marah. Byun Baekhyun menatap itu semua—kosong.
Suho mengambil bagian Baekhyun dengan segera tapi segalanya tidak membaik. Dia tidak menari bersama kami, dia hanya terdiam seperti boneka kayu yang di lepaskan dari tali talinya. Dia akhirnya mengarahkan kepalanya padaku, menatapku.
Aku mencoba tersenyum, tapi gagal. Itu semua karena dia menangis. Dia, menangis.
Aku berhenti berpura pura tidak peduli, aku melangkah ke arahnya dan segera menggenggam tangannya untuk turun dari panggung.
—Yang mungkin baginya, tak lebih dari sebuah siksaan.
...
"Gila, Byun Baekhyun pencari perhatian itu sepertinya harus pergi menemui dokter jiwa."
"Dia pikir kita akan khawatir, lucu sekali."
"Kemana ibumu, Byun fucking Baekhyun?"
"Aku mengulang-ngulang rekaman saat Baekhyun menangis seperti aktris dalam opera sabun yang ayahku tonton. Astaga, aku bertaruh Chanyeol menariknya ke backstage dan langsung menonjok wajahnya yang menyedihkan."
"Duh, kurang perhatian di rumah ya?"
"Aku tidak percaya aku membayar ratusan ribu won hanya untuk menonton si pembunuh menangis."
"Memangnya dia kira ini acara pembersihan dosa? Jangan gunakan tangisan untuk mendapatkan simpati, sialan."
"Yejin akan sangat sedih melihatmu menangis."
"Kau menangis di tempat yang salah. Seharusnya kau pergi ke makan Yejin dan berlutut disana sampai ia memaafkanmu."
"Halo? Rumah sakit Seoul? Sepertinya disini ada orang gila."
"Apa-apaan semua ini?" Sehun bangkit dari kursinya dengan marah dan berjalan ke arah Baekhyun, "Non-aktifkan saja kolom komemtarnya, Hyung. Mereka semua mengatakan sampah."
"Ya, Baekhyun. Lebih baik kau non-aktifkan saja untuk beberapa saat." Yixing Hyung menyetujui, "Setidaknya tiga foto teratas dari akunmu."
"Komentarnya terus memburuk. Orang orang ini pasti makan kotoran sehingga semua yang keluar dari mulut mereka adalah sampah." Suho tidak bisa menahan amarahnya, "Inilah mengapa aku sangat benci media sosial. Orang orang bodoh. Mereka hanya pecaya apa yang mereka ingin percaya dan tidak percaya apa yang mereka tidak ingin."
Kris mengangguk, "Baekhyun, berikan ponselmu, aku akan menon-aktifkannya untukmu."
Baekhyun tidak bergeming. Ia duduk diam di ujung ruangan dengan Sehun yang berdiri di hadapannya dan Luhan yang mengusap bahunya. Kyungsoo menatapnya khawatir sambil menghapus make-up dan mengacak-acak hair-do miliknya. Sedangkan Kai, Tao, dan yang lainnya masih memantau komentar di akun SNS milik Baekhyun.
"Baekhyun, kau baik baik saja?" Xiumin-Hyung akhirnya membuka suara ketika Baekhyun tidak menjawab apapun. Tidak juga menangis.
Semua member menatap ke arahnya. Menunggunya untuk mengatakan sesuatu.
Tapi beberapa menit telah berlalu dan dia masih juga diam dengan tertunduk.
"Kurasa dia lelah." Aku berujar ketika dia masih terdiam, "Bisakah kita pulang sekarang?"
".. Kau terdengar sangat mengenalnya." Jongdae terlonjak.
—Bagaimana bisa aku tidak mengenalnya? Kalian hanya perlu melihat lebih jelas bahunya yang bergetar. Dia ketakutan. Dia butuh untuk melarikan dirinya ; seperti di hari hari sebelumnya.
...
Agensi untuk sementara berhenti memberi kami jadwal yang berat dan aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak bersyukur.
Pagi hari yang lain di dorm, aku membuka mata dan secara otomatis pandanganku di penuhi oleh wajah Byun Baekhyun yang masih terlelap. Dia mendengus beberapa kali, tampak tidak nyaman dan begitu lelah sehingga aku membenarkan letak selimut yang menghangatkannya dan memeluk dirinya.
"Baekhyun," Ujarku perlahan, "Ayo bangun."
Tidak ada jawaban, masih dengusan halus yang di sertai sedikit gemetar dari jemarinya.
"Kita harus sarapan," Aku mencoba membujuknya—karena aku tahu dia tidak pernah benar benar tertidur, "Apa kau mencium aroma enak? Kyungsoo pasti sedang memasak sesuatu."
Byun Baekhyun akhirnya membuka mata, menatap ke arahku tanpa kata.
"Ayo pergi ke sana dan lihat, hm?"
Ia terus menatapku bahkan ketika aku mengecup keningnya.
"Selamat pagi."
Tidak ada jawaban, aku tersenyum. Perlahan menyisipkan jemari jemariku ke dalam jemarinya yang terkulai di dekat dadaku—menggenggamnya.
"Hari ini hari libur, tersenyumlah, hm?"
Perlahan aku menarik jemarinya sehingga ia dapat bangkit dari kasur.
Byun Baekhyun, yang mana kini terduduk, menatapku seakan ingin menangis saat itu juga.
"B—Baek, maafkan aku, apakah sakit? Dimana?"
Aku berujar panik, apakah aku menariknya terlalu kasar? Apakah dia ingin muntah atau sesuatu? Apakah dia berpikir aku menariknya untuk kemudian memukulnya lagi? Tidak, aku hanya ingin membuatnya memakan sesuatu—dia tidak memakan apapun dengan baik sejak kemarin.
Dia menunduk, lantas bahunya bergetar. Aku mendekat untuk kemudian segera mendekapnya. Menyandarkan kepalanya kepada dadaku. Diantara isakannya yang mendominasi, aku mendengar sesuatu.
Sesuatu seperti ; "Maaf."
Aku tidak dapat melakukan apapun selain menangis bersamanya saat itu juga.
—Tidak, maafkan aku. Semua yang kau alami, semua luka yang kau dapat, semua karena diriku.
—Maafkan aku.
...
Dia lalu tertidur lagi. Seperti kebiasaannya belakangan, dia melarikan diri.
...
Malam harinya, aku menyerah untuk membuatnya keluar dari kamar. Sehingga aku meminta Kyungsoo membuatkan bubur yang enak dan mengantarkannya ke kamar kami.
Baekhyun terbangun, dia bangun namun hanya menatap langit langit. Seakan akan dia sedang menyesali mengapa dia harus kembali bangun lagi.
Hatiku mati rasa. Aku rasa di dalam sana, itu sudah remuk sekali dan mengeluarkan darah.
Bagaimana dengan hatinya? Aku tidak dapat membayangkan.
"Baekhyun, ayo kita makan." Aku memaksakan sebuah senyuman, "Kyungsoo membuatnya untukmu. Tadi aku sudah mencobanya dan ini enak sekali, sungguh."
Baekhyun menoleh dan menatapku aneh—ah, mungkin karena dia menyadari mataku yang bengkak dan memerah. Terserah kalian ingin menyebutku apa, tapi kenyataannya saat dia tertidur sepanjang siang, aku juga menangis sekeras kerasnya di kamar mandi. Seperti anak kecil yang kehilangan jalan pulang, tapi siapa peduli?
Aku menunduk untuk menghindar dari kontak mata, "Satu suapan saja, ya?"
Dia tidak menjawab, tapi membuka mulutnya setiap aku menyodorkan suap demi suap dari bubur buatan Kyungsoo. Buburnya habis walau tersisa sedikit. Bubur buatan Kyungsoo memang selalu enak bagaimanapun cara ia membuatnya.
Tiba tiba sebuah tangan yang dingin menangkup pipiku ; Aku menatapnya terkejut karena pemilik dari tangan yang dingin itu adalah Byun Baekhyun.
"Mengapa kau menangis..?" Bisiknya kecil.
Hatiku hancur. Mengapa, Baekhyun? Bahkan ketika kau berada di dalam titik paling rendah dalam hidupmu, kau masih mengkhawatirkan seorang bajingan brengsek seperti aku.
Mengapa?
"Karena kau terluka." Aku merutuk pada suaraku yang tersendat, "K—Karena kau tidak tersenyum.."
Byun Baekhyun mengusap kedua mataku dan berbisik lagi, "Tidak sakit."
Jangan berbohong.
Aku meraih kedua tangannya, lantas meremasnya ; dan menangis lagi.
"Jangan menutupinya, kau bisa membaginya padaku, kumohon?" Pintaku putus asa. Baekhyun terdiam, masih menatapku, lalu dengan patah patah berkata ;
"Aku tidak ingin kau—" Ia berujar, lirih sekali, "Aku tidak ingin kau merasa sakit."
—Lalu kau pikir aku sanggup melihatmu jatuh seperti ini?
"Mengapa..?"
"Karena semua orang mencintaimu.." Ia tersenyum, "Dan aku tidak masalah bila dibenci lagi."
Hari itu, aku tertidur begitu saja setelah satu senyumnya, setelah mengosongkan semua ruang dari air mataku.
Satu yang kutahu, dia masih terjaga bahkan saat aku terbangun.
Dan dia berbisik, mendahuluiku untuk pertama kali selama beberapa periode ;
"Selamat pagi."
...
Sore itu, biarpun presiden direktur berkacak pinggang depan kamar—untuk bertemu Byun Baekhyun, aku tidak minggir sedikit pun dari pintu kamar.
"Minggir." Ucapnya untuk sekian kali.
"Apa yang akan kau lakukan pada seseorang yang belum terbangun?" Aku membalasnya sengit, menatap matanya nyalang seperti melupakan bahwa dialah orang yang selama ini memberikanku segalanya.
Segalanya ; baik itu hadiah maupun hukuman, baik itu cinta maupun bencana, baik itu sebuah kabar baik maupun kehancuran.
Dia adalah orang yang memberikanku segalanya.
"Aku punya hak penuh untuk mengunjungi dia kapan pun." Presdir mendengus, tampaknya dia kesal sekali.
"Kalau begitu kau harus menunggu," Balasku tajam, "Karena dia juga punya hak untuk menyelesaikan tidurnya dan menemuimu setelah itu."
"Sialan kau—"
Cklek.
Kami berdua menatap terkejut pada pintu yang tiba tiba di buka.
Baekhyun berdiri, masih dengan wajah yang sama. Dia balas menatapku beberapa saat sebelum berjalan ke depan—menempatkan dirinya di antara kami, dan membungkuk pada presdir.
Bajingan itu kemudian menatapku dengan senyum kemenangan.
"Baekhyun, sekarang ayo kita bicara."—Aku tidak tahu aku gila atau apa, tapi dia benar benar menyeringai saat mengatakan itu.
Baekhyun mengikutinya tanpa bisa kucegah.
Aku membatu. Namun saat tangannya yang mungil itu bergetar dibalik punggungnya, aku tahu aku tidak bisa diam dan pergi begitu saja.
Lalu aku memutuskan untuk mengikuti mereka.
...
"Jadi itu yang kau dapatkan setelah mengorbankan semuanya." Presdir tersenyum culas di hadapan Baekhyun yang menunduk.
Baekhyun hanya terdiam, tidak menjawab apapun sehingga presdir terkekeh suram. Ia menyentuh lengan Baekhyun—seperti meremasnya, dan kemudian berkata ;
"Apakah kau juga ingin bertanggung jawab atas kerugian yang kekasih bayanganmu itu timbulkan padaku?" Ia terdengar menawarkan, tapi entah bagaimana terdengar juga seperti ancaman.
"Karena jika tidak, aku akan menagihnya langsung kepada dirinya."
Aku sebenarnya tidak mengerti apa yang mereka maksud dengan siapa. Yang jelas, aku menyadari bahu Byun Baekhyun mulai bergetar lebih hebat, terlebih saat lelaki yang lebih tua di hadapannya mengelus lengannya.
Bajingan itu.
"Bagaimana, Baekhyun?"
"A—Aku.." Baekhyun melarikan pandangannya ke segala arah, "A—Aku akan melakukannya, presdir.." Cicitnya pada akhirnya.
Apa? Kau akan melakukan apa?
Aku mengernyit tapi tidak menemukan jawaban.
"Bagus." Ia tersenyum puas, "Kalau begitu kita bertemu di tempat biasa. Pada jam sepuluh malam ini."
Jam sepuluh, catatku dalam hati. Apapun urusan mereka—yang mana seharusnya tidak menjadi urusanku, aku akan mencegah Baekhyun untuk pergi. Mengapa? Mungkin karena sebagian dari hatiku menyadari bahwa ini bukan hal yang baik. Karena bila memang sesuatu ini tidak merugikan dirinya, bagaimana mungkin kedua tangannya bergetar begitu hebat bahkan hanya dengan mendengar perintahnya?
Byun Baekhyun, kau berhutang satu rahasia padaku.
...
Saat malam semakin larut, aku tertidur begitu Byun Baekhyun berada di dalam dekapanku.
Tadinya begitu, tapi saat mendengar isakan yang jelas kutahu berasal dari mana, aku membuka mata dan menemukan Baekhyun menatapku dengan manik berkaca. Dia terlihat sama terkejutnya seperti aku, lantas berusaha menghapus air matanya dan melarikan pandangannya ke segala arah.
Dia sedang memakai mantelnya, aku tersentak dan menatap jam di dinding kamar kami dengan terburu buru—yang menunjukkan pukul sembilan tiga puluh.
"Ke mana kau akan pergi?" Aku mencegahnya memakai topi, "Sudah sangat larut."
"A—Aku harus mengurus sesuatu." Cicitnya, berusaha melepaskan tanganku.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak, kau tidak—"
"Kalau begitu tetap disini." Aku menatapnya, "Jangan pergi tanpa diriku."
Kupikir Byun Baekhyun akan memberontak tapi ternyata dia terdiam. Menurut saat aku melepaskan mantelnya dan membuatnya berbaring disampingku. Aku memeluknya erat erat dan tidak memberikannya ruang untuk lepas sekalipun.
"Jangan pergi lagi dariku." Bisikku tepat pada telinganya.
Baekhyun tidak menjawab. Kupikir dia tertidur.
Hari esok datang bersamaan dengan matahari yang mengintip malu dari balik jendela ; aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menjaga dirinya.
...
"Selamat pagi, Baekhyun."
Baekhyun mengerjapkan kedua matanya, ia kemudian menatapku dengan senyuman kecil dan membalasnya dengan ucapan selamat pagi lainnya yang lebih kecil.
Aku bersyukur diam diam karena dia mulai membuka dirinya lagi.
Baekhyun berjalan ke arah kamar mandi sedangkan aku menyalakan ponsel. Mengabaikan semua notifikasi dari akun SNS, aku hanya terfokus pada dua tiket Online yang diberikan oleh salah satu aktor lawan main pada film yang kumainkan tahun lalu.
"Hey, Chanyeol-ah! Hari ini musim dingin yang indah, bukan? Banyak sekali film yang bagus sehingga aku memesan dua yang paling menarik untukmu. Pergilah bersama temanmu dan bersenang-senanglah! Semangat!"
Aku tersenyum, "Terima kasih, Jungwoo Hyung."—Dan membalasnya segera.
Tiket yang ia berikan adalah tiket dari film romansa-comedy, dari review yang di berikan oleh anggota perkumpulan film di internet, sepertinya film ini memang cukup populer dan bagus.
—Apakah kau ingin menontonnya bersamaku, Baekhyun-ah?
Baekhyun keluar setelah beberapa menit dengan rambutnya yang basah. Air menetes dari helai rambutnya dan dia segera berjalan ke depan meja kaca agar dapat mengeringkan rambutnya.
"Aku punya dua tiket untuk menonton bioskop." Tawarku padanya saat dia sedang mengusakkan rambutnya pada handuk yang menggantung di lehernya, "Maukah kau datang bersamaku?"
Baekhyun terdiam sebentar, termenung di tempat, sebelum menangkap kedua manikku dan berkata dengan lirih,
"Oke."
Aku tersenyum lebar, "Benarkah?"
"Uh-huh." Baekhyun mendengus geli ketika melihat aku melompat senang seperti anak kecil, "Kenapa kau terlihat senang sekali?"
"Tentu saja," Aku tertawa, "Ini pertama kalinya aku menonton denganmu!"
Baekhyun tersenyum simpul di tempatnya, kemudian berkata ;
"Jam berapa aku harus bersiap?"
"Uh.." Aku melirik ponsel, "Mungkin sekitar jam sebelas malam?"
"Baiklah."
Aku dapat merasakan bibirku mengulum senyum dan jantungku berdebar keras sekali saat dia tersenyum seperti itu kearahku.
Dan saat itu juga, aku menyadari bahwa dia terlihat seribu kali lebih cantik daripada biasanya.
...
Pukul sebelas kurang lima belas, kami mengendap-ngendap untuk pergi dari dorm.
Aku menggenggam tangannya yang dingin dan menuntunnya agar ia bisa masuk ke mobilku. Ketika dia sudah duduk di tempatnya, aku menyalakan pemanas di mobil dan memberikan sepasang sarung tangan yang kuambil dari lemari kami—aku tahu dia akan pergi tanpa sarung tangan, karena itu aku membawanya bersamaku.
Baekhyun tersenyum sepanjang jalan, aku bersyukur dalam diam karena dapat melihat senyumannya sepanjang malam.
Seperti komentar para pemburu film itu, film yang kami tonton menarik dan indah. Kupikir, ceritanya sedikit mengingatkanku pada Baekhyun—yang mana tokoh utama dalam film itu adalah seorang yang mungil dan manis, tidak pantang menyerah untuk mengejar cintanya yang selalu menolak dirinya.
Ah, aku meliriknya perlahan saat kami berjalan untuk mencapai lantai dasar.
"Ada apa?" Baekhyun menoleh, sepertinya menyadari bahwa aku terus menatapnya, "Ada sesuatu di wajahku?"
"Tidak." Jawabku jujur, "Tidak ada apapun di wajahmu."
Baekhyun bergumam sebagai pengganti kata 'Syukurlah'.
"Apakah filmnya bagus?" Tanyaku, "Tokoh utamanya mengingatkan kita pada seseorang, bukankah begitu?"
Baekhyun tersenyum kecil, "Ya."
"Kau tidak menyukai filmnya?" Aku mengerutkan kening karena dia begitu diam, "Atau, apakah kau kedinginan—"
"Tidak, tidak." Baekhyun tersenyum lagi, "Aku hanya memikirkan masa lalu."
"Masa lalu apa?"
"Ketika aku mencintai dirimu."
Kami terdiam.
Kami sampai di lantai dasar dan berjalan keluar. Baekhyun membawa dirinya untuk duduk di depan cafe yang sepertinya sudah tutup—tidak mengherankan karena ini sudah nyaris menginjak pukul satu dini hari. Aku mengikutinya kemudian, menatapnya dalam dalam.
"Chanyeol, kau tahu apa lagi yang sedang kupikirkan sekarang?" Byun Baekhyun berkata seraya jemarinya yang indah mengusap ke atas langit.
".. Apa itu?"
"Aku sedang berpikir," Ada jeda yang panjang sebelum ia menyambungkan, "Bagaimana bisa orang orang bahagia?"
Ia tersenyum kecut, "Setiap menatap orang orang belakangan,"
"Wajah mereka yang tersenyum, tawa mereka yang ada di setiap canda, beban yang tidak terlihat ; itu semua membuatku bertanya-tanya."
Aku tidak menjawab, namun aku menaruh jemariku diatasnya. Meremas tangannya dengan pelan.
"Mengapa mereka bisa bahagia?" Ia melirih, sudut matanya basah oleh air mata yang berusaha ia sembunyikan, "Mengapa aku tidak?"
"Baek—"
"Setiap kali aku menatap senyum mereka yang sederhana, atau seorang gadis yang bahkan bisa tertawa dengan begitu indah hanya karena sebuah pesan singkat dari kekasihnya, bahkan kembang api yang menghilang secara indah meninggalkan sepotong kebahagiaan, ketika mereka semua tersenyum dan tertawa karena itu—" Ia tertawa pahit, "Aku selalu bertanya, apa yang salah dengan diriku? Mengapa aku tidak bisa seperti mereka?"
"Baekhyun, dengarkan aku."
Aku meraih kedua bahunya, sehingga kami berhadapan di bawah kanopi yang menghalangi kami dari cahaya lampu jalan yang kuno. Namun, biarpun gelap berada di sekitar kami, aku masih dapat melihat genangan air matanya yang begitu jelas, begitu menyesakkan.
"Kau bisa," Lirihku, "Kau bisa bahagia dan kau akan."
"Semua bahagiaku sudah pergi, Chanyeol. Bersamaan dengan seseorang yang mencintai seorang gadis berambut coklat yang manis—"
"Seseorang itu belum pergi." Aku menatapnya, "Aku masih disini. Aku membutuhkanmu, aku mencintaimu."
Kami terdiam, lama sekali hingga seperti seakan kami berdua sedang di bekukan oleh waktu. Byun Baekhyun menunduk lalu menggeleng, melepaskan kedua lenganku yang masih berada di bahunya, berkata pelan pelan ;
"Aku mencintaimu juga," Ujarnya hati-hati, "Tapi aku tidak bisa. Aku hanya akan menghancurkanmu dan kau hanya akan menghancurkanku."
"Tidak, Baekhyun. Kita bisa."
"Hentikan, Chanyeol. Aku tidak mengatakan ini agar kau mengasihani aku!" Baekhyun terlonjak, di bahunya penuh amarah yang bergejolak, "Mengapa kau melakukan ini padaku? Membuangku hanya untuk memungutnya kembali—Kau kira aku apa? Mainan yang kapan saja bisa kau buang dan beli lagi? Chanyeol, aku tidak pernah menyesal akan pernah jatuh cinta padamu namun aku juga benci mengakui bahwa aku membenci diriku yang sebegitu mudahnya jatuh lagi dan lagi padamu!"
Aku tertegun. Air mata milik Byun Baekhyun perlahan menuruni pipinya dan membuatnya tampak begitu kacau. Hatiku seperti teremas dari dalam. Aku tahu aku menyakitinya berkali kali tapi ini pertama kalinya aku mendengar ia bicara mengenai perasaannya padaku.
"Aku dulu mengejarmu seperti orang bodoh," Baekhyun tersenyum kecut, sedangkan tangannya sibuk menghalau air mata lainnya yang akan jatuh, "Aku mengejarmu seperti orang bodoh. Aku mengikutimu, aku selalu memikirkanmu, aku menangis untukmu, berdoa untukmu—tapi apa yang kudapatkan? Aku sudah lama sekali membuang mimpiku untuk terus bersamamu karena itu tidak akan pernah bisa terjadi. Aku tahu, aku tahu."
Bodohnya, aku masih terdiam. Seperti, semua bagian dari tubuhku sedang membenarkan seluruh perkataan Baekhyun. Ia tersenyum lebih sedih, matanya bahkan layu dan redup. Air mata yang tersisa di pipinya ia biarkan begitu saja sembari ia bangkit dari tempat duduk.
Aku ikut bangkit dan menggengam tangannya.
"Aku tahu, aku tahu." Baekhyun bergumam, perlahan membawa lengannya untuk meraih ke pinggangku dan memelukku, "Aku tahu kau hanya bingung, aku tahu kau hanya merasa bersalah—"
Aku menghentikan perkataannya dengan menarik dagunya dan meraup bibir miliknya.
Baekhyun terkejut, melepaskan pertautan bibir kami dan matanya segera awas menatap ke kanan dan kiri sebelum menatapku lagi dengan amarah, "Apa yang kau lakukan?!"
"Baekhyun," Aku membiarkan diriku menatapnya dengan rasa putus asa, "Maafkan aku. Aku tahu aku membuangmu berkali kali dan menyakitimu juga, maaf. Aku benar benar menyesal. Aku minta maaf."
Baekhyun tidak menjawab,
"Tapi, aku tidak bingung ataupun mengatakan aku mencintaimu hanya sebagai sebuah penyesalan karena kau harus menghadapi semua ini—aku tidak. Sebodoh dan sebrengseknya aku, aku tidak akan pernah mengsalah-artikan setiap degupan dalam jantungku setiap aku melihatmu."
Maniknya mulai berkaca dan dia menunduk lagi, menangis. Aku meraih kedua lengannya sehingga aku bisa melihat dengan jelas mata merahnya yang sembab dan melanjutkan ;
"Byun Baekhyun, aku tidak ingin kau menghadapi semuanya sendirian. Izinkan aku, untuk menemanimu dan membuatmu kuat kapan pun. Aku akan membantumu menghadapinya. Izinkan aku menemanimu hingga sampai pada saat dimana kau bisa memakiku sesuka hatimu dengan bahagia."
"Chan—"
"Jadilah kekasihku, Byun Baekhyun."
Aku tidak pernah mengingat bahwa menyatakan cinta bisa membuatmu emosional seperti ini. Air mata sama sama ada di sepasang pelupuk kami. Aku juga bukannya tidak tahu hati kami bersamaan hancur ke dalam suatu alasan dan jemari miliknya bergetar seakan ini adalah keputusan terberat yang harus diambil olehnya. Aku menunduk, tidak berani meneliti raut wajahnya karena aku yakin semua akan berakhir sama saja.
—Aku si brengsek yang telah menyia-nyiakan seluruh kesempatanku. Aku si bodoh yang tidak tahu terima kasih.
"Sebaiknya kita pergi," Aku berjalan mundur satu demi satu langkah, "Akan tidak baik jika ada—"
"Jika aku membiarkanmu," Baekhyun berbisik, "—Bisakah kau berjanji untuk tidak menghancurkan apapun? Jangan hancurkan hatiku lagi dan jangan tinggalkan aku, bisakah?"
Aku lantas mendongak, menatapnya tidak percaya dan terburu buru mengangguk seperti orang gila, "Aku berjanji, Baekhyun. Aku berjanji."
Baekhyun menatapku dengan senyum tulus yang terpatri di wajah untuk pertama kalinya, "Kalau begitu, ayo kita coba."
"Jika kau sudah berjanji padaku, tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayaimu." Baekhyun mendekat dan menjulurkan lengannya yang kemudian melingkar pada pinggangku.
Rasanya jantungku meledak dalam kebahagiaan saat dia mendekapku erat. Aku mengecup pipinya bertubi tubi dan bertanya untuk yang terakhir kali, masih dalam ketidak-percayaan ;
"Jadi, kau milikku?"
"Aku selalu menjadi milikmu."
...
Kami kembali ke dorm pada jam dua dan aku tidak bisa berhenti tersenyum.
Baekhyun sepertinya mengantuk sekali tapi untuk hari ini saja—aku tidak ingin jatuh dalam tidur. Bagaimana jika aku tertidur, esok hari ternyata tidak seindah ini dan apa yang kualami hari ini hanyalah sebuah mimpi?
"Chanyeol, kau tidak tidur?" Baekhyun sepertinya menyadari bahwa aku tidak tidur di sampingnya seperti biasa, "Apakah ada masalah?"
Aku menggeleng, "Tidak, hanya saja, aku tidak ingin tertidur."
"Kau takut semuanya hanya mimpi?" Baekhyun terkekeh, "Kupikir hanya aku yang berpikir seperti itu."
"Kau juga? Kalau begitu ayo jangan tidur hingga esok." Aku tertawa kecil dan memakaikan jaket padanya, "Kulihat banyak bintang di luar, ayo kita menyapa beberapa."
Baekhyun mengangguk dan kami berjalan ke balkon. Dengan Baekhyun yang menjatuhkan kepalanya pada bahuku dan aku yang menggenggam jari demi jari miliknya ; Kami menatap pada langit yang luas, indah dengan banyak bintang bertaburan.
"Apa kau melihat Sirius?" Baekhyun mencicit, "Aku biasanya dengan mudah menemukannya karena dia bersinar paling terang tapi kenapa kali ini semua bintang sama terangnya dengan Sirius?"
Aku tersenyum lembut sambil menautkan lengan kami, "Sirius jatuh kemarin."
"Apa?" Baekhyun terlonjak tapi aku menghentikannya untuk bangun.
"Dia jatuh ke bumi dan sekarang dia ada di sampingku." Aku menoleh padanya, menemukan kedua pipi dan telinganya memerah, "Kau lebih bercahaya daripada seperti Sirius bagiku."
Kami mengakhiri malam itu dengan sebuah ciuman manis di balkon.
Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak jatuh cinta lagi padanya.
—Tapi mereka berkata, kebahagiaan yang datang dengan tiba tiba, akan hilang seperti embun yang kehabisan waktunya untuk tinggal.
END
Terima kasih sudah mendukung Why Should I sejauh ini *bow.
.
.
.
.
.
Bercanda, hehe.
/kabur/
TO BE CONTINUED
SPECIAL THANK(s) FOR :
chanbaekis | yiamff | Theresia341 | Byunel | bearkim | ceypark | baekchann18 | hulas99 | berrybyun | Anandia Ariesta Dwi Yuniarti | parkchany | banana614 | .b | Biyol32 | Baekachuuuu | salsabee18 | n3208007 |chimiesry | AlexandraLexa | fujokuu | letuscap | meliarisky7 | inchan88 |lulunoona | Ovieee | Hyunieppo | LyWoo | Biyol32 | Guest | kekei-chan | byunbaek7853 | LavenderCB | ESmstand | exoexol| ayura96 |verawati257 | homohomoclub | gaemgaem | Devitapark | baekkiii6104 | bopung61 | Badibadibaaad | Wandapw | Sparkbyunb | Yoonie Park | parkc6572 | Guest217 | sehunniehan | baekfrappe | Lusianabaconcy0461 | ChanBeee92 | wy1808 |
((maaf kalau ada yang nggak kesebut atau salah tulis))
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN~!
I'M SORRY FOT TYPO(s), etc.
Yap, Chanbaek bersatu juga akhirnya *smirk*. Berkah Ramadhan, iye nggak wkwkw. Tapi, dari sinilah masalahnya bakal dateng beruntun kayak truk tronton /bhaks/. Yaaaa~ Pokoknya kita udah masuk awal klimaks nih, Chapter depan adalah klimaks nya~ YUHUUU *tebar bunga.*,
Silahkan bersenang senang karena CB bersatu, tapi jangan lupa kalau genre fiction ini masih angst, HEHEHEH.
Ini baru rampung Sabtu siang, fresh from oven jadinya hehe. Maaf ya, aku updatenya lama banget kayak siput. Well, sebenarnya kalau aku bisa juga maunya update setiap menit. Tapi, banyak kendalanya nah T^T. Yang terutama karena aku nggak bisa buka laptop seenak jidat, trus juga suka nggak mood mood-an buat nulis TT. Makasih untuk kakak kakak semua yang anteng nungguin ini update dan mohon maaf nggak bisa fast up TT. Terutama kak berrybyun, makasih banget yaa~ Aku liat kamu peka banget sama ff ini, sampe komen soal cover ff ini yang ganti, Makasih banyakkk~ Yang lainnya juga makasih sekali T^T.
Jadi, siap untuk chapter klimaks pertama di update depan? Review, please^^.
(spoiler dikit : chapter depan rahasianya Baekhyun bakal kebongkar, yuhu~. POV Baekhyun juga^^)
(p.s : Oh iya, ini kutargetin tamat di sekitar chapter 20 atau kurang, heheh.)
