Hari sabtu ini digunakan oleh anak-anak 1-3 untuk latihan drama yang hanya tinggal menghitung hari sampai tiba masa kadaluarsanya. Meski mereka harus menghabiskan akhir pekan mereka di kelas yang mulai dingin, mereka tetap menjalaninya dengan hati senang, bahagia, dan cerah ceria. Oh benarkah? Tentu saja. Kalian tidak lihat seringai (iblis) di wajah Ketua Geng-Yzak Joule? Seringai itu sangat cerah sampai bisa membawa aura positif pada teman-teman yang lain.
"Anda menginginkan suaraku?"
"Oh, Putri. Ya, tentu saja. Suaramu lebih indah dari mutiara mana pun di lautan koral dan plankton ini!"
"Cagalli! Tawanya!"
"Iiiihihihihi~"
"Sip. Excelent!"
"Ekselen damn you lah Yzak..."
Bahkan Kira dengan serius meringkuk di pojokan dekat mereka. Kali ini rekornya bertambah menjadi satu jam tanpa bergerak.
Kira mencuri pandang ke arah Lacus yang saat ini sedang memainkan beberapa nada yang perlahan semakin merendah. Pemuda itu bungkam, teringat masa-masa saat ia sering diseret gadis pemilik Angel 's Voice itu ke atap sekolah dan bernyanyi untuknya, bersamanya.
Yzak menyerukan sesuatu dan Cagalli juga Lacus berbalik meninggalkan 'stage' di depan kelas. Kira tetap di posisi. Pandangannya masih tak lepas dari gadis itu. Merasa dirinya diperhatikan, Lacus menoleh sedikit dan bertemu pandang dengan pemuda itu. Ia tersenyum singkat dan berbalik, berbincang dengan Cagalli seputar adegan mereka tadi.
Kira mengerjap. 'Apa?' batinnya. Tiba-tiba perutnya terasa diganjal batu. Kira terus memerhatikan Lacus dan ia yakin dirinya masih masuk dalam jarak pandang gadis idola tersebut. Namun, sekali lagi, ia yakin Lacus pura-pura tidak melihatnya
"Lacus beneran mengabaikanku!" jerit Kira dalam hati.
Ia meringkuk semakin dalam. Bahkan kepalanya ia tenggelamkan antara kedua lutut dan dadanya. Aura-aura hitam menyebar dari belakang punggungnya dan siap merasuki siapa saja.
"Wah, Kira! Pose-mu yang ini bagus banget. Pertahankan, ya!" ujar Dearka santai dan riang seperti biasa. Aura hitam itu tertolak invisble gamma kekkai seperti yang dimiliki para android yang menyerang bumi dalam film Perangnya Dunia yang dimainkan abang ganteng Tom Kuruisu.
Andai Dearka tahu aura yang dipancarkan pose itu sedang menyerang Yzak sang wagenk yang sedang sibuk menepis aura-aura itu seperti mengusir lalat di lemari display warung makan. Kesal, pemuda yang cuek akan ubannya yang telah menyebar itu menyambar asal sebatang lilin dan korek dari atas meja di sampingnya. Ia memantik korek itu dan mendekatkannya pada ujung sumbu.
Seorang pemuda berambut hitam dan mata merahakibatiritasiberat melihat aksinya. Ia langsung membelalak dan mengulurkan tangannya dengan dramatis. "Hentikan, Yzak! Lilin itu—"
—DUAR!
Para pejalan kaki yang melintasi sekolah negeri itu seketika menoleh ke arah suara ledakan kecil yang berasal dari deretan jendela di ujung sebelah kanan bangunan. Mereka tak dapat melihat apa yang terjadi karena kepulan asap berwarna merah muda memenuhi ruangan itu dan berusaha keluar mencari celah.
"—itu alat peledak untuk efek drama nanti," ujar Shinn lirih, menyelesaikan kalimatnya.
"KENAPA TIDAK BILANG—uhuk—DARI TADI, SHINN ASUKA!? ADEGAN MANA JUGA YANG PAKAI PELEDAK? TUNJUKKAN PADAKU SEKA—uhuk—RANG!"
Para pejalan kaki tadi kembali melanjutkan langkah mereka.
.
Title: Test for Kira
Disclaimer: Gundam Seed/Destiny punya BANDAI dan SUNRISE! Saya gak ada niat buat ngambil copyright Auel, kok! #eh?
Genre: Romance/Humor/Friendship
Pairing : KiraXLacus, KiraXMeer (sedikit doaang~)
Warning : AU, OOC, Abal, jayus, alur wuswus (?)
Hope you enjoy! ^^
.
Seluruh kelas sekarang menjadi ribut. Ada yang tertawa-tawa karena senang, ada yang menjerit karena kaget, ada yang misuh-misuh karena kesal kegiatan menonton 'xxx'-nya terganggu, ada yang sibuk memberi komando 'pemasukan pasukan UD-4124 SE-6412', ada yang cari kesempatan untuk 'meminjam-tanpa-bilang' barang yang ada di depannya, ada juga yang hanya diam dan dengan santainya beranjak menuju pintu—orang itu adalah Kira Yamato.
Ia meraba pegangan pintu dan menggesernya dengan mudah. Ia ambil tasnya yang ada di atas meja dekat pintu dan berkata, "Aku pulang duluan, ya. Aku akan latihan lagi di rumah."
"Ah, yayaya pulanglah! Hei, kalian! Jangan pada numpuk di jendela!" sahut Yzak dengan mode yakuza-nya.
Segerumul asap yang terlihat seperti gula-gula itu menyeruak keluar pintu. Kira dengan santai melangkah ke dunia luar dan menutup pintu itu lagi, tanpa dosa.
Beberapa menit kemudian, suasana kelas sudah lebih tenang. Seluruh jendela dan pintu dibuka lebar-lebar. Shinn sedang sibuk menjelaskan adegan spektakuler yang menggunakan efek ledakan pada Yzak yang hanya berkacak pinggang karena kesal. Athrun celingukan mencari-cari teman baiknya yang berambut cokelat ke penjuru kelas. Tak ada tanda-tandanya sama sekali. "Kira mana, ya?" ujarnya setelah menghampiri Cagalli dan Lacus yang masih bersandar di dekat jendela.
"Dia pulang duluan. Katanya mau latihan di rumah saja. Enak banget, sih yang jadi Batu, hanya duduk saja. Aku? Make-up tebal, baju gerah, banyak ketawa dengan oktaf tinggi, emangnya aku mau konser Opera?" jawab Cagalli dengan tangan kanan menyangga pipinya di bingkai jendela.
"Tapi bisa ambeien, lho duduk lama-lama," celetuk Athrun.
"Who cares?"
Lacus hanya sweat drop mendengar jawaban super dingin dan singkat dari adik mantan pacarnya itu.
Athrun yang sudah kebal dengan sikap garang Cagalli hanya tersenyum miris. Ia ikut bersandar tepat di samping Lacus dengan kedua tangan bertumpu di belakang, bingkai jendela. "Kau sendiri bagaimana Lacus? Kau sepertinya menikmati drama ini," tanyanya dengan seulas senyum lembut.
Cagalli berdecak dan memutar bola matanya, kembali bertopang pipi dengan bibir dimajukan. Ia sibuk menghitung butiran debu yang sedang beterbangan di lapangan bawah.
Lacus balas tersenyum dan menjawab, "Ya! Sebenarnya menyenangkan juga, sih. Kan jarang semua anggota kelas bersemangat seperti ini. Hadiahnya juga menggiurkan sekali! Benar, kan Cagalli-chan? Aku tidak sabar kita menginap di pemandian air panas sama-sama!"
"Uh-huh," gumam Cagalli datar. Matanya menangkap sosok Kira yang sedang berjalan di lapangan bawah tempat ia menghitung butiran debu yang beterbangan. Ingin sekali rasanya ia terjun dan ikut pulang dengan saudaranya itu, tapi ia terlalu malas untuk berurusan dengan yakuza sekolah. Andai Cagalli tahu kalau ia juga menyandang gelar yakuza sekolah wanita yang beredar hanya antara orang-orang yang masih sayang nyawa sehingga menutup mulut mereka rapat-rapat.
Tidak menyadari objek perhatian sahabatnya, kali ini sang Angel's Voice berhenti tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya. Cagalli-chan kenapa? PMS, kah? Batin Lacus ragu. Seingatnya ia tidak bertingkah apa pun yang aneh hari ini sehingga membuat mood sahabatnya buruk. Apa karena Yzak terlalu banyak mengomelinya?
Athrun tertawa dalam hati melihat tingkah pacarnya itu. Sang cowok pujangga para gadis sekolah itu pun mengikuti arah pandang sang kekasih. Matanya membulat. Senyum pun terukir di wajahnya yang tampan.
Athrun berdeham. "Hei, Lacus. Kau tahu bedanya aku dengan Luffy si Topi Jerami?"
"Luffy keren kau tidak," celetuk Cagalli, "Luffy gak bisa bohong kau bisa. Luffy gak suka populer kau iya."
Lacus lagi-lagi sweat drop mendengar jawaban Cagalli. Athrun hanya menatap Cagalli dengan intens seolah berkata, 'kau benar-benar berpikir aku orang seperti itu?'
Sang bintang perhatian hanya mengangkat bahunya tak acuh. "Apa? Aku penggermar Luffy."
"Bedanya aku dan Luffy adalah, kalau Luffy, dia akan melakukan apa saja untuk bisa menemukan One Piece. Kalau aku, aku akan melakukan apa saja untuk bisa menemukan putri penyelamat hidupku," jawab Athrun lancar penuh percaya diri, mengabaikan sindiran sang pacar.
Cagalli hanya melempar pandangan setengah redup. Sedetik kemudian, ia berlalu begitu saja.
Lacus berbalik menghadap Athrun dan bertanya, "Apa Athrun-kun dan Cagalli-chan bertengkar? Sejak tadi Cagalli-chan terlihat kesal."
"Aaah, tidak. Sebenarnya aku hanya lupa membelikan jus yang dia pesan waktu istirahat kita tadi. Sepertinya ia masih marah padaku karena benar-benar sudah haus. Nanti juga baik lagi, kok," jawab Athrun sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
"Oooh, semoga cepat baikan lagi, ya," gumam Lacus mengangguk-angguk. Ia mengangkat kepalanya lagi. "Ngomong-ngomong, Athrun. Apa jawaban pertanyaanmu tadi termasuk dalam naskah?" tanyanya sambil membolak-balikkan skrip dramanya.
"Nggak~ original buatanku. Menurutmu bagaimana? Apa sebaiknya ditambahkan di dialog?" tanya Athrun dengan senyum masih tak lepas dari bibirnya.
Lacus hanya tertawa. "Sebaiknya jangan, kurang gombal. Yzak-kun pasti tidak akan puas."
Kini Athrun menaruh telunjuknya di dagu. "Bagaimana kalau ini: kau tahu? Mencarimu bagaikan mencari tahap anafase pada proses mitosis. Meski sangat sulit dicari walau sudah menggunakan mikroskop, aku pasti akan tetap berusaha menemukannya. Seperti aku mencarimu, Ariel."
Gadis berambut merah muda itu kembali tertawa. "Astaga, Athrun. Aku tidak tahu kau memperhatikan pelajaran biologi di kelas. Apa kau sering mengatakan hal seperti ini pada Cagalli?"
"Oohoo~ tentu saja tidak. Aku masih sayang pada nyawaku, Lacus. Ini baru yang namanya ilmu biologi terapan." Athrun menyeringai jahil. Lacus kembali tertawa dan hanya bisa geleng-geleng kepala.
Mereka tidak tahu, di balik tawa mereka yang begitu ringan, seseorang berambut cokelat sedang mengamati mereka dari bawah. Raut wajahnya tidak terbaca. Antara kesal, sedih, kecewa, marah, dan … sedikit lega. Apa karena ia bisa melihat lagi tawa di bibir orang yang selama ini mengisi hatinya? Atau karena ia baru saja mengeluarkan angin di bokongnya yang daritadi ia tahan?
Kira meremas dadanya singkat dan berbalik. Ia melangkah lebar-lebar dan akhirnya berlari menuju halte terdekat yang tidak jauh dari cafeteria yang pernah menjadi tempat pengungsiannya. Ia harus pergi dari tempat ini, secepatnya.
.
Seorang gadis berambut merah muda yang mengenakan mantel berwarna sama dengan tudung berbulu bergumam sambil melantunkan beberapa lagu yang melintas di kepalanya. Matanya sibuk memeriksa deretan pakaian dan aksesoris yang terpajang di toko ke-20 yang ia kunjungi di pusat perbelanjaan itu. Tidak lama lagi ia harus kembali pulang ke Amerika, jadi dari pada menunggu Lacus yang masih belum jelas kapan pulang, lebih baik ia jalan-jalan sendiri saja.
Ia baru saja akan melangkah ke luar menuju toko lain saat seseorang menubruknya dari kanan. "Aduh!" keluh kedua orang tersebut bersamaan setelah mengambil jarak mundur satu langkah.
Meer mengangkat kepalanya sambil terus mengelus-elus bahunya yang malang. Matanya membulat saat melihat siapa yang baru saja menubruknya tanpa dosa. "Kira-kun?"
Yang dipanggil ikut mengangkat kepalanya dengan tangan kanan masih mengelus-elus dadanya yang lumayan nyeri. Ia pun ikut membelalak melihat sosok sang korban. "Umm, halo. Anu … perkenalkan, aku Kira Yamato," ujarnya terbata-bata dengan ekspresi yang jelas kebingungan.
Sunyi ….
"Hah?" Meer ikutan bingung. Entah kenapa ia merasa seperti de javu. Apa pemuda di depannya ini lupa kalau mereka pernah bertemu sebelumnya? Lebih dari sekali, lho.
Menyadari kebingungan lawan bicaranya, Kira bermaksud mengoreksi. "Ano … umm, konnichiwa … umm ..."
Serasa mendapat sengatan listrik singkat yang biasa menjadi efek di anime serial detektif hari minggu yang sering ia tonton waktu kecil, Meer memukulkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kiri. "Ah! Maaf! Sepertinya aku belum pernah benar-benar memperkenalkan diriku, ya. Perkenalkan," gadis itu menunduk sedikit, "Aku Meer Campbell, sepupu Lacus yang—seharusnya—sedang belajar di Amerika di jurusan seni rupa. Senang bertemu denganmu, Kira-kun."
Kira ikut menunduk sopan, "Senang bertemu denganmu juga, Meer-san."
Sunyi part 2 ….
Kenapa aku jadi super sopan dan speechless gini? Jerit Meer dalam hati. Jujur saja, Meer termasuk golongan ekstrovert yang (seharusnya) mudah bersosialisasi dengan orang lain, orang baru pun tak masalah. Tapi kenapa rasanya sekarang canggung banget? Tanyakan pada boneka kucing yang melambai.
"Meer-san sendirian?" tanya Kira yang tumben-tumbennya punya inisiatif untuk memulai percakapan.
Lega, Meer membalas, "Ya. Aku sedang libur (red: meliburkan diri) di sana, jadi aku main ke Jepang, deh. Tapi karena tidak lama lagi aku harus pulang, jadi kuputuskan untuk jalan-jalan saja. Kira-kun sendiri?"
Kira tersenyum tipis dan mengangguk.
"Sedang ada yang dicari, ya?" tanya Meer lagi. Seulas senyum ikut menghiasi wajahnya. Yah, paling tidak rasa canggung yang ia rasakan perlahan memudar.
Kira menggeleng pelan. Kedua tangannya ia sembunyikan ke dalam kantung celana dan senyumnya perlahan memudar.
Ah, pasti karena Lacus, duga Meer. Kini raut wajahnya juga ikut sedih. "Maaf, ya, Kira-kun. Sebenarnya soal pergantian peran itu ide dariku, untuk mengetes Kira-kun apa Kira-kun benar-benar mengenal dan menyayangi Lacus-chan sampai bisa membedakan kami yang sangat mirip. Aku benar-benar tidak menyangka akhirannya malah menjadi masalah seperti ini. Habisnya, waktu itu aku gemas dengan hubungan kalian berdua, tapi tetap saja, seharusnya aku tidak mengajukan ide itu," jelasnya pelan. Kedua tangannya juga ia masukkan ke dalam saku mantel. Kini matanya lebih tertarik pada guratan-guratan tipis di lantai keramik.
Kira menggeleng lagi. "Tidak. Itu memang salahku, kok. Kalau aku lebih bisa membagi antara waktu untuk diriku sendiri dan Lacus pasti tidak akan seperti ini. Lagi pula, seperti kata Meer-san, aku harusnya berterima kasih karena berkat idemu itu aku jadi menyadari sesuatu. Aku tidak benar-benar mengenal Lacus. Kurasa, aku memang tidak pantas untuk menjadi orang yang ada di sisinya saat ini." Bayangan tentang Lacus yang bersama dengan Athrun sambil tertawa bersama terlintas di benaknya.
"Maksudku bukan—"
"—Meer-san, mau temani aku?" potong pemuda berambut cokelat itu, tidak mau mendengar ucapan maaf lagi dari gadis di depannya.
Mengerti, akhirnya gadis berambut merah muda itu menghela napas dan tersenyum. "Baiklah, tapi," ditariknya lengan pemuda itu dan mereka mulai memasuki sebuah toko yang tadi hendak ia tuju, "aku tidak ingin terlihat berjalan dengan anak sekolahan yang masih memakai seragamnya dengan rapi."
"He?" Kira menunduk sebentar untuk memperhatikan penampilannya. Benar saja, kemeja biru tuanya masih ia kenakan lengkap dengan dasi putih yang terpasang rapi menutupi kancing teratas bajunya. Blazer putih dengan garis biru tua dan lambang Orb High School pun masih ia kenakan dengann setia. Pemuda itu tersenyum geli dan tertawa renyah. "Kau benar, aku memang butuh baju ganti."
Mereka berdua memasuki sebuah toko dengan musik techno-party yang menggema menyambut mereka. Kira menemukan beberapa orang melakukan shuffle di dalam toko sambil memilah-milah baju. Ajaib, memang. Meer tiba-tiba menarik lengannya dan menyodorkan sebuah kaos berwarna hitam tepat di badannya. Sebuah gambar rokok yang dilingkari dan disilang dengan warna merah terpapar di bagian depan. "Sekarang kau seperti duta antirokok."
Kira hanya tertawa dan menjauhkan kaos itu darinya. Sekarang Meer menyodorkan kaos lain padanya yang berwarna biru cerah. Dengan cepat gadis itu menyeret pemuda di depannya ke arah kaca terdekat. Tulisan: Aku Lebih Ganteng dari Papa terukir dengan manisnya dengan berbagai warna.
Keduanya hanya terpesona melihat sosok Kira yang terlihat sangat ... err ... fantastis? Meer dan Kira saling pandang. Keduanya langsung tertawa terbahak-bahak dan melesat mencari baju-baju lain yang lebih fantastis.
"Meer-san!" panggil Kira bersemangat. Meer menoleh dari bagian jaket dan melihat Kira mengangkat sebuah kaos warna kulit dengan goresan-goresan yang menyerupai pack di bagian perut, lengkap dengan kedua titik di bagian dada. Kira melekatkannya pada badan sambil berpose ala binaragawan. Meer tidak membuang kesempatan dan langsung mengabadikannya. Mengetahui apa yang baru saja dilakukan teman mainnya, wajah Kira langsung memerah. Ia meletakkan kaos itu lagi dan segera menghampiri Meer, memintanya untuk menghapus gambar itu. Meer menurut melihat ekspresi Kira yang benar-benar terlihat malu namun tentu saja setelah ia menyimpan kopi-annya di storage online miliknya.
Setelah beberapa lama hanya sibuk bermain-main dengan koleksi yang ada di sana, akhirnya Kira memutuskan untuk menyudahinya. "Kurasa tidak ada baju yang normal di toko ini. Pindah?" tawarnya.
Meer melihat jam tangannya. Ia terlihat sedikit terkejut melihat jarum pendek yang tertera. Ia membalikkan pergelangan tangannya agar Kira bisa melihatnya. "Sudah jam lima sore. Bagaimana kalau kita pindah tempat saja? Kudengar di sekitar jalan menuju halte bis di blok sebelah sedang ada pasar murah. Setelah itu kita cari makan, bagaimana?"
"Tentu saja. Sepertinya terdengar mengenyangkan. Siap untuk tambahan berat badan?"
"Aku tidak akan gendut hanya dengan makan sedikit banyak dalam satu hari," balas Meer santai. Gadis itu menarik lengan blazer Kira dan memimpin di depan. "Setelah itu, kita bisa ngobrol banyak hal," lanjutnya pelan.
Pemuda pemilik iris amethys itu terdiam. Ia memejamkan matanya sejenak dan menarik napas dalam-dalam. "Ya, kita akan ngobrol banyak, Meer-san. Meski pada akhirnya kau harus terlihat berjalan dengan anak sekolahan yang masih memakai seragamnya dengan rapi."
Meer memukul lengannya sambil tersenyum geli.
.
Desir air laut menyambut pulangnya mentari ke garis horizon. Sekawanan burung camar ikut pulang ke sarang mereka. Langit keemasan dengan campuran beberapa warna ungu menjadi atap indah yang tidak jemu untuk dipandang. Dua orang remaja duduk bersebelahan di atas bangku di bawah pohon yang sudah disiapkan oleh pemerintah untuk menikmati pemandangan laut Orb dengan tenang.
"Meer-san," panggil Kira pelan. Meer menoleh masih dengan bibir menempel pada sedotan di gelas plastiknya. "Kalau boleh tahu, kenapa Meer-san datang ke Orb? Soalnya tadi Meer-san bilang seharusnya sedang belajar di Amerika, kan?"
"Meer-chan! Kenapa bisa ada di sini? Bukannya kau sedang belajar di Amerika?"
Meer tersenyum kecil mengingat pertanyaan yang diajukan teman barunya ini sama dengan pertanyaan yang dulu diajukan oleh sepupunya. Ah, mereka berdua ini ...
"Aku hanya sedang bosan, Kira-kun. Jadi kuputuskan untuk main ke Orb saja, sekalian mengunjungi Lacus. Aku kangen padanya, kami cukup dekat, sih meski hanya sepupu." Meer menjawab lancar dengan seulas senyum, senyum yang jika dilihat lebih teliti adalah senyum miris yang terkesan dipaksakan.
Oh, andai dia tahu.
Andai Kira tahu alasan Meer yang sebenarnya.
"Jadi-jadi, tujuanku sebenarnya ke sini adalah karena setelah membaca surat-suratmu tentang pacarmu, Kira Yamato, kalau tidak salah. Aku benar-benar penasaran karena kau sepertinya sangat menyukainya!"
Oh, ya. Tentu saja itu yang ia katakan pada Lacus juga dulu. Ya, memang ia penasaran karena Lacus sepertinya sangat menyukainya. Dari cara ia bercerita lewat beberapa e-mail yang ia kirim, foto-foto mereka berdua yang meski tidak tergolong romantis tapi selalu memberikan kesan hangat tersendiri yang bisa membuat siapa pun iri.
Ia selama ini entah kenapa ikut merasa senang membaca surat-surat elektronik dari sepupunya, melihat foto-foto mereka. Sampai suatu saat Lacus mengirimkan beberapa foto sekaligus, foto-foto saat mereka berdua merayakan tahun baru bersama Cagalli dan Athrun. Ada sebuah foto yang hanya berisi Kira seorang diri, sepertinya itu hanya hasil iseng dari Athrun—dia yang mengambil sebagian besar foto saat itu, menurut cerita Lacus—tapi itu adalah sebuah foto yang mampu membuat Meer memandangnya lama-lama. Foto Kira saat sedang duduk sendirian di dekat pagar pembatas dari bambu berwarna merah yang membatasi antara daratan dan sungai di bawahnya. Matanya terlihat lembut namun sangat senang memandangi plastik berisi beberapa kue mochi di depannya, seolah makanan itu adalah kue paling enak sedunia. Uap napasnya pun terlihat mengepul di depan bibirnya. Rambutnya masih belum sepanjang sekarang namun itu yang membuatnya makin terlihat seperti anak kecil. Semburat merah terlihat samar di pipinya, menandakan dirinya berusaha menahan dingin.
Sejak saat itu Meer semakin tidak sabar menanti foto-foto lain yang berisi Kira di dalamnya. Oh, ya. Perlahan Meer menyukainya, menyukai Kira. Foto itu ia cetak dan masih disimpan secara rahasia di laci meja belajarnya di Amerika. Tidak ada yang tahu bagaimana senangnya saat ia pertama bertemu Kira secara langsung saat di koridor waktu itu. Tak ada pula yang tahu bagaimana perasaan Meer tiap malam sebelum tidur saat teringat kenyataan bahwa 'Meer' yang telah bertemu dengan Kira adalah 'Bayangan Lacus'.
Meer tersenyum kecil. Menyadari tidak ada suara dari teman 'kencan'-nya, ia mengangkat kepala. Kira sedang sibuk memperhatikan sesuatu di arah pasar murah. Gadis itu mengikuti arah pandangnya.
"Ah ...," gumamnya tanpa sadar.
Athrun dan Lacus sedang berhenti di depan sebuah stand boneka dan mainan anak-anak. Athrun terlihat sedang mengangkat boneka harimau tinggi-tinggi dan memainkan lengannya. Ia menekan sesuatu di sekitar lehernya dan mata boneka itu seketika berubah menjadi merah dan menembakkan sinar laser ke mata Athrun. Pemuda itu langsung berpaling dan meringis penuh derita. Lacus yang ada di sampingnya terlihat susah payah menahan tawa sambil menepuk-nepuk punggung pemuda itu, berusaha menenangkan. Mereka berdua kembali tertawa dan Athrun tanpa buang waktu segera mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membeli boneka itu.
"Cagalli ..., apa dia tahu soal ini?" gumam Kira tiba-tiba.
"Tidak usah bicarakan Cagalli-chan," potong Meer. Kira menoleh cepat, terkejut. Ia memiringkan sedikit kepalanya, meminta penjelasan. "Kira-kun sendiri bagaimana?" lanjut gadis itu.
"Aku ... rasanya tidak enak. Di sini ..." Pemuda itu menggenggam erat dadanya. Merasakan sesak yang muncul seperti siang tadi. Ia diam sejenak. Ingatannya terbang ke perbincangan mereka bereempat di atap tempo hari.
"Kira ... "
"Kemarin, Athrun bilang begini padaku," matanya masih belum lepas dari kedua siluet itu yang perlahan semakin tenggelam ke lautan pengunjung, "kalau aku begini terus, jangan bilang bahwa dia tidak mengingatkan, kalau akan ada orang lain yang siap untuk mendekatinya. Pasti." Ia tertawa kecil menyedihkan. "Aku hanya tidak menyangka orang itu justru sang pembuat quote sendiri."
Meer mengepalkan tangannya kesal sampai kepalan tangannya berwarna putih. "Kalau begitu kenapa kau tidak memperjuangkan Lacus-chan? Apa lantas karena Kira-kun merasa bukan orang yang pantas untuk Lacus-chan, Kira-kun akan menyerah, hanya melihat dan meratap dan mengeluh? Kalau memang begitu, berhentilah merasa sakit sendiri melihat orang lain dekat dengan Lacus-chan! Itu benar-benar konyol, Kira-kun! Seandainya memang seperti itu ..."
"Aku tahu, sangat menyedihkan," lanjut Kira datar.
"Sebenarnya aku mau bilang 'ke laut aja'. Tapi kurasa 'sangat menyedihkan' kata yang lebih tepat. Terima kasih, ngomong-ngomong."
Oh.
Antiklimaks.
Meer berhenti tepat di depan Kira dan sedikit menunduk, menjajarkan pandangannya dengan wajah sang lawan bicara. Dipegangnya kedua pundak pemuda itu dan Meer tersenyum, "Pokoknya, pikirkanlah baik-baik apa yang akan kau lakukan dan putuskan untuk menyelesaikan masalah ini, Kira-kun. Benar-benar selesai atau aku takut masalahnya akan melebar."
Wah, wejangan yang sangat bagus, Nona Meer. Tapi kenapa rasanya seolah-olah Anda tidak terlibat dalam mas—ah, langitnya cerah, ya.
Kira hanya mengangguk pelan dan tersenyum. Ia bangkit berdiri dan memasukkan tangan kirinya di saku sedangkan tangan satunya menjinjing tas. "Kurasa aku harus pulang sekarang. Mau kuantar?"
Meer menggeleng dan hanya menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung. "Aku masih mau jalan-jalan di sekitar sini. Malam-malam terakhir dan sejenisnya, kau tahu?"
Kira hanya tertawa dan menepuk-nepuk puncak kepala Meer. "Kalau begitu hati-hati, ya. Juga ... terima kasih, benar-benar terima kasih untuk hari ini, Meer-san," ujar pemuda itu lembut sambil menunduk sopan.
"Hai, doita~ Ganbareyo!" Meer mengangkat tangannya penuh semangat.
Kira sekali lagi hanya tertawa dan melambai sebelum berbalik menembus keramaian lagi. Tangan Meer perlahan turun dan senyum di wajahnya menghilang. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya lagi dengan berat. Ia berbalik dan memilih untuk berdiri di tepi pagar pembatas yang membatasi lautan di hadapannya.
Oh, masalah cinta, betapa rumitnya. Meer memejamkan matanya dan menggumamkan beberapa nada. Bagaikan saluran pipa pembuangan, ia mulai memikirkan segala yang menjadi bebannya dan mengeluarkannya lewat nada. Oh, sungguh go green.
Just be friends, all we gotta do
Just be friends, it's time to say goodbye
Just be friends, all we gotta do
Just be friends, just be friends
Meer kembali membuka matanya. Kedua bahunya terangkat saat lagi-lagi ia mengambil napas panjang. Ya, sudahlah ... batinnya pasrah, berusaha menghibur diri. Ia mamasukkan kedua tangannya di saku dengan kepala tertunduk dan berbalik untuk kembali berkeliling.
"Aduh!" Lagi, ia merasakan de javu yang lain saat ia merasakan sakit di sekitar bahunya. Tak hanya bahunya, kali ini lengannya ikut terasa nyeri saat sesuatu menubruknya dari depan.
Prak!
"Aaaah! MP3 baruku!"
Meer mengerjapkan matanya beberapa kali saat mendengar suara sesuatu yang sepertinya jatuh di depannya dan si penubruk serta suara merana dari lelaki itu.
"Padahal baru kubeli dengan harga setara jatah dua komik bulananku," rajuk pemuda berambut biru langit itu sambil mengangkat pecahan gadget itu seolah menggenggam butiran pasir di tangannya yang terbang menjadi butiran kuman. "Hoi! Kalau jalan liat depan, dong! Belum ada satu jam, nih umurnya!" hardik pemuda itu dengan mata berair menahan tangis.
Meer yang sedang dalam keadaan mood di bawah standar hanya mengangkat sebelah alisnya. "Apaan? Barang rongsokan itu yang jadi masalah?" ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan menyodorkannya ke depan pemuda itu yang menatapnya dengan bingung. "StarkSic2[*], memori mendekati unlimited, touch screen, flipable, shakeable, undestroyable, tahan banting, baterai tiga hari full-played music, antiair, stereo super bass, equalizer 20 bar, FLV, MP3, MP4, WEBM, bluetooth, gratis, untukmu, sebagai ganti rugi. Maaf."
Sunyi. Pemuda itu hanya sibuk memandangi benda berbentuk persegi panjang seukuran 2x5 cm yang berbentuk seperti kaca dengan frame metal bergaris merah yang hanya pernah ia lihat lewat film The Avenger. Ia menoleh ke arah gadis yang baru bertubrukan dengannya. Wajah gadis itu tetap datar. Ia mengeluarkan sesuatu lagi dari saku kirinya yang ternyata sebuah headset. Ia sodorkan juga.
"Ambil," ujar Meer datar.
"Terima kasih. Aku cinta padamu." Tanpa malu dan tanpa buang waktu, pemuda itu menyambarnya. Dahinya tiba-tiba berkerut saat berhasil melihat wajah Meer dengan jelas. Ia bertanya, "Kau sesuatunya Lacus Clyne?"
"Ya, aku sepupunya dan aku bukan 'sesuatunya'. Kau pikir aku—" Meer menghentikan kalimatnya sejenak saat suatu pemikiran terlintas di benaknya. "Tunggu, kau kenal Lacus-chan?"
Pemuda itu baru saja selesai menyimpan rezeki dadakan-nya ke dalam tas. "Hm? Tentu saja, kalau tidak ngapain aku tanya padamu. Dia teman sekelasku."
"Dan kau tidak berpikir kalau aku adalah dia?" tanyanya lagi.
Pemuda itu diam. "Purff!"
"Hei! Kenapa kau tertawa?"
"Ahahahahah, mananya darimu yang bisa bikin aku berpikir kau itu Lacus? Rambut? Mirip, tapi di distrik 7 sana juga banyak yang sering cat rambut seperti itu. Muka? Muka datar bin galakmu itu mau disandingkan dengan wajah dewi-nya Lacus? Ahahahah, jangan-jangan kau itu sebenarnya fans berat yang operasi plastik supaya mirip dia dan mengaku-ngaku sebagai sepupu untuk kepo alias menguntit kalau-kalau—"
"Kau berlebihan, sangat, super," sela Meer sarkatis. Namun sebenarnya dia cukup terhibur dengan celotehan tidak jelas pemuda di depannya. Bisa bertemu dengan orang yang langsung mengenalinya bukan sebagai Lacus entah kenapa benar-benar memberikan sensasi aneh yang hangat tersendiri di perutnya.
Pemuda itu hanya melambai dengan malas, berusaha menahan tawanya. "Ngomong-ngomong apa kau yang tadi nyanyi Just be Friends – Migurine Luka?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Kenapa? Masalah buatmu?" balas Meer garang, merasa agak risih tindakan pelipur laranya diketahui pemuda itu.
Namun jawaban pemuda itu benar-benar membuat Meer kehabisan kata-kata. Pemuda itu tersenyum kecil dan menjawab, "Tidak buruk."
Meer ikut tersenyum kecil lebih kepada dirinya sendiri. Oh, yeah, ini benar-benar 'tidak buruk'. Tanpa pikir panjang, gadis itu menyambar lengan pemuda itu dan menariknya lagi menuju pasar muurah. "Temani aku jalan-jalan, siapa pun kau. Jangan membantah, oke?"
"Oi—hei!" Pemuda itu agak kelimpungan dengan posisinya yang sedikit terpelintir sekarang. Setelah mendapat posisi yang lebih enak, pemuda itu mengerutkan dahinya sedikit dan berpikir. "Siapa pun kau, apa kalau aku menurutimu akan ada 'hadiah spesial' lain?" tanyanya, lagi-lagi, tanpa malu sedikit pun.
Meer hanya tertawa dan menyeringai. "Stark Pocket V4[**]. Lima inchi, antigores, antiair, wifi, GPS, finger-print lock, voice-order, unlimited storage, whole-world connection, free automatic upgrade system, one-click app shop, processor—"
"—oke, wish granted."
Sebuah jitakan di kepala pemuda itu benar-benar membuatnya tersentak. Ia segera menoleh ke Meer sang pelaku dan menatapnya tajam sekaligus bingung. "Hei!"
"Tahu malu sedikit, dong," cibir Meer dengan seringai jahilnya.
"Untuk orang yang baru ketemu setelah menghancurkan barang orang yang ditabrak dan tiba-tiba langsung minta ditemani jalan-jalan lalu seenaknya mukul kepala orang, ya, sangat tahu malu," balasnya sarkatis.
Meer memukul kepalanya lagi dan langsung berlari semakin dalam. Pemuda itu mengerjarnya sambil menyerukan sesuatu yang lebih seperti tuntutan demonstran yang menuntut haknya yang sudah dijanjikan.
.
TBC
.
[*] Cuma iseng. Terinspirasi setelah baca fanfic English di fandom Avenger tentang Tony yang ngasih gadget kayak tablet gitu dengan segala fitur mewahnya ke arah Steve yang sibuk minta koran dalam bertuk cetak. Di fanfic itu gadget-nya pake merek Stark Industry. Jadi saya pinjem juga. Ahahhaha. Dan yang dilihat di film-nya itu saya sendiri gak tahu apa, kayaknya, sih hape, tapi saya pinjem aja, ya bentuknya, Tony dan Marvel~
[**] Sama dengan tanda bintang pertama. Cuma lebih abstrak. Kedua nama tipenya asal aja dan fiturnya juga ngasal. Jadi silakan berharap gadget masa depan benaran ada yang seperti itu. #plak. Amiiin!
Oh yeaaah! Sedikit AuelXMeer saat terakhir, saudara-saudara! Anggap saja sebagai hadiah karena Meer sudah menjadi anak baik di cerita ini *pokpokMeer*.
Satu lagi update super lama dari saya~ *tebarpasir* Kali ini sedikit lebih panjang tapi sepertinya agak garing. Ya, sudahlah. Sebelum-sebelumnya juga garing *mengukirlingkaranobatnyamukd idinding*.
Yap! Terima kasih pada readers dan reviewer yang sudah bersedia mampir apalagi menyempatkan diri untuk kasih review kepada saya. Hontou ni arigatou! Kalau ada unek-unek apaaaa gitu, silakan semprot aja ke saya lewat kotak review~ Cara damai tanpa pertumpahan darah #eh?
Sekali lagi terima kasih readers~ *melambai*. Have a nice day!
