Warning : AU, OOC, RATE T -SEMI M,DON'T LIKE DON'T READ ! Gak suka Pairnya jangan baca! Karena saya yakin, di FNI ini buanyak banget fic2 lain yang sesuai selera pembaca. Muach!
Yup! Semoga masih pada betah ngebaca fic satu ini.
Saya akui chapter lalu terlalu sering terjadi pergantian scene. Maka dari itu chapter ini saya perbaiki sedikit dan mengatur porsi yang baik untuk NS dan SI. Jangan sungkan-sungkan untuk kasih masukan di kolom ripiu ya!
Yang udah ripiu: Nara Aiko,The RED Phantom, Serena Yuu,NaRa'UzWa',Cyfz Harunoo,Hikari Uchiha Hatake,Youichi Hikari,Ridho Uchiha,Ciaxx,NaruSaku-ShikaIno fc,Saqee-chan,Enny love ShikaIno, dilia males login,Rere Aozora, Michiru No Akasuna,Kurosaki Kuchiki,osoi-chan is not osoi, sava kaladze,Lhyn hatake,karinuuzumaki,Jee-ya Zettyra,2winter thief,chrysothemis, airakira no login, Seiichiro Raika queen of MM2, Cielheart Ie'chan, Mayu Azanuma, Ayano Hatake, Sakura 'Cherry' Snowfalls, Zoe09, hadiekavien's, Rya-chan, Zhan, pie-chan, Uchiha Narachi, Haruchi Nigiyama, Violet7orange, Hwarang Ichikurasaki, Uchiha Sakura97, Thia2rh, narusaku 4ever, Reo san, sakuno narusaku lovers, kecis FU, Hikari Hime, kyuu-chan, Haru glory, Ara-chan, elven lady18, Hika Midori chan, Zheone Quin, DeviL's of KunoiChi, kafuyamei vanessa-hime, Fhaska, BlackAquamarine, aya-na rifa'i, viori 'fyo' nogi, Rinzu15, adit massiverz, shikainoloves, StarrZ, OraRi HinaRa, YamaNara ShikaIno, Syifa, PIE CHAN, Freakss ShikaIno, Memorie's Of Namikaze Edogawa, Uchiha 'Pytha' No Aka Suna, alegre541, UZUMAKI YUKI, kuraishi cha22dhen, kenshi himura.
Silakan komentar soal gaya tulisan, typo, ide cerita, atau bahkan ngasih ide *tapi jangan soal pair, I'm absolutely sick of it*. Well, saya gak munafik, saya cinta ripiu. MAKASIH SEMUA RIPIUWERS!
Yosh! Selamat membaca!
Summary : Ino dan Sakura berteriak kesetanan saat tahu suatu pagi di penginapan di samping mereka, ada sesosok laki-laki. Mengalami malam terburuk sekaligus tidak ingat apapun. Dan yang terparah, mereka harus menerima kenyataan, saat mabuk mereka telah menikah dengan para pemuda itu. Padahal keempatnya mempunyai pasangan masing-masing. Berbagai trik dilakukan agar mereka bisa lepas satu sama lain. Dan kehidupan pernikahan remaja SMA ini dimulai.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO-sensei
Sedikit Inspirasi dari What Happens in Vegas, dan otak saya yang hobi berkhayal.
.
WE ARE MARRY NOW Chapter 10 : Everything's get trouble
.
Temari terdiam sesaat. Sepertinya gadis pirang itu kehilangan kata-katanya. Ia melirik Deidara, si tertuduh yang barusan ia ajak berdebat tak penting. Si pria blonde itu hanya menyeringai seolah tertawa di atas kekalahan Temari. Sial.
Ternyata pemuda 'melambai' ini kakak Ino.
"Ino? Temari?"
Temari dan Ino dengan sigap menoleh pada sesosok pria malas yang berjalan mendekat dari arah halte.
"Shikamaru?" ujar Ino heran. Seingatnya suaminya si lazy-ass satu ini tadi memilih untuk tidur di rumah daripada mengantarnya belanja. Ino lalu menyeringai sesaat saat menyadari bahwa Shikamaru ternyata takut dengan ancaman tentang 'Sai' saat di rumah tadi.
Shikamaru melirik lengan Ino yang terkait dengan Deidara. Tentu saja ia tak pernah melihat Deidara sebelumnya. Tapi ia memilih tenang dan menatap Deidara dari atas sampai bawah dan menunggu Ino menjelaskan daripada ia berspekulasi macam-macam.
Deidara tentu paham kenapa Shikamaru memandanginya dari atas sampai bawah. Palingan juga salah paham seperti gadis kuncir empat di depannya. Untunglah Inoichi, ayah kedua Yamanaka muda itu pernah mengirim email foto Shikamaru.
"Oh…" ucap Deidara. "Jadi dia ini suaam–mph."
Ino yang dengan sigap telah membungkam mulut Deidara hanya tertawa cengengesan. "Dia ini, pacarku Kak," terang Ino. "Dan Shika, dia Deidara, kakakku yang selama ini ada di benua Amerika sana, hahahaha." canda Ino.
Untunglah pikiran Temari masih penuh dengan pikiran rasa bersalah karena sempat salah paham tadi sehingga dia tidak sempat mendengar racauan Deidara tadi. Untung saja…
Ino tertawa terbata-bata, setengah gugup, setengah menyindir Shikamaru yang menyusulnya kemari hanya karena… yah, Ino yakin suaminya satu ini cemburu padanya. "So…" Ino mulai menatap Shikamaru dengan tatapan mengejek.
"…" Shikamaru yang merasa tak nyaman mulai mengalihkan pandangannya.
"Kau tahu Temari. Aku sebenarnya kaget melihat kalian berdua di sini. Karena seingatku saat tadi aku menghubungi Shika, ia sedang di rumah tertidur. Tapi nyatanya aku malah bertemu kalian berdua di sini."
Deidara yang tak tahu apa-apa mulai memperhatikan omongan sang adik.
"Kalian tidak sedang janjian kan?" tanya Ino.
Shikamaru melotot mendengarnya. Jadi sekarang istrinya satu ini memasukkan nama Temari dalam pembahasan kali ini. Hanya karena Shikamaru datang menyusul ke kota untuk memastikan ada Sai atau tidak.
Temari langsung gelagapan. Pertama, ia masih merasa tak enak. Kedua, ia tak tahu menahu kalau Shikamaru ada di pusat kota juga. "T-tidak."
Deidara menggaruk rahang kirinya yang tak gatal sambil setengah berpikir. "Un, sebenarnya ada apa sih ini?"
Ino tersenyum lagi sambil bergelanyut manja di lengan kakaknya, "Mereka ini mantan kekasih, Dei-nii."
Deidara langsung menengok Shikamaru dengan tatapan membunuh. Pemuda itu maju selangkah di depan Shikamaru. "Kalau kau berani mempermainkan adikku, aku akan meledakkanmu, un."
Sementara Shikamaru cukup begidik ngeri dengan ancaman kakak iparnya, Temari malah menatap Deidara dengan muka horror. "T-tunggu! Kau ini bukan teroris kan? Meledakkan?"
Ino tertawa senyaring mungkin melihat sepasang mantan kekasih yang tampangnya pucat pasi itu. "Hahahaha, maaf… kakakku ini bekerja di salah satu perusahaan pembuat fireworks di New York. Dia hanya bercanda."
Temari sweatdrop. Ia merutuk dalam hati kenapa ia bisa terjebak dalam pembicaraan konyol macam ini. Yamanaka Ino, pacar baru mantan kekasihnya benar-benar gadis yang aneh. Belum lagi kakaknya yang lebih aneh.
"Ah… um… sebaiknya aku pergi." kata Temari.
"Eh?" pekik Ino seakan tak rela Temari pergi begitu saja. Ino memang gadis yang menyukai tantangan dan persaingan. Lagipula sepertinya Temari cukup menyenangkan.
"Aku juga perlu menemui ayah di toko, Pig." Deidara ikut pamit pergi.
"Lho?" serunya kecewa. Ia berpikir sesaat.
"…"
"Aku tadi barusan dapat voucher makan di café seberang jalan di belokan sana," terang Ino. "bagaimana kalau besok pulang sekolah aku menraktirmu Temari."
"Hah?"
"Yah, aku hanya ingin kita berteman. Aku tak ingin kita punya hubungan buruk. Lagipula aku ingin tanya-tanya soal masa lalu Shikamaru, mau ya?"
Temari sedikit melongo mendengar ajakan Ino. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengangguk.
"Horee!" seru Ino. Sepertinya gadis satu ini punya rencana. Besok pasti menyenangkan.
Shikamaru tak banyak protes. Ia hanya menatap sosok Temari yang beranjak pergi sebelum melirik istrinya yang bersikap aneh dan tersenyum padanya.
"How troublesome…"
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Langkah Sakura terhenti tak jauh dari gerbang masuk sekolah. Ia melirik Ino sesaat yang memasang muka muak lalu melirik pada Shikamaru dan Naruto. "Sebaiknya kalian ke kelas duluan."
Shikamaru yang merasa aneh lebih memilih diam. Sementara Naruto menatap sosok gadis di hadapannya. "Ada apa ini?"
"Tidak apa-apa Naruto-kun. Aku hanya ingin bicara dengan Sakura kok."
"Sebaiknya kau pergi Naruto, kau nggak ada hubungannya dengan ini," jawab Sakura. "Girls talk."
Naruto hanya mengangkat bahunya pasrah sedangkan Shikamaru mulai menggiringnya pergi menjauh menuju gedung sekolah. Pemuda berambut nanas itu hanya menggumamkan kata 'mendokusai' sambil pergi berlalu.
Sakura menatap sang lawan bicara di hadapannya. This girl really annoys me. "ada apa Shion?"
"Well, aku rasa nggak apa deh ada Ino…" ungkap Shion malas. "Toh aku hanya ingin bicara soal Naruto-kun."
"Bukannya kau sudah mendapatkan Sai?" sahut Ino sengit.
"Huh, aku nggak minat dengan mantan pacarmu itu. Ciuman saat drama lusa lalu itu kecelakaan. Dia yang menciumku!"
Ino tertawa nyaring mendengarnya.
"Aku yang ada di belakang panggung saja tahu kalau yang maju dan menyodorkan bibirnya itu kau, Shion." ejek Sakura sambil tertawa nyaring seperti Ino.
"A-aku… itu… tujuanku Naruto! bukan Sai!"
Sakura dan Ino hanya tertawa. Keduanya lalu saling bertatapan dan memandang Shion dengan ogah-ogahan. "Jadi apa maumu sekarang?"
"Aku masih curiga dengan hubungan kau dan Naruto, Sakura-chan…" jelas Shion. Kalimatnya cukup membuat Sakura dan Ino mulai memandang gadis itu serius. "Apalagi cincin itu. Perhiasan yang aku lihat dulu itu benar-benar membuatku berpikir kalau kalian punya hubungan istimewa. Cincin ya…." Shion mulai memancing kekesalan Sakura.
"…"
"Pasti cincin itu mewakili hubungan kalian berdua kan? Um… kalau seisi sekolah tahu bagaimana ya?" tantang Shion.
"Cukup! Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?" Sakura mulai tak sabar.
"Always to the point, well, I like it, Sakura-chan… listen to me."
"…"
"Aku sangat menyukai Naruto-kun. Tapi aku tahu Naruto selalu saja ada di dekatmu. Jadi kuharap kau mau menjauh dari Naruto."
"Ap–" Ino terlihat kaget.
"Dimulai dari istirahat siang ini. Aku akan mengajaknya makan di kantin berdua. Jadi kau… just get away from him, okay?"
Sakura hanya memicingkan matanya saat gadis musuhnya itu berjalan menjauh sambil tertawa seolah telah menang perang.
"That girl is totally bitch. Rasanya aku ingin menghajarnya, Forehead."
Sakura menoleh pada Ino. "Biarkan saja."
"Apa? Kau ini bercanda ya?"
"Aku sih nggak masalah. Meskipun aku tak dekat-dekat dengan Naruto di sekolah, toh di rumah tak ada yang bisa melarangku," jawab Sakura, "dan lagi… sebentar lagi paling-paling malah Naruto yang akan kesusahan dengan Shion yang akan terus mengekorinya."
"Aku rasa ada baiknya kau membicarakannya dengan Naruto."
"What? Ayolah, Pig. Kau tahu Naruto terlalu 'pintar' untuk masalah seperti ini," jawab Sakura malas, "Si Idiot itu hanya akan memperburuk keadaan."
Ino berpikir sesaat lalu mengangkat bahunya. Ia hanya tersenyum da menepuk pundak Sakura sebelum akhirnya berjalan menggiring Sakura ke gedung sekolah. "Terserah kau sajalah."
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"Apa?"
"You heard me."
"Yes, I did! Aku nggak keberatan kalau kau nggak mau menemaniku makan di kantin, tapi kenapa kau malah menyuruhku makan dengan Shion?"
Sakura menghela napas panjang dan membuang pandangannya keluar jendela. Ia menolak menatap mata Naruto juga Ino yang memandang kasihan padanya.
"Aku ada tugas di OSIS."
"Hah? Aku nggak peduli dengan itu. Mungkin kau memang malas menemaniku makan ramen, tapi apa perlu aku menemani Shion?" tanya Naruto kesal.
Ino menggelengkan kepalanya melihat pasangan penuh pertengkaran satu ini. Ia menatap sekeliling. Padahal sebagian siswa belum meninggalkan kelas untuk istirahat, tapi mereka berdua dengan bangganya malah bertengkar masalah makan siang. Konyol.
Ino tentu tak bisa menenangkan Sakura karena ia tahu masalahnya. Tapi Shikamaru juga diam saja sejak tadi. Dasar. Suaminya itu kelewatan tak peka. Untunglah Ino sedang tak mood mengajak suaminya itu bertengkar.
"Jangan-jangan kau memang ingin makan siang dengan Sasuke dan memakai alasan Shion kan?"
Srakk. Sakura langsung bangkit dari kursinya dan menatap Naruto yang berdiri di sisinya.
"Kenapa sekarang bawa-bawa nama Sasuke?" teriak Sakura tak terima.
"Kau yang mulai! Kau bawa-bawa nama Shion!" balas Naruto kesal.
Beberapa siswa mulai berisik. Karin mendekat perlahan pada Ino. "Tingkah mereka aneh sekali… mereka seperti orang pacaran. Sebenarnya mereka kenapa?" tanya Karin. Ino hanya memberi tanda 'sst' agar Karin tak bertanya banyak.
"Apa sih sebenarnya alasanmu?" tanya Naruto. "Kau aneh!"
"Kau nggak perlu tahu alasannya…" jawab Sakura. "Lagipula apa sih susahnya makan dengan Shion!"
"Fine!" jawab Naruto kesal. Ia mulai gerah dengan yang namanya pertengkaran. Ia selalu kalah tiap berdebat dengan istrinya itu. Pemuda pirang itu akhirnya memilih untuk menyingkir pergi dari kelas meninggalkan Sakura yang setengah kesal. Gadis itu menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi. Andai saja si bodoh itu tahu kalau Sakura melakukan ini semua juga untuknya.
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Suasana kelas terasa sengit sejak bel istirahat telah selesai barusan berbunyi. Apalagi kalau bukan gara-gara kelakuan Naruto dan Sakura yang seolah sedang melempar death glare. Sakura tentu tak tuli saat ia dengar dari Tenten bahwa suasana di kantin rusuh karena Naruto ribut dengan tingkah Shion yang selalu menempel padanya.
Sakura menghela napas sesaat lalu menoleh ke Naruto yang duduk di barisan sebelah timur laut dari bangkunya, "Naruto?" panggilnya.
Pemuda pirang itu menoleh malas. Sekalipun semua teman-temannya terlihat tak peduli dan berisik sana-sini, namun sebenarnya mereka sudah pasang telinga untuk mendengar percakapan kedua siswa itu.
"Apa?" jawab Naruto asal-asalan.
"Nanti saat pulang jangan menungguku."
Alis kiri Naruto terangkat. Ia memutar tubuhnya menghadap istrinya satu itu. "Jadi kau mau bilang kalau hari ini aku harus menemani Shion pulang juga? Sama seperti tadi kau menyuruhku menyanggupi ajakan makan siangnya?" tanya Naruto kesal.
Tunggu! Kenapa Naruto malah melebarkan permasalahan yang ada? Yang dimaksud Sakura sebenarnya ia ada tugas OSIS dan lagi ia sedang ingin sendirian memikirkan tentang Shion. Tapi nyatanya Naruto malah menambah pikirannya sekarang.
"Kenapa membicarakan Shion lagi?" protes Sakura.
Naruto terdiam. Mencoba membaca pikiran gadis yang hidup seatap dengannya itu.
"Jadi sekarang kau berniat pulang bersama Shion?" tanya Sakura kesal. Gadis itu berdiri dari bangkunya. Mengacuhkan teman-temannya yang lain yang sibuk menguping pembicaraan 'drama' pasangan ini. "Silahkan!" tantang Sakura.
Naruto menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya apa sih maumu? Setahuku kemarin kau baik-baik saja. Oh! Sejak tadi pagi saat kau bicara 'gils talk' itu! Memangnya apa yang kalian bicarakan sampai kau bicara aneh begini?"
"Kau nggak akan ngerti meski kujelaskan!"
"Ya… karena kau selalu menganggapku bodoh? Kau selalu saja tak mau menceritakan masalahmu. Lalu kenapa kau dulu protes saat aku tak pernah cerita soal Konohamaru? Apa kau nggak bisa terbuka? Aku ini kan s–"
"Naruto!" teriak Shikamaru sambil mencengkeram bahu Naruto.
Naruto melirik teman-teman kelasnya yang memandanginya penasaran. Naruto hanya mencengkeram helaian rambut pirangnya sebelum akhirnya mendesah kesal. Ia berbalik berjalan menuju pintu dengan kesal.
Sakura yang tak kalah kesalnya bergegas menghampiri Naruto dan berteriak, "Naruto! kau benar-benar menyebalkan!" Begitu kalimat itu terlontar, Sakura meraih sebuah buku di atas salah satu meja –yang tentu saja bukan miliknya– dan melemparkannya ke Naruto.
Masalahnya Naruto keburu berbalik dan menghindar.
Cklek.
PLAKK!
Semua murid terlihat menahan napasnya masing-masing. Buku bernasib malang itu kini tergeletak di atas lantai setelah sempat menghantam wajah seseorang. Semua siswa terlihat menatap horror sang guru kimia yang juga seorang manager klub bola sepak dan bola basket.
Miss Mitarashi Anko.
Wanita itu tersenyum ngeri dan mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan sebelum akhirnya berbicara, "Aku tahu hari ini aku telat masuk kelas kalian. Tapi apa begini sambutan untukku?" tanyanya dengan suara lembut nan horror.
"…" Semua terdiam.
"SIAPA YANG MELEMPAR?"
Sakura menelan ludahnya sebelum akhirnya ia mengangkat tangannya perlahan.
"Haruno Sakura?"
"Dia tak sengaja Anko-sensei." Ino mencoba membela temannya.
"Well, karena 'mungkin' kau tak sengaja, dan juga kau anak dari Tsunade-sama, maka aku tidak akan memutuskan detention."
"…"
"Tapi kau kuhukum untuk membersihkan gudang ruang bola basket sepulang sekolah. Mengerti?" perintah Anko.
"M-mengerti…" jawab Sakura pelan sambil mengangguk. Gadis itu berjalan lesu ke bangkunya dan terus menunduk menatap permukaan mejanya. Sungguh ia kesal sekali. Bukan karena Anko-sensei, tapi karena pertengkarannya dengan Naruto. Kenapa ia selalu saja sulit akur dengan pemuda itu. Padahal ia kadang manis dan menyenangkan. Tapi tetap saja selalu bertengkar.
Naruto melirik Sakura sesaat. Perasaan menyesal menyeruak di dadanya.
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Sakura menata bola basket ke dalam rak dalam diam. Bibirnya terkunci rapat sementara tangannya mulai bekerja bergantian membersihkan lantai dan debu tebal di atas lemari. Pikirannya kosong dan ia terus melamun.
Tak akan ada yang tahu bahwa di gudang itu ada orangnya selain murid yang mendengar langsung perintah Anko. Sakura tak banyak protes dan tetap melakukan pekerjaannya. Toh ada baiknya ia merenung dan sendirian. Selama ini ia terlalu sibuk hingga melupakan dirinya sendiri bahwa ia juga perlu sendirian dan merilekskan pikirannya.
"Mau kubantu?"
Sakura menghentikan gerakan sapu di tangannya yang sibuk menggapai debu di atas lemari kayu. Ia tak menoleh karena ia tahu betul si pemilik suara.
"Leave me alone."
"I won't."
Sakura mendesah pelan dan akhirnya berbalik menatap Naruto. ia mengedarkan pandangannya pada bola basket yang masih tercecer di atas lantai. Ia hanya menunjuk bola-bola itu, "Bantu aku mengelap bola-bola itu."
Naruto hanya mengangguk dan mulai membantu Sakura sesuai perintah gadis itu. Keduanya mengerjakan pekerjaan masing-masing dalam diam selama beberapa menit. Bola-bola yang sudah di-lap segera Sakura masukkan ke dalam lemari. Gadis itu lalu meneruskan pekerjaannya menyapu debu-debu tebal di atas lemari.
"Uhuk.. uhuk.. huk…" Sakura terbatuk-batuk sampai gadis itu membungkuk. Membuat Naruto mau tak mau bangkit dan mendekat pada Sakura. Namun gadis itu malah mundur.
"Sakura, kau nggak apa-apa?" tanyanya cemas.
Sakura mengayun-ayunkan tangannya agar Naruto menjauh. Debunya banyak sekali. Yang ada Naruto bisa ikut terbatuk-batuk.
Duk.
Punggung Sakura sukses menabrak pintu rak dan membuat bola-bola basket berjatuhan.
"Sakura!" pekik Naruto sambil menarik gadis itu ke pelukannya. Naruto terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak pintu dan membuat pintu itu tertutup. Begitu suara berisik bola-bola yang berjatuhan itu tak terdengar, keduanya membuka mata.
Sakura langsung blushing saat menyadari lengan suaminya itu masih memegangi kepalanya seolah Sakura masih terancam kejatuhan bola. Keduanya bertatapan sesaat. Wajah keduanya merona merah padam, dan saat Sakura mencoba bergerak mundur, Naruto malah menarik lengannya mendekat pada dekapannya. Jarak keduanya sangat dekat sampai-sampai Sakura dapat merasakan napas pemuda itu menerpa wajahnya.
Naruto menyandarkan punggungnya di dinding di sisi pintu yang tertutup sementara kedua lutut sisi dalamnya menekan pinggang Sakura agar gadis itu tak kabur dari pelukannya.
"Na-Naruto…"
"Katakan apa yang sebenarnya kau sembunyikan…"
Sakura tersentak sesaat. Ia merenung sesaat dan akhirnya menyandarkan dahinya di kening pemuda itu. Sakura memejamkan matanya. "Shion tahu soal kesamaan cincin kita. Aku t-takut kalau ia akan membuat berita yang tidak-tidak." pisiknya pelan.
Naruto tersenyum perlahan, "Dasar. Biarkan saja dia!"
"Naruto!" omel Sakura sambil menarik kepalanya menjauh.
Naruto tertawa pelan. Pemuda itu membelai pipi istrinya dengan lembut. "Nanti kita pikirkan caranya."
Sakura menunduk sebentar hingga akhirnya ia mengangguk setuju. Naruto tersenyum lebar saat menyadari wajah istrinya bersemu dan membuatnya makin terlihat manis. Pemuda itu dengan lembut menarik leher Sakura mendekat dan mengecup bibir Sakura. Sakura tak protes. Ia malah membalas ciuman Naruto dengan lembut.
Keduanya terus berciuman cukup lama tanpa banyak bicara. Pelukan Naruto di pinggang Sakura juga makin erat. Naruto yang merasa senang mencoba untuk menurunkan ciumannya ke leher jenjang istrinya itu. Sesekali ia mencoba meninggalkan bekas di permukaan kulit leher Sakura.
Sakura hanya bisa mendesah. "H-Hentikan Naruto…"
"Tapi kelihatannya kau nggak ingin aku berhenti." bisiknya lagi.
Sakura hanya bisa menurut saat Naruto menyuruhnya diam, hingga akhirnya keduanya mendengar panggilan Ino dari gedung olahraga. "Sakura….!"
Sakura langsung membatu sesaat. Ia mencoba melepaskan diri dari Naruto meski gagal. Ia mencoba memperingatkan pemuda pirang itu. "Naruto, a-ada Ino."
"Sst…" perintah Naruto lagi. "Jangan bersuara."
Sakura hanya mengangguk pasrah saat pelukan Naruto di tubuhnya makin erat. Bahkan tangan jahil Naruto mulai melonggarkan dasi kemeja seragam Sakura untuk memberinya akses lebih luas.
Naruto tersenyum lebar saat ia merasakan cengkeraman tangan Sakura di bahunya makin kuat karena Sakura yang mati-matian menahan suara desahannya agar tak terdengar Ino di luar.
"Tuh kan Shika! Sakura sudah tak ada, lihat, pintunya tertutup rapat!"
Terdengar suara Shikamaru mendengus, "Kalau begitu di mana Naruto?"
"Ya mana aku tahu! Mungkin mereka sedang di suatu tempat untuk diskusi masalah tadi," jawab Ino, "Kita harus ke café sekarang. Temari menunggu kita!"
Pasangan satunya itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan gedung olahraga tanpa tahu bahwa kedua teman mereka masih ada di dalam gudang bola basket. Sedang 'berbicara' masalah mereka masing-masing.
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"Hei Temari!" sapa Ino dari kejauhan.
Temari hanya tersenyum tipis. Kesal karena dua temannya itu terlambat dan mengakibatkan ia harus menunggu setengah jam duduk di café berhadapan dengan si kakak 'melambai' yang mengacuhkannya sedari tadi.
Shikamaru memegang keningnya lalu menahan lengan Ino yang terlihat riang sebelum keduanya masuk ke pintu café bagian dalam.
"Kenapa Shika?"
"Kau… Kau nggak berniat mendekatkan Temari dengan kakakmu kan?" tanya Shikamaru curiga.
"Lho, memangnya kenapa?"
"Kenapa? Apa maksudmu Ino! Kau tahu Temari itu siapa kan?"
"Iya aku tahu dia mantanmu. Lalu apa masalahnya? Mereka terlihat cocok meski tingkahnya seperti Sakura dan Naruto."
"Aku nggak mau membantumu di rencana ini." Shikamaru terlihat kesal. Membuat Ino menatapnya tak percaya. Ino lalu memalingkan mukanya.
"Jadi kau nggak rela Temari dengan kakakku. Kau masih punya perasaan pada mantanmu itu?"
"Apa maksudmu bicara seperti itu?"
"Kau sendiri apa maksudmu dengan nggak setuju?" balas Ino.
Shikamaru menggelengkan kepalanya kesal lalu berbalik pergi dari café. Meninggalkan Ino yang menatapanya nanar. "Shikamaru bodoh!" rutuknya. Gadis itu mengucek matanya yang mulai berair lalu memasang senyum palsunya dan bergegas menghampiri kakaknya dan Temari.
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Hinata menimang-nimang kartu nama di tangannya. Ia mencoba mengingat-ingat percakapannya saat di bis kemarin dengan pemuda paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Gadis bermata lavender itu mendesah pelan lalu berbaring di ranjangnya yang luas.
Hinata mencoba memejamkan matanya. Namun suara Sasuke masih terngiang di kepalanya.
'Kalau kau mau membantuku, kita akan membicarakan rencana soal Naruto dan Sakura.'
Hinata membuka matanya lagi. Kali ini ia tak yakin. Ia memang sangat menyukai Naruto. Tapi ini adalah cara yang jahat. Mencoba memisahkan Naruto dari gadis yang memang telah Naruto pilih. Tapi…
Hinata meraih handphone-nya dari atas laci lalu mulai memencet nomor telepon yang tertera di atas kartu nama yang dipegangnya.
"H-halo? Uchiha-san?"
TBC
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
At the backstage
NIGHT : Punggungku encooook…
NARUTO : Kenapa adegannya tadi nggak dilanjutin?
SAKURA : *blushing*
SHION: Jadi aku sejahat ini ya?
NIGHT : Hahahahaha
INO : Um… kenapa kali ini giliran aku yang bertengkar?
NIGHT : Ya masa nggak ada konfliknya… tenang, konfliknya mulai sekarang singkat. Kalau menurut perhitungan night, ntar bis ni ShikaIno, Hinata vs/feat Sasuke, trus langsung ke konflik puncak NS/SI, dan tamaaaat… sabar ya!
SHIKAMARU : Jadi chapter depan ya? Chapter ni… troublesome
NIGHT : Yup. Memang sesuai judulnya, chapter ini penuh dengan 'trouble'.. Oke anak-anak, waktunya…
ALL CHARA : REVIEW ya…!
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Yeah, chapter 10 : Everything's get trouble selesai. Yah… I know it shorter than usual. Just please… maklumi kondisi night yang gak bisa ngetik lama-lama. Maka panjang chapternya kubikin lebih singkat, nggak bertele-tele, tapi tetap kukasih konflik.
Night tahu chapter ini condong NaruSaku. Yah, cz chapter kemarin isinya konflik Ino ma Temari kan? Jadi sekarang giliran Shion. Itu pun cepat selesai n tinggal sedikit penyelesaian. Soal adegan semi-M? chapter depan coba kupikirin untuk bagian ShikaIno-nya deh… jangan ngamuk ya! Adegan Narusaku itu gak sampek 'lanjut'. Maklum, meski suami-istri, mereka masih di sekolahan lho…
Well, chapter depan juga ada peran Hinata masuk nih…
Oke! Thanks bgt yang udah baca, semua kekurangan atau protes bisa disampaikan lewat ripiu. Merasa ada yang familiar dengan scene Miss Anko? Saat fic ini tamat nanti akan night tulis semua 'pihak yang membantu' di credits.
Cek juga ya Mademoiselle Sakura, Catch You Catch Me, and 2 fic collaboration between me and Elven lady18. Nama akunnya Elf from the Night's Clan, berjudul Stupid Genius (inspired by 3 idiots Movie) *coming soon* ma King Player (inspired by City Hunter the Movie) *already published*… keduanya humor romance…
****SELAMAT MERAYAKAN IDUL FITRI BAGI YANG MUSLIM****
**MINAL AIDIN WAL FAIDZIN MOHON MAAF LAHIR BATIN**
Oke, THANKS FOR READING… night mohon…
.
R E V I E W
I
I
V
