WARNING!
IT'S CHENMIN/XIUCHEN! SLIGHT CHANBAEK, HUNHAN, XINGDAE/LAYCHEN! BOYxBOY! HOMOPHOBIC MENJAUH, GAK USAH DEKET DEKET SANA HUSH HUSH!
RATE SUATU SAAT BISA NAIK JIKA AUTHOR SEDANG MOOD :v
ALUR GAJE, CERITA PASARAN, BAHASANYA JUGA ACAK KADUT, NO JUDGE PLEASE :))
SELAMAT MEMBACA
.
Di kantin, istirahat pertama,
"Ugh, Yeol, hiks.." Minseok menubrukkan tubuhnya dan langsung menangis di pelukan Chanyeol. Kali ini, tak ada tatapan membunuh dari orang-orang, karena mereka tau, Minseok dan Chanyeol sudah seperti adik-kakak.
"Minseok? Kau kenapa? Bukankah kau seharusnya di UKS? Mana Luhan?" Chanyeol menghujani nya pertanyaan. Tapi dia menghentikannya ketika melihat Minseok menangis kencang di dadanya. "Yak Seokkie, kau kenapa?!" Dia panik ketika tangisan Minseok makin kencang.
Chanyeol langsung menelepon Luhan dan memintanya datang ke kantin. Setelah itu, dia mengelus punggung Minseok perlahan. "Minseok-ah, kau pernah berjanji padaku untuk bercerita tentang apapun kan?" Ujarnya. Tak mendapat respon apapun, Chanyeol mendekat dan berbisik,
"Kau mau melihat Xiu-hyung khawatir padamu? Kau berjanji di hadapannya untuk selalu bahagia kan?"
"Appo, Yeol.." Minseok akhirnya buka suara. "Apa yang sakit?" Tanya Chanyeol. Minseok menatap Chanyeol dan menaruh tangannya di dada. "Kenapa bisa?" Chanyeol bertanya lagi. Minseok menggeleng. "Mungkin kebanyakan menangis, hehe.." Dia nyengir setelahnya.
"Berhenti menangis, atau kau akan bertemu Xiu-hyung lebih cepat." Chanyeol kembali memeluk Minseok. "Aku sih, berharap nya begitu."
Buk!
"Aduduh," Minseok meringis ketika ada tangan yang memukul kepalanya. Itu Luhan. "Jangan berkata yang aneh-aneh, kau membuatku hampir mati ketika teman Baekhyun bilang padaku kau pingsan." Ujarnya.
"Hehehe, bercanda kok," Minseok tertawa dan mendapat gelengan maklum dari dua sahabatnya.
Di sisi kantin yang lain,
"Astaga.. apa yang aku katakan tadi? Bodoh, kau bodoh Kim Jongdae!" Jongdae bermonolog ria sambil mengacak rambutnya frustasi, dia menatap Minseok yang menangis meraung-raung di pelukan Chanyeol.
Dia ingat sekali, tadi setelah dia mengatakan itu, Minseok menatapnya dengan sendu. Kemudian dia berlari ke kantin, Jongdae memang menyusul, tapi dia mengurungkan niatnya ketika melihat Minseok sudah punya tempat sandaran pas.
Dia mendesah lelah. Kenapa semuanya jadi serumit ini? Padahal awalnya hanya masalah sepele, dia tak ingin ada yang melukai Minseok. Tapi jawaban Minseok membuat semuanya rumit, Minseok malah menginginkan semua kembali dari awal, tanpa harus ada yang terluka lagi. Tapi nyatanya, Minseok sendiri yang terluka sekarang.
"Okay Han Minseok, aku akan mengikuti alur permainan mu," kata Jongdae akhirnya.
.
.
Berenang! Itu yang Minseok suka, setelah Jongdae tentunya. "Minseok, jangan banyak bergerak." Seru Baekhyun. Tadi dia dapat amanat dari Luhan begini, "Baekhyun-ah, aku titip Minseok. Jaga dia baik-baik, jangan sampai siapapun menyakiti dia, termasuk adik sialanmu itu, dan jangan biarkan dia banyak bergerak atau kecapaian, arraseo?"
"Berenang, berenang!" Minseok lompat-lompat tidak jelas. "Astaga," Baekhyun menepuk jidatnya.
"Kyaaa! Jongdae!!"
Minseok dan Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah teriakan. Muka Minseok memerah seketika. Dia baru sadar, ini pertama kali berenang di SMA! Dan dia juga lupa kalau berenang, semua anak lelaki pasti topless, Jongdae juga! Siaaal!
"Jangan ditatap intens begitu, kau seperti kekurangan roti sobeknya Jongdae." Baekhyun menggoda Minseok. "Ish apaan sih," Minseok manyun. Dia kembali menatap Jongdae yang begitu bersinar. Minseok memukul bahu Baekhyun pelan. "Apa?" Tanya Baekhyun.
"Adik sialanmu itu tampan." Ungkap Minseok. Baekhyun melongo, dia tak mau komentar apapun dan membiarkan Minseok menatap Jongdae dalam jangka waktu yang lama.
.
.
"Hati-hati di jalan, Jongdae!"
"Iya." Jongdae melambaikan tangannya pada para fans–yang baru dia dapat hari ini karena dia topless–yang menunggu di depan kelas.
"Jongdae," Seseorang menginterupsi.
"Ups," Jongdae reflek memundurkan tubuhnya, jika tidak, bisa-bisa dia menubruk orang yang lebih pendek beberapa cm darinya ini. "Ah, Minseok? Ada apa?" Tanya-nya. "Aku ingin bicara padamu empat mata,"
"Arraseo. Cepat ya," Jongdae mengikuti Minseok ke taman sekolah yang cukup sepi sekarang karena muridnya sudah pulang. "Cepat katakan apa yang mau kau katakan, Minseok-ssi.."
Minseok meremas dadanya karena embel-embel 'ssi' tadi. "Aku membencimu."
"Tak ada yang memintamu untuk menyukai ku, itu terserah padamu.." Jongdae membalas. "Dibanding itu, aku lebih benci diriku sendiri." Kali ini Jongdae tak membalas, dia memutuskan mendengarkan.
"Aku benci diriku yang bisa-bisanya menyukai kau! Orang sialan yang pernah datang ke hidupku!" Teriak Minseok. Jongdae membulatkan matanya. "Dan aku benci pada diriku karena tak bisa melupakan mu padahal kita baru kenal kurang lebih seminggu, itu konyol Jongdae, perasaan ku padamu sangat konyol!" Minseok mulai menangis.
Jongdae akhirnya mendapat jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan kemarin. Minseok menyukainya, sangat. Tapi Jongdae memutuskan ikut dalam alur permainan yang dibuat oleh Minseok. "Kalau kau merasa itu konyol, maka hentikan. Kuminta kau berhenti sekarang."
Minseok menatap Jongdae tak percaya. "Aku sama sekali tidak menaruh perasaan apapun padamu, jadi kusaran kan kau menyerah, banyak namja lain yang bisa kau sukai dibanding namja brengsek sepertiku." Lanjut Jongdae. "Brengsek, katamu? Kau tidak brengsek, tapi lebih dari brengsek!!" Teriak Minseok.
"Kau tidak mengerti bagaimana rasanya mencintai orang yang tak bisa dimiliki!"
'Aku mengerti.'
"Kau tak mengerti bagaimana rasanya kau lebih memilih mengorbankan dirimu demi seseorang dibanding pergi menjauh darinya!"
'Aku lebih mengerti,'
"Kadang aku bingung, apa aku harus menyerah? Atau tetap bertahan dengan kondisi seperti ini?"
'Tidak Minseok, jangan menyerah. Bertahanlah,'
"Tapi sepertinya kau tidak nyaman jika aku ada di sekitarmu, dan kurasa aku akan menghapus semua rasa ini, selamat, Jongdae, kau akan terbebas dari Han Minseok.." Minseok tersenyum getir dan pergi meninggalkan Jongdae yang masih mematung di Taman Sekolah.
"Ah, kenapa ini sakit? Padahal tidak berdarah.." ungkap Jongdae sambil memegang dadanya.
.
.
"Ugh, huhuhu.. hiks, Jongdae brengsek, namja sialan, hiks.." Minseok terus meracau kalau Jongdae itu brengsek, sialan, apalah itu.
Cklek
"Aigoo.. jangan begitu sayang.. ayo kita makan malam dulu, setelah itu kau boleh menangis lagi," Minra datang dan memeluk Minseok. "Hiks.. eomma.. Jong-uh, dia brengsek!" Seru Minseok. Minra tersenyum. "Brengsek juga kau menyukainya kan?"
Minseok mengangguk sambil terus menangis.
Di ruang tamu Keluarga Han,
"Apa yang terjadi?" Tanya Chanyeol. "Tadi sepertinya Minseok menyatakan perasaannya," jawab Luhan.
"HAH?" Chanyeol melongo. "Tidak menyatakan juga sih, apa ya? Mungkin dia lelah dijauhi Jongdae akhir-akhir ini," jelas Luhan. Karena tadi dia menguping pembicaraan antara Minseok dan Jongdae. "Lalu? Jongdae berkata apa?" Tanya Chanyeol lagi.
"Dia hanya diam, tapi sebelumnya, dia mengatakan kalau Minseok tidak usah menyukai namja brengsek seperti dia." Luhan membuka salah satu toples dan memakan kue didalamnya. Chanyeol masih melongo.
"Apa Jongdae bilang pada Minseok kalau dia menyukai Minseok?"
Luhan yang awalnya mengunyah, diam. "Tidak, kurasa. Dia malah mengatakan kalau dia tak punya perasaan apapun pada Minseok, dan menyuruh Minseok menyerah."
Brak!
"Ohok!" Kalau biasanya Chanyeol yang tersedak, kali ini giliran Luhan. Dia kaget karena sahabatnya itu menggebrak meja tak berdosa. "Apa-apaan si Kim Jong Dae sialan itu!" Umpat Chanyeol. "Kenapa, sih?" Tanya Luhan bingung.
"Ingat waktu kita meringkus Yixing?" Luhan mengangguk. "Kau tidak dengar percakapan mereka di dalam toilet?" Kali ini Luhan menggeleng.
"Jongdae menyukai Minseok! Dia yang mengatakan itu pada Yixing dan membuat Yixing emosi!"
"Tidak Yeol," Luhan menggeleng. "Mungkin Jongdae berkata begitu agar Yixing berhenti mengganggu Minseok dan dia bisa kabur dari Yixing.." lanjutnya.
"Jadi? Itu fake?" Tanya Chanyeol. "Entahlah.. tak ada satupun dari kita yang mengerti Jongdae, dia namja menyebalkan yang tak pernah bisa diketahui isi hatinya,"
"Aish, merepotkan sekali. Awas saja jika dia mendekati Minseok, akan kuhajar habis-habisan!" Ancam Chanyeol. "Baekhyun akan membencimu."
"Heh, abaikan Baekhyun, kebahagiaan Minseok lebih penting dari apapun untuk sekarang." Chanyeol menginterupsi. "Ya, aku setuju untuk yang itu, tapi untuk urusan menghajar Jongdae, lebih baik tidak, Minseok bisa menghajar mu balik." Luhan tertawa pelan.
.
.
Dirumah keluarga Kim,
Plak!
"Aduduh," Jongdae meringis. "Kau menyuruhnya menyerah? Astaga Dae-ya, kenapa aku harus punya adik sebodoh dirimu?" Baekhyun mengacak rambutnya frustasi. "Kan sudah kubilang, aku tak menyukainya." Jawab Jongdae.
"Kau menyukainya!"
"Tidak."
"Iya!"
"Tidak, Hyung."
"Jongdae, iya!"
"Aku tak menyukainya."
"Kim Jong Dae!!"
"Aku menyerah. Ya! Aku menyukainya!"
.
.
oke gaes, ngerti kan? Jongdae 100% labil, dia gatau perasaan dia kek gmn. jadinya gitu deh.
lanjut kagak?'0')? ini numpuk di notes jadi bulukan wkwk
