Unforget Memories
by Razux
Sequel of "A Piece of memories" by Yuuto Tamano
.
.
.
DISCLAIMER : GAKUEN ALICE BELONG TO HIGUCHI TACHIBANA
Ruka Pov
"Dari mana kau mendapatkan foto Natsume dan Mikan itu, Hotaru?" tanyaku sambil menatap Hotaru yang duduk di sampingku.
"Lihat ke depan saat mengemudi, Ruka. Aku tidak mau mengalami kecelakaan lalu lintas."
"Oh! Maaf." Ujarku dan kembali menolehkan wajahku ke depan.
Kami berdua berada di dalam mobilku yang sedang melaju menuju mansion Hyuga sekarang. Kami telah yakin sekarang, Natsume Yukihira adalah Natsume Hyuga dan alasan kenapa dia tidak mengenal kami adalah karena dia kehilangan memorinya.
Ya. kecelakaan yang dialaminya dua tahun yang lalu telah membuatnya kehilangan semua memori akan enam belas tahun hidupnya sebagai Natsume Hyuga.
"Ku kira kedua orang tuanya telah melenyapkan semua barang milik Natsume dua tahun yang lalu kecuali ranjang king size itu."
"Itu milikku." Balas Hotaru singkat.
"Milikmu?" tanyaku terkejut sambil menatapnya.
"Lihat ke depan, Ruka atau aku tidak akan pernah naik mobilmu lagi."
Mendengar ucapannya, aku segera membalikkan wajahku ke depan.
"Aku memiliki caraku tersendiri untuk mendapatkannya." Lanjutnya tenang.
Memiliki caranya tersendiri? Jangan-jangan dia juga menjual foto-foto Natsume dan Mikan seperti dia menjual foto-fotoku selama ini.
Tidak salah lagi, pasti begitu. Mikan dan Natsume sangat populer, Hotaru pasti tidak mungkin membiarkan kedua mesin pencetak uang itu begitu saja. Aku menghela napas, kenapa aku memilih gadis seaneh dia menjadi kekasihku? Adakah yang bisa menjawab pertanyaanku ini? Jawabnya adalah tidak ada.
"Hotaru, kenapa kau begitu cepat yakin bahwa dia adalah Natsume? Ku pikir kau akan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk membuat keputusan bahwa dia adalah Natsume atau bukan?"
"Karena dia bereaksi terhadap nama Mikan," jawab Hotaru pelan "Dia ingat nama Mikan dan juga matanya saat menatap foto Mikan telah menjawab siapa dirinya sebenarnya. Apakah menurutmu, dia yang rela mencari Mikan meski tidak tahu siapa Mikan itu sebenarnya selama satu minggu dari pagi sampai malam tanpa mempedulikan apapun itu bukan lah Natsume Hyuga? Bukan lah Natsume Hyuga yang rela membuang nyawanya sendiri demi menyelamatkan nyawa Mikan dua tahun yang lalu?"
Aku hanya diam mendengar pertanyaan Hotaru itu.
"Dia telah kehilangan semua memorinya, dia sama sekali tidak ingat siapa dirinya sebenarnya. Namun, dia tidak pernah melupakan Mikan, dia masih mengingatnya di dalam memorinya. Aku sama sekali tidak meragukan siapa dirinya, tidak salah lagi dia adalah Natsume Hyuga, cintanya pada Mikanlah yang telah membuktikan padaku."
Aku sama sekali tidak bisa mengucapkan apapun saat mendengar ucapan Hotaru. Apa yang dikatakan Hotaru benar. Cintanya pada Mikan telah menjawab siapa dirinya sebenarnya, cintanya yang begitu dalam dan tulus telah membuktikan bahwa dia adalah Natsume Hyuga.
"Semua kabut yang menyelimuti masalah ini sudah mulai terbuka. Aku yakin sekali, yang menyebarkan informasi palsu serta membuat bukti-bukti palsu mengenai keberadaan Natsume Yukihira adalah Kaoru-san dan Ioran-jisan. Hanya mereka lah satu-satunya yang bisa melakukan itu. Dengan kekuasaan dan kekuatan mereka, itu sama sekali bukan sesuatu yang sulit. Namun, aku tetap tidak mengerti, mengapa mereka harus melakukan itu?"
Mendengar pertanyaan Hotaru itu, aku hanya bisa berpikir apa yang barusan dikatakannya memang benar, apa alasan Kaoru-san dan Ioran-jisan melakukan ini semua? Mengapa mereka merahasiakan ini dari Mikan? Untuk memisahkan mereka? Mungkin. Tapi, mereka juga bisa melihat betapa sedih dan menderitanya Mikan saat mengetahui Natsume telah tiada. Kesedihan dan penderitaanya itu benar-benar menyakitkan hati bagi siapapun yang melihatnya. Aku ingat ekspresi kesedihan yang diperlihatkan mereka saat menatap Mikan, Apakah itu hanya sandiwara? Sepertinya juga bukan. Kasih sayang mereka terhadap Natsume, putra mereka satu-satunya dan Mikan tidak mungkin palsu.
"Kita harus merahasiakan apa yang kita ketahui dari Kaoru-san dan Ioran-jisan dulu. Namun, kita harus memberitahu kenyataan ini pada Mikan. Aku sama sekali tidak mau dia menderita seperti itu terus," ujar Hotaru dan tiba-tiba dia menghela napasnya "Kurasa aku harus memikirkan cara untuk menahan dan menyembunyikan kegembiraannya saat dia mengetahui Natsume-senpai masih hidup dari Kaoru-san dan Ioran-jisan."
Aku tertawa mendengar ucapan Hotaru. Aku bisa membayangkan ekspresi wajah Mikan saat dia mengetahui Natsume masih hidup, dia pasti akan tersenyum dan tertawa, dia pasti akan sangat senang dan gembira karena apa yang selalu diharapkannya telah dikabulkan tuhan. Natsume sama sekali belum mati dan sampai kini masih mencarinya meski tidak bisa mengingat siapa dirinya.
Aku sudah tidak sabar untuk segera mencapai mansion Hyuga dan menyampaikan berita baik ini padanya.
Rei POV
Aku membuka pintu rumah dan berjalan masuk ke dalam. Aku melihat sepatu Natsume dan menghela napas, akhirnya dia pulang juga. Aku jarang melihatnya beberapa hari ini, dia menghabisakan semua waktunya untuk mencari Mikan di kota. Dia memang setuju untuk ikut denganku ke amerika, namun aku juga tahu, dia sebenarnya sama sekali tidak mau meninggalkan jepang, dia setuju untuk pergi ke amerika bersamaku karena dia sama sekali tidak mau mengecewakan dan membuatku sedih.
Aku berjalan memasuki ruang tamu dan aku bisa melihat Natsume duduk di atas kursi sofa dengan beberapa album foto di tangannya, dia sama sekali tidak bergerak atau mengucapkan sepatah katapun saat menyadari kehadiranku.
Aku melihat sekelilingku, aku sama sekali tidak melihat Yoichi, sepertinya dia masih belum pulang.
"Akhirnya kau pulang juga. Ku pikir kau telah lupa akan rumahmu." Ujarku dingin sambil berjalan memasuki dapur.
"Rei-nii…." Panggilnya pelan.
"Kemas semua barangmu, Natsume. Kita berangkat ke amerika dua hari lagi, aku sama sekali tidak mau keberangkatan kita tertunda gara-gara kamu." Perintahku tanpa melihatnya.
"REI-NII!" teriaknya tiba-tiba sambil berdiri, dia membuka kacamata yang menutup kedua bola mata merahnya dan menatapku.
Aku sama sekali tidak suka jika ada yang melawan perintahku. Aku membuka mulutku untuk membalas teriakannya. Namun, kata-kataku itu tertahan di kerongkonganku begitu aku melihat matanya.
Mata merahnya saat menatapku sekarang penuh dengan kebingungan dan kesedihan.
"Rei-ni…."
"Ada apa, Natsume?" tanyaku tenang, meski aku mulai merasakan kekhawatiran menyerangku.
Apa yang terjadi padanya? Apakah dia ingin menolak untuk pergi ke amerika bersamaku dan Yoichi? Tidak. Appaun yang terjadi dia harus ikut denganku ke amerika, dia tidak boleh berada di jepang lagi.
"Rei-ni…. Katakan lah padaku, siapa aku sebenarnya?"
Mataku terbelalak karena terkejut begitu mendengar pertanyaannya. Siapa dia sebenarnya? Apakah dia telah ingat siapa dirinya sebenarnya? Apakah memorinya yang hilang itu telah kembali?
"Apa maksud pertanyaanmu itu?" tanyaku tenang.
"JANGAN MEMBOHONGI AKU LAGI, REI-NII. KATAKAN DENGAN JUJUR PADAKU, SIAPA AKU SEBENARNYA? AKU SAMA SEKALI BUKAN NATSUME YUKIHIRA, FOTO-FOTO MASA KECILKU BERSAMAMU, YOICHI, OKA-SAN, OTOU-SAN SERTA FOTO-FOTO MASA KECILKU DI PANTI ASUHAN BERSAMAMU ADALAH REKAYASA KAN? SAMA SEKALI TIDAK ADA ANAK BERNAMA NATSUME YUKIHIRA YANG PERNAH HIDUP DI PANTI ASUHAN ITU?" teriaknya sambil melempar album foto di tangannya ke arahku.
Album foto itu mendarat dan terbuka tepat di depanku, aku bisa melihat foto kami sekeluarga.
"Katakan lah padaku, siapa aku sebenarnya? Katakan lah padaku aku ini sesungguhnya adalah Natsume Yukihira atau Natsume Hyuga?" tanyanya pelan.
Mendengar pertanyaannya itu, seluruh badanku membeku. Dia sudah tahu? Dia sudah tahu siapa dirinya sebenarnya? Mengapa dia bisa tahu? Bagaimana dia bisa tahu?
"Aku tidak mengerti maksudmu, Natsume?" tanyaku tetap tenang.
"Aku sudah tahu siapa itu Mikan, Rei-nii. Aku sudah tahu apa yang sesungguhnya terjadi saat aku meninggalkanya bersamamu seminggu yang lalu, aku juga sudah tahu mengapa aku bisa mengenalnya, aku sudah tahu mengapa aku selalu memimpikannya. Karena itu, jangan membohongiku lagi…"
"Siapa yang mengatakan ini semua padamu?"
"Ruka Nogi dan seorang gadis bernama Hotaru Imai."
Mataku kembali terbelalak mendengar jawaban itu. Ruka Nogi dan Hotaru Imai? Mengapa mereka bisa tahu? Bagaimana mereka bisa tahu? Jika mereka sudah tahu, apakah Mikan juga telah tahu? Apakah Mikan telah tahu bahwa sesungguhnya Natsume masih hidup?
"Apakah ini semua hanya sandiwara Rei-nii? Apakah yang kita lalui selama dua tahu ini hanyalah suatu sandiwara? Apakah kau dan Yoichi sama sekali bukan saudaraku?"
"Kau adalah adikku dan juga kakak dari Yoichi, Natsume." Jawabku cepat-cepat.
"KALAU BEGITU BAGAIMANA KAU MENJELASKAN INI PADAKU?" teriaknya sambil menyerahkan beberapa helai foto yang diambil dari dalam tasnya yang tergeletak di samping kursi sofa dengan penuh kemarahan.
Aku sama sekali tidak bisa mengatakan apapun saat melihat foto itu, foto-foto itu adalah foto masa kecilnya dengan Mikan, foto masa kecil dari Natsume Hyuga dan Mikan Hyuga.
"Apakah Ruka Nogi dan gadis bernama Hotaru Imai itu yang memberikanmu foto-foto ini?"
"Iya. mereka telah menceritakan padaku semuanya. Aku sudah lelah Rei-nii, aku tidak mau kebohongan lagi, katakan lah padaku, siapa sebenarnya aku?"
Mendengar pertanyaannya itu, aku sadar. Natsume masih bimbang, dia masih ragu akan siapa dirinya sebenarnya, memorinya sama sekali belum kembali.
Aku bisa, tidak. Aku harus bisa. Apapun yang terjadi aku harus bisa membohonginya lagi, dia tidak boleh tahu siapa dirinya sebenarnya, jika tidak, apa yang kami lakukan selama ini akan sia-sia.
"Aku tidak berbohong padamu, Natsume. Kau adalah adikku dan kakak dari Yoichi. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dikatakan Ruka Nogi dan gadis bernama Hotaru Imai itu padamu. Namun, apakah kau lebih percaya dengan orang yang baru tidak lama kau kenal itu dari pada aku yang merupakan kakakmu?"
Kata-kataku barusan lumayan berefek pada Natsume. Dia tidak mengatakan sepatah katapun lagi begitu mendengar ucapanku barusan.
"Berapa banyak orang yang memusuhimu di sekolah, Natsume? Sudah berapa banyak orang yang berusaha menjatuhkanmu, namun gagal? Aku yakin, apa yang dikatakan mereka berdua padamu hanya lah salah satu trik untuk menjatuhkanmu? Kau baru-baru ini berkelahi dengan teman sekelasmu, bukan? Kau telah melakukan sesuatu terhadap Ruka Nogi itu, bukan?"
"Bagaimana dengan Mikan? Mengapa kau berbohong padaku dengan mengatakan kau sama sekali tidak mengantarnya pulang dan sama sekali tidak tahu tempat tinggalnya? Mengapa mereka bisa mengenalnya? Mengapa mereka bisa memiliki fotoku dan fotonya saat kecil?"
"Aku tidak berbohong padamu, Natsume. Aku sama sekali tidak tahu tempat tinggal gadis itu, aku sama sekali tidak pernah mengantarnya pulang. Kau terus mencari gadis itu, kau bahkan bolos dari sekolah demi mencarinya selama seminggu dari pagi sampai malam. Kau menanyai sambil menjelasakan ciri-ciri gadis itu pada siapapun yang kau temui, tidak kah kau berpikir mereka mengetahuinya? Tidak kah kau berpikir mereka akan memanfaatkan apa yang mereka ketahui itu untuk menjatuhkanmu? Dan foto-foto ini bisa saja hanya rekayasa, dengan kemajuan teknologi sekarang ini, sama sekali tidak sulit untuk membuatnya."
Aku bisa melihat perubahan ekspresi wajah Natsume, aku tahu, kebohongan yang barusan ku buat itu telah berhasil membuatnya ragu akan apa yang dikatakan Ruka Nogi dan Hotaru Imai di dalam pikirannya.
"Jika kau tetap tidak percaya, kita bisa melakukan test DNA. Kita bisa membuktikan siapa yang sesungguhnya berbohong."
Natsume hanya diam dan menundukkan kepalanya ke bawah tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Kau perlu beristirahat, Natsume. Kau sama sekali tidak cukup istirahat akhir-akhir ini. Tidurlah dan tenangkan pikiranmu." Ujarku sambil megangkat tanganku untuk menyentuh pundaknya.
Namun, sebelum tanganku menyentuh pundaknya di telah meloncat ke belakang menghindari tanganku. Dia mengangkat wajahnya dan menatapku, ekspresi wajahnya itu sekarang kelihatan sangat sedih dan penuh kekecewaan.
"Sampai akhirpun kau tetap berusaha untuk membohongiku, Rei-nii. Aku bukan orang bodoh, aku tahu siapa yang sebenarnya berbohong sekarang. Karena itu, selamat tinggal… Selamat tinggal, Rei-nii…" Ujarnya pelan dan berlari keluar dari rumah ini.
"NATSUME!" teriakku mengejarnya.
Tsubasa POV
Aku menghela napas sambil mengelap keringat yang mengalir turun dari dahiku dengan tangan kananku. Akhirnya berhasil juga. Kenapa aku begini sial hari ini? Mengapa mobilku bisa mongok di jalan dalam kota yang tidak ku kenal ini pada malam-malam begini? Dan mengapa aku harus menghabiskan waktu selama dua jam untuk memperbaiki mobil ini? Oh, iya. Karena sama sekali tidak ada bengkel yang buka lagi pada jam begini.
"Ayo, kita pulang, Tsubasa. Tapi, sebelum itu, belikan aku minuman." Perintah Misaki yang duduk di dalam mobil tiba-tiba.
"Mengapa harus aku?"
"Karena aku adalah wanita dan kau telah membuatku membuang waktuku secara percuma-cuma hanya untuk melihatmu memperbaiki mobilmu ini, bodoh."
Aku hanya bisa kembali menghela napas dan berjalan mencari minimarket yang masih buka untuk membeli minuman sesuai perintah Misaki. Aku tahu, tidak ada gunanya aku melawannya, aku tidak mungkin dapat mengalahkannya, julukannnya sebagai "Penakluk laki-laki" itu memang pantas didapatkannya, sebab aku yang dulunya seorang bodyguard profesional sama sekali tidak berkutik di hadapannya.
Ya. Dulu.
Aku dulu adalah seorang bodyguard professional. Namun, sekarang aku hanyalah seorang pengangguran. Aku telah mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai seorang bodyguard satu setengah tahun yang lalu, karena aku telah gagal.
Tugas utama dari seorang bodyguard adalah menjaga dan melindungi seseorang walaupun harus mempertaruhkan nyawanya dan aku telah gagal menjalankan tugas itu.
Aku telah gagal menjaga dan melindungi nona yang seharusnya ku lindungi. Parahnya, kegagalanku itu telah melahirkan sebuah tragedi yang sangat tragis dan menyedihkan.
Tidak ada yang menyalahkanku akan tragedi itu. Tuan besar dan Nyonya sama sekali tidak menyalahkanku, mereka tetap mempertahankan dan memperkerjakanku. Namun, tiap kali aku melihat nona yang seharusnya ku lindungi itu menangis, bersedih, putus asa dan hancur dari hari ke hari, aku merasakan hatiku sangat sakit, tersiksa dan juga bersalah.
Jika saja waktu itu aku menjalankan tugasku dengan baik, jika saja waktu itu aku tidak gagal dalam menjalankan tugasku, maka tragedi itu tidak akan pernah terjadi, tidak akan ada yang mati.
Aku berjalan menyusuri jalan yang sangat sepi dan saat aku hampir tiba di tikungan ujung jalan, tiba-tiba seorang pemuda muncul dan menabrakku.
"Hei!" teriakku.
Pemuda itu sama sekali tidak mempedulikan teriakanku, dia segera berlari dan bersembunyi di balik semak-semak di samping jalan. Aku sama sekali tidak bisa melihat wajah pemuda itu karena cahaya bulan yang tertutup oleh awan membuat sekelilingku sangat gelap.
"Aku akan membunuhmu jika kau beritahu aku bersembunyi di sini." Ujar pemuda itu dingin.
Aku hanya bisa terbengong mendengar ancaman pemuda itu. Namun, tidak tahu mengapa suaranya sama sekali tidak terasa asing bagiku, sepertinya aku pernah mendengar suara ini. Tapi, di mana?
"Kau…." Balasku. Namun, sebelum aku menyelesaikan kalimatku itu aku mendengar suara teriakan seorang pria.
"NATSUME!"
Aku segera membalikkan wajahku menatap sumber suara teriakkan itu begitu mendengar nama itu. Aku sangat terkejut mendengar nama itu, sebab aku sama sekali tidak menyangka akan mendengar nama itu di sini.
Natsume. Nama dari orang yang telah mengambil ahli tugasku, nama dari orang yang telah mati karena melindungi nona yang seharusnya ku lindungi, nama dari orang yang mati karena kegagalanku menjalankan tugas.
Aku melihat seorang pria berusia sekitar dua puluh lima tahun muncul dari tikungan jalan itu.
"Apakah kau melihat seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun dengan rambut berwarna hitam?" tanya pria itu.
"Dia berlari memasuki jalan itu sekitar semenit yang lalu." Jawabku sambil menunjukkan jalan lain di sampingku.
"Terima kasih." Ujar Pria itu dan berlari memasuki jalan yang ku tunjukkan tadi.
"Dia sudah pergi, keluar lah," Ujarku pelan begitu melihat pria itu telah menghilang dari pandangan mataku "Sekarang kau bisa memberitahuku alasan kenapa pria itu mengejarmu. Apakah kalian berkelahi? Atau karena kau mencuri sesuatu?"
Pemuda itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, dia berjalan keluar dari semak-semak tempatnya bersembunyi dengan pelan.
Awan yang menutup bulan di atas langit terbuka, cahaya bulan menyinari sekelilingku sehingga aku bisa melihat wajah pemuda itu dengan jelas.
Mataku terbelalak tidak percaya dengan apa yang ku lihat, jantungku bagaikan berhenti berdetak untuk sesaat saat melihat wajah pemuda itu. Aku kenal wajah itu, aku tidak mungkin melupakan wajah itu, aku tidak mungkin melupakan sepasang mata berwarna merah yang kini menatapku dengan tajam itu.
"Tuan muda Hyuga…."
Kaoru POV
Aku mengangkat tanganku mengelus rambut Mikan yang sedang tertidur di atas ranjang king size dalam kamar Natsume dari sampingnya, aku bisa melihat air matanya yang terus mengalir menuruni pipinya, bahkan dalam tidurpun dia terus menangis.
Asmanya kambuh lagi. Akhir-akhir ini asmanya sering kambuh dan itu membuatku semakin khawatir dengan kondisi kesehatannya yang dari hari ke hari semakin melemah.
Aku sangat terkejut saat melihat Kaname menggendongnya yang tidak sadarkan diri memasuki mansion ini dengan wajah pucat pasi.
Kaname telah menceritakan padaku apa yang terjadi padanya, dia mengatakan Mikan tiba-tiba menangis dan terus memohon kepada tuhan untuk membiarkannya kembali ke masa lalu, memohon pada tuhan untuk mengijinkannya megubah masa lalu saat melihat seorang anak laki-laki menolong adik perempuannya yang diganggu anak nakal sampai akhirnya dia pingsan karena asmanya kambuh.
Hatiku sangat sedih dan sakit saat mendengar cerita Kaname itu, karena aku tahu, Mikan pasti melihat bayangan diri Natsume dan dirinya saat kecil dari kedua kakak beradik itu, melihat masa kecil di mana dia jatuh cinta padanya, melihat masa di mana takdir yang menyedihkan ini mulai berputar.
Doa untuk kembali ke masa lalu, doa untuk mengubah masa kecilnya, itu adalah doa yang dipanjatkannya supaya Natsume tetap hidup, supaya Natsume tetap berada di sampingnya. Aku juga tahu, dia menyalahkan dirinya, dia menyalahkan cintanya kepada Natsume yang menurutnya telah menyebabkan kematian.
Doa untuk kembali ke masa lalu, doa untuk mengubah masa lalu. Sudah berapa kali aku berdoa akan hal itu. Jika saja aku bisa kembali ke masa lalu, aku ingin mengubah dan menghentikan cinta Natsume dan Mikan yang mulai tumbuh. Namun, yang paling penting adalah jika aku bisa mengubah masa lalu, maka aku ingin mengubah masa lalu yang tragis, menyedihkan dan terkutuk itu, karena dengan begitu, masa sekarang tidak akan seperti ini, masa sekarang tidak akan menyedihkan seperti ini dan aku juga tidak akan pernah…..
Tidak. Masa lalu yang terjadi tidak akan bisa diubah lagi. Tidak ada gunanya aku berpikir seperti itu, masa lalu yang terjadi telah terjadi.
Aku menatap Mikan dan menghapus air matanya. Ku pikir jika bersama Kaname, Mikan akan bisa melupakan Natsume, melupakan cintanya pada Natsume dan memulai lembaran baru hidupnya. Namun, aku salah, dia tidak akan mungkin bisa melupakan Natsume, keberadaan Natsume di dalam hatinya tidak mungkin dapat digantikan oleh siapapun, begitu juga dengan Natsume, keberadaan Mikan di hatinya juga tidak tergantikan, meski kehilangan ingatan, meski tidak mengingat dirinya sendiri dan Mikan, dia tetap mencintai Mikan, mencintainya dan terus mencintainya.
Kenapa takdir begitu kejam terhadap mereka berdua? Mengapa takdir mempermainkan mereka berdua? Mereka berdua sama sekali tidak berdosa, mereka berdua sama sekali tidak tahu apa-apa, mereka berdua hanya saling mencintai. Aku bisa melihat dengan mataku sendiri betapa dalam dan tulusnya cinta mereka berdua, karena itu, mengapa cinta mereka harus berubah menjadi sebuah kesalahan? Menjadi suatu kesalahan karena kesalahan dari masa lalu yang menyedihkan, tragis dan terkutuk itu?
Lamunanku itu tiba-tiba terhenti begitu aku mendengar ponselku berbunyi. Aku segera berjalan keluar dari kamar itu meninggalkan Mikan menuju kamarku karena aku tahu yang meneleponku adalah Rei dari nada deringnya.
"Ada apa, Rei?" tanyaku saat berada di dalam kamarku.
"Natsume sudah tahu Kaoru-san. Natsume sudah tahu siapa dirinya sebenarnya."
Aku merasakan seluruh badanku membeku saat mendengar ucapan Rei itu. Natsume sudah tahu? Bagaiman dia bisa tahu? Apakah ingatannya itu sudah kembali? Apakah dia sudah ingat semuanya?
"Ba…. Bagaimana dia bisa tahu? Apakah i.. Ingatanya sudah kembali?" tanyaku dengan suara gemetar.
"Ruka Nogi dan Hotaru Imai telah mengetahui kenyataan sebenarnya, mereka lah yang menceritakan semuanya pada Natsume. Ingatan Natsume memang belum kembali, namun dia sudah tidak mempercayaiku lagi."
Ruka dan Hotaru? Bagaimana mereka bisa tahu? Bagaimana mereka bisa menemukan kenyataan yang kami simpan dengan rapat ini?
"Mikan masih belum tahu bukan? Mikan masih belum tahu Natsume sesungguhnya masih hidup bukan?" tanya Rei dari balik ponselku.
"Belum. Mikan masih belum mengetahuinya. Sudah dua hari Ruka dan Hotaru tidak datang ke mansion ini, kurasa mereka masih belum sempat mengatakan kenyataan itu pada Mikan." Jawabku cepat.
Ya. Mikan pasti masih belum mengetahuinya. Jika Mikan mengetahui Natsume masih hidup dia pasti tidak akan menangis dan mengurung dirinya di kamar itu lagi, dia pasti akan segera mencari Natsume tidak peduli apapun yang terjadi.
"Bagus lah kalau begitu. Mereka berdua pasti berencana memberitahu Mikan akan kenyataan ini, karena itu apapun yang terjadi jangan biarkan mereka memberitahunya, apapun yang terjadi jangan biarkan Mikan tahu bahwa Natsume sesungguhnya masih hidup."
o00o
Ruka dan Hotaru sangat terkejut saat melihatku berdiri di depan pintu saat mereka masuk ke dalam mansion ini.
"Selamat malam, Kaoru-san." Salam Ruka sambil tersenyum.
"Selamat malam, Kaoru-san. Apakah Mikan masih tidur?" tanya Hotaru dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ruka, Hotaru, ikut lah denganku, ada yang ingin ku bicarakan bersama kalian." Ujarku.
"Bisa kah kau mengijinkan kami bertemu Mikan dulu, Kaoru-san. Aku sudah lama tidak melihatnya?" tanya Ruka sambil tersenyum .
"Tidak. Ikutlah denganku. Ada yang ingin ku bicarakan bersama kalian mengenai kenyataan yang telah kalian ketahui itu."
Aku bisa melihat ekspresi terkejut dari wajah Ruka dan Hotaru, mereka pasti tidak menyangka aku mengatahui mereka telah menyadari kenyataan bahwa sesungguhnya Natsume masih hidup.
"Baiklah." Jawab Hotaru singkat.
Aku menangguk kepalaku dan menuntun mereka ke dalam ruang kerja Ioran dan mempersilakan mereka duduk di atas kursi di dalam ruangan itu.
"Bagaimana kalian bisa mengetahuinya?" tanyaku sambil menatap mereka berdua.
Aku hanya diam mendengar Hotaru menceritakan bagaimana mereka bisa mengetahui Natsume sesungguhnya masih hidup dan kini bernama Natsume Yukihira. Aku sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku saat mengetahui apa yang telah dilakukan Ruka untuk membuktikan kebenaran itu. Menggali kuburan? Dalam mimpi pun aku tidak pernah membayangkan Ruka bisa melakukan itu. Aku bisa melihat wajah kikuk Ruka saat Hotaru menceritakan kenekatannya menggali kuburan Natsume.
"Karena itulah kami tahu bahwa sesungguhnya Natsume-senpai sama sekali belum mati dan kini bernama Natsume Yukihira." Ujar Hotaru mengakhiri ceritanya.
Aku menatap Ruka dan Hotaru yang duduk di depanku.
"Aku mohon… Aku mohon pada kalian berdua, jangan memberitahu Mikan bahwa sesungguhnya Natsume masih hidup."
"Mengapa, Kaoru-san? Mengapa kalian merahasiakannya dari kami semua? Mengapa kalian merahasiakan itu dari, Mikan? Tidak kah kalian melihat betapa menyedihkan dan hancurnya dia?" tanya Hotaru sambil menatapku dengan tajam.
"Karena itu adalah yang terbaik. Itulah yang terbaik untuk mereka berdua yang bisa kami lakukan."
"Apa maksudmu, Kaoru-san? Kami sama sekali tidak mengerti maksud ucapanmu itu? Kami sama sekali tidak mengerti kenapa kalian melakukan ini semua?" tanya Ruka bingung.
Aku meghela napas panjang. Aku tahu aku harus menceritakan alasan sebenarnya sekarang, aku tidak bisa merahasiakannya lagi dari mereka berdua. Mereka pasti akan memberitahu Mikan jika aku tidak menceritakan alasan sebenarnya mengapa kami merahasiakan bahwa Natsume masih hidup, alasan sebenarnya kami tidak mengijinkan Natsume dan Mikan bersama.
"Akan ku ceritakan semuanya pada kalian berdua….."
Misaki POV
Aku menguap sambil menatap langit malam yang penuh bintang itu dari dalam mobil Tsubasa.
Ke mana sih perginya, Tsubasa? Kenapa dia lama sekali? Apakah dia tersesat? Atau jangan-jangan dia terlibat masalah?
Namun, setelah ku pikir-pikir sepertinya itu tidak mungkin. Dia sama sekali bukan anak kecil lagi, dia sudah berusia dua puluh satu tahun sekarang. Aku telah mengenalnya selama dua tahun, dia sama sekali bukan tipe orang yang mudah tersesat dan suka mencari masalah.
Aku masih ingat pertemuan pertama kami, saat itu Hotaru Imai memintaku untuk mengalih perhatiannya agar Mikan Hyuga bisa melarikan diri dari pengawalannya. Wajahnya saat melihatku waktu itu sangat lucu, dia kelihatan sangat canggung dan malu saat aku mendekatinya.
Aku setuju untuk membantu mereka saat itu karena aku ingin membuktikan daya tarikku dan juga untuk mengisi waktu. Namun, aku sama sekali tidak menyangka apa yang ku lakukan saat itu akan mengakibatkan suatu tragedi. Apa yang ku lakukan waktu itu telah menyebabkan kematian seseorang, kematian dari Natsume Hyuga.
Pertemuan kedua kami adalah pada hari pemakaman Natsume Hyuga. Aku sangat terkejut saat mendengar pidato Mikan Hyuga yang disampaikannya di atas pondium sebelum jatuh pingsan. Aku bisa melihat wajah penuh penyesalan Tsubasa yang menangkap badannnya saat dia pingsan.
Ya. Mikan Hyuga mencintai Natsume Hyuga, dia mencintai kakaknya sendiri, dia mencintai kakaknya yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Setelah kejadian itu, aku mencari Tsubasa. Aku ingin meminta maaf padanya karena jika saja aku tidak menyetujui rencana Hotaru Imai untuk mengalihkan perhatiannya saat itu, semua ini tidak akan terjadi. Namun, dia terlalu baik, dia sama sekali tidak menyalahkanku sedikitpun akan kejadian itu, yang disalahkannya adalah dirinya sendiri. Dia terus mengatakan tidak seharusnya dia gagal menjalankan tugasnya, tidak seharusnya Natsume Hyuga mati.
Aku tidak tahu mengapa, sejak saat itu aku sama sekali tidak bisa melupakannya, aku selalu memikirkannya. Karena itu aku kembali menemuinya di mansion Hyuga tempat dia berkerja sebagai bodyguard, lalu kami menjadi teman dan dari teman kami menjadi sahabat.
Dia sangat bebeda dengan semua laki-laki yang pernah ku temui. Dia sangat baik, perhatian dan selalu ceria. Namun, aku tahu, keceriaannya itu hanyalah topeng. Dibalik keceriannya itu, dia sesungguhnya sangat sedih, menderita dan merasa bersalah. Dia hancur dari dalam walau dia tidak pernah memperlihatkannya, dia sama sekali tidak sanggup untuk menatap Mikan Hyuga yang semakin terpuruk dan melemah dari hari ke hari.
Aku juga sama, aku juga sama sekali tidak tahan melihat kondisi Mikan Hyuga sejak saat itu, melihatnya membuat hatiku sangat sakit karena aku juga ikut berperan dalam tragedi yang menyedihkan itu.
Aku memang tidak mengenal Mikan Hyuga dengan baik. Namun, aku sering melihatnya di sekolah, dia adalah gadis yang sangat populer di sekolah, dia adalah seorang gadis yang lugu, naif, penuh semangat dan ceria. Setiap kali aku melihatnya di sekolah, dia selalu tersenyum ataupun tertawa dengan penuh kebahagiaan. Kini, senyum dan tawanya telah menghilang, keceriaan dan semangatnya telah padam, dia telah berubah, dia telah jatuh ke jurang keputusasaan.
Cinta? Itukah penyebabnya? Cintanya kepada Natsume Hyuga kah yang menyebabkannya menjadi seperi itu? Aku sama sekali tidak mengerti? Sudah berapa kali aku menjalani cinta dengan seorang laki-laki dan putus? Sudah berapa kali aku kehilangan cintaku? Namun, aku sama sekali tidak pernah seperti itu.
Iri? Mungkin. Selain aku merasa kasihan dan bersalah kepadanya, aku juga iri kepadanya. Kenapa dia bisa mencintai seseorang seperti itu? Kenapa dia bisa mencintai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya seperti itu? Dan kenapa ada orang yang mencintainya seperti itu? Mencintainya sampai tidak mempedulikan nyawanya lagi hanya untuk menyelamatkannya. Mengapa aku tidak memiliki cinta seperti itu? Mengapa aku tidak bisa mencintai dan dicintai seseorang seperti itu?
Waktu berlalu, Tsubasa akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dia akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai bodyguard keluarga Hyuga. Suami-istri Hyuga berupaya keras untuk menahannya, mereka tetap berusaha untuk mempekerjakannya. Namun, keputusannya sudah bulat dan suami-istri hyuga pun akhirnya merelakannya mengundurkan diri.
Aku mendukungnya, karena aku juga sama sekali tidak mau melihatnya ikut hancur seperti Mikan Hyuga jika dia terus berada di sampingnya. Ku pikir Tsubasa akan terbebas dari perasaan bersalahnya dan bisa memaafkan dirinya sendiri jika tidak berkerja lagi untuk keluarga Hyuga. Namun, aku salah. Perasaan bersalah itu tetap menghantuinya, perasaan itu sama sekali tidak pernah meninggalkannya, perasaan bersalah itu selalu mengikutinya seperti bayangan. Dia sama sekali tidak berkerja sebagai bodyguard lagi dan dia juga sama sekali tidak bisa bertahan lama dengan perkejaan baru yang didapatkannya. Dia sering berganti perkerjaan, dia telah mencoba perkerjaan dari seoarang seles barang, karyawan kantor bahkan penjaga toko, paling lama dia bertahan dengan perkerjaan barunya itu hanyalah satu minggu, dengan kata lain dia adalah seorang pengangguran sekarang.
Aku terus berada di sampingnya karena aku ingin membantunya, aku ingin dia bangkit lagi, aku ingin membantunya untuk terlepas dari perasaan bersalah yang membelenggunya itu.
"Di sini."
Aku segera menolehkan wajahku ke arah sumber suara itu. Aku melihat dua orang pemuda berjalan mendekati mobil ini dan aku tahu yang berjalan paling depan itu adalah Tsubasa.
"Tsubasa, ke mana saja kau? Mengapa lama sekali?" teriakku sambil membuka pintu mobil dan berjalan mendekatinya.
"Maaf, Misaki…. Aku…" Ujarnya dengan wajah pucat dan penuh kebingungan.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padanya, aku sama sekali tidak pernah melihatnya seperti ini.
"Ada apa denganmu?" tanyaku khawatir.
"Aku… Ini…." Jawabnya terbata-bata.
"Sampai kapan kau mau membuatku berdiri di sini?" ujar pemuda yang berdiri di belakangnya.
Aku segera menolehkan kepalaku menatap pemuda di belakang Tsubasa itu.
Mataku terbelalak karena terkejut begitu melihatnya. kata yang terlintas di dalam pikiranku saat melihatnya hanya satu, yaitu "Hantu".
Aku tahu wajah itu, aku kenal wajah itu. Namun, itu tidak mungkin, dia suda mati, dia sudah mati dalam kecelakaan lalu lintas demi melindungi Mikan Hyuga, adik dan juga wanita yang dicintainya dua tahun yang lalu.
"Nat…. Natsume-senpai….."
Hotaru POV
Aku membuka pintu kamar itu dan berjalan memasukinya dengan pelan. Aku bisa melihat Mikan yang sedang tertidur di atas ranjang king size itu.
Aku berjalan mendekatinya dan aku mendengar dia memanggil nama seseorang di dalam tidurnya.
"Natsume….."
Air mataku mengalir menuruni pipiku begitu aku mendengarnya memanggil nama itu.
Kaoru-san telah menceritakan semuanya padaku dan Ruka. Kami sangat terkejut saat mengetahui alasan sesungguhnya mengapa mereka melakukan ini semua, alasan mengapa mereka memisahkan mereka, alasan mengapa mereka menentang keras hubungan mereka berdua.
Aku….
Aku sama sekali tidak bisa memberitahunya lagi, aku sama sekali tidak bisa memberitahunya bahwa Natsume sesungguhnya masih hidup. Jika dia mengetahui Natsume masih hidup, dia pasti akan mencarinya dan mereka pasti tidak akan bisa dipisahkan lagi. Itu semua hanya akan berakhir dengan menceritakan semuanya pada mereka berdua, menceritakan pada mereka kenyataan yang menyakitkan itu, menceritakan masa lalu yang menyedihkan itu.
Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka berdua jika mereka mengetahui kenyataan itu, mengetahui masa lalu itu. Dia akan hancur lebur, dia dan Natsume akan hancur lebur.
Aku mengangkat tanganku mengelus rambutnya dengan pelan, betapa cantiknya dia, namun, betapa menyedihkan jalan hidupnya.
Ku pikir penderitaanya telah berakhir, ku pikir dia akan kembali menjadi Mikan yang selalu tersenyum dan gembira saat mengetahui Natsume masih hidup. Namun, aku salah. Penderitaannya tidak akan pernah berakhir, sampai kapanpun penderitaannya tidak akan pernah berakhir karena…
Karena...
Mereka berdua tidak ditakdirkan untuk bersama tidak peduli betapa mereka berdua saling mencintai.
Ini adalah chapter terpanjang deh! akhirnya Tsbasa dan Misaki mencul! tinggal sedikit lagi maka semua tokoh-tokoh penting dalam fic ini akan lengkap! Kurasa pasti banyak yang penasaran dengan apa alasan Kaoru, Ioran dan Rei tidak mengijinkan Natsume dan Mikan bersama, karena itu tunggulah sedikit lagi, sedikit lagi mungkin sekitar 4 atau 5 chapter lagi aku akan menjawabnya! dan untuk pertemuan Natsume dan Mikan, tidak usah khawatir mereka akan segera bertemu kok ( karena aku tidak mau membuat fic ini jadi panjang banget dan juga sepertinya aku sudah cukup kejam terhadap mereka berdua ) oh, iya satu pertanyaan, Nama keluarga Natsume itu sesungguhnya Hyuga atau Hyuuga sih? ( dari komik alice academy tertulis hyuga, tapi di fic semuanya Hyuuga )
Valcross : jangan benci Ruka dan Hotaru untuk chapter ini ya? karena mereka tiba-tiba mengkhianati Natsume dan Mikan (ha..ha...ha...) dan semoga chapter ini memuaskanmu ( ini chapter terpanjang loh!), Kaname ya? hm... ya mungkin juga sih, tapi Kaname di fic ini punya peran yang cukup penting loh!
Kuroichibhineko : sayang sekali tidak ada adegan Natsume, Ruka dan Hotaru lagi deh! Sebab Ruka dan hotaru kini sudah berada di pihak Kaoru, Ioran dan Rei. tapi tidak apa-apa kok, sebab kini Tsubasa dan Misaki berada dipihaknya kok. ^^ chapter ini pasti membuatmu penasaran abiskan? kok Ruka dan Hotaru tiba-tiba mengkhianati Natsume? karena itu baca terus ya fic ku ini untuk mendapatkan jawabannya ^^
Rurippe no kimi : Bagaimana dengan nilai ulangan ekonami mu? (ha..ha...ha... semoga gak jelek ya!). Iya, Natsume sudah tahu jati dirinya sebenarnya walau ingatannya belum kembali dan maaf karena Ruka dan Hotaru sama sekali tidak memberitahu Mikan akan kenyataan yang sebenarnya. Namun, tidak usah khawatir, penderitaan Mikan akan berakhir tidak lama lagi kok ^^
S2 hyuuga clix clox : Thx tu pemberitahuaannya, aku akan berusaha untuk menedit typoss yang ada deh! thx bgt ya tuk bantuannya selama ini! ^^ dan semoga kau menyukai chapter ini !
Yuuto Tamano : Bagaimana menurutmu chapter ini? Tsubasa dan Misaki sudah muncul d chapter ini! tinggal seorang tokoh dari APM saja yang belum muncul untuk meramaikan fic ini! dan setelah aku membaca ulang APM, aku merasa sepertinya ada perbedaan sifat dan sikap dalam tokoh Natsume di APM dan UM, menurutmu bagaimana? Aku benar-benar minta maaf jika sifat Natsume jadi sedikit berubah.
Thi3x : Thx sudah add favo fic ini! utk tales of the darkness and light aku mungkin tidak akan menupdatenya untuk sementara ini ^^
Ellechi : Thx sudah add favofic dan story alert ini!^^
