Sial, sial, sial! Laptopku dicuri oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab! Tapi, sejak kapan juga ada pencuri yang bertanggung jawab? -_- Akhirnya aku harus mengulang menulis chapter ini di laptop sepupu. Ah....harus menunggu dibelikan laptop baru, nih...Oke, kita lanjut saja cerita ini! Chapter ini spesial buat edogawa Luffy yang sudah men-support dan menunggu chapter ini keluar. Karena dia suka dengan LuNa, jadi ada sedikit adegan LuffyxNami nanti. Tapi tenang saja buat ZoNa fans, ini tetap akhirnya ZoNa, kok. Selamat membaca!
Sanji : Ha ha...Shoojo, laptopmu dicuri, ya? *tertawa histeris*
Shoojo : *menggerutu kesal* Diam kau, alis lengkung! Bukannya prihatin, malah mengejek orang saja...
Sanji : Maaf deh...jadi kau mau apa memanggilku?
Shoojo : Ucapkan disclaimer! *tegas dan masih marah dengan Sanji*
Sanji : Galak banget sih...oke, jadi One Piece tidak dibuat oleh orang bego ini seperti yang kalian kenal dengan penname huruf awalnya "S" dan lagi ketiban malang...
Shoojo : *berbisik pelan* Awas kau...*berpikir keras, mendapat ide* Ah! Lihat! Zoro lagi meluk Nami! Mereka mau kissing!
Sanji : ...si pemalu dan...APAA!!! Awas kau, marimo!! Nami-swaannnn~~~~ *berlari secepat cahaya*
Shoojo : *tertawa terbahak-bahak, berguling-guling di lantai*
Cerita sebelumnya :
Luffy dan yang lain berhasil kabur dari angkatan laut. Rahasia Vivi terbongkar dan diketahui Tashigi, tapi Zoro menyelamatkannya dengan mengorbankan Wadou Ichimonji. Sementara itu, Nami mulai curiga dengan Zoro dan Vivi, dan di lain pihak Vivi mulai meningkatkan kewaspadaannya...
xxxxxxxxxxxx Rahasia yang Terbongkar xxxxxxxxxxxxx
Pagi itu pagi yang cerah, seperti pagi yang biasanya di Thousand Sunny. Cahaya matahari pagi yang silau memasuki ruangan wanita melalui jendela yang gordennya terbuka, berusaha membangunkan mata dari tubuh ramping yang terus terbaring di ranjang. Nami mengerang kecil ketika cahaya matahari menimpa matanya yang masih tertutup. Dia menggulingkan badannya, berusaha menghindar dari sinar yang menyebalkan, tapi tetap saja cahaya matahari itu bersikeras membangunkan Nami. Akhirnya Nami membuka matanya dan bangkit duduk, menatap ke matahari di luar dengan tatapan marah, seolah ini salah matahari dia tidak dapat menikmati tidurnya dengan nyenyak.
Nami melihat ke ranjang di sebelahnya. Kedua ranjang, yang merupakan milik Robin dan Vivi, telah kosong. Itu berarti dia telat bangun lagi. Menghela nafas, Nami berdiri, memakai sendalnya dan berjalan keluar. Sudah hal biasa bagi Nami sebagai wanita yang bangunnya paling terlambat. Ini dikarenakan kewajibannya yang tidak lain sebagai navigator kapal, membuatnya setiap malam harus mengurus peta dan yang lainnya. Tentu malam adalah saat yang bagus, karena hampir semua biang ribut di kapal akan ribut akan tertidur. Hampir, kalau kau memperhitungkan keributan dari Luffy yang dikejar-kejar Sanji tiap malam karena mencuri makanan dari kulkas, ataupun suara besi berat yang berasal dari ruang gym, yang berarti Zoro sedang latihan malam.
Nami terhenti sejenak, memikirkan nama terakhir yang ada di kepalanya.
Zoro...
Dengan segera Nami menggelengkan kepalanya lagi, berusaha tidak memikirkan si pendekar berambut hijau. 'Tidak, kenapa sih aku terus memikirkan si idiot itu...' batin Nami, memarahi dirinya sendiri. Dia berjalan ke dapur, untuk sarapan bersama yang lain.
"Ah, Nami-swan! Ohayo~~!" Sanji segera menyapa "cintanya". Nami tersenyum kecil melihat kelakuan Sanji yang seperti biasanya.
"Ohayu, minna..." sapa Nami kepada semua orang yang ada di meja. Dia melihat bahwa Zoro dan Vivi absen di ruang makan. Ini membuat perutnya serasa terenyak lagi.
"Ow-hway-yuu, Na-mwi...." kata Luffy dengan mulut penuh makanan. Sanji segera menegur Luffy. "Luffy, jangan berbicara kalau sedang makan!" Luffy mengangguk pelan.
Brook segera mengambil biolanya. "Yohoho, kita sambut nona navigator dengan sebuah lagu!" dan disambut sorakan dari Luffy, Usopp dan Chopper, juga teguran dari Sanji yang memperingatkan kalau dia harus menghabiskan makanannya dulu baru bermain musik.
Nami mengambil tempat di sebelah Luffy. Suasana sunyi lagi, satu-satunya bunyi yang terdengar hanyalah gemeretakan sendok dan garpu dari Luffy dan Brook yang menunggu makanan selanjutnya, dan suara dari dapur tempat Sanji sekarang membuat makanan spesial buat Nami. Beberapa saat kemudian, Nami memutuskan menanyakan pertanyaan yang sudah ada di kepalanya sejak tadi. Mengambil nafas, barusaha terdengar wajar, dia bertanya, "Hei, dimana Zoro dan Vivi?"
Usopp kesedak oleh makanan yang menyangkut di tenggorokannya, membuat semua mata terpandang ke arahnya. Setelah berjuang beberapa saat menelan makannya, Usopp memandang ke sekeliling dengan malu-malu. "E he he...tadi apa pertanyaanmu, Nami?" tanyanya lagi, walaupun tadi dia mendengar pertanyaannya jelas.
Nami menghela nafas, lalu mengulang pertanyaannya, "Zoro dan Vivi ke mana?"
Sanji langsung merasakan hatinya seperti diiris berulang kali dengan belati panas. 'Kenapa Nami-swan begitu perhatian dengan si marimo? Tidak biasanya dia jadi seperti khawatir karena marimo itu tidak ada. Apa dia suka dengan pendekar bego itu? Eh...apa itu benar? Ma-masa, sih...tidak...tidak mungkin...' "TIDAKKK!!!" teriak Sanji tiba-tiba menatap ke atas dengan ketakutan luar biasa, dan kini semua mata beralih ke koki berambut pirang, yang pipinya berwarna merah karena malu. "He he...tidak ada apa-apa..." kata Sanji, segera kembali ke makanan di depannya. Yang lain hanya melemparkan pandangan heran.
"Oke, jadi ke mana Zoro dan Vivi? Tadi kalau tidak salah mereka langsung keluar bersama setelah selesai makan," kata Luffy, masih dengan mulut penuh makanan. Lagi-lagi Nami merasakan perasaan tidak nyaman mendengar keduanya bersama lagi.
"Ngomong-ngomong, apa ini cuma perasaanku atau Bushido-san akhir-akhir ini selalu dekat-dekat dengan tuan putri? Maksudku..." Robin terhenti di tengah kalimat ketika dia melihat mata Sanji terbakar api cemburu, dia buru-buru melanjutkan, "yah, mungkin hanya perasaanku..."
Usopp memandang penuh tanya ke Franky, yang memandang dengan pandangan sama. Mereka tahu ada apa antara Zoro dan Vivi. Robin memperhatikan ini, dan bertanya ke mereka, "Apa ada sesuatu yang kalian ketahui, Usopp? Franky?"
Ups! Mereka ketahuan. Franky memberikan pandangan "kau-saja-yang-bilang" ke Usopp. Usopp menelan ludah, dan mulai mengumpulkan kata-kata. "Er...yah...kami semacam...tahu lah ada apa di antara mereka."
Kini semua mendekatkan kepalanya ke arah Usopp, terutama Nami dan Sanji yang menginginkan kepastian.
"Jadi...kami kemarin melihat Vivi dan Zoro berbicara di kapal...dan yah mereka tampak dekat begitu, tapi...." Usopp diam sesaat, lalu melihat yang lain dengan ragu-ragu, "jangan bilang ke mereka kalau kami yang bilang, ya."
Semua menganggukkan kepalanya, dan tiba-tiba Usopp kelepasan bicara dengan suara keras.
"MEREKA TERNYATA PACARAN!!!"
Diam sesaat, serasa tidak ada makhluk hidup dalam ruangan itu. Luffy menjadi orang pertama yang memecah keheningan. "Apa? Mereka pacaran? Wow, selamat buat mereka!"
Yang lain melemparkan pandangan heran. Kok bisa Luffy menyelamati mereka, bukannya kaget atau curiga? Tapi, yah, dia kan Luffy, mau apa lagi?
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Chopper, berpikir keras. Robin hanya tertawa melihat raut wajah Chopper dan berkata, "Tenang, Chopper. Jangan berpikir terlalu keras. Nanti bisa botak lho." kata Robin.
"Aku tidak mungkin botak!" teriak Chopper keras.
"Yohoho, dasar anak muda zaman sekarang..." tanggap Brook, lalu melanjutkan makanannya.
Sementara Sanji sibuk mengutuk Zoro dengan beribu sumpahan, Nami seolah telah kehilangan semangat dalam dirinya. 'Jadi mereka memang...' dia agak merosot dari kursi, menatap terus ke bawah dengan pandangan hampa.
Yang lain sibuk mencerna informasi yang diberikan Usopp, sebelum lagi-lagi Luffy menginterupsi pikiran mereka. "AAHH!!! Pedas!!!" teriak Luffy sambil menghembuskan api dari mulutnya. Jelas-jelas dia memakan makanan Usopp yang sudah ditaburi saus tabasco.
Usopp dan yang lain tertawa melihat Luffy. Nami cengingikan di sebelahnya. 'Ah, Luffy memang tidak pernah gagal dalam menghibur orang...' Dia mengambil air dari meja dan memberikannya ke Luffy. " Ini, minumlah." Luffy menerimanya dengan senang dan menenggaknya dengan sekali telan. Lalu Nami mengelap sisa saus dari mulut Luffy dengan lap di meja.
"Arigatou, Nami," Luffy berterima kasih kepada Luffy.
"Sama-sama," jawab Nami. Tiba-tiba dia merasa semua orang menatap ke mereka dengan seksama. "Ada apa?" tanyanya.
"Ah, tidak ada apa-apa..." Lalu mereka kembali makan. Nami hanya mengangkat bahu dan juga melanjutkan makannya.
Sanji yang melihat jelas apa yang dilakukan Nami ke Luffy, merasa marah. 'Dasar sial! Pertama Nami-swan tampak cemas ke si marimo, lalu marimo itu pacaran dengan Vivi-chwan, dan Nami-swan mengelap mulut Luffy!?? Apa selanjutnya? Usopp dan Robin-chwan?'
xxxxxxxxxxxx bersambung xxxxxxxxxxxx
Maaf, kalau chapter ini pendek! Aku ada banyak tugas sekolah, jadi hampir tidak ada waktu untuk membuatnya sepanjang mungkin. Harap maklum saja. Dan aku juga agak kehilangan ide untuk cerita ini, tapi berikutnya kujamin akan ada ZoNa. Ugh...semoga aku bisa menulis chapter selanjutnya sebelum ideku menguap lagi... ¬_¬
Bagaimana? Senang? Kasihan Nami ya, Zoro dear-nya direbut Vivi. Poor Sanji, tidak dapat perhatian dari Nami. Tapi, hay! Nami pernah mencium pipinya di chapter pertama, kan! Jadi kurasa adil.
Chapter 10! Ini adalah fic terpanjangku! Karena 10 adalah angka spesial, jadi juga harus ada yang spesial. Apa itu? Jika kalian lihat, hampir 10 review lagi untuk menggenapi 50 review. Wow! Kebetulan yang ajaib! Jadi, kirim review sebanyaknya, sebab untuk review ke-50, ada hadiah khusus, yaitu : bebas memilih pairing apa di fic ini selain ZoNa! Berarti yang tidak ada Zoro/xxx atau Nami/xxx. Bisa LuVi, SanVi, LuRo, dan lain-lain. Hadiah buat kalian! Buat kalian yang lain, tenang saja! Karena kalian bisa memilih pairing yang kalian suka juga lewat review di chapter ini. Request untuk pairing terbanyak di chapter 10 akan kujadikan pairing juga. Jadi ada dua macam: pairing dengan suara terbanyak dari reviewer chapter ini, dan spesial request dari reviewer ke-50.
Jadi, review dan pilih pairing kesukaan kalian!
Selamat menunggu chapter 11!
Review response (per 26-04-2010) :
Izunachi : Tidak apa-apa, telat mereview. Aku senang kok, kalau kau tetap mengikuti cerita gaje ini. ^_^
edogawa Luffy :Ah, emmang banyak mistypo di chapter selanjutnya, soalnya aku agak buru-buru. Gomen. Soal Zoro...yah, entahlah -_-;;
Nar-Ice : Ya. Vivi dengan pedang pasti keren!
Monkey D. Cyntia : Senang kau suka adegan pertarungannya! Padahal menurutku tidaklah bagus...
Melody Cinta : Sabar ya...ZoNa-nya bakal muncul lagi chapter selanjutnya. Janji! *mengacungkan jari kelingking*
LunaticV : Yah...asap pasti kebawa angin. Silahkan praktekkan di rumah anda. Harus dengan pengawasan orang tua! *duh, mulai deh, off-topic*. Yah, Luffy dan Chopper kan bego tapi itulah kenapa mereka menarik. Dan hei! Kau melupakan Kuina! Dia juga bisa jadi pasangan potensial buat Zoro! XD Tunggu! Bukankah Kuina sudah meninggal? -_-;
Mugiwara piratez : Kumaafkan. Yah, kok no comment...comment dikit dong, biarpun secuil beras! XD
Cerita selanjutnya :
Nami ikut dalam pembicaraan Zoro dan Vivi. Bagaimana jadinya? Spesial buat Melody Cinta, deh *wink wink*
