Title : FATE
Author : cindyjung
Pairing : YunJae (Jung Yunho X Kim Jaejoong)
Genre : Sad, Romance
Author Note : Hai, akhirnya part terakhir nih! Wkwk apa ini dibuat terlalu cepet atau kalian udah pada menanti chapeter terakhir ini? Wkwkwk semoga pada menanti yah :D Maafkan kemaren itu benar-benar part bencana karena TYPO nya ga keruan -_- maafkan cindy yah aduh maafkan! *bowbowbow
Balasan Review :
Yoon HyunWoon : ini udah ga lama kok wkwkw. Hm penasaran bagian mana? Semoga disini bisa kejawab yah :D
Minhyunni1318 : ini sudah berlanjut :D
Ifa. : habis bingung ntar ngga tbc-tbc kan ga bakal ada part ini wkwkwk
Yyyjjj5 : Yah! Mari kita dukung mereka untuk melanjutkan takdir mereka yang tertunda! *kibar banner (?) wkwkwk
Chris1004 : memorinya akan muncul dalam hitungan mundur 10... 9... (?) fany? Well, lihatlah nanti :D
Vic89 : Iya kelar :D hahaha boleh deh boleh daripada chaminya disakiti terus wkwkwk
MaghT : Bersatu? Tidak? Bersatu? Tidak? *cabutin kelopak bunga #author strees. Liat ntar ya :D terimakasih karena sudah mau baca dan ngasih review terus :D
Guest : Iya mengganggu (?) wkwkwk. Terimakasih karena mau baca cerita ini dan review :D
Juuunchan : Kalo ga happy ending gimana? *dibakar wkwkwkwk liat saja part ini :D makasih udah mau baca dan review :D
Balasan Review End
Tidak lupa diucapkan TERIMAKASIH SEBANYAK-BANYAK-BANYAK-DAN BANYAKNYA KEPADA SEMUA READER , PEMFOLLOW DAN PEMFAVORIT FF INI :D . Cindy seneng banget karena ada kalian yang ngebuat cindy semangat untuk terus ngelanjutin FF ini J). Sini dikecupin satu-satu XD
Now let's the story begin
.
.
.
#YunJae#
Yunho menjatuhkan pantatnya pada suatu tempat duduk di pojokan sana yang sesungguhnya tidak terlalu nyaman ini, namun Yunho harus membiasakannya karena dalam beberapa jam kedepan ia terus menduduki tempat ini hingga akhirnya tiba di tempat tujuan yang ia inginkan. Dirasakannya tubuhnya bergetar kecil ketika perlahan bis ini mulai melaju dengan perlahan meninggalkan terminal itu.
Yunho mengalihkan pandangannya dan menghadapkan kepalamya pada jendela besar yang ada disebelahnya tersebut. Tampak ia menatap pemandangannya dengan sedikit tidak tertarik. Jujur saja, bukan pemandangan luar yang kini membuat Yunho betah memandangnya, namun pikiran-pikiran yang melewati kepalanyalah yang membuat kepala itu enggan berpaling ke arah manapun.
Tiga tahun hum?
Dan ketika mereka hendak bersatu, sekarang mereka harus terpisah lagi?
Yunho menarik sebuah nafas yang panjang dan mendesah dengan berat kemudian. Walaupun tiga tahun bukanlah waktu yang bisa dibilang sebentar, namun juga tidak bisa dipandang sebagai waktu yang lama. Dan dalam tiga tahun ini, sudah cukup banyak yang Yunho alami pada dirinya. Kisah cintanya dengan Fanny dan...
Flash Back
"Apa kau menjalani pola hidup yang tidak baik, Tuan Jung?" kata seorang berpakaian putih yang adalah dokter tersebut
"Maksudnya dok?" kata Yunho tidak mengerti
"Apa kau merokok?" tanya dokter itu lagi
"Yah.. sesekali..." jujur Yunho dengan sedikit gugup
"Minum minuman beralkohol?" tanya dokter itu lagi
"Hanya sedikit. Lambungku tidak begitu kuat menampung alkohol, ada apa sebenarnya dok?" tanya Yunho mulai tidak sabar ketika sang dokter hanya menanyakannya pertanyaan aneh dan bukan memberikannya kejelasan mengenai penyakit yang sedang dideritanya
"Satu pertanyaan lagi, Tuan Jung. Apakah kau pernah mengalami kecelakaan?" kata dokter itu kini menatapi Yunho dengan cukup erius
Yunho terdiam dan mencoba mengingat apa yang pernah dikatakan oleh ayahnya saat ia pertama kali membuka mata di sebuah rumah sakit.
"Yah, aku pernah mengalaminya" kata Yunho yang dibalas dengan desahan sang dokter
"Dan luka pada kecelakaan tersebut adalah bagian kepala anda?" tanya dokter itu lagi yang kemudian menyulut emosi Yunho
"Ya! Tadi kau bilang hanya satu pertanyaan! Dokter! Jelaskan padaku! Ada ini sebenarnya! Jangan membuat aku penasaran seperti ini!" pekik Yunho yang mulai tidak tahan karena pertanyaan sang dokter yang membuatnya semakin penasaran
"Tuan Jung Yunho, sepertinya anda mengidap suatu penyakit yang tidak biasa" kata dokter itu dengan wajah cukup serius yang membuat Yunho terdiam disertai dengan debar jantungnya yang tidak karuan
"Dan... apa itu dok?" kata Yunho diantara rasa penasaran dan cemasnya
"Tuan, anda terkena kanker otak stadium sedang" kata dokter itu yang membuat mata Yunho membulat seketika
"Apa...?" pekik Yunho lemah tidak percaya dan memundurkan tubuhnya sedikit dan menyandarkan punggungnya disebuah kursi tamu disana berusaha untuk menemukan sandaran diantara tubuhnya yang kini terasa lemas tersebut
"Semua gejala, mulai dari sakit kepala, daya ingat yang berkurang, rasa mual yang diderita dan juga anda yang mulai sering merasa pengelihatan anda terganggu, semuanya sangat mendekati gejala kanker ini. Dan setelah kami memeriksanya lebih lanjut, benar saja ada sel kanker dalam otak anda, Tuan Jung" jelas dokter itu panjang lebar yang masih dibalas keterdiaman Yunho
"Penyebabnya mungkin tidak melulu dari gaya hidup anda, tapi mungkin saja terletak pada kecelakaan yang pernah alami, Tuan Jung" lanjut dokter itu lagi
Yunho merasakan tubuhnya bergetar hebat ketika mendengar segala penjelasan dokter tersebut. Kembali kepalanya berdenyut kencang dipelipisnya dan membuat rasa pening dikepala Yunho. Tangan kanannya yang bebas ia angkat dan ia gunakan untuk memijat pelipis tersebut.
"Jangan bercanda seperti ini padaku..." kata Yunho dengan nada tidak percaya pada hasil tes tersebut
"Kami tidak mungkin bercanda bila ini menyangkut nyawa pasien, Tuan Jung" kata dokter itu dengan serius
Yunho tertunduk lemah masih sambil memijat pelipisnya. Tubuhnya terasa sangat lemah kini. Pikiranya masih mencerna segala yang dokter itu jelaskan tentang penyakit yang dideritanya dengan sangat lamban. Ah tidak, Yunho sesungguhnya benar-benar tidak ingin mencerna kata-kata itu. Ia berharap kata-kata itu tidak pernah terucap sehingga otaknya tidak perlu mencernanya dan membuat kepalanya jadi semakin sakit seperti sekarang. Mendengar kata Kanker saja sudah menjadi momok menakutkan baginya dan kini, ia sedang mengalaminya.
Seketika kepalanya teringat pada sosok yang kini tengah berstatus menjadi kekasihnya. Tiffany Hwang. Apa pendapatnya bila ia mengetahui penyakit yang diderita Yunho ini? Apakah Fanny siap menanggung semuanya bila suatu saat ia pergi dari sisinya selamanya? Apakah ia sanggup melihat derai air mata dari wajah cantik itu?
Tidak.
Yunho tidak ingin menatap wajah sedih sosok itu. Sosok yang sangat berharga di hati dan pikirannya kini.
"Tuan Jung, anda masih dapat melakukan pencegahan agar sel itu tidak semakin menjalari tubuh anda" kata dokter itu membuka suara ketika menatap wajah frustasi Yunho
Yunho mengadahkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk tersebut dan lalu memajukan tubuhnya untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah dokter tersebut dan kemudian mengambil leher kemeja putih yang dikenakan dokter tersebut dengan sedikit kasar. Wajahnya yang tampak frustasi itu kini menyapa wajah dokter yang tampak ketakutan dengan Yunho. Mata musangnya dengan sedikit melotot dengan urat merah disekitarnya membuat perawakan Yunho memang tampak mengerikan kini.
"Jelaskan padaku. Secara detail. Bagaimana caranya?"
.
"Fanny ah..."
Flash Back End
Yunho terdiam kala sebuah ingatan kembali merasuk ke dalam kepalanya. Pikiran yang sesungguhnya ingin ia lupakan dengan sangat. Tentang dirinya dan penderitaan yang dialaminya selama dua tahun terakhir ini. Penyakit ini, mungkin bisa kembali dan membunuhnya setiap saat, karena itulah tujuan awalnya pergi ke Seoul adalah untuk menjalankan hidup seperti apa yang sudah digariskan dan membiarkan hidup memimpin jalannya. Belum lagi saat jalan hidupnya yang ia ketahui bernama Fanny itu sudah memberikan sebuah tembok tinggi yang menghalangi kebersamaan mereka.
Namun saat ia melihat wajah cantik itu kembali menyapanya setelah tiga tahun tidak menampakan batang hidungnya,
"Bolehkah aku duduk disini?"
Ngiangan suara lembut dari namja cantik itu membuat Yunho memejamkan matanya untuk membayangkan wajah pemilik suara tersebut.
Rambut almondnya.
Mata besarnya.
Hidung mancungnya.
Bibir cherrynya.
Semuanya. Terekam baik dalam kepala Yunho bahkan sejak awal mereka bertemu di bis tersebut. Yang bahkan tanpa Yunho sadari, semua itu sudah terekam lebih lama dari saat ia bertemu dengan namja itu di bis. Lebih lama. Dan lebih mendalam.
"Ayo kita menikah" kembali suara bisikan itu menyapa kepala Yunho dan membuat mata musangnya kembali terbuka
"Aku tau aku menyukaimu, Kim Jaejoong"
"Tapi ternyata tanpa aku sadari, aku sudah jatuh dalam cintamu"
"Dan ternyata jatuhnya sudah sangat, sangat, terlalu dalam"
"Kim Jaejoong. Kita lanjutkan... takdir kita yang tertunda"
#YunJae#
"Sentuhlah makananmu, Changmin ah. Tidak taukah kau membuatku takut karena makananku itu tidak kau sentuh sama sekali?" kata Jaejoong sambil menatap Changmin yang masih terdiam dengan masakannya di depannya
"Aku hanya sedang tidak selera hyung..." kata Changmin lemas setelah tadi sempat mengeluarkan rasa resah dan sedihnya di pundak sepupunya tersebut
"Tidak selera? Apakah harum masakanku sudah berbeda dihidungmu sekarang hingga kau tidak selera?" kata jaejoong sambil memoutkan bibirnya sambil mengerutkan keningnya pada Changmin
Changmin menatap sepupunya yang kini tampak kekanakan itu dihadapannya. Ia tahu, kakak sepupunya ini sudah mengalami hal yang bahkan lebih menyedihkan daripada apa yang ia alami kini. Yeoja yang kau cintai menikahi orang tuamu? Ah, rasanya Changmin akan bunuh diri saat itu juga, kalau perlu dihadapan yeoja tersebut.
Pikiran yang gila hum?
Tapi namja dihadapannya ini sama sekali tidak melakukan hal yang seperti dalam pikiran Changmin. Ia hanya menghilang, pergi, dan melepaskan semuanya. Mungkin ada baiknya melakukan hal seperti melarikan diri daripada menipu diri yang sesungguhnya tersakiti. Pikiran konyol satu lagi yang setidaknya membuat kita bertahan hidup.
Changmin menarik kedua ujung bibirnya sambil menatap hyungnya tersebut.
"Jangan melakukan tidakan kekanakan seperti itu, hyung. Apa kau tidak ingat umur?" kata Changmin berusaha mengejek kemudian
"Ya! Kau ini! Aku belum setua itu!" pekik Jaejoong sebal saat Changmin menggoda tindakannya
"Hahaha, hal itulah yang membuatku tidak selera makan. Sudah hentikan semua itu" kata Changmin sambil mengambil sesumpit kimchi dan melahapnya
Jaejoong tersenyum kecil di balik kekesalan. Akhirnya, sepupu kecilnya itu mau makan juga.
Sedikit rasa melilit mengerayangi perut Jaejoong yang sejak kemarin memang belum diisi apapun dan kini, ketika ia makan pertama kali, ia langsung menyantap makanan pedas.
"Akh, perutku..." desah Jaejoong penuh rasa sakit ketika ia merasakan perutnya seakan tertusuk jarum
"Kenapa hyung?" tanya Changmin cukup cems dengan beberapa makanan yang masih terkumpul dipipi kanannya
"Ah, tidak aku hanya butuh obat maag saja" kata Jaejoong sambil membangkitkan tubuhnya mencari tempat obat
"Ah, kotak P3Knya ada di..." belum selesai Changmin memberi arahan pada Jaejoong, namja manis itu telah lebih dulu meraih kotak P3K itu dan mengambil obat yang ada di dalamnya
Changmin terdiam menatapi hal tersebut.
"Dulu, ini adalah apartement atas nama Jaejoong. Kau boleh memilikinya dan memakainya kapanpun kau mau. Tapi satu, Shim Changmin, jangan pernah membawa Jaejoong kembali ketempat ini" terkelibat dalam kepalanya sebuah perkataan yang pernah diucapkan Mr. Kim padanya
"Jaejoong hyung... ternyata masih familiar dengan tempat ini..." batin Changmin
Jaejoong menegak sebutir obat maag tersebut dan kemudian kembali ke tempat duduk disampingnya tersebut.
"Changmin ah, kau mau mengambil bagianku?" tanya Jaejoong sambil menatap Changmin yang tengah balik menatapnya dalam diam
"Changmin ah!" pekik Jaejoong yang membuat Changmin kembali ke dunia nyata
"Kau ini kenapa? Malah melamun seperti itu!" kata Jaejoong kembali kesal diantara sakit diperutnya
"A... Aniya, mana? Biar kuhabiskan porsimu. Hyung istirahat saja dikamar" kata Changmin sedikit tergagap sambil mengambil mangkok makanan Jaejoong dan lalu melahapnya
"Ah, baiklah, kurasa aku memang membutuhkannya" kata Jaejoong sambil melangkah menuju sebuah pintu yang tampaknya sudah sangat ia hapal sebagai ruang kamar.
Teenyata Jaejoong masih sangat hapal apartement ini hum?
"Kira-kira kenapa... Jaejoong Hyung tidak boleh kemari?" tanya Changmin dalam batinnya hingga sebuah suara mengusik pendengarannya
TOKTOKTOK
#YunJae#
TOKTOKTOK
Sebuah ketukan pada pintu rumahnya membuat sang pemilik rumah terpaksa menghentikan aktifitas yang sedang dikerjakannya tadi. Ini sudah menginjak waktu malam hari. Siapa yang bertamu selarut ini?
"Ya, kau mencari siapa?" kata seorang yeoja yang umurnya tidak jauh dari sang namja yang kini tengah berdiri didepan pintu rumahnya
"Ah, maaf apa Kim Jaejoong ada?" tanya namja bermata musang itu ramah
"Jaejoong? Ah, tidak, ia tidak ada disini. Maaf kau ini siapanya ya?" tanya yeoja itu lagi kala menjawab pertanyaan namja di hadapannya
"Siapa itu, Dara ya?" kata sebuah suara disebrang yang perlahan semakin mendekat
"Dara?" batin namja itu kala mendengar nama yeoja di hadapannya ini
Seorang pria yang tampak lebih tua dari mereka berdua kini sudah berdiri dihadapan mereka. Seketika langkahnya terhenti kala menangkap sosok yang sudah sangat lama ingin ia lupakan dan ia hindari. Matanya membelalak kala menatap namja itu yang juga menatapnya tak kalah kaget.
"Kau..." kata Tuan Kim sambil menunjuk namja yang adalah Yunho itu dihadapannya
"Yeobo kau mengenal namja ini?" kata yeoja yang dipanggil Dara itu sambil menatap suaminya yang tampaknya sangat terkejut
"Yeobo?" batin Yunho lagi masih dalam keterkagetannya
"Untuk apa kau kemari?!" pekik namja paruh baya itu sambil menaikkan sedikit nada suaranya
"Tuan Kim, Bukankah anda sedang sakit?" kata Yunho sambil menatap mata ayah Jaejoong yang tengah menatapnya dengan tajam
"Sakit? Aku seorang dokter! Bagaimana mungkin aku bisa sakit?!" kata Tuan Kim mulai sedikit merasakan rasa panas pada kepalanya
"Tapi... bukankah Jaejoong kesini karena mendengar anda sedang sakit?" kata Yunho sedikit khawatir karena Jaejoong tak ada dirumahnya
"Jaejoong datang?" batin yeoja yang daritadi haya memperhatikan kedua namja dihadapannya
"Apa katamu?! Jaejoong ada disini?!" pekik Tuan Kim lagi kala emosinya kini perlahan memuncak sambil sedikit gelisah
"Ya, Jaejoong ada disini. Karena itulah aku datang. Aku ingin menjemputnya" kata Yunho tegas sambil menatap Tuan Kim yang tampak sedikit frustasi kini
Tuan Kim membulatkan matanya ketika ia menyadari satu hal kini. Anaknya dan namja ini, sudah saling mengenal lagi. Dan namja dihadapannnya ini datang untuk merebut kebahagiaan terakhir dalam hidupnya lagi. Setelah tiga tahun ini, bagaimana bisa semuanya begitu sia-sia?
"Jangan bicara sembarangan! Jangan berani sekali lagi kau merebut anakku!" teriak namja paruh baya itu
"Aku tidak akan merebutnya! Aku hanya meminta restu dari anda, Tuan Kim, tolong, restui aku dan Jaejoong" kata Yunho sambil menundukkan kepalanya dan membungkukan kepalanya 90 derajat
Tuan Kim hanya terdiam melihat namja ini kembali menundukan kepalanya seperti tiga tahun lalu saat ia dan Jaejoong tiba dirumahnya dan mengatakan hal yang sama sambil membungkuk dengan cara yang sama. Perasaannya pun tidak ada perbedaannya dengan saat itu. Ia masih merasa jijik dengan hal tersebut dan lagipula sebesar apapun perbuatan yang Yunho lakukan belum cukup untuk memenangkan hati Tuan Kim.
Ternyata tidak semudah itu untuk mendapatkan restu seorang kepala keluarga Kim.
"Bangkitkan tubuhmu dan angkat kakimu dari rumah ini. Aku tidak akan pernah, sekalpun, mengijinkanmu mengambil anakku" kata Tuan Kim dengan dinginnya
Yunho yang mendengar hal menyakitkan itu hanya dapat membangktkan tubuhnya dan kembali menatap namja paruh baya yang kini telah berbalik dan memunggunginya.
"Aku mencintainya" kata Yunho dengan nafas yang sedikit tercekat kala merasakan panas pada matanya dan membuat namja yang tadinya tengah melangkahkan kakinya untuk memasuki rumahnya itu kemudian berhenti
"Aku tidak peduli" kata Tuan Kim sambil kembali melangkahkan kakinya
"Tuan Kim..." panggil Yunho sedikit lemah saat punggung itu perlahan menjauh
"Hey" panggil yeoja yang sedari tadi hanya menyaksikan kejadian tersebut dan membuat Yunho menatapnya
"Aku memang tidak tau banyak tentangmu, tapi, aku percaya padamu" kata Dara sambil menatap Yunho dengan senyum di wajahnya
Yunho menatap yeoja yang kini juga tengah berbalik sambil kemudian menutup pintu dihadapannya tersebut. Ia melangkahkan sedikit kakinya kebelakang dan kemudian meninggalkan pagar rumah itu. Sedikit hatinya merasa hangat pada senyuman yeoja itu.
"Pantas saja, kau menyukai yeoja itu, Jaejoong ah" batin Yunho saat mengingat kembali cerita Yoochun tentang Dara dalam kisah Jaejoong yang sedang hilang ingatan
"Tapi aku percaya padamu" kata-kata Dara kembali terngiang dan membuat Yunho menarik senyumnya. Satu orang percaya padanya. Itu sudah lebih daripada tidak ada yang mempercayainya sama sekali.
Seketika langkah kakinya terhenti dan mulai berpikir. Bila Jaejoong tidak ada dirumahnya, lalu dimana?
#YunJae#
TOKTOKTOK
Pria bertubuh jangkung itupun akhirnya melangkahkan kakinya dan lalu memutar kenop pintu itu dan membukanya. Terlihat wajah namja yang sangat tidak asing di wajahnya kini tengah dengan nafas terengah menyapanya.
"Apa Yunho sudah kesini?" tanya namja bersuara husky tersebut
"Yoochun hyung? Kenapa kau kesini?" tanya Changmin bingung
"Aku tanya apa Yunho sudah kesini? Apa dia belum datang? Atau dia baru saja pergi?" tanya Yoochun panik sambil memasuki apartemen tersebut
"Apa? Yunho ke Chungnam?" kata Changmin sambil menaikan sedikit volume suaranya
"Ah, belum tiba rupanya, baguslah" kata Yoochun masih panik sambil melangkah menuju kesebuah ruangan
"Ya! Hyung ini kenapa! Buru-buru sekali!" pekik Changmin saat melihat Yoochun yang tampak tidak seperti biasanya
"Aku harus mengambil sesuatu yang masih tertinggal disini" kata Yoochun sambil membuka pintu kenop kamar
"Ah, hyung..."
Belum sempat Changmin melarang Yoochun untuk membuka kamr tersebut kenop pintu tersebut telah lebih dahulu terbuka dari dalam dan menampakkan sosok yang sedang berada di kamar tersebut.
Mata Yoochun membelalak saat menatap wajah cantik sahabatnya kini sedang berdiri dihadapannya dengan wajah yang kelelahan. Bukan wajah lelah Jaejoong yang ia khawatirkan kini, tapi sesuatu yang ada di kamar tersebut yang tidak boleh. Tekankan kata TIDAK BOLEH. Diketahui oleh Jaejoong dan sudah ia dan keluarganya sembunyikan selama tiga tahun terakhir ini.
"Yoochun ah... kenapa kau bisa ada disini?" tanya namja pemilik mata doe itu sambil menatap sahabatnya yang kini tampak cemas
"A.. Aku... aku hanya... ingin mengambil barangku yang tertingal" kata Yoochun tergagap
"Hum? Jadi kau tinggal disini juga eoh? Eh, apa ini apartemenmu? Rasanya aku hapal dengan semua yang ada disini. Apa kita pernah tinggal bersama di apartemen ini?" tanya Jaejoong bertubi-tubi yang membuat Yoochun semakin panik karena pertanyaannya
"Emmm, soal itu, kita bahas diluar saja bagaimana? Setelah aku menaruh barangku yang tertinggal bagaimana bila kita minum kopi?" ajak Yoochun dengan masih tergagap dan tanpa menatap Jaejoong
"Tapi aku..." kata Jajoong berusaha menjelaskan tentang kondisi perutnya yang sedang tidak baik kini
"Aku tidak menerima penolakan" kata Yoochun kemudian meleos masuk ke dalam kamar dan menuju sebuah lemari pakaian
Ia membuka laci pakaian terakhir dan mengambil sebuah kotak kado disana, lalu ia mengambilnya dan perlahan berjalan menuju Jaejoong. Sebelah tangannya ia bebaskan dan kemuadian mengambil tangan Jaejoong yang tampak melemas dan menyeretnya pergi dengan sedikit memaksa.
"Ah, Changmin ah, aku pergi dulu!" kata Jaejoong terburu-buru sambil menyesuaikan langkahnya dengan kaki Yoochun yang melaju dengan cepat
Mata itu hanya memandangi kedua hyungnya yang baru saja pergi melewati pintu itu dengan pandangan bingung. Sangat banyak pertanyaan dalam dirinya yang membuat urat pada pelipisnya kini kembali berdenyut.
"Ah, masa bodoh" kata Changmin sambil kembali duduk dan menyantap makanan yang sudah tinggal setengah porsi itu
TOKTOKTOK
Kembali pintu itu berbunyi dan mengusik acara makannya. Changmin berdecih kecil sambil kembali membangkitkan tubuhnya dan kemudian menuju pintu tersebut. Dengan muka kesalnya ia memutar kenop pintu itu.
"Apa ada yang tertinggal hy..." belum sempurna Changmin memberikan pernyataannya sosok lain didepan pintu itu kini menyapanya dan memperlihatkan wajah yang sesungguhnya adalah wajah yang paling ingin Changmin hindari saat ini
"Changmin ah" panggil namja itu saat melihat wajah Changmin yang kini menyapa wajahnya
"Apa yang kau lakukan disini?" kata Changmin dengan dingin walaupun tubuhnya tengah memanas kini karena amarah yang ia rasakan setiap kali melihat wajah namja ini
"Changmin ah! Apa Jaejoong ada disini?" tanya namja yang adalah Yunho itu sambil mengedarkan tatapannya kedalam apartemen yang sangat bersejarah baginya
"Ada apa kau mencari hyungku?" tanya Changmin lagi sambil menyipitkan satu matanya
"Ah, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya" kata Yunho sambil agak tertunduk malu setiap kali ia mengingat niatnya ingin melamar Jaejoong 'lagi'.
"Apa itu?" kata Changmin tidak suka dengan sikap Yunho yang tampak malu-malu saat membicarakan hyungnya
"Namja ini, kenapa wajahnya seperti ini saat membicarakan hyungku? Padahal sudah ada Fanny disisinya? Apa seorang yeoja saja tidak cukup?" batin Changmin kesal
"Kau" panggil Changmin pada namja yang sedikit lebih pendek darinya itu dan membuat pemilik mata musang itu mengalihkan matanya untuk menatap Changmin dan menegadahkan sedikit kepalanya
"Apa kau menyukai Jaejoong Hyung?" tanya Changmin tidak mau banyak berbasa-basi
Yunho yang tidak mengetahui amarah dan sakit hati yang sedang dialami namja dihdapannya ini hanya kembali tertunduk malu dan kembali mengibarkan senyumnya yang tampak menggemaskan kini.
"Ya" jawab Yunho diantara senyumannya yang hanya membuat Changmin terdiam
Jantung Changmin berdebar kencang sementara amarahnya kembali meluap kini. Baginya namja ini, hanya namja yang akan mempermainkan hyung tersayangnya saja. Bagaimana tidak? Setelah berciuman dan mengataan ia mencintai Fanny, kini namja ini muncul dan mengatakan ia menyukai Jaejoong. Tidak akan Changmin biarkan namja ini merebut dua orang yang berharga dalam hidupnya.
Changmin mengepalkan tangan kanannya dan akhirnya ia layangkan kepalannya tersebut kearah pipi Yunho dan membuat sebuah pukulan keras disana.
Yunho hanya terlonjak sambil menatap Changmin geram. Terasa amis pada sisi bibirnya yang kini tampak berdarah. Yunho yang masih berdiri tegak dihdapan Changmin kini mengelap sedikit ujung bibirnya yang luka dan lalu berdecih kecil.
"Apa yang kau lakukan?!" pekik Yunho tidak terima karena mendapat perlakuan yang tiba-tba dari Changmin
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, brengsek! Apa yang kau lakukan?! Kau mengatakan kau menyukai hyungku?! Lalu bagaimana dengan Fanny ah?! Bagaimana dengan ia yang kau bilang kau mencintainnya?! Brengsek! Sesungguhnya apa yang ada di otakmu?!" pekik Changmin yang hanya membuat Yunho terdiam masih terbelalak
Rupanya, ada kesalah pahaman disini.
#YunJae#
"Yoochun ah, aku sedang tidak ingin kopi, lambungku sedang tidak baik, bisakah kita kembali ke apartemen Changmin saja?" pinta Jaejoong sedikit memelas sambil mengerucutkan bibirnya pada sahabatnya tersebut
"Tidak" kata Yoochun tegas tanpa menatap Jaejoong
Jaejoong hanya makin memanyunkan bibirnya saat Yoochun kini tampak mengacuhkannya. Matanya kemudian berpendar keseluruh mobil dan berharap menemukan sesuatu yang menarik hingga sebuah kotak hadiah yang tadi diambil Yoochun kini menarik perhatiannya.
CKITT. Mobil itu berhenti disebuah apotik yang kini ada disebelah mereka.
"Kau, tunggulah disini. Aku akan membelikanmu obat" kata Yoochun sambil keluar dari mobil sedan hitam tersebut dan menuju apotik tersebut
Jaejoong yang tadi menatap Yoochun kini kembali mengalihkan perhatiannya pada kotak kado yang membuatnya penasaran. Diambilnya kotak kado tersebut dan kemudian dibukanya. Tampak sebuah syal berwarna merah yang tampak sangat hangat dan panjang yang terlipat rapi didalamnya. Tangan lentiknya mengambil syal tersebut dan lalu ia lilitkan pada lehernya yang kemudian terasa menghangat saat sudah mengitari lehernya.
"Syal ini panjang sekali, dua orang bisa memakainya" batin namja itu sambil terus menarik sisa syal yang belum terlilit pada lehernya dan membuat secari kertas pada ujungnya yang tertarik terjatuh
'Semoga bisa selalu menghangatkanmu. Ini adalah hatiku. Jaga ia baik-baik. Jung Yunho, selamat hari natal'
Kim Jaejoong , 25-12-2006
Namja cantik itu melebarkan matanya sambil menatap deretan huruf dan kata yang kini berhasil membuat jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Sudah jelas kata yang amat menyita matanya adalah nama yang sangat tidak asing baginya
"Jung Yunho?" batinnya saat menatap nama Yunho kini tertulis disana
"25-12-2006?" batin namja itu lagi
"Aku akan menjaganya" suara yang tampak seperti sebuah bisikan itu melewati kepalanya dan membuat kepalanya sedikit berdenyut
Mata doe yang sejak tadi melebar kini ia pejamkan. Jaejoong berusah memikirkan hal lain agar kepalanya tidak terus berdenyut seperti tadi namun sebuah nama terus dan terus berngiang dalam kepalanya dan malah membuat kepalanya semakin berdenyut sehingga membuat sang pemilik mata kembali membuka matanya dan kemudian terdiam.
Tangannya dengan cekatan membuka pintu mobil hitam Yoochun dan kemudian ia membawa kakinya keluar meninggalkan mobil hitam tersebut dan berlari menuju arah yang kini sangat ingin ia tuju.
"Kim Jaejoong!" Yoochun memekik keras sambil berusaha berlari mengikuti langkah Jaejoong. Namun Jaejoong yang sudah menghentikan taksi dan memasukinya membuat Yoochun tertinggal sangat jauh
"Kim..." kata Yoochun terengah sambil mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang diseberang sana
"Terlambat... sepertinya memang mereka...harus bertemu, Junsu ah" kata Yoochun diantara nafasnya yang tidak teratur
#YunJae#
"Apa kau pernah hilang ingatan?" kata seorang namja yang kini membuka pembicaraan
Tampak aura tidak menyenangkan masih keluar dari namja yang kini tengah terduduk disampingnya dan enggan menatapnya. Kedua namja yang kini tengah terduduk di teras apartemen tersebut kembali terdiam kala tak ada yang menjawab pertanyaan dari namja yang baru saja membuka suaranya tersebut.
"Aku pernah" kata namja bermata musang itu kembali membuka pembicaraan kala suasana kembali hening diantara mereka dan membuat Changmin sedikit melirikkan matanya pada namja itu
"Aku kehilangan ingatanku karena sebuah kecelakaan"
"Saat aku membuka mataku, tidak ada yang aku ketahui sedikitpun tentang dunia bahkan diriku sendiri"
"Saat kurasa keadaanku sudah cukup membaik karena lukaku yang memang tidak terlalu parah, aku sudah dapat bekerja di perusahaan ayahku dan kemudian bertemu dengan Tiffany" saat namja itu menyebutkan nama yeoja yang sedang sangat ingin dihindarinya, Changmin sedikit berdehem untuk menetralisir detak jantungnya yang bergemuruh keras dan kembali mendengarkan cerita namja itu
"Aku mencintainya saat itu. Sangat. Hingga sebuah keadaan membuatku harus memaksanya menunggu selama dua tahun. Tapi ternyata, ia bahkan tidak bisa menungguku selama itu. Kau hadir, dan kau merubah semua yang ada didalam hidupnya yang pasti sangat sepi saat itu"
"Ya, aku mencintainya. Tapi itu DULU" tegas Yunho
Changmin menarik seujung senyumnya dan memasang tatapan sinis pada lawan bicara disampingnya tersebut yang juga tidak menatapnya.
"Mudah sekali kau mengatakan 'dulu' hum? Apa bagimu sesuatu itu semudah kata-katamu?! Baru berapa bulan kau berpisah darinya dan kau berkata kalau cinta itu adalah masa lalu?! Siapa yang tidak setia sekarang?! Kau atau Fanny hum?!" kata Changmin sambil menaikan volume suara dan menekankan kata-katanya
"Apa kau tau kapan aku mengalami kecelakaan itu?" kata Yunho kini turut menatap Changmin yang hanya dibalas keterdiaman Changmin yang menganggapnya bermain-main
"Sekitar tiga atau empat tahun lalu. Sama seperti Jaejoong" lanjutnya
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Berhentilah bermain-main dan jelaskan padaku" kata Changmin mulai tidak sabar
"Aku, pernah mengenal Jaejoong sebelumnya"
"Dia adalah... orang yang sangat berharga di waktu laluku"
"Aku tidak pernah menyebut cinta Fanny adalah masa lalu, karena masa laluku, adalah Jaejoong. Kim Jaejoong"
Changmin terdiam sambil berusaha mencerna segala perkataan yang dilontarkan oleh Yunho.
"Ya, aku mencintai Fanny dan ya, aku juga mencintai Jaejoong namun cinta yang kurasakan pada mereka berdua berbeda"
"Fanny, saat aku mengetahui ia sudah bersuami aku memang terluka, mengetahui saat itu ia adalah satu-satunya orang yang mampu merebut hatiku, tapi aku merelakannya untukmu. Sementara Jaejoong..."
"Saat ia pergi tiba-tiba seperti saat ini, aku berusaha mengejarnya. Saat ia tidak ada disisiku aku berusaha untuk bertemu dengannya. Saat ia memalingkan tubuhnya dan punggungnya aku selalu berharap bisa melihatnya lagi. Aku tidak pernah merelakannya pergi. Aku tidak pernah menyuruhnya menunggu. Karena aku tidak ingin kehilangannya. Aku hanya ingin bersamanya"
"Sebelum mengetahui ia adalah masa laluku yang berharga, aku selalu mengatakan hal yang aneh tentang takdir padanya..."
"Mungkin saat itu aku sudah merasakannya..."
"Aku... memang takdirnya..."
"Seperti dia yang juga kembali padaku, Kim Jaejoong, adalah takdirku"
Changmin hanya terdiam. Cinta yang berbeda? Yah, ia pernah mendengar antara cinta sahabat dan cinta kekasih. Tapi cinta yang seperti ini? Dua versi cinta kekasih yang menurutnya memang sangat berbeda. Walaupun ada satu yang ia yakini.
Dia.
Jung Yunho.
Sangat mencintai hyungnya.
BRAAK! Sebuah suara menggemparkan seisi apartemen tersebut dan akhirnya membuat kedua manusia yang tadinya hanya terdiam dan terpaku pada pikirnnya masing-masing kini membuat mereka mengalihkan kepala mereka dan menatap ke asal suara.
Yunho memberdirikan tubuhnya dengan cepat kala wajah yang seharian ini ia cari, kini tengah berdiri dihadapannya dengan leher yang terlilit indah syal warna merah yang pernah diberikan untuknya. Namja bermata doe itu kemudian menatapi seluruh apartemen hingga matanya terhenti pada namja yang kini tengah memberdirikan tubuhnya sambil menatapnya.
"Kim Jae..."
Tubuh namja cantik itu kemudian menghampiri Yunho dan akhirnya berdiri dihadapannya mengacuhkan Changmin yang sedang terduduk sambil menatapi mereka dalam diam.
"DASAR BODOH!" pekik Jaejoong sedikit dingin
Yunho terdiam. Kejadin seperti ini sepertinya pernah ia rasakan sebelumnya. Kejadian seperti seperti reka ulang dalam kepalanya.
"AKU PERGI AGAR KAU BAHAGIA DENGAN FANNY!" pekik namja itu masih dengan amarahnya
"AKU HANYA TIDAK INGIN KAU MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN!"
"BISAKAH KAU MEMBIARKANKU MELIHATMU BAHAGIA?!"
"AKU INGIN KAU BAHAGIA, JUNG YUNHO!"
"AKU..."
Belum sempat pekikan itu berakhir, Yunho segera memeluk tubuh namja yang lebih kecil darinya itu dan memeluknya dengan erat. Kata-kata Jaejoong tadi memang sebuah reka ulang dalam dirinya. Kata-kata terakhir di bis sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan kalimat terakhir yang Yunho ingat adalah,
"Aku mencintaimu, Kim Jaejoong" kata Yunho sambil memeluk tubuh yang tidak balas memeluk tubuhnya itu
"Aku sangat mencintaimu" lanjutnya yang membuat tubuh dalam pelukannya itu sedikit bergetar.
Jaejoong menangis.
Sementara Changmin hanya terdiam sambil mengalihkan pandangannya pada sebuah map coklat yang ada di dalam sana.
#YunJae#
Tangan itu saling mengait dengan hangatnya. Kedua tubuh itu kini bagai tanpa jarak saling membentur satu sama lain. Sebuah rajutan merah melingkar dikedua leher mereka dan membuat mereka bagai tidak terpisah. Senyum kecilpun tersembunyi dibalik rajutan merah tersebut
"Aku senang, bertemu lagi denganmu di bis" kata namja itu dengan senyum yang tertutupi syal
"Aku juga" jawab namja lain disampingnya dengan wajah tertunduk karena kehangatan yang terasa begitu menjalar di seluruh tubuhnya
"Bagaimana penyakitmu?" tanya Yunho kemudian
"Baik, cukup membaik walau lukanya bisa terbuka kapan saja" jawab Jaejoong
"Apa tidak ada donor paru-paru?" tanya Yunho sambil menatap Jaejoong
"Aku pernah mendengar tentang donor jantung, ginjal, sum-sum tulang belakang, tapi tidak pernah paru-paru kurasa itu mustahil" kata Jaejoong sambil sedikit mendesah kecewa
"Penyakitku juga tidak lebih buruk dari itu" kata Yunho kemudian yang membuat Jaejoong mengalihkan perhatiannya pada langkah mereka menuju pada Yunho
"Kanker ini bisa menjalar kembali kapan saja, sama saja bukan?" kata Yunho santai
"Ya!" pekik Jaejoong semakin khawatir pada Yunho
"Aku tidak peduli, asal bersamamu, kapan saja aku harus mati aku siap" kata Yunho lagi sambil menatap Jaejoong
"Jung Yunho!" pekik Jaejoong mulai tidak suka
Langkah Yunho terhenti kemudian dan mebuat namja disampingnya juga turut berhenti. Yunho melepaskan syal pada lehernya dan kemudian memutarkan tubuhnya dan kemudian menghadap Jaejoong yang kini menatapnya.
Sedikit disibakkannya poni Jaejoong yang menutupi mata indahnya tersebut dan kemudian mata musang itu menatap dalam menuju mata doe tersebut.
"Ayo kita menikah" kata Yunho dengan tatapan yang sangat serius
DEG! Jantung Jaejoong seakan meledak ketika mendengar kata-kata itu kembali keluar dari bibir Yunho. Aliran tubuhnya terasa sangat cepat dan membuat wajahnya memerah. Wajah penuh amarahnya kini merona karena malu yang amat sangat. Dua tarikan pada ujung bibirnya dan matanya yang kini berbinar berhasil menjawab ajakan Yunho tanpa jawaban. Walau Jejoong sebal dengan segala perkatan Yunho namun perkataan Yunho tadi mau tidak mau membuat Jaejoong sangat bergetar.
"Ya, ayo, kita menikah" kata Jaejoong malu-malu dan membuat Yunho menarik kembali senyumannya
Tubuh itu mendekat dan kemudian menempelkan dada mereka menjadi satu. Dapat terasa debaran masing-masing pada dada mereka. Sedikit dimiringkannya wajah Yunho dan ia rendahkan sedikit agar dapat mengambil wajah Jaejoong. Dengan kedua tangan Yunho yang kini mengurung wajah Jaejoong dimiringkannya pula wajah Jaejoong agar senada dengan wajahnya dan kemudian bibir hati itu menekan bibir Jaejoong dengan lembut.
Pagutan demi pagutan mereka rasakan dengan penuh cinta, rasa sayang, rasa rindu, bahkan amarah. Semuanya meresap dan bersatu dalam ciuman yang sangat memancarkan cinta tersebut.
Akhirnya, ciuman pertama mereka yang penuh cinta setelah sekian lama.
#YunJae#
"KENAPA HARUS DENGAN NAMJA INI LAGI, JUNG YUNHO!"
"KENAPA TIGA TAHUN INI TERASA SIA-SIA! AKHHH!" pekik Mr. Jung penuh Frustasi kala menatap dua orang itu kembali menyapanya sambil meminta hal yang sama padanya
"Appa... Kami memang sudah ditakdirkan bersama..." kata Yunho saat memutuskan untuk meminta restu keluargaya lagi
"DEMI TUHAN! TAU APA KAU SOAL TAKDIR?! JANGAN BICARA HAL KONYOL SEPERTI ITU!"
"YA! KENAPA KAU TIDAK MATI SAJA EOH?!" pekik Mr. Jung lagi sambil menunjuk Jaejoong
"Appa!" pekik Yunho tidak terima
Mr. Jung meninggalkan mereka berdua sejenak dengan Mrs. Jung yang hanya dapat menatap mereka dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Seakan ingin menyetujui namun juga ingin menolak. Ia bingung. Sangat bingung.
Tiba-tiba Mr. Jung keluar dengan sebuah senjata ditangannya. Sebuah pistol yang seharusnya ia gunakn untuk melindungi masyarakat tidak bersalah dari kejahatan karena tugasnya yang adalah seorang polisi tersebut.
"BIAR AKU SAJA YANG MEMBUNUHMU!" pekik Mr. Jung kalap
"Appa!"
"Yeobo!"
"MENYINGKIR, JUNG YUNHO, ATAU AKU JUGA AKAN MENEMBAKMU!" pekik Mr. Jung kesal sambil menarik pelatuknya saat Yunho menghalangi tubuh Jaejoong yang hendak ditembakinya dengan kalap
"Yeobo!" pekik Mrs. Jung sambil mencoba menghentikan suaminya yang tampaknya sangat kalap hingga tidak sadar anaknya yang ada dihdapannya.
Tangan itu bergerak kesana kemari mengikuti arahan Mrs. Jung yang mencoba merebut senjata itu dari tangan suaminya sementara lubang tembakan masih tertodong pada arah Yunho dan Jaejoong.
DOR
Sebuah tembakan terdengar kala tangan Mr. Jung tidak sengaja menekan jari telunjuknya akibat pertahanannya melawan istrinya tersebut. Sebuah tubuh kemudian runtuh dihadapan mereka dengan darah yang turut mengalir dari tubuhnya. Mata Mr. Jung melotot saat menyaksikan seorang korban kini telah jatuh karena emosinya yang tidak terkontrol. Yang lebih membuatnya terkejut adalah sosok yang terjatuh tersebut adalah sosok anak semata wayangnya.
"Asal bersamamu, kapan saja aku harus mati aku siap"
"JUNG YUNHO!" pekik Jaejoong histeris
#YunJae#
Bibir peach itu terasa membeku kla menatap nisan dihadapannya itu. Sedikit ia belai lembut batu yang sesungguhny sangat kasar itu. Air mata pada pelupuk matanya tidak dapat dibendung lagi kala matanya menatap setiap ukiran nama pada nisan cantik tersebut.
"Terima kasih" katanya sambil terisak
"Terimakasih untuk semua yang kau lakukan untukku..." katanya lagi dengan air mata yang terjatuh dengan bebasnya
"Aku sangat merindukanmu..."
"Seandainya saja saat itu aku... tidak kau lindungi... pasti..."
Sebuah tangan terulur dengan sebuah sapu tangan disana. Mata doe yang memandang hal itu hanya dapat menegadahkan kepalanya yang tertunduk dan kemudian menatap namja yang lebih tinggi darinya itu.
"Hentikanlah tangismu itu" kata namja itu sambil kemudian mengusap air mata Jaejoong dengan sapu tangan yang sedari tadi hanya ditatapi Jaejoong tersebut
"Aku..."
"Aku tidak suka melihat istriku menangis" kata namja itu lagi sambil terus menghapus jejak air mata di mata doe itu
"Mertuaku juga pasti tidak suka melihatmu seperti ini" kata namja itu sambil kemudian menatap nisan tersebut dan Jaejoong bergantian
"Aku hanya..."
"Ibumu melindungimu, karena ia sangat mencintaimu" kata namja itu sambil menunjukkan deretan gigi rapinya
"Seperti aku, yang juga melindungimu saat itu, karena aku, mencintaimu"
"Jung Yunho" panggil Jaejoong kemudian pada namja dihadapannya
"Aku juga, mencintaimu" kata Jaejoong sambil tersenyum dengan matanya yang masih sedikit basah karena air mata tadi
"Ibu mertua, apa aku boleh mencium anakmu disini?" ijin Yunho menghadap nisan tersebut
Jaejoong hanya tersenyum sebelum tangannya menangkupkan kepala Yunho dan kemudian ia berjinjit kecil dan mengecup bibir orang yang telah menjadi suaminya itu dengan gemas.
"Aku yang mengijinkanmu" kata Jaejoong melepaskan kecupannya
Yunho hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya mengambil pinggang itu dan membawa tubuh Jaejoong dalam pelukannya dan kemudian mendekatkan wajah mereka dan mengambil bibir peach itu dengan bibirnya.
#YunJae#
Takdir, adalah sesuatu yang tiba-tiba, dan setiap yang ada didalam takdir membawa kita pada banyak pilihan.
Saat takdir mempertemukan, kita bisa mengabaikannya, atau mengenalnya
"Ah, ye. Aku baru saja pindah, namaku Kim Jaejoong" kata Jaejoong sambil mengulurkan tangannya pada Yunho
"Ah, aku Jung Yunho!" kata Yunho sambil menggenggam tangan namja yang terasa sangat halus dipori-pori tangan Yunho tersebut
Saat takdir memisahkan, kita bisa menunggu, atau meninggalkannya
"Diantara perkataan logika dikepalamu, dan perkataan hati di dadamu. Sebagai penengah, mulutmu itu... mengatakan sisi yang mana?" tanya Yunho yang suaranya sudah semakin bergetar
"Annyeong" kata namja itu kemudian sambil memutar kenop pintu itu bergetar
Saat takdir mempertemukan kembali, kita bisa menyapanya, atau mengacuhkannya
"Bolehkah aku duduk disini?" tanya namja itu kemudian pada namja lain dihadapannya
"Tentu, silahkan" balas namja itu sambil menyingkirkan tasnya yang tadi mengisi penuh tempat duduk tersebut dan memberi namja manis berambut almond itu duduk.
Takdir memang sesukanya, namun pilihan kitalah yang akhirnya menentukan jalan hidup kita.
.
.
.
Hey, apa kau percaya takdir?
END
Heyahhhh akhirnya end jugaaaaa :DDDDDDD maaf kalo endnya gaje sekaliiiii tapi ini adalah end terpanjang yang pernah dibuat kwkwkw. Terima kasih buat semua yang sudah mndukung ff ini dari awal hingga akhir dan membuat cindy sangat sangat bersemangat hingga hari ini! Maaf atas segala ketypoan yang emang sangat fatal dan sering cindy lakukan ya :D
Thanks to:
Vic89, Juuunchan, Guest, MaghT, Chris1004, yyyjjj5, ifa. , Minhyunni1318, yoon HyunWoon, Zheyra Sky, I was a Dreamer, dee, meybi, SimviR, Yuuka Shim, YunHolic, nin nina, jiajia, selena kim, gege, Izca RizcassieYJ, NaraYuuki, Chan Nuriza, Jae milk, vnyj, Himawari Ezuki, KimYcha Kyuu, aoi ao, Shishije, Michelle Jung
And all follower and favirite, espesialy reader :DDDD Silent or not idk I STILL LOVE YOU ALLL!
THANK YOU SOSOSOSOSOSOS MUCCCCHHHHHH
ALWAYS KEEP THE FAITH!
