.

.

.

.

.

::::::: Naruto by Masashi Kishimoto ::::::

.

.

.

.

.

.

A Bride for Sasuke

.

.

.

Enjoy...

.

.

.

.


Card 10: Obladi Oblada.

.

.

.

.

.

Obito mengeluarkan sekotak rokok Mahoboro dari balik jas mahalnya, menawarkan pada Jiraiya yang ada di sebelahnya, berusaha bersikap akrab. Obito memang sengaja duduk di paling belakang agar bisa bebas merokok, sementara Jiraiya juga setuju dengan pilihan tempat duduk Obito supaya dia bisa nonton bokep di ponsel. Jiraiya mengangkat tangan sebagai tanda penolakan halus atas tawaran Obito, "tidak, nanti aku bisa impoten."

"Ya sudah kalau begitu," Obito lalu mengambil zippo-nya yang terbuat dari emas, sengaja berlama-lama mengeluarkan benda mahal itu untuk pamer. Cewek-cewek menor yang duduk di bangku barisan depan menoleh ke belakang, berbisik-bisik. Obito geer, padahal mereka gosipin betapa pornonya muka Jiraiya, lagi. Mungkin pria yang menjabat sebagai Direktur Operasional di Bank Rakyat Konoha itu harus jauh-jauh dari Jiraiya agar tampak lebih menonjol.

"Males banget ya, repot-repot dateng ke nikahan anak-anak kecil," kata seseorang yang suaranya membuat Obito menoleh karena mengenalinya.

"Madara?" tanya Obito kaget. Dia tidak menyangka kalau pria yang sudah lama menjadi hikikomori itu menyempatkan diri untuk datang.

Madara Uchiha muncul dengan kaos biru muda bergambar Hatsune Miku dan celana jeans belel, di genggaman tangannya ada figurine Imai Nobume yang langka. Obito mengernyit dalam, setengah berharap kalau pria itu tidak hadir di sana. Madara adalah satu-satunya orang yang gagal di keluarga Uchiha, walaupun sebenarnya pria itu sendiri yang memilih jalan hidup suram begitu.

Dulu, setelah lulus dari universitas terkenal, Madara Uchiha langsung direkrut perusahaan batu bara dan dengan cepat karirnya menanjak, namun di ulang tahunnya yang ke-tiga puluh, Madara mengumumkan kalau dia hendak mengundurkan diri dari pekerjaannya dan menjalani kehidupan yang selama ini dia idam-idamkan, yaitu menjadi otaku sejati. Semua anggota keluarga Uchiha menentangnya, kecuali Fugaku yang juga seorang otaku beginner. Kemudian anime dan manga menjadi satu-satunya motivasi hidup Madara, dia pun mengurung diri di kamarnya dan hanya keluar rumah jika ada konser Hatsune Miku atau sekadar belanja figurine.

"Oh, Madara-san sudah datang," Itachi datang menyapa, dia mempersilakan Madara untuk duduk, kemudian duduk di samping Madara. "Sudah lama ya kita tidak berkumpul begini,"

"Iya sih, tapi sebetulnya aku tidak tertarik. Aku berharap acara ini cepat selesai," jawab Madara sambil membuka smartphone-nya dan membaca-baca isi forum penggemar Hatsune Miku.

Itachi menghela napas, "yah, tapi Madara-san, kau jangan kaget kalau lihat seperti apa pengantinnya Sasuke loh."

"Apa maksudmu?" Madara dan Obito bertanya berbarengan.

"Maksudku, dia beneran mirip sama Hinata Hyuuga di Naruto, karakter kesukaanmu itu." sambung Itachi.

"APA?!"

"Kenapa wajahmu begitu? Katanya sudah move on sejak kau tahu Hinata akhirnya nikah sama Naruto," goda Itachi, dia menyeringai ganteng.

"B-bukannya aku masih suka, t-tapi masa iya ada orang yang mirip Hinata?" Madara gelagapan. Jiraiya tersenyum bangga karena muridnya digosipin yang bagus-bagus.

"Yah, liat aja entar." Itachi menyeringai lebih ganteng lagi.

.

.

.

.

.

Di depan pintu masuk dapur KCC, Shikamaru Nara yang bertugas menjadi ketua wedding organizer pernikahan Sasuke mengoceh di walkie talkie, memberikan arahan untuk Kiba dan Choji, pegawainya, dalam melaksanakan tugas masing-masing.

"Sebentar lagi pengantin akan masuk ruangan, tolong kosongkan jalur karpet merahnya. Douzo." kata Shikamaru dengan suara bindeng, dia sepertinya sedang flu.

Dari tadi Sasuke melamun mendengarkan percakapan Shikamaru dengan dua anak buahnya, seolah dia salah satu orang yang wajib mendengarkan arahan pria itu. Sasuke menelan ludah berulang kali, berharap dapat menghentikan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya, perutnya juga sakit karena gugup. Hinata berdiri di sebelahnya, gadis itu tampak sama gugupnya dengan dia, kedua tangannya diletakan di dada, seolah menahan jantungnya yang berdetak liar. Sasuke tiba-tiba merasa hendak menampar dirinya sendiri, seharusnya di saat seperti ini Sasuke menenangkan gadis itu, bukannya ikutan gugup.

Kemudian Sasuke dengan lembut menarik sebelah tangan Hinata, lalu menggengamnya dalam kepalan tangannya yang besar, pemuda itu tersenyum sebagai pengganti kata-kata penenangnya.

"Sasuke-kun." Hinata tersenyum, rona merah di pipinya kembali hadir.

Sasuke buru-buru membuang muka supaya Hinata tidak bisa melihat wajahnya yang juga memerah. Sial! Kenapa dia manis sekali?! Tapi, dia kan sebentar lagi bakal jadi istriku, mau sampai kapan aku malu-malu begini... Kalau kami berdua sama-sama pasif begini, siapa yang bakal memulai saat malam per

Darah segar mengucur dari hidung Sasuke, membuat Hinata panik. Shikamaru yang juga kaget buru-buru mengambil tisu bekas dia buang ingus di saku celananya dan mengelap paksa hidung Sasuke.

"Sialan! Aku tahu itu bekas ingusmu!" seru Sasuke ketika hidungnya sudah bersih.

"Apa boleh buat kan? Ck, mendokusei." keluh Shikamaru, lalu menjauh untuk menghindari perkelahian.

"Apa Sasuke-kun sakit?" tanya Hinata, membuat Sasuke lupa akan Shikamaru.

"Tidak apa-apa Hinata, tenang saja."

Kampret! Kenapa aku malah mikir yang enggak-enggak! Sasuke berusaha memasang wajah dinginnya agar tidak ketahuan habis mikir jorok.

"Hoi, Sasuke, aku buka pintunya ya..." kata Shikamaru tidak niat, lalu membuka pintu sebelum Sasuke dan Hinata siap.

"Sialan kau Shikamaru!" Sasuke mengumpat, namun cepat-cepat meraih tangan Hinata agar bertautan dengan lengannya. Dengan langkah yang tidak harmonis pasangan yang panik itu berjalan di karpet merah.

Sasuke menatap satu per satu wajah tamu-tamunya, ada Naruto yang tertawa lebar, Sakura dan Ino yang menangis patah hati, Lee yang memamerkan gigi putihnya, Gaara membetulkan eye liner-nya, Temari membaca majalah remaja, dan Shino yang sedang main lompat tali. Lalu Sasuke maju lagi, melihat Itachi, Madara, Obito dan Jiraiya yang duduk berderetan. Sasuke tersenyum kecil, namun tidak dibalas oleh orang-orang itu. Itachi dan Obito masih memasang wajah dingin, Jiraiya dan Madara memalingkan pandangannya ke ponsel masing-masing, menyibukkan diri dengan hobi laknat mereka biarpun sesekali Madara mencuri-curi pandang ke arah Hinata.

Kampret banget orang-orang homo itu! Sasuke mengumpat dalam hati.

Sementara Hinata yang berjalan beriringan dengan Sasuke terus melempar senyum malu-malunya ke teman-teman, keluarga besarnya dan tamu-tamu lain yang tidak dikenalinya.

Kemudian mereka berdua sampai di depan hadapan Killer Bee. Dia mengenakan jubah hitam yang mengingatkan Sasuke akan para Pelahap Maut di film Harry Potter. Mikoto dan Fugaku duduk di sebelah kanan Killer Bee, sementara Hiashi yang malang duduk sendirian di sebelah kiri. Fugaku mendadak sok mesra dengan Mikoto untuk pamer ke Hiashi, "Mimih, entar kita dinner berduaan ya buat ngerayain nikahan Sasuke," kata Fugaku sambil ngerangkul istrinya yang keheranan. Hiashi cuma bisa melotot gondok.

Killer Bee berdehem, mengambil lilin-lilin dari kardus dan menyusunnya mengitari Sasuke dan Hinata, lalu menyalakan api pada lilin itu. Sasuke memperhatikan dengan heran, belum pernah dia tahu kalau mempelai harus dikelilingi lilin begini saat pemberkatan. Tapi rasanya memang pernah dia membaca di beberapa buku kalau ritual lilin untuk pasangan seperti ini memang ada, namun sayangnya pemuda itu lupa darimana dia membacanya. Selanjutnya sekitar sepuluh orang berjubah hitam masuk ke dapur KCC, wajah mereka ditutupi topeng putih tanpa ekspresi. Tamu-tamu merasa ngeri, termasuk Sasuke dan Hinata.

Orang-orang berjubah itu berdiri selangkah di luar barisan lilin, bergandengan tangan membentuk lingkaran besar. Sasuke dan Hinata celingak-celinguk heran. Perasaan Sasuke tidak enak. Fugaku tidak memperhatikan pemberkatan, dia sibuk melontarkan kata-kata manis merayu Mikoto yang bulu kuduknya berdiri semua, Hiashi merasa marah sekaligus geli.

"O, my Lord S*tan," Killer Bee memulai, "dear S*tan! Tolong berkati pernikahan anak-anak tengik ini—"

"Eh, tunggu!" Sasuke refleks berseru, "kau bilang apa? S-satan?"

"Bukan kok, emang iya sih tapi kan udah disensor, gimana sih?" Killer Bee bilang.

"Ya tapi tetep aja kan intinya lo doa ama setan!" Sasuke menatap Fugaku, mengharapkan pertolongan, "Ayah! Penghulu ini aneh!"

"Apa?!" Fugaku membelalak ala sinetron, Mikoto dan Hiashi juga.

"Kalo doa ama setan itu yang enak-enak lebih cepet dikabulin!" Killer Bee bela diri.

"Iya memang, tapi kan sesat! Enaknya cuma bentaran! Abis itu bisa-bisa anak cucu gue masuk neraka semua!" balas Sasuke, nadanya meninggi.

"Sudahlah, mau enggak mau kita mesti ganti penghulu! Kau! Hiashi! Cepat jadi penghulu!" Fugaku berseru ngasal, Hiashi berdiri dari kursinya, "keparat! Sembarangan saja! Mana mungkin orang tua mempelai jadi penghulu!"

Fugaku menghampiri Hiashi, menempelkan jidatnya yang kusam ke jidat berminyak Hiashi, mereka bertatapan intens, "oh, jadi kau mau membantahku, Hyuuga? Selama ini belom pernah ada yang ngelawan perintahku!"

"Uchiha brengsek, jangan kau kira semua hal harus diselesaikan sesuai keinginanmu," desis Hiashi.

"Sudahlah kalian berdua! Mungkin kita bisa meminta Rock Lee jadi penghulunya! Dia kan taat beribadah!" sela Sasuke.

Fugaku dan Hiashi berbarengan menoleh menatap Sasuke, tatapan mereka membuat perasaan Sasuke tertekan. Entah kenapa dia merasa salah ngomong.

Namun sebelum seseorang di ruangan itu berbicara atau melakukan sesuatu, tiba-tiba ada bola seukuran genggaman tangan melayang ke arah Fugaku dan Hiashi, kemudian...

DUARRR!

Dua om-om laknat itu hangus karena ledakan, wajah mereka kotor karena abu dan rambut mereka keriting nyaris afro. Sasuke dan Hinata melihat ke belakang, ingin tahu siapa yang berani meledakkan ayah mereka.

Berdiri di sana, pemuda yang matanya mirip Hinata, berambut gondrong dan dia mengenakan yukata biru muda yang tampak murah. Dia Neji Hyuuga, sepupu Hinata.

"Hentikan pernikahan ini! Aku tidak terima Hinata menikah dengan Uchiha!" kata Neji lantang, dia menatap tajam Sasuke yang juga membalas tatapannya.

Hinata ingin bertanya banyak pada Neji, tapi yang keluar hanya, "Neji-nii!"

Neji menutup matanya sejenak, kemudian menatap Hinata, "satu-satunya orang yang boleh menikahi Hinata, hanya aku."

.

.

.

つづく

Hidup itu... merepotkan ya? Ckckck