HunHan

.


Luhan merasa tertekan sepanjang hari itu setelah ia menerima telepon dari orang tuanya. Dia tidak bisa duduk diam sejak itu dan Sehun tidak membantu malah menontonnya dengan pandangan terhibur. Melirik tajam padanya, Luhan menghela napas sebelum berjalan ke sofa. Setelah cukup dekat, Sehun mengulurkan tangan dan menarik Luhan, membuat ia duduk di pangkuannya. Menciuminya di tengkuk, Sehun meneruskan kecupan bibirnya sampai ke bahu Luhan. Sial, dia sangat ingin mencekik pria ini. Disini dia sedang stres dan Oh Sehun malah horny.

Alih-alih mencekik Sehun Luhan hanya menyikutnya, karena ia masih ingin anaknya memiliki seorang ayah. "Aku—kau tidak membantu!"

"Lu, semuanya akan berjalan baik nanti. Kau tidak perlu membuat dirimu stres berlebihan seperti ini—"

"Kau—kau tidak mungkin!" Luhan mendorongnya, menatap dia tidak percaya. "Kau pikir kau hanya bisa berjalan ke rumah orang tuaku, memberi mereka senyuman dan mengharapkan mereka menerimamu tanpa bertanya apapun?"

"Yahh—"

"Tidak, jangan menjawab itu!" Luhan menunjuk, tahu tanggapan yang akan pria ini berikan. "Kau yang akan menemui orang tuaku, kenapa juga aku yang lebih tertekan disini sementara kau tampak tidak peduli sedikitpun?"

"Lu—"

"Lupakan saja, lakukan apapun yang kau inginkan. Aku tidak peduli, kau mengacaukan pertemuan ini. Lihat apa nanti aku akan peduli saat orang tuaku menendangmu keluar dari rumah." Luhan menarik napas menenangkan diri.

Mendesah jengkel, Sehun memeluk Luhan dari belakang dan menyatukan tangannya yang besar di perut Luhan. "Sayang, tidak ada yang bisa kita lakukan jika orang tuamu tidak menyukaiku. Tapi aku berjanji aku akan menunjuka sikap terbaikku, oke?"

Luhan mengatupkan bibirnya tegas, "Bagaimana jika mereka tidak mau kita bersama?"

"Sayang," suara Sehun melembut dan dia membalikan tubuh Luhan sebelum menyatukan dahi mereka. "Jangan khawatir, Oke? Aku tidak akan membuatmu memilih antara orang tuamu atau aku dan aku percaya orang tuamu tidak akan mau melakukannya juga, karena kami mencintaimu."

"Tapi bagaimana kalau mereka—"

"Lalu aku akan melakukan apapun dengan kuasaku untuk membuat mereka menerimaku karena aku tahu betapa kau mencintai orang tuamu." Sehun mencium dahinya dan Luhan tersenyum malu sekaligus senang.

"Aku bereaksi berlebihan lagi, ya?" Luhan membenamkan wajahnya di leher Sehun, kenapa aromanya begitu menyenangkan? Luhan tidak pernah beraroma seperti ini, bahkan ketika ia menggunakan cologne yang sama dengan Sehun. "Aromamu menyenangkan,"

"Shh, jangan bahas itu," Sehun mengatakan kepadanya. "Aku mencoba untuk menghiburmu jadi—"

"Bagaimana kalau menghiburnya di kamar saja?" Luhan mengulurkan tangan untuk memberikan Sehun ciuman. Ciuman yang dalam dan menyeluruh membuat mata Sehun gelap oleh nafsu.

"Keinginanmu adalah perintah bagiku," Sehun tidak membuang-buang waktu lagi, ia membawa Luhan ke kamar tidur mereka.

.


Sehun memang muncul dengan pesonanya, dan dia bersikap sangat baik hari ini. Dia hormat dan sopan, tidak menunjukkan kejengkelannya tidak peduli apapun pertanyaan yang di berikan orang tua Luhan padanya. Sehun menerimanya, dan menjawab dengan sopan.

Dia bahkan memegang tangan Luhan, meremasnya secara berkala untuk meyakinkan dia bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Luhan bangkit hendak mencuci piring hanya untuk kemudian mendapati orang tuanya dan Sehun yang menyuruh dia untuk duduk.

Dia hanya merengut jengkel sebelum menyusun piring dan membawanya ke dapur. Ketiganya tersenyum geli namun akhirnya mereka membiarkannya juga. Ibu Luhan mengikutinya ke dapur dan hendak mencuci piring ketika Luhan dengan sukarela ingin melakukan itu.

"Sayang, kau bisa mengeringkan ini untukku bukan." kata ibunya sementara dia mengenakan sarung tangan karet. "Apa yang kau pikirkan, sayang? "

Tentu saja, ibunya tahu Luhan ingin bertanya sesuatu. "Apa yang Mama pikirkan tentang Sehun?"

"Yang pasti dia bukan orang yang akan Mama pilih untukmu." Ibunya mengaku dengan jujur. "Dia tipe orang yang membuatku akan memberitahu anak-anakku untuk menjauh darinya, dia kabar buruk. Dia adalah 'anak nakal' dan semua orang tua pasti akan melindungi anak-anak mereka darinya, terus terang, dia tidak cukup baik untukmu. Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka."

"Tapi Ma—"

Memberinya senyum lembut, ibu Luhan ini melepas sarung tangannya sebelum memeluk anaknya. "Tapi dia membuat bayiku sangat senang dan untuk itu aku bersedia mengabaikan segalanya. Kau harusnya melihat bagaimana dirimu berbinar setiap kali dia di dekatmu dan senyummu, senyum itu yang memberitahuku bahwa kau sempurna bersamanya. Aku tidak akan pernah bisa menyalahkan dia jika ia mampu membuatmu tersenyum seperti itu."

Mata Luhan mulai berair. "Aku bahagia, aku bahagia bersamanya. Dia—"

"Dia melihatmu seolah kau segalanya yang dia inginkan." Ibu Luhan menyelesaikan kalimat untuknya. "Mama minta maaf karena kami tidak bisa ada untukmu saat kau kecil, kami egois dan jika diberi kesempatan, Mama akan kembali ke masa itu dan merawatmu dengan lebih baik."

"Ma, tidak apa-apa. Kau melakukannya dengan baik." Luhan menggeleng.

"Sekarang, kau tidak perlu memikul segalanya sendiri." Ibunya menangkup wajah Luhan dengan lembut. "Jika kau terjatuh, dia akan berada disana untuk menangkapmu tanpa gagal."

.

Sehun berjalan padanya saat melihat dia keluar dari dapur, ada senyum di wajah ibunya ketika dia duduk di samping ayah Luhan. "Sayang, kenapa kau tidak mengajak Sehun berkeliling?"

"Tentu!" Luhan meraih tangan Sehun, bersemangat ingin menunjukkan padanya ruang kerja ibunya. Ibunya adalah seorang pelukis luar biasa dan Luhan beruntung mewarisi sedikit bakat darinya. Ruang kerja itu sebagian besar diisi lukisan ibunya. Orang-orang memasang harga tinggi untuk lukisan-lukisan itu, ketika dia membawanya pada lelang atau pameran, tapi Ibunya menolak untuk menjualnya karena karya terbaiknya sering kali menjadi kenangan dan ia ingin mempertahankan itu.

"Apa yang kau dan Papaku bicarakan?" Luhan bertanya ketika mereka dalam ruangan. "Kau tidak mengatakan apapun yang mengecewakannya, kan?"

"Tidak juga," jawab Sehun. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."

Memutuskan untuk percaya pada Sehun, Luhan menarik Sehun ke dalam ruangan. Di tengah ruangan, ada sebuah lukisan besar Luhan yang berjongkok dengan kameranya, tampak sedang memotret.

Itu indah karena ibu Luhan berhasil melukisnya dengan detail sempurna. Tapi yang paling Sehun sukai adalah senyum di wajah Luhan; mempesona dan cerah. "Apa kau pikir ibumu akan bersedia untuk menjual yang itu?"

"Apa yang akan kau lakukan dengan itu?" Luhan mengangkat alisnya.

"Rahasia," Sehun menempatkan ciuman di bibir Luhan.

.

Kunjungan berakhir dengan baik dengan Orang tua Luhan mengantar mereka sampai beranda. Luhan melambai dari mobil hingga mereka menghilang dari pandangan. Dia mencintai orang tuanya tapi mereka tidak selalu ada untuknya ketika ia masih kecil.

Setelah neneknya meninggal, Luhan sudah mulai hidup sendiri sementara orangtuanya mengunjunginya dari waktu ke waktu. Dia tidak pernah membenci mereka meski begitu, ia tahu bahwa mereka memiliki jiwa bebas dan tidak menginginkan untuk terikat.

Meninggalkan Luhan di belakang, orang tuanya melakukan perjalanan keliling dunia dan mengiriminya kartu pos ketika mereka tidak bisa kembali untuk melihat dia tepat waktu. Mereka melewatkan kelulusannya, itu—hentikan. Luhan memejamkan mata, itu semua masa lalu dan ia tidak pernah menumbuhkan rasa dendam pada mereka.

Orang tuanya tidak pernah kejam padanya, memastikan ia memiliki atap serta uang yang cukup. Mereka melakukan semua yang mereka bisa kecuali untuk—

"Lu, apa yang kau pikirkan?" Sehun bertanya lembut, membawa dia keluar dari lamunannya.

"Aku ingin kita berdua berada disana untuk adik bayi, aku ingin kita berdua berada disana untuk melihatnya tumbuh dan untuk mengawasinya agar—" Luhan menelan ludah ketika melihat Sehun menatapnya lembut.

"Orang tuamu mencintaimu, kau tahu itu?" Sehun meraih kedua tangan Luhan.

"Aku tahu, tapi—itu sangat bodoh. Saat aku kecil, aku merasa seolah aku ditinggalkan. Aku pikir aku adalah beban untuk mereka dan aku takut karena aku sendirian, aku tidak punya seseorang yang bisa dihubungi—"

"Sayang," Sehun mengambil tangannya dan menciumnya. "Kau punya aku sekarang."

"Aku pikir alasan kenapa aku bebas sekarang adalah karena mereka, itu adalah hal yang baik meski begitu. Hanya saja ada saat ket—ketika aku ingin menghubungi mereka dan memberitahu mereka betapa aku kesepian, aku ingin memberitahu mereka jika aku merindukan mereka atau hanya ingin mereka bicara karena aku ingin mendengar suara mereka." Luhan mengaku sesuatu yang dia tidak pernah katakan kepada siapapun sebelumnya. Ketakutan masa kecilnya baru saja terdorong keluar, kalimat yang telah terkubur jauh di dalam dirinya sampai sekarang.

"Kau bisa menghubungiku," Sehun memperketat pegangannya di tangan Luhan. "Kau bisa menghubungiku kapanpun kau mau, untuk sisa hidupmu. Jika kau merindukanku atau ingin mendengar suaraku atau hanya ingin memberitahuku hal-hal random, kau bisa menghubungiku dan memberitahuku tentang itu. Aku tidak bisa berjanji padamu akan selalu bisa menjawabnya tapi aku pastikan aku akan menghubungimu kembali."

"Sehun." Suara Luhan melembut sementara ia bersandar padanya dan lengan Sehun memeluknya secara otomatis.

"Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti." Sehun berkata padanya lembut, menekan ciuman ke rambutnya. Luhan menutup mata dengan senyuman di wajahnya.

Hangat, terlindungi dan yang paling penting, dicintai.

.


(T/N: Tuhankuuuu T.T)


~Side Story~


[Drabble] Malam itu (ini malam dimana Sehun mengantarkan Seoyeon ke hotel, dan Luhan curiga ada bau parfum perempuan itu di blazer-nya)

Seoyeon menyaksikan Luhan pergi dengan senyum; senyum terselubung, karena dia tidak mungkin menunjukannya dengan jelas. Sekarang, dengan si penghalang yang sudah pergi, akhirnya dia bisa memulai rencananya.

"Sehun, aku—orang hamil bisa agak emosional, benarkan?" Seoyeon berkata dengan suara paling simpati.

Sehun tidak mengatakan apapun sementara ia melanjutkan makannya, tapi cara dia melirik ke arah yang dituju Luhan menunjukan bahwa dia tidak memberi perhatian. Tidak senang di abaikan, Seoyeon bergerak ke kursi yang lebih dekat dengan Sehun.

Menempatkan tangan di lengannya, dia mengedipkan bulu matanya yang lentik. "Jangan terlalu khawatir. Dia akan baik-baik saja."

"Aku sudah memesan kamar di sebuah hotel terdekat untukmu—"

"Tapi aku pikir aku akan tinggal di sini?" tanya Seoyeon. "Aku—aku tidak bisa tinggal di sini?"

"Luhan tidak menyukainya," kata Sehun. Seoyeon mendidih karena Sehun yang ini bukan Sehun yang dia kenal. Sehun yang ini lembut, dia menjadi lembut dan itu semua karena si penyusup. "Ayo selesaikan makanmu, aku akan mengantarmu ke hotel."

"Kau sudah berubah," Seoyeon meletakkan peralatan makannya.

"Aku masih Sehun yang sama." Ia menjawab, nadanya dingin. "Aku masih tidak akan ragu untuk memotong siapapun jika mereka berani melewati batas. Semua orang sialan, aku tidak peduli, tetapi Luhan istimewa. Jika ada yang berani menyentuhnya, aku tidak akan menunjukkan belas kasihan. Tidak akan sedikitpun."

Seoyeon tampak memucat, apa Sehun sudah tahu apa yang ia lakukan? Tidak, dia tidak tahu.

Dia memastikan untuk menutupi perbuatannya dengan sempurna, jadi kenapa dia terlalu mengkhwatirkan itu?

Memasang senyum, dia membawa gelas anggur ke bibir dan meneguk isinya. "Kau benar-benar sangat menghargai dia—"

"Dia adalah hidupku," Sehun memotong dan Seoyeon semakin membenci orang itu. "Selesai? Ayo pergi."

.

Seoyeon merasa tidak nyaman di perjalanan menuju hotel. Sehun belum melunak, ia masih Sehun lama yang sama. Sisi kepeduliannya hanya diperuntukkan untuk orang itu, dan bukan untuk orang lain. Yang membuat Seoyeon marah adalah kenapa orang itu bisa sementara dia tidak?

Dia cantik, cekatan dan cerdas. Sederhananya, dia adalah pilihan yang terbaik diantara mereka berdua. Terlebih dia telah mengenal Sehun sejak beberapa tahun yang lalu dan ayahnya memiliki kesepakatan bisnis dengannya.

Tidak, ia menolak untuk percaya bahwa dia kalah...ini kesalahan. Sementara Sehun mengantar dia ke kamarnya, wanita itu mencoba mengundang dia kedalam untuk minum kopi. Seperti yang diduga, dia menolak dengan dinginnya. Mungkin itu karena alkohol yang baru saja dia minum membuatnya berani berjalan maju dan memeluk Sehun.

Tangan Sehun tidak membalas pelukannya, dia berdiri diam. "Apa yang kau pikir, kau lakukan?"

"Aku—aku merindukanmu—"

"Aku kira itu sudah jelas terakhir kali aku bilang, aku tidak tertarik padamu: tidak sekarang dan tidak akan pernah sampai kapanpun," kata Sehun jengkel sebelum mendorongnya. Memberi satu silau terakhirnya sebagai peringatan, ia berjalan pergi meninggalkan Seoyeon yang marah dan mulai menyusun rencana untuk menyingkirkan saingannya.

.


[Drabble]

Luhan jarang pergi ke tempat kerja Sehun, ia dalam suasana hati yang baik jadi dia memutuskan untuk memasak sesuatu untuk Sehun.

Setelah selesai penyiapkan kotak makan siang, ia menghubungi Sehun, yang menjawabnya pada dering pertama. "Apa kau sudah makan?"

"Aku baru mau melakukannya, apa kau sudah makan?" Sehun balik bertanya dan Luhan mendengar gemerisik kertas. "Aku merindukanmu."

"Kau melihatku pagi ini," Suara Luhan melunak. "Aku merindukanmu juga."

"Bagus." Sehun memberinya satu kata untuk menjawab. "Apa yang kau rencana lakukan sekarang?"

"Ayo makan siang bersama," Luhan berkata.

"Tentu, aku akan menjemputmu—"

"Kau tidak perlu—"

"Aku tidak ingin kau mengemudi atau naik transportasi umum." Sehun menghela napas.

"Baiklah, kau bisa mengirim seseorang untuk menjemputku. Tapi jangan Jongin." Luhan memperingatkan dan mendengar tawa lembut Sehun. Hatinya menghangat mendengar suara tawa itu; ia sangat menyukainya.

Meskipun menjadi seorang mafia, Sehun memiliki perusahaan sendiri. Di atas kertas, dia adalah CEO dari perusahaan ini tapi dalam kenyataannya, itu tidak terjadi. Berjalan ke gedung perusahaan, resepsionis tersenyum pada Luhan sebelum membawanya ke lift VIP.

Luhan menuju ke lantai paling atas dan meski sudah disini beberapa kali, ia masih tidak bisa mengenyahkan pikiran tentang bagaimana tempat ini hanya berbau tahta dan uang. Itu bagus dan ia bangga pada Sehun karena mampu mencapai ini, meskipun itu melalui cara-cara ilegal.

Sekretaris Sehun melihatnya dan akan menginformasikan pada Sehun ketika Luhan menggeleng. Mengerti, sekretaris itu mengangguk dan Luhan membuka pintu. Setelah Sehun melihatnya, dia berjalan pada Luhan segera. Memeluknya, dan menempatkan ciuman di dahinya. "Aku merindukanmu."

Luhan menarik tangannya, membawa ia ke meja di sisi ruangan sebelum meletakkan kotak bekal. "Ayo, mari kita makan karena kau masih harus mendapatkan lebih banyak uang untuk kita."

Setelah memberikan Luhan ciuman lain di bibirnya, Sehun mulai makan. Itu tidak sampai kemudian Luhan melihat lukisan di dinding. Dia bisa merasakan air mata mendesak matanya karena lukisan itu sama persis dengan lukisan ibunya yang ia tolak untuk jual. Sekarang dengan bangga dipasang disini di ruangan Sehun.

"Bagaimana—"

Sehun mendongak dan melihat kearah tatapan Luhan. "Aku bisa sangat persuasif ketika aku menginginkan sesuatu. Aku hanya ingin melihatmu—bahkan ketika kau tidak disini bersamaku."

"Idiot," Luhan menggerutu tapi dia masih tersentuh oleh pria di depannya. Pria ini yang begitu mencintainya, pria yang menerima semua kekurangannya dan masih mencintainya dengan itu. Berdiri, ia mendekat pada Sehun dan memeluknya erat-erat.

Kata-kata tidak diperlukan, pelukan dan ciuman sudah menunjukkan pada Sehun betapa Luhan mencintainya.


~Side Story End~


.


Aneh.

Sehun bersikap tidak biasa dan ini sangat membuat Luhan khawatir. Dia lebih sibuk dari biasanya, sering pergi meninggalkan Luhan makan malam sendirian. Sekarang, rasanya seolah ada dinding penyekat diantara mereka, dinding yang tidak pernah diharapkan untuk ada. Luhan takut, karena apa ini gambaran untuk masa depan mereka? Dia ingin Sehun duduk dan bicara dengannya tapi dia tidak bisa melakukan itu.

Bagaimana mungkin?

Sehun selalu pulang, dengan tampang lelah. Kadang sekali atau dua kali dia tidak pulang sama sekali. Dan kemudian, pada hari berikutnya, Luhan akan menemukan dia penuh dengan plester. Apa yang Sehun lakukan? Luhan sangat ingin tahu tapi ia takut untuk tahu jawabannya.

Maka, ia menutup mulutnya dan memainkan peran sebagai suami yang sempurna. Satu hal tentang cinta yang ia pelajari adalah bagaimana itu membuatnya rentan. Hatinya sakit ketika ia melihat bagaimana lelahnya Sehun, hatinya juga sedikit retak ketika ia melihat Sehun terluka.

Dia ingin menghiburnya, membawa ia dalam pelukannya dan meyakinkan dia bahwa semuanya akan baik-baik saja tapi Luhan tidak mampu untuk melakukan itu. Itu menyakitinya lebih dari apapun karena ia tidak mampu melindungi pria itu dengan cara yang sama seperti Sehun melindunginya.

Luhan mendesah: ia berada di empat bulan kehamilannya. Kehamilan ini sangat mempengaruhi dia dan Luhan menemukan dirinya lebih sering tidur daripada tidak. Ada saat-saat ketika dia menonton televisi dan tanpa sadar, ia tertidur.

Tidak peduli berapa banyak ia mencoba untuk terjaga dan menunggu Sehun pulang, keesokan harinya, ia akan menemukan dirinya di tempat tidur dan Sehun tidak lagi terlihat. Dia merindukan Sehun. Kapan terakhir kali tepatnya ia bicara dengan tunangannya itu?

Air mata mendesak keluar dari kelopak matanya dan Luhan menggigit bibirnya saat ia mencoba untuk menahannya jatuh.

Apa gunanya menangis?

.

Luhan terbangun dari tidurnya saat ia merasakan kedatangan Sehun. Dengan masih mengantuk, ia melingkarkan lengannya di leher Sehun sebelum mencium pipinya. aroma Sehun mengelilinginya dan rasanya seperti di rumah.

"Kau kembali," gumam Luhan dengan suara mengantuk. "Aku merindukanmu."

"Aku merindukanmu juga." Terdengar suara lembut Sehun saat ia menekan ciuman di bibir Luhan.

"Kalau begitu—jangan pergi bekerja besok. Tetap disini bersamaku." Luhan mencoba melepas dasi Sehun dengan sembarangan.

Sehun meraih tangan Luhan sebelum menempatkan jarinya di bibir Luhan menghentikannya untuk protes. Melepas dasinya sendiri, Luhan melanjutkan untuk membuka kancing kemeja Sehun. Bangun, ia berlutut di tempat tidur saat ia menempatkan bibirnya di leher Sehun.

Ciumannya bergerak ke bawah, Luhan memastikan untuk ia meninggalkan jejak. Bersandar, Luhan mengangguk puas untuk pekerjaannya ketika seringai terbentuk di wajah Sehun. Mendorong Luhan di atas tempat tidur, Sehun melumat bibir Luhan dengan rakus.

Ciuman ini membuat Luhan terengah-engah dan merasakan bagian bawahnya merespons. Keduanya bernapas berat sementara Sehun berbisik di telinga Luhan. "Jangan memaksakan diri, aku tidak mau kau kelelahan."

Menanggapi itu, tangan Luhan bergerak turun meraih tonjolan di balik celana Sehun. "Tapi aku mau ini, aku merindukanmu berada di dalam diriku dan—"

"Luhan—"

"Kumohon?" Kata Luhan lembut.

"Jangan menyalahkanku besok pagi." Sehun memperingatkan dan Luhan mengangguk senang.

.

Setelah semalaman bercinta, Luhan bangun merasakan tubuhnya benar-benar sakit, tapi ia senang dan terpuaskan. Tubuhnya lebih santai dan dia berada dalam mood yang baik. Hendak mandi, ia menutupi dirinya sebelum kakinya tergelincir pada sepasang sandal berbulu. Berjalan keluar dari kamar, ia menuju ke dapur untuk melihat Sehun memasak.

Luhan mendesah karena itu adalah pemandangan yang baik di pagi hari, dia tidak keberatan bangun untuk pemandangan ini selama sisa hidupnya. Menoleh melihat Luhan, Sehun tersenyum cerah sebelum membuka tangannya.

Luhan tidak ragu berjalan mendekat dan menyandarkan kepalanya di dada Sehun. "Kenapa kau tidak bekerja hari ini?"

"Karena aku belum melakukan tugas baruku sebagai suami yang baik." Sehun mencium puncak kepala Luhan. "Aku akan melakukan itu hari ini."

"Sehun," Luhan ragu dengan pertanyaannya sebelum melanjutkan. "Apa yang membuatmu begitu sibuk akhir-akhir ini?"

"Bagaimana menurutmu tentang bermigrasi?" Sehun menjawab dengan pertanyaan lain.

"Apa yang harus kita lakukan dengan itu?" Luhan mengerutkan kening.

"Karena kita akan meninggalkan semuanya dan mulai hidup baru. Aku sudah mengakhiri semuanya disini karena aku menginginkan lingkungan yang aman untuk bayi kecil kita." jawab Sehun. "Kemana kau ingin pergi?"

Luhan mengerjap air matanya kembali, "Aku tidak peduli dimanapun selama ada kau disana."

Pria di depannya, pria indah yang telah menyerahkan segala sesuatu untuknya, pria yang hanya ingin yang terbaik untuk Luhan, pria yang mencintai Luhan tanpa syarat, itu membuat Luhan menyadari sesuatu.

Sepanjang dia mencari rumah, pada akhirnya ia menemukannya di pelukan pria ini yang mencintai setiap bagian dari diri Luhan.

Aku di rumah.

.


~TBC~


Ini 3 Bab di jadiin satu. Besok 3 Bab terakhir juga akan dijadikan satu.

Nah, terimakasih untuk fav, fol, ripiu. Pokoknya semua pembaca terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk baca sampai sini.

Spoiler untuk chapter terakhir; sudut pandang Pak Joni, dan akan ada Kaisoo. Yeay!


520!