"Tidak, Sasuke.. problem solve."
"Huh?" Sasuke memandang Sakura heran.
'Yah, mungkin saatnya kau menjadi mak comblang mereka ya?'
Disclaimer : All is belong to Mr. Kishimoto, I just borrow its chara, but, My Sensei is mine.
Rate : T
Genre : Another Romance and Drama
WARNING : OOC, OC, AU, a little bit GaaSaku and maybe ItaSaku, but as always, it return to SasuSaku!
Don't Like, Don't Read!
But..
ENJOY!
Chapter 10 – Rasa apa?
Sudah seminggu berlalu sejak Sakura mengetahui kebenaran dari perasaan Gaara dan Hinata.
Hari ini, hari Minggu. Pukul lima sore. Tumben-tumbennya, hari ini sang bos tersayang di BlackCat Cafe sedang memberikannya libur. Jadi, hari ini Sakura tidak melakukan apa-apa. Well, kecuali kalau membersihkan apartemennya dan juga belanja sebagai suruhan Sasuke disebut sebagai melakukan 'apa-apa'.
Aneh. Minggu ini, seminggu setelah dirinya yang menangis di pelukan Sasuke, ia dan gurunya itu makin dekat. Saat di sekolah, tidak lagi saling mengadu death glare, tapi saling menyapa. Walau masih sebatas "Siang, sensei" yang dibalas juga dengan "Siang, Haruno". Tapi, kalau diluar sekolah, Sakura tidak akan segan-segan memanggil gurunya dengan panggilan 'Sasuke', bahkan memakai kata 'gua-elu'. Malah, pernah mereka berdua berdebat dengan bahasa Prancis mengenai musik-musik Mozart. Karena, diluar dugaan, Sasuke begitu lancar bermain dengan bahasa Jepang, Inggris, Spanyol dan Prancis! Entah dengan cara seperti apa lagi Sakura dikejutkan.
Walau Sakura terkenal dengan ke-'bengal'-annya, tapi kejeniusannya bisa membuat orang terkesima. Dilihat dari pakaiannya, yang kadang tidak mau memakai jas sekolah, hanya kemeja putih dan rok kotak-kotak, itu juga kemejanya keluar di bagian belakang, juga tidak memakai dasi, kebanyakan orang akan mengira dirinya adalah seorang cewek tukang dandan lha, anak clubbing lha –yang ini dia mengiyakan- dan berotak kosong. Yah, tapi tanggapan mereka salah. Kalau saja Sakura sengaja menonjol di bagian akademis, pasti akan menjadi siswa teladan –siswa teladan angkatan mereka Gaara, karena Shikamaru terlalu pemalas untuk mengikuti berbagai perlombaan-. Tapi sayangnya, sepertinya Sakura lebih memilih menorehkan banyak insiden daripada menorehkan prestasi.
Selama perjalanan dari supermarket ke apartemen Sasuke, Sakura bernyanyi-nyanyi kecil. Beruntung –atau tidak- minggu ini, saat ia bermain Streetbasket, ia selalu menang. Atau mungkin karena Sasuke tidak ada? Maklumlah, gurunya sedang sibuk dengan tetek-bengek arsip perusahaan yang dititipkan Itachi kepada Sasuke selama beberapa bulan Itachi kuliah lagi.
Bagaimana Sakura tahu? Dari Itachi? Boro-boro, bertemu saja tidak. Rupanya, kakak semata wayang Sasuke itu sedang kuliah di NY, yang mengingatkan Sakura akan kenangan manisnya di sana. Jadi, dari siapa?
Sekitar seminggu setelah insiden itu, hari Minggu, Sakura yang sedang main di apartemen Sasuke untuk meminjam biola karena salah satu senar biolanya ada yang putus, Sasuke, yang sedang di ruang kerjanya, tiba-tiba mengumpat dan terdengar bantingan sesuatu. Dengan cepat, karena reflek, Sakura beranjak menuju ruang kerja Sasuke.
"Ada apa?" tanyanya saat Sakura sampai di ambang pintu.
"Hn," jawaban pendek dari Sasuke, sambil menengok kearah tumpuka kertas di mejanya.
Sakura mengangguk perlahan, "Oh, karena itu? Kupikir tuan Sasuke yang perfect bisa mengerjakan apa saja!"
"Hmph!" Sasuke mendengus. Perfect? Itu 'kan sebutan untuk Uchiha yang lain, bukan untuk dirinya! "Sempurnya? Mengerjakan apa saja? Memangnya aku ini apa? Manusia super?"
"Bukannya memang?" balas Sakura.
"Memang bukan! Aku ini 'kan manusia!"
"Bukannya bukan?"
"Grrr.." Sasuke menggeram kesal. Kalau berdebat dengan Sakura tidak akan ada habisnya!
"Masih mending aku, daripada kamu yang tidak bisa apa-apa!"
"Memangnya aku tipe orang yang tidak bisa apa-apa?"
"Iya!"
"Lalu, semua prestasi-prestasiku? Sekolahku? Itu yang namanya 'tidak bisa apa-apa'?"
"Urgh..." sekarang Sasuke menyesal karena sudah membalas. Sekarang, mau dikemanakan mukanya?
"Huahahahaha! Seharusnya kau lihat mukamu, Sas!" tawa Sakura pecah setelah ia tidak tahan melihat muka Sasuke yang kacau dan memerah.
"Berhenti tertawa!" seru Sasuke sambil berusaha menutupi rona merah yang sudah menjalar di mukanya.
"Hahaha.. makanya, jadi orang jangan kerja terus! Workaholic banget sih! Main dong!" ledek Sakura.
Baru sekarang Sasuke bisa membalas. "Woo, daripada orang yang bisanya main terus, kerja enggak!"
"Terus, aku main piano di cafe dan dapet uang namanya bukan kerja!"
Sekarang, Sasuke berfikir kenapa Sakura tidak jadi seorang pendebat saja? Semua perkataannya dapat dibalas!
"Grr.. sudahlah!"
Dan, Sakura pun kembali tertawa, membuat wajah Sasuke memerah.
"Ah, sudah sudah! Berhenti tertawa! Dan.. apa yang kau lakukan disini?"
Sakura mengangkat biola yang sedang dipegangnya. "Pinjam ini. Punyaku senarnya ada yang putus, belum sempat ganti."
"Hn."
"Dan, tumpukan kertas apa itu?" selidik Sakura, lalu tiba-tiba raut mukanya menjadi kesal, "Bukan soal ulangan kan?"
"Bukan lah, jelas!" jawab Sasuke jengkel. Kalau kertas ulangan mah, ia tidak perlu se-depresi itu!
"Lalu?"
"Si baka aniki yang sekarang tiba-tiba pergi kuliah keluar negeri itu tidak sedang ingin diganggu, termasuk masalah perusahaan. Jadi, seluruh tetek bengek perusahaan diserahkan kepadaku. Huh, bete! Bosan!"
Sakura tersenyum mendengar keluhan dari sang guru. "Hahaha.. Sasuke, Sasuke. Memangnya sesusah apa sih?" katanya sambil berjalan menuju meja kerja Sasuke, sementara orang itu sendiri hanya merengut kesal.
Sakura melihat-lihat kertas itu. Ia sedikit mengerti, karena ia dulu pernah melihat cara kerja Sarutobi, teman ayahnya sekaligus orang yang membantunya dulu saat kedua orangtuanya meninggal. Sarutobi adalah seorang pengusaha di Eropa. Saat mereka berlibur selama beberapa bulan ke sana, Sakura sering melihat kerja Sarutobi karena dulu ia sedikit tertarik.
"Hm.. rumit juga." Gumam Sakura, sedikit tidak terdengar.
"Ya, tentu saja rumit! Karena baka aniki itu memberikan SEMUA berkas. Huh, sial. Semoga saja Sai bisa membantuku.." gerutu Sasuke dengan nada kesal.
"Hahaha.. semoga. Nah, santai dulu yuk! Bantu gua ngerjain tugas yaa~"
"Hn."
Walau otaknya berteriak agar segera menyelesaikan tugas, tapi hatinya membisiki dirinya untuk mengikuti Sakura. Dan akhirnya ia menyambut uluran tangan Sakura.
Sakura sendiri? Entah mengapa, rasanya aneh menggenggam tangan gurunya. Tangan dingin, tapi entah mengapa ia suka. Ingin sekali ia genggam terus. Tapi ia tolak. Menolak perasaan aneh yang berkecamuk di hatinya saat bertemu dengan Sasuke.
Akhirnya malam itu Sasuke dan Sakura berdebat di ruang tengah apartemen Sasuke sambil tertawa-tawa dan bercanda.
"Jadi, bagaimana persiapan festival?"
Sakura mengeluarkan beberapa kertas dari tas kecilnya, lalu menyodorkannya kepada Sasuke. "Menurutmu, mana yang bagus untuk bagian Juliet bertemu dengan Romeo? Lagu ini, atau yang ini?"
Sasuke menerima sodoran kertas dari Sakura. Lalu ditelitinya kertas itu, dan berfikir sejenak."Hmm... menurutku yang ini." Katanya sambil menunjuk kertas ketiga.
"Oh? Feel My Soul-nya YUI? Tapi akustiknya? Boleh lah. Bagus. Oke, kalau misalnya dansanya?"
"Debussy saja. Santai dan tenang."
"Hem... aku juga setuju sih. Lalu, saat Romeo pergi?"
Sasuke meneliti kertas di depannya. Hem.. apa ya?
"When You're Gone, Avri Lavigne. Tapi tanpa lirik. Bagus tuh."
"Ya, yang lain juga sudah setuju. Dan menurutku, yang terakhir sebagai penutup, You Raise Me Up versi Jepang-nya Inori saja. Itu kan dipakai di anime Romeo x Juliet. Keren nih!"
"Hn, terserah."
"Sip!"
"Yang lainnya sudah oke?"
"Yup! Hinata sudah membikin naskahnya, dan kita sudah mulai berlatih sejak dua minggu yang lalu. Hinata cepat sekali selesainya, hanya butuh waktu tiga hari! Mungkin, katanya sih karena ia juga melihat naskah drama asli Romeo and Juliet. Bagus banget deh! Latihannya juga lumayan, mereka sudah hafal bagian-bagian masing-masing. Tinggal diperlancar saja."
"Baguslah."
"Yah, begitu sih. Tapi, apa benar mengenai bahwa nanti akan tampil solo?"
"Hn."
"Huh, dasar guru sadis!" Sakura merengut kesal. Walau dulu ia sering konser, dan beberapa minggu yang lalu identitasnya diketahui teman-temannya, tetap saja tampil solo itu menyebalkan!
"Yah, itu kan untuk membuatmu kesal." Sasuke menyeringai iblis.
"Cih, menyebalkan."
"Jadi, apa yang akan kau tampilkan?"
Sakura mengangkat bahunya. "Tidak tahu. Tahun lalu aku bolos sih."
"Ck, dasar. Tahun ini kuperintahkan kau untuk ikut!"
"Apa maksudmu memerintahkanku, ha?"
"Huh, aku ini majikanmu tahu!"
Sakura menepuk jidatnya. Dia lupa! Bahwa perjanjiannya baru berlangsung selama sekitar satu bulan. Masih ada waktu sebulan lagi baginya untuk lepas dari kekangan sang majikan!
"Hem... mungkin piano. Paling Rachmaninoff lagi." Sakura mengangkat bahunya tak peduli.
"He? Rachmaninoff itu kan sulit!"
"Ya sih, tapi aku kan sudah pernah memainkannya dulu."
"Tapi itu kan dulu. Setidaknya bawakan saja lagu Lullaby."
"Terlalu gampang. Toh aku masih ingat."
"Sombong sekali nadamu."
"Hahaha... maklumlah."
"Hn."
"Ayolah, bantu aku menyempurnakan lagu ini!" seru Sakura sambil menarik lengan Sasuke memasuki ruang musik di apartemennya, sambil membawa beberapa partitur. Dan Sasuke tak kuasa menolak. Bagaimana ia bisa menolak, kalau lengannya di cengkram keras?
"Heh, kalau kau ingin menarikku, jangan memegang lenganku seolah-olah aku ini tahanan, tahu?"
"Iya iya, huh dasar tukang protes."
"Apa kau bilang?"
"Ti-tidak, Sasuke-sensei, hehehe," jawab Sakura semanis mungkin, begitu ia mendengar ada nada iblis dalam perkataan Sasuke.
"Hn."
Sakura duduk di depan piano, sementara Sasuke hanya memandangi di samping pintu.
"Yang mana dulu?"
"Dari awal."
Sakura menaruh kertas nada di penyangga, lalu jarinya di atas tuts piano. Lagu pembukaan. A Whole New World (Alladin OST). Nantinya, lagu ini akan dinyanyikan oleh dua orang di kelas dari klub musik. Temujin dan Haruhi. Mereka berdua mempunyai suara yang indah, tapi di telinga Sasuke suara Sakura-lah yang paling bagus.
"A whole new world..
A new fantastic poin of view...
No one to tell us no,
Or where to go..
Or say we're only dreaming..."
Tanpa sadar Sasuke ikut bernyanyi saat reff. Dan itu membuat Sakura kaget. Ternyata suara Sasuke bagus!
Setelah lagu itu selesai, langsung ke lagu saat Romeo dan Juliet bertemu. Feel My Soul, YUI.
'Lagunya bagus, dan ia membawakannya dengan bagus. Memang seorang jenius!' batin Sasuke melihat permainan Sakura.
Selanjutnya adalah lagu Debussy. Mengalun lembut, dan Sakura memainkannya dengan penuh penghayatan. Merasa seolah-olah ia juga sedang berdansa di ruangan yang indah, cantik, dengan seorang pangeran...
Dan entah mengapa wajah pangeran yang tiba-tiba muncul di kepalanya adalah... Sasuke.
'Tunggu. Kenapa harus dia sih? Tidak mungkin kan...' Sakura membatin kacau. Wajahnya memerah dan jantungnya berdegup lebih kencang. Hampir saja permainannya melenceng, tapi ia segera bisa menguasainya.
'Ada apa dengannya? Kenapa permainannya tadi sesaat menjadi kacau?' batin Sasuke bingung. Tapi, pikirannya itu langsung ditepis saat didengarnya permainan Sakura kembali seperti biasa.
Setelah lagu selesai, langsung lagu saat Romeo dan Juliet kabur dari keluarga mereka. Love Story, Taylor Swift.
"Romeo take me somewhere we can be alone,
I'll be waiting all this left to do is run.
You'll be the prince and I'll be the princess,
It's a love story baby just say, yes."
"So I sneak out to the garden to see you, we keep quite 'cause we're death if they knew so close your eyes, escape this town for a little while…" gumam Sasuke mengikuti nada. Tapi, tidak terdengar oleh Sakura.
"I've got tired of waiting,
Wondering if you're ever coming around.
My faith with you was, fading,
When I met you on the outskirt of town,
And I said:
Romeo save me I've been feeling so alone
I keep waiting for you but you're never come
Is this in my head I don't know what to think
He knelt to the grown and pull out a ring and said:
Marry me Juliet
You never have to be alone
I love you and that's all I really know
I talk to your dad go pick out a white dress
"It's a love story baby just say... Yes." Sahut Sasuke.
"Cause we were both young, when I first saw you." Tutup Sakura.
Tiba-tiba Sakura menghentikan permainannya.
"Ada apa?" tanya Sasuke.
"Tidak, ini salah." jawab Sakura pelan.
"Maksudmu?"
"Maksudku adalah, lagu Love Story memang tentang Romeo dan Juliet. Tapi, akhir kisah mereka bahagia. Kalau di drama ini, tidak. Romeo tetap bunuh diri dan Juliet tetap menyesal dan akhirnya menyusul Romeo. Kisah mereka tragis. Tidak, tidak. Aku harus ganti." jawabnya panjang, lalu segera mengutak-atik kertasnya, tapi seketika tangannya dihentikan Sasuke.
"Tidak usah diganti."
"Kenapa?" tanya Sakura heran.
"Karena, itulah perasaan mereka saat akhirnya menurut mereka, mereka bisa kabur dari cengkraman keluarganya."
"Hem... mungkin..."
"Yah, silahkan lanjut lagi."
Akhirnya Sakura memainkan When You're Gone-nya Avri saat Romeo ditarik kembali oleh keluarganya.
Dan terakhir, You Raise Me Up versi Jepangnya oleh Inori.
"Dan selesai!" seru Sakura senang saat lagu terakhir selesai dimainkan. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya dengan mata senang kearah Sasuke.
Sedetik, rasanya Sasuke ingin memeluk sosok dengan wajah bahagia itu. Tapi, untungnya berkat marga 'Uchiha' dan juga pengendalian diri yang dipunyanya Sasuke bisa menahan diri. Lalu berdeham.
"Em... bagus. Jelas! Yah, tapi itu kan kau yang bermain. Kalau misalnya dengan vokalnya?"
"Ya, kami sudah latihan terus kok. Dan hasilnya bagus!"
"Ya, baik-" perkataan Sasuke terpotong oleh dering handphone yang terdengar dari ruang kerja Sasuke.
"Karin?"
"Hu?" entah mengapa, sedetik ada perasaan iri dari Sakura. Karin? Ini pertama kalinya sejak Sakura bertemu dengan Sasuke cowok itu menyebut nama cewek lain!
"Karin... Sebentar ya." Lalu dengan cepat Sasuke berlari menuju ruang kerjanya dan mengangkat telepon itu. Sedetik, wajahnya dihiasi kegembiraan, membuat Sakura yang membuntuti Sasuke merasa sesak.
'Kenapa... kenapa dengan gadis itu bisa membuat Sasuke tersenyum?' batin Sakura kesal.
"Ya... ya... oke. Sip. Thanks ya! Oke. See you!" dengan kalimat terakhir itu, Sasuke menutup telepon. Tidak mengetahui bahwa Sakura memandangnya dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan.
"Kenapa, Sas?"
"Hu?" sedetik, baru Sasuke tersadar dari hal-yang-entah-apa-yang-dipikirkannya. "Tidak, tidak apa-apa." Mana mungkin Sasuke memberitahukan rencananya? Bisa-bisa gagal semua!
"Yah, ayo kembali."
Sakura lalu berjalan menuju ruang tengah, diikuti Sasuke. Lalu mereka berdua duduk di sofa, Sakura mengeluarkan beberapa kertas dari tasnya dan menuliskan entah apa di kertas itu. Sementara Sasuke memainkan handphonenya.
"Sakura?"
"Hn?"
"Kemana saja kau kemarin? Aku tidak bisa menghubungimu."
"Oh... itu..."
Pikiran Sakura melayang menuju kejadian kemarin...
Flasback
Hari Sabtu itu, Sakura dan yang lain setuju untuk mengantar Kyuubi ke bandara, karena hari ini ia akan kembali pergi ke New York.
Di jalan, mereka bernyanyi riang. Entah mengapa Kyuubi memilih duduk di samping Sakura. Sementara Sakura sih, merasa tidak apa-apa.
Sesampainya di bandara, mereka makan dahulu di salah satu restauran Jepang. Lagi-lagi, Kyuubi memilih tempat duduk di sebelah Sakura.
"Kyuu-nii, kenapa di sebelah Sakura-chan sih?" protes Naruto.
"Hem..." Kyuubi memasang tampang berfikirnya, "Kenapa ya? Lu cemburu, little ototou?"
"I'm not!" seru Naruto kesal. Lagi, gara-gara dulu Sakura merupakan cinta monyetnya, dan rahasianya itu diketahui oleh kakaknya yang bandel dan usilnya minta ampun, setelah itu Naruto selalu diejek mengenai Sakura.
"Sakuranya sendiri tidak keberatan kan?" tanya Kyuubi pada sosok yang memakai jaket berwarna putih itu. Sakura hanya mengangguk. Tapi, dalam hati ia merasa gugup sekali.
'Oh, kami-sama, kenapa Kyuubi itu keren banget?' ratap Sakura. Walau ia bukan cewek gampangan yang gampang kecantol cowok cakep, tetep aja dirinya merasa gugup dan terkesima saat ada cowok keren nan cakep didekatnya!
Abisnya, Kyuubi hari ini keren sekali sih! Memakai blue jeans belel, convers hitam-putih dengan sedikit biru tua (memang ada? Silahkan pikir sendiri deh -"), kaus berwarna merah darah dengan gambar keren, juga jaket hitam dengan sedikit garis-garis putih dan beraksen abu-abu. Wajahnya yang memang dari sananya cakep terlihat bercahaya, rambutnya yang hampir bermodel sama dengan Naruto tapi dengan sedikit gaya, berwarna kuning dengan sedikit oranye dan merah ditutupi dengan topi adidas. Ia hanya membawa satu tas ransel yang sekarang nangkring di sebelahnya dengan manis dan sebuah tas kecil berisi handphone, paspor, tiket, uang, dompet, dan lain lain. Pokoknya, bayangkan saja deh Kyuubi bergaya sangaat keren!
Belum lagi, gelang perak dan jam peraknya, dan juga kalung perak berinisial 'K' hadiah dari Sakura saat Kyuubi berulang tahun yang ke 15 menghiasi tubuhnya. Beberapa gadis yang berlalu lalang sekilah melihat Kyuubi –bukan sekilas, tapi sekali liat ngeliatin terus- dan juga memandangnya dengan tatapan pengen kenalan. Tapi, bukan Kyuubi namanya kalau terpengaruh sama para gadis itu!
"Apa benar Kyuubi akan pergi hari ini?" tanya Sakura. Ia merasa kesal karena selama Kyuubi di Jepang ia jarang banget main bersama.
"Hm.. begitulah little princesa. Kenapa? Kangen? Hahahahaha..." tawa Kyuubi terdengar, dan Sakura cemberut karena kesal. Di depan Kyuubi, ia bebas bertingkah seperti adik kecil nih!
"Hem... abis Kyuubi sudah lama gak kesini, eh guanya gak sering ketemu," gumam Sakura, tapi tetap terdengar oleh Kyuubi.
"Hem.. kau boleh kok sekali-kali mampir! Ups-" dengan cepat Kyuubi menutup mulutnya, kaget terhadap dirinya sendiri. Kenapa ia lupa bahwa di NewYork terdapat kenangan buruk Sakura!
"Tidak, tidak apa-apa Kyuu, aku sudah tidak apa-apa," gumam Sakura.
"Hem.. memang siapa yang bisa membuatmu merasa baik?" jujur, entah mengapa Kyuubi merasa tidak suka dengan kehadiran cowok yang bisa membuat Sakura setidaknya merasa lebih baik. Entah mengapa ia bisa merasakan hal yang seperti itu.
"Hem... dia guru pengganti, pasti Kyuubi sudah tahu." Suara Sakura berubah menjadi bisikan, lalu ia menjawab pelan, "Adiknya Itachi."
"Oh." Jawab Kyuubi pendek. Entah mengapa dirinya tidak suka dengan si bungsu Uchiha itu. "Uchiha lagi. Kau doyan juga ya?" tanyanya usil.
Sakura memukul bahu Kyuubi main-main, lalu tertawa. Walau entah mengapa wajahnya terasa menghangat. "Ah, apa sih? Gua sama dia cuma temenan kok! Gua deket sama dia juga karena dia udah nyelamatin nyawa gua dua kali!"
"Em... masa?" bibir Kyuubi membentuk seringai. "Jadi, tidak apa-apa dong kalau kau kuambil?"
"Eh?" Sakura tidak mendengar pernyataan terakhir dengan jelas, karena saat itu sebuah pengumuman terdengar. "Apa katamu?"
Kyuubi menggeleng kepala cepat. Bodohnya ia! Kenapa ia mengatakan hal yang seperti itu? Untungnya harga dirinya diselamatkan oleh pengumuman yang lewat itu!
"Tidak, tidak apa-apa." Gumam Kyuubi, lalu mengambil minumnya.
Setelah mereka makan, mereka kembali menunggu. Ketika tiba saatnya Kyuubi untuk check-in, cowok dengan rambut campuran tiga warna itu mendekati Sakura dan berbisik di telinganya,
"Good luck, princesa. Find your own love, ok? See ya soon, will miss you," katanya, lalu mengusap kepala Sakura. Sakura memandang Kyuubi heran dan lalu tersenyum dan menjawab, "Oke!"
Kyuubi melepas topinya, lalu memakaikannya kepada Sakura. "Pakai ini ya, hadiah, hehehe." Katanya sambil menyeringai.
"Oke! Dagh, Kyuu! Sampai bertemu lagi!"
Lalu sosok Kyuubi menghilang diantara kerumunan...
End of Flasback
"Sakura?" Sasuke melambaikan tangannya di depan wajah Sakura. Dirinya kesal karena tadi Sakura tersenyum. Apa mungkin karena hal yang ia lakukan kemarin?
"Ah, ya?"
"Kemarin kemana kau?"
"Rahasia!" jawab Sakura sambil tersenyum menyebalkan, membuat Sasuke mendengus kesal.
"Dasar kau ini ya, penuh dengan rahasia!"
"Hehehe..." Sakura hanya cengengesan dibuatnya.
"Oh ya, ke minimarket gih. Belikan jus tomat yang dingin sama dark chocolate. Kembaliannya boleh untukmu." Sasuke memberikan beberapa lembar uang kepada Sakura. Sekarang sih, Sakura sudah terbiasa untuk menerima perintah dari Sasuke! Tapi, ini untuk pertama kalinya Sasuke memberinya uang sisa alias uang kembalian!
"Sas?"
"Hn?"
"Kesambet apa lu?"
GUBRAK!
"Apa maksud lu, ha?" bentak Sasuke kaget.
Sakura memajukan bibirnya. "Abisnya, aneh. Tumben memberikan kembalian!"
"Kenapa memang? Gak boleh gua baek sekali-kali?"
"Ya ya, terserah lha. Oke deh, bentar ya!" Sakura memakai jaket yang tadi dilepasnya dan berlari keluar. Meninggalkan Sasuke yang termenung di sofa.
"Apa bisa... kau menjadi satu-satunya langit untukku, bidadariku?"
.
.
Senin. Kembali ke rutinitas biasa.
Sakura sudah bisa menghadapi Gaara sambil tersenyum. Dan Sakura juga sudah bisa kembali menjalankan rutinitas ceweknya dengan Hinata lagi. Ia juga tetap bermain basket, mengerjakan kerja sambilan di cafe, dan juga melakukan pekerjaannya sebagai panitia.
Untungnya, sekarang susunan musiknya diterima. Dan mereka juga sudah berlatih terus menerus. Dan minggu depan adalah festivalnya.
Sehari sebelum festival dimulai, Sakura memanggi Gaara ke atap.
Krieet... pintu terbuka. Menampilkan sosok berambut merah bata.
"Ya, Sakura? Ada apa?"
"Duduklah."
Gaara menuruti Sakrua dan duduk di sebelahnya. Sakura melihat langit dengan tenang.
"Kau tahu, Gaara?"
"Hn?"
"Kalau... sebenarnya... sejak dulu aku tidak melihatmu sebagai teman."
"Maksudmu?" Gaara tidak paham dengan perkataan Sakura.
"Sebenarnya, aku... sejak dulu... menyukaimu. Aku menyukai caramu tersenyum, menyelesaikan masalah, dan sebagainya. Aku sudah lama menyukaimu, sangat..." kata Sakura sambil tersenyum, dan lalu wajahnya memandang Gaara yang sekarang berjengit kaget.
"Ka-kau..."
"Ya... Gaara, aku menyukaimu."
Hening.
Sejenak Gaara dikuasai penyesalan. Ia memilih orang yang salah untuk bercerita dong? Ia itu tidak memikirkan perasaan orang lain! Seenaknya bercerita tanpa mengetahui perasaan lawan bicaranya.
"Sakura-"
"Tapi, aku tahu. Kau mencintai Hinata. Dan aku merelakanmu," senyum Sakura tulus, lalu berkata, "Karena, aku ingin melihatmu bahagia. Semoga kau bahagia dengannya..."
"Sakura... maaf... maaf sekali..."
"Tidak, tidak apa-apa." Sakura menggeleng kepalanya, walau sekarang ia bisa merasakan matanya yang sembab. "Aku hanya ingin bicara jujur. Mencoba melupakanmu. Tapi, kita masih tetap bisa berteman kan?"
Gaara mengangguk. "Ya. Kau akan selalu menjadi temanku. Dan, terima kasih..."
"Untuk?"
"Menyukaiku, merelakanku bahagia. Semoga, aku bisa bahagia dengan Hinata."
Sakura mengangguk. Entah mengapa beban dipundaknya terlepas. "Kau harus. Dan jangan menyakitinya. Karena aku tidak akan tinggal diam."
"Pasti." Jawab Gaara mantap. "Besok, aku akan mengutarakannya."
"Good luck," bisik Sakura, walau dalam hati ia merasa sakit. "Setelah ini, semua tergantung padamu dan dia."
"Ya... terima kasih banyak, Sakura."
"Ya, samasama."
Gaara berdiri dan menepuk pelan bahu Sakura, sementara gadis itu memejamkan matanya. Setelah sosok bermata hijau itu menghilang, Sakura merasakan wajahnya menjadi basah.
"Tidak... tidak boleh menangis, Sakura... kau sudah berjanji..."
Setelah ini, Sakura akan mengobati lukanya. Pasti.
Dan ia sudah tahu kemana ia bisa mengobatinya.
Sementara itu, sepasang mata onyx menatap adegan tadi dengan perasaan berkecamuk...
XOXOXOXOXO
TBC
XOXOXOXOXO
WAAAH !
Semua, maaf yaaa aku telat banget update!
Ini dikarenakan ujian yang sedang berlangsung nih! *pundung*
Sementara hiatus, hiks hiks *curcol -"
Tapi sekarang aku sudah kembali! Hehehe...
Hehehe... gimana menurut anda sekalian?
Ada saran? Kritik yang membangun?
As always... REVIEW please!
