°~The Black True Longinus~°
Naruto © Masashi Kishimoto
High school DxD ® Ichiei Ishibumi
Author © yusufnur321
Warning : Typo (s), Godlike!Naru, OOC, USG!Naru,...Dll
•
"Hahh!" Menghela nafas berat Sirzechs melemaskan seluruh ototnya pada kursi yang di dudukinya.
'Huhh... kenapa masalah selalu berdatangan. Hahh..' batin Sirzechs sambil menyangga keplanya di kursi dan menatap kosong langit-langit ruangannya. 'Masalah di duganya pembunuhan kepada ahli waris Klan Astaroth saja belum selesai, sekarang datang masalah baru lagi.' Maou Lucifer itu masih menatap langit-langit ruangannya dengan pandangan kosong.
Memang dua minggu setelah Naruto membunuh ahli waris Klan Astaroth dan Peerage nya. Di Underword menjadi gempar setelah mengetahui kalau ahli waris Klan Astaroth dan semua peerage telah mati yang di duga dibunuh oleh Exorchit. Karena saat di cari setelah pencarian beberapa hari oleh Iblis - Iblis Klan Astaroth dari dua minggu hilangnya ahli waris Klan Astaroth, hanya darah nya saja yang di temukan berada di dalam sebuah gereja rusak yang di kelilingi sebuah barier tingkat rendah yang berada sangat jauh dari tempat pusat gereja Vatikan. Dan karena itu Sirzechs mengadakan rapat tertutup besar - besaran dengan seluruh petinggi Klan Iblis yang tersisa di Underworld.
Mengingat itu Sirzechs membenarkan posisi duduknya dan menatap lurus ke depan dengan menompa dagunya.
'Kalau saja saat itu para petinggi Klan tidak berpikir luas mungkin Great War kedua akan meletus...'
Dia masih ingat saat rapat itu, dimana hasil rapat itu menyuruh dirinya untuk mengerahakan pasukan untuk menggempur pusat Gereja Vatikan. Memang tak salah, kalau mengingat tempat ditemukannya darah pewaris Klan Astaroth. Tapi karena pendapat yang masuk akal dari Ajuka sahabat seperjuangannya dan di dukung pendapatnya. Akhirnya para petinggi Klan setuju untuk menyelidiki masalah ini lebih dalam dan tidak bertidak gegabah seperti menggempur Gereja Vatikan, dimana pusat dan lahirnya para Exorchit. Karena bersamaan di gereja rusak itu di temukan enam mayat birawati dalam keadaan mengenasakan, dari dugaannya para Iblis-Iblis yang mencari ahli waris Klan Astaroth birawati - birawati itu mati setelah di perkosa. Dan mungkin karena itu para petinggi Klan berubah pikiran. Karena kalau memang pihak gejera lah yang membunuh Diodora Astaroth sudah pasti para mayat birawati itu akan di bawa dan di kuburkan, kemudian akan menyatakan perang kepada Fraksi Iblis dengan alasan 'meraka merasa terhina atas pemerkosaan pada birawati mereka. Namun sampai saat ini tidak ada tanda-tanda apapun dari pihak gereja atau pihak Fraksi Tenshi akan menyerang Fraksi Iblis.
'Kalau memang bukan pihak Gereja atau Fraksi Malaikat lalu siapa? Iblis golongan lama? Fraksi Malaikat Jatuh? Hahh... Kalau saja ada bukti ini takan merepotkan.' batin Sirzechs berpikir keras dengan menutup kedua matanya. Tak lama mata Sirzechs terbuka kembali, menyadari sesuatu.
'Di duga birawati mati setelah diperkosa? Darah ahli waris Klan Astaroth! kalau begitu tewasnya Diodora karena dia memperkosa birawati-birawati itu. Ya itu tidak salah, kalau mengingat sifatnya yang dikatakan Grayfia itu benar. Dan kemungkinan sosok yang membunuh ahli waris Klan Astaroth adalah sosok orang luar atau orang Organisasi.' Maou Lucifer itu kembali menghela nafas berat, kembali menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap langit-langit ruangannya. Belum lagi masalah penyerangan pemuda asing yang membawa sebuah payung hitam yang menyerang adik nya dan Peerage nya.
•xx•
"Jadi, apa maksudmu menemuiku?" Naruto mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk, matanya tak lepas dari gadis jelmaan Naga yang duduk ditembok pembatas sedikit jauh disamping kanannya. Kemudian tangan kanannya menangkap gagang payung hitamnya yang melayang ke arahnya.
Gadis jelmaan Naga penunggu Dimensional Gap itu diam menatap langit yang ditaburi bintang-bintang.
Hening tercipta diantara mereka berdua
Naruto yang sebenarnya moodnya sedang buruk tidak peduli akan hal itu. Tapi walau begitu kewaspadaannya tetap terpasang kepada Naga disamping kanannya ini.
"Sebenarnya apa tujuanmu datang ke Dimensi ini?" suara merdu dari jelmaan Great Red itu memecahkan keheningan itu. Meski begitu Great Red tetap menatap langit malam dan membiarkan udara malam membelai wajahnya.
Naruto tidak menjawab. Dia hanya melirik gadis berambut merah di samping kanannya ini.
Tak kunjung mendapatkan jawab dari pria berambut cepak kebelakang ini, Great Red kembali bersuara dengan menatap datar Naruto.
"Kau pikir aku tidak tau. Kalau kau adalah pendatang dari Dimensi lain."
Naruto tetap diam, walau sedikit terkejut kalau gadis jelmaan dari Naga ini tahu kalau dia dari Dimensi lain.
Naruto yang tetap diam membuat keheningan kembali terjadi di antara mereka berdua. Hanya deru angin malam terdengar lembut di indra pendengaran mereka masing-masing.
"Tidak ada." Naruto akhirnya bersuara.
Gadis berambut merah panjang itu hanya menatap Naruto yang terlihat memandang datar ke bawah dimana keramaian malam terjadi.
"Tidak ada?"
"Ya... Atau lebih tepatnya. Aku datang ke Dimensi ini hanya untuk menghilangkan rasa bosan ku." ujar Naruto lalu menempatkan payung hitamnya yang menguncup di atas pundak kanannya.
"Lagi pula... " Naruto perlahan menatap gadis merah di samping kanannya ini dengan seringaiannya. "Kalau ada. Sudah ku pastikan Dimensi ini akan berantakan di tangan ku."
"Dan sebelum itu terjadi aku akan menghadapimu." ucap Great Red.
Naruto hanya tersenyum meremehkan. "Dan kau pikir akan semudah kita bertarung dulu."
Hal itu membuat mata gadis jelmaan Naga itu menyipit tajam. Melihat direaksi dari gadis disamping kanannya ini membuat senyum meremehkan Naruto samakin bertambah.
"Khukhukhu... Bercanda." Naruto bersuara lalu menatap ke depan dimana klap klip lampu dari gedung-gedung pencakar langit. "Walau begitu kalau aku mau. Aku akan menghancurkan Dimensi ini."
Meski dengan nada biasa Great Red merasakan aura ancaman sangat ketal dari perkataan itu.
Dan hal itu kembali terjadi keheningan diantara mereka berdua.
Tiba - tiba..
Deg!
Mata Naruto menajam merasakan kekuatan besar setingkat Juubi yang tak terbatas, walau saat ini dirasakannya terasa di tekan hingga ketingkat limit.
Berbeda dengan Naruto, gadis jelmaan Great Red itu hanya menengok ke samping kirinya dengan datar.
Dan tak jauh dari mereka atau lebih tepatnya di samping pintu atap gedung ini tercipta lingkaran sihir berlambang Naga yang menggigit ekornya sendiri.
•xx•
Muncul dari lingkaran sihir yang dibuatnya bersama satu anggota bawahannya. Ophis menatap datar kepada dua mahluk berbeda ras tidak jauh di depannya. Vali yang disamping kanan Ophis hanya menunjukan tatapan menarik kepada Naruto dan Great Red.
[Tidak ku sangka Great Red disini juga!] Albion bersuara dalam alam bawah sadar Vali, tak menyangka dua Naga terkuat bertemu. Ourobor Dragon dan Apocalypse!
'Menarik!' batin Vali menatap Naruto dengan tatapan menantang.
[Dan... manusia di samping kanannya itu, sepertinya manusia yang dicari oleh Ophis.]
'Dan sepertinya dia kuat. Kalau dilihat dari postur tubuhnya, tatapannya, auranya.'
[Sudah pasti dia kuat bodoh. Bagaimana pun melewati ruang Dimensi itu tidak mudah bahkan mustahil bagi seorang Manusia.]
Naruto hanya menatap tertarik kepada dua sosok yang datang itu. "Apa kau mengenali mereka?" ucap Naruto tanpa mengubah posisinya.
"Ya.. "
"Dan Kau Ophis. Mau apa kau ke sini?" ucap gadis berambut merah itu tanpa mengubah posisinya.
"Tidak ku beritahupun kau sudah tau, Baka-Red." balas Ophis datar. Kemudian tatapannya beralih ke Naruto yang saat ini tengah menatapnya.
"Vali!"
Seolah mengerti dalam sekejap sosok Vali yang tadi di samping kanan Ophis, kini sudah di depan Naruto dengan sayap Sacred Gear nya.
Naruto hanya memeberikan tatapan menantang ke arah Vali yang kini di depannya.
WUS!
Naruto dengan cepat memiringkan kepala nya ke kanan, membiarkan kepalan tinju penuh energi dari Vali melewati samping kiri wajahnya yang kini menampilkan seringaiannya.
"Menarik..."
Dengan gerakan lambat Naruto bangkit dari duduknya ke arah Vali dengan cakra hitamnya perlahan terkonsentrasi pada telapak tangan kirinya yang membentuk sebuah mata tombak.
"Tapi... Kau terlalu lambat!"
[Vali!] . 'Sial!'
BLARR!
•xx•
"Check mat!" ujar Sona segera menggerakan bidak Kuda nya untuk menyekak Rias.
"Hahh.. Seperti biasa kau selalu menang. Sona.." Rias menghela nafas berat, kemudian menyandarkan punggung kecilnya di sofa. Tepat di atas meja depannya terdapat papan catur dimana semua bidak Rias yang tersisa berwarna emas kehitaman sudah terkunci oleh bidak dari Sona yang berwarna hitam metalik.
Diam, terjadi keheningan diantara mereka berdua.
"Jadi, tentang perjodohan itu. Apa keputusanmu, Rias?" Sona memulai pembicaraan dengan tangan kanan mungilnya menata kembali bidak-bidak caturnya di papan catur.
Rias tidak menjawab langsung, salah satu tangan nya menata satu persatu bidak-bidak caturnya. Selesai, kemudian tangan kanan Rias menggerakan pion depan kuda yang berada di sebelah kiri, maju satu kotak.
"Entahlah Sona." balas Rias. Dengan kedua mata nya tertuju kepada papan catur di depannya dengan pandangan menerawang. Di depannya Sona yang duduk di sofa memajukan bidak pion nya yang berada di depan gajah putih dua kota langsung.
"Kalau saja dia tidak berubah mungkin.. Aku akan menerima perjodohan itu." ucap Rias menggerakan bidak kuda kanan nya.
Sona tahu 'Dia' yang dimaksud Rias adalah Raiser Phoenix. Dulu pada saat dirinya berumur 12 tahun dia, Rias, Raiser, Ravel selalu bermain bersama di kediaman Klan Phoenix. Dan dia juga tahu kalau pada saat umur 12 tahun saat itu Rias sudah tertarik kepada Raiser yang dulu sifatnya belum berubah seperti sekarang ini. Dulu sosok Raiser penuh energi dan ceria, bahkan aura hangat selalu terpancar darinya. Tapi entah kenapa tiba-tiba Raiser berubah. Sifat penuh energi, ceria dan penuh ke hangatan dalam dirinya menguar entah kemana. Hal itu membuat tali persahabatan kami berempat menjadi putus sampai saat ini. Dan beberapa pekan ini dia mendapatkan kabar mengejutkan tentang perjodohan Raiser dengan sahabat kecilnya Rias. Karena itu dia memanggil sahabatnya ini tadi untuk ke ruangan nya yakni ruangan OSIS setelah semua Peerage nya pulang.
"Jadi begitu. Huf!" adik Maou Leviathan itu menghembuskan nafas. Kemudian tangan kanan mungilnya menggerakan bidak pion nya yang berada di depan raja satu langkah ke depan, setelah giliran Rias selesai.
"Ohya.. Soal pria yang membawa payung. Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang pria itu?" ujar Sona menatap tangan kanan Rias yang menggerakan salah satu bidak caturnya yang berwarna emas kehitaman.
"Soal itu kami tidak menemukan apa-apa. Bahkan jejak birawati pemilik Sacred Gear Twilight Healing yang dibawa olehnya menghilang tanpa jejak." ucap Rias kembali menyandarkan punggung kecilnya ke sofa. "Walau begitu aku penasaran, siapa sosok pria membawa payung hitam itu. Apa lagi teknik yang di tanamkannya kepada tubuh Akeno. Karena itu juga akhir-akhir ini sifat Issei berubah.. "
"Setelah para maou tahu tetang itu, Nee-sama bahkan menyuruhku untuk tidak melawan sosok itu jika bertemu. Karena di duga kalau pria membawa payung hitam itu adalah pelaku di balik kasus tewasnya ahli waris Klan Astaroth, mengingat pria berpayung itu menyerang kalian. " ucap Sona.
"Hm.. sepertinya sampai disini Sona. Aku harus kembali." kata Rias sambil berdiri dari sofa.
"Baiklah, lagi pula sudah larut malam." Sona tidak mempersalahkan Rias, karena seenak udel meninggalkan main caturnya.
•xx•
BLAR..
Setelah mementalkan puing-puing tembok yang menguburnya dengan sedikit mengeluarkan kekuatannya. Naruto keluar dari salah satu kamar hotel yang berada paling atas bersampingan dengan gedung tempat dimana tadi dirinya duduk dengan gadis jelmaan Naga. Kalau saja tadi dirinya dalam posisi menapak, Killing Insent yang tiba-tiba di keluarkan oleh pemuda berambut silver tidak akan membuat dirinya seperti ini. Ya, Naruto terpental dan menabrak gedung hotel tidak jauh dari gedung tempat tadi dirinya merenung akibat ledakan energi Iblis bercampur aura Naga dari Vali. Itupun Vali bermaksud untuk menghindari maut dari Naruto.
Setelah memberi ilusi kepada penghuni hotel, Naruto meloncat dan mendarat di atap gedung tidak jauh dari Great Red. Vali pun kini sudah berdiri sedikit jauh di samping Ophis dengan sayap Sacred Gear di punggungnya.
"Itu tadi lumayan juga. Jadi apa yang kalian ingin setelah merusak pembicaraan ku dengan gadis Naga ini." ucap Naruto sedikit memuji kekuatan Vali yang menurutnya besar.
"Aku ingin kau bergabung dengan Organisasi ku, Khaos Brigade." tiba-tiba Ophis dengan nada datar dan tatapan dingin.
Mendengar itu Naruto hanya menunjukan seringaiannya dan menyangga payung hitam di pundak kanannya. Kemudian melangkah pelan mendekat Ophis. Menghiraukan aura tidak bersahabat di sekitarnya.
"Merekrutku ya.. " Naruto melangkah pelan memutari Ophis yang bertubuh kecil. "Apa aku tidak salah? Gadis kecil sepertimu memimpin sebuah Organisasi? Dan kalaupun itu benar, mungkin seluruh anggota mu.. Lemah." Naruto menghentikan perkataannya tepat di depan Ophis yang menatapnya datar.
Di sisi lain gadis jelmaan Great Red hanya diam menatap datar Naruto dan Ophis. Berbeda dengan Vali, keningnya sedikit berkedut mendengar perkataan Naruto yang terkesan seolah meremehkannya.
"Kalau saja aku tidak tertarik dengan mu, mungkin sekarang kau ku bunuh." ucap Ophis datar.
"Benarkah!" Naruto sambil mendekatkan wajahnya di depan wajah datar Ophis. "Hm. Begini saja.. " Naruto menggantung ucapannya seraya kembali menegapkan tubuhnya dan raut wajahnya berubah menjadi datar nan dingin, dan perlahan aura hitam penuh kegelapan menguar dari tubuh Naruto. Hilang sudah wajah main-main Naruto tadi saat pertama kali kedatangan Great Red, Ophis dan Vali. Sudah dia bilang saat ini mood nya sedang buruk.
"Kalau salah satu anggota mu mengalahkan ku. Aku bersedia masuk Organisasi mu." setelah mengucapkan itu Naruto melangkah pelan ke arah pintu atap gedung ini. Tapi langkahnya berhenti saat akan melewati tubuh Ophis.
"Aku sendiri yang akan melawanmu." ucap Ophis dengan melepas aura Naga nya yang sedari tadi dia tekan hingga kelimit akhir. Membuat hempasan kecil udara disekitarnya.
Di sisi lain jauh berkilo-kilo meter dari mereka berempat, sosok Da-Tenshi yang sedari tadi mengintai Naruto, Great Red, Ophis dan Vali dengan teropong janggihnya hanya berkeringat dingin dengan keterkejutannya.
'Gila! Manusia apa dia!' batinnya.
•
•
•
•
•
~_To. Be. Continued_~
•
•My name : ya, kekuatan yang diberikan Shinju udah menghilang. Dan tidak bisa mengalahkan Great Red dan para Dewa? Naruto bisa tapi masih lama. Lalu disini Naruto hanya mempunyai kekuatan 'Yami' nya yang sudah tercampur dengan kekuatan Sacred Gear nya. Tidak. Kekuatan Shinju tidak akan kembali karena suatu alasan.
•OneeKyuuChan : hahahah.. Udah kok harga bbmnya udah di turunkan :D
•Guest : sekikir Word? O.o
•arafim123 : nih dah lanjut!
•light bullet : nih dah lanjut!
•Kevin913 : udah lanjut kok.
•Dwi618 : wah terimakasih!
•Kitsune857 : pendek? Ya begitulah author.. Maaf
•ayub. Pratama. 792 : terimakasih vak!
•hutamara senju : betul Naruto hidup sebelum jaman Rikudo.
•Seneal : terimakasih rewnya..
•ashalim31 : soal Naruto tersegel atau kaya apa samapi Naruto bisa ditemukan oleh Orochi nanti akan di jelaskan dalam satu chapter khusus.
•The KidSNo OppAi : hheheh gk janji. Soal balik lagi ke Dimensi shinobi? Hmm itu rahasia..
•agus. Aditya : ya. Saya buat punya human from nya sama seperti Ophis. Tapi jenis kelaminnya moryu tetap perempuan..
•Tenshisha Hikari : sudah terjawab di atas.
•Damerio : pening? Wah apa saking rumit? Kaga jelaskan ane mendeskripsikannya? -_-!
Lalu soal fic ini menurun kualitasnya hahh soal itu maaf.. Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin.
Dan terimakasih yang mau mampir ke Fic geje saya..
Review ?
©yusufnur321 Out~
