Lee : Ehehehe, saya gak bikin rating M kak, saya masih terlalu unyu :D Kok gak ada? Banyak hasilnya, id nya aja deh :3
Zielavienaz96 : Aduh, maaf kak saya gak bikin rating M, soalnya belum 21 tahun :3 ini lanjutnya btw, semoga tidak kecewa.
Moku-Chan : Maaf kak, Moku-Chan, saya masih belum 21 tahun, jadi belum berani bikin rating M atau semacamnya. Ini updatenya, semoga tidak kecewa yah.
A/N : Hello again. Okay, saya mau minta maaf buat para readers, reviewers yang minta untuk bikin rating M. Dan juga untuk kak Nightash yang udah nge-pm saya buat maksa rating M. Saya gak akan bikin rating M, soalnya saya belum 21 tahun. Ditambah, MA atau hard lemon kan dilarang di ffn, kalaupun saya bikin nanggung dong kalau soft lemon :D *dibacok okay saya bercanda. Fic ini akan tetep rating T
Dan ini dia updatenya, semoga tidak begitu mengecewakan ya.
ILY.
.
.
.
Disclaimer : Milik JKR seorang kecuali beberapa OC yang ciptaan saya.
Summary : Lucius Malfoy, mau tak mau harus menerima kenyataan jika ia harus menikahi Luna Lovegood. Dibalik aturan yang dibuat oleh kementrian, mereka memiliki perjanjian mereka sendiri. Apakah perjanjian yang mereka buat akan mereka langgar sendiri?
Rating : T+ lah. Eh sama parental guiding juga
Genre : Drama, Romance, Friendship and Family. Drama and Romance mostly.
Note : Snape, Dumbledore dan Fred tidak akan pernah mati di fic saya. Berlawanan dengan buku ataupun film. Lucius 45 tahun, Luna 21 tahun.
Warning : OOC, Typo dan tata bahasa buruk. Kritik dan saran selalu diterima. Flame akan segera dihapus.
Happy Reading!
.
.
.
=ooOOoo=
"Tidak!"
Lucius terbangun, ia hampir berteriak dengan nafas ngos-ngosan. Keringat bercucuran dikening dan seluruh bagian tubuhnya. Ia melihat kearah jam dinding. Ia bermimpi telah menyentuh Luna semalam.
"Itu hanya mimpi," Lucius mendesah lega. Tak lama berselang, ia kemudian bangkit, dan Ia lebih terkejut lagi mendapati dirinya yang kini hanya berbalut selimut yang menutupi tubuhnya.
Ia memejamkan matanya, kemudian memberanikan diri untuk melihat sosok yang tengah terlelap disampingnya. Ditambah ia melihat pakaian yang tadi mereka gunakan berserakahan dilantai. Ia mengusap keningnya tak percaya, ia benar-benar mengira itu hanya mimpi. Tapi apa yang ia lihat mengatakan yang sebaliknya.
Lucius masih belum bisa menerima kenyataan jika yang terjadi antara dirinya dan Luna bukanlah mimpi. Ia pun menampar dirinya sendiri dengan keras. Jika rasanya tidak sakit, maka bukan mimpi. Tetapi jika sebaliknya, maka lebih baik ia mulai menyiapkan apa segala sesuatu yang akan terjadi nantinya.
SLAP!
"Ouch!" Ia berteriak sambil memegangi pipinya yang sakit akibat ulahnya sendiri. terdapat bekas tamparan berwarna merah dengan bentuk tangan dipipinya yang sudah mulai ditumbuhi oleh rambut-rambut halus. Ia bahkan lupa untuk tidak mencukur jenggotnya. Tapi, Lucius merasa ia akan menumbuhkan sedikit jenggot untuk menambah daya pikatnya. Haha!
"Astaga! Itu bukan mimpi?!" bisiknya pelan. Ia masih duduk diranjangnya, tak berekspresi. Ia melihat jam dinding yang ternyata menunjukkan pukul empat. Entah ini pukul empat pagi, atau empat sore, ia tidak ingat. Ia mengambil pakaiannya, dan mulai memakainya. Ia berjalan masuk kedalam kamar mandi. Membenamkan dirinya dibawah guyuran air yang mengalir melalui shower. Ia duduk didalam jacuzi dengan shower yang mengucur deras membasahi dirinya.
Lucius benar-benar murka. Ia murka kepada dirinya sendiri yang sudah kehilangan kendali atas dirinya. Bisa-bisanya ia sampai menyentuh Luna, dan melanggar kontraknya. Tapi ini bukan salahnya, gadis itu yang memulainya terlebih dahulu. Ia menabraknya tempo hari. Bukannya ia berdiri dan minta maaf, tetapi ia malah mencium Lucius seakan-akan tidak ada hari esok. Siapa yang pantas disalahkan? Akan tetapi jelas ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Luna. Bagaimanapun, ia juga menikmati semua itu.
"Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi?" batinnya. Ia benar-benar tak menyangka jika yang takutkan benar-benar terjadi. Ia melanggar kontrak yang mereka buat. Lucius tak bisa menerima ini. Andai ia memiliki pembalik waktu. Pikirannya menjadi kacau, tidak karu-karuan. Berbagai macam pikiran yang aneh melayang-layang dikepalanya. Bahkan ia mengabaikan air yang sudah menggenang dilantai karena jacuzzinya penuh.
Sementara itu, Luna terbangun. Ia sama seperti Lucius, yang mengira itu hanyalah mimpi. Ia benar-benar terkejut dan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia berada disebuah kamar yang berbeda dari miliknya. Ia masih benar-benar tak percaya, dan memastikannya lagi dengan mengucek-ucek matanya. Tetapi apa yang ia lihat tak juga berubah. Ia juga mendapati dirinya hanya berbalut selimut berwarna hijau.
Ia mengedarkan pandangan disekitar kamar. Ia melihat pakaiannya tergeletak dilantai. Apa yang dilihatnya membuat dirinya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian mulai menangis. Ia menangis tanpa suara, tapi Lucius bisa mendengarnya dengan jelas jika Luna tengah menangis. Ia sudah akan melangkah keluar rumah, tetapi begitu mendengar tangis Luna yang semakin keras, ia memutuskan untuk diam dikamar mandi sampai ia benar-benar siap untuk menghadapi Luna nanti.
Lucius merasa benar-benar bersalah. Ia tak bisa berhenti menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Ia harusnya lebih bisa mengendalikan situasi, bukan malah memperkeruhnya seperti ini. Ditambah, akan ada kemungkinan dimana Luna hamil anaknya. Dan hal ini yang membuat Lucius merasa benar-benar tertekan. Dan itu berarti kemungkinan mereka terlepas dari ikatan kementerian akan semakin kecil. Hilang sudah kesempatan Lucius untuk merebut Narcissa dari tangan Altair.
Lucius merasa telah mengkhianati Narcissa, bahkan ia terus bergumam 'maafkan aku, Narcissa' didalam pikirannya. Tetapi faktanya, ia tidak mengkhianati Narcissa, atau siapapun. Mereka—Lucius dan Luna sudah menikah, dan itu sudah sah secara hukum negara maupun hukum agama. Sudah jelas hal wajar untuk melakukan hal 'seperti itu', atau semacamnya.
Tetapi mereka memiliki kontrak yang telah mereka sepakati. Kontrak yang sudah mereka langgar sebelum jangka waktu yang ditentukan tiba. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa menimpa dirinya?
"Persetan!" Lucius mengutuk dirinya sendiri. ia meninju cermin didepannya sampai pecah. Tangannya mengeluarkan darah akibat terkena serpihan kaca yang tajam. Lucius tak mempedulikannya, membiarkan darahnya menetes.
Hampir setengah jam ia menunggu, tapi Luna masih juga sesenggukan. Ia pun memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi dengan wajah sedatar mungkin. Sebelum ia keluar, ia melihat kecermin terlebih dahulu, ia ingin memastikan dirinya benar-benar sudah terlihat tenang. Ia akan mencoba menghadapi Luna dengan apa adanya.
Lucius melangkah keluar dari kamar mandi menuju kamarnya, sambil membalut tangannya yang terluka dengan kain. Ia mengerahkan seluruh keberanian yang tersisa untuk melihat Luna. Wanita muda itu masih menangis dengan tubuh yang masih tertutup selimut. Lucius berjalan perlahan untuk menghampirinya, barangkali ia bisa membuatnya berhenti menangis. Lucius paling tidak suka dengan orang yang menangis, karena saat ia melihat seseorang yang ia kasihi menangis, ia merasa seperti orang yang tak berguna. Ia hanya tak tahu apa yang harus ia lakukan saat menghadapi situasi seperti itu.
"Kenapa kita melakukan ini?" Lucius bisa mendengar Luna bersuara pelan. Suaranya hampir tertutup oleh tangisnya.
"Luna, Aku—"
"Kenapa kau melanggar kontrak kita?" Ia hampir berteriak.
Lucius mengernyitkan dahinya, matanya menyipit. "Kenapa kau menyalahkanku? Kau yang memulainya!" Lucius membantah, ia menahan suaranya agar tidak berteriak. Tangannya mempererat lilitan kain ditangannya agar darah yang keluar tidak semakin deras.
"Tapi tidak seperti ini, Lucius! Aku tidak ingin ini terjadi," mendengarnya, Lucius mendongak, memandang Luna. Wanita muda itu tiba-tiba merasakan ucapannya sendiri menggores hatinya. Ia sendiri juga tidak tahu perasaan macam apa yang ia miliki terhadap Lucius.
Lucius memincingkan matanya, giginya menggertak menahan emosi. Tangannya sudah mengepal, kemudian menghantam dinding disampingnya, "Kau pikir aku mau ini terjadi? Kau pikir aku mau mengkhianati cintaku kepada Narcissa? Kau pikir aku benar-benar berniat menyentuhmu?" Ia setengah berteriak. "Kita berdua sama-sama kehilangan kendali, Lovegood!"
Ada satu kesalahan dalam ucapan Lucius yang tidak diketahui oleh Luna; yakni ia tidak mengkhianati cintanya kepada Narcissa. Karena cintanya kepada Narcissa sudah mulai memudar perlahan-perlahan tanpa sepengetahuan Lucius. Ia bahkan sudah tidak tahu kenapa ia tiba-tiba menjadi seperti ini.
Luna mendengarnya dengan sedikit tersentak. Ia tidak tahu kenapa ia tiba-tiba merasa tidak suka saat Lucius mengatakan 'kau pikir aku mau mengkhianati cintaku pada Narcissa'. Dan hal ini yang membuat Luna membuka mulut lagi, "Aku membencimu, Lucius," suaranya pelan.
Lucius tak menjawab, ia tidak terlalu mendengar ucapan Luna. Lucius sedikit memiringkan kepalanya, lalu ia mendengar Luna berkata lagi dengan suara lebih meninggi, "Aku membencimu, Lucius Abraxas Malfoy! AKU MEMBENCIMU!"
Lucius mendongak, mulutnya terbuka. ia tak tahu harus berkata apa lagi. Semua sudah jelas jika Luna membencinya, dan perasaannya kepada Luna bertepuk sebelah tangan. Hatinya terasa lebih hancur lagi. Lucius merasakan nafasnya menjadi sesak. Ia merasa kehilangan semua harapan dalam hidupnya. ia merasa hancur.
Ia hanya menyeringai tajam sebagai manuver untuk menutupi emosinya. Menarik nafas panjang sembari, menahan sakit menyesakkan. "Aku tahu, Miss Lovegood. Aku tahu," Lucius berkata, sembari memberi anggukan. Suaranya begitu datar, wajahnya tanpa emosi. Ia kemudian menyeringai.
Itu bukan seringai yang biasa ia berikan. Itu adalah sebuah seringai yang mewakili rasa sakitnya. Ia berbalik dengan cepat, meninggalkan Luna yang masih menangis. Ia tahu jika ia tak seharusnya meninggalkan Luna saat ini, dan membuat kesan jika dirinya benar-benar bajingan. Tapi apa yang dikatakan Luna melukai hatinya, dan Lucius tak bisa menahannya lebih lama lagi.
Lucius berjalan menuju keruang kerjanya, dimana ia biasa menghabiskan setiap hari dalam hidupnya yang menyedihkan. Lucius membuka pintunya, melihat ada Smitty yang sedang membersihkan lukisan-lukisan leluhurnya. Ia duduk disinggasananya, mengabaikan Smitty yang dari tadi memandangnya aneh. Ia nampak penasaran kenapa Master-nya tiba-tiba menjadi aneh.
"Apakah Master Lucius Malfoy baik-baik saja? Tangan Master Lucius Malfoy terluka, sir," ia bertanya, dengan pupil mata yang membesar ketika memandang tangan Lucius yang berbalut kain putih yang kini sudah menjadi merah.
"Bukan urusanmu, Smitty. Ambilkan aku Absinthe!" Perintah Lucius, ia tak memandang Smitty sedikitpun.
Smitty menelan ludah, kemudian bersuara lagi, "Tidakkah Master Lucius Malfoy sendiri yang melarang Smitty dan Puffy untuk memberikan Absinthe kepada siapapun?"
"Aku membuat pengecualian," ia membalas. Ia mencoba untuk tetap menahan emosinya.
"Tapi, Master—"
"DEMI TUHAN! LAKUKAN SAJA PERINTAHKU, YOU FILTHY HOUSE ELF!" ia berteriak, tangan kirinya menggebrak meja. Smitty mengangguk. Ia paham jika masternya sedang dalam mood yang buruk, jadi ia lebih memilih diam untuk menghindari perseteruan antara dirinya dan majikannya. "Baik, Master Lucius Malfoy. Smitty akan mengambilkan Absinthe kepada Master Lucius Malfoy," ia bersuara. Kemudian menghilang menuju ruang penyimpanan.
Tangan Lucius mulai terasa sakit, ia mengambil tongkat sihirnya dan mengayunkannya di udara. Tak lama berselang, bersamaan dengan datangnya Smitty yang membawa Absinthe, sebuah peralatan P3K terbang dan mendarat dihadapannya. Smitty lagi-lagi memandang master-nya dengan iba, walaupun ia juga sedikit kesal.
"Apakah Master Lucius Malfoy butuh bantuan?" ia bersuara begitu melihat Lucius kesulitan untuk membersihkan serpihan kaca yang masih menempel dilukanya.
"Bersihkan lukaku!" ia bersuara, dengan menggertakkan giginya menahan rasa sakit.
Smitty mengangguk, ia kemudian naik keatas meja. Lucius tak mempedulikan peri rumahnya yang berlaku tidak sopan dengan berdiri diatas meja. Peri rumah yang masih muda itu menjentikkan jarinya, seketika serpihan-serpihan kaca di tangan Lucius menghilang. Smitty juga melakukan hal yang sama lagi, yakni menjentikkan jarinya dan dengan sekejap, tangan Lucius sudah dibalut oleh perban yang bergerak sendiri.
"Kau boleh pergi sekarang," Lucius bersuara. Smitty mengangguk, dan meninggalkan Lucius dengan pikirannya.
Ia menuangkan botol Absinthe kedalam sebuah gelas scotch setinggi tujuh senti hinga hampir penuh. Ia menyesapnya sedikit, merasakan rasa yang luar biasa pahit. Ia baru meminum sedikit, tetapi kepalanya sudah mulai pening. Ia meneguknya lagi sampai gelas itu menjadi kosong. Kepalanya serasa melayang-layang. Lucius benar-benar mabuk sampai ia benar-benar tergeletak dimeja. Ia benar-benar mabuk parah.
-ooOOoo-
Hari-hari selanjutnya masih mereka jalani dalam diam. Luna sudah kembali tidur diranjangnya sendiri. ia dan Lucius masih tidak saling bicara selama hampir satu bulan. Yang dilakukan Lucius sehari-hari hanyalah sarapan, kemudian mendekam didalam ruang kerjanya sampai makan malam tiba. Setelahnya, ia tidur dan bangun lagi dan melakukan aktivitas yang sama.
Sebenarnya ia beruntung karena ada pekerjaannya yang menumpuk, yang ia jadikan sebagai pengalih perhatian. Ia sudah tidak turun tangan sendiri di usaha mebel Malfoy sejak beberapa bulan terakhir. Dan ia merasa jika ini saat yang tepat ia terjun ke usaha yang diturunkan secara turun temurun itu. ia butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya dari pikiran yang kalut, menuju sesuatu yang lebih baik dari pada melamun dan merenung sepanjang hari, apalagi mabuk. Tidak lagi.
Lucius sebenarnya sudah lelah dengan kebiasaan minum-minuman alkohol itu. Kebiasaannya semakin parah saat Narcissa menceraikannya, dan menikah lagi dengan teman kerjanya, Altair Thicknesse. Hal itu membuat Lucius depresi, walaupun ia menyembunyikan kekosongan didalam dirinya dengan arogansi dan gengsi yang serasa tiada batas.
Tapi bukan berarti itu membuatnya lebih baik. Yang ada, kepura-puraannya membuat dirinya semakin terluka. Jutaan kali ia berbisik pada dirinya jika ia lebih kuat dari ini. ia merasa tak yakin bisa hidup tanpa wanita yang anggun itu. ia merasa benar-benar mati rasa selama bertahun-tahun setelah Narcissa meninggalkannya begitu saja. Ia merasa gagal menjadi seorang suami, dan seorang ayah.
Belum lagi masalah Draco yang masih memendam kekecewaan padanya. Lucius tahu jika Draco sangat kecewa terhadapnya, atas apa yang telah ia lakukan. Ia membuat Draco kehilangan figur seorang ibu disaat ia paling membutuhkannya; yakni masa dimana Draco harus menjalani pemeriksaan mengenai keterkaitannya dengan Dark Lord. Dan Draco beruntung memiliki Astoria, yang selalu menggenggam tangannya erat.
Lucius tidak pernah benar-benar meminta maaf kepada Draco. Ia terlalu gengsi untuk mengatakan kata itu, kepada siapapun. Lucius selalu tegas kepada Draco. Dan kesalahan terbesarnya dalam mendidik Draco adalah, ia melakukan apa yang dilakukan Abraxas kepada putranya. Lucius tidak belajar dari kesalahan Abraxas yang membuatnya seperti ini. ia menyesal karena tidak benar-benar menunjukkan kasih sayangnya kepada putra semata wayangnya ini.
Lucius berpikir, masih adakah maaf untuknya dari Draco?
Lain lagi dengan masalahnya dengan Luna saat ini. ia memang tak bisa hidup tanpa Narcissa. Tapi semua itu tiba-tiba tak lagi berlaku sejak ia menyadari telah jatuh hati kepada Luna Lovegood, gadis aneh tetapi tidak nyeleneh. Ia tak menyangka akan secepat ini.
Hey, ini baru satu bulan mereka saling dekat, dan perasaan aneh itu tiba-tiba muncul didalam hati mereka masing-masing. Luna masih belum yakin akan perasaannya kepada Lucius, tetapi bagi Lucius, ia sudah lebih berpengalaman dalam hal seperti ini. Dan ia akhirnya bisa menyimpulkan jika dirinya benar-benar jatuh cinta lagi. Cinta yang lebih kuat.
Sementara Lucius sibuk dengan pekerjaannya, Luna hanya menghabiskan waktunya didalam perpustakaan, membabat buku-buku tua milik Lucius. Ia memang suka membaca, suka sekali malah. Tapi untuk beberapa hari terakhir, buku-buku tebal dihadapannya ini tidak benar-benar menghapus kekosongan didalam dirinya. Ia jarang sekali melihat Lucius, kecuali pada saat sarapan dan makan malam. Ia merasa hampa seketika begitu menyadari pria itu harus masuk kedalam ruang kerjanya, dan tak keluar sampai makan malam. Luna merasa kesepian.
Diatas segalanya, Luna merasa merindukan suaminya itu.
Ia berjalan keluar dari perpusatakaan pada pukul tiga sore. Ia meliat Priam mengekor dibelakangnya, membuat Luna menggendong bola bulu itu digendongannya. Kucing bermata biru itu diam, mengeluarkan buyi kerr kerr yang membuat Luna merasa nyaman.
"Dimana tuanmu, Priam?" Luna bertanya, tangannya mengusap-usap dagu kucing yang kelewat manis itu.
Tidak ada jawaban. Priam hanya mengedipkan kedua matanya pelan, telinganya bergerak-gerak seakan-akan mengerti yang dibicarakan oleh Luna. Melihatnya Luna tersenyum, dan melepaskan Priam untuk berlarian dikoridor lagi.
Bayangan Luna tentang Lucius Malfoy yang mengerikan tidak terbukti. Ia malah mendapati dirinya diperlakukan dengan baik dan sopan. Ia tak melihat ada kekejaman dari dalam diri Lucius. Ia memang mendapati Lucius sering bersuara dengan nada dingin tanpa emosi, tapi itu sama sekali tidak menunjukkan jika ia orang yang kejam. Lucius sama seperti pria pada umumya. Itu saja.
Luna menghela nafas panjang. Ia benar-benar merasa kesepian. Ia memang suka sendiri, tetapi bukan berarti ia harus sendirian setiap waktu seperti ini. Jika dirumah ia bisa berbicara dengan ayahnya, atau mungkin pergi kerumah tetangganya, maka kali ini ia tidak bisa kemana-mana.
Ada alasannya kenapa. Yang pertama, Malfoy Manor tidak memiliki tetangga. Kedua, ia tidak bisa kerumah teman-temannya karena mereka tengah sibuk dengan pekerjaan mereka. Yang ketiga, ayahnya tidak mengijinkan Luna untuk bekerja di Quibbler lagi dengan alasan ia harus mengurus suaminya dirumah. Oh yang benar saja.
"Aku harus bicara dengan Lucius sekarang," pikirnya.
Ia berjalan dengan ragu menuju ruang kerja Lucius dengan ragu. Ia berharap semoga dirinya tidak mengganggu pria yang sudah berminggu-minggu tidak berbicara padanya ini. Luna sendiri tidak tahu harus berkata apa, ia akan mencoba berbicara apa adanya.
Suara ketukan pintu terdengar ditelinga Lucius. Ia yang sedang mengkaji jurnal penyesuaian bulan lalu yang dikirimkan pegawainya pagi tadi, merasa sedikit kaget. Ia melemparkan jurnal itu dihadapannya, kemudian bangkit dari duduknya untuk melihat siapa yang mengganggunya.
"Mungkin Severus," pikir Lucius. Ia tak mengharap Luna akan datang kepadanya, terlebih setelah apa yang terjadi.
Ia membuka pintu, melihat ada seorang gadis berkaos hitam panjang dengan celana abu-abu. Lucius mengangkat alisnya sebelah saat melihat Luna ada dihadapannya. Ia berusaha memasang wajah sedingin mungkin, walaupun sebenarnya ia sedang merasa tidak karuan.
"Ah, kau," Lucius berkata. Suaranya dingin dan dalam, membuat nyali Luna sedikit menciut.
"Aku ingin berbicara sesuatu padamu, Lucius," Luna langsung menyahut, ia nampak menahan nafasnya.
"Kita sudah berbicara," Lucius membalasnya sedatar mungkin. Ia tidak ingin gadis ini merasa terganggu oleh dirinya terutama setelah ia mengetahui jika gadis ini membencinya.
"Lucius, kumohon! Jangan mengabaikanku seperti ini," Luna memohon, memandang mata kelabu Lucius yang dingin dengan penuh harap.
Lucius diam beberapa saat, hanya balik memandang Luna melalui mata kelabunya. Lucius membukakan pintunya, membiarkan Luna masuk kedalam ruang kerjanya yang kelewat rapi tersebut. Luna tidak menyangka jika pria seusianya masih mempedulikan kerapian dan kebersihan tempat kerjanya.
Lucius mengisyaratkan Luna untuk duduk di kursi dihadapannya. Lucius hanya menyandarkan dirinya disinggasananya sambil melipat siku. Ia terlihat begitu dingin, tan menunjukkan sedikitpun emosi yang jelas.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Lucius bertanya, memandang Luna sedingin mungkin. Ia menyadari siapa dirinya dihadapan Luna, lantas ia tak lagi berharap lebih.
Luna bingung harus berkata apa, ia sama seperti Lucius, mencoba terlihat tenang. Banyak yang berkeliaran dikepalanya, namun ia belum menemukan satu yang cocok untuk diucapkan. Lucius masih menunggunya bicara.
"Kenapa kau menghindariku?" Luna bersuara.
"Kenapa aku menghindarimu...," ia mengulang ucapan Luna. Lucius menarik ujung bibirnya, membentuk sebuah seringai. Ia menoleh kekanan, lalu kembali memandang Luna lekat-lekat. Seringainya masih terbentuk diwajahnya, matanya menyorot tajam kearah Luna. Membuat wanita muda ini semakin mematung.
"Alasannya sudah jelas. Kau membenciku, dan tak ingin melihatku lagi. Aku memberikan apa yang kau inginkan," Lucius menjawab. Ia merasa tersakiti dengan ucapannya sendiri, tapi ia berlagak sok strong karena tidak ingin dianggap lemah.
"Aku tak bermaksud demikian. Terlebih setelah kejadian itu—"
"Jangan bicarakan tentang kejadian itu," Lucius memotong.
"Aku minta maaf," ucap Luna. Suaranya begitu lirih. Ia menyelesaikan ucapannya, "Aku tak seharusnya berkata demikian kepadamu. Terlebih kau tidak pernah memperlakukanku seperti itu."
Mendengarnya, seringai Lucius menjadi memudar. Dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa gadis ini meminta maaf padanya. Ia tidak salah, seharusnya Lucius yang minta maaf karena sudah mengabaikan Luna, dan menganggapnya tidak ada.
"Kita saling...membenci satu sama lain, kurasa wajar jika kita saling menghindar satu sama lain," Lucius mengeluarkan nada yang menjengkelkan seperti biasa.
"Jangan membuatku semakin menyesal, Lucius. Kau satu-satunya yang kumiliki saat ini!" Luna bersuara dengan air mata yang tertahan.
"Aku tak pernah ingin terjebak didalam situasi ini, Luna. Aku juga tak pernah memaksamu untuk menyukaiku atau apapun itu, aku tidak peduli," Lucius menjawab, masih dengan suara dingin.
"Apa yang terjadi padamu, Lucius? Kenapa kau seperti ini padaku?" Luna bertanya lagi.
Lucius menghela nafas pelan, "Aku mengijinkanmu melakukan apapun yang kau suka disini, aku juga tidak melarang mu untuk keluar rumah. Dan aku memberikan ribuan galleon di tabunganmu. Apa lagi yang kurang, Luna?" Lucius membantahnya lagi, menyilangkan tangannya didada.
"Perlakuanmu padaku, Lucius!" mendengarnya Lucius menyeringai lagi.
"Perlakuanku padamu? Aku tidak menganiayamu, tidak menyakitimu atau memperbudakmu. Aku melakukan yang sebaliknya, memberikan semua yang kau inginkan pakaian baru dilemarimu, peri rumah yang melayanimu selama dua puluh empat jam, ditambah emas dan berlian. Bukankah itu yang diinginkan tiap wanita dariku?"
Luna kaget mendengar ucapannya, "Aku tidak serendah itu, Lucius!" Wanita itu langsung berdiri, dan keluar dari ruangan Lucius.
Lucius mendengarnya dengan terkejut, kepalanya terangkat, memandang Luna yang sudah menjauh dari ruangannya. Ia menyadari jika ucapannya tadi kasar, dan tak pantas untuk diucapkan. Lucius tak tahu harus berkata apa, ia merasa tidak tega terus-terusan mengabaikan Luna. Tetapi ketika ia mengingat ucapan wanita muda dihadapannya ini beberapa minggu lalu, ia tiba-tiba menjadi tahu diri dan memahami posisi-nya. Luna membencinya, dan Lucius tidak akan bisa mengubah hal itu.
Setidaknya, itu yang ada dipikiran Luna saat ini.
Dan sekarang, Lucius telah membuat Luna membencinya. Ia tersenyum kecut pada dirinya sendiri, menyadari jika ia telah menyakiti Luna. Mungkin ia tak seharusnya mengatakan itu, dan apa yang dikatakan Luna benar. Lucius setuju jika Luna memang tidak seperti gadis-gadis pada umumnya. Ia tak pernah meminta apapun dari Lucius, kecuali sedikit perhatian kepada Luna yang sedikit tercekik depresi itu.
Yah, meskipun Luna tidak benar-benar mengatakan itu, tapi Lucius tahu jika Luna tidak menyukai sikapnya yang kelewat dingin beberapa minggu terakhir ini. Lucius bahkan tidak melihatnya sedikitpun. Ia tak menganggap Luna ada, menganggapnya hantu yang berseliweran dihadapannya. Dan Lucius tahu ia membuat kesalahan lagi.
"Brengsek! Apa yang harus kulakukan sekarang?" Lucius mengumpat, menggebrakkan tangannya dimeja.
BERSAMBUNG
A/N : Well, disini Lucius annoying banget yah? Iya emang. Saya juga geregetan sendiri nulisnya. Intinya, saya mau pelan-pelan mengembalikan keaslian karakter. Dimulai dari Lucius, kemudian Luna.
Aaand, saya gak punya kata-kata lagi selain, mohon untuk kritik dan saran di kolom review. Semakin cepat review semakin cepat update *dilempar pake cinta
Xx
