Hi, everyone!
Anne muncul lagi, nih. Chapter 10 sudah selesai. Ini sangaaaaaaatttttt panjang. Total wordnya hampir 5k. Aduuhh maaf, sebenarnya Anne mau buat chapter 10 ini jadi 2 part. Tapi, setelah Anne pikir-pikir chapter ini nggak bisa diputus begitu saja. Karena masih saling terikat dan.. jawaban dari tersangkanya ada di chapter ini, yang mungkin kalian bisa tebak siapa.
Sebelumnya, Anne mau terima kasih buat kalian yang sudah review.. Anne seneng banget bacanya. Anne jadi makin semangat. Oh, ya ada yang minta dibuat epilog. Nah, Anne sudah pikir-pikir.. dan hasilnya...
Baca dulu ini sampai selesai, ya! Pesan Anne kalau nggak kuat bisa dibaca buat dua hari. Ini terlalu panjaaaaaaang! Dan semoga nggak bosen. Oke!
Langsung saja!
Happy reading!
Gigi-gigi Lily bergemeletuk. Detak jantungnya memburu seperti meminta keluar dari tubuhnya. Lily takut. Ia hanya berdua dengan Jerome di ruang kerja para Auror. Harry dan Auror lain sedang menjalani rapat rutin di ruangan khusus tak jauh dari markas besar. Jadilah, ruangan itu kini sepi.
"Lily."
Lily terlonjak kecil sebelum membalas tatapan Jerome. "Uncle—"
"Kau tak perlu takut. Aku akan menemanimu. Seperti tugasku menjaga Mr. Potter." Ujar Jerome. Suaranya sangat pelan. Ia terus meremas jemari tangannya yang berkeringat. Memaksa tenang, hah? batin Lily.
Keduanya tampak tegang dalam percakapan yang kaku. Tidak ada respon berlebihan ketika salah satu dari mereka berbicara. Lily lebih banyak diam di sana. "Jujur saja, Lily." kata Jerome tiba-tiba.
Sekali lagi, Lily makin takut. "Jujur, untuk apa?" tanyanya salah tingkah.
"Alasanmu datang kemari—"
Kriett! Pintu ruang Auror terbuka. Scoot masuk sambil membawa buku catatan yang selama ini selalu ia bawa. Buku yang selalu tidak pernah lepas darinya, kecuali ketika dirinya ceroboh meninggalkan buku itu saat berkunjung ke Hogwarts beberapa hari lalu. Untung saja Jerome menemukannya.
"Uncle Scoot." Panggil Lily. Hatinya mulai tenang saat ada orang lain yang masuk ke ruangan itu. Scoot mendekat, memeluk Lily sebentar lantas mengelus pipinya cukup lama. "Kau cantik sekali, Lily—" katanya.
Plak! Jerome menepis tangan Scoot yang menempel lama di pipi Lily. "Dia masih anak-anak." Tepisnya. Scoot hanya tersenyum sambil kembali berdiri dari posisi jongkok menyamakan tingginya dengan Lily.
"Yeahh.. santai saja, Jero. Aku hanya mau mengambil mantelku. Aku mau keluar sebentar. Ada perkamen penting yang harus aku ambil di luar Kementerian."
Jerome kini menatap Lily yang menunduk menghindari tatapannya. Setelah Scoot pergi. "Kenapa Uncle memukul tangan Uncle Scoot kencang sekali?" tanya Lily membela.
"Tentu saja untuk menjagamu.. sudah aku bilang, kan?" Suara Jerome sedikit meninggi.
Lily menahan napasnya. Ia baru saja dibentak. "Kenapa Uncle marah? Seharusnya Uncle sadar bahwa perbuatan Uncle tadi tidak sopan. Uncle Scoot tidak melukaiku—"
"Tidak sopan?" ulang Jerome dingin.
"Ya, jadi aku tak perlu mengatakan apa alasanku sebenarnya ke sini pada orang yang tak punya sopan santun—"
Jerome mendekat, meremas pundak Lily lantas berkata. "Ini berbahaya. Jangan main-main!"
James dan Al sampai di nursing home tempat Petunia berada. Tempatnya cukup menyenangkan dan damai, mengingat letaknya tak jauh dari pusat kota. Tanaman dan taman yang dijaga baik membuat atmosfer yang luar biasa nyaman mampu dirasa oleh siapapun yang berkunjung di sana.
Banyak lansia-lansia yang sedang beraktifitas sesuai hobi mereka. Al menyapa salah satu nenek yang menyiram bunga matahari di dekat pintu masuk. Namun James terus menggodanya hingga masuk dengan olokan, "seleramu rendah sekali, Al. Banyak perempuan cantik dan muda di luar sana tapi kau memilih nenek itu. Aduhh!"
"Diam kau, James. Jaga sopan santunmu pada mereka!" protes Al.
Dengan memberikan alasan semasukakal ala James, kakak beradik itu akhirnya diperbolehkan masuk ke area panti untuk melihat-lihat aktifitas para lansia. "Jenius!" bisik Al pada James.
Wajah James cerah luar biasa mendapat pujian dari sang adik atas segala rencana yang telah ia susun demi kelancaran misi mereka. James beralasan pada para perawat ingin meneliti aktifitas para lansia untuk tugas sekolahnya. Tidak hanya penjelasan lisan, James telah menyiapkan beberapa perlengkapan seperti kamera untuk memperkuat alibinya membuat sebuah penelitian.
"Haha.. sekarang dengarkan aku," James menarik Al agar mendekat ke dirinya. James lebih tinggi dari Al membuatnya sedikit menunduk agar mampu menatap manik hijau milik adiknya. "Kau bawa kamera ini. Kau lebih pandai mengambil gambar. Kita pura-pura memawancarai para nenek dan kakek ini sambil kita mencari di mana Grandma Petunia. Paham? Ingat, tetap fokus!"
"Tetap fokus!" jawab Al bersemangat.
Markas besar Auror semakin sepi dan dingin, khususnya bagi Lily. Ia baru saja membuat kelakuan yang tidak sopan dilakukan oleh seorang anak kecil. Lily duduk menjauh dari Jerome. Ia takut jika Jerome semakin marah dan bisa berbuat kasar padanya.
"Kau masih terlalu muda untuk paham dengan masalah ini, Lily." kata Jerome tiba-tiba.
Lily diam. Ia tidak ingin memperparah masalah dengan Jerome. "Tapi harus berani untuk memahaminya, Uncle—"
"Bahkan hanya untuk sekadar memahami," potong Jerome cepat, ia kembali mendekati Lily tanpa mempedulikan anak dari pimpinannya itu sangat ketakutan bersamanya, "kau bisa mati di sini." Kata Jerome tajam.
"Teror itu—"
"Uncle yang melakukannya! Uncle yang menjebak Daddy, kan?" Lily berteriak tak bisa menutupi ketakutannya lagi. Lily tidak tahan lagi.
Memilih Lily sebagai agen penyusup ke Kementerian sendirian memang pilihan tepat. Tapi James lupa bahwa Lily masih sangatlah kecil, emosinya belum terkendali. Terlalu cepat gadis cilik itu mengambil kesimpulan. Ia telah melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya.
Puluhan gambar aktifitas para lansia didapat oleh Al. Namun, tidak ada satupun yang memberi mereka petunjuk siapa sosok tersangkanya. James mulai lelah dengan rencananya kali ini. Tidak ada petunjuk yang bisa ia dapat dari wawancaranya bersama para lansia itu. Hanya letak kamar Petunia yang bisa dikatakan satu petunjuk penting di sana.
"Kita tinggal mencari Grandma Petunia. Sedikit banyak pasti ada petunjuk di sana. Semangatlah, James! Bayangkan saja para nenek itu gadis-gadis cantik yang selalu mengejarmu di sekolah."
Al menarik tangan James agar segera bergerak ke kamar Petunia. Sejauh ini semangat Al semakin bertambah sejak ia mendapat properti kamera dari James. Ia suka sekali memotret, ditambah dengan kamera itu ia bisa ikut mengamati apapun di sekitar panti lebih teliti. Seperti beberapa palang petunjuk tentang letak kamar lansia.
Berdasarkan salah satu hasil foto yang didapat Al, area kamar Petunia berada di gedung belakang. Dekat taman. Tinggal mereka mencari nomor kamarnya saja. Tiba saat James dan Al berbelok di tikungan menuju kamar Petunia, mereka melihat seorang pria berseragam perawat membawa nampan masuk ke kamar petunia.
Ckrek! Al berhasil membidik pria berseragam pegawai panti itu sebelum masuk. James memaksa melihat hasilnya. "Sepertinya aku kenal?" Kata James mengamati wajah pegawai itu.
"Dia pegawai di sini jadi paling tidak kau sudah pernah melihatnya, kan."
"Benar juga, eh.. cepat ambil lagi gambarnya. Dari jendela, Al!"
Karena posisi mereka yang berdiri di sisi jendela sedikit menyusahkan melihat jelas, Al harus mengangkat tangannya tinggi agar mampu mengambir gambar di dalam kamar Petunia tanpa harus menampakkan dirinya. "Dapat James!" bisik Al. Ia lantas membuka hasil fotonya.
"Nah, sejak kapan pegawai yang membawa nampan tadi berubah?"
"Aneh. Wajahnya dan pakaiannya berbeda, James. Tapi lihat, aku dapat gambar seluruh ruangan di dalam. Tidak ada orang lain selain dia dan Grandma Petunia."
Satu persatu ketakutan itu muncul. "Apa mungkin dia—"
"Ada yang datang! Sembunyi, James!" Al menarik James agar bersembunyi di balik pintu lemari penyimpanan di depan kamar Petunia.
Langkah kaki sepasang orang dewasa mendekat. James berusaha mengintip siapa yang datang. Tangannya menarik Al agar bersembunyi di belakangnya. "Itu Uncle Dudley dan Aunt Sarah, Al. Mengapa mereka datang kemari?" tanya James berbisik.
"Entahlah, bahkan kita tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam—"
"Kau tenang saja," James tiba-tiba mengeluarkan sebuah alat menyerupai sepasang telinga yang menyatu. James mengerlingkan matanya pada Al. "Aku telah memikirkan semalaman alat apa saja yang bisa membantu kita dalam penyelidikan ini, Al. Di sini, aku adalah kakakmu, pimpinanmu, dan tugasku memikirkan semuanya dan tentu saja menjagamu. Kita akan dengar dengan ini."
James lantas menggerakkan salah satu telinga itu mendekati lubang jendela yang terbuka. Alat penguping produksi toko George itu bekerja sesuai perintah James. Ia sudah sangat lihai menggunakan alat sihir itu. "Kau memang seorang keturunan Marauder sejati, James!"
Suara para lansia berteriak-teriak heboh karena bermain lempar bola dari luar sangat jelas terdengar ketika alat itu bergerak mendekati jendela. Pelan-pelan, satu sisi telinga mainan sihir itu naik dan menyelinap masuk.
"Maafkan aku, Mum. Dan kau Piers, kau benar, Flo memang tidak baik hidup dengan para penyihir itu. Aku menyesal percaya pada Harry." Kalimat pertama yang ditangkap oleh telinga penguping milik James. Kedua Potter itu terdiam.
"Hubungan Dad dan Uncle Dudley akan berakhir, James." Bisik Al.
"Tidak akan, Al. Kita akan buat hubungan mereka kembali baik. Aku janji!" Mata James membulat sempurna. Keyakinan penuh telah ia pegang.
Brukk! Pintu ruangan Auror terbuka keras dan mengejutkan kedua orang di dalamnya. Jerome melepas cengkraman tangannya dari Lily cepat-cepat. Harry masuk dengan wajah menegang.
"Lily apa yang kau bicarakan tadi? Jerome, ada apa sebenarnya ini?" tanya Harry marah.
Lily berlari memeluk Harry dan menangis tersedu. "Daddy, Uncle Jero jahat!" pekik Lily.
"Sayang, bicara pelan-pelan. Ada apa—"
"Teror," potong Lily, ia menunjuk tepat ke arah Jerome lantas berkata, "Uncle Jerome yang melakukan teror itu, Dad." ujar Lily dengan suara bergetar.
Harry langsung menegang. Jerome pun ikut tak nyaman dengan tuduhan Lily yang begitu tiba-tiba. Kedua tangan Jerome terulur ke depan meminta waktu untuk menjelaskan semuanya. Tapi Harry tak lagi tenang.
"Jero—"
"Dengarkan saya terlebih dulu, Mr. Potter! Semua tuduhan Lily itu salah. Bahkan saya—"
Harry mengeluarkan tongkatnya dari balik seragam Aurornya. Teracung tepat di depan tubuh Jerome. "Apa? Kau terlihat gugup sekali sejak tadi. Tingkahmu mencurigakan. Kau mau mengelak lagi? Lily ketakutan dengan sikapmu yang dingin itu. Kau mau melukainya sekarang?"
Tiba-tiba suara Ron semakin dekat dan mencegah Lily agar menjauh. "Hey, mate! Tenangkan emosimu! Kita bisa bicarakan baik-baik, kan!" kata Ron yang sudah meraih Lily menjauh dari Harry.
"Tidak bisa, Ron. Jero sudah mengadudombaku dengan Dudley hingga mencelakai Flo. Dia—"
"Tunggu dulu! Saya sama sekali tidak pernah berniat mencelakai anda, sir. Meskipun kerja saya lambat, tapi saya bertekat untuk selalu menjaga anda sejak anda memberikan kepercayaan itu kepada saya. Kepercayaan untuk saya bekerja di departemen Auror ini. Hanya anda yang percaya dengan saya, Mr. Potter, dan saya tak akan pernah mensia-siakan kepercayaan anda itu." Kata Jerome terus menahan Harry.
Harry menggeleng. "Aku percaya padamu karena aku melihat kau adalah orang yang jujur. Kau pekerja keras dan mau belajar. Ya, tapi itu dulu sebelum aku tahu bagaimana kau sekarang. Kau lemah dan pengecut—"
"Ya, saya memang lemah tak bisa menjaga anda dari psikopat seperti Scoot!"
Harry semakin geram. "Jangan melempar kesalahan pada orang lain—"
"Kalian tenang! Harry, turunkan tongkatmu. Aku tahu beratnya masalah ini bagimu tapi aku mohon, kau masih punya hati, kan?" pinta Ron menengahi.
Selanjutnya, Ron meminta Harry diam dan mempersilakan Jerome agar menjelaskan semuanya. "Scoot. Dia pelakunya. Saya tahu semua teror itu, sir. Bahkan sebelum semuanya terjadi."
"Dari mana? Jangan membual—" Harry lagi-lagi tak bisa menahan emosinya.
"Saya tahu dari salah satu barang milik Scoot. Tapi saya tidak bisa menunjukkannya karena saya melihat tadi Scoot membawanya pergi." Tutur Jerome. Badannya masih lemas sejak pagi. "Semua rencana teror itu ada di buku catatan Scoot."
Tiba-tiba Ron mengangkat sebuah buku yang sejak tadi ia bawa. Buku coklat dengan sampul bertuliskan nama Scoot. "Mungkin dia salah membawa bukuku. Ini di meja rapat tadi, tapi buku milikku tidak ada." Kata Ron.
"Apa anda masih ingat, Mr. Potter, saat kita mengunjungi Hogwarts? Ketika kita akan pulang, Scoot dan Mr. Weasley tidak bersama kita. Dan saat itu, saya menemukan buku catatan Scoot ketika di perpustakaan Hogwarts. Saya sempat membacanya, membaca semua rencana busuknya itu."
Harry yang mendengar penjelasan Jerome lantas mengambil buku Scoot paksa dari tangan Ron. Membukanya setiap lembar dan mengamati satu persatu tulisan tangan Scoot. Tepat di tiga perempat bagian, catatan khusus tertulis di sana.
"Florence Dursley, Hogwarts, Ravenclaw, sapu terbang, boneka berdarah.. apa-apaan ini?" bisik Harry tidak percaya. Tulisan-tulisan Scoot penuh penjelasan yang sangat Harry tahu itu semua teror yang telah ia terima.
"Saya sempat ragu dengan pikiran saya sendiri. Saya tidak yakin orang yang begitu pekerja keras dan baik pada anda akan melakukan serangkaian teror kepada anda. Mencelakai anda. Tapi saya.. maafkan saya, saya sudah berusaha untuk menghalangi berbagai aksinya, tapi saya selalu terlambat." Ratap Jerome penuh penyesalan.
Ron sempat bergumam tetang Scoot. Ia pernah bersama Scoot datang berdua ke rumah Harry setelah dari Hogwarts kala itu. Itulah sebabnya Harry hanya bersama Jerome saat mereka kembali. "Scoot dan aku datang ke rumahmu, Harry, karena saat itu Scoot ingin meminta tanda tangan Ginny untuk adiknya yang mengidolakan para pemain Quidditch seperti Ginny. Oh Merlin! Aku ingat, Ginny pernah menceritakan keinginanmu membelikan sapu untuk Flo. Dan mungkin itu yang membuatnya tahu dan mengirimkan sapu Flo lebih dulu darimu dan melancarkan terornya!" kata Ron menyadari fakta-fakta itu.
"Saya selalu mendapat halangan." Suara Jerome bergetar menahan tangis. "Scoot selalu tahu jika saya akan mencegah teror itu. Dan hasilnya, dia selalu mencelakai saya. Tapi lihat, dia sama sekali tak menunjukkan sikap bersalahnya. Bahkan hari ini, saya hampir mati ditangan karena ia ingin memotong urat nadi saya. Karena saya saat tahu.. dia akan mencelakai anak-anak anda, Mr. Potter! Hari ini."
Lily terduduk lemas di kursi dari salah satu meja. Ia tidak percaya bahwa orang yang ia takuti sejak awal sebagai tersangka ternyata adalah orang yang selama ini melindungi mereka. Bahkan hari ini, sikap-sikap kasar Jerome pada Scoot adalah usahanya untuk melindungi dirinya.
"I'm so sorry, Jerome. Aku tak tahu bahwa.. Scoot, orang yang sangat aku percaya, dia—"
"Saya yang harusnya minta maaf, sir. Saya terlalu lemah untuk menjadi seorang Auror hebat seperti anda." Jerome menunduk semakin pasrah. Ia begitu tak berdaya mengakui semua kelemahannya. Suatu kekurangan yang tidak pantas dimiliki oleh seorang Auror.
Harry menggeleng. "Tidak, kau Auror yang hebat. Bahkan kau sudah berani melawannya demi menjagaku. Tapi.. di mana Scoot. Bukannya dia keluar? Jangan-jangan.. James dan Al. Lily—"
"Maafkan aku, Dad. Ini rencana James, Al, dan aku untuk menyelidiki pelaku terornya. Aku mendapat tugas di sini untuk mencari petunjuk pelakunya sementara James dan Al di tempat lain." kata Lily ketakutan.
"Rencana? Oh God! Kalian masih kecil! Lily, ini berbahaya, nak." Ujar Harry mulai takut.
"Pasti," Jerome memotong kalimat Harry, "mungkin Scoot tadi berhasil membaca pikiran Lily. Ia pasti sudah mengejar putra-putra anda, sir," kata Jerome sangat yakin.
"Lalu di mana mereka sekarang? Lily, katakan dimana James dan Al sekarang!" pinta Ron.
Lily menelan ludahnya susah payah. "Nursing home tempat Grandma Petunia."
Suara tangisan Petunia terdengar memperburuk hasil menguping James dan Al. Tidak jelas apa yang dibicarakan para orang dewasa di sana. Knop pengatur kepekaan suara di salah satu telinga itu tidak bisa membantu. James telah berkali-kali memutar-mutar tombolnya, tapi hasilnya sama saja.
Al lelah, ia pun tak tahan untuk terus menunggu dari benda penguping itu. "Kita harus mendekat, James!" pinta Al agar mereka lebih mendekat ke sisi bawah jendela. Jarak mereka menguping sekitar satu setengah meter di depan jendela, cukup jauh jika harus mengandalkan benda sihir yang begitu kecil.
"Jangan, aku bilang jangan!" cegah James. Tapi, Al sudah lebih mendekat ke bawah jendela. Ia merunduk sambil menempelkan telinga ke sisi tembok. Al tersenyum.
"Lumayan terdengar di sini, James. Kemarilah!"
Akhirnya James pun bergerak mendekat. Tapi sungguh malang nasib mereka, sebuah bola basket menghantam keras tembok tepat di sisi James. Lalu, bola itu jatuh ke lantai lantas berhenti setelah menyentuh kakinya. Sorak para lansia menyadarkannya.
"Lemparkan lagi kemari, anak muda!" Suara teriakan seorang kakek dari luar panti yang sedang berolahraga, diikuti suara lansia lagi yang makin memperburuk suasana. "Bloody hell!" umpat James kesal ia mengambil bola basket itu sebelum ia kembali mengamati dalam ruangan Petunia.
Suara teriakan para lansia itu sontak membuat Petunia, Dudley, Sarah dan juga sosok Piers menoleh ke arah jendela. Tepat di detik yang sama, pandangan James dan Piers beradu. Badan James kaku ketika Piers seolah lega berhasil menemukan orang yang telah lama ia cari-cari.
"James, kau apa-apaan—"
"MERUNDUK, AL!"
Duarr! Tembok kamar dibelakang Al hancur. Kegaduhan langsung melanda di penjuru panti. Teriakan para lansia dan pengasuh bersahutan diimbangi mereka yang sanggup berlari menyelamatkan diri. James bergegas menarik tangan Al untuk segera menjauh dari kamar Petunia.
Lubang besar yang terbuka di kamar Petunia mampu membuat Dudley dan Sarah ketakutan. Sementara Petunia di atas kursi rodanya menangis semakin keras. Piers telah menggenggam sebuah benda. Tongkat, ia mengacungkan tongkat itu sambil tersenyum ke arah keduanya. "Piers, kenapa kau? Kau bisa melakukan sihir—"
Belum sempat Dudley bertanya lengkap, dari arah pintu yang kini terbuka, James, mendribbel bola basket –yang sempat ia ambil beberapa waktu lalu— beberapa kali sampai kesempatan menyerang datang. "Uncle Dudley, Aunt Sarah, menyingkir!" teriak Al mengalihkan konsentrasi.
"Kau tak kenal aku, stupid old man?" tanya James masih terus mendribbel bola basketnya. "Kapten basket Sheen Primary School yang 89% tak pernah meleset menembak ke dalam ring! Rasakan ini!"
Dengan gaya seorang shooter handal, James melemparkan bola basketnya tepat ke arah kepala Piers. "Masuk!" sorak James puas. Kebiasaannya setiap kali berhasil mendapatkan poin ketika bertanding basket.
Piers mengerang kesakitan di lantai kamar Petunia. Sementara pria itu sibuk dengan rasa sakitnya, James dan Al mengajak Dudley, Sarah agar menjauh. "Ayo kita cepat keluar—"
"Tunggu! Kenapa kalian bisa kemari?" tanya Dudley terbata-bata. Ia menggeggam tangan Sarah yang berdarah karena serpihan tembok yang hancur.
James mengambil beberapa benda aneh dari dalam ranselnya. Berbentuk bola dengan penutup di atasnya. Ada sekitar lima buah yang ia ambil. "Kami ingin mencari tahu siapa pelaku teror itu, Uncle. Karena kami yakin ayah kami tidak bersalah dalam kasus ini." tutur James. Ia langsung mengambil plaster dari dalam saku tasnya. Ia sering menyimpan plester di dalam tas mengingat ia sering terjatuh ketika berlatih basket. Hanya untuk jaga-jaga.
Tangan James membuka perekat plesternya dan menempelkan pada luka Sarah. "Ini untuk sementara agar tak infeksi. Nanti biar Mum obati. Mum punya obat yang manjur untuk luka seperti ini." kata James sangat sopan.
"Terima kasih, James!" bisik Sarah pelan. Ia senang melihat kebaikan anak-anak Harry yang begitu tulus.
Al sudah mendorong kursi roda Petunia mendekat. "Ayo cepat! Sebelum dia bangun. Ayo, James!" serunya. Tangis Petunia terhenti saat melihat sosok Al yang begitu mirip dengan Harry sedang mendorong kursi rodanya untuk menyelamatkannya. Tubuh anak itu kecil dan sedikit kurus, sangat mirip ketika Harry kecil dulu. Petunia sangat ingat. Amat sangat mengingatnya.
"Pegangan ya, Grandma. Aku akan berlari. Tenang saja, aku masih kuat." Bisik Al meyakinkan Petunia yang terus melihatnya ke belakang.
Sepanjang lorong, James melemparkan bola-bola kecilnya pada segerombolan lansia dan perawat yang panik karena ledakan itu. Bola-bola yang dilempar James langsung berubah menjadi asap setelah menyentuh lantai. Dan beberapa saat kemudian, orang-orang itu tertidur di atas lantai. Tertidur sangat pulas.
"Hey, kau apakan mereka, James?" tanya Dudley heran.
"Aku belum punya tongkat sihir, Uncle, dan sihirku belum begitu terlatih. Jadi aku menggunakan mainan-mainan sihir ini untuk mereka. Tenang, mereka hanya tertidur. Mereka akan bangun satu jam lagi." Jelas James.
Satu persatu bola bius itu dilempar oleh James ke beberapa tempat penuh dengan lansia. Kepanikan perlahan reda ketika semua orang tertidur pulas, kecuali James, Al, Sarah, Dudley dan Petunia. "James, dia datang lagi!" bisik Al di tempat persembunyian mereka. Ruang penyimpanan alat olahraga.
"Sungguh, alam telah membantu kita." Kata James senang. Ia terpesona dengan satu keranjang besar berisi bola basket dan voly di sana. James mulai tak fokus dengan persembunyiannya.
"James, dia semakin dekat—"
"Kau pantau dia, Al. Tetap fokus," perintah James.
Piers berjalan tertatih sambil memegang kepalanya. Ia berteriak-teriak aneh memanggil Dudley dan yang lainnya. "Hey, kalian di mana? Kalau mau bermain, silakan. Aku mau ikut permainan kalian." Kata Piers dengan nada anak-anak.
Tepat di depan pintu ruang persembunyian mereka, Piers akhirnya merasakan kehadiran orang-orang yang dicarinya itu. "Ow.. di sini rupanya—"
"Ya, dan kau mau bermain? Ayo bermain denganku!" teriak James keras sambil melepar bola-bola basket dan voly ke arah Piers. Satu persatu rupanya mampu ditepis oleh Piers.
"Seru sekali!" teriak Piers seperti anak kecil. ia bersemangat meladeni serangan James.
"Sial. Tinggal satu." pekik James. Persediaan bola hanya tinggal satu di dalam keranjang. Sedangan alat-alat yang ia bawa sudah ia gunakan semuanya. Ia terjebak.
Dengan wajah tikus Piers yang menjijikan, pria itu semakin mendekat. Bukan pada James, tapi Dudley. "Piers, sadar. Kau kenapa? Aku sahabatmu sendiri!" teriak Dudley dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Siapa? Sahabat? Aku tak kenal kau!"
"Jangan!" teriak Sarah ketakutan.
Piers cepat menarik Dudley dan mendekapnya erat. Menyandera Dudley dengan lengannya yang kuat membuat James tak bisa berbuat apa-apa. Ia sendiri terdesak. Ia hanya memegang satu bola basket yang ia telah sembunyikan di belakang punggungnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin James bimbang. Ia tidak boleh sembarangan mengambil keputusan. Ia harus berhati-hati jika akan menyerang Piers. Ia hanya punya bola, sementara Piers memegang tongkat sihir. Sekali salah bertindak, ia bisa celaka. Ditambah Dudley sedang ada bersama Piers.
Al berbisik pelan agar James tenang. "Fokus James. Pikirkan baik-baik. Jangan sampai kau ikut melukai Uncle Dudley." Kata Al. Petunia makin terisak di sisi Al melihat putranya disandera.
"Kata Dad," James tiba-tiba bersuara. Ia melangkah perlahan mendekat ke arah Piers. Dudley menggeleng pelan meminta James agar tak semakin dekat. Piers tersenyum puas jebakannya berhasil. Ia tersenyum puas sambil tetap mempertahankan tongkatnya di depan leher Dudley. "aku tidak boleh menjahili orang. Apalagi orang itu lebih tua dariku. Tidak sopan." Tutur James seperti berdongeng.
"Yeah, itu benar, nak. Tak boleh kau menjadi anak nakal." Sahut Piers.
"Benar, tapi.. aku bahkan sudah melempar kepalamu dengan bola basket tadi. Karena sudah terlanjur tidak sopan, aku akan melakukannya lagi padamu. Rasakan!"
Duak! James melempar bola basket berat itu lebih dekat ke kepala Piers hingga pria itu jatuh. Dudley lepas dan bergegas lari. Namun, kini James dalam bahaya. Jarak mereka kini semakin dekat dan James tidak bisa berlari. "Kau memang nakal, ya, anak muda. Rupanya kau harus di hukum. Cruci—"
"Stupefy!"
Harry datang bersama Ron, Jerome dan Lily. Ia menyerang cepat tongkat Piers sebelum sempat melukai James. "Jangan sentuh putraku, bajingan!" Harry berdiri cepat di depan James. Harry mengacungkan tongkatnya siap menyerang. Senjata Piers terlucuti.
"Oh, hai, Mr. Potter. Anda juga ingin bermain—"
Tiba-tiba Jerome berlari dan merapalkan mantera pada Piers yang siap mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku jaketnya. "Expelliarmus!" ucapnya lantang.
Piers terlempar jauh hingga menghantam meja kaca hingga hancur. "Ingat kau, Scoot. Jangan sekali-kali kau lukai keluarga Mr. Potter. Karena aku akan lebih dulu mengantarkanmu ke Azkaban atau langsung ke neraka jika kau mau." Bisik Jerome pelan dan sejurus kemudian ia meninjukan kepalan tangannya tepat ke wajah Piers yang dengan perlahan berubah menjadi Scoot.
"Piers—"
"Dia anak buahku di Kementerian, Dudley. Kami semua tidak tahu jika dia ternyata memiliki gangguan jiwa. Dia psikopat. Dia suka melukai orang lain dengan cara yang sangat cerdik, ia bisa berlaku normal tanpa merasa bersalah meski telah mencelakai nyawa orang lain. Aku sungguh minta maaf padamu, Dudley, telah membawa-bawamu pada masalah ini." tutur Harry meminta maaf.
Jerome dibantu oleh Ron bergegas mengamankan Scoot dengan beberapa sihir. Harry terlebih dulu menghubungi tim pengamanan dari divisinya agar datang untuk membawa Scoot menuju Kementerian.
Dudley menggeleng pelan. "Tidak, Harry. Aku pun minta maaf, aku baru tahu jika kejadiannya seperti ini. Kau sendiri tidak tahu siapa pelakunya. Kita hanya.. sedan dipermainkan orang lain. Ini bukan salahmu. Dan.. sungguh aku sangat berterima kasih pada James—"
James yang berdiri bersama Al dan Lily di sisi sofa lantas menoleh. Harry menatap ketiga anaknya yang ketakutan melihat dirinya. Harry menggeleng tak percaya dengan ulah anak-anaknya sendiri. "Jangan marah padanya, Harry." Kata Sarah membalas.
"James dan Al menjaga kami. Mum dijaga baik-baik oleh Al, James juga mengobati lukaku." Tutur Sarah. Mereka mengamati anak-anak itu dengan tatapan bangga. Tapi tidak untuk Harry. Ia masih kesal dengan perbuatan anak-anaknya yang berani berbohong demi menyelidiki sesuatu yang sangat berbahaya.
Semuanya tersenyum lega, semua telah bisa di atasi meski banyak sekali kerusakan di panti jompo itu. Ron dan Harry memilih menjauh ke sekitar panti untuk memperbaiki beberapa bagian yang rusak. Cukup beberapa kali ayunan tongkat, tembok yang hancur kembali berdiri, barang-barang yang pecah kembali utuh. Tapi, mereka hampir melupakan sesuatu.
Para lansia dan perawat yang tertidur.
"Bagaimana dengan mereka, Harry?" tanya Ron menunjuk banyak orang yang tertidur. "Bagaimana mereka semua bisa tertidur, ya?"
"Aku menggunakan bola pembius dari toko Uncle George." Sahut James
Semua orang yang tersadar menoleh pada James. "Mereka akan terbangun tersendiri. Tapi.. mereka sudah melihat semuanya. Sihir-sihir itu." ujar James takut-takut.
"Ow itu, biar aku saja yang memanipulasi ingatan mereka." dengan gerakan ayunan tongkat yang berbeda dari biasanya, Jerome membuat sinar berwarna hijau dari ujung tongkatnya menyebar menuju seluruh tubuh yang terkapar.
James, Al, Lily bergerombol di salah satu sofa panjang di depan meja informasi. Semua telah dibereskan oleh Harry dan anak buahnya. Mulai dari memperbaiki bagunan sampai membawa Scoot untuk diamankan diKementerian. Penampilan merekapun telah berubah dari seragam lengkap Auror menjadi kemeja dan celana jins ala Muggle. Jerome yang seorang pure blood paling senang dengan penampilan barunya.
"Kids—"
"Ampun, Daddy. Ampun! Kami janji tidak lakukan lagi, kami hanya ingin membantumu," dan permohonan maaf lain terus bersahutan dari mulut Al dan Lily di sisi kanan dan kiri Harry. Mereka menarik-narik tangan sang ayah sambil terus meminta maaf. Ya, hanya Al dan Lily. Lalu James?
"Ah.. emm.. Dad, maaf—"
"Kau berhasil, son!" kata Harry menatap tajam putra sulungnya. Inilah yang diharapkan dirinya ketika mendapatkan James pertama kali. Saat Ginny berhasil melahirkan James malam itu, Harry menangis haru. Ia sangat menginginkan anak pertamanya adalah laki-laki. Bukan karena demi mempertahankan nama keluarga Potter agar tetap ada di generasi selanjutnya, tapi karena sebuah alasan lain.
Harry ingin menjadikan anak pertamanya sebagai pemimpin dan pelindung bagi keluarga. Jika ia tak bisa, James lah penggantinya.
James tersenyum simpul dengan pujian sang ayah. "Thanks, Dad." Jawabnya.
"But, caranya bukan seperti ini. Ini berbahaya, walaupun kau bisa mengatasinya. Dad bangga padamu, Jamie!" Harry memanggil putranya dengan panggilan kecilnya.
Harry memeluk putranya begitu erat, mencium puncak kepalanya sambil terus menggumamkan rasa bangganya. "Tapi kau tetap harus dihukum." Bisik Harry tiba-tiba.
"Apa?" protes James.
"Ah, dan kalian juga tentunya," tunjuk Harry pada Al dan Lily. "Tunggu di rumah. Dad dan Mum akan beritahu apa hukuman yang tepat untuk kalian bertiga."
Paduan suara 'aagghh' dari ketika Potter kecil membuat mereka yang melihatnya tertawa bersama. Salah satunya adalah Petunia. Harry melihat satu-satunya bibi dari keluarga orang tuanya itu tersenyum melihat dirinya.
"Jangan terlalu keras, Potter."
"Yeah, aku tahu, Aunt." Balas Harry lantas merunduk di depan kursi roda Petunia. "Karena aku dan Ginny sangat menyayangi mereka, melebihi apapun." Lanjut Harry.
Petunia mengangguk-angguk paham. Air matanya meleleh keluar menuruni pipi keriputnya. Tangan Harry tergerak untuk mengusap air matanya. "Harry—"
"Husss, tak apa, Aunt Petunia. Maafkan aku jika memang masih tak berkenan bagimu."
"Aku.. a-aku maaf."
Dengan segala kerendahan hati, Harry mencium tangan Petunia penuh penghormatan. Semua yang melihatnya hanya bisa terdiam. Terharu.
Setelah semua sadar, Harry dan yang lainnya berpamitan untuk kembali. Hanya ada satu kendaran di sana, mobil Dudley. Ya, karena Harry, Lily, Jerome, dan Ron datang ke panti dengan berapparate. Jadilah, mereka akan pulang dengan ikut bersama mobil Dudley.
"Kerumahku dulu, ya, Jero, Ron. Aku sudah menghubungi Ginny untuk menyiapkan makan malam untuk kita semua. Aku sudah meminta Hermione dan anak-anakmu untuk ikut juga." Pinta Harry sambil menunggu Dudley dan Sarah yang masih ada di dalam.
Dari kejauhan, mereka akhirnya melihat Dudley dan Sarah keluar, namun.. tiba-tiba berhenti.
Dudley menarik tangan Sarah menahannya. "Sarah, aku—"
"Yeah. Aku tahu, Dudley. Meskipun aku masih tak ingin berpisah denganmu." Tutur Sarah.
"Bukan. Aku hanya ingin meminta maaf, padamu. Aku harusnya memahamimu, Sarah." Kata Dudley pelan. Ia sangat tahu bagaimana cara untuk berkomunikasi dengan Sarah ketika mereka baru saja bertengkar.
Hati Sarah sangatlah lembut. Dudley tak pernah berani jika di saat seperti itu ia kembali marah apalagi membentak Sarah. Ibu dari anak-anaknya, yang sangat ia cintai.
"Aku selalu memaafkanmu, Dudley. Karena sebagai istri yang baik, aku harus menghormati suamiku sendiri. Salah satunya dengan memaafkan kesalahannya dengan hati yang tulus—"
"Dan kau memang istriku yang baik. Dan selamanya akan seperti itu."
Sarah terhenyak dengan penjelasan Dudley yang tiba-tiba. Pria jangkung itu tersenyum manis. "Aku tak akan menceraikanmu, Sarah. I love you!"
"Awww!" para anak bersorak kaget ketika Dudley menempelkan bibirnya pada bibir Sarah. Lily dan Al berteriak histeris saat mata anak-anaknya melihat sesuatu yang terlampau dewasa bagi usia mereka.
Harry pun tak sengaja melihat adegan romantis itu langsung menarik kedua anaknya dan menutup mata mereka. "Jangan dilihat!" kata Harry masih menutup mata Al dan Lily sekaligus.
"Ahh Daddy, tapi aku kan sudah sering melihat Dad dan Mum berciuman!" protes Lily.
"Iya, aku ingin tahu apa bedanya kalau Uncle Dudley dan Aunt Sarah yang berciuman." Balas Al.
Ron dan Jerome terbahak bersama melihat keluguan Al dan Lily. Sementara James, "oh my God! Berciumannya sampai seperti itu. Bibir Aunt Sarah digi— aagghh!"
"I can handle it, sir!" Jerome kini beralih mendekati James dan menutup kedua mata anak laki-laki itu dengan telapak tangannya.
"Aaagg tolong! Uncle Jero, lepas! Mataku oh.. mataku! Aaaggghh!" James berontak sambil mengehntak-hentakkan kakinya ingin dilepaskan.
Jerome terus bertahan, dengan kungkungan tangannya, lantas berkata, "kau masih kecil, James. Sama saja ciuman mereka dengan ciuman ayah dan ibumu, kok." Goda Jerome langsung mendapat sorotan tajam dari Harry.
"Just kidding, Mr. Potter." Seru Jerome puas.
Yeah, kepercayaan itu memang yang utama. Karena kebahagiaan lahir salah satunya dari rasa saling percaya.
~o0o~
#
Bagaimana? Apa benar tebakan kalian soal tersangkanya? Hayo! Anne di sini baru pertama pakai karakter psikopat, loh. Semoga nyambung ya sama karakter Scoot dengan ciri-ciri psikopat biasanya. Anne pernah baca soal ilmu kejiwaan, dan tentang psikopat ya kayak gitu sifatnya. Kalau salah, maaf, ya! Anggap saja itu hanya untuk tuntutan cerita, *Anne selalu begitu, lupakan* :P
Semoga waktu bacanya nggak bosen, ya. Anne takut banget soalnya kepanjangannya. Yeahhh dan keputusan Anne buat fic ini, Anne setuju buatkan epilognya. Tepuk tangan!
Jadi ditunggu, ya! Anne sudah mulai rancangkan cerita buat epilognya. Anne tunggu reviewnya! So, semoga terhibur! Anne sayang kalian!
Thanks,
Anne x
