Ting tong

Suara bel mengintrupsi kediaman keluarga Park. Chanyeol, yang sedang membaca koran dengan di temani Minseok di sampingnya melihat pintu depan sebentar lalu melanjutkan kegiatannya lagi.

Minseok menaruh mangkuk berisi buah-buahan ke atas meja lalu berjalan ke arah pintu depan. Dibukanya pintu tersebut dan langsung menampakan sosok Yixing yang tersenyum hangat padanya.

Minseok membuka pintu lebih lebar untuk memberikan akses Yixing untuk masuk, "Ayo masuk, Xingie."

Yixing menggelengkan kepalanya, "Saya kesini hanya ingin bertemu Sehun-"

"Eomma, aku pamit." Sehun memotong perkataan Yixing sembari memakai sepatunya. Minseok melihat ke arah Sehun lalu Yixing. "Kalian ingin pergi kemana?" tanya Minseok penasaran. Yixing menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Saya sendiri juga tidak tahu, ahjussi."

"Sekolah,"

Sehun membenarkan tali sepatunya lalu mencium pipi Minseok dan tersenyum hangat, "Aku pamit, eomma."

Yixing membelakan matanya. "Untuk apa kita ke sekolah di malam hari!?"protes Yixing. Kalau tau begini, lebih baik aku membantu Soo mama memasak, batin Yixing.

Minseok menganggukkan kepalanya, tanda setuju dengan perkataan Yixing. Tangannya dia taruh di atas kepala Sehun sembari mengelusnya kepala anaknya lembut. "Apa kamu meninggalkan sesuatu, Hunie?" tanya Minseok. Dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Sehun.

"Tapi kenapa kau mengajakku?" Yixing tetap tidak bisa terima dengan rencana Sehun untuk pergi ke sekolah di malam hari. Sehun mendelik ke arah Yixing lalu mengangkat bahunya tanda tidak tahu. "Namamu terpampang pertama kali di kotak masuk. Jadi...aku menelfonmu untuk menemaniku."

"Aku tidak mau! Shireo!" Yixing menghentakkan kakinya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Minseok terkekeh kecil, "Kamu sangat mirip dengan eommamu, Xingie," Minseok melihat Sehun kembali sambil tersenyum. "Jaga Yixing dan hati-hati di jalan."

Sehun tersenyum lebar sambil mengangguk, "Oke, eomma. Sehun akan menjaga Yixing."

Sambil masih tersenyum, Minseok melihat Yixing yang hanya menghela nafas karena kalah telak. "Yixingie, panggil aku eomma. Kamu sudah seperti anak saya sendiri."

Yixing mengerjapkan matanya beberapa kali lalu menggangukkan kepalanya polos. Kembali, Minseok dibuat terkekeh kecil dengan kelakuan lucu Yixing yang sangat mirip dengan Kyungsoo.

Sehun menggelengkan kepalanya lalu keluar dari rumahnya dan menarik tangan Yixing untuk segera berangkat.

.

.

.

.

.

.

Sekolah. 19.10

Yixing langsung melompat dari atas motor milik Sehun dan membuka kaca helm miliknya. Bola matanya menyisiri keadaan sekolah dari luar. Gelap dan...mengerikan.

Sehun melepas helm miliknya sambil melihat Yixing aneh. "Cepat lepaskan helm-mu agar kita bisa cepat kembali ke rumah."

Dengan perintah Sehun, Yixing melepas helm miliknya dan langsung berlari ke arah Sehun saat meyadari Sehun meninggalkannya sendiri di parkiran sekolah.

.

.

.

.

Di sinilah mereka berdua. Di dalam kelas yang sepi. Hanya mereka berdua.

Yixing mendudukkan dirinya di atas meja guru sembari kedua matanya melihat Sehun yang masih mencari barang miliknya. Terkadang matanya menyapu keadaan di dalam kelasnya. Aku tidak mau lagi ke sekolah di malam hari, pikir Yixing.

"Yixing?"

Sehun berdeham sebentar sembari melihat ke arah Yixing yang duduk di atas meja guru. Merasa namanya dipanggil, Yixing menoleh pada Sehun sambil mengernyitkan dahinya bingung.

"Ada apa denganmu?" tanya Yixing sambil melompat turun.

Sehun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku ingin ke toilet. Kamu tunggu sini, ya?"

Seketika Yixing berlari ke arah Sehun. "Gak. Lebih baik aku ikut kamu." Yixing menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Cukup diajak ke sekoah di malam hari, dan sekarang Sehun ingin meninggalkannya sendiri di kelas ini? Tidak.

Helaan nafas keluar dari mulut Sehun, "Tapi, aku hanya sebentar. Janji aku akan berlari ke sini." Tangan besar –tentu saja kalau diukur dengan milik Yixing- Sehun memegang bahu Yixing dan melihat kedua bola mata Yixing dalam.

Sehun tersenyum lebar saat melihat Yixing menganggukkan kepalanya. "Oke. Aku segera kembali, chagiya."

Dengan cepat Sehun berlari keluar kelas dan meninggalkan Yixing sendiri dengan wajah yang memerah.

"...Dia memanggilku chagiya?" Yixing memegang kedua pipinya, merasakan panas yang seketika menjalar dan membuat pipinya memerah.

.

.

.

.

Yixing terduduk di atas kursi miliknya. Matanya tidak henti melihat jam dinding yang terletak di atas papan tulis.

"Sudah hampir 10 menit. Tapi, Sehun belum kembali." Yixing melipat kedua tangannya di atas meja lalu menenggelamkan kepalanya.

Zzzt

Yixing berdiri dari tempatnya saat mendengar sesuatu. Kedua bola matanya melihat sekelilingnya, mencoba untuk mencari sosok Sehun. "Sehun!" teriak Yixing sembari berlari keluar dari kelas.

"Yixing?"

"Sehun." Yixing berhambur ke arah Sehun.

Tanpa disangka Yixing sebelumnya. Sehun membawa sebuah tongkat yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Sebuah seringai tergambar jelas di wajah tampannya saat melihat Yixing berhambur ke arahnya. Gotcha, batin Sehun.

Sehun menahan nafas sembari mengayunkan tongkatnya ke kepala Yixing. Dengan sekali ayunan yang cukup keras itu, tubuh Yixing terhempas ke belakang.

Kaki jenjang Sehun berjalan ke tempat Yixing berada. Seringai itu terus terukir jelas di atas wajahnya. Dia hempaskan tongkat itu lalu berjongkok di samping tubuh Yixing yang terkulai lemah.

Mata Yixing terbuka sedikit untuk melihat Sehun yang berada di sampingnya. Dia dapat merasakan keningnya berdenyut hebat. Darah mengalir dari bekas pukulan Sehun tadi.

Tangan Sehun memegang kepala Yixing. "Bagaimana rasanya, Yixing? Akhirnya aku bisa membunuhmu." Sebuah tawa mengerikan keluar dari mulut Sehun.

Yixing menutup matanya erat saat mendengar perkataan Sehun barusan. "Jadi. Dia benar-benar ingin membunuhku. Yeoja itu, Daeun. Pasti Sehun sangat mencintainya." Batin Yixing.

"T-tinggalkan..." Yixing berusaha untuk bersuara. Tangannya dia gunakan untuk menekan keningnya yang terus mengeluarkan darah. Suara ringisan terdengar tetapi langsung berubah menjadi sebuah tawa menyedihkan.

Sehun mengeryitkan dahinya sambil melihat Yixing aneh. Suatu perasaan aneh bergelayut di benak Sehun. Seperti...dia menyesal melakukan ini.

"Tinggalkan aku," cairan panas keluar dari kedua mata Yixing.

"Aku akan melakukannya." Sehun beranjak dari tempatnya lalu mengambil tongkat miliknya. Kedua kakinya dia arahkan keluar dari sekolah.

"Jaga dia baik-baik. Aku yakin kamu sangat mencintainya." Yixing mengerang kesakitan saat merasakan kepalanya berdenyut kembali.

Sehun menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Yixing barusan. Perasaan itu muncul lagi. Terlebih mendengar erangan kesakitan Yixing.

Sehun terkekeh mengejek tanpa membalikkan badannya, "Goodbye, Yixing." Dia lanjutkan langkahnya yang terhenti, meninggalkan Yixing sendiri yang terkapar tidak sadarkan diri.

*bow* Mianhaeyo. Maaf banget. Soalnya author baru bisa update sekarang. Dan maaaffff banget kalau chapter ini pendek pakai banget. Untuk chapter selanjutnya gk bakal lama, akan langsung di publish waktu udah selesai nulis. Author harap chapter ini gk mengecawakan. Dan makasih yang masih review dan nungguin ff abal-abal ini. Gamsahamnida.