"Kau bohong." Ucap Fukui kepada Himuro. Himuro menjambak rambutnya kesal dan berteriak

"Aku tidak berbohong!"

"Kalau begitu, apa kau ini sakit?" kali ini Ookamura yang bertanya

"Aku sehat!"

"Apa kau lapar?"

"Iya—maksudku tidak!"

Sementara [Name] hanya duduk manis dan memerhatikan para pemain basket itu, Liu yang daritadi memerhatikan [Name] merinding melihat perempuan yang sudah lama ia kenal sebagai perempuan yang selalu mengutuk, dan tidak bisa diam, sekarang hanya duduk manis sambil menyimak.

"Ngomong-ngomong, [Name] membuatku menjadi ngeri, kenapa dia duduk manis seperti itu dan menyimak kita?" Liu mengalihkan pembicaraan, membuat para rekannya tertarik dengan topik pembicaraan itu. Himuro yang diabaikan itu hanya bisa mengepalkan tangannya dan berteriak

"Sudah aku bilang! Aku ini [Name]! Dan [Name] yang kalian lihat itu adalah Himuro-kun!"


Tonari no Himuro-kun EXTRA Chapter

"Body Swap."

Rated T agak nyerempet ke M.

Warn: OOC, Typos, tidak sesuai EYD, mengandung unsur IYKWIM dan bikin masih polos tolong jangan baca :v—apalagi yang belum belajar Biologi kelas 9 bab ambigu :v


'Himuro' yang dimaksud disini adalah [Name]

[Name] yang dimaksud disini adalah Himuro.


Kelima anggota basket itu dan perempuan yang dari klub jurnalis tersebut, berkumpul di ruangan klub basket, lebih tepatnya—terlihat [Name] dan Himuro yang sedang di introgasi.

"Jadi, kalian ini bertukar tubuh?" tanya Ookamura—dengan nada yang curiga dan tidak percaya. [Name] dan Himuro mengangguk.

"Bagaimana bisa?" tanya Liu, yang sontak membuat Himuro menunjuk-nunjuk wajah Liu.

"Ini semua terjadi karena kau, dan buah aneh dari keluargamu itu!"

[Name], tenanglah sedikit, kalau kau terus marah—kapan kita akan menyelesaikan masalah ini?" ucap [Name] kepada Himuro. Himuro menghirup udara dan membuangnya.

"Kau saja yang menjelaskannya Himuro-kun."


1 jam yang lalu

Jam Istirahat kedua. Pukul 16.17

"Eh? ini buah cherry?" [Name] menyimak toples buah yang sangat kecil yang hanya berisi dua buah cherry yang lebih besar daripada ukuran biasanya—warnanya seperti perpaduan antara warna coklat, orange, dan merah, yang jelas terlihat sangat mencurigakan.

"Bukankah ini buah cherry yang busuk?" tanya Himuro dengan curiga.

"Tidak sopan, aku juga tidak tahu, ini buah yang di fermentasi dengan cara tradisional dan dibuat secara turun temurun oleh keluargaku, ayah dan ibuku selalu menyebutnya 'buah cherry ajaib', katanya—jika kau memakan buah ini maka sesuatu yang ajaib akan terjadi padamu." Perkataan Liu membuat Himuro dan [Name] mendengus, buah ajaib katanya?! Pfft—

"Hei, Liu. Menurutmu apakah aku akan menjadi ninja jika aku memakan cherry ini?" tanya Himuro yang masih bisa menahan tawanya, pertanyaannya membuat [Name] langsung tertawa terbahak-bahak.

"Ahahaha! Ya ampun Liu, zaman modern begini mana ada yang namanya buah ajaib! Hahaha—uhuk!"

Liu menatap sinis Himuro dan [Name], ia berdiri dari bangkunya dan mengatakan

"Mana aku tahu, kenapa tidak kalian coba saja dan buktikan kalau buah itu ajaib atau tidak." Liu langsung pergi meninggalkan mereka. Pundung dia.

Himuro dan [Name] saling menatap kemudian mereka melirik toples buah itu.

"Sepertinya Liu ingin memberikan cherry ini kepada kita."

"Kalau begitu bagaimana kalau kita coba?"

Himuro dan [Name] mengambil buah 'cherry' itu. Tapi [Name] menatap Himuro curiga yang terlihat ragu untuk memasukkan 'cherry' itu kedalam mulutnya.

"Himuro-kun, kau harus memakannya juga."

"Kalau kau curiga aku tidak akan memakannya, bagaimana kita saling menyuapi cherry ini saja?" Usul Himuro, [Name] berpikir sejenak, kemudian menjawab.

"Boleh juga, kalau rasanya tidak enak kan kita akan menderita bersama."

Himuro tersenyum mendengar jawabannya.

Himuro dan [Name] sama-sama bersiap untuk memasukkan buah 'cherry' itu, dan saat mereka sama-sama memasukkan kedalam mulut mereka...

"Oh, rasanya enak!" Ucap Himuro yang sepertinya benar-benar menyukai 'cherry' itu.

"Memang sih, tapi aku tidak 'merasakan' apapun saat memakannya. Mungkin Liu memang bohong."

Tapi tiba-tiba, Himuro dan [Name] merasakan kepala mereka sangat sakit, dan tubuh mereka menjadi lemas, tiba-tiba pandangan Himuro dan [Name] pun menjadi gelap.

Tetapi saat mereka membuka matanya lagi...

"Lho?"

Himuro dan [Name] melihat diri mereka masing-masing.


1 jam kemudian

Himuro menarik kerah baju Liu, menatapnya dengan matanya yang melotot, dan menggoncangkan tubuhnya.

"Karena itu! Kembalikan kami seperti semula!"

Kalau boleh jujur, menurut Liu, [Name] yang berada di dalam tubuh Himuro itu menakutkan.

"Kalau aku tahu bagaimana caranya, pasti aku sudah memberitahu kalian!" Ucap Liu, yang artinya dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengembalikan Himuro dan [Name] seperti semula.

Himuro hopeless.

"Daripada itu..." [Name] angkat suara, membuat yang lainnya menatapnya. [Name] seperti nya sedang menahan sesuatu lihat saja, wajahnya agak berkeringat seperti itu.

"Bagaimana cara perempuan buang air kecil?"

Krik krik krik

Pertanyaan itu membuat para laki-laki di ruangan itu spechless, pikiran mereka sudah belok sana-sini. Himuro megenggam bahu [Name], dan menatapnya dengan serius namun takut.

"Himuro-kun, bisakah kau menahannya sampai kita berubah kembali?"

[Name] menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, sudah daritadi aku tahan, kalau ditahan lagi aku pasti tidak akan kuat, dan itu akan buruk untuk tubuhmu. Lagipula kita tidak tahu kapan kita akan bisa kembali menjadi semula"

"Tapi ayolah! Jika kau buang air kecil sekarang, aku tidak akan bisa menjadi pengantin lagi!"

Ookamura, Fukui, Murasakibara dan Liu hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Dengan wajah yang sudah merah.

[Name] berdiri dari kursinya, wajahnya semakin berkeringat. "Maaf [Name] aku benar-benar tidak tahan lagi." Dengan begitu, [Name] langsung berlari meninggalkan ruangan klub dan melesat ke toilet.

"Jangan lupa, masuk ke toilet perempuan!" Teriak Himuro.

"Pembicaraan macam apa itu?!" Pekik ke empat orang itu.

Himuro menatap mereka berempat dengan tajam. "Apa yang kalian pikirkan?!" Kemudian menatap Liu dan menunjuk wajahnya "Dan kau! Cari cara agar kami bisa kembali ke tubuh masing-masing! Aku akan menyusul Himuro-kun!"

Liu langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon anggota keluarga yang ada di sebrang sana, apa yang baru saja dia saksikan—bersama Fukui, Ookamura, dan Murasakibara itu sangat membingungkan, dan juga—menakutkan.

.

.

.

Himuro berjalan di koridor sekolah, dengan wajah yang kesal, rambut dan seragamnya agak acak-acakan. Para siswi SMA Yosen yang berada disekitarnya menatapnya dengan tatapan terpesona. Tahu kenapa? Himuro yang biasanya terlihat selalu memasang wajah yang datar—tapi memberi kesan yang gentle itu sekarang terlihat begitu...

Badass

Perempuan selalu terpesona dengan lelaki Badass

"Hei, hari ini Himuro-kun terlihat lebih berbeda dari biasanya."

"Iya, dia jadi lebih keren kan? Kyaaa!"

Bisik para siswi yang melihat Himuro berjalan melintasi mereka, mereka yang awalnya terpesona langsung ilfeel begitu melihat Himuro berhenti di depan pintu toilet perempuan. Bisikan fangirling berubah menjadi Gossip.

"Apa yang dia lakukan di depan toilet perempuan?"

"Jangan-jangan dia mau mengintip?"

"Idih, ternyata Himuro-kun orangnya seperti itu ya."

Himuro—yang sebenarnya adalah [Name] mendengar bisikan-bisikan para siswi itu merasa risih dan juga tambah kesal, akhirnya ia memberi tatapan yang sangat tajam—atau lebih tepatnya tatapan benci. Para siswi itupun langsung kaget.

"Apa yang kalian lihat? Kalau ada masalah katakan saja."

"Eh?! ah—tidak ada apa-apa kok Himuro-kun!" jawab salah satu siswi itu, antara senang diajak bicara oleh orang yang selalu di impi-impikannya dan juga takut akan tatapannya.

"Daripada menggosip yang tidak-tidak tanpa tahu apa urusan dan masalahku sebenarnya disini, lebih baik tutup mulut kalian!" seru Himuro yang langsung membuat para siswi itu meminta maaf dan pergi kabur.

"Aku tidak yakin kalau barusan itu Himuro-kun!"

"Kemana Himuro-kun yang ramah?!"

"Eh... tapi aku lebih suka Himuro-kun yang galak barusan lho..."

Himuro menghela nafas dan kembali menunggu [Name]—yang sebenarnya adalah Himuro yang sedang di dalam toilet. Himuro terus menghentakkan kaki sebelah kanannya, dan ia terus mengerinyitkan dahinya.

"Kenapa hanya buang air kecil lama sekali? Atau jangan-jangan..." baru saja ia mau berprasangka buruk, orang yang ditunggunya keluar dari toilet—dengan ekspresi yang lega. Himuro menatap [Name] dengan curiga.

"Kenapa lama sekali?" Tanya Himuro dengan curiga

[Name] menghela nafas dan menjawab "[Name] aku sekarang ada di tubuh perempuan, di tubuhmu. Menggunakan tubuh perempuan adalah hal yang baru bagiku."

"Oke, oke, aku mengerti. Tapi kau tidak melakukan yang aneh-aneh dengan tubuhku kan?"

"..."

"..."

"...Tidak."

"Kau menjawabnya telat! Pasti kau melakukan yang aneh-aneh dengan tubuhku kan?!" Teriak Himuro kepada [Name] di koridor, teriakannya itu membuat orang-orang disekitar mereka salah paham dengan ucapan Himuro.

"Aku bilang aku tidak melakukan apapun, kau tidak percaya denganku?" [Name] mencoba menenangkan Himuro yang sedang panik itu.

"Setelah kau diam selama 10 detik dan baru menjawab pertanyaanku? Ha! Tentu saja aku tidak percaya!" Sewot Himuro, sebelum ia protes lagi. [Name] menarik dasi Himuro, merangkul bahunya dan membungkam mulutnya.

[Name] berbisik kepada Himuro. "Bisakah kau tenang sedikit? Kau membuat orang-orang salah paham! Dan kau bisa saja merusak Imageku dan Imagemu karena masalah ini!" Ucapnya dengan tenang, tapi terdengar kesal.

"...Baiklah."

.

.

.

Pada akhirnya mereka berdua berjalan bersama di koridor, kembali menuju ruangan klub. [Name] sedang menegur Himuro akan penampilannya.

"[Name], jangan membuat tampilanku acak-acakan, rapihlah sedikit." [Name] menunjuk rambut Himuro yang agak acak-acakan itu.

"Hanya sedikit acak-acakan kok! Lagipula..." Himuro mengelus poninya. "Apa kau tidak risih, setiap hari melihat hanya dengan satu mata? Ponimu ini menghalangi tahu, kalau aku jadi kau, pasti aku sudah memotong poni ini, atau mungkin aku akan mengubah gaya poni ini sehingga aku bisa melihat dengan kedua mataku." Himuro baru saja ingin mengubah gaya poninya, tapi pergerakan tangannya dihentikan oleh [Name].

"Tidak, jangan. Biarkan saja seperti itu."

"Kenapa?"

"Aku bilang... jangan." Ucap [Name] dengan serius, dengan penekanan di kata "jangan"nya.

"Baiklah... jika itu yang kau mau..." jawab Himuro takut-takut, [Name] langsung tersenyum. "Baguslah." Tapi walaupun seperti itu, sekarang Himuro jadi penasaran, ada apa dibalik poninya itu.

"A-ano... Himuro-senpai..." panggil salah seorang gadis di belakang Himuro. [Name] langsung berhenti jalan "Ya, ada apa?", tetapi Himuro tetap saja berjalan. Yang dipanggil siapa, yang sahut malah siapa. Mau bagaimana lagi, tubuh mereka tertukar.

[Name] yang baru sadar, langsung menarik lengan Himuro dan menariknya ke belakang. "Ada orang yang memanggilku, harusnya kau yang sahut karena kau ada di dalam tubuhku!" Bisiknya kepada Himuro.

"Himuro-senpai..." panggil gadis itu lagi. [Name] menepuk punggung Himuro, seakan menyuruhnya untuk menjawabnya.

"Ya. Ada apa?"

Gadis itu terlihat malu-malu, dia seperti menyembunyikan sesuatu, tiba-tiba gadis itu berteriak. "Bi-bisakah Himuro-senpai menemuiku saat pulang sekolah di atap?!"

Himuro membelalakkan matanya, [Name] menghela nafas.

"I...Ini... gadis ini... mau menyatakan perasaanya kepada Himuro-kun?" Batin Himuro. Dia terlalu shock untuk menjawab permintaan gadis itu.

"Euhm... eeto... aku..."

"Tidak bisa." Sela [Name]. Himuro menatap [Name] yang sedang memasang wajah datar itu, [Name] sempat meliriknya dan mengacungkan jempolnya, dia seperti yang mengatakan "Biar aku yang atasi ini."

"Saat pulang sekolah, dia ada latihan basket, dan kau tahu kan kalau Masako-sensei itu disiplin, bayangkan saja jika Himuro-kun menuruti permintaanmu dan telat datang latihan." Ucap [Name] dengan datar.

"Ka-kalau begitu, aku akan menunggu Himuro-senpai selesai latihan!"

"Tsk, keras kepala." batin [Name], kemudian dia mulai melanjutkan kata-katanya lagi "Tidak bisa, dia ada janji akan pergi ke toko buku bersamaku setelah selesai latihan."

Gadis itu menatap [Name] dengan tajam, kesal. "Huh! Memangnya kau ini siapanya Himuro-senpai?! Pacarnya saja bukan!" Serunya kepada [Name].

[Name] masih memasang wajah datar-kalem, sedangkan Himuro terlihat khawatir.

"Jangan buat masalah selama kau ada di tubuhku, Himuro-kun!" Batin Himuro.

"Aku memang bukan pacarnya. Tapi dia sudah berjanji denganku sejak dua hari yang lalu."

Gadis itu menatap [Name] dengan tajam.

"Apa? Kau mau menyalahkan aku? Hmm? Dan Oh. Jika kau ingin menyatakan perasaan kepadanya, itu percuma saja, karena dia sudah punya perempuan yang ia sukai."

"HAH?!" pekik gadis itu dan Himuro bersamaan.

[Name] megenggam tangan Himuro dan mengatakan "Yuk, Himuro-kun. Liu pasti sudah menunggu kita di ruangan klub."

"Eh...Iya..."

Mereka berdua pun pergi, meninggalkan gadis-yang-mau-menyatakan-perasaannya-tapi-tidak-jadi yang sedang berdiri disana dengan wajah bengong dan mata berkaca-kaca.

"Haah... paling tidak aku sudah lebih lega sedikit." Ucap [Name]

"Eh? Apa itu artinya kau selalu mendapatkan surat cinta dan diminta menemui seseorang seperti barusan?" Tanya Himuro tidak percaya. [Name] menganggukkan kepalanya.

"Lama-lama muak juga kalau seperti itu terus. Mumpung aku ada di tubuhmu, aku menggunakan kesempatan untuk menolak mereka."

"Tapi hei! Kalau jadi ada masalah kan aku yang kena!"

"Tidak akan ada apa-apa. Percayalah kepadaku."

"Hmp! Kalau nanti ada apa-apa, Himuro-kun yang tanggung jawab ya!"

"Tentu saja."

Mereka pun terus berjalan, semakin lama mereka semakin dekat dengan ruangan klub basket. Tiba-tiba Himuro berrtanya kepada [Name].

"Tapi... siapa perempuan yang kau sukai itu?" tanya Himuro yang membuat [Name] tersenyum tipis. [Name] menatap Himuro dan meyakinkannya

"Kau ingin tahu?"

"Euhm... tidak juga sih, aku... hanya penasaran." Himuro mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari kontak mata. [Name] tertawa kecil.

"Perempuan yang aku sukai itu—"

"AH! [Name]! Himuro! Liu sudah menemukan caranya agar kalian bisa kembali seperti semula!" teriakan Ookamura membuat perhatian Himuro teralihkan "Benarkah!? Dimana dia?!" Himuro pun mulai berlari ke ruangan klub basket—meninggalkan [Name] yang belum selesai mengatakan kata-katanya.

"Haah... dasar." Gumam [Name].


"Aku diberitahu oleh ibuku, dan ibuku oleh nenekku, dan nenekku tahu dari—" omongan Liu langsung dipotong oleh Himuro

"Sudah cepat jelaskan bagaimana caranya agar kita bisa kembali!" seru Himuro tidak sabaran. Liu mendengus kesal, dan mulai membaca pesan yang ada di ponselnya.

"Disini dituliskan, jika kalian ingin kembali seperti semula, kalian harus tidur bersama."

Dua kata terakhir itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu langsung diam—Liu, Fukui dan Ookamura mulai cengar cengir, Murasakibara tetap datar tapi ada rona merah di wajahnya, sedangkan Himuro dan [Name]—wajah mereka semakin lama semakin merah.

"Ti-tidur bersama?!" pekik [Name]

"Ma-maksudmu—kita harus—" sebelum Himuro menyelesaikan kata-katanya, Liu langsung memotongnya.

"Maksudnya hanya tidur bersama biasa, sambil berpegangan tangan, bodoh."

"O-oh..."

"Bo-boleh aku minta minum Fukui-senpai?" ucap Himuro yang langsung mengambil satu botol air mineral milik Fukui, dan langsung menghabiskan minuman itu tanpa izin dari pemiliknya.

Liu menatap Himuro dan [Name] curiga "Pasti kalian pikir yang dimaksud tidur bersama itu adalah melakukan *TOOOT* bukan?"

[Name] menggelengkan kepalanya, dan Himuro hampir saja tersedak dengan minuman yang ia minum

Liu kembali menatap ponselnya "Tapi selain itu juga ada cara lain."

"Apa itu?"

"Berciuman."

"OOOOH!" Seru Fukui dan Ookamura, Murasakibara hanya bertepuk tangan.

"APA?!" Teriak Himuro dengan suara yang lengking—dan juga wajah yang sudah merah bagaikan kepiting rebus.

"Liu, memangnya tidak ada cara yang lain lagi? Maksudku—yang lebih aman?" tanya [Name], Liu kembali lagi menatap ponselnya.

"Tidak ada, hanya dua itu saja." Jawab Liu datar, singkat, dan juga jelas. Himuro dan [Name] saling menatap, Himuro tersenyum paksa, dan [Name] tersenyum lembut.

"Himuro-kun, sepertinya kau sangat santai dengan hal ini." ucap Himuro—sudah dengan suara yang bergetar.

"Tidak, sebenarnya aku sangat ingin kembali ke tubuhku. Kakiku dingin karena memakai rok pendek, dan bahuku jadi berat karena... ini?" [Name] mulai menyentuh dadanya, Himuro langsung beranjak dari tempat duduknya dan menyingkirkan tangan [Name] dari dadanya.

"JANGAN PERNAH SENTUH ITU!" teriaknya sewot. "Walaupun kau ada di tubuhku, dan menyentuhnya dengan tanganku sendiri, kau pasti tetap bisa merasakan sensasinya!"

"APA YANG DIA BICARAKAN?!" Batin Liu, Fukui, Ookamura dan Murasakibara—dengan perasaan yang ingin tahu juga.

[Name] terkekeh, "Maaf, maaf, aku tidak akan menyentuhnya lagi."

Himuro menghela nafas lega, wajahnya berkeringat, dia mulai menghentakkan kedua kakinya ditempat dan dia mengatakan

"Sial, situasi seperti ini membuatku jadi ingin ke Toilet." Ucapnya yang langsung membuat yang lainnya melotot ke arahnya.

"Kau... lagipula kenapa barusan kau menghabiskan minumku?!" pekik Fukui.

"Pasti itu efek samping dari banyak minum barusan" ujar Murasakibara.

"[Name], kau bisa tahan 'kan?" tanya [Name] dengan nada yang kalem, tapi dengan wajah yang panik. Himuro mengetukkan jari telunjuknya diatas meja, dan dia berdiri dari kursinya.

"Aku tidak tahan lagi, aku ingin ke toilet!" teriaknya sebelum melesat keluar dan berlari ke toilet. [Name], Liu, Fukui, Ookamura, dan Murasakibara saling menatap secara bergantian, sampai mereka berlima mulai berteriak heboh

"TUNGGU! ! !" Mereka berebutan keluar dari ruangan klub

"Harga diri kami sebagai pria!"—Ookamura

"Ini tidak bisa dibiarkan!"—Murasakibara

"Paling tidak aku harus menutup matanya!"—[Name]

"Mana bisa! memangnya kau mau masuk toilet laki-laki dengan tubuh [Name]?! Kau pasti akan dibunuh olehnya setelah semua ini kembali seperti semula!" –Fukui

"Aagh! Yang jelas kita harus mencegahnya melihat itu!" –Liu

Tapi apa daya—mereka malah tidak bisa keluar dari ruangan klub, karena tubuh Liu, Fukui dan [Name] itu saling berdempetan dan menghalangi jalan keluar—istilahnya, kejepit. Tapi, secara ajaib—Liu keluar duluan dari ruangan klub, tanpa pikir panjang lagi, dia langsung mengejar Himuro.

"Cepat sebelum dia melihatnya!" teriak [Name]—yang sebenarnya adalah Himuro dengan histeris.

.

.

.

.

Beruntung Liu adalah pemain basket dan memiliki kaki yang panjang, dia bisa menyusul Himuro dengan cepat. Dan untung saja—dia menemukan Himuro saat Himuro baru saja mau membuka pintu toilet perempuan. Liu menarik bahu Himuro kebelakang—hampir saja membuatnya jatuh.

"Itu toilet perempuan, bego!"

"Memangnya kenapa? Aku kan perempuan!"

"Kau lupa kalau kau sekarang ada di dalam tubuh Himuro?"

Untunglah di sekitar mereka tidak ada siapa-siapa, jadi tidak ada yang melihat Himuro yang mau membuka pintu toilet perempuan.

"Apa itu artinya... aku akan...?" Himuro tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, dia sudah terlalu malu membayangkan apa yang akan dia lakukan di toilet pria nanti.

"Sudahlah, ikut saja, aku akan menutup matamu agar kau tidak melihat apa-apa." Liu berdiri di belakang Himuro, mulai menutup matanya dengan kedua tangannya dan menuntunnya berjalan memasuki toilet pria. Baru saja mereka berdua memasuki toilet, Fukui, Ookamura, Murasakibara dan [Name] menyusul mereka.

Himuro yang asli—yang sedang berada di dalam tubuh [Name] tentu saja menunggu diluar karena situasi dan kondisi yang dia alami sekarang.

Fukui, Ookamura, dan Murasakibara berbondong-bondong memasuki toilet, [Name] sempat mengatakan sesuatu sebelum mereka memasuki toilet

"Pokoknya—jangan biarkan dia melihat dan menyentuhnya. Mengerti?"

"Tenang saja Himuro, kami akan menjaga harga dirimu sampai kau menikah nanti!" ucap Fukui sambil mengacungkan jempolnya, [Name] hanya bisa facepalm.

Dan inilah hal-hal yang [Name] dengar saat dia menunggu diluar.

"Kau tidak bisa melihat apa-apa kan?"—Liu

"Tidak, sama sekali tidak." –Himuro

Hening sejenak... tiba-tiba—

"Gyaa! Apa-apaan itu?! Apa yang kau sentuh?!" –Himuro

"Bukan apa-apa! Lagipula ini bukan urusanmu!" –Fukui

"Murasakibara, pegang tangannya!"—Ookamura.

"Oke~" –Murasakibara

Sekali lagi, [Name] hanya bisa facepalm diluar toilet, dengan rona merah di wajahnya. "Oh My God..."

Benar-benar ambigu...

"Oi, [Name], sedang apa kau berdiri di depan toilet pria?" sapa seseorang, [Name] pun kaget bukan main, perlahan dia menolehkan kepalanya ke arah orang yang baru saja menyapanya barusan.

"R-Ren-kun?" ucapnya gagap. "Ka-kau mau kemana?"

Ren sempat curiga dengan kelakuan [Name], tapi dia tidak begitu menganggapnya. "Mau ke Toilet."

"Eh? tunggu sebentar!" cegah [Name]. Tapi Ren sama sekali tidak memperdulikannya dan membuka kenob pintu toilet. [Name] menjambak rambutnya frustasi.

"Kenapa harus Ren temannya [Name]!? Bukankah [Name] pernah bilang kalau dia seperti papparazi nya SMA Yosen!?"

Sementara Ren, menatap horor dengan apa yang ia lihat di depan matanya sekarang. Sekumpulan laki-laki yang berkumpul di satu tempat. Himuro yang matanya di tutup oleh tangan Liu, Murasakibara yang megenggam kedua tangan Himuro, Ookamura yang terlihat mengawasi sekeliling, dan yang paling parah—Fukui yang sedang memegang—STOP

"Euhm... Apa yang kalian lakukan?" tanyanya dengan nada curiga.

Sekumpulan pria itu saling menatap—sampai wajah mereka berubah menjadi sangat panik. "Tidak! Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Semua ini terjadi karena sesuatu!"

"Kalau diceritakan juga kau pasti tidak akan percaya!"

Ren mengangkat kedua tangannya. "Oke-oke, kalian tidak perlu menjelaskannya, aku mengerti. Lagipula aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun. Lanjutkan saja, anggap aku tidak ada disini." ucap Ren sembari memasuki kamar kecil.

"BUKAN SEPERTI ITU!" teriak para pemain basket itu.


"Kau, jangan meminum dan memakan apapun lagi selama kau ada di tubuh Himuro!" bentak Fukui kepada Himuro.

"Barusan itu merepotkan sekali~" keluh Murasakibara

"Aku harap orang itu tidak menyebarkan yang aneh-aneh." Gumam Ookamura.

"Tapi mau bagaimana lagi? Aku memang ingin ke toilet! Barusan Himuro-kun pergi ke toilet tidak ada yang mengikutinya tuh!" keluh Himuro sambil menunjuk [Name] yang ada di sebelahnya

"Itu karena dia ada di dalam tubuhmu! Tubuh perempuan!" bentak Liu, Fukui, dan Ookamura.

"Mereka kan laki-laki, mana mungkin masuk toilet perempuan." ucap [Name] sambil melirik Himuro.

"[Name]-chin mikir dong." ujar Murasakibara

"UGH, Aku tidak ingin mendengar itu darimu Musashi!" seru Himuro.

Mereka semua sedang berjalan menuju UKS yang berada di lantai dua. Kenapa ke UKS? Karena Liu menyarankan [Name] dan Himuro untuk tidur disana—sambil berpegangan tangan agar mereka bisa kembali seperti semula. Himuro dan [Name] yang berjalan di paling belakang.

Mereka pun mulai menaiki tangga.

Himuro menghela nafas dan mengatakan "Aku harap kita bisa kembali ke tubuh masing-masing."

"Pasti bisa. Aku yakin itu." Ucap [Name] dengan percaya diri.

Tapi tiba-tiba—

NGIIIING!

"Akh!"

Kepala Himuro dan [Name] sakit bukan kepalang, mereka berhenti berjalan—memegangi kepala mereka yang sangat sakit itu.

"Kenapa? Ada apa?!" teriak Ookamura panik

"Oh, sepertinya sudah saatnya." Ucap Liu kalem.

"Sa—saat apa?"

Pandangan Himuro dan [Name] pun menjadi gelap.


READER POV

Uuh, kepalaku sakit sekali.

Perlahan aku membuka kedua mataku, yang pertama aku lihat adalah langit-langit ruangan, dan bau obat yang tidak begitu menyengat. Tunggu—ini di UKS?

"Hei, dia sudah sadar." Ucap Musashi, Fukui-senpai dan Ookamura-senpai datang menyusulku.

"Kau ini siapa?"

Aku menaikkan sebelah alisku. "Aku ini [Name]." Fukui senpai membelalakkan kedua matanya, dia dan Ookamura-senpai pun High Five.

"Muro-chin sudah bangun!" seru Musashi.

Eh tunggu!

Aku menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh bagian bawahku. Melihat kakiku saja sudah membuatku sangat senang, aku menggunakan rok! Aku sudah kembali ke tubuhku lagi!

"Yaaay! Aku sudah kembali!" teriakku kegirangan sembari meninju udara ke atas. Aku melirik kasur sebelah—dimana Himuro-kun yang baru saja bangun, dia memerhatikan kedua tangannya, dan dia menghela nafas dengan lega—sangat lega.

"Tapi—apa barusan kami tertidur sambil berpegangan tangan?" tanyaku kepada Fukui-senpai.

"...Tidak."

Aku dan Himuro-kun saling menatap, sama-sama memasang ekspresi bingung.

"Kalau begitu—kenapa kami bisa kembali seperti semula?" tanya Himuro-kun.

"Oh, itu—tanya saja si China ini." Fukui-senpai menunjuk Liu yang memerhatikan kami berdua dari pintu masuk UKS, Kenapa dia seperti menghindari kami?

Musashi berdiri, menyusul Liu—dan menyuruhnya untuk masuk kedalam. Ookamura-senpai mengambil sebuah kursi dan menyuruh Liu duduk disitu.

"Sekarang jelaskan." Titah Fukui-senpai. Sebenarnya ada apa sih?

Liu menghela nafas dan menatapku dan Himuro-kun bergantian "Sebelumnya, aku ingin kalian mendengarkan semua penjelasanku dulu, sampai selesai."

"Sudahlah, cepat jelaskan kenapa kami bisa kembali seperti semula lagi." Ucapku tidak sebaran

"Jadi—aku diberitahu oleh ibuku—dan ibuku tahu dari nenekku, kalau kalian akan kembali seperti semula hanya dalam waktu beberapa jam setelah kalian mengalami perubahan ajaib itu."

Eh?

"Jadi—bagaimana cara agar kami bisa kembali yang kau beritahu barusan itu bohong?" tanya Himuro-kun dengan nada yang serius.

Liu mengangguk "Iya, aku bohong. Kalian benar-benar sangat ingin kembali seperti semula, jadi aku agak usil untuk mengerjai kalian."

Muncul titik-titik di udara.

"Si petet ini membodohi kita semua." Ucap Ookamura-senpai

"Lagipula bisa-bisanya kita percaya kepadanya." ujar Fukui-senpai

"Tapi kalau masalah kalian bisa bertukar tubuh itu, aku benar-benar kaget kalau buah itu memang ajaib, aku memang tidak tahu bagaimana cara mengembalikan kalian sampai Ibuku memberitahu kalau sebenarnya dalam waktu beberapa jam kalian bisa berubah kembali" Jelas Liu

Jadi? Sebenarnya kami bisa kembali seperti semua selama beberapa jam menelan buah itu? Dan aku dibodohi oleh Liu (lagi) kalau kami hanya bisa berubah kembali kalau kami tidur bersama sambil berpegangan tangan atau berciuman?

Jadi? Untuk apa kepanikanku kalau aku tidak bisa kembali ke tubuhku?

Beberapa jam dalam hidupku terbuang sia-sia karena kepanikan ini.

Aku menatap Liu dengan tajam, dia tidak berani menatapku kembali. "JADI BUAT APA AKU PANIK SELAMA BEBERAPA JAM INI, HAH?!"

Liu tersentak kaget, ia menelan ludahnya—gugup.

"LAGIPULA UNTUK APA KAU BERBOHONG KALAU KAMI BISA BERUBAH KEMBALI HANYA DALAM WAKTU BEBERAPA JAM SETELAH MENELAN BUAH ITU?! HAAH?"

Himuro-kun turun dari kasurnya, dia menepuk-nepuk punggungku, menyuruhku untuk tenang.

"Tenanglah, yang penting kita sudah kembali seperti semula."

Yang dikatakannya memang benar, tapi aku memang kesal karena Liu!

Mungkin aku sudah menghajarnya kalau hanya ada kami berdua di UKS ini.


Pada akhirnya aku memaafkan Liu, asalkan dia membiarkanku memukul wajahnya sekali. Dan yaah—aku menonjok wajahnya, tapi tanganku jadi sakit!

Tahu begitu aku tidak usah menonjok wajahnya.

Aku sudah kembali ke tubuhku seperti semula. Dan aku bersumpah aku tidak akan memakan makanan dari keluarga Liu lagi!

Tapi—siapa perempuan yang Himuro-kun sukai itu?

.

.

.

.

.

.

.

.

ENDINGNYA MAKSAA wahahaha

karena chapter kemaren akhirnya terlalu serius, mari kita santaikan dengan extra chap ini

Disini ada yang bingung gak bacanya? pokoknya "Himuro yang dimaksud disini adalah [Name]. dan [Name] yang dimaksud disini adalah Himuro" sampe READER POV-sampe mereka udah balik ke tubu masing2

Gimana? lucu nggak? suka nggak? maaf ya kalau garing

Misa tunggu Review kalian~