SNOWFLAKES

Main cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jongin, Do kyungsoo

Pairing : Hunhan [Main], Chanbaek, Kaisoo

Genre : Romance, Fluff, Drama, Humor(?)

Length : Chaptered

Rate : T-M

Disclaimer : cerita ini adalah hunhan story, jadi bener-bener terfokus pada kisah luhan dan sehun. Untuk pair yang lain hanya sebagai slight. Mungkin chanbaek dan kaisoo akan masuk namun tak sebanyak hunhan yang akan diceritakan

FF ini murni buatan author tanpa ada unsur plagiat atau meniru dari ff lain, jika ada yang sama atau mirip, mungkin kita jodoh .

Dont be a silent readers guys, hargain kerja keras author menulis^^

.

.

HUNHAN STORY

.

GS

.

TYPOS EVERYWHERE

.

NO PLAGIAT

.

NO BASH

.

REVIEW JUSEYO^^

.

.

"kenapa eonni tiba-tiba baik sekali?" tanya baekhyun bingung saat menatap punggung luhan yang semakin lama semakin tak terlihat

"sudahlah, kau harus bersyukur karena luhan eonni sangat baik dengan kita hari ini. Kita bisa jalan-jalan setelah ini" usul kyungsoo bahagia

"ah, kau benar!" pekik baekhyun ikut senang

Luhan yang telah menukar kunci mobil sehun dengan kunci mobilnya pun segera menghampiri sehun yang telah cukup panik menunggunya. Luhan tahu sehun sangat panik karena beberapa wartawan dispatch telah berkeliaran mencari sehun

"kajja" ajak luhan

Tanpa basa-basi luhan menarik lengan sehun untuk keluar dari kedai bubble tea yang telah dipenuhi oleh wartawan dispatch. Tidak hanya didalam kedai, bahkan diluarnya pun cukup banyak wartawan berkeliaran. Atau mungkin seluruh penjuru hongde telah dipenuhi oleh wartawan dispatch yang haus akan berita.

Luhan dan sehun berjalan berdampingan untuk keluar dari area bubble. Sehun saat ini melingkarkan tangannya dipundak luhan sedangkan luhan berjalan merunduk berpura-pura memainkan ponselnya. Ia cukup takut jika dispatch mengenali mereka. Karena luhan melihat setiap langkahnya ia menemukan wartawan yang haus akan berita itu.

Setelah luhan dan sehun berada didalam mobil. Sehun langsung meninggalkan area hongdae. Mereka meninggalkan para wartawan yang mungkin beberapa dari mereka telah menyadari sehun. Tapi sehun tak menghiraukannya, yang terpenting sekarang ia telah bebas dari area hongdae itu.

Sehun dan luhan bernafas lega. Sehun langsung melepas masker, topi dan kecamatanya. Ia cukup gerah mengenakan barang seperti itu. Ia merasa hidupnya seperti buronan kelas kakap yang sedang dicari-cari.

"kenapa kau tiba-tiba membantuku?" tanya sehun memecah keheningan

"memangnya kau tak membutuhkan bantuanku? Bukankah disaat seperti itu kau selalu meminta bantuanku?" ujar luhan

Faktanya memang sudah 3 kali luhan dan sehun mendapatkan situasi seperti itu. Dan semuanya berakhir dengan sehun yang meminta bantuan ke luhan untuk selamat dari kejaran fans dan wartawan

"ah, geure" jawab sehun mengalah

"kita akan kemana?" tanya luhan yang merasa arah mobil mereka seperti menjauh dari kota seoul

"entahlah, aku juga tak tahu" jawab sehun enteng

"yak! Yang benar saja kau ini" omel luhan

Sehun pun hanya diam. Ia berniat untuk membelokkan mobilnya di perempatan yang berjarak beberapa meter darinya sekarang. Namun niatnya terhenti karena dari arah belakang, sisi kiri dan kanan ia melihat mobil wartawan dispatch

"yak! Apa kau benar-benar akan meninggalkan seoul?" teriak luhan mengamuk karena sehun berjalan lurus dan menjauhi kota seoul

"chakkaman, lihatlah mereka! Mereka wartawan dispatch mengejar kita" kata sehun yang cukup serius memandang kaca spion dan jalan bergantian

"mworago?" tanya luhan yang langsung melihat pemandangan di belakang mobil mereka "bagaimana bisa mereka mengejar kita?" tanya luhan

"mereka lebih pandai! Jelas mereka bisa mengejar kita" kata sehun sebal

"lalu kita akan kemana? Apa kau tau daerah sekitar sini?" tanya luhan ikut panik

"aniyo" jawab sehun datar

"MWO?!" pekik luhan sedikit berteriak

"jangan berteriak ditelingaku" gerutu sehun

"bagaimana aku tak berteriak? Apa kau ini sangat bodoh? Bagaimana jika kita tak bisa kembali ke seoul? Neo micheosso?" omel luhan

"berhenti mengomel! Bantu aku mencari jalan agar kita tak salah arah" kata sehun sedikit menaikkan nada bicaranya

"argh!" gerutu luhan sebal

Luhan kemudian menaikkan rambutnya untuk ia kuncir kuda. Ia sedari tadi memang menggerai rambutnya untuk melancarkan aksinya. Entah mengapa ia merasa mobil itu benar-benar panas. Setelah selesai menguncir rambutnya, luhan mengotak-atik ponsel nya untuk mencari arah kemana mereka harus pergi

"Tak ada sinyal! Bagaimana bisa kita menemukan jalannya" omel luhan

"pakai ponselku"ujar sehun menyodorkan ponselnya

"sama saja! Tak ada sinyal!" gerutu luhan sebal saat melihat sinyal ponsel sehun sos

"kau pergi terlalu jauh! Cepat kembali" perintah luhan

"apa kau gila? jika kita kembali mereka akan menemukanmu bersamaku. Itu membuat kita berdua sama-sama tak aman" kata sehun sebal

"eottokheeee" rengek luhan putus asa

Sehun terus menginjak pedal gasnya agar lebih jauh dari para wartawan yang mengejarnya. Tapi tiba-tiba luhan menyadari sesuatu. Ia mengingat bahwa mobil heechul ada sebuah peta berisi jalan korea selatan. Mengingat heechul cukup parah untuk mengingat jalan, dan ia jarang menggunakan GPS pada ponselnya.

Luhan langsung mencari peta tersebut. Sehun hanya menatap heran dengan apa yang luhan lakukan. Ia hanya memandang acuh dan kembali menatap jalan raya. Setalah mencari diseisi mobil, luhan kemudian menemukan peta itu

Luhan membuka peta itu dan melihat jalan sekitar. Ia mencari tahu dimana letak mereka berada. Setelah ia menemukan letak tepat dimana mereka berada, luhan memegang kendali untuk arah yang mereka tuju

"belok kiri!" perintah luhan

Sehun hanya mengikuti arah luhan karena ia sendiri juga tak tahu arah jalannya. Tapi kemudian sehun sadar bahwa arah yang mereka lalui sepertinya salah. Karena jalan mereka tak beraspal. Melainkan sebuah jalan kecil berbatuan.

"apa kau yakin kita melewati jalan yang benar?" tanya sehun

"diamlah, jalankan saja mobilnya" omel luhan yang masih fokus pada petanya

"tapi jalan ini tak beraspal" ujar sehun

"diamlah! Kita akan kembali ke seoul dengan melewati jalan ini" kata luhan yang tak melihat sekitarnya

Sehun hanya diam dan melanjutkan perjalanan. Mereka kini telah terhindar oleh para wartawan dispatch karena mereka kehilangan jejak oleh keduanya. Tapi kemudian mobilnya berhenti tanpa sebab

"aku bilangkan jalankan saja mobilnya, mengapa berhenti?" tanya luhan menatap sehun

"mobil ini mati dengan sendirinya" kata sehun sebal

"mworago?" pekik luhan panik

"mobil ini mati! Lihat temperaturnya naik, kita harus mengistirahatkannya jika kau tak ingin mobil ini meledak!" kata sehun sinis

"mengapa bisa begitu?" tanya luhan tak mengerti

"mau melewati jalan bebatuan, dan mobil ini bukan mobil offroad. Mungkin itu salah satu sebabnya. Apa kita memang melewati jalan yang benar?" tanya sehun datar

"aku rasa benar" jawab luhan tegas

"berikan petanya" kata sehun

Luhan hanya diam dan memberikan peta yang ia pegang untuk sehun. Setelahnya sehun berdecih karena menemukan alasan mengapa mereka bisa tersesat disini.

"wae? Apa yang salah?" tanya luhan tak suka

"apa kau tak bisa membaca peta?" tanya sehun

"enak saja! Aku ini bisa membaca peta" gerutu luhan

"cih, masih bisa mengelak? Kau tau sedari tadi kau membaca peta yang terbalik. Pantas saja jika kita tersesat disini" kata sehun datar dan kemudian memberikan petanya ke luhan

"MWORAGO?! mengapa kau tak bilang jika kita lewat jalan yang salah!" omel luhan

"aku sudah mengatakannyatapi kau tak mendengarkanku. Lagi pula kau tak mengizinkanku untuk melihat peta itu sebelumnya" kata sehun membela

"eottokeeeee" rengek luhan panik

"ck, begitu saja merengek" kata sehun meremehkan "berhenti merengek, dorong mobil ini ke pohon itu, kita tunggu sampai temperaturnya turun" ujar sehun menyarankan

"memang bisa?" tanya luhan

"setidaknya aku lebih pandai jika berhubungan dengan mobil daripda kau. Turuti saja perintahku. Ayo turun dan dorong" perintah sehun

Luhan hanya menuruti perintah sehun. Ia kemudian turun dari mobilnya dan membantu sehun untuk membawa mobilnya kebawah pohon yang cukup rindang. Setelah mengerahkan semua tenaganya, akhirnya mobil itu terparkir dibawah pohon.

Sehun mengusap bulir keringan didahinya. Ia tanpa sengaja melihat pantulan air yang mengenainya karena biasan cahaya matahari. Sehun yakin disana ada danau, air terjun, atau sejenisnya. Ia kemudian berjalan menuju ke sumber pemikirannya

"yak! Kau mau kemana?" tanya luhan saat menyadari sehun pergi menjauhinya

Sehun tak menjawab melainkan terus berjalan meninggalkan luhan. Luhan hanya menggerutu dan mengikuti langkah kaki sehun dibelakangnya.

"jangan tinggalkan aku! Aku takut sendirian!" pekik luhan menyusul sehun

Sehun terus berjalan tanpa mendengarkan teriakan luhan dibelakangnya. Setelah beberapa menit berjalan, ia menemukan sebuah danau yang indah dan tenang. Danau itu mungkin masih baru karena seperti yang kini ia lihat, danau itu masih segar,tenang dan rindang.

"YAK! OH SEH...-WOAH! DAEBAK!" teriak luhan saat melihat danau itu, kemudian mendahului sehun

Luhan kemudian berjalan setapak yang terbuat dari kayu. Papan panjangnya sekitar seperempat dari diameter danau tersebut. Luhan langsung berlari dan melepas sneakersnya saat ia tiba diujung papan. Ia memasukkan kakinya kedanau itu

Air tersebut menyapa kaki luhan hingga mata kakinya. Luhan tak yakin kedalaman danau tersebut. Tapi danau ini sangat tenang dan indah. Ini adalah tempat yang ia cari selama ini. Tempat yang begitu dekat dengan alam, begitu asli, tenang dan segar. Luhan menyukainya, dan sehun yang telah membawa luhan menemukan tempat yang ia cari selama ini.

Tak jauh berbeda dengan luhan, sehun juga tersenyum bahagia menemukan tempat yang sepi dan tenang seperti ini. Sehun kemudian berjalan pelan dan duduk disisi kanan luhan. Ia juga memasukkan kakinya. air itu menyapa kakinya hingga batas betis.

Kini baik luhan dan sehun sama-sama merasakan ketenangan disini. mereka melupakan luapan emosi yang sebelumnya terjadi diantara mereka. Bahkan sekarang mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati moment romantis mereka, karena tak ada diantara mereka terlihat saling memaki dan meluapkan kilatan emosi.

"dari mana kau menemukan danau ini?" tanya luhan yang masih memejamkan matanya menikmati udara didanau itu

"entahlah, hanya menemukan" ujar sehun singkat

"gomawo" ujar luhan tulus

"untuk?" tanya sehun sambil menatap luhan disampingnya

"kau membawaku ketempat setenang ini. Kau tahu, aku dari dulu mencari tempat setenang ini. Tapi aku tak berhasil menemukannya, sekarang aku menemukannya dan bahkan jauh lebih indah dari yang aku bayangan" jelas luhan sambil tersenyum manis

DEG!

'senyum itu, astaga tuhan!'

Jantung sehun seolah berdebar lebih cepat ketika menatap luhan tersenyum dengan tulus seperti itu. Entah mengapa ia merasa sedang ada kupu-kupu menari diperutnya. Sehun kemudian menepis semua perasaan aneh itu dan segera menetralkannya.

"tak usah berterimakasih kepadaku. Aku menemukannya juga tak sengaja" jawab sehun jujur

"tapi aku tetap ingin berterimakasih padamu" kata luhan memaksa

"wae?"

"mungkin saat ini aku sedang dalam mood yang sangat baik. Sudahlah terima saja ucapan terimakasihku" ujar luhan percaya diri

"aku fikir seperti itu, baiklah aku terima" jawab sehun santai

Luhan pun kemudian terkekeh. Sehun ikut menimpali tawa renyah dari luhan. Luhan pun merasa ia semakin lama mulai melupakan amarahnya ke sehun. Luhan kemudian memejamkan matanya lagi dan menikmati udara di danau tersebut

"kau benar-benar menyukainya?" tanya sehun sambil memandang luhan yang terlihat begitu menikmati

"eoh, joha" kata luhan tegas "bagaimana denganmu?" tanya luhan yang kembali membuka matanya dan menatap sehun

"aku suka. Bahkan sangat suka" jawab sehun

"wae? Kenapa kau menyukainya?" tanya luhan

"karena tempat ini jauh dari keramaian. Jauh dari orang yang menginginkanku karena kesempurnaanku, jauh dari para fansku, jauh dari para wartawan gila yang selalu mengejarku dan ini jauh dari hal yang tak aku sukai didunia entertaimen" jelas sehun

"apa menjadi artis sangat menyulitkan untukmu?" tanya luhan simpati

"cukup menyulitkan. Pihak management menuntutku untuk tampil sempurna, tak hanya aku tapi juga memberku yang lainnya. Fans juga berperan banyak dalam hidup kami, tanpa mereka kami tak akan menjadi seterkenal ini. Tapi karena mereka pula, kami seolah tak memiliki privasi. Harus extra hati-hati untuk melindungi semua yang ada sebelum itu menjadi rumor yang dapat saling menghancurkan" ujar sehun

"maksudmu rumor yang saling menghancurkan?" tanya luhan heran

"kau tau fans kami cukup muda, mereka masih belum menerima jika kami memiliki kekasih. Siapapun yang dekat dengan kami, mereka tak akan segan-segan untuk menghakimi mereka. Seperti layaknya kris hyung dan zitao. Mereka menerima banyak penolakan dan zitao mendapat banyak teror. Tapi mereka juga mendapat banyak dukungan" jelas sehun

"apa fansmu semengerikan itu?"

"mengerikan? Mereka cukup imut menurutku"

"cih, membela mereka?"

"aku serius. Meskipun memang mereka terkadang terlihat mengertikan, dan yang paling mengerikan jika berhadapan dengan sasaeng fans atau haters. Mereka akan dengan mudah menghakimi karya kami tanpa tau seberapa keras kami bekerja untuk menampilkan yang terbaik" jelas sehun

"seperti halnya diriku. Mungkin banyak orang mengira aku tak bekerja dengan baik karena bagian menyanyiku hanya sedikit. Ditambah dengan rap yang didominasi oleh chanyeol hyung, dance yang didominasi oleh kai. Tapi aku selalu bekerja keras agar aku memberikan yang terbaik bagi para penggemarku meskipun bagianku hanya sedikit. Manager hyung mengatakan bahwa aku bekerja untuk charger of charisma di grup. Tapi entahlah, aku tak mengerti dengan mereka" lanjut sehun lagi

Luhan tiba-tiba tercekat dengan semua penjelasan sehun. Bagaimanapun juga ia pernah mengatakan yang tidak-tidak tentang sehun, bahkan ia mengatai bahwa sehun tak pernah berniat untuk bekerja menjadi artis.

"mianhae, sehun-ah. Aku pernah mengira bahwa kau tak bersungguh-sungguh dalam bekerja" ujar luhan merasa bersalah "salah sendiri kau bicara begitu singkat di talk show, kau juga tak melakukan bagianmu dengan baik saat aku melihat performmu" kata luhan lagi yang tak mau seutuhnya disalahkan

"aku tak heran dengan kalimatmu. Banyak yang mengira aku seperti itu. Sebenarnya aku memiliki dua kepribadian. Aku sedikit menjadi orang lain saat aku diatas panggung. Aku harus menjaga semuanya agar terlihat sempurna. Kris hyung yang selalu membantuku melindungi imageku" ujar sehun

"apa hanya kris yang melindungimu? Bagaimana dengan member yang lain?" tanya luhan

"mereka juga melindungiku. Bahkan mereka selalu memperhatikanku dengan baik. Tapi yang benar-benar mengerti kondisi dan posisiku hanya kris hyung. Aku akan bercerita dengan member hanya seperlunya bercerita. Tapi berbeda saat aku bersama kris hyung, ia seolah mengerti tanpa harus mengatakan sesuatu. Dia seperti appa bagiku" jelas sehun

"tapi untuk hal yang tak rasional, aku sangat dekat dengan chanyeol hyung, chen hyung dan kai. Dan untuk urusan makan dan keperluan sehari-hari aku sangat dekat dengan suho hyung. Faktanya aku memang dekat dengan semua member" lanjut sehun

"lalu kapan kau menjadi sehun yang sesungguhnya? Maksudku menjadi oh sehun, bukan sehun exo?" tanya luhan

"dalam keadaan tenang, dalam keadaan aku nyaman dengan seseorang aku akan menjadi diriku sendiri. Seperti saat ini, aku menjadi oh sehun. Bukan sehun exo" ujar sehun percaya diri

"jinjja?" pekik luhan

"seperti yang kau lihat, jika aku sehun exo aku akan sedikit bicara"

"ya setidaknya oh sehun tak semenjengkelkan sehun exo" kekeh luhan

Sehun hanya tersenyum menanggapi komentar terakhir dari luhan. Ia kemudian menoleh luhan yang sedang tersenyum bahagia

"sekarang ceritakan padaku tentangmu. Mengapa kau menyukai tempat ini?" tagih sehun

"wae? Aku tak memintamu untuk bercerita kenapa kau menagihku seperti aku sedang berhutang padamu?" tanya luhan menolak

"ayolah, ceritakan padaku. Aku sudah membagi cerita denganmu" pinta sehun memaksa

"baiklah, apa yang harus aku ceritakan?" tanya luhan pasrah

"mengapa kau menyukai tempat ini?" tanya sehun tak yakin

"mengapa aku menyukai tempat ini? Karena aku menyukai sebuah ketenangan. Ketenangan yang membawaku keluar dari semua permasalahan yang aku alami" ujar luhan sambil sedikit tersenyum getir

"wae? Ada masalah?" tanya sehun bingung

"mungkin kau mengingat betapa aku membencimu waktu itu? Padahal hal yang kita perdebatkan hanya salju pertama bukan?" tanya luhan dan sehun mengangguk setuju

Luhan kemudian memejamkan matanya sebelum ia bercerita. Ia mengambil nafas dalam dan kemudian menghembuskannya. Ia menatap jauh pandangan kosongnya keseberang danau sebelum memulai bercerita

"aku adalah anak tunggal. Kedua orang tuaku meninggal saat aku masih sangat kecil. Usiaku baru menginjak 6 tahun saat itu tapi keduanya lebih dulu pergi. Mungkin tuhan lebih mencintai mereka hingga membawa mereka lebih dekat dengannya. Setelah kematian kedua orang tuaku, aku cukup terpuruk" ucapnya sambil sedikit berkaca-kaca

"orang tuaku meninggal saat kecelakaan pesawat dari beijing menuju kekorea. Saat itu aku melihat orang tuaku dalam keadaan tak bernyawa saat salju pertama turun. Saat itu aku menangis dan mengatakan aku ingin menyusul kedua orang tuaku" kata luhan sambil menatap kosong kedepan

"Tapi seorang haraboji menghampiriku dan mengatakan bahwa orang tuaku adalah orang yang baik, dia akan ditempatkan sangat dekat dengan tuhan karena bantuan dewi salju. Haraboji itu sangat yakin mengatakan hal itu karena kedua orang tua menghembuskan nafas terakhir saat kepingan salju pertama turun" lanjut luhan sambil tersenyum getir

"setiap tahunnya aku selalu menunggu moment turunnya kepingan salju pertama karena aku merasa aku akan jauh lebih dekat dengan kedua orang tuaku. Hingga pada akhirnya tahun ini aku kehilangan kepingan salju pertama untuk pertama kalinya setelah kematian orang tuaku karena terlalu sibuk berdebat denganmu di LA kemarin" ujar luhan sambil tersenyum dipaksakan

"mianhae" ujar sehun merasa sangat bersalah

"tak perlu meminta maaf. Aku sudah melupakannya. Mungkin aku memang harus berhenti menjadi orang bodoh" ujar luhan berusaha agar terlihat baik-baik saja

"apa kau hidup baik setelah itu?" tanya sehun tiba-tiba

" aku yakin kehidupanku membaik setelah itu. Aku masih bersyukur memiliki paman, bibi dan saudara perempuan yang menyanyangiku dengan tulus. Meskipun mereka menganggapku seperti anak mereka, tapi aku belum bisa. Setelah kematian kedua orang tuaku, aku tak bisa mempercayai siapapun untuk menjagaku" kata luhan membuang nafasnya berat

"Aku merasa semua orang yang menjagaku pada akhirnya akan menghilang karena mereka mengorbankan nyawanya sia-sia hanya untukku. Aku merasa menjadi manusia yang tak berguna" kata luhan sambil meneteskan airmata "aku lebih ingin melindungi mereka dari pada mereka yang melindungiku" lanjutnya

"banyak hal yang merubahku setelah itu. Aku bahkan bangkit dari keterpurukanku. Aku melanjutkan kuliahku di LA tanpa memperdulikan keluargaku. Aku ingin mandiri dan menjadi diriku sendiri. Aku benar-benar ingin melindungi mereka yang menyanyangiku" kata luhan

"Andai waktu bisa diputar dan nyawa bisa ditukar. Aku ingin nyawa kedua orang tuaku salamat dan biarkan aku yang menggantikan posisi mereka" lanjutnya tertunduk

"tapi kau tak sekuat itu, luhan. Kau cukup rapuh. Kau butuh tompangan" kata sehun jujur saat mulai melihat sisi rapuh luhan

"rapuh? Butuh tompangan? Kau tak tau apa-apa, oh sehun" kata luhan datar "Aku baik-baik saja! Aku tak bisa mempercayai siapapun untuk melindungiku. Mereka membohongiku! Mereka mengatakan akan selalu disisiku untuk melindungiku, tapi nyatanya apa? Mereka pergi meninggalkanku!" teriak luhan yang mulai kehilangan kendali

Luhan kemudian menunduk mencoba menahan tangisannya. Ia tak ingin terlihat lemah didepan siapapun. Luhan yang lemah dan mudah menangis telah hilang dari beberapa tahun yang lalu. Luhan yang rapuh tak boleh kembali.

"menangislah jika kau ingin menangis" kata sehun tiba-tiba

"aku sudah lama tak menangis, bahkan aku lupa cara menangis" kata luhan sinis "Aku tak ingin menangis! Aku bukan gadis yang mudah menangis seperti dulu. Luhan yang lemah telah pergi!" bantahnya keras kepala

"aku akan melindungimu, Lu. Percayalah padaku. Aku tak akan meninggalkanmu" ujar sehun yang mulai tak tega dengan luhan

Luhan menatap sehun dengan mata yang penuh dengan air mata. Ia mencoba mencari kebohongan bahwa sehun akan melindunginya. Tapi ternyata hanya ada keseriusan yang terpancar dari mata elang itu. Luhan menerima sehun yang akan melindunginya.

Aneh memang, karena biasanya luhan akan menolah siapapun yang mengatakan bahwa ia akan melindungi luhan dari apapun. Tapi entah mengapa luhan cukup percaya pada kalimat sehun. Luhan pun merunduk dan menumpahkan semua tangisnya

"mengapa mereka tega meninggalkanku sehun-ah? Bahkan saat aku masih membutuhkan mereka untuk kehidupanku? Mengapa mereka meninggalkanku? Hiks" tangis luhan pecah. Luhan menyerah, ia tak mampu membendung tangisnya lagi.

"argh! Aku benci mereka! Mereka dengan sesuka hatinya meninggalkanku sendirian! Meninggalkanku yang selalu menangis tiap malam yang hanya ingin memutar waktu! Meninggalkanku pada sebuah ketakutan yang tak berujung!" teriak luhan frustasi sambil menangis

"eomma, appa, bogoshippo" isak luhan dengan nada yang terdengar sangat pedih

Sehun kemudian menarik luhan kedalam pelukannya. Yang sehun inginkan hanya menenangkan gadis yang rapuh itu. Sudah cukup luhan berlagak tegar, sehun tak bisa melihatnya membentengi kerapuhannya sendiri. Sehun terus membelai lembut surai madu milik luhan

"gwenchana, aku bersamamu" bisik sehun menenangkan

"berhenti mengatakan kau bersamaku jika pada akhirnya kau sama dengan mereka, meninggalkanku" ujar luhan dalam isakannya

"kau bisa pegang omonganku. Aku akan melindungimu" kata sehun yakin

"melindungiku? Bahkan sampai saat ini selalu aku yang melindungimu" kata luhan yang masih berada dipelukan sehun

"baiklah, kita saling melindungi"

"mengapa kau ingin melindungiku? Kita bahkan sering bertengkar" tanya luhan

'mungkin karena aku tertarik padamu, atau mungkin aku mulai menyukaimu' batin sehun

"karena kita teman bukan?" ujar sehun memandang luhan

"geure, kita lebih dari teman. Kita sahabat" kata luhan tersenyum sambil memandang sehun

"sahabat?" tanya sehun memincingkan alisnya mencoba untuk menggoda luhan

"wae? Tak mau? Yasudah, kita musuh" kata luhan

"baiklah kita sahabat, asal kau berhenti menangis, oke? Berhenti menjadi luhan yang berpura-pura tegar, kau bisa mengatakan isi hatimu kepadaku. Semuanya" lanjut sehun

"baiklah, asal kau juga melakukan hal yang sama denganku" kata luhan

"call!" pekik sehun menyetujuinya

"aku baru tahu sisi menyedihkan darimu, rusa malang" kekeh sehun

"aku juga tak jauh berbeda" ujar luhan membela

"tapi setidaknya aku lebih baik daripadamu" kata sehun yang juga membela dirinya

"baiklah, aku menyedihkan. Kau puas?" gerutu luhan sebal

"berhenti menggerutu seperti itu. Kau akan segera mengakhiri masa menyedihkanmu" ujar sehun yakin

"arraseo" kata luhan singkat

"aku merasa kau seperti lilin, rusa kecil" ujar sehun sambil mengusak pelan rambut luhan

"lilin? Wae?" tanya luhan bingung

"kau memberi sinar untuk orang sekitarmu, kau memberi kehidupan untuk sekitarmu, namun kau mengorbankan dirimu sendiri untuk meleleh dan menghilang setelahnya" jelas sehun

"yak! Aku ini menusia, tak bisa meleleh" gerutu luhan

"ini hanya perumpamaan Lu" balas sehun

"sama saja, aku bahkan tak meleleh saat tubuhku terkena sinar UV, artinya..."

"baiklah! Berhenti menggerutu, suaramu sangat jelek ditelingaku saat menggerutu"

"yak!"

"diamlah! Atau..."

"atau apa?"

"atau aku akan meninggalkanmu disini sendiri" ancam sehun

"yak! Kau...ah, arraseo" kata luhan mengalah

"haha akhirnya aku menang darimu rusa kecil" kata sehun sambil menarik hidung luhan dengan tangan kanannya karena tangan kirinya masih setia memeluk luhan

"yak! Jangan bertindak seolah kita tak pernah ada masalah. Kau masih menjengkelkan dimataku" omel luhan dan mencoba melepas pelukan sehun

"ah? Masih tak menerimaku? Baiklah aku akan meninggalkanmu disini" goda sehun dan ia berpura-pura bangkit dari duduknya

"yak! Yak! Bagaimana bisa kau mempercayai omongan seseorang yang sedang marah oh sehun! Yak! Jangan berani meninggalkanku sendirian disini!" omel luhan sambil mencegah sehun pergi

Sehun terkikik ia kemudian kembali duduk dan menarik luhan dalam pelukannya kembali. Sehun memeluk luhan sambil tangan kanannya mengusak gemas surai panjang milik luhan

"makanya jangan mengatakan jika kau masih benci padaku. Akui saja jika hatimu membutuhkanku" kata sehun percaya diri

"andwe, aku masih..."

"kau ingin terus keras kepala? Oke baiklah, aku pergi dari..."

"andweee, aku hanya bercanda" potong luhan sambil mempoutkan bibirnya

Sehun kembali tersenyum dan memposisikan luhan didekapannya dengan nyaman, luhan pun menyamankan posisinya dipelukan sehun. Ini salah! Mengapa luhan dan sehun menjadi seperti ini dengan waktu dekat? Tidak! Mereka merasakan sensasi berbeda pada saat seperti ini, seperti sensasi kenyamanan.

"katakan jika kau membutuhkanku, Lu. Aku bersamammu" ujar sehun tiba-tiba

"eoh...gomawo" jawab luhan dan kemudian memejamkan matanya

Sesuatu menghinggapi pikiran luhan saat ini. ini terlalu cepat untuknya percaya pada cepat untuknya untuk membuka kembali hatinya yang telah lama ia bentengi. Tapi dengan lelaki berkulit putih ini luhan merasakan hatinya jatuh kedalamnya, seolah ia terjatuh cukup dalam dan sangat sulit untuk kembali.

'ini terlalu cepat, ini sangat salah karena aku dulu membencimu. Tapi dengan cepat aku mempercayaimu, sehun-ah. Sekarang aku percaya padamu. Jangan tinggalkan aku seperti mereka, jangan kecewakan aku' kata luhan dalam hati

Entah mengapa kini sehun dan luhan merasakan kenyamanan satu sama lain. Bahkan sehun dan luhan menjadi diri mereka masing-masing saat mereka bertemu. Sehun juga telah mengetahui sisi rapuh dari sosok luhan, begitu juga dengan sebaliknya

Namun sayang sekali, mereka berdua masih belum menyadari bahwa telah tumbuh benih-benih cinta diantara mereka. Mereka menganggap bahwa mereka hanya merasa nyaman satu sama lain tanpa menyadari perasaan cinta mereka. Pada dasarnya mereka berdua bisa dikatakan bahwa mereka cukup bodoh untuk menyadari perasaan mereka itu.

.

.

.

.

.

.

TBC

eaaak hunhaaaan. ciyeeee

chapter ini ceritanya chapter tebus dosa buat yang kemaren nih. ini udah dipanjangin wordnya daaaan full hunhan. so banyakin reviewnya yaaaaa

DONT BE A SILENT READERS, REVIEW JUSEYOO \(^_^)/