Sasuke berjalan dengan kepala yang sedikit tertunduk. Langkah kaki membawanya meninggalkan rumah sakit, melangkah tanpa tujuan di atas trotoar.

Ucapan psikiater masih terngiang di kepala Sasuke. Psikiater itu menyarankannya untuk melakukan lebih banyak kegiatan relaksasi, misalnya berlibur, meditasi atau hal lainnya. Dan psikiater itu menyarankannya untuk mencoba lebih banyak bersosialisasi dan terbuka dengan orang lain untuk mengurangi stress serta berusaha sebaik mungkin menjaga agar pikirannya tetap tenang.

Psikiater itu meningkatkan dosis obat anti depresan yang harus dikonsumsi Sasuke dan secara halus mengingatkan kalau ia menunjukkan gejala paranoid, dan jika sudah semakin parah maka ia akan mengalami paranoia.

Sasuke merasa dirinya benar-benar hancur. Ia merasa dirinya bagaikan karya seni yang terlihat sempurna dari kejauhan, namun sebetulnya memiliki banyak kerusakan jika dilihat dari dekat. Ia merasa dirinya rusak dan tak dapat diperbaiki, sehingga harapannya untuk bisa hidup normal tanpa harus mengkonsumsi obat sepertinya tidak mungkin.

Harga diri Sasuke sebagai laki-laki menahan dirinya untuk menangis. Namun sebetulnya hatinya sudah menjerit dan menangis ketikaia melangkah keluar dari ruangan psikiater. Iris onyxnya menatap sendu kearah obat yang baru saja ditebusnya.

Rasanya benar-benar tidak adil. Mengapa ia harus mengalami ketidakberuntungan seperti ini. Ia merasa tak adil karena harus mengalami trauma yang membuatnya menjadi 'manusia rusak' ketika ia tak pernah melakukan apapun untuk mencelakai orang lain dalam bentuk apapun, terutama secara seksual.

Sasuke terus berjalan tanpa menyadari sekelilingnya. Ia terlarut dalam pikirannya sendiri dan baru sadar ketika seseorang melambaikan tangan di depan wajahnya.

Sasuke segera mengangkat kepalanya dan ia merasa terkejut ketika mendapati Sakura yang kini berdiri dihadapannya dari arah yang berlawanan.

"Konbawa."

Sakura tak mempedulkan ucapan Sasuke dan mulai menunjukkan kekhawatirannya,, "Kau baik-baik saja? Sejak tadi aku memanggilmu namun kau sama sekali tidak menyahut. Tatapanmu juga terlihat kosong."

"Hn."

Otak Sasuke seolah terprogram otomatis untuk mengatakan kalau dirinya baik-baik saja setiap kali seseorang menanyakan dirinya. Keluarganya mengutamakan kesempurnaan dan menuntutnya untuk bersikap dan terlihat sempurna kapanpun dan dimanapun ia berada sehingga ia tak pernah mengekspresikan apapun yang membuatnya tidak terlihat sempurna.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Otak Sasuke seolah tak bisa beroperasi. Ia bahkan tak bisa memikirkan alasan yang tepat dan hanya menjawab kalimat pertama yang terlintas di kepalanya, "Memeriksa kesehatan. Kau?"

"Aku ingin makan di restoran ramen dekat sini," ucap Sakura.

Sakura menatap Sasuke lekat-lekat. Lelaki itu tampaknya sedang sendirian dan ia berniat mengajak lelaki itu makan. Namun ia tak ingin terkesan seperti perempuan genit, terutama dengan posisi lelaki itu sebagai bossnya. Saat inipun orang-orang yang melihat mereka pasti akan salah paham karena mereka memakai bahasa informal dan terlihat cukup dekat ketika sebetulnya tidak begitu.

Namun Sakura teringat dengan hal-hal yang belakangan ini terjadi di kantor. Lelaki itu mulai menjadi objek gosip yang aneh. Misalnya saja Sasuke digosipkan sebgai gay dan psikopat.

Sakura tak pernah ikut bergosip hal-hal yang tidak jelas seperti itu. Namun belakangan ini Naruto juga sering membahas Sasuke setiap kali mereka bertemu. Naruto curiga kalau Sasuke menyembunyikan sesuatu dan Sakura mulai merasa penasaran dengan lelaki itu sehingga ia ingin mengenal lelaki itu lebih dekat.

"Kau mau ikut makan bersamaku?" ucap Sakura dengan memberanikan diri. Sasuke terlihat agak kaget dan Sakura cepat-cepat menambahkan, "Jangan salah paham. Aku sama sekali tidak bermaksud agresif atau menginginkan sesuatu. Kebetulan kita bertemu da-"

Sasuke memutus ucapan Sakura, "Ayo."

Sakura terkejut dan tubuhnya seolah membeku sesaat. Ia sudah mempersiapkan diri untuk mendapat penolakan, dan ia kaget ketika lelaki itu ternyata menerima ajakannya.

"Eh? Jangan salah paham. Kebetulan kita bertemu disini dan aku sendirian. Jadi kupikir lebih baik kita makan berdua kalau kau mau. Aku sama sekali tidak bermaksud aneh-aneh."

Padahal Sasuke sama sekali tidak berpikir seperti itu. Ia kaget karena tak biasanya ada wanita yang mengjaknya makan bersama. Selama ini banyak wanita yang mengaguminya, namun tak pernah ada yang cukup berani mengajaknya makan bersama secara langsung seperti ini. Para wanita itu mundur dengan sendirinya sesudah beberapa saat berlalu, entah karena ia terus bersikap dingin dan mendorong para wanita itu untuk menyingkir atau karena ia memang tidak menyenangkan bagi para wanita itu.

"Aku tidak berpikir begitu."

Sakura tersenyum. Ia merasa benar-benar lega karena lelaki itu tak salah paham terhadapnya.

.

.

Sakura menatap sekeliling, berharap tak ada seorangpun di kantornya yang kebetulan berada di restoran ini.

Saat ini Sakura dan Sasuke terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan. Penampilan Sakura dan Sasuke juga tak terlihat formal seperti ketika mereka berada di kantor dan mereka bahkan memakai bahasa informal. Dan mereka juga makan dengan santai sambil membahas hal yang sama sekali tak ada kaitannya dengan urusan kantor, hal yang jelas akan membuat salah paham pegawai kantor yang melihat mereka.

"Kau tidak keberatan terlihat makan bersamaku?"

Sakura merasa heran dengan pertanyaan Sasuke. Apakah lelaki itu sebenarnya tidak nyaman makan bersamanya dan terpaksa menerima karena tidak enak menolak tawaran karyawan?

"Eh? Apakah kau sebenarnya merasa keberatan makan bersamaku? Aku jadi tidak enak, seharusnya kau tolak saja tadi. Aku tidak apa-apa, kok."

Emosi Sasuke sedang kacau saat ini. Ia memandang dirinya sebagai orang yang tidak normal dan ia malah tidak enak ketika ada orang lain yang bersamanya. Ia berpikir kalau ia membuat orang lain merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.

"Tidak. Kupikir malah kau yang merasa tidak nyaman."

Sakura terkejut, bagaimana bisa boss bermulut tajam itu mendadak menjadi orang yang memperhatikan perasaan orang lain? Jangan-jangan kepala lelaki itu terbentur sesuatu hingga bersikap berbeda seperti ini, buktinya lelaki itu memeriksa kesehatannya tadi.

Sebetulnya, semakin lama Sakura mengenal Sasuke, ia mulai merasa kalau lelaki itu sebetulnya adalah orang yang baik, berbeda dengan kesan pertama yang ia berikan. Bahkan ia juga mengagumi tindakan dan pemikiran lelaki itu yang menurutnya cukup baik, hanya saja lelaki itu tidak pandai bicara dan tindakannya terkadang membuat orang salah paham.

Dan sebetulnya Sasuke adalah orang yang cukup menyenangkan untuk diajak bicara. Setidaknya lelaki itu adalah tipe orang yang mau mendengarkan orang lain dan bisa bersikap santai di saat yang tepat, seperti yang dilakukannya saat ini.

"Apakah kau memiliki kembaran yang selama ini menjadi direktur di kantor?"

Sasuke mengernyitkan dahi, "Aku tidak punya kembaran."

Sakura tersenyum, "Aih… kupikir kau punya kembaran. Habisnya sikapmu berbeda sekali dibanding kesan pertama ketika di kafe itu."

Sasuke merasa penasaran akan penilaian wanita dihadapannya itu. Dan ia memutuskan bertanya, "Seperti apa kesan pertamaku?"

Sakura meringis, "Aduh, aku tidak enak mengatakannya. Bisa-bisa aku dipecat kalau aku mengatakan begini."

"Urusan personal dan kantor berbeda. Aku tidak akan memecatmu karena urusan personal."

Sakura terdiam sejenak sebelum memberanikan diri menjawab, "Aku tidek mengira kau adalah orang yang cukup baik dan perhatian. Kupikir, kau tidak begitu."

Sebetulnya Sasuke bahkan tak tahu seperti apa kepribadiannya yang sesungguhnya. Ia berpikir kalau hal-hal yang selama ini ia lakukan mungkin saja karena pengaruh obat yang selama ini dikonsumsinya. Jika ia tidak mengkonsumsi obat, ia tak tahu apakah ia akan melakukan hal yang sama atau tidak.

Terkadang Sasuke berpikir, seandainya semua orang mengetahui dirinya yang sebenarnya, akankah mereka masih memiliki persepsi yang sama terhadap dirinya? Selama ini orang-orang mengaguminya, entah karena keberuntungannya, kemampuannya berbisnis dan mengatur perusahaan, atau uang yang dimilikinya dan ketampanannya. Namun mereka semua tak mengetahui sosok menyedihkan yang berada dibalik topen yang selama ini diperlihatkan di depan publik.

"Rasanya kata-kata Naruto mengenaimu memang benar. Dia bilang kau sebenarnya adalah orang yang baik dan aku juga merasa begitu," sahut Sakura sambil tersenyum.

Sasuke tak merasa nyaman dengan pembicaraan yang emosional, namun di sisi lain terkadang ia mengharapkan adanya pembicaraan semacam ini karena ia tak pernah bisa membicarakan hal berbau emosional pada siapapun jika seseorang tak memulainya.

"Aku tak sebaik yang kau kira, Sakura."

Reaksi Sasuke agak aneh menurut Sakura. Biasanya orang lain akan senang dengan pujian, namun lelaki itu malah menolak pujian. Mungkin saja lelaki itu merasa canggung sehingga berkata seperti itu.

"Mungkin kau tidak menyadarinya, Sasuke-san. Tapi aku dan Naruto sungguh berpikir begitu."

Sasuke terdiam. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Baik Naruto maupun Sakura tak akan mengerti apa yang sesungguhnya ia rasakan.

Pada akhirnya Sasuke memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. Ia berpikir sejenak, memikirkan pertanyaan basa-basi yang seharusnya ia ajukan.

"Kau benar-benar ingin mendaftar menjadi relawan di organisasi amal itu?"

Sebelumnya Sakura merasa ragu akan hal ini. Ia kurang suka anak-anak dan merasa takut dengan beberapa tunawisma yang menurutnya menyeramkan. Dan ia juga agak kurang nyaman dengan orang-orang tua di panti jompo, namun pertemuannya dengan Sasuke dan perbincangan dengan lelaki itu membuatnya sadar kalau dia tidak seharusnya merasa begitu.

"Tentu saja."

"Jangan paksakan dirimu kalau kau tidak menginginkannya."

Sakura benar-benar terkejut. Lelaki itu seolah bisa memahami keraguan di dalam diriya. Keraguan itu masih tetap ada meski ia berusaha mengabaikannya.

"Tidak, aku memang menginginkannya. Lagipula kalau seseorang sepertimu bisa melakukannya, kenapa aku tidak bisa?"

"Sepertiku?"

"Ah," Sakura segera menyahut, "Maksudku, kau adalah orang terkenal, memiliki banyak uang dan sangat sibuk. Kalau kau saja bisa melakukannya, kenapa aku yang biasa-biasa saja tidak bisa?"

Sasuke meraih cangkirnya dan segera meneguk teh hangat di dalam nya. Ia menatap Sakura lekat-lekat sebelum berkata, "Kalau kau benar-benar akan menjadi relawan di organisasi itu, tolong perhatikan Shion saat kau berkunjung ke panti asuhan. Mungkin tak banyak orang yang mau berinteraksi dengannya, jadi kuharap kau mau meluangkan waktu untuk bermain dengannya kalau aku tidak bisa berkunjung ke panti."

Sakura menyadari kalau Sasuke adalah orang yang tidak suka bicara panjang lebar. Namun lelaki itu pasti sangat serius dengan maksudnya kali ini. Dan Sakura terkejut karena Sasuke bahkan memperhatikan orang lain yang tidak dikenalnya sampai seperti itu.

"Dan kalau kau berkunjung ke panti jompo, perlakukan mereka dengan lembut. Sebetulnya mereka kesepian dan menginginkan seseorang mendengarkan mereka. Lebih baik kau tidak usah mengikuti kegiatan ketimbang membuat dirimu tidak nyaman dan mempengaruhi sikapmu pada mereka."

Sakura terkejut, namun ia hanya bisa diam mendengarkan ucapan Sasuke. Sejak kapan lelaki itu menjadi orang yang banyak bicara dan suka menasihati orang lain?

"Mengenai tunawisma yang akan kau temui nanti, anggap saja mereka orang kurang beruntung yang setara denganmu. Berusahalah untuk memperlakukan mereka dengan baik."

"Terima kasih atas saranmu," ucap Sakura sambil tersenyum, "Tapi kenapa kau mendadak berbicara panjang lebar dan menasihati begini? Kau baik-baik saja, kan?"

Sasuke menganggukan kepala.

Sebetulnya Sasuke sengaja berkata seperti ini karena ia menyadari Sakura yang merasa agak canggung dan kurang nyaman saat berinteraksi dengan orang-orang tertentu. Ia bisa berkata seperti ini karena ia sendiri sempat merasakan hal yang sama dan ia memutuskan untuk memandang mereka dengan cara yang berbeda. Ia pikir, ketika ia berniat melakukan kebaikan pada orang yang membutuhkan, ia tidak seharusnya memperhatikan siapa dan seperti apa orang yang menjadi targetnya.

Sasuke mengerti bagaimana rasanya kesepian. Sebetulnya ia sendiri merasakanya saat ini. Sahabat terdekatnya hanyalah Naruto, namun ia tak begitu yakin apakah mereka masih akan berteman setelah ia menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Ia juga sama sekali tidak dekat dengan orang tuanya, dan hubungannya dengan Itachi juga tidak sedekat yang dibayangkan. Lelaki itu memang sempat protektif padanya, namun ketika mereka bertumbuh dewasa, hubungan mereka hanya sebatas menyapa dan menanyakan kabar satu sama lain ketika kebetulan bertemu.

Dan Sasuke memutuskan untuk mengatakan apa yang ia pikirkan secara terus terang pada Sakura karena ia berpikir kalau ia mungkin saja tak akan pernah bisa mengatakannya dan itu akan memberikan sedikit perasaan mengganjal yang tidak nyaman.

"Kau benar-benar baik-baik saja, kan?"

Sasuke kembali menganggukan kepala. Ia baik-baik saja, setidaknya untuk saat ini.

.

.

Sakura pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak nyaman. Entah kenapa ia merasa kalau ada sesuatu yang aneh dengan Sasuke sehingga ia sampai bertanya dua kali untuk memastikan kalau lelaki itu baik-baik saja.

Ia merasa benar-benar tidak enak dengan Sasuke. Tadi lelaki itu membayar makan malamnya ketika Sakura memesan makanan yang cukup banyak karena ia pikir ia akan membayar makannya sendiri. Ketika ia memaksa menggantikan uang lelaki itu, lelaki itu menolak dan malah menawarkan untuk mengantarnya pulang.

Pada akhirnya Sakura menolak dengan beralasan kalau ia ingin pergi ke pusat perbelanjaan terdekat dan Sasuke akhirnya mengantarnya ke pusat perbelanjaan.

Sakura melirik jam yang tertera di ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam dan ia berpikir apakah Sasuke sudah kembali ke rumah. Ia ingin menanyakan keadaan lelaki itu, namun ia merasa tidak enak sehingga akhirnya mengirimkan pesan untuk mengucapkan terima kasih.

Sakura merasa aneh ketika pesan yang dikirimnya hanya terdapat satu tanda centang ketika seharusnya ada dua tanda centang jika pesan itu masuk ke ponsel Ssuke dan pesannya terkirim.

Perasaan Sakura benar-benar tidak enak entah kenapa. Secara logika bisa saja kalau lelaki itu sudah tidur dan mematikan ponselnya. Namun ucapan Sasuke yang membuatnya merasa heran kembali terngiang.

Lelaki itu memberikan nasihat panjang lebar dan memintanya untuk memperhatikan Shion. Padahal menurut Hinata lelaki itu terlihat begitu menyayangi Shion hingga menghabiskan banyak waktu bersama setiap kali kunjungan ke panti asuhan. Anak itu terlihat tidak ingin berpisah dengan Sasuke dan Sasuke juga tampak berat hati meninggalkannya setiap kali mereka akan pulang. Kalau memang benar, mana mungkin lelaki itu tak mau mengunjungi panti asuhan untuk bertemu Shion lagi?

Sakura baru ingat kalau Sasuke sempat mengucapkan kata 'stabil' dan 'adopsi'. Ia berpikir jangan-jangan lelaki itu tidak stabil. Dan ia sempat melihat obat-obatan di kamar Sasuke, maka bisa jadi lelaki itu tidak stabil secara mental.

Seketika Sakura berjengit saat menyadari ketidakstabilan mental yang mungkin dialami Sasuke. Ia segera meraih ponselnya dan dengan cepat menekan nomor telepon Naruto untuk menghubunginya.

Kalau Sasuke berniat melakukan sesuatu yang aneh, maka ia harus menghentikannya.

.

.

Sasuke meletakkan biola yang baru saja selesai dimainkannya dan menghabiskan gelas wine keduanya serta menatap surat-surat di dekatnya. Biasanya ia tak akan pernah meminum gelas wine kedua meski sebetulnya ia lumayan suka dengan minuman itu, namun ia memutuskan untuk menikmati gelas kedua kali ini.

Iris onyxnya tertuju pada pemandangan langit malam dengan daun-daun yang berguguran di musim gugur. Musim gugur adalah musim yang paling disukainya diantara musim-musim lain karena temperaturnya yang pas. Cuaca di musim gugur tidak sepanas musim panas, namun tidak sedingin musim dingin. Dan ketika ia menatap daun-daun yang berguguran, daun-daun itu seolah mengingatkannya pada realita kalau suatu saat nanti semua orang akan pergi bagaikan daun yang berguguran, termasuk dirinya sendiri.

Dan malam ini Sasuke ingin menikmati malam musim gugur terakhirnya. Ia segera menyentuh sebilah pisau dapur yang cukup tajam dan menyentuhnya. Kali ini ia tidak akan gagal karena ia tinggal sendirian dan hampir tak ada orang yang mengunjungi kediaman pribadinya.

Sasuke merasa lelah menipu orang lain dan dirinya sendiri dengan topeng yang ia kenakan. Ia bahkan tak tahu seperti apa dirinya yang sesungguhnya, apakah dirinya yang menyedihkan saat ini atau dirinya yang baik di mata Sakura dan Naruto?

Ada beberapa hal yang sebetulnya diinginkan Sasuke. Namun ia sadar kalau ia tak seharusnya melakukannya karena kondisinya yang tak stabil. Ia tak ingin menjadi beban bagi lebih banyak orang, dan malam ini akan menjadi kali terakhirnya membebani orang-orang, termasuk keluarganya. Ia sadar kalau ia akan menjadi aib bagi keluarganya, maka ia meminta keluarganya untuk cepat-cepat melakukan kremasi padanya setelah ini.

Sasuke mengambil pisau itu dan memberanikan diri untuk menatap perutnya sendiri. Ia segera menusukkan pisau itu ke perutnya dan rasa sakit yang sulit dikatakan segera menyerangnya. Darah segar mengalir dari perutnya dan ia menahan diri agar tidak menjerit karena kesakitan.

Tusukan dari pisau itu tidak begitu dalam, paling-paling hanya sedalam dua sentimeter. Prosesnya akan lama kalau hanya sedalam ini dan ia seharusnya menusuk lebih dalam. Namun dirinya yang pengecut merasa ketakutan untuk menusuk lebih dalam karena rasa sakit yang membuatnya bahkan tak bisa bicara.

Maka Sasuke memutuskan untuk mempercepat prosesnya dengan meminum cairan pembersih lantai yang sudah ia persiapkan. Ia menuangkan cairan itu ke mulutnya dan rasanya benar-benar pahit dengan aroma yang menyengat. Ia terbatuk karena aromanya, dan perutnya terasa sangat sakit sehingga ia meringis.

Sasuke hanya sanggup meminumnya dua teguk karena rasa pahit dan ia memutuskan menarik pisau di perutnya, membuat lebih banyak darah keluar hingga membasahi pakaian dan lantai di sekitarnya.

Terdengar suara pintu dari pintu, pertanda bahwa pintu telah dibuka. Sasuke tak peduli dan ia memejamkan matanya. Itu pasti suara dari pintu tetangga.

Terdengar suara pintu yang terbuka dengan kasar. Naruto memegang kartu yang ia gunakan untuk membuka sensor pintu rumah Sasuke dan ia membelalakan mata ketika melihat pemandangan dihadapannya.

Naruto tak mempedulikan Sakura yang mematung di tempatnya. Ia segera berlari menghampiri Sasuke dan menjerit keras, "TEME! APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Sasuke membuka sedikit matanya saat mendengar suara yang familiar. Dengan bibir yang memucat dan rasa mual yang mendadak ia rasakan, ia memutuskan untuk menyebut nama Naruto, namun tak ada suara yang keluar sama sekali.

"AMBULANCE! TOLONG TELEPON AMBULANCE, SAKURA!" Naruto tanpa sadar menjerit karena panik.

Sakura begitu terkejut dan ia segera meraih ponselnya, menekan nomor darurat melalui speed dial di ponselnya.

Tak berbeda dengan Naruto, ia juga merasa sangat takut kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Sasuke. Ia merasa beruntung karena ia segera menghubungi Naruto malam ini dan mereka masih belum benar-benar terlambat.

-TBC-