Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

.

.

Don't Like Don't Read !

.

~ Another cherryblossom ~

.

[ Sequel ]

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, gadis kecil berambut hitamnya tengah menatap buku mata pelajarannya, hanya menatap saja dan tidak melakukan apa-apa, membaringkan kepalanya di atas meja belajarnya, sedikit merindukan Sasuke meskipun baru saja beberapa hari Sasuke pergi untuk melakukan perjalanan bisnis, berhenti melakukan kegiatan belajarnya, berjalan keluar kamar, menuruni tangga menuju dapur, sekedar ingin mengambil air minum.

"Bibi Izumi?" Ucap Sarada, bertemu Izumi di dalam dapur.

"Kau belum tidur?" Ucap Izumi, dia terlihat sibuk membuat susu untuk anaknya.

"Uhm, aku sedikit haus dan lelah belajar." Ucap gadis kecil itu.

"Mau segelas jus?" Tawar Izumi.

"Bibi Izumi akan repot." Ucap Sarada, dia merasa jika Izumi sedang sibuk dan tidak ingin merepotkannya.

"Tidak, sejak kapan aku repot olehmu, kau pun sudah menjadi anak bagiku." Ucap Izumi, tersenyum lembut dan mengusap perlahan puncuk kepala Sarada. "Tapi kau harus membawa susu ini untuk adikmu dulu." Lanjut Izumi dan memberikan botol susu pada Sarada, gadis itu mengangguk, mengambil botol susu dari Izumi dan membawakannya ke kamar, di kamar Itachi sedang menunggu sebotol susu dari istrinya.

Sarada sudah berada di depan kamar Itachi, langkahnya terhenti saat mendengar Itachi seperti tengah berbicara dengan seseorang, gadis ini sedikit penasaran, Itachi tadi mengatakan sesuatu tentang Sakura, sedikit tidak sopan, Sarada menguping pembicaraan Itachi.

"Jadi apa keputusan akkhirnya?" Ucap Itachi, saat ini dia tengah berbicara dengan Sasuke.

Itachi bisa mendengar helaan napas berat, sepertinya Sasuke tidak bisa melakukan apapun. "Dia tidak ingin kembali." Ucap Sasuke.

"Aku rasa dia sangat kecewa padamu dan kau pantas mendapatkannya." Ucap Itachi dan terkekeh.

"Berisik, sebaiknya kau memiliki saran yang bagus agar aku bisa membawanya kembali ke Konoha." Ucap Sasuke, sedikit kesal.

"Dengar, Kau pun tidak memiliki hak apa-apa untuk memaksanya kembali, Sakura bisa melakukan apapun yang dia inginkan."

Sarada menyudahi apa yang ingin dia dengar, mengetuk beberapa kali seperti memberi tanda untuk Itachi jika dia akan masuk.

"Ah, aku akan menghubungimu lagi." Ucap Itachi dan menutup ponselnya. "Masuk saja." Lanjutnya.

Pintu terbuka dan Sarada masuk membawakan sebotol susu. "Bibi Izumi memintaku untuk membawakannya, dia ingin membuatkanku jus." Ucap Sarada.

"Baiklah, kembalilah ke dapur." Ucap Itachi, mengambil botol susu dari Sarada, gadis itu terdiam sejenak sebelum pergi, kembali melangkah turun dan menemui Izumi.

"Satu gelas jus jeruk untukmu." Ucap Izumi, menaruhnya di atas meja, malam hari yang cukup sunyi, para pembantu kadang sudah beristirahat, Izumi pun tidak terlalu ingin di tolong para pembantu.

Sarada naik ke atas kursi, menatap Izumi yang sepertinya tengah sibuk memakan cemilan kue di malam hari ini.

"Kapan ayah akan kembali?" Ucap Sarada, sesekali meminum jusnya.

"Kau merindukan Sasuke?"

Anggukan kecil dari Sarada.

"Dia akan segera kembali, perjalanan bisnis kadang akan berlangsung cepat." Ucap Izumi, mencoba sedikit menghibur Sarada.

"Ayah sekarang berada dimana?" Ucap Sarada, sekedar ingin tahu.

"Di kota Kiri, Mungkin dia berada di tempat yang tidak terlalu jauh dari perusahaan A." Ucap Izumi.

Sarada terdiam, di kepalanya hanya ada berbagai macam rencana, dia sudah mendengar percakapan Itachi dan sadar jika sepertinya Sasuke menemukan Sakura di kota Kiri.

.

.

.

.

.

.

"Sa-ra-da, hey, jangan mengabaikanku." Ucap Boruto, saat jam istirahat Sarada tidak juga mengajak Boruto berbicara, dia tengah sibuk mencari sebuah informasi di ruangan komputer, meskipun masih sekolah dasar, di sekolah Sarada sudah memiliki fasilitas seperti ruangan komputer dengan memiliki sistem yang hanya akan dapat mencari situs untuk anak sekolahan dan situs dengan konten dewasa akan terblokir secara otomatis, saat ini dia tengah mencari informasi untuk kota Kiri.

"Untuk apa kau mencari tiket ke kota Kiri?" Ucap Boruto, sedikit penasaran dengan apa yang sedang di lakukan sahabat kecilnya itu.

"Aku sudah menemukan Sakura-sensei, dia berada di kota Kiri, tapi sepertinya Sakura-sensei tidak ingin kembali ke Konoha." Ucap Sarada, tatapanya sempat terlihat sedih.

"Benarkah? Bagaimana bisa Sakura-sensei berada di sana?"

"Aku sempat mendengar pembicaraan paman Itachi dan ayahku."

"Jadi, apa kau akan ke sana dan membawa kembali Sakura-sensei?"

"Tentu, aku akan melakukannya, aku rasa ayah begitu payah tidak bisa membawa kembali Sakura-sensei."

"Apa nenek Mikoto akan setuju? Paman Itachi? Bibi Izumi? Dan juga kakek Fugaku?"

"Mereka tidak akan tahu, aku akan pergi secara diam-diam dan jika hal ini terbongkar, aku akan menghajarmu." Ucap Sarada, dia sungguh mengancam Boruto untuk tidak mengadukan apa yang akan di lakukannya.

"Hahahaha, kau sungguh galak, aku tidak akan mengadukanmu, tapi kau harus mengajakku, kau tahu, seorang anak kecil di kota besar akan sangat berbahaya, aku bisa melindungimu." Ucap Boruto, sedikit besar kepala, merasa mampu melindungi Sarada.

"Kau hanya akan menghambatku, lagi pula kita seumuran, apa kau lupa hal itu." Ucap Sarada, dia tidak ingin melibatkan siapapun.

"Hehehe, kau benar, tapi kau harus tetap mengajakku!" Boruto bersikeras untuk ikut.

"Baik! Tapi apapun yang terjadi aku tidak akan menanggungnya."

"Iya, serahkan saja padaku, tapi dari mana kau mendapat uang perjalanan, ini cukup mahal, apalagi jika menabung akan sangat lama."

"Aku sudah memiliki tabungan yang cukup."

"Haa..~ aku tidak pernah menabung." Ucap Boruto berwajah lemas.

"Di saat belum pergi kau sudah menjadi penghambat." Ucap Sarada, memandang kesal ke arah Boruto.

"Akan aku berusaha!" Ucap Boruto bersemangat.

.

.

Berikutnya, di kediaman Uzumaki.

"Ayah, kau harus memberikanku uang." Ucap Boruto.

"Apa yang akan kau lakukan dengan uang sebanyak itu!" Ucap Naruto, menentang keputusan Boruto untuk meminta uang dalam jumlah yang cukup banyak.

"Aku, uhm... aku ingin membeli ramen." Hanya itu yang terlintas di pikiran Boruto.

"Aku tidak akan memberikanmu." Ucap Naruto, merasa jika Boruto berbohong padanya, meminta uang lebih dari 1 juta, mau makan ramen sebanyak apa sampai harus meminta 1 juta lebih? Naruto harus memperhatikan baik-baik putranya ini, dia tidak ingin Boruto terjebak dalam suatu hal yang salah.

"Ayolah ayah, kau harus memberikanku uang, hanya sedikit saja." Boruto masih berusaha membujuk ayahnya.

"Itu bukan jumlah yang sedikit, katakan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu, jika alasanmu baik aku akan memberikannya." Ucap Naruto, memandangi putranya itu.

"Ah, baiklah, tapi ayah janji tidak akan mengatakan apapun? Sarada bisa memukulku jika tahu aku sudah melanggar perjanjian kami." Ucap Boruto, Naruto menjadi penasaran setelah anaknya mengucapkan nama Sarada atas rencananya untuk meminta uang dalam jumlah yang banyak. "Aku akan ke kota Kiri bersama Sarada, di sana ada Sakura-sensei dan paman Sasuke, kami hanya ingin membawa kembali Sakura-sensei, jadi aku perlu uang untuk membeli tiket pesawat, aku tidak bisa membiarkannya sendirian ke sana." Ucap Boruto, menatap serius ayahnya.

Naruto menghela napas sejenak, bersyukur jika putranya itu sangat jujur padanya, namun rencana mereka itu terlalu berbahaya, membiarkan anak kecil pergi ke kota besar tanpa adanya pengawasan orang dewasa.

"Urusan Sasuke dan Sakura adalah masalah orang dewasa, kalian tidak perlu melakukannya, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri." Ucap Naruto, berusaha menasehati anaknya.

"Mereka tidak bisa menyelesaikannya, Sarada sudah mengatakan jika paman Sasuke tidak bisa membawa kembali Sakura-sensei." Ucap Boruto, tegas.

Naruto terdiam sejenak, ini sudah bukan masalah kecil lagi, sampai-sampai Sarada ingin bertindak membawa kembali Sakura, memikirkan ucapan Boruto, merasa jika Sasuke pun seperti tidak pandai untuk membujuk seorang wanita, kembali menghela napas, Naruto memijat pelan pelipisnya.

"Aku mohon padamu, ayah, aku akan menjaga Sarada." Ucap Boruto, masih berharap pada ayahnya.

"Biarkan saja mereka pergi." Ucap sebuah suara.

Naruto dan Boruto menoleh, mendapat Hinata berjalan menghampiri mereka.

"Apa kau ingin membiarkan anakmu pergi ke kota besar sendirian?" Ucap Naruto.

"Mereka akan pergi bersama, lagi pula Boruto hanya ingin menjaga Sarada." Ucap Hinata dan tersenyum lembut.

"Ibu memang yang terbaik." Ucap Boruto dan memeluk pinggang Hinata, sebuah usapan lembut di puncuk kepala Boruto.

"Sebaiknya kau segera beristirahat." Ucap Hinata.

Boruto ke kamarnya dengan begitu ceria, ibunya membiarkan dia pergi dan Naruto tidak bisa mengatakan apapun lagi. Hinata menatap Naruto, memanggilnya untuk berbisik.

"Perintahkan salah seorang untuk mengawasi mereka." Bisik Hinata pada suaminya itu.

"Kau selalu saja memberikan dia kebebasan." Ucap Naruto, tidak habis pikir dengan keputusan istrinya.

"Kebebasan namun masih dalam pengawasan kita, tenanglah, Boruto anak yang pandai, lagi pula niatnya baik, dia ingin Sarada bertemu kembali dengan ibunya." Ucap Hinata.

"Sarada belum mengetahui jika Sakura adalah ibu kandungnya."

"Mungkin mereka perlu waktu untuk berbicara." Ucap Hinata dan tersenyum, dia pun ingin Sakura bersama Sarada, merasakan apa yang di rasa Sakura sebagai seorang ibu dan tidak bisa bertemu dengan anaknya. Hinata turut ingin yang terbaik untuk Sarada.

.

.

.

.

.

.

Sabtu dan minggu adalah waktu untuk libur sekolah, Sarada sudah mempersiapkan segalanya sebelum berangkat, sabtu pagi, dia akan berangkat pagi-pagi dengan alasan akan berjalan-jalan bersama teman sekolahnya. Boruto menguap sesekali, dia tidak tahu jika mereka akan pergi sepagi ini.

"Jangan lupa kau harus menghindari orang asing di sana." Nasehat Hinata.

"Iya, bu." Ucap Boruto.

"Segeralah mencari Sakura atau Sasuke dan jangan berkeliaran tanpa pengawasan mereka." Nasehat Naruto.

"Iya."

Boruto pun sudah siap, Naruto akan mengantarnya ke bandara, menemukan Sarada di pinggir jalan, dia seperti tengah menunggu bus.

"Tenang saja, aku tidak akan melapor apapun pada Sasuke." Ucap Naruto pada Sarada, gadis kecil ini cukup terkejut, Boruto sudah menceritakan segalanya, menatap kesal ke arah Boruto.

"A-aku hanya berkata jujur, hehehe." Ucap Boruto, sedikit takut dengan tatapan Sarada.

"Kalian harus hati-hati di sana." Ucap Naruto.

"Baik paman." Ucap Sarada.

Mobil Naruto menepih, membiarkan kedua anak kecil itu berjalan masuk ke dalam bandara, Boruto melambaikan tangan pada ayahnya, seakan mereka hanya pergi bertamasya di taman kota, Naruto cukup khawatir dengan tindakan nekat kedua anak kecil itu, setelah mereka masuk dan tidak terlihat lagi, seorang pria datang menghampiri Naruto.

"Tolong awasi saja mereka, maaf sedikit merepotkanmu, petapa genit." Ucap Naruto.

"Dasar, sampai kapan kau akan memanggilku petapa genit?" Ucap seorang pria paruh baya, rambutnya yang berwarna putih dan gayanya yang terlihat seperti seorang turis, dia adalah seorang novelis dan suka melakukan perjalanan, tempat favoritnya adalah bar dengan para wanita yang cantik-cantik. "Aku melakukan ini karena aku pun akan berjalan-jalan di kota Kiri." Lanjutnya.

"Aku sudah tahu rencanamu, jangan sampai asik masuk ke dalam bar dan melupakan anak-anak itu." Ucap Naruto, memicingkan mata ke arah Jiraiya.

Jiraiya, nama pria itu, Naruto sudah menganggapnya seperti ayah sendiri, Jiraiiya adalah teman ayah Naruto, mereka seperti keluarga, saat Naruto sendirian, Jiraiyalah yang selalu berada di sisinya.

"Iya-iya, aku tahu, aku hanya akan ke bar pada malam hari, di saat mereka tidak akan keluar." Ucap Jiraiya.

"Terima kasih, aku serahkan mereka padamu." Ucap Naruto, sedikit membungkuk di hadapan Jiraiya.

"Baiklah, sampai jumpa, aku akan mengabarimu jika sudah tiba." Ucap Jiraiya dan berjalan masuk ke dalam bandara.

.

.

.

.

.

.

Kota Kiri.

Pesawat yang di tumpangi Boruto dan Sarada sudah mendarat, mereka mulai berjalan keluar bandara, Sarada membuat sedikit catatan di kertas, dia harus melakukan semua rencananya dengan sempurna.

Tidak jauh dari kedua anak kecil itu, Jiraiya mulai mengawasi mereka, mereka masih berdiri dan terdiam di tempat yang sama, mengambil tas kopernya dan tidak sengaja menabrak seorang wanita cantik, Jiraiya sedikit terpaku dan tidak mengawasi para anak kecil itu yang sudah menaiki sebuah taksi.

"Anda tidak apa-apa?" Ucap Jiraiya, membantu wanita itu untuk berdiri.

"I-iya, tidak apa-apa, terima kasih." Ucap Wanita, sedikit malu melihat pria di hadapannya.

Setelah sibuk berbicara, kembali menatap tempat dimana anak-anak kecil itu berada, namun mereka sudah hilang, menepuk jidatnya, Jiraiya mengabaikan tugasnya, terburu-buru mencari ke sana dan kemari, sosok kedua anak itu tak terlihat, kembali menepuk jidatnya, lagi, Naruto akan marah besar padanya. Menaiki sebuah taksi menuju pusat kota, berpikir jika kedua anak itu akan ke sana.

Sementara itu, Boruto memandangi kota Kiri dari kaca jendela taksi.

"Kita akan kemana?" Tanya Boruto.

"Ke kantor polisi, kita tidak akan bertemu ayahku." Ucap Sarada.

"Lalu untuk apa kita ke kantor polisi?"

"Aku yakin kita bisa menemukan alamat Sakura-sensei, polisi mengetahui alamat rumah setiap penduduk di kota." Ucap Sarada penuh percaya diri. Boruto terdiam, Sarada cukup pandai.

Tidak beberapa lama taksi itu berhenti di sebuah kantor polisi utama di kota Kiri.

"Jadi kalian ke sini untuk mencari wanita yang bernama Haruno Sakura." Ucap seorang polisi, memandangi kedua anak kecil yang tiba-tiba datang dan bertanya padanya.

"Apa paman bisa mencarikan alamatnya untuk kami?" Ucap Sarada, memperlihatkan wajah memohonnya.

Polisi itu masih memandangi mereka, sebuah tas ransel pada punggung mereka dan juga gadis kecil itu sempat mengatakan mereka dari Konoha, mengeser sedikit kursinya dan berbicara pada teman di sebelahnya.

"Hey, apa ini bukan lari dari rumah? Anak-anak kecil itu sebaiknya di apakan?" bisik polisi itu.

"Hubungi orang tua mereka dan sebaiknya di kembali ke tempat asal mereka." Ucap polisi lainnya.

Sarada mendengarnya, melirik ke arah Boruto dan memintanya untuk berlari keluar. Polisi itu kembali pada posisinya dan tidak melihat kedua anak kecil itu lagi.

"Mereka kemana?" Ucap polisi itu, bingung.

Di luar gedung kantor polisi.

"Apa yang terjadi?" Ucap Boruto, tidak mengerti dengan perintah Sarada tiba-tiba untuk lari.

"Mereka hanya akan menghubungi ayahku dan kita bisa di kembalikan ke Konoha." Ucap Sarada, merasa jika rencananya tidak berjalan lancar dan tidak sesuai harapannya.

"Jadi sekarang apa? Bahkan paman polisi itu tidak ingin membantu kita." Ucap Boruto, memandangi sekelilingnya, begitu banyak orang dan suasananya terasa asing baginya.

Sarada terdiam sejenak, tidak ada rencana lagi, dia harus meminta bantuan pada siapa? Dia pun tidak ingin bertemu dengan Sasuke, dia hanya akan kena marah jika Sasuke mengetahuinya.

"Apa kita bertanya pada sekolah di sini? Mungkin saja Sakura-sensei bekerja di sekolah, seperti saat dia di Konoha." Ucap Baruto.

"Tidak ada salahnya untuk di coba." Ucap Sarada.

Mereka mulai berjalan, sesekali melirik tempat dimana mereka berada, ada banyak toko dan memandangi arah jalanan sebelum menyeberang. Tiba di sebuah pemukiman, mereka mencoba bertanya pada orang-orang yang di temuinya di jalan, mendatangi satu persatu taman kanak-kanak dan mulai bertanya pada guru-guru yang ada di sana, namun mereka sama sekali tidak menemukan Tk dimana Sakura akan mengajar. Berhenti pada sebuah taman.

"Ini sama sekali tidak berjalan lancar, apa Sakura-sensei tidak menjadi guru lagi? Atau dia melakukan pekerjaan lain?" Ucap Boruto, merasa lelah, mereka hanya berjalan seharian dan tidak mendapatkan apa-apa.

"Biarkan aku berpikir dulu." Ucap Sarada, dia pun kehabisan ide dan tidak tahu harus berbuat apa-apa.

"Hey, kalian anak kecil, apa yang kalian lakukan di taman sendirian." Ucap beberapa orang.

Boruto melihat ke arah mereka, seperti orang yang terlihat jahat, mereka memandangi Boruto dan memandangi Sarada.

"Apa kalian dengar?" Mereka sedikit menggertak.

Boruto menatap ke arah Sarada. "Lari!" Teriak Boruto, menarik tangan Sarada dan bergegas kabur.

"Sial! Kalian jangan lari! Hey!" Teriak mereka.

"Boruto, tas kita!" Ucap Sarada, melirik ke belakang, melihat para pria itu mengambil tas mereka.

"Ahk! Kita tidak bisa mengambilnya, orang-orang itu terlihat seperti orang jahat." Ucap Boruto.

Mereka terus berlari hingga benar-benar jauh dari para preman itu, tas mereka tertinggal dan membuat para preman itu mendapat sedikit keberuntungan di dalam salah satu tas itu ada beberapa lembar uang, membawa dua tas ransel itu dan pergi.

Berhenti di saat mereka sudah tidak kuat berlari, di tempat yang cukup ramai, Boruto mendengar semua nasehat orang tuanya, mereka harus berada di tempat keramaian.

"Sekarang bagaimana? Tas kita sudah tidak ada." Ucap Sarada.

"Kita hubungi paman Sasuke dan segera kembali ke Konoha." Ucap Boruto, jalan satu-satunya.

"Apa? Kita tidak boleh bertemu ayahku, kau sudah berjanji, kau akan menanggung segala apapun yang terjadi, apa kau lupa? Seharusnya kau tidak perlu ikut." Ucap Sarada, merasa kesal akan sikap Boruto.

"Lalu kau bisa apa tanpa tas ranselmu? Sebentar lagi akan malam dan kita tidak sudah tidak punya uang." Ucap Boruto, pasrah akan nasibnya.

"Aku akan terus mencari Sakura-sensei." Ucap Sarada, kembali berjalan, namun lengannya di tarik Boruto.

"Kau tidak boleh pergi sendirian!" Ucap Boruto.

"Sejak awal aku tidak ingin kau ikut." Ucap Sarada, menarik paksa lengannya dari Boruto, kembali berjalan, Boruto mengikutinya dari belakang.

.

.

"Haa..~ Kemana anak-anak itu?" Ucap Jiraiya, dia masih mencari Sarada dan Boruto, sampai membuatnya pusing, dia pun tidak menemukan mereka di tengah kota, masih berjalan-jalan dan sesekali melihat-lihat anak kecil yang lewat.

Langkahnya terhenti saat melihat sebuah tas yang di bawa beberapa pria, itu adalah tas dengan model yang sama yang di gunakan Sarada dan Boruto, Jiraiya masih mengingat, berpikir jika kedua anak itu dalam bahaya, mengejar para pria itu, tanpa aba-aba lagi menendang mereka dari belakang.

"Sialan! Siapa yang berani-berani menendang kami!" Geram mereka.

"Aku yang melakukannya, dari mana kalian mendapat kedua tas ransel itu." Ucap Jiraiya dan menatap marah ke arah mereka, para pria itu menelan ludah mereka yang terasa berat di tenggorokan, aura dari pria yang menendang mereka seakan ingin menelan mereka hidup-hidup.

"Kami akan kembalikan tas ransel ini, tolong lepaskan kami." Ucap mereka dan bersujud di hadapan Jiraiya, mereka takut untuk melawan.

"Katakan di mana kalian menemukannya!" Ucap Jiraiya.

"Di-disana, tapi kedua anak itu berlari begitu saja, kami tidak sempat menangkap eh maksudnya tidak sempat menyapa mereka." Ucap salah satu dari mereka yang sudah gemetaran.

"Awas saja jika kalian berbohong, aku bisa mematahkan leher kalian." Ancam Jiraiya.

Meminta maaf, mengembalikan kedua ransel itu dan bergegas kabur dari pria berbadan besar itu, Jiraiya membuka tas ransel itu dan menemukan uang di dalamnya.

"Ini akan semakin kacau, sebaiknya aku lapor polisi saja." Ucap Jiraiya, anak-anak itu tidak akan bisa kemana-mana jika uang dan semua barang-barang mereka ada di dalam tas ini.

.

.

Matahari mulai tenggelam, suasana malam hari di kota Kiri, Sarada berhenti berjalan, dia sudah tidak kuat, mau jalan kemana pun mereka tidak menemukan apa-apa, berharap jika Sakura melewati mereka atau tidak sengaja bertemu.

"Apa kita akan tidur di tengah jalan?" Ucap Boruto.

"Mungkin kita bisa menginap di rumah seseorang." Ucap Sarada, melihat di sekelilingnya masih berusaha mencari.

"Di rumah seseorang? Siapa? Kata ibuku jangan bersama orang asing." Ucap Boruto.

"Kita hanya perlu mencari orang baik dan ramah." Ucap Sarada.

"Tetap saja mereka orang asing."

"Kita akan tidur di jalanan!" Ucap Sarada sedikit kesal. Eh? Sarada merasa seseorang menatapnya, mencoba mengalihkan tatapannya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Ucap seorang anak kecil, umur mereka sama.

Sarada cukup terkejut, anak laki-laki yang tidak sengaja di tatapnya tadi berjalan ke arah mereka, sebuah senyum ramah di wajahnya yang putih pucat.

"Siapa kau? Kami tidak mengenalmu." Ucap Boruto, mengambil langkah berdiri di hadapan Sarada, seakan ingin melindunginya dari anak laki-laki yang menghampiri mereka.

"Aku tinggal di sekitar sini, dan kalian sepertinya bukan orang di area sini." Ucap anak laki-laki itu.

"Kami dari Konoha, rencananya kami hanya ingin bertemu sensei kami, tapi ada sedikit masalah, kami di ganggu oleh beberapa pria dewasa dan tas kami di ambil oleh mereka." jelas Sarada.

"Shhtt...! Jangan kau katakan itu pada orang asing." Ucap Boruto pada Sarada.

"Hahahaha, tenang saja, aku bukan orang jahat, perkenalkan namaku Mitsuki." Ucap anak laki-laki, mencoba berjabat tangan dengan mereka namun tangannya di tepis Boruto.

"Tetap saja kau orang asing, kami tidak akan berbicara denganmu." Ucap Boruto.

"Apa kami bisa menginap malam ini di rumahmu? Kami tidak tahu harus tidur mana." Ucap Sarada.

"Apa yang kau katakan Sarada, kita tidak akan menginap di rumahnya." Ucap Boruto, merasa jika ada yang tidak beres dari anak laki-laki di hadapan mereka, dia tiba-tiba menyapa mereka dan juga bersikap ramah, Boruto tidak bisa mempercayai apapun.

"Kau ingin tidur di jalan atau di sebuah kasur?" Ucap Sarada, menatap Boruto, sejujurnya dia sudah sangat lelah untuk kembali bertengkar dengan Boruto yang sangat keras kepala.

"Tapi-"

"-Aku tidak akan berbuat jahat pada kalian, aku pun tidak keberatan jika kalian ingin menginap di rumahku." Ucap Mitsuki dan tersenyum ramah.

"Terima kasih." Ucap Sarada, dia akan mengikuti Mitsuki, Boruto masih terdiam, memandangi Sarada yang mulai berjalan mengikuti Mitsuki. Mendecak kesal, dia harus melindungi Sarada dan mau tidak mau harus mengikuti mereka.

"Aku hanya ingin Sakura-sensei ke Konoha." Ucap Sarada, mereka bercerita sepanjang perjalanan.

"Mungkin aku bisa membantumu, ayahku orang yang cukup mengenal beberapa orang di kota ini." Ucap Mitsuki.

"Kenapa kau begitu baik pada kami?" Ucap Boruto, masih tidak akan mempercayai anak laki-laki berambut softblue ini.

"Aku suka menolong orang." Ucap Mitsuki.

"Tidak seharusnya anak kecil sepertimu keluar pada malam hari." Ucap Boruto.

"Kau pun anak kecil dan berkeliaran malam hari." Ucap Mitsuki.

"A-apa? Awas kau yaaa." Ucap Boruto, kesal.

"Boruto, kau harus mempercayainya, dia sudah menolong kita." Ucap Sarada, menghentikan aksi Boruto yang ingin memukul Mitsuki.

Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang cukup besar, rumah berlantai tiga dengan halaman yang cukup luas namun sedikit tidak terawat, beberapa lampu di taman padam dan membuat suasana rumah bercat abu-abu terkesan seperti rumah tanpa penghuni, hanya ada cahaya terang dari setiap jendelanya.

"Apa ini rumahmu? Cukup menyeramkan." Ucap Boruto dan melihat sekelilingnya.

"Ayahku sangat sibuk, dia kadang lupa mengganti lampu yang padam dan juga dia jarang bersih-bersih." Jelas Mitsuki, membuka pintu pagarnya dan berdecit cukup nyaring, bagian engselnya sudah berkarat dan membuat pagar besi itu sedikit berisik.

Sarada dan Boruto masih memperhatikan rumah itu, suasana di sekitarnya pun cukup sunyi, Mitsuki bergegas membuka pintu rumahnya, di dalam cukup hangat dari pada di luar dengan udara yang mulai dingin.

"Silahkan masuk." Ucap Mitsuki.

Di dalamnya sangat luas, Sarada tidak terkejut akan hal ini, di kediaman Uchiha pun sangat besar dan luas, Boruto masih menatap sekeliling, ruangan yang luas namun hanya memiliki sedikit probotan.

"Mitsuki? Kau sudah pulang?" Ucap sebuah suara.

Boruto dan Sarada terpaku sejenak, terlihat seperti seorang wanita, namun setelah berjalan lebih dekat ke arah mereka, dia adalah seorang pria yang memiliki rambut hitam yang cukup panjang, sepinggang dan di ikat rapi, wajahnya terlihat sama seperti Mitsuki, putih pucat dan sorot mata yang sama.

"Ada tamu rupanya, halo anak-anak, kalian dari mana?" Ucap Orochimaru, nama pria itu.

"Tanpa sengaja aku bertemu mereka di jalanan, mereka sedang mencari seorang wanita dan juga tas mereka di ambil oleh para preman." Jelas Mitsuki.

"Oh, begitu rupanya, kalau begitu anggap saja rumah sendiri, besoknya aku akan membantu kalian." Ucap ramah pria itu.

Sarada berucap terima kasih dan Boruto hanya menatap tidak senang pada pria pucat di hadapannya itu.

"Ah, maaf, aku harus bergegas, Mitsuki tolong layani mereka dengan baik." Ucap Orochimaru, tersenyum pada kedua anak itu, namun Boruto sama sekali tidak menyukai senyum yang terkesan seperti sedang menyeringai.

"Baik, ayah." Ucap Mitsuki.

Pintu tertutup setelah Orochimaru pergi, kedua anak kecil itu berjalan mengikuti Mitsuki ke ruang tengah, sebuah sofa untuk bersantai.

"Kenapa ayahmu keluar pada saat malam hari? Ayahku saja akan pulang saat malam hari." Ucap Boruto, dia terlalu sibuk untuk ikut campur hal-hal yang membuatnya penasaran.

"Ayahku seorang ilmuan, dia akan selalu berada di ruangan laboratorium, siang maupun malam, tidak ada waktu yang tetap." Jelas Mitsuki. "Apa kalian tidak lapar?" Tanyanya.

"Aku cukup lapar." Ucap Sarada.

"Aku tidak lapar!" Ucap Boruto.

"Jangan berbohong, kita belum makan apa-apa sejak siang." Ucap Sarada.

"Bisa saja dia akan memberikan racun pada kita." Ucap Boruto.

"Kau masih tidak percaya?"

"Tentu saja!"

"Tenanglah, aku pun akan makan dengan kalian, mana mungkin aku menaruh racun jika aku memakan makanan yang sama dengan kalian." Ucap Mitsuki dan terkekeh.

"Maafkan Boruto, dia tidak bermaksud seperti itu." Ucap Sarada.

"Aku memang bermaksud seperti itu!"

"Diamlah! Jangan membuat masalah di rumah orang, kau seperti anak kecil saja."

"Kita memang anak kecil."

"Kau sungguh membuatku kesal!"

"Su-sudahlah, kalian yang berkelahi." Ucap Mitsuki, menatap bingung ke arah mereka, sejak tadi mereka terus berucap kesal, Mitsuki hanya ingin menawarkan kebaikan dan Boruto terus memojokkannya, beranggapan jika dia pun orang jahat, menghela napas sejenak.

Mitsuki meminta mereka mengikutinya ke dapur, Sarada berusaha menarik Boruto yang terus memeluk pinggiran sofa, dia tidak ingin makan, namun Sarada tidak ingin Boruto sakit dan akan membuatnya merasa bersalah pada Naruto dan Hinata.

Tiba di meja makan, tenaga Sarada sudah terkuras, beberapa makanan sudah terhidang di meja makan. Sebagai pembuktian, Mitsuki mengambil makanan dan menaruhnya di piring makannya, Sarada melakukan hal yang sama, Boruto masih terdiam, tatapannya terus mengarah pada Mitsuki, anak laki-laki itu malah merasa terus di awasi, dia dengan santai mulai memakan makanannya, hingga beberapa suapan, Sarada tidak ambil pusing akan sikap Boruto, dia pun makan begitu saja.

"Makanlah, ayahku tidak mungkin menyiapkan makanan beracun jika aku pun akan memakannya." Ucap Mitsuki. Orochimaru sudah menghidangkan makanan sebelum dia keluar. "Sejujurnya, ini hanya makanan pesanan dari sebuah restoran, hehehe, aku hanya tinggal bersama ayahku dan dia tidak bisa masak." Tambah Mitsuki.

"Ibumu?" Ucap Sarada.

"Sejak kecil aku sudah tidak pernah bertemu dengannya, kata ayahku, dia pergi ke tempat yang sangat jauh dan sulit untuk di temui." Ucap Mitsuki.

Tatapan wajah Boruto berubah, dia menjadi sedikit kasihan pada ucapan Mitsuki, sekarang anak laki-laki itu tidak memiliki seorang ibu, Boruto sudah salah paham terhadap Mitsuki.

"Maaf sudah berkata kasar padamu." Ucap Boruto, sedikit malu.

Sarada menjadi sedikit legah akan berubahan sikap Boruto, mereka menghabiskan makan malam bersama, ada beberapa kamar kosong, mereka mendapat masing-masing kamar.

.

.

Pukul 04 : 30

Boruto terbangun dari tidur nyenyaknya, menatap sekeliling ruangan, dia lupa jika tengah berada di kota Kiri, di rumah Mitsuki, kembali menutup matanya, namun rasa kantuknya menghilang begitu saja, beranjak dari kasur, sekedar ingin ke kamar mandi, berjalan keluar kamar, Boruto bisa mendengar sebuah suara dari arah lantai bawah, kamar mereka berada di lantai 2, kamar Mitsuki tidak jauh dari kamar yang di tempati Boruto, anak laki-laki itu merasa penasaran dengan suara yang di dengarnya, berjalan perlahan dan terduduk di tangga, Boruto bisa melihat ayah Mitsuki yang seperti baru saja pulang, dia tengah berbicara lewat ponsel.

"Tenanglah, mereka berada di rumahku, anak-anak itu sepertinya tersesat dan untung saja Mitsuki menemukan mereka. Baiklah, bawa saja mereka, aku tidak keberatan. Hahahah, apa maksudmu, aku tidak melakukan penelitian terhadap anak kecil..."

Boruto cukup terkejut mendengar ucapan ayah Mitsuki, terdengar seperti sebuah rencana, dia berbicara dengan seseorang yang akan membawa mereka pergi, Boruto berpikir jika mereka akan di bawa pergi oleh orang jahat dan ayah Mitsuki ikut terlibat dalam hal ini, cukup membuatnya panik, dia harus segera memberitahukan Sarada, sejak awal Boruto sudah tidak percaya dengan Mitsuki dan ayahnya, mereka terlihat sangat aneh.

Berjalan mengendap-ngendap ke arah kamar Sarada, membuka pintu anak gadis itu perlahan dan membangunkannya.

"Ada apa?" Ucap Sarada, dia sangat mengantuk dan Boruto terus mengguncangkan tubuhnya.

"Kita harus kabur dari sini." Bisik Boruto.

"Kenapa?"

"Aku tadi tidak sengaja mendengar percakapan ayah Mitsuki, dia tengah berbicara dengan seseorang lewat ponselnya, katanya mereka akan membawa kita pergi dari sini, aku sudah yakin jika mereka orang jahat." Ucap Boruto.

"Apa kau benar-benar mendengar hal itu."

"Tentu saja! aku mengintip dari tangga, ayah Mitsuki sepertinya baru saja pulang, cepatlah, kita harus cepat pergi." Ucap Boruto, menarik Sarada untuk segera bangun.

"Tapi-"

"Tidak ada tapi-tapian, kita harus cepat pergi." Ucap Boruto.

Di satu sisi Sarada ingin mempercayai Mitsuki, di satu sisi dia ingin mempercayai Boruto, sahabat lama atau orang yang baru kenalnya, Sarada jadi bimbang sendiri, tapi Boruto terus menarik lengannya untuk bergegas, dia pun bisa melihat wajah panik Boruto.

Keduanya berjalan mengendap-ngendap turun dari lantai dua, melihat sekeliling dan lantai pertama terlihat sunyi, terus berjalan hingga menggapai pintu, kunci pintu masih bertengger pada lubang kuncinya, Boruto memutar kunci dan bergegas keluar bersama Sarada, menutup perlahan pintu itu dan kabur secepat mungkin.

Orochimaru yang melupakan kunci pintu berjalan kembali ke arah pintu, dia menatap kunci yang bergoyang-goyang, seperti pintu itu tengah di buka, Pria itu membukanya pintu, melihat sekitar rumahnya dan tidak ada apa-apa di luar sana, kemballi menutup menutup pintu dan menguncinya, tak lupa mengambil kunci itu.

Sementara itu, Boruto dan Sarada yang terkejut mendengar suara pintu terbuka, segera bersembunyi di sisi rumah, setelah pintu tertutup kembali, keduanya berjalan dengan cepat, menggeser pagar itu dengan hati-hati agar tidak berisik, berhasil, mereka berhasil keluar, Boruto terus menggenggam tangan Sarada dan berlari meninggal rumah besar itu.

.

.

Langit yang gelap berubah menjadi terang, matahari mulai menampakkan dirinya. Sarada dan Boruto sejak pagi buta duduk di halte, mereka lelah berlari sejauh mungkin dari rumah Mitsuki, Sarada tidak bisa menutup matanya lagi, Boruto tertidur sejak mereka duduk di sana.

Suasana menjadi ramai dengan beberapa orang yang mulai menunggu bus di pagi hari, Sarada melihat di sekelilingnya, kendaraan yang berlalu lalang, orang-orang yang sibuk berjalan dengan cepat menuju gedung perkantoran, tanpa sengaja Sarada melihat seseorang dengan rambut softpinknya berjalan terburu-buru.

"Sakura-sensei!" Ucap Sarada, membuat Boruto terbangun.

"Ada apa Sarada?" Ucap Boruto, mengucek-ngucek matanya dan sesekali menguap.

"Aku melihat Sakura-sensei, cepatlah! Kita akan kehilangan dia." Ucap Sarada, bergegas berdiri dan berlari ke arah dimana wanita yang di lihatnya tadi.

"Tu-tunggu aku!" Boruto mengikuti Sarada.

Mereka terus berlari, wanita itu cukup jauh dan begitu banyak orang di sepanjang trotoar.

"Sakura-sensei!" Teriak Sarada, berharap wanita itu mendengar, namun suaranya terlalu kecil di keramaian dan sulit untuk di dengar orang dari kejauhan.

Terus berjalan hingga melihat wanita itu masuk ke dalam salah satu gedung yang cukup tinggi.

"Tunggu, dia berjalan ke arah sana." Ucap Boruto, menunjuk ke arah lain.

"Tidak, dia masuk ke dala gedung itu." Ucap Sarada, dia begitu yakin jika Sakura masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi itu.

"Aku melihatnya ke sana." Ucap Boruto.

Sarada akhirnya mendengar ucapan Boruto, mereka berbelok dan melihat seorang wanita berambut softpink memasuki sebuah kafe.

"Lihatlah, aku benar." Ucap Boruto.

Sarada terlihat begitu senang, mereka bergegas masuk ke dalam kafe itu, melihat ke sana dan kemari, menemukan wanita berambut softpink sepinggang tengah duduk membelakangi mereka. Sarada berjalan ke arah wanita itu, jantungnya sedikit berdebar, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sakura.

"Sakura-sensei." Sapa Sarada, memegang pundak wanita itu.

"Iya?"

Sarada cukup terkejut, Boruto pun terlihat begitu, wanita di hadapan mereka bukan Sakura, hanya warna rambutnya saja yang mirip, namun itu warna rambut yang di cat, bagian depan rambut wanita itu masih terdapat warna hitam.

"Ah, ma-maaf, aku salah orang, permisi." Ucap Sarada dan pamit sopan pada wanita itu.

Wanita itu sedikit kebingungan, namun melihat tingkah anak gadis itu, dia hanya tersenyum ramah, berpikir jika dia terlihat mirip dengan orang yang di panggil anak gadis itu.

Keduanya berjalan keluar kafe dengan wajah lesu, orang yang di pikir mereka adalah Sakura namun hanya warna rambutnya saja yang mirip.

"Apa di kota Kiri banyak yang berwarna rambut softpink? Seperti warna rambut Sakura-sensei?" Ucap Boruto.

"Aku tidak tahu." Ucap Sarada, pikirannya tengah kosong, kecewa, sedih, dan dia cukup kelelahan, mereka harus pulang hari ini, namun tas berisikan uang pulang sudah tidak ada pada mereka, berjalan gontai dan menduduki sebuah kursi panjang.

.

.

Sementara itu.

Di kediaman Orochimaru.

"Bagaimana bisa mereka kabur!" Ucap Jiraiya, pagi-pagi sekali dia sudah menghubungi Orochimaru untuk mencoba membantunya mencari dua orang anak kecil yang berasal dari Konoha, tanpa sengaja Mitsuki bertemu dengan mereka dan Orochimaru merasa tidak perlu mencari mereka lagi, namun pagi harinya, kamar mereka sama-sama kosong, Mitsuki tidak menyadari jika mereka kabur.

"Aku sungguh tidak tahu bagaimana mereka bisa kabur." Ucap Orochimaru, dia pulang saat tepat jam 4 pagi namun tidak ada yang keluar dari rumahnya.

"Biar aku cari mereka lagi, mungkin tidak akan jauh." Ucap Mitsuki dan bergegas pergi.

"Mereka berdua cukup lincah juga, Naruto pasti akan sangat marah padaku." Ucap Jiraiya, merebah diri di sofa, dia bahkan mengurungkan niatnya untuk bersantai di bar demi mencari anak-anak itu.

"Naruto? Uhm... anak dari Minato?" Ucap Orochimaru.

"Iya, dia sudah menjadi seperti anak bagiku dan anaknya sudah ku anggap sebagai cucuku, aku sudah tidak cocok untuk mengurus cucu lagi." Ucap Jiraiya.

"Hahahah, berhentilah berkeliling tempat dan tinggallah dengan nyaman di panti jompo." Sindir Orochimaru.

"Dengar, meskipun wajahku terlihat tua begini, kita masih seumuran! Dasar wajah plastik! Kapan kau akan berhenti membuat wajahmu terlihat muda terus." Sindir balik Jiraiya.

"Itu adalah hobiku, wajah yang terlihat awet muda." Ucap Orochimaru, membanggakan wajahnya.

"Hobi katamu, hobi itu seperti apa yang ku lakukan, menulis novel."

"Ah, terserah kau saja, aku ingin istirahat sejenak, pakai saja kamar yang mana kau suka." Ucap Orochimaru, segera menghentikan pembicaraan yang tidak akan selesai ini.

"Ya-ya."

.

.

Kembali pada Sarada dan Boruto.

Masih di tempat yang sama, Sarada menata gedung tinggi yang tidak jauh dari mereka, Sarada melihat wanita berambut softpink lainnya memasuki gedung itu, sedikit penasaran, dia pun ingin memastikannya, berdiri dari kursi itu dan berjalan ke arah gedung.

"Kau mau kemana?" Tanya Boruto.

"Mencoba mencari Sakura-sensei di sana." Ucap Sarada, menunjuk sebuah gedung.

"Apa kau yakin jika Sakura-sensei berada di sana? Mungkin kita akan bertemu wanita yang hanya memiliki warna rambut yang sama." Ucap Boruto, lemas, tenaganya sudah terkuras sejak tadi.

"Aku hanya ingin melihatnya." Ucap Sarada.

"Ah, baiklah, jika dia bukan Sakura-sensei, kita harus segera mencari paman Sasuke, aku tahu dia akan marah, tapi aku yakin paman Sasuke tetap menyayangimu." Ucap Boruto, beranjak dari kursi.

Mereka mulai berjalan ke arah gedung itu, di depan pintu seorang satpam menjaga dan tidak mengijinkan siapapun yang tidak memiliki ID card untuk masuk.

"Maaf anak-anak, kalian tidak bisa masuk." Ucap satpam itu.

"Aku mohon, biarkan kami masuk." Ucap Sarada.

"Kami hanya sebentar saja." Ucap Boruto.

"Ini sudah peraturan, kalian pulanglah ke rumah dan jangan berkeliaran di gedung kantor."

"Biarkan mereka masuk, aku bersama mereka." Ucap seorang wanita.

Sarada dan Boruto menoleh ke belakang, mereka kembali bertemu dengan wanita berambut softpink yang di kafe, dia adalah salah satu pegawai di kantor ini. Satpam itu hanya mengikuti perintah, membiarkan kedua anak kecil itu masuk.

"Aku tidak tahu apa yang akan kalian lakukan, tapi jangan berisik, jangan membuat kegaduhan dan cepatlah lakukan apa yang kalian ingin lakukan, setelah itu pulanglah." Ucap wanita itu.

"Terima kasih, bibi." Ucap Sarada, dia cukup tertolong hari ini.

Wanita itu melambaikan tangan dan berjalan ke arah meja kerjanya, Boruto dan Sarada mulai berpencar dan mencoba mencari Sakura. Mereka harus hati-hati dan tidak boleh terlihat mencolok di dalam gedung kantor itu, jika tidak mereka bisa di usir keluar.

Mereka terus mencari di tempat yang berbeda hingga tatapan mereka sama-sama membulat seketika melihat seseorang di hadapan mereka masing-masing.

"Boruto?" Ucap Sakura, dia tidak percaya jika melihat Boruto di dalam kantornya.

Sementara itu, Sarada berbalik dan bergegas berlari.

"Sarada! Tunggu!" Teriak Sasuke, dia tidak habis pikir dengan siapa yang di temuinya di kantor perusahaan yang tengah di datanginya.

"Kau mengenalnya, Sasuke?" Ucap pria pemilik perusahaan ini.

"Ah, dia anakku, maaf, aku harus mengejarnya." Ucap Sasuke.

"Wah, aku tidak percaya jika anak kecil itu bisa berada di dalam kantorku, bagaimana dia bisa masuk?" Ucap pria itu, sedikit bingung, tapi dia memanggil beberapa petugas keamanan untuk membantu Sasuke mengejar anaknya.

"Sarada!" Teriak Sasuke sepanjang lorong kantor. Beberapa pegawai melihat pria yang sejak awal datang terlihat berkarisma, sekarang dia sikapnya itu menghilang begitu saja. Sasuke tidak mengerti dengan Sarada yang berada di kota Kiri.

"Gawat! Bagaimana bisa ayah berada di gedung ini?" Batin Sarada, di pikirannya dia hanya ingin cepat keluar dari gedung kantor ini, dia tidak ingin bertemu dengan Sasuke.

Kembali pada Boruto, dia sudah menjelaskan semuanya pada Sakura, wanita itu pun hampir tidak percaya dengan ide Sarada, namun melihat Boruto berada di hadapannya, dia mempercayai setiap ucapan anak laki-laki itu, setelah sekain lama dan melihatnya kembali, Sakura merasa Boruto sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang bertanggung jawab dan melindungi Sarada.

"Sarada!"

Sakura mendengar suara teriakan itu tidak jauh darinya. Menoleh ke samping, melihat seorang anak perempuan berlari dengan wajah yang cukup panik, terus berlari, seketika wajahnya berubah menjadi senang, langkahnya tidak terhenti hingga memeluk erat Sakura.

"Sakura-sensei!." Ucap Sarada.

Sasuke berhenti berlari, melihat anak gadisnya sudah memeluk erat Sakura, dia pun kelelahan mengejar Sarada.

"Kau harus menjelaskan ini semua, Sarada." Ucap Sasuke, dia terlihat marah.

Tidak ada ucapan apa-apa dari Sarada, dia masih terus memeluk Sakura dan mengatur napasnya dengan baik.

"Sarada!" Teriak Sasuke, dia semakin marah.

"Tenanglah, Sasuke." Ucap Sakura.

"Bagaimana aku bisa tenang jika dia datang ke kota ini!" Ucap Sasuke, wajahnya tidak berhenti menatap kesal anak kecil itu.

Pria pemilik gedung ini baru saja sampai pada Sasuke beserta para petugas keamanan, setelah melihat situasi terkendali, pria itu membubarkan para petugas kembali untuk berjaga.

"Sarada, kemari! Cepat!" Perintah Sasuke.

Sarada menjadi takut, mengeratkan pelukannya pada Sakura.

"Paman Sasuke jangan membuat Sarada takut." Protes Boruto.

"Apa ayahmu tahu kau berada di sini?" Ucap Sasuke, dia semakin pusing di buat, Boruto pun ada.

"Ayah tahu, dia mengijinkanku untuk pergi." Ucap Boruto.

"Dasar dobe! Apa dia tidak sadar dengan membiarkan anaknya pergi ke kota besar." Ucap Sasuke.

"Sasuke, apa kau tidak bisa berbicara lebih sopan di hadapan anak-anak?" Tegur Sakura. "Cobalah untuk lebih tenang, mereka mungkin punya maksud tertentu sampai ke sini." Lanjut Sakura, mengusap perlahan punggung Sarada, tubuh gadis kecil itu bergetar setiap Sasuke mengangkat suaranya yang terkesan sangat marah.

"Gunakan saja ruangan rapat untuk berbicara, di sana sedang kosong." Tawar pria pemilik perusahaan ini.

.

.

Beberapa menit berlalu, semuanya terdiam sejenak di dalam ruangan rapat, Sasuke berusaha untuk menenangkan pikirannya dan emosinya. Dia sangat marah, namun marah bukanlah hal yang tepat.

"Jadi katakan apa yang sudah terjadi?" Ucap Sasuke, menatap serius ke arah Sarada, gadis itu hanya menundukkan wajahnya dan memeluk lengan Sakura.

"A-apa ayah akan marah jika aku mengatakannya?" Ucap Sarada, takut-takut.

Sakura sempat terkejut saat mendengar Sarada hanya memanggil Sasuke dengan sebutan 'ayah' dengan nada biasa, dulu Sarada akan memanggil Sasuke sebagai 'paman'.

"Kami ke kota Kiri untuk mengajak Sakura-sensei kembali!" Tegas Boruto, dia mulai angkat bicara, sejak mereka bertemu Sasuke, Boruto sadar jika saat ini Sarada sangat ketakutan, dia bahkan tidak menatap Sasuke.

Sasuke kembali menghela napas, entah apa yang ingin dia katakan lagi pada Sarada.

"Paman Sasuke jangan memarahi Sarada, aku pun ingin membantunya karena dia berusaha untuk berbuat baik." Tambah Boruto.

"Sarada, Kemarilah." Ucap Sasuke, memerintah anak perempuan itu untuk mendatanginya.

Sarada sempat tersentak dan malah mengeratkan tangannya yang tetap memeluk lengan Sakura.

"Sarada, kita harus berbicara, tenanglah, aku tidak akan marah." Ucap Sasuke, membuat suaranya seakan-akan sudah tenang.

Sarada mengangkat kepalanya, menatap Sakura, hanya ada sebuah anggukan kecil dari Sakura, melirik ke arah Sasuke, pria itu terlihat tenang, Sarada sudah sangat hapal dengan wajah tenang Sasuke, intinya dia menahan diri untuk tidak marah, hal itu yang di tangkap Sarada. Melepaskan rangkulannya dari lengan Sakura, turun dari kursi secara perlahan dan berjalan ke arah Sasuke, sebenarnya dia masih sangat takut, tapi Sasuke sangat jarang untuk marah padanya. Berhenti dan berdiri tepat di hadapan Sasuke yang tengah duduk.

"Ceritakan semuanya." Pinta Sasuke.

"A-aku tidak sengaja mendengar paman Itachi berbicara lewat ponsel, aku pikir itu adalah ayah, paman Itachi sempat mengucapkan nama Sakura-sensei, aku bertanya pada bibi Izumi dimana ayah berada dan akhirnya aku nekat untuk datang ke sini, Boruto memaksaku untuk mengajaknya." Jelas Sarada.

"Aku hanya ingin melindungimu!" Protes Boruto.

"Kau tahu, ini kota besar dan cukup berbahaya jika hanya kalian berdua pergi, aku tidak bisa memaafkan diriku jika sampai terjadi hal buruk pada kalian." Ucap Sasuke. mengusap perlahan puncuk kepala Sarada.

"Maaf...hikss." Sarada sudah tidak bisa menahan diri lagi, memeluk Sasuke dan menangis. Sasuke membalas pelukan anak gadisnya itu, dia pun sangat khawatir saat melihat Sarada tadi.

"Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku pergi tanpa pamit pada kalian, Boruto, Sarada, sensei akan baik-baik saja di sini, kalian tidak perlu mengajak sensei kembali ke Konoha." Ucap Sakura.

"Tidak sensei! Aku ingin Sakura-sensei kembali ke Konoha, kembali bersama kami, neh.. ayah, katakan pada Sakura-sensei, ajak dia kembali ke Konoha, katakan jika ayah masih menyukai Sakura-sensei." Ucap Sarada, mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke, menatap penuh harap untuk mengabulkan ucapannya.

Sakura merasa sedikit terharu akan tindakan dan ucapan anak gadisnya itu, dia bahkan sudah berusaha untuk melepaskan diri dari mereka, membuat pembatas agar Sarada tetap bersama Sasuke, Sakura tidak keberatan mereka selalu bersama, anak dan ayah, hal itu sudah membuat Sakura bahagia.

"Sarada, ini adalah masalah orang dewasa, kau tidak perlu ikut campur." Ucap Sasuke.

"Aku hanya ingin Sakura-sensei menjadi ibuku, apa tidak boleh seperti itu? Kenapa? Apa ayah mulai membenci Sakura-sensei?" Ucap Sarada, air mata masih mengalir di pipinya.

Sakura terlihat menghela napas, dia tidak sadar jika sikap egoisnya malah menyakiti perasaan Sarada, Sakura merasa bersalah, sikapnya tidak menyelesaikan apa-apa dan malah menambah masalah.

"Sasuke." Panggil Sakura, membuat pria itu menatapnya begitu juga Sarada. "Aku minta maaf atas ucapanku padamu, aku hanya ingin Sarada bisa bahagia bersamamu tanpa adanya kekurangan dan juga-"

"-Tetap saja meskipun dia bersamaku, Sarada masih kekurangan kasih sayang seorang ibu." Sasuke memotong ucapan Sakura, membuat wanita ini tersentak kaget, untuk kedua kalinya Sasuke memberi tanda ingin membawanya kembali.

"Aku-"

"-Kau bisa menjadi penyebab masalah dari tindakan anak-anak ini, apa kau masih bersikap egois seperti itu? Sampai kapan kau menyadari sikapmu itu." Lagi-lagi Sasuke memotong ucapan Sakura, dia sudah tidak bisa menahan diri lagi, Sakura sungguh keras kepala dan membuatnya sangat kesal. "Katakan apa yang sesungguhnya kau inginkan, aku yakin kau pun berbohong terhadap dirimu sendiri." Lanjut Sasuke, memicingkan mata ke arah Sakura.

"Aku sama sekali tidak mengerti." Ucap Boruto, menatap kedua orang dewasa itu.

Suasana hening menyelimuti ruang rapat itu, Sakura memilih diam, Sarada mengusap wajahnya, dia sudah cukup untuk menangis, merasa jika akan terjadi sesuatu yang baik setelah ucapannya, mungkin saja, Sarada masih sangat berharap.

"Sarada, ayo kita pergi, kau juga Boruto." Ucap Sasuke, mengajak kedua anak itu keluar dari ruangan rapat, Sasuke tidak akan membujuk Sakura lagi, bahkan saat Sarada datang pun dia masih berpegang teguh dengan keputusannya.

"Ayah, apa aku bisa bersama Sakura-sensei?" Pinta Sarada.

"Aku juga ikut." Ucap Boruto.

Sasuke terdiam sejenak, menatap ke arah Sakura dan menatap kedua anak itu "Baiklah, besok kalian harus ikut bersamaku pulang ke Konoha." Ucap Sasuke, membiarkan anak-anak itu untuk tinggal sementara dengan Sakura.

Sasuke berjalan keluar ruangan, Sarada dan Boruto berlarian ke arah Sakura dan memeluknya.

"Kami sangat merindukanmu Sakura-sensei." Ucap mereka bersamaan.

"Aku juga sangat merindukan kalian." Membalas ucapan kedua anak itu, tapi tatapannya terus mengarah ke pintu di mana Sasuke sudah keluar.

.

.

.

.

.

.

Apartemen Sakura.

Boruto dan Sarada sudah membersihkan diri, Sakura sempat membelikan mereka baju di toko saat melewatinya ketika mereka berjalan pulang, Hari sudah malam, keduanya tengah menyantap makan malam bersama Sakura, begitu banyak cerita dari Boruto, dia bahkan keceplosan mengucapkan jika mereka di ganggu oleh para preman dan sempat menginap di rumah seorang ilmuwan gila, itu hanya ucapan Boruto.

"Besok, maukah Sakura-sensei ikut bersama kami?" Ucap Sarada, dia berhenti menyantap makanannya dan menatap serius ke arah Sakura.

"Tidak semudah yang kau ucapkan Sarada." Ucap Sakura, menghela napas sejenak. "Pikiran orang dewasa itu sangat rumit, kau belum bisa memahaminya." Lanjut Sakura.

"Apa Sakura-sensei tidak menyukai ayahku lagi? Aku pikir hubungan kalian baik-baik saja saat itu." Ucap Sakura.

"Bu-bukan seperti itu Sakura, aku masih sangat menyukai ayahmu, bahkan di saat pertemuan pertama kami." Ucap Sakura, wajah sempat tersipu malu.

"Kalian menikah saja dan semuanya akan beres." Ucap Boruto, dia tidak ingin mendengar ucapan yang rumit lagi, dia sama sekali tidak mengerti.

"Ide bagus." Ucap Sarada.

"Eh? Me-menikah, kalian tidak usah memikirkan hal semacam itu, ini adalah keputusan sensei sendiri." Ucap Sakura.

"Apa tidak ada jalan lain agar Sakura-sensei mau kembali?" Ucap Sarada, wajahnya menunduk, dia seperti sudah kehabisan cara untuk membujuk Sakura. "Terima kasih atas makanannya." Lanjutnya dan bergegas ke kamar yang sudah sediakan Sakura untuk tidur.

"Aku rasa Sakura-sensei sangat jahat pada Sarada." Ucap Boruto, dia pun meninggalkan meja makan dan mengikuti Sarada.

"Apa yang harus aku lakukan?" Batik Sakura. Dia semakin dia buat bingung oleh sikap kedua anak itu.

.

.

Pukul 11 malam.

Sakura tengah sibuk mengerjakan beberapa tugas kantornya, kepikiran akan ucapan Sarada membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.

Tok tok tok

Terkejut mendapati pintunya di ketuk kamarnya di ketuk, ini sudah sangat malam, berjalan perlahan dan membuka pintu, mendapati Sarada yang tengah berdiri di depan kamarnya.

"Sarada? Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" Ucap Sakura.

"Aku ingin bersama Sakura-sensei." Ucap Sarada, wajahnya terlihat muram.

"Masuklah." Sakura mengajaknya masuk dan menutup pintu. "Kau ingin tidur di sini?" Ucap Sakura, sebuah anggukan cepat dari Sarada, wanita itu hanya tersenyum melihat tingkah gadis kecilnya, menghentikan kegiatan kerjanya, menuntun Sarada untuk berbaring di atas kasurnya, Sakura pun ikut berbaring di sampingnya, sebuah usapan lembut di puncuk kepala Sarada.

"Kenapa kau terbangun?" Ucap Sakura.

"Aku mimpi buruk." Ucap Sarada, wajahnya semakin muram.

"Mimpi?"

"Sakura-sensei membenciku." Ucap gadis polos itu.

Sebuah pelukan hangat di berikan Sakura padanya, wanita ini tidak ingin Sarada mendapat mimpi seperti itu lagi.

"Aku tidak pernah membencimu, bahkan aku tidak akan bisa membencimu." Ucap Sakura.

Sarada membalas pelukan wanita itu, dia sangat ingin menjadikan Sakura ibunya.

"Sakura-sensei, aku mohon, kembalilah bersama ayah." Ucap Sarada, masih belum menyerah.

Sakura melepaskan pelukan mereka dan menatap Sarada, sebuah hembusan napas perlahan, Sakura merasa dia perlu menjelaskan sesuatu.

"Dengarkan aku Sarada, begini, uhm... bagaimana jika sensei dan ayahmu adalah orang tua kandungmu?" Ucap Sakura, sedikit takut-takut, tapi berharap jika Sarada tidak menganggap serius ucapannya.

"Aku akan sangat senang." Ucap Sarada.

"Jika kami adalah orang tua kandungmu dan karena ada suatu masalah kecil kami harus berpisah dan ayahmu yang merawatmu selama ini, apa kau akan tetap menyayangiku meskipun aku tidak pernah bersamamu dan baru saja kami bertemu kembali di saat kau sudah tumbuh menjadi seorang gadis." Sakura masih mencoba menjelaskannya.

Sarada terdiam, dia sedang mencoba mencerna setiap ucapan Sakura, anak jenius seperti dia akan cepat memahami, namun dia memiliki pemikiran lain.

"Jika benar kalian adalah orang tua kandungku, aku akan sangat bersyukur bisa bertemu dengan kalian, selama kalian masih menyayangiku sebagai anak kalian, aku tidak masalah, anggap saja Sakura-sensei sedang sibuk untuk bekerja dan mungkin hanya memiliki sedikit waktu untuk bersamaku, kita masih akan tetap bertemu, sejak dulu aku sudah terbiasa dengan kesibukan ayah, aku harus memahami semuanya, apapun itu, ayah bekerja keras untukku, nenek Mikoto sering mengatakan jika ayah rela melakukan apapun untukku, aku harus selalu menghargainya." Ucap Sarada.

Sakura cukup tersentuh dengan pendapat anak gadis di usia yang terbilang masih sangat muda, namun pemikirannya lebih luas, dia selalu membuat Sakura tercengang akan ucapannya sejak dia masih mengajari gadis kecil ini.

"Aku sungguh menyayangimu." Ucap Sakura, memeluk hangat Sarada.

Gadis kecil itu merasa sangat senang mendangar ucapan senseinya.

"Untuk masalah kembali ke Konoha, akan aku pertimbangkan, selama itu bisakah kau menjaga ayahmu untuk sementara waktu?" Ucap Sakura.

"Benarkah! Aku pasti akan menjaga ayah, lagi pula dia tidak akan tertarik dengan wanita mana pun selain Sakura-sensei." Ucap Sarada dan terkekeh.

Suasana kembali damai, Sakura sudah memutuskannya, dia akan sedikit mengubah pemikirannya, dia pun tidak ingin menyakiti Sarada terus-menerus, mungkin suatu saat ini gadis kecil ini akan melakukan hal nekat lainnya.

.

.

.

.

.

Bandara internasional Kiri.

Sakura di beri ijin untuk mengantar Sasuke ke bandara, Boruto dan Sarada sedikit menjauh, merasa sengaja memberi waktu untuk Sakura dan Sasuke berbicara.

Sementara itu, Jiraiya yang juga akan pulang sudah pasrah akan mendapat amukan dari Naruto.

"Akan aku coba mencari mereka lagi." Ucap Orochimaru, mengantar teman lamanya itu di bandara.

"Semoga kita bisa bertemu lagi kakek Jiraiya." Ucap Mitsuki.

"Panggil aku paman, aku masih mudah." Protes Jiraiya.

"Sudah-sudah, tolong sampaikan salam ku pada Naruto dan keluarganya, kapan-kapan ajaklah mereka liburan ke kota Kiri." Ucap Orochimaru.

"Ya-ya akan aku sampaikan." Ucap Jiraiya.

"Bukankah itu Sarada dan Boruto?" Ucap Mitsuki, melihat dua anak kecil yang berdiri beberapa meter di depan mereka.

"Mana? Mana?" Ucap Jiraiya, melihat ke sana dan kemari, menemukan dua bocah itu dan juga melihat Sasuke tengah berbicara dengan seorang wanita. "Syukurlah, mereka bersama Sasuke, dasar dua bocah itu, bikin repot saja." Tambah Jiraiya.

"Bisakah kita menyapa mereka?" Ucap Mitsuki pada Orochimaru, sebuah anggukan pelan dan membuat Mitsuki mendatangi Sarada dan Boruto. "Sarada! Boruto!"

Keduanya berbalik dan melihat Mitsuki, bukannya mendapat sambutan baik, kedua anak kecil itu berlari menjauh dari Mitsuki, bergegas mendapat perlindungan dari Sakura dan Sasuke,

"Ada apa?" Ucap Sasuke, bingung dengan tingkah kedua anak kecil itu.

"Kenapa kalian lari?" Ucap Mitsuki, menghampiri mereka.

"Dia anak dari orang jahat dan berbahaya." Ucap Boruto, bersembunyi di balik Sakura.

"Kami tidak ingin bertemu denganmu lagi." Ucap Sarada, memeluk erat pinggang Sasuke.

"Apa?" Hanya ada tanda tanya besar di kepala Mitsuki, dia tidak mengerti dengan ucapan mereka. "Ada apa? Kenapa kalian berucap seperti itu padaku?" Ucap Mitsuki.

"Ayahmu orang jahat, kau juga pasti sudah membuat rencana untuk membawa kami ke rumahmu." Ucap Boruto.

"Kalian, coba jelaskan baik-baik." Ucap Sakura, dia pun bingung dengan tingkah mereka.

"Ah, salam kenal paman dan bibi, namaku Mitsuki." Ucap sopan Mitsuki.

"Mitsuki?" Ucap Sasuke, dia merasa tidak asing dengan anak kecil di hadapannya ini.

"Apa yang sedang terjadi?" Ucap Orochimaru, menghampiri mereka setelah melihat reaksi kedua bocah yang akan di temui Mitsuki berlari menjauhinya.

"Tuan Orochimaru? Apa kabar?" Sapa Sasuke, dia cukup mengenal pria itu.

"Lama tak jumpa Sasuke." Ucap Orochimaru.

"Ayah mengenalnya?" Ucap Sarada.

"Kalian ini sungguh membuatku repot." Jiraiya pun ikut menghampiri mereka.

"Kakek Jiraiya!" Ucap Boruto.

"Tuan Jiraiya?" Sasuke pun terkejut bertemu dengan orang yang tidak di sangkahnya.

Hanya Sakura orang yang tidak mengenal mereka. Setelah meluruskan segala sesuatu, Sarada dan Boruto meminta maaf pada Orochimaru dan Mitsuki, Sasuke pun merasa tertolong dengan ucapan Jiraiya jika dia membantu Naruto untuk menjaga kedua anak kecil itu selama di kota Kiri, sangat kebetulan mereka bertemu dengan Mitsuki dan Orochimaru, mereka pun bukan orang asing bagi Sasuke. menyelesaikan kesalahpahaman, pesawat Jiraiya berangkat lebih dulu, Orochimaru dan Mitsuki pamit untuk pulang, sementara Boruto dan Sarada berjalan masuk lebih dulu.

"Terima kasih untuk menjaga mereka." Ucap Sasuke sebelum pamit.

"Aku tidak keberatan jika mereka bersamaku." Ucap Sakura, dia cukup senang bertemu dengan murid-muridnya lagi.

"Aku harap kau akan kembali." Ucap Sasuke.

Sakura hanya terdiam, dia sudah menyepakati sesuatu dengan Sarada, sedikit ingin memberi kejutan, dia harus menyelesaikan pekerjaannya dan akan mengundurkan diri.

"Cepatlah masuk, mereka menunggumu." Ucap Sakura.

"Hn."

Sebuah kecupan singkat di jidat Sakura, tidak ada ucapan apapun dari Sasuke lagi, dia bergegas pergi. Wajah Sakura sudah sangat merona, pria itu melakukannya di depan umum dan dia bisa melihat kedua anak kecil itu tersenyum lebar setelah melihat perlakuan manis dari Sasuke. Lambaian tangan dari mereka dan Sakura membalas melambaikan tangan perlahan ke arah mereka, sebuah senyum menghiasi wajah wanita itu.

"Kita akan bertemu kembali."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

[ Omake ]

Gadis kecil itu membuka matanya perlahan, dia bisa merasakan seseorang mengecup keningnya dan berbisik 'selamat pagi' padanya.

"Ibu."

"Kau akan terlambat jika masih di kasur." Ucap ibunya.

Terlihat sedikit malas, dia harus bergegas bangun dan bersiap ke sekolah, ibunya sudah berjalan keluar kamar menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan anak dan suaminya.

Setelah menyelesaikan kegiatannya, pakaian seragam sudah rapi melekat pada tubuh gadis kecil itu, memasukkan buku pelajaran ke dalam tas, membawa tasnya ke ruang tamu dan kembali berjalan ke arah dapur, di sana di bisa melihat ayahnya sudah sibuk menggoda ibunya.

"Ehem."

Orang tuanya bergegas menjauh setelah terkejut mendapati anak mereka melihat kelakuan mereka di pagi hari.

"Ayah jangan mengganggu ibu, dia harus mengurusku dulu." Ucap Sarada. Gadis kecil itu menahan tawa, dia sangat suka mengganggu ayahnya.

"Maafkan ayah, aku tidak bermaksud mengganggu ibumu." Ucap Sasuke, tersenyum menatap anak semata wayangnya, sedikit jahil mengecup pipi istrinya dan melangkah ke arah anaknya untuk mengecup keningnya.

"Ayah harus cepat bersiap, aku tidak ingin terlambat." Ucap Sarada.

"Iya-iya." Sasuke melangkah pergi ke arah kamarnya untuk bersiap.

Sakura hanya menatap malu dengan tingkah suaminya. Sudah hampir 6 bulan lebih mereka menikah, pada akhirnya Sakura memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan A di kota Kiri, dia jauh lebih menyayangi Sasuke dan Sarada, wanita ini tidak ingin kehilangan mereka lagi. Memandangi jari manis yang melingkar sebuah cincin di sana, ini adalah keputusan terbaiknya, dia mendapatkan kembali anaknya dan juga cinta pertamanya, takdir yang cukup rumit dan berakhir dengan sesuai yang di harapkan Sakura.

"Ibu?" Sarada menatap ibunya yang hanya melamun.

"Eh? Ada apa?" Sakura membuyarkan lamunannya.

"Ada apa? ibu terlihat melamun." Ucap Sarada.

"Ibu hanya merasa senang kalian ada bersamaku." Ucap Sakura dan tersenyum.

"Aku juga sangat senang bisa bersama ibu." Ucap Sarada.

"Baiklah, ibu akan membuatkanmu sarapan." Ucap Sakura.

.

.

T

.

.


halo-halo..., author sasuke fans akhirnya bisa kembali untuk menyelesaikan fic ini... sepertinya hanya ada beberapa reader yang sadar yaa, sebenarnya itu belum selesai loh, =_= tapi yaaa... catatan author di bawahnya berasa nggak penting jadi nggak di baca, HAHAHAHAHAHA, ya udah deh, ini hanya sedikit sequel, emang rencana mau buatnya HAPPY END, bukan BAD END or GANTUNG END XD

berharap tidak ada yang ngeganjal lagi, ini sudah kelar, udah selesai, nggak ada sequel-sequel lagi.

untuk fic yang lain author masih belum punya banyak waktu seperti dulu-dulu, rajin buat fic, masih sibuk dan nggak sempat ngetik fic bahkan idenya sempat hilang di kepala dan menunggu ide itu kembali di kepala, hahahahaha...,

okeylah, segitu aja..

terima kasih banyak buat para reader..., senang bisa baca review-reviewnya. *tersipu malu*

next author akan berusaha menyelesaikan fic yang lain...

sekali lagi harap bersabar... =w=

.

see you another story...

.

SASUKE FANS