Menatap kanvas besar dengan lautan bintang yang tersebar di tengah malam yang biru adalah kemewahan di saat mencoba untuk berdiri lagi sejak kehancuran. Semua orang tertidur pulas, berselimutkan selimut darurat dan memimpikan esok hari, tetapi pada saat itu, Jaehyun duduk di tanah dengan Taeyong. Taeyong tidak bisa tidur lagi dan Jaehyun mengambil kesempatan ini untuk mengajaknya berbicara di luar. Lebih baik daripada mengganggu Jisung lagi.

"Jadi kau tidak takut melihat darah? Kau sudah pernah bergabung dengan dokter dan perawat di ruang bersalin? Aku pernah menonton video orang melahirkan. Jujur, aku masih takut. Aku tidak percaya wanita melakukan semua itu hanya untuk mendorong bayi keluar dari lubang bayi mereka."

"Lubang bayi?"

Taeyong mengangkat alisnya. "Kau ingin aku mengatakan vagina?"

Hanya butuh dua detik sebelum Jaehyun mulai memegangi perutnya ketika dia tertawa (sekecil yang dia bisa untuk mencegah orang bangun dari tidur), sesekali menepuk tanah.

"Ya Tuhan—"

Dia menyeka air matanya dan Taeyong menunggu cekikikan yang tersisa untuk mereda sebelum tersenyum. "Apakah aku lucu sekarang? Aku bisa melucu kapan saja yang aku mau."

"Kau satu-satunya yang menyebutnya lubang bayi."

"Bayi... bayi keluar dari situ. Dan bagaimana kau tahu bahwa hanya aku satu-satunya yang menyebutnya lubang bayi? Ada tujuh miliar orang di Bumi —oh, kurang dari tujuh miliar sekarang, tapi tetap saja. Aku tidak mungkin menjadi yang satu-satunya."

"Kau bodoh."

"Bisa jadi. Maksudku, aku tidak bisa pergi ke sekolah biasa, jadi apa pun yang biasa kau lakukan sebelum kau datang ke sini benar-benar menarik minatku. Pasti mendebarkan."

Jaehyun mengangkat bahunya dan bersandar untuk menatap langit lagi. "Mungkin. Aku suka membantu orang. Aku ingin menjadi perawat sejak aku masih kecil. Selain memimpikan menjadi seorang ilmuwan juga. Kau tahu betapa kerennya android bagiku, bukan? Sangat... sangat disayangkan kalau kau tidak diberi kesempatan untuk menikmati sekolah."

Taeyong mengerucutkan bibirnya dan mencoba menghubungkan bintang dengan matanya, membuat konstelasi sendiri.

"Tidak apa-apa. Maksudku, seumur hidupku aku pikir itu normal, setidaknya untukku. Aku memiliki jantung yang lemah. Aku dilarang keluar dan bermain. Ibuku paranoid, tapi dia hanya takut kehilanganku, kurasa. Belajar itu membosankan, guruku terlalu serius. Aku tidak tahu di mana dia sekarang. Kuharap dia masih hidup."

Dari penglihatannya, ia bisa melihat tatapan Jaehyun yang terus melekat padanya. Jaehyun tidak mengatakan apa-apa jadi dia menganggapnya sebagai tanda untuk melanjutkan.

"Monokromatik. Hidupku adalah gradasi abu-abu, tapi Ten ada di sana untuk memberi sedikit warna saat itu, setidaknya. Untuk waktu yang singkat."

"Ten... dia pasti penting bagimu."

"Kurasa dia adalah hidupku di saat-saat tertentu. Dia adalah satu-satunya teman yang kumiliki. Kami belajar bersama, bermain game yang tidak mengharuskan kami untuk aktif secara fisik. Dia memelukku ketika aku sedih karena ayah lagi-lagi tidak akan pulang. Ten adalah yang terakhir kulihat sebelum jantung lamaku berhenti berdetak. Ketika aku bangun, dia sudah pergi."

"Apa yang terjadi?"

"Dimusnahkan."

Taeyong menatap Jaehyun dan menahan dirinya untuk tidak menangis. "Ten adalah sebuah android yang diberikan kepadaku oleh ayahku."

"Aku turut sedih, Taeyong..."

"Jangan. Aku masih bisa merasakannya. Kenangannya, maksudku."

Jaehyun melirik ke bawah dan menggenggam tangan Taeyong, membelai buku-buku jarinya dengan ibu jarinya.

"Kurasa aku bisa mengatakan dia adalah cinta pertamaku. Konyol memang, tetapi yang aku maksudkan secara platonis. Dia adalah alasan aku merasakan cinta sejati di hidup monokromku."

"Berarti ini adalah sebuah tantangan, kalau begitu."

Taeyong mengerutkan kening sedikit dan memiringkan kepalanya dengan kebingungan. "Sebuah tantangan?"

"Mungkin begitu. Jika aku bisa menjadikan diriku sebagai cinta pertamamu, secara romantis."

Dia tidak mendapat kesempatan untuk membalas kata-kata Jaehyun karena bibir Jaehyun membungkamnya. Bibirnya yang lembut beradu dengan milik Taeyong yang pecah-pecah, dan keduanya bergerak lambat, lembut, sampai Taeyong menyerah dan menutup matanya untuk merasakan lebih, menyatukannya lebih dalam. Bibir mereka tercetak sempurna untuk satu sama lain, sebelum Jaehyun akhirnya menarik diri dengan pipi memerah. Taeyong membuka matanya dan melihat ke bawah.

"Jaehyun, aku tidak bisa—"

"Kumohon, Taeyong. Ijinkan aku. Aku tahu ini mengagetkan, tapi aku suka padamu. Aku tidak tahu bagaimana dan kapan, tetapi aku ingin melindungimu, aku ingin kau baik-baik saja. Kau itu... cantik."

Oh

"Kumohon jangan tolak aku..."

"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa mencintaimu, Jaehyun."

Taeyong menarik tangannya dan berbohong untuk tidak melihat bagaimana wajah Jaehyun berubah kebingungan. Dia tidak ingin menatap ke matanya, karena mata adalah cermin bagi jiwa seseorang, dan dia belum siap untuk melihat rasa sakit yang dia sebabkan pada Jaehyun.

"Aku tidak mampu, Jaehyun. Kau hanya akan terluka. Aku tidak bisa... aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu."

Taeyong ingin meringkuk dan berkubang dalam kesengsaraannya sendiri. Kalau saja dia memiliki hati yang nyata, maka menerima perasaan Jaehyun tidak akan menjadi masalah. Tapi Taeyong tidak memiliki hak istimewa untuk mencintai lagi, dia tahu dia tidak pantas mendapatkannya. Mengapa Jaehyun harus tertarik padanya sekarang?

"Apa maksudmu kau tidak mampu? Kau tidak perlu mengatakan apa-apa sekarang, Taeyong. Hanya... biarkan saja aku di sisimu. Kumohon?"

"Kau akan terluka, Jaehyun."

"Kau tidak akan tahu aku akan terluka atau tidak. Aku suka padamu, dan aku tidak bisa menghentikannya."

Jika seseorang bertanya pada Jaehyun alasan mengapa dia jatuh cinta pada seseorang seperti Taeyong —seseorang yang datang ke dalam hidupnya dengan cara terburuk, Jaehyun akan menjawabnya berkaitan dengan bintang-bintang. Mata Taeyong adalah galaksi, meledak dengan warna dan nafas kehidupan. Taeyong mungkin tampak tidak bernyawa, tetapi dia bersinar di mata Jaehyun. Bintang-bintang tidak hidup, tetapi mereka adalah potongan berlian yang paling indah yang menghiasi lautan hitam.

Siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan tubuh surgawi yang dipersonifikasikan?

Mereka diam ke dalam ketenangan lagi. Taeyong mengubur wajahnya di tangan dan menghela nafasnya, menunggu tidur merayap di dalam dirinya dan memaksanya kembali ke pondok. Semua ini akan lenyap besok, dia berharap begitu. Jaehyun lebih dari sekedar teman baginya sekarang, tetapi Taeyong tidak memiliki hak untuk merasakan hal yang sama dengan Jaehyun ketika dia tidak memiliki tempat untuk percintaan.

"Jika kau bisa pergi ke sekolah, apa yang akan kau pelajari?"

Dia melihat Jaehyun. Mata lelaki itu terpaku pada bintang-bintang lagi.

"Creative writing. Aku ingin menjadi seorang penulis."

"Impian yang bagus."

"Aku ingin menulis ulang hidupku sesuai dengan yang kuinginkan."

"Maukah kau membiarkan dirimu menyukaiku dalam hidup yang kau tulis ulang itu?"

Taeyong mendongak dan bersenandung kecil ketika ia akhirnya menggambar bentuk kelinci di langit. "Pastinya."


"Apa kalian perlu bantuan? Sepertinya terlihat berat."

Jaehyun menggelengkan kepalanya dan terengah-engah. "Kami tak apa. Tapi mungkin kau bisa datang nanti ketika kami selesai mencuci. Pakaian lebih berat saat basah."

Lucas mengangguk dan pergi untuk membantu memasak (ia mencicipi hampir sepanjang waktu, tetapi Doyoung tidak bisa mencegahnya) sebelum Jaehyun membawa tumpukan pakaian kotor. Beberapa langkah di belakang, Taeyong juga memiliki setumpuk pakaian, sebagian besar dari anak-anak.

Dia memaksa dirinya untuk melupakan apa yang terjadi semalam antara dia dan Jaehyun. Memikirkan hal itu tidak akan membantu, dan dia memutuskan bahwa begitu mereka keluar dari tempat ini dan tiba di posko lainnya, maka dia baru akan memikirkannya. Jaehyun tidak akan mundur apa pun yang akan dilakukan Taeyong, dan mereka tidak bisa memikirkan perasaan sekarang. Taeyong masih berpikir dia tidak benar-benar perlu memikirkannya.

Ketika mereka mencapai sungai, Jaehyun dengan cepat mengambil pakaian darinya dan berjongkok di tepi sungai untuk mulai merendam pakaian. Taeyong duduk di sampingnya, mengawasi.

"Mengapa kau tidak mengizinkanku mencuci? Aku bisa melakukannya juga."

"Hah. Tanganmu itu selembut bantalku di rumah. Taruhan, kau pasti belum pernah melihat mesin cuci."

"Kau berlebihan!"

Taeyong tersenyum saat Jaehyun menjulurkan lidah padanya. "Bagaimana caranya kau mencuci? Kau tidak memiliki deterjen..."

"Kau tahu, pada jaman ketika deterjen belum ada, para wanita mencuci pakaian mereka di sungai dengan memukul kain dengan tongkat kayu atau menggosoknya dengan batu untuk menghilangkan kotorannya. Orang-orang dari negara yang kurang beruntung masih melakukannya. Ini adalah kehidupan yang sederhana, tetapi sangat sulit. Itu yang kau sebut kerja keras. Dan karena ini kerja keras, aku tidak bisa membiarkanmu mencuci. Tanganmu yang cantik akan terluka."

Jaehyun menerima tawa ejekan dari Taeyong.

"Luka di tanganku tidak terlalu penting sekarang."

Taeyong melihat Jaehyun mulai memukuli pakaiannya, otot-otot lengannya menegang tanpa malu-malu dihadapannya. Taeyong tidak berpaling dan memanjakan diri dengan pemandangan yang menyenangkan. Jaehyun tidak akan menyadarinya.

"Apakah penyembuhan dadamu baik-baik saja? Itu alasan lain mengapa aku tidak bisa membiarkanmu melakukan sesuatu yang berat. Aku khawatir tentang lukanya."

"Tidak apa-apa. Aku mungkin harus meminta obat-obatan ketika kita sampai di posko. Aku yakin mereka punya dokter di sana, kan?"

"Ya, itu pasti."

"Kau bisa membantu mereka ketika kita sampai di sana."

"Aku masih belajar, Yong. Aku tidak memiliki lisensi."

"Sejak kapan kau memanggilku Yong?"

Jaehyun terkekeh dan menyipratkan air ke Taeyong, menyebabkan lelaki itu membalas dengan merengek. Taeyong sangat menggemaskan...

"Itulah jawabannya. Yong kedengarannya lucu, sama sepertimu."

Taeyong menghela nafasnya dan duduk manis untuk menatap lengan Jaehyun lagi. "Itu tidak lucu."

Setumpuk pakaian berangsur-angsur mengecil saat satu atau dua jam berlalu, Jaehyun benar-benar sadar. Langit semakin gelap dan dia mungkin merasakan hujan menetes di pipinya tetapi dia harus mencuci semua pakaian sebelum mereka kembali.

Serangkaian guntur bergemuruh bergema di langit dan Taeyong tersentak. Dia menolak sensasi aneh yang merayap di kulitnya dan rasa terburu-buru yang tiba-tiba dan tidak dikenal di dadanya. Dia tidak pernah suka hujan.

"Aku bisa merasakan kau menatapku terus, kau tahu."

"Lalu mengapa?"

"Mengapa kau menatapku? Aku akan meleleh karena tatapanmu."

"Aku suka lenganmu. Bagus... untuk dilihat."

Jaehyun berhenti menggosok baju dan berbalik untuk melihat Taeyong dengan jenaka tertulis di wajahnya. "Apakah kau baru saja mengakui kalau kau memperhatikanku?"

"Jadi bagaimana jika aku mengakui aku memperhatikanmu? Aku suka lenganmu. Melihatnya membuatku ingin menggigitmu."

Ketika Jaehyun tidak mengatakan apa-apa, Taeyong mendongak, baru saja akan menanyakan apa ada yang salah, tetapi dia malah terdorong ke tanah, erangan kesakitan keluar dari bibirnya saat Jaehyun menjulanginya.

"P-punggungku sakit, turunlah."

"Aku suka ketika seseorang menggigitku."

"Oh. Benarkah?"

"Benar. Mau mencobanya? Kau bilang kau ingin menggigitku."

Taeyong memegangi bagian belakang leher Jaehyun dan menariknya ke bawah, menempelkan bibirnya pada bibir Jaehyun. Taeyong merasakan seringaian ketika mereka berciuman, tapi seringaian itu meleleh ke dalam erangan lembut Taeyong yang memungkinkan keluar ketika Jaehyun mengeksplorasi lidahnya di bibir Taeyong, dan sebuah tangan menyelinap di dalam baju Taeyong untuk merasakan kulit memanas saat disentuh telapak tangan Jaehyun. Dia sejenak khawatir bahwa seseorang mungkin datang dan melihat posisi mereka sampai akhirnya pikiran itu memudar dengan Jaehyun dengan menggosok-gosokkan ujung jarinya di atas puting milik Taeyong, dan lelaki itu mendesah, ia terkejut dengan suara yang dia pikir dia tidak akan pernah keluarkan.

Ketika lutut Jaehyun menyapu sedikit selangkangannya, Taeyong secara refleks menggigit bibir Jaehyun, membuat dirinya mendengar erangan dari lelaki yang menjulanginya. Tak lama kemudian, sepasang bibir terlepas dari bibirnya, hanya untuk merasakan ciuman di sisi lehernya, membuat seluruh tubuhnya terbakar.

Taeyong merasakan sensasi aneh itu lagi dan untuk beberapa alasan, seperti desingan lembut di dadanya, tetapi dia menghubungkannya dengan ciuman di lehernya. Ciuman-ciuman itu meninggalkan kulitnya dan dia membuka mata, bibir sedikit terbuka ketika Jaehyun menatapnya, tersenyum.

"Aneh."

"Apa yang aneh?"

"Jantungku berdegup kencang, Taeyong."

Taeyong melirik tangannya yang menekan dada Jaehyun. Jantung di bawah telapak tangannya bertaluan dan Taeyong merindukan detak nadinya.

"Ya aku meraskannya."

"Tapi aku tidak bisa merasakan milikmu."

Taeyong sudah tidak sadar lagi ketika sensasi aneh menyebar di dadanya seperti es, dingin dan mencolok. Dia mendorong Jaehyun dari atas tubuhnya dan menyeretnya di belakang batang pohon, menutupi mulut Jaehyun dengan tangan.

"Tidak. Diam."

Taeyong menekan Jaehyun lebih keras ke pohon ketika perasaan dingin di dadanya perlahan-lahan mengalir melalui pembuluh darahnya, sebelum rasa dingin menelusuri panjang tulang belakangnya sebagai seseorang atau lebih tepatnya sesuatu yang muncul dari sisi lain sungai.

Mesin itu mengambil langkah panjang, langkahnya bergema melalui ketenangan tempat itu. Langit mengaum dengan guntur lagi dan Taeyong menahan nafasnya, sementara Jaehyun meraih ujung kemejanya dan menggenggam keras.

Di bawah telapak tangan Taeyong, bibir Jaehyun bergetar. Matanya lebar dalam rasa takut dan berair, tetapi gerimis telah berubah menjadi hujan sehingga Taeyong tidak tahu lagi apakah itu adalah air hujan atau air mata Jaehyun yang turun dari matanya yang membuka lebar.

Langkah-langkah kaki semakin kencang. Android berjarak beberapa meter dari mereka, dengan salah satu tangannya dimodifikasi menjadi senjata. Sesuatu yang mirip dengan ingatan yang Taeyong tidak dapat tunjukkan tiba-tiba menggelegar di dalam dirinya ketika android menolehkan kepalanya ke arah tertentu.

"Jaehyun, Taeyong! Turun hujan! Kembalilah dan makan!"

Taeyong mengutuk ketika mereka berdua mendengar Lucas mencari mereka. Dia melihat Lucas mendekat dan android bergerak lagi, sudah mengarah pada lelaki yang tidak mengerti.

"Sembunyi."

Sebelum Jaehyun dapat bereaksi, android itu menembak tetapi nyari mengenai Lucas hanya dengan satu inci. Suara tembakan itu memekakkan telinga dan Taeyong mendorong Jaehyun pergi, menunjuk ke balik batu besar.

"Sembunyi di sana."

"Tapi Taeyong—"

Android kembali menembak beberapa kali dan mereka mendengar jeritan ketika Lucas terjatuh dengan tangan menggenggam sisinya, darah merah merembes melalui kain kemejanya. Mesin itu meluncur pada manusia yang terbaring tak berdaya di tanah dan membuat Lucas terhempas beberapa meter, menabrak pohon.

Taeyong merasakan gelombang dingin lain menyebar di dadanya saat melihat Lucas lalu mengingat gambar orang tuanya, dicincang dan hancur berkeping-keping saat mereka berenang di kolam darah mereka sendiri. Yang lain berdatangan karena pasti mereka sudah mendengar kekacauan, ketakutan memakan mereka ketika mereka melihat AI bersenjata.

AI mengangkat senjatanya dan mengarahkannya ke Jisung.

"Taeyong, jangan!"

Teriakan Jaehyun memudar ketika Taeyong berlari dan meluncurkan dirinya pada si android, menjatuhkannya dengan kekuatan yang hanya dimiliki oleh mesin. Jisung semakin menjauh ketika mereka mundur ke pondok mereka sementara beberapa berlari ke arah Lucas yang mulai kehilangan kesadaran.

AI tetap tidak bergerak, matanya kosong menatap manusia yang menghantamnya. Taeyong mendengar suara Jaehyun dan suara lain memanggilnya, menyuruhnya lari tetapi semuanya menghilang dengan angin. Hujan mengguyur deras pada tubuh mereka, dan darah merembes melalui tanah berlumpur saat Taeyong melotot melalui poninya yang basah, gigi-gigi bergetar dalam dingin dan amarah.

"Kau tidak bisa membunuh siapa pun saat aku berada disini."

Dia meraih pistol AI dan menekuk lengannya, sambil menunjuk senjata di wajah sang mesin. Dia akan menembak kepalanya lalu matanya bersinar perak, mengingatkan Taeyong tentang hal terakhir yang dia lihat setelah jatuh dari jembatan.

"Kau adalah salah satu dari kami."

Rahangnya menegang dan dia menusukkan moncong pistol di bawah dagu sang android. "Tidak akan pernah."

Taeyong menekan tombol, mirip dengan pemicu dan potongan logam terbang melintasi arah saat ia memenggal kepala android dengan satu tembakan.

Suara mereda, dan Taeyong turun dari tubuh robot itu sebelum berbalik untuk melihat Yuta, yang terpaku di tempatnya, mulut terbuka dengan banyak pertanyaan yang merefleksikan di matanya. Jaehyun tidak berbeda jauh dari mereka.

Wajahnya menyengat saat air hujan mencuci darah dari luka panjang di pipinya dan rasa dingin di dadanya menghilang seolah-olah tidak pernah ada di sana.