Park Jihoon mulai terancam.


WHO ARE YOU

WANNA ONE (Produce 101 Season 2) – Bae Jinyoung x Park Jihoon, Other. T. YAOI, AU, OOC, and Typo. Romance, Drama.

©baejinbaejin


CHAPTER 10

Threat


"Aku berangkat.."

Lelaki tinggi itu bergumam pelan selagi menutup pintu masuk rumah kecil yang ia sudah tinggali selama dua bulan belakangan ini. Rumah bersama –semacam indekost, yang Yoo Seonho tinggali dengan lima orang lainnya itu mungkin salah satu indekost termurah yang pernah Seonho temui. Lagipula tidak perlu luas, Seonho hanya butuh tempat tidur yang empuk dan nyaman.

Seonho mendengar suara gesekan sepatu dan aspal dibelakangnya dan menoleh, dipikir teman satu kost-nya juga ikut berangkat kuliah, tetapi ia menemukan orang lain disana. Lelaki bermasker putih dan kacamata bingkai tebal. Rambut hitam legamnya dibiarkan terkena cahaya matahari.

Tidak kenal, Seonho kembali melanjutkan perjalanannya.

Selagi menunggu bis datang, Seonho membuka ponselnya dan melihat satu notifikasi dari orang yang ia tunggu. Senyumnya terpasang, ia membukanya dengan perasaan senang. Nama 'Lai Guanlin' terpampang di atas pesannya.

Lai Guanlin

–Good morning, sunshine. Good luck on your sparring today. Have a great day ahead!

06.38AM

Yoo Seonho

Terima kasih^^ Semoga harimu juga menyenangkan~

08.17AM

Berpikir lama sebelum mengetik balasan, sampai Seonho hampir saja tidak melihat bis berhenti tepat didepannya. Ketika Seonho berlari masuk, orang yang tadi berjalan dibelakangnya sejak ia keluar dari rumahpun ikut masuk ke dalam bis. Gerak-geriknya membuat Seonho sedikit curiga.

Kenapa harus menungguku untuk masuk, pikir Seonho.


Bae Jinyoung membuka matanya dan mendapati dirinya berada di ruangan gelap dengan aroma khas asap tembakau. Lelaki itu menghela nafasnya lalu duduk di ranjang milik Guanlin, menatap malas pada barang-barang berserakan di lantai karpet.

Ia berdiri dan berniat beranjak dari sana, namun suara ponsel Guanlin yang berada di atas meja menginterupsinya. Satu notifikasi terbuka langsung di layarnya. Guanlin tidak pernah menggunakan sandi pada ponselnya, sehingga dengan mudah Jinyoung membuka ponsel itu dan melihat pesan yang masuk.

Yoo Seonho

Terima kasih^^ Semoga harimu juga menyenangkan~

08.17AM

Lalu matanya menelusuri pesan-pesan singkat yang dikirimkan Guanlin sehingga ia akhirnya tahu kenapa badannya terasa pegal-pegal saat ini. Baru saja ingin membaca lagi, Jinyoung melihat ponselnya yang berada disamping ponsel Guanlin tadi bergetar lama, tanda ada telepon masuk.

Membaca nama Jihoon terpampang disana, Jinyoung tak sadar tersenyum kecil.

"Hei, selamat pagi." Sapanya.

"Pagi, Jinyoung-ah. Uhh.. apa Guanlin sudah bicara denganmu?"

Alisnya mengait. "Tentang apa?"

"Tentang semalam."

"Tentang kencannya dia dengan Seonho? Kalau itu sih belum, tetapi aku lihat chat-nya." Jinyoung terkekeh kecil.

"Bu-bukan hanya tentang itu. Ah ya sudah, tak apa. Kutunggu kau dikampus, oke?"

Lagi-lagi Jinyoung membuat ekspresi bingung di wajahnya. "Huh? Ada apa? Apa lagi yang terjadi semalam, Jihoon?"

"Kita bicarakan di kampus setelah kelas, oke? Siap-siaplah, mandi, sarapan, juga jangan telat. Kau ada kelas jam setengah sebelas nanti. Sampai nanti, babe."

"Hn, oke. Love you."

"Love you more." Terdengar suara dengusan kecil dari Jihoon sebelum ia mengecilkan suaranya untuk menjawab kata cinta dari Jinyoung.

Jihoon mematikan sambungannya terlebih dahulu dan meninggalkan sunyi. Lelaki dengan rambut hitam satin itu keluar dari kamar Guanlin menenteng kedua ponsel kembar miliknya dan milik Guanlin yang dibedakan dengan case bening milik Guanlin dan hitam milik Jinyoung.

Jinyoung dikejutkan dengan kehadiran ibunya yang sudah duduk manis menyesap teh di meja bar yang ada di ruang makan apartemennya. Wanita itu menaruh cangkirnya dan tersenyum manis. Tanpa disuruh, Jinyoung menghampirinya.

"Ada apa?" Tanyanya langsung.

Wanita itu tersenyum kecil. "Tidak ada, hanya rindu saja."

"Ada masalah dengan suamimu?"

"Dia ayah kandungmu, kalau dia ayah tirimu mungkin kau bisa memanggilnya dengan sebutan itu." Ibunya memandangnya tak suka.

"Kandung atau tiri tidak ada bedanya," Jinyoung duduk berseling satu kursi tinggi disebelahnya. "Ada apa?"

Jemari berkeriput itu mengaduk tehnya dan matanya mengawang ke depan. "Dia dan aku selalu tahu apa yang kau lakukan selama ini, Jinyoung."

"Aku sudah tahu."

"Dia marah besar kau memiliki kekasih seorang lelaki," Wanita itu menoleh kearahnya, lalu tangannya mengulur untuk mengelus kepala anaknya lembut. "Padahal aku sudah mencoba memberitahunya kalau dia yang membuat salah satu altermu menghilang, dengan kata lain dia juga menyembuhkanmu–"

"Aku tidak suka mendengar kata sembuh tentang penyakitku, oke?" Jinyoung memotong kata-kata ibunya, wajahnya terlihat marah.

"Ibu minta maaf," Tangan keriput itu meremas pelan tangan Jinyoung. "Intinya dia marah dan ingin kau berpisah dengannya. Ibu sudah berusaha untuk membela kebahagiaanmu, Jinyoung."

"Apa dia mengirim orang untuk meneror kami?"

Ibunya mengangkat bahunya. "Ibu tidak tahu apa yang dia lakukan, tetapi aku yakin dia sendiri yang akan mengakhiri hubungan kalian jika kau tidak mau mengikuti kata-katanya."

"Kenapa ibu bisa menikah dengan orang seperti itu?"

"Kalau tidak menikah dengannya, ibu tidak akan bisa bertemu denganmu," Wanita itu tersenyum pahit. Tangannya mengelus kepala Jinyoung lagi. "Intinya, jaga kekasihmu baik-baik. Kalau dia bilang ada orang yang mengikutinya, itu pasti suruhan ayahmu."

Jinyoung diam saja mendengar kata-kata ibunya. Benar kalau firasatnya mengatakan orang-orang yang mengikuti Jihoon pastilah ada hubungan dengannya. Tak lama wanita itu pamit untuk pergi, Jinyoung mengantarnya sampai ke depan pintu apartemennya.

"Meskipun kau menganggap kau sudah tidak punya orang tua lagi saat ini, tetapi ibu akan terus ada untukmu jika kau membutuhkan ibu," Suaranya bergetar sampai-sampai Jinyoung jadi tidak enak hati mendengarnya. "Ibu ada untukmu, sayang."

Lelaki itu memeluk ibunya sebelum wanita itu kembali ke kantornya lalu mengusap setitik air di pipi wanita yang melahirkannya itu.

"Hati-hati, bu."

Ibunya mencubit pelan pipi tirus Jinyoung. "Kau yang harusnya hati-hati. Lain kali kenalkan ibu padanya, oke?"

"Tentu."


Kali ini Jihoon yang menunggu Jinyoung selesai kelas. Lelaki itu sedang berada di kantin bersama dengan teman-teman seangkatannya yang lain. Woojin yang biasanya tidak pernah datang ke kampus juga ada disana, tidak masuk kelas dan malah main kartu dengan isian dengan yang lain.

Jihoon menyesap es kopinya sampai kegiatannya diganggu oleh Woojin yang seenaknya mengambil alih gelas tinggi didepan Jihoon. Jihoon hanya melirik Woojin tajam, sedang tidak mood untuk berkelahi dengannya. Semua gara-gara penguntit yang pagi-pagi sudah mulai mengikuti Jihoon.

Tadi pagi Jihoon berangkat menggunakan bis –karena Jinyoung pasti akan mengantarnya pulang, sehingga ia sengaja tidak bawa kendaraan. Serupa dengan kejadian pada Seonho yang diikuti sampai masuk bis, begitu juga Jihoon. Bedanya ia sudah hafal dengan orang yang menguntitnya.

Jihoon bertatapan dengan penguntitnya di halte depan apartemen orang tuanya. Meskipun ditutup masker, mata lelaki yang mengikutinya itu benar-benar mudah dihafal. Sehingga Jihoon mulai panik namun ia harus memikirkan cara bagaimana ia tidak jadi diikuti oleh orang itu.

Akhirnya ia menunggu sampai bis hendak menutup pintu, Jihoon berlari masuk ke dalam bis. Pintu bis ditutup. Dari jendela Jihoon bisa melihat orang itu berdiri dari tempat duduk, memandanginya dan mencari barang di dalam jaketnya, mungkin ponsel dari saku yang ada di dalam jaket. Bis mulai berjalan dan orang itu masih memandangi Jihoon.

Saat itu bukan hanya takut, Jihoon sudah mulai keringat dingin karena orang itu bisa saja mencelakainya. Dia hanya punya bekal kemampuan taekwondo yang ia pelajari sewaktu kecil, itupun tidak sampai level tinggi.

"Kenapa sih?"

Matanya melirik Woojin lagi. "Apa?"

"Kau terlihat cemas sejak duduk disini. Ada masalah sama Jinyoung? Atau perutmu sakit? Ingin kutemani ke toilet?" Dengan baik hati Woojin menawarkan diri.

"Diam sebelum pipimu ku tampar."

Woojin memandang ke arah belakang Jihoon. "Hei, Jinyoung. Kekasihmu ini kenapa? PMS?"

Tiba-tiba Jihoon merasakan tangan Jinyoung melingkar ke lehernya dari belakang, bibir Jinyoung mengecup puncak kepala Jihoon lalu menunduk untuk mengecup pipi kemerahan milik Jihoon.

"Dia bukan perempuan, Woojin-sunbae," Jawab Jinyoung sambil tersenyum lalu duduk disamping Jihoon yang masih merona karena perlakuan Jinyoung. "Maaf ya lama, tadi ada pembagian kerja kelompok sebelum keluar kelas."

"Ti-tidak apa-apa," Jihoon menjawabnya gugup. "Temani aku makan diluar, yuk."

"Baru juga dia duduk. Memangnya kenapa tidak makan disini saja?"

Jihoon memandang Woojin malas. "Diam."

"Aku traktir, Jihoon. Uang penghasilan dari main kartu sudah cukup untuk membayar makan kita bertiga. Temani aku sampai Hyungseob selesai kelas di kampusnya ya?"

"Pantas saja kau tidak bisa putih Park Woojin, kerjaannya makan pakai uang haram," Mulut milik Jihoon sepertinya terlalu banyak makan cabai, jadi pedas. Jihoon menggeret kekasihnya dari sana. "Yuk."

Jinyoung hanya bisa tertawa mendengar kata-kata jahat yang keluar dari mulut Jihoon dan melakukan high-five dengan Woojin sebelum pergi. "Aku duluan, sunbae."

"Hati-hati, Jinyoung. Kalau Jihoon kenapa-kenapa tidak usah dibantu."

Lagi-lagi Jinyoung tertawa sambil menahan Jihoon yang ingin kembali lagi untuk menghajar bokong Woojin.


"Mereka suruhan ayahku."

Jihoon membulatkan matanya ketika mendengar kata-kata Jinyoung. Setelah makan, Jihoon mulai menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari semalam ia diikuti dan pagi harinya. Jinyoung hanya bisa diam tidak mengganggu jalannya cerita Jihoon, sampai akhirnya ia mengatakan seperti itu.

"Kau tahu darimana?" Kening Jihoon mengerut.

"Ibuku datang ke apartemen tadi pagi. Sebenarnya aku sudah tahu kalau mereka pasti mencaritahu apa saja yang kulakukan, tetapi itu tidak membuatku berhati-hati untuk bertindak. Semua yang kulakukan terserah padaku, tidak usah takut karena mereka akan tahu."

"Jadi.. mereka tahu aku ini kekasihmu?"

"Hn, mereka tahu. Mungkin ayahku baru saja tahu karena baru akhir-akhir ini 'kan mereka mengikutimu? Dia tidak suka," Jelas Jinyoung perlahan, Jihoon sudah mulai gugup. "Aku yakin dia akan mendatangiku, menyuruhku untuk melepasmu."

Jihoon menelan liurnya kasar. "La-lalu?"

"Tentu saja aku tidak akan melakukannya. Aku sudah kehilangan Daehwi, aku tidak mungkin melepasmu begitu saja," Entah mengapa Jihoon menenang mendengarnya. "Kalau sudah mulai berbahaya, mungkin sebaiknya kau harus tetap ada disampingku."

"Maksudnya?"

"Jangan keluar jika tidak ada aku. Harus bersamaku, mengerti?"


Seonho mengelap keringat diwajahnya dan mengusap handuk itu ke rambutnya yang basah. Dia baru saja selesai latihan untuk pertandingan bola basket antar fakultas di kampusnya yang diadakan satu minggu dari sekarang. Demi nama baik fakultasnya yang di bidang olah raga.

Fakultasnya mengadakan sparring dengan fakultas lain dan fakultasnya yang sudah pasti menang hari ini. Setelah duduk-duduk sehabis latihan, Seonho beranjak menuju ruang ganti bersama seniornya yang bernama Wooseok.

"Jangan sampai keluar dari team, Seonho. Kau sangat diandalkan." Ujar seniornya itu setelah keduanya selesai mandi di bilik masing-masing.

"Iya, sunbae. Lagipula karena basket juga aku bisa masuk fakultas dan universitas ini," Jawabnya sambil memakai kaus hitam polosnya. "Sunbae juga jangan lupa untuk merekomendasikan namaku untuk masuk team nasional, oke?"

Wooseok tersenyum lalu mengacak rambut hitam Seonho. "Aku tidak akan lupa."

Keduanya melanjutkan obrolan dari mulai setelah mandi sampai akhirnya keduanya keluar dari area kampus, Seonho dan Wooseok berpisah di halte bis. Setelah ini Seonho akan berjalan menuju kedai tempatnya kerja paruh waktu. Sebenarnya terpisah dua halte bis, namun Seonho memilih berjalan daripada membuang uangnya untuk naik bis.

"Jangan jalan kaki, kau pasti lelah."

Seonho mengangguk kecil. "Iya, sunbae. Itu bisnya sudah datang, hati-hati ya, sunbae!"

Yang lebih pendek melambaikan tangan ketika Wooseok naik ke dalam bis, karena jurusannya berbeda sehingga Wooseok tidak menaiki bis yang sama dengan Seonho. Dalam hati Seonho berterima kasih karena bis yang Wooseok tumpangi datang lebih dahulu dibanding bis yang harusnya ia tumpangi.

Seonho mulai berjalan kaki ketika bis yang Wooseok tumpangi berbelok di depan sana. Lelaki kurus ini berani bersumpah kalau kakinya sudah mulai susah diajak berjalan karena lelah. Namun lebih baik kaki yang dikorbankan dibanding uangnya. Sesekali ia berhenti sejenak, lalu jalan lagi.

Jalanan ramai tidak membuat Seonho sadar kalau ada orang yang berhenti ketika ia berhenti, dan berjalan ketika ia kembali berjalan.


"Aku pulang."

Jihoon membuka sepatunya dan melangkah masuk ke dalam apartemen orang tuanya. Ayahnya sedang duduk di sofa, menonton tayangan berita. Sedangkan ibunya sibuk memasak makan malam. Padahal belum lama ia makan diluar bersama Jinyoung, entah kenapa mencium aroma masakan ibunya membuat perutnya terasa kosong.

Melirik sebentar kearah dapur membuat Jihoon semakin ingin buru-buru mencicip masakan ibunya. Kakinya berjalan cepat menuju kamarnya lalu berganti baju. Ketika membuka lemari bajunya, Jihoon melihat foto dirinya dan Jinyoung di wahana roller coaster tempo hari ditempel dibalik pintu lemarinya.

Senyumnya mengembang mengingat salah satu memori bahagianya bersama Jinyoung.

"Jihoon-ah, tolong belikan gochujang."

Terkejut dengan suara ibunya, Jihoon nyaris membanting pintu lemarinya. Takut-takut wanita itu melihat foto yang ia sembunyikan itu. "E-eh? Baiklah."

Mengambil alih uang yang dipegang ibunya, Jihoon langsung memakai hoodie kebesarannya dan berjalan keluar apartemen. Melupakan kalau Jinyoung menyuruhnya untuk tidak keluar tanpanya. Toh hanya beli bumbu makanan, mana Jihoon ingat. Ponselnya saja tidak ia bawa.

Jihoon melirik kanan dan kiri sebelum menyebrangi jalan. Tanpa berpikir apapun, ia memasuki minimarket dan berkeliling mencari bahan yang dibutuhkan ibunya. Sesekali ia mengambil cemilan yang tidak ada di daftar belanjaannya.

Setelah menemukan apa yang ia cari, Jihoon melangkah menuju meja kasir dan membayar belanjaannya. Lelaki itu berterima kasih dengan senyumnya lalu keluar dari sana. Tak jauh disebelah kirinya sudah menunggu seorang lelaki dengan pakaian hitam-hitam serta masker dengan warna senada.

Jihoon menjerit tertahan ketika badannya ditarik menuju gang kecil tanpa penerangan. Hanya ada secercah cahaya lampu dari jalanan yang tadi dia lewati. Badannya dihimpit disisi tembok kasar dan dikepung oleh tangan lelaki yang lebih tinggi darinya. Mulutnya ditutupi dengan sapu tangan yang ditahan telapak tangan lelaki itu.

"Diam, tenang."

Bagaimana bisa aku tenang, pikir Jihoon marah. Dia berusaha untuk tidak menghirup sapu tangan itu, takut-takut kalau dia akan dibius. Tidak tahan, Jihoon mengambil nafas banyak-banyak dan ternyata ia masih sadar.

"Bagus," Puji lelaki itu. "Dengarkan aku baik-baik. Jauhi Bae Jinyoung atau kau akan terima akibatnya. Jangan banyak tanya, lakukan saja kalau ingin selamat."

Jihoon berusaha mendorongnya, namun ia kembali di dorong menghimpit tembok. Ia meringis karena kepala bagian belakangnya terbentur. Yang lebih kecil menghimpit tembok masih berusaha mendorong badan besar itu sampai ia bisa melihat mata lawannya karena bias cahaya dari jalanan tadi. Jihoon ingat kalau lelaki ini yang sudah mengikutinya selama ini.

"Ikuti apa kataku tadi, paham?" Lelaki besar itu menurunkan lututnya yang menahan perut Jihoon. Jihoon ada kesempatan untuk mendorongnya menjauh, tetapi ia tidak lebih kuat dan lagi-lagi kepalanya terbentur lalu Jihoon mengerang. "Maaf, tapi ini akan lebih sakit."

Kepala Jihoon berdengung, wajahnya nyeri luar biasa. Jihoon terjatuh ke tanah ketika lelaki besar itu tak lagi menopangnya. Jihoon tersungkur nyaris kehilangan kesadaran karena lelaki itu meninju wajahnya kencang-kencang. Cairan merah keluar dari hidungnya.

Sayup-sayup dia bisa melihat lelaki besar itu berjalan meninggalkannya dan akhirnya hanya gelap yang ia lihat.


WHO ARE YOU

-TO BE CONTINUE-


A/N: Hai, tebak siapa yang udah lulus? HAHAHA iya, aku dong.

Semakin nggak jelas ya ceritanya huhu. Eh gak deng, kan udah tau itu suruhan bapaknya tapi siapa coba yang mukul Jihoon? Nanti kita bales rame-rame ya. Semoga neng Jihoon buruan diketemuin orang lagi boboan di gang gelap ya. Itu dia baik kok, nyeretnya ke gang yang kadang dilewatin orang. HALAH.

Oke ini udah update dan tidak baca ulang haha langsung post! Semoga berkenan ya dengan update-an kali ini dan semoga tida ada typo.

Jangan lupa review!