Hi, everyone!
Anne muncul lagi, nih! Yups, Anne lagi banyak tugas. Terus beberapa hari kemarin Anne repot, ada acara di rumah. Sebenarnya hari ini pun ada tugas. Nah, sebelum lanjut ngerjain tugas, Anne mau posting dulu chapter 10nya. Seperti yang Anne sempat tanya. Apakah mau ada epilog? Jadi hasilnya Anne sepakat mau buat epilog, karena Anne sudah nulis kepanjangan banget chapter 10 ini. So, Anne udah bagi dua dan bagian selanjutnya akan Anne buat di chapter epilog besok. Oke! Sebelumnya, Anne balas review dulu, ya!
FF Silent Reader: Wahh aku pengen balas review kamu dulu, nih. Boleh ya! Oke! Waktu baca komentar kamu lewat pemberitahuan email, aku langsung duduk tegak (sebelumnya tiduran sambil baca novel). Kenapa? Karena aku udah yakin kalau aku buat golongan darah Harry itu A. Seperti di skema cerita yang sudah aku susun. Bukan AB seperti yang kamu bilang. Memang, aku setiap buat cerita selalu aku buat tokoh utamanya bergolongan darah AB. SELALU. Mungkin itu yang buat selalu nancap di kepala. Nah, pas aku cek.. ternyata.. ASTAGA! Sorry! Ternyata memang aku tulis AB. (akhir-akhir ini aku sering typo). Aku gak sadar! Sumpah, aku aja syok. Aku juga tahu AB sama O nggak mungkin punya anak AB atau O. Bahkan sejak SMA aku udah hapal banget materi hereditas itu. Terima kasih, karena sudah dicek soalnya masalah golongan darah ini akan ada hubungannya di chapter penutup nanti. Sekali lagi thanks, ya. Seperti yang dibilang readers sebelumnya, aku kurang konsen nulis fic ini.. Aaagg! Sekali lagi, terima kasih! *bungukin badan* :)
Syarazeina: Wahh.. berdoa buat Mione, ya! Sebenarnya memang Hermione nggak apa-apa. Hanya masalah yang berhubungan dengan golongan darah saja (jawabannya di chapter selanjutnya). Oke, ditunggu epilognya. Semoga bisa besok! Thanks, ya! :)
DiahImbarsiwi15: Jujur membuka segalanya. Thanks, kak :)
Mitsuka sakurai: Thanks, ya! *Sodorin tisu* :)
Afadh: Owwww, thanks ya.. loh, kenapa sama ayah kamu? Hayo! :)
Guest: Wah, che! Hehehe.. Masih dilanjut, kok. Sampai epilog. Kapan-kapan buat Harry-Hermione family lagi, deh! Karena memang itu genreku. Dapat adek lagi apa enggak? Tunggu chapter selanjutnya, ya! Thanks :)
NrHikmah20: Oke.. oke.. requestan kamu udah aku rancang! Ditunggu saja, thanks, ya! :)
Baiklah.. sudah semua yang review! Anne hanya bisa bilang terima kasih. Anne memang belum banyak pengalaman buat fanfic. Karena setiap nulis fanfic selalu sekali jadi. Dan itu hanya butuh riset sebentar, kebanyakan dari isi kepala langsung ditulis. Tanpa edit langsung post. Apalagi kalau pas banyak tugas dan nulis sampai malam. Edit-edit itu nggak sempat. MAngkanya.. Anne sekarang suka typo. Mohon maaf, ya! JAdi kalau Anne ada salah mohon dibenarkan. Akan Anne koreksi secepatnya!
Thank you! :)
Langsung saja,ya!
Happy reading!
James dan Al tidur pulas di sofa panjang sambil memeluk tubuh Martin di sebelah kanan dan kiri. Sementara Harry di sisi Hermione, tertidur dengan tangan menggenggam erat pergelangan tangan kanan istrinya. Mereka tidur dalam posisi yang sama, yaitu duduk. Kecuali Hermione.
Proses kuret Hermione hanya memakan waktu 30 menit saja. Namun pembiusan yang diberikan oleh dokter membuat Hermione belum kunjung siuman, mengingat bahkan sebelum dibius pun Hermione sudah tak sadarkan diri sampai proses transfusi darah berlangsung. Hingga tengah malam, ia masih belum kunjung terbangun.
Tidur Harry tiba-tiba terusik ketika suara getar ponsel di meja membuatnya terbangun. "Oh, jam berapa ini?" bisik Harry pelan. Ia melihat istrinya belum terbangun. Harry mengelus rambut Hermione pelan lantas beralih pada ponselnya yang terus bergetar. "Astaga!"
"Halo, Harry?"
"I-iya, Mum."
Jean menelepon, suaranya panik. Satu persatu pertanyaan coba ia ajukan pada Harry. "Sudah selesai, Hermione sudah membaik. Tapi memang belum sadar." Jawab Harry begitu pelan. Ia takut kedua putranya dan Martin ikut terbangun.
Pukul 00.18, masih sangat larut untuk meminta Martin bangun dan memindahkan anak-anak ke atas ranjang. Masih terus menjawab, Harry coba mengambil selimut yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuk menutupi tubuh tubuh James, Martin dan Al. Mungkin karena terusik, Martin tiba-tiba terbangun dan melihat Harry sedang membenarkan selimut di tubuhnya.
"Sorry—" bisik Harry pelan. "Bukan kau, Mum. Ahh baiklah, iya.. akan aku jelaskan semuanya nanti jika kalian sudah sampai. Ya, sampai jumpa." Harry mengakhiri pembicaraannya dan kembali meminta maaf pada Martin karena sudah membangunkannya.
Martin menggeleng tanpa bersuara. Tangannya pelan-pelan memindahkan kepala Al yang bersandar di pundak kirinya ke sisi sofa. Martin berdiri pelan-pelan. "Kita pindahkan anak-anak ke ranjang di sana. Supaya anda bisa istirahat di sofa." Kata Harry.
Harry membuka kembali selimut yang menutupi tubuh James dan Al sebelum ie mengangkat tubuh mereka ke atas ranjang. Martin lebih dulu mengangkat tubuh Al dan meletakkannya di sisi pinggir ranjang yang bersentuhan langsung dengan tembok. Sedangkan Harry mendapat James yang ia gendong untuk segera dibaringkan di sisi Al. Martin kemudian membentangkan selimut tebal itu ke atas keduanya. Selesai, James dan Al lebih tampak nyaman dalam tidurnya.
"Damai sekali mereka kalau sudah tidur," bisik Martin.
Harry mengangguk. "Semua orang mendapatkan kedamaiannya ketika tidur. Oh, ya, kita belum makan sejak tadi karena ketiduran. Saya akan keluar untuk mencari makanan, dan—"
"Iya saya paham, saya akan tetap menjaga di sini, Mr. Potter." Jawab Martin singkat.
Martin memilih terjaga sambil menunggu Harry datang dengan makanan yang dijanjikannya. Ia sendiri merasa lapar sejak Al menjemputnya di gereja sore itu. Hingga tengah malam ini, belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke mulutnya. Hanya susu kotak, itupun diberi Harry setelah ia selesai melakukan pengambilan darah. Tidak lebih dan tidak kurang, hanya susu kotak itu saja.
"Lapar juga, aduhh—"
"Aaagghh.. Ha-harry, Harry—"
Tubuh Martin diserang rasa kaku ketika sebuah suara lirih seolah sedang memanggil-manggil pelan. Tapi bukan namanya. Martin berbalik dan melihat Hermione bergerak-gerak tak nyaman di tempat tidurnya. Salah satu tangannya menggapai-gapai sisi pegangan ranjang sedangkan tangan yang lain memegang perutnya. "Mrs. Potter?"
Martin membalas panggilan Hermione dengan panik, "apa yang sakit, Mrs. Potter?" tanyanya.
"Harry.. Har-harry—perutku sa-sakit," lirih Hermione.
"Sakit?" Martin mencari tombol yang tersambung di sisi ranjang Hermione. Seperti yang sempat dijelaskan oleh dokter jika terjadi masalah, ia bisa menekan tombol darurat itu untuk memanggil petugas medis.
Beberapa kali menekan tombol darurat, dua orang berseragam putih masuk ke ruangan Hermione begitu tergesah-gesah. Martin mendesah lega akhirnya datang juga mendapat pertolongan.
Martin memperhatikan dokter yang memeriksa Hermione begitu cekatan. Sesekali Hermione diminta untuk menarik napas, menahan sakit, dan mengembungkan beberapa kali perutnya. Martin ikut meringis ketika Hermione memekik kesakitan saat dokter pria yang memeriksannya sedikit menekan perut bawah Hermione. Rasa lapar yang sempat menyiksa Martin tiba-tiba hilang begitu saja.
"Mr. Potter sedang keluar sebentar, jadi bagaimana keadaan Mrs. Potter, dokter?" tanya Martin.
Hermione melirik singkat ke arah Martin agar ikut mendengar penjelasan dokter tentang dirinya. "Hanya kram, sir. Masih normal untuk kondisi paska kuret—"
"Kuret?" Hermione terkejut. "Memangnya ada apa?"
Dokter Jung lantas menjelaskan tentang kondisi Hermione sebelumnya. Tentang keguguran yang dialaminya. Dibantu Martin, Hermione hanya bisa diam sambil menangis lirih, menyadari jika dirinya kembali kehilangan anak, "ini kesalahanku," batinnya menyesali.
Dari kejauhan, Harry membawa dua kantung makanan yang ia siapkan untuk dirinya dan juga Martin melihat ada keanehan di depan ruang rawat istrinya. "Ada dokter? Astaga, Hermione!" Harry berlari lebih cepat agar ia sempat menghampiri dokter dan seorang asisten yang baru keluar dari sana.
"Mrs. Potter sudah sadar. Hanya kram perut saja. Saya sudah berikan obat pereda rasa sakit dan tambahan vitamin. Jika terjadi pendarahan, bisa langsung menghubungi kami lagi, Mr. Potter." Jelas dokter Jung.
"Terima kasih." Balas Harry lega. Setelah dipersilakan untuk masuk, Harry bergegas untuk mencari Hermione di dalam. Di sana, ada Martin yang baru saja selesai memberi Hermione minum. Martin mengangguk dan menerima makanan yang dibawa oleh Harry dan meletakkannya di atas meja. Ia sudah tak napsu makan.
Hermione merentangkan tangannya langsung memeluk tubuh Harry. Bibirnya dilumat singkat oleh Harry yang berbisik lembut. "Shhttt tenanglah, kau sudah baik-baik saja, sayang," kata Harry dengan suara sangat lembut.
"Harry maafkan aku—"
"Sudah-sudah.. kau tenang, Hermione. Yang penting sekarang kamu baik-baik saja." balas Harry masih memeluk.
Hermione akhirnya mengetahui jika ia keguguran. Ia terus meminta maaf karena telah menghilangkan darah dagingnya sendiri. "Seharusnya aku tahu, kalau aku hamil. Tapi.. tapi aku—"
"Kau terlalu stress, Hermione. Kau selalu memikirkan pekerjaan, anak-anak. Memikirkan James dan Al sampai melupakan dirimu sendiri. Kesehatanmu! Kondisi bayinya kita tidak kompatibel dengan tubuhmu." Kata Harry.
Tiba-tiba, Hermione mengingat kelakuan terakhirnya sebelum tak sadarkan diri. Ketika Harry menyebut Al, ia ingat jika beberapa jam yang lalu ia baru saja menampar anak lelakinya sendiri. "Bagaimana dengan Al? Aku menamparnya, Harry. Dia—"
Martin menunjuk dua sosok damai yang terbaring tenang di atas ranjang. James dan Al tertidur bersama tanpa terusik meski Hermione menangis dan suara ribut dari dokter ketika memeriksa. Hermione tersenyum. Martin memberinya tisu dan membantu Hermione duduk lebih nyaman.
"Mereka sangat beruntung memiliki ibu seperti anda, Mrs. Potter. Ketegasan memang dibutuhkan, karena anak-anak harus belajar menjaga sikapnya." Kata Martin. Selimut yang menutupi tubuh James tersingkap sedikit ketika James berganti posisi. Martin tergerak mendekat untuk membetulkannya.
Rambut James basah karena keringat. Martin selalu hapal apa saja hal-hal aneh ataupun kebiasaan James. Salah satunya adalah keringat yang selalu muncul di kepala James setiap tidur. Martin mengusap rambut James pelan.
"James itu selalu berkeringat kalau tidur. Tapi rambutnya saja. Rambutnya selalu basah setiap tidur, walaupun suhu ruangannya sedang dingin." Ucap Martin sambil terus memperhatikan wajah tidur James.
Harry dan Hermione saling bertatapan. Harry mengangguk sambil tersenyum pada Hermione. Menyampaikan jika semuanya telah terbuka. "James alergi kedelai. Apapun makanan yang mengandung kedelai, jangan sampai terkonsumsi James kalau tak mau dia gatal seharian." Kata Martin sambil tertawa. Harry dan Hermione pun ikut tersenyum.
"James suka sekali dengan keju, susu, dan.. mentega. Entah bagaimana lidahnya, jika dia diberi pilihan keripik kentang atau mentega, dia pasti pilih mentega. Dia rela tak makan jika ada mentega. Dan satu lagi—"
Martin tertegun ketika James terusik dalam tidurnya. Badannya bergerak-gerak seperti mengigau. Suaranya keluar lirih seperti isakan. Cepat-cepat, James memegang erat kedua pergelangan tangan James dan meremasnya pelan. Ajaibnya, cukup seperti itu saja, James kembali tenang.
"Baru saja mau dijelaskan," bisik Martin, "jangan dibangunkan. Cukup pegang tangan seperti tadi, dia akan kembali tidur. Saya tidak tahu kenapa James seperti suka terusik dalam tidurnya. Bergerak-gerak dan rambutnya yang berkeringat. Ya, tubuh manusia, kan, berbeda-beda. Mungkin itu keistimewaan James. Bukan begitu, Mr. Mrs. Potter?"
Hermione tersenyum terharu. Tangannya meremas pelan jemari Harry dan tersenyum lembut.
Martin kembali ke hadapan Harry dan Hermione. Matanya berbinas, bahagia akhirnya dapat bertemu dengan pasangan itu. "Saya akhirnya lega. James bertemu dengan orang tua kandungnya dan.. tahu jika mereka adalah orang tua yang baik."
Tangan Harry digenggam Martin begitu erat. Menyerahkan sebuah sapu tangan dengan bordir. "Ini sapu tangan yang dibuat Jasmine untuk James saat dia masih bayi. James suka sakit-sakitan. Seperti yang anda lihat, James sering keringat dingin. Jadi tolong ingatkan dia kalau selalu bawa tisu atau saputangan ini, Mr. Potter."
"Maksud anda—"
"Jaga James, sudah saatnya ia kembali pada orang tuanya." Martin tersenyum.
Martin memeluk James begitu lama di depan rumah. James menangis di pundak Martin sampai matanya memerah. Wajahnya menghangat. "Dad yakin?" tanya James.
Martin mengangguk. James melepasnya pelan namun belum bisa melepas kedua tangannya pada tubuh Martin. "Please! Daddy dan Mummy pasti membolehkan kau tinggal di sana juga!" James kembali memohon.
Kepala Martin menggeleng pelan. Ia melihat Hermione, Harry, dan Al di belakang James yang ikut memohon. Ekspresi mereka ikut memelas seperti halnya James. Beberapa tas dan koper James sudah siap di depan mobil. Ya, hari ini James mulai pindah ke rumah Harry. "Tidak, James." Jawabnya.
"Benar, Mr. Murray. Masih ada kamar kosong. Kami akan sangat senang jika anda bersedia tinggal bersama kami. Bersama James." Ujar Hermione.
"Terima kasih, Mrs. Potter. Tapi," Martin melirik singkat ke arah rumah tuanya. Kondisinya memang tidak sebaik rumah Harry, tapi ia sangat menyayangi rumah itu. "Rumah ini memiliki banyak sejarah dalam kamar. Saya dan Jasmine memiliki rumah ini dengan kerja keras. Membangun keluarga, membesarkan James." Katanya pelan.
"Tapi kau akan jauh denganku, Dad!" protes James.
Martin kembali memeluk James dan menciumi pipinya yang hangat. "Tidak, aku tidak akan jauh. Aku akan selalu mengingatmu. Di rumah ini, aku melihatmu tertawa, menangis, melihat langkah pertamamu, saat kau terjatuh, kau tidur.. Oh, James.. kau akan selalu ada di hati Dad." James mengusap air mata yang mengalir dari mata James. Mencium kedua mata sembab itu dan kembali melukis senyuman di wajahnya.
"Kita akan sering-sering mengunjungi Dad kalau kau mau, James." Bisik Harry kini ikut memeluk James dari belakang. "Oh, ya. Bagaimana dengan tawaran saya yang kemarin, Mr. Murray?" tanya Harry kemudian. Ia tersenyum lantas melempar pandangan pada Hermione.
"Benar, kami akan sangat senang jika perusahaan penerbitan buku kami ini bisa dikelola oleh orang yang tepat. Anda sudah lama bekerja di bagian distribusi koran dan majalah, bukan? Kami butuh orang seperti anda, Mr. Murray." Jelas Hermione tentang tawaran itu. Selain memiliki perusahaan percetakan buku, Harry dan Hermione membuka kembali satu perusahaan lain. Mereka membuka penerbitan buku di sekitar kawasan Paradise Road yang cukup ramai dengan kantor-kantor, kafe, dan pusat perbelanjaan.
Karena baru, Harry membutuhkan beberapa pegawai di sana. Salah satunya, ia dan Hermione sepakat untuk memberikan salah satu posisi di sana untuk Martin. "Bukankah letaknya tak jauh dari sini? Hanya sampai perempatan jalan saja. Kalau naik sepeda hanya lima belas menit. Bus juga bisa ke sana. Bagaimana, Mr. Murray?" tanya Harry kembali memohon.
"Tapi.. itu sungguh jauh dari apa yang saya dapatkan di tempat kerja sebelumnya. Saya tidak mau dibedakan dengan pegawai lain—"
"Karena memang itu standartnya, Mr. Murray. Untuk gaji anda itu sudah sangat normal. Jadi.. tidak ada yang dibedakan." Harry berjalan menghampiri Martin, meninggalkan James yang kini ditemani oleh Al dan Hermione.
Harry dan Martin saling pandang, mereka berjabat tangan begitu erat lantas berpelukan. "Terima kasih.. terima kasih! Saya tidak tahu harus memberikan apa untuk membalas semua jasa anda dan Mrs. Murray pada James—"
"Anda dan keluarga sudah sangat membantu saya, Mr. Potter. Saya hanya ingin anda bisa menjaga James dengan baik. Dan.." Martin berlari sebentar masuk ke rumah. Beberapa saat kemudian ia kembali keluar dengan satu map kertas yang ia sodorkan pada Harry.
Harry menerima map itu dengan kebingungan. "Apa ini?" tanyanya.
"Saya bersedia, Mr. Potter." Jawab Martin ketika Harry mulai membaca isi dalam map itu. Surat lamaran pekerjaan yang ditujukan untuk kantor penerbitan milik Harry.
Harry dan Hermione tersenyum senang. "Tentu! Bahkan tanpa ini maupun wawancara, saya sudah menerima anda bergabung di kantor kami. Terima kasih, Mr. Murray!"
"Aku selalu menyayangimu, Dad. Karena adalah ayahku juga." Kata James ditengah ia memeluk Martin sebelum berangkat.
Al yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka, mulai tampak tak nyaman. Ia menahan sesuatu untuk diucapkan. "Ada apa, Al?" tanya Hermione yang berada di sampingnya.
"Eh, Mr. Murray ayahnya juga. Berarti James punya dua Daddy. Apa.. boleh aku juga panggil Mr. Murray dengan Daddy?" wajah Al bersemu merah menahan malu. Martin, Harry, dan Hermione tertawa bersama. James langsung membisiki Al dengan senyum menggoda.
"Tentu saja, Al. Dad pasti akan suka. Asalkan jangan kau panggil Marta saja. Itu nama lelucon Dad yang paling aneh. Dad akan marah—"
"James!" seru Martin langsung menekuk wajahnya kesal, walaupun tercetak senyuman di bibirnya. Rahasianya dibongkar James.
"Marta!" panggil Harry ikut menggoda.
Hermione memukul pundak Harry menegur. "Sorry, Mr. Murray," kata Harry menyesal.
"Oh, tak apa Mr. Potter. Asal anda tak mengulanginya lagi. Itu hanya guyonan James dan Jasmine kalau mereka menggoda saya. Saya laki-laki, kenapa Marta." Gerutu Martin.
Al ikut mendekati Martin kemudian memeluknya. "Ah—"
"Boleh, Al. Kau punya dua ayah sekarang!" Martin kembali memeluk Al dan mencium dahinya hangat.
"Thanks, Dad!" kata Al berbunga. "Owww!" lanjutnya histeris menerima pelukan Martin.
Martin mengiringi kepergian mobil Harry sambil terus melambaikan tangannya. Anak yang telah ia rawat bertahun-tahun kini tak lagi bersamanya. Namun Martin tahu, James aman bersama keluarganya. Jauh lebih aman.
Rumah bergaya minimalis klasik berdiri megah di depan mata James. Ia menatap rumah itu lagi untuk kesekian kaliannya. Tapi matanya seolah melihatnya berbeda. Terasa berbeda.. sejak saat ini. "Masih sama. Sama spesialnya." Katanya pelan.
"Tentu. Hanya saja, di dalamnya akan berbeda. Bertambah satu orang yang sama-sama spesialnya." Bisik Hermione begitu lembut. Al mengandengnya segera masuk. Sementara Harry dan Hermione menurunkan barang-barang James dari mobil.
Al membuka pintu depan dengan satu tangannya. "Ada lagi yang mau bertemu denganmu, James. Mereka di dalam." Bisik Al.
Dua orang tua menyambut James dengan senyuman mengembang di kedua wajah mereka. "Oh, Tuhan. Cucuku!" William yang pertama berteriak ketika melihat kemunculan James. Jean di belakangnya ikut histeris.
"James, oh.. kemari, nak!" cepat-cepat Jean membawa James ke pelukannya tanpa memberikan kesempatan James untuk bertanya.
"Ka-kalian.. siapa?"
Al terbahak melihat James begitu kebingungan dengan kedatangan William dan Jean di rumahnya. Tanpa penjelasan sebelumnya, tubuh James langsung dipeluk dan diberi ciuman bertubi-tubi di wajahnya.
"Mereka Grandpa William dan Grandma Jean. Ayah dan Ibu Mum. Mereka punya anjing namanya Karma di rumah Australia. Kau harus melihatnya kalau kita berkunjung ke sana, James. Boleh, ya, Grandpa, Grandma?" pinta Al manja.
Harry menepuk pundak James pelan. "Harus, kita bisa ke Australia nanti kalau kalian sudah liburan. Sebelum kau berangkat ke Hogwarts nanti, James." Kata Harry.
"Oh, ya? Wow.. keren! Aku masih punya kakek dan nenek?" kata James sambil menangis terharu. William dan Jean mengangguk terharu.
Hermione memeluk James dan menatap wajah putranya lekat-lekat. Akhirnya, Hermione menatap dalam mata itu lagi. Mata yang sama seperti dirinya. "Welcome home, James!" Hermione bahagia.
~0~
#
Baiklah... epilog siap untuk hadir. Ditunggu saja. Sekali lagi Anne ucapkan terima kasih untuk kalian semua para readers yang baik hati. Terima kasih! Maaf kalau masih banyak typo dan kesalahan lain, ya! Bisa langsung bilang, tulis review kalian supaya Anne bisa langsung perbaiki. Selain tulis di review, kalian bisa juga tanya-tanya Anne di ask fm Anne. Anne sekarang punya, loh!
Nama akun ask fm Anne: sifahnur (hehehe.. promosi)
Bisa follow ya! Request di sana juga bisa, tanya-tanya juga boleh. Anne membuka kesempatan agar bisa dekat dengan para readers.. Anne tunggu review kalian!
Thanks,
Anne xoxo
