Aku tidak baik-baik saja.

Bagaimana seorang pria bisa tidak merasa sakit hati saat melihat gadis yang sangat ia cintai mencumbu pria lain. Berapa kalipun Chanyeol menguatkan dirinya, berusaha menenangkan badai dalam hatinya, semua masih terlalu kacau.

Amarah masih menguasainya sekarang.

Sejak tadi, semenjak kejadian paling mengerikan itu terjadi di depan mata kepalanya, Chanyeol sama sekali tak beranjak. Pria itu masih memandangi pintu gading yang tertutup rapat di depannya –dibalik pintu itu, gadis yang ia cintaimu mungkin sudah terlelap, tenggelam dalam dunianya sendiri yang menyenangkan.

Meninggalkan Chanyeol dengan segala keresahan yang seolah mencekiknya hingga kehabisan napas.

Semua terlalu menyakitkan.

Helaan napas Chanyeol terdengar begitu menyayat, begitu penuh keputusasaan. Sungguh, bagaimanapun ia berusaha mengeraskan hati dan menguatkan diri sendiri, ini semua masih terlalu menyakitkan.

Berat.

Tapi aneh mengatakan ini, Chanyeol tidak bisa seratus persen menyalahkan apa yang telah gadis itu perbuat dibelakangnya, membohonginya, menyakitinya. Chanyeol tak bisa melemparkan semua kesalahan pada Baekhyun.

Ia tau, Tuhan belum selesai menghukumnya.

Karmanya masih berlaku.

Dosanya dimasa lalu ternyata masih membayangi hingga sekarang. Mungkin Chanyeol sudah melakukan kesalahan besar pada Baekhyun dikehidupannya yang kelam dulu, karenanya, gadis itu terlalu lama menderita.

Tapi sungguh, memang sepertinya penyesalan dan rasa bersalah tak bisa menghapuskan semua dosanya. Tuhan masih menghukumnya dengan cara ini, dengan cara yang sungguh menyesakkan dada.

Titik lelah Chanyeol rasanya sudah hampir mencapai puncak. Bagaimanapun ia mencoba meyakinkan Baekhyun tentang perubahan dirinya, ia tak bisa menjamin gadis itu percaya padanya seratus persen. Keraguan masih tertanam kuat di dalam diri Baekhyun.

Dan kejadian beberapa jam yang lalu itu membuktikan semuanya.

Bahwa cinta Baekhyun padanya sudah berubah, tidak sama seperti dulu.

Sebuah tepukan ringan dipundaknya, membuat Chanyeol menoleh, melihat kearah Kris yang sedang berdiri di sampingnya. Tatapan mata tajam pria itu menyiratkan sesuatu yang tak Chanyeol pahami, seolah Kris sedang berbicara melalui raut wajah penuh penyesalannya.

"Kau baik?" tanya pria itu, sedangkan Chanyeol tak menjawab. Pikirannya masih terlalu kacau bahkan untuk merespon apa yang Kris ucapkan.

Perlahan, tanpa paksaan, pria itu mendorong tubuh Chanyeol menjauh dari pintu kamar Baekhyun yang tertutup. Langkah pria itu terlihat lemah, tapi menurut saat Kris membawanya masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Setidaknya, Kris tak ingin melihat Chanyeol melakukan hal bodoh malam ini.

Meskipun ia pernah sangat membenci pria itu, tapi melihatnya seperti ini, Kris juga menaruh rasa iba. Setidaknya itu membuktikan bahwa ia masih memiliki hati.

Dengan sabar, Kris membimbing tubuh Chanyeol yang seolah tanpa nyawa untuk duduk di atas sofa. Tatapan mata pria itu masih tampak melamun, memikirkan sesuatu yang bahkan tak dapat Kris pahami dengan kening berkerut dalam.

Kris belum pernah merasakan patah hati hebat, jadi ia tak tau seperti apa perasaan Chanyeol sekarang.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Chanyeol, terdengar mengambang. Pertanyaanya mengalir begitu saja, sedangkan tatapan mata pria itu masih kosong, menatap dinding kosong berwarna putih di hadapannya.

Helaan napas Kris terdengar agak berat, tanpa sadar tidak merespon apa yang Chanyeol tanyakan. Kris perlu berpikir juga dalam situasi seperti ini. Salah bicara mungkin hanya akan membuat pria itu semakin hancur dan itu akan memperburuk keadaan yang sudah nyaris hancur.

"Aku harus melepasnya Kris," lagi, suara Chanyeol seolah teredam udara yang mendadak saja menjadi muram.

"Tidak akan semudah itu," sahut Kris, benar-benar tak punya hal lain dalam otaknya. Sebenarnya ia tak ingin memperburuk keadaan dengan mengatakan hal yang jujur, tapi Kris sama sekali tak punya ide untuk sedikitnya menghibur dan menenangkan Chanyeol.

"Mendapatkannya kembali lebih sulit," satu desahan napas panjang keluar dari bibir Chanyeol, entah kenapa itu terdengar sarat kesedihan.

Kris benar-benar tak bisa memaksakan otak lelahnya untuk berpikir lebih jauh lagi sekarang, tapi perlahan, apa yang Chanyeol rasakan bisa ia rasakan juga. Setidaknya, ia mengerti. Bagaimana rasa sakit yang pria itu rasakan sekarang.

"Kau mencintainya Chanyeol, melepaskan Baekhyun sama sekali bukan pilihan tepat,"

Chanyeol menghambuskan napas berat satu kali, raut wajahnya tampak begitu muram. "Aku tak bisa memaksakan ini, Kris," kali ini pria itu menatap Kris. "Baekhyun benar-benar sudah mencintai orang lain,"

Kris sedikit mendesah ringan, menyandarkan tubuhnya pada bantala sofa dan matanya sedikit terpejam. Ini bukan masalahnya, tapi kenapa ia merasa terbebani juga.

"Dulu Baekhyun tak pernah menyerah padamu meskipun kau mencintai orang lain. Dan sekarang kau akan menyerah begitu saja?"

"Aku sudah terlalu banyak berdosa padanya, Baekhyun tak bisa mencintaiku seperti dulu," bisiknya, terdengar lemah. Chanyeol menyandarkan tubuhnya ke bantalan sofa dengan mata terpejam rapat, wajah tampannya terlihat sangat lelah.

"Kau akan kehilangan Baekhyun untuk selamanya jika menyerah sekarang, Chanyeol," kembali, Kris mengingatkan, sekedar ingin menyadarkan pria yang sudah tertutup kabut keputusasaan itu.

Kembali, hembusan napas keras keluar dari bibir pria itu, terdengar menyedihkan, terdengar penuh penyesalan.

"Kurasa aku akan bahagia jika melihatnya bahagia,"

Kris terkekeh ringan, terkesan mengejek dan itu sedikit terdengar aneh ditelinga Chanyeol. "Itu jawaban seorang pengecut," ucapnya dengan satu penekanan penuh.

Entahlah, Kris hanya kesal saat kalimat itu keluar dari bibir seseorang.

Munafik sekali.

Chanyeol tidak menjawab, ia berusaha memikirkan semuanya dari awal. Berusaha berdamai dengan hatinya yang kembali berdenyut nyeri ketika gambaran-gambaran mengerikan beberapa jam yang lalu saat melihat Baekhyun mencumbu pria lain lagi-lagi memenuhi pikirannya.

Ini terlalu menyakitkan untuknya.

Sempat terlintas dalam pikiran Chanyeol tentang Tuhan yang sedang mengujinya, mungkin Tuhan membuatnya merasakan penderitaan Baekhyun selama ini. Dan mungkin selama satu tahun terakhir, perasaan menyakitkan inilah yang selalu Baekhyun rasakan setiap waktu.

Chanyeol pikir memang gadis itu terlalu kuat atau hanya dirinya yang terlalu lemah.

"Kau yakin?" suara Kris menginterupsinya dari pikiran-pikiran itu.

Chanyeol tidak menjawab, kerutan dalam masih terpatri jelas di keningnya. Sedangkan bibirnya menghembuskan napas berat berkali-kali dan kedua mata masih terpejam erat. Sungguh, Chanyeol terlihat menyedihkan sekarang ini.

Sosok pria brengsek yang selama ini melekat pada dirinya sudah menguap entah kemana.

"Kau sudah melamarnya, ingat?" ucap Kris lagi, berusaha menyadarkan Chanyeol agar tidak terlalu larut terjebak dalam dunianya sendiri.

Chanyeol mendengus, menarik tubuhnya untuk duduk lebih tegak dan membuka mata. "Apa kau bisa membatalkannya?"

"Meskipun aku bisa, aku tak ingin melakukannya," sahutnya, cepat tanpa pikir panjang.

Chanyeol tersenyum masam. "Biarkan saja. Setidaknya Baekhyun perlu tau aku tak pernah main-main sejak awal,"

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Kris, terlalu penasaran untuk diam.

Chanyeol menggeleng lemah, mengangkat bahu sedikit. "Mencoba melepasnya perlahan,"

"Jangan lakukan hal bodoh," balasnya cepat.

Chanyeol tersenyum lagi, bukan sebuah senyuman tulus. "Ada pekerjaan yang harus kulakukan dan kurasa itu akan sedikit membuatku sibuk. Jangan khawatir, kau tak akan menemukan namaku ditayangan berita karena kasus bunuh diri," kekehnya ringan.

Dan Kris hanya tertawa canggung.

Melihat raut wajah Chanyeol yang penuh kesedihan nyatanya masih membuatnya berpikir pria itu akan melakukan hal bodoh, dan mungkin saja memang tak ada hal yang lebih buruk daripada menyerah pada hidup.

Bunuh diri karena patah hati terdengar konyol, tapi itu mungkin saja terjadi.

.

.

Pagi menjemput, ini hari terakhir Baekhyun berada di negeri asing. Rencana awalnya tinggal selama tiga hari di Shanghai nyatanya tidak terwujud. Tanpa alasan yang jelas, kantornya mengirimkan tiket kepulangan siang ini –secara tidak langsung, Baekhyun hanya berada di negara asing itu kurang dari dua hari.

Tau begini Baekhyun tak perlu banyak-banyak membawa barang dari rumah.

Menyusahkan sekali.

Setelah kejadian semalam, Baekhyun sama sekali tidak bisa tenang. Tidurnya tak nyenyak, bahkan nyaris terjaga sepanjang malam. Tentu saja itu karena pernyataan cinta mendadak Oh Sehun, juga pria itu yang menciumnya dengan tidak sopan.

Jujur saja, seharusnya Baekhyun marah diperlakukan seperti itu. Dicium tanpa ijin, dengan tidak sopan. Seharusnya itu masuk kategori pelecehan, tapi Baekhyun sama sekali tidak bisa kesal dengan hal itu.

Ia menikmatinya, tidak munafik.

Tapi ada sesuatu yang lain, jauh di dalam hatinya yang menjerit, menolak perlakuan Sehun padanya –menolak pria itu. Baekhyun tak tau itu perasaan apa, tapi berciuman dengan Sehun seolah menumbuhkan rasa bersalah tidak jelas di dalam hatinya.

Sebagian hatinya terus menjerit, mengatakan bahwa itu tindakan salah.

Baekhyun tak seharusnya mencium pria lain, terlebih belum ada status jelas diantara keduanya, parahnya, Baekhyun sudah menjalin hubungan serius dengan pria lain –Park Chanyeol– yah, meskipun hatinya sempat goyah terhadap Chanyeol, tetap saja cintanya untuk pria itu tidak pernah bisa hilang.

Baekhyun masih mencintai Chanyeol dan perasaannya pada Sehun hanya karena pria itu datang disaat yang tepat.

Siang ini, Baekhyun banyak diam. Gadis itu terdiam memandangi jalanan kota Shanghai yang nyaris padat di siang hari. Mobil yang Sehun kendarai meluncur dengan kecepatan rendah membelah barisan mobil yang sama-sama terjebak macet menuju bandara.

Semalam Baekhyun sudah menolak tawaran Sehun untuk mengantarkannya ke bandara, ia yakin pasti akan ada kecanggungan aneh dengan pria itu, tapi Sehun tetap bersikeras. Dan Baekhyun tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan pria itu.

Toh, Sehun bermaksud baik.

"Kau banyak diam, Baekhyun," suara Sehun yang terdengar lembut membuatnya mengerjap, tersadar dari lamunan bodoh tentang hidupnya yang semakin rumit.

Baekhyun tertawa ringan, terdengar canggung.

"Hanya lelah," jawabnya, sedikit menoleh kearah Sehun yang sedang fokus pada jalanan di depan.

Siang ini, sama seperti kapanpun Baekhyun melihatnya, Sehun tampak sempurna. Rambut abu-abu gelapnya sedikit tertutup topi, kacamata hitam menggantung dihidungnya yang membentuk sudut sempurna. Bibir pria itu menggumamkan lagu yang ia ikuti dari pengeras suara mobil.

Dan Baekhyun memang terlalu bodoh karena selalu menghabiskan waktunya sendiri untuk mengagumi ciptaan Tuhan dalam wujud Oh Sehun yang sempurna.

"Kenapa kau memutuskan untuk pulang?" tanya Sehun lagi.

Kembali, Baekhyun mengerjap. Tanpa sadar berdeham bodoh, berusaha menghilangkan lamunan tidak pentingnya tentang tubuh Sehun yang nyaris membuatnya menggila. Bagaimana pria ini bisa terlihat tampan dengan pakaian sesederhana ini.

Kaus polos dan celana jeans nyatanya bisa membuat Sehun tampak begitu tampan –seksi.

"Baekhyun?"

Sial.

"Ah itu," ia tergagap, mengalihkan pandangannya dari Sehun kemudian berdeham canggung. "Kantor menyuruhku pulang. Sepertinya ada rapat redaksi darurat,"

"Ah, begitu," sahut Sehun, tersenyum sedikit sambil menoleh kearah Baekhyun sekilas.

Demi Tuhan, kenapa kau tampak begitu sempurna, Oh Sehun?

"Kau tidak pulang?" tanya Baekhyun, akhirnya. Sebenarnya ia tak ingin mengetahui apa-apa dari Sehun, hanya saja, ia benci kecanggungan dalam diam yang seolah membungkus dirinya dan pria itu.

Sehun menggelengkan kepala ringan, bibirnya masih membentuk senyuman. "Ada sesuatu yang harus kuselesaikan disini. Kenapa?" balasnya.

Baekhyun mengangkat bahu acuh. "Hanya bertanya,"

Tawa renyah Sehun terdengar mengalun lembut. "Kau sudah memikirkan permintaanku semalam, Baekhyun?"

Tanpa bisa ia hindari, Baekhyun terkesiap, tampak terkejut bagaimanapun ia berusaha menyembunyikannya, berani bertaruh Sehun pasti tau perubahan sikapnya itu.

"Aku akan menunggumu sampai kau siap menjawabnya. Tak perlu terlalu dipikirkan, Baekhyun," sahut pria itu, menyelipkan satu tawa ringan diujung kalimatnya.

Dan Baekhyun tersenyum, tampak sangat dipaksakan.

Ia ingin segera melarikan diri dari Sehun karena suasana diantara mereka berdua memang benar-benar canggung sekarang. Beruntungnya, roda mobil Sehun sudah menginjak area parkir bandara internasional yang sedikit padat.

Tanpa banyak bicara, pria itu memarkirkan mobil, berjalan keluar untuk membuka bagasi dan mengeluarkan barang-barang Baekhyun dengan gerakan cepat. Sedangkan Baekhyun masih mematung, berdiri di samping Sehun.

"Aku akan mengantarkanmu masuk," ucap pria itu, mulai berjalan sambil menyeret koper biru milik Baekhyun.

Tanpa bisa protes, Baekhyun melangkahkan kakinya juga mengikuti Sehun yang sedikit berjalan mendahuluinya. Sehun menoleh kearahnya dan tersenyum manis, tangannya terulur untuk sedikit mengusap rambut Baekhyun dengan lembut.

"Bagaimana kau bisa terlihat begitu menggemaskan di siang hari?"

Dan Baekhyun merengut, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Sehun barusan. Ia tidak menjawab, tapi mungkin rona merah dipipinya sudah menjelaskan bagaimana detak jantungnya yang mulai tidak beraturan saat mendengar ucapan itu lolos dari bibir Sehun.

"Aku akan mengantarmu sampai sini saja," ucap Sehun, menghentikan langkahnya tepat di depan pintu keberangkatan.

"Seharusnya kau tak perlu mengantarku sama sekali," balasnya dengan bibir mengerucut lucu.

Sehun terkekeh ringan, memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Baekhyun. Pria itu sedikit menundukkan kepala, mensejajarkan mata mereka. Ia menatap Baekhyun dengan senyum menyenangkan sementara gadis itu berusaha menghindar dari tatapan matanya.

"Hati-hati, Baekhyun," bisiknya, sedikit menarik dagu Baekhyun keatas agar mata gadis itu menatap matanya.

Dengan senyum manis masih mengembang, Sehun mencondongkan wajahnya ke depan, bibir hangatnya menempel di dahi Baekhyun –dan itu cukup membuatnya terkejut. Lagi-lagi, Sehun menciumnya tanpa ijin.

Sedangkan Baekhyun tidak menolak, kesal saja tidak. Ia bisa merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat, dan lagi-lagi, perasaan bersalah aneh kembali menguasai sudut hatinya.

Sehun terkekeh ringan, melepaskan bibirnya dari dahi Baekhyun, kemudian kembali menatap mata gadis itu lekat-lekat. "Bisa kabari aku saat sampai?" tanyanya.

"Tentu," sahut Baekhyun, memaksakan diri untuk tersenyum.

Sehun mengangguk beberapa kali, menarik tubuh mungil gadis itu dalam pelukan hangatnya –mungkin memberikan pelukan perpisahan. Dan Baekhyun balas memeluk, hanya sekedar menghargai apa yang pria itu lakukan. Bagaimanapun, Sehun sudah terlalu baik padanya dengan semua perhatian yang ia berikan.

Tanpa sadar, mata Baekhyun menangkap sosok yang tak asing baginya dari balik pelukan Sehun. Jauh disana, dipintu keberangkatan yang lain, rasanya Baekhyun melihat gambaran pria itu. Kalau ia tak salah lihat, Chanyeol berdiri disana, memandanginya sebentar kemudian sosok itu menghilang di tengah kerumunan.

Apa rasa bersalahku pada pria itu sudah memunculkan halusinasi?

"Chanyeol," bisiknya tanpa sadar.

Mendengar Baekhyun sedikit berteriak, Sehun melepaskan pelukannya. Matanya bingung saat memandang gadis itu yang seolah mencari sesuatu di belakang tubuhnya –mau tak mau membuat Sehun mengikuti arah pandangan gadis itu, tapi ia tak menemukan apapun kecuali kerumunan orang yang ramai.

"Ada apa?" tanya Sehun, masih melihat Baekhyun yang seolah menelusuri orang-orang itu dengan tatapan mata.

Baekhyun menggeleng ringan, tanpa menyerah untuk mencari. "Kurasa aku melihat temanku, tapi sepertinya salah orang," senyumnya terlihat kaku.

Meskipun bingung, tapi Sehun tak banyak bicara lagi. Ia hanya menganguk beberapa kali, mengucapkan kata selamat tinggal dan membiarkan Baekhyun masuk ke dalam pintu bandara hingga punggung gadis itu hilang ditelan kerumunan orang.

Sedangkan disisi lain, Baekhyun masih berusaha mencari. Ia berjalan menelusuri kerumunan orang yang padat, berusaha berjalan menuju tempat dimana ia terakhir kali melihat bayangan sosok Chanyeol yang sudah menghilang entah kemana sekarang.

Ia terlalu sadar untuk merasa sedang berhalusinasi dan melihat pria itu, tapi jika di logika ini tidak masuk akal. Bagaimana Chanyeol bisa berada di Shanghai sekarang, dan jika memang itu benar Chanyeol, seharusnya ia sudah berlari menghampiri Baekhyun.

Bukan malah pergi entah kemana.

Dan tanpa sadar Baekhyun menghentikan langkah, ia memutar tubuh dengan cepat kembali menuju pintu masuk keberangkatannya.

Ya itu benar, pasti aku sudah sangat merasa bersalah pada Chanyeol sehingga mulai berhalusinasi.

Kegilaan ini harus segera diakhiri.

.

.

Halusinasinya tentang Chanyeol tak berhenti sampai situ saja, sampai masuk ke dalam pesawat pun, Baekhyun seolah melihat bayangan tubuh pria yang pernah menjadi seratus persen hidupnya itu. Bahkan ia harus rela diusir karena hendak masuk ke kabin kelas pertama hanya untuk melihat sosok pria yang sekilas mirip dengan Chanyeol itu.

Sungguh, Baekhyun benar-benar tidak sedang berhalusinasi.

Tapi tidak masuk akal melihat Chanyeol dalam satu pesawat yang sama dengannya.

Tapi sejak tadi, sejak beberapa saat yang lalu, ia sudah menginjakkan kaki di ibukota Korea, naik taksi menuju apartemennya, Chanyeol sama sekali tidak menjawab panggilan, atau bahkan sekedar membaca pesan singkat yang ia kirimnya beberapa kali.

Ada apa dengan pria itu?

Tak habis disitu, Baekhyun juga mendapati apartemen Chanyeol yang kosong, tidak berpenghuni. Melihat tidak ada sisa sarapan di meja dan tempat cuci piring, menandakan memang pria itu tidak pulang sejak semalam.

Kemana Chanyeol pergi semalam?

Mencoba peruntungannya lagi, Baekhyun menekan nomor pria itu pada layar ponselnya. Tidak berbeda dari sebelumnya, Chanyeol juga tak menerima panggilan itu. Dengan satu desahan napas berat, Baekhyun berusaha memasukkan makanan ke dalam mulut. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri atau tidak, gadis itu memutuskan untuk memesan melalui jasa pesan antar.

Bagaimanapun, ia harus makan.

Masih dengan sebelah tangan mengetikkan pesan singkat untuk Chanyeol melalui ponsel, sebelah tangannya sibuk memasukkan potongan ayam ke dalam mulut. Baekhyun tidak lapar, ia hanya tak ingin sakit mengingat deadline penerbitan majalah bulanan tinggal satu minggu lagi.

Padahal Baekhyun harus bekerja lebih cepat, tapi kenapa seolah semua memperlambat pekerjaannya.

Salah satu contohnya dengan Chanyeol yang mendadak menghilang entah kemana, Sehun yang mengungkapkan perasaannya, dan yang paling aneh, perubahan sikap Kris sejak semalam membuatnya mengerukan kening bingung.

Baekhyun tak tau apa yang terjadi, tapi sejak semalam Kris seolah menghindarinya, malas berbicara dengannya dan Chanyeol menghilang entah kemana.

Ada apa dengan orang-orang ini?

Belum lagi Baekhyun menyelesaikan makan siangnya, ponselnya yang meraung-raung dengan tidak sopan membuatnya nyaris tersedak. Lebih lagi nama yang tertera di layar ponselnya, sebuah nama yang paling ia benci.

Editor majalan –secara tidak langsung atasannya.

"Ya, Kyungsoo," ucap gadis itu dengan nada penuh semangat, sedikit mengernyit karena mual mendengar suaranya sendiri yang terkesan dibuat-buat.

Suara gadis diseberang sana tertawa, tapi itu bukan tawa yang menyenangkan. "Kita bertemu tiga puluh menit lagi, ada gambar yang belum selesai kau edit,"

Dan satu desahan malas keluar dari bibir Baekhyun tanpa ia sadari. "Aku akan disana, apa Kris sudah kembali?"

"Kalau Kris sudah kembali, aku tak akan memintamu datang secepat itu," rengek Kyungsoo, terdengar agak kesal.

Dalam hati Baekhyun sudah siap melontarkan banyak umpatan untuk Kris –pria brengsek yang lepas tanggung jawab.

"Ya, aku mengerti," balasnya acuh, mematikan sambungan telepon dan beranjak untuk mencuci tangan.

Makan siangnya sebenarnya belum selesai, begitu pula masalahnya mengenai Chanyeol yang menghilang entah kemana, tapi semuanya harus Baekhyun tinggalkan.

Pekerjaan sudah menunggunya.

.

.

Ini hari baru, setelah semalaman penuh berkutat dengan komputer berisi ribuan gambar yang harus difilter, Baekhyun nyaris baru bisa memejamkan mata saat menjelang pagi. Sekarang, hanya beberapa jam setelah ia terlelap karena kelelahan, Baekhyun sudah harus bangun.

Ada hal lain yang perlu ia kerjakan hari ini.

Sambil masih menggeliat malas di dalam apartemen Kyungsoo –semalam ia tak sempat pulang dan memutuskan menginat ditempat atasannya yang dekat dari kantor itu– Baekhyun tidur di sofa, sedikit memeriksa apartemen Kyungsoo yang sudah kosong siang ini.

Yah, ia ingat tadi pagi Kyungsoo ijin pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan.

Baekhyun mendesah malas, membuka ponselnya sambil berharap ada pesan masuk, setidaknya dari Chanyeol atau Kris. Tapi ia tak menemukan apapun di dalam ponselnya kecuali pesan singkat yang tidak begitu penting dari Sehun.

Lagi-lagi, kekecewaan sudah menguasai Baekhyun sejak ia membuka mata.

Tak mau terlalu larut dalam kesedihan karena ternyata Chanyeol benar-benar tidak menghubunginya sama sekali, Baekhyun memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap-siap, bukan untuk menyusul Kyungsoo ke kantor, tapi ia pergi untuk urusan lain.

Lagipula pekerjaannya sudah selesai sejak tengah malam tadi.

Sambil berbekal sebuah alamat dalam ponselnya, Baekhyun berniat mendatangi kantor Chanyeol. Ini kali pertama ia pergi menemui pria itu di tempat kerjanya. Sebenarnya ia tak ingin, tapi Baekhyun tak punya pilihan lain.

Ia harus menemukan Chanyeol sebelum hatinya semakin kacau.

Bagaimanapun, sejak kemarin, saat jejak Chanyeol seolah hilang ditelan bumi, Baekhyun sama sekali tak bisa tenang. Pikiran gilanya mulai memainkan peran-peran aneh yang mungkin terjadi pada pria itu. Termasuk ada pikiran kemungkinan pria itu menjadi korban penculikan.

Oke, itu terlalu jauh. Tapi kekhawatiran Baekhyun bukan tanpa alasan.

Chanyeol sudah menghilang dari hidupnya sejak dua puluh empat jam yang lalu, dan itu cukup membuat Baekhyun tidak tenang.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Dengan pikiran yang tidak sepenuhnya menyatu dengan tubuh, Baekhyun berhasil juga sampai di gedung menjulang tinggi yang menjadi tempat kerja Chanyeol. Gadis itu masuk dengan canggung, bingung karena ini kali pertama.

Demi Tuhan, Baekhyun tak tau jabatan Chanyeol disini.

Seorang gadis berparas cantik di meja resepsionis menerimanya dengan senyum lebar, menyambutnya dengan ramah. Dan canggung, masih melihat kanan kiri memandangi gedung kelewat besar ini, Baekhyun tak bisa menutumi kekagumannya.

Pantas saja Chanyeol seolah tak pernah kehabisan uang.

Sadar, ia menepis pikiran bodohnya.

"Ada yang bisa kubantu, Nona?" sapa gadis itu.

Baekhyun tersenyum, kepalanya mengangguk ringan. "Bisa aku bertemu dengan Park Chanyeol?"

"Park Chanyeol?" gadis cantik itu mengulang ucapan Baekhyun dengan raut wajah sedikit terkejut.

Dan itu juga membuat Baekhyun bingung. "Ya, Park Chanyeol," ia mengulangi ucapannya lebih jelas lagi. "Aku ingin bertemu dengannya," seulas senyum paksa tercetak dibibirnya.

Gadis itu sedikit mengernyit, tapi bibirnya masih tersenyum. "Sudah membuat janji, Nona?"

Janji?

"Apa aku harus membuat janji untuk bertemu dengan Chanyeol?" debatnya, sedikit kesal sekarang.

Gadis itu kehilangan senyum diwajah, tanpa sadar kerutan tercetak di keningnya. "Maaf, Nona. Anda harus membuat janji jika ingin bertemu dengan Tuan Park,"

Siapa Chanyeol disini?

Baekhyun mendesah ringan, masih memaksakan seulas senyum, ia merogoh sesuatu dari balik tas kecilnya dan mengeluarkan kartu namanya dari sana, kemudian memberikan kertas kecil itu pada si gadis manis yang sudah kehilangan senyum.

"Nona Byun Baekhyun? Reporter?" tanyanya dengan pandangan menyelidik yang jelas.

Lagi, hembusan napas keluar dari bibir Baekhyun.

Apakah harus serumit ini jika ingin bertemu dengan Chanyeol?

"Bukan," sahut Baekhyun. "Aku fotografer majalah," ia membalikkan kartu namanya, menunjukkan tempatnya bekerja.

Gadis itu masih membolak-balikkan kartu nama ditangannya, mungkin berusaha menyelidiki Baekhyun lebih jauh lagi. "Apa Nona Byun ada hubungannya dengan proyek kerja bersama Tuan Wu?"

Tuan Wu?

Kris Wu?

"Aku tak mengerti,"

Gadis itu tersenyum. "Beberapa hari yang lalu Tuan Park ada proyek kerja dengan majalah ini," ia menunjuk nama kantor dimana Baekhyun bekerja, kemudian ia memeriksa catatan kecil di bawah mejanya. "Bersama Tuan Wu, Kris Wu," tambahnya.

Proyek apa yang Chanyeol dan Kris lakukan?

"Ya, itu benar," sahut Baekhyun, tidak mengerti tapi ia menyerah dan memilih mengaku tau tentang proyek misterius itu. Tujuannya kesini hanya ingin bertemu Chanyeol dan meminta penjelasan.

Gadis itu tersenyum lagi, mengembalikan kartu nama Baekhyun. "Nona bisa kembali lagi besok karena hari ini jadwal Tuan Park sudah penuh," ucapnya sopan.

Penuh, kau bilang?

Demi Tuhan, siapa Chanyeol sebenarnya?

"Tak bisakah kau menghubungi Chanyeol dan mengatakan aku sudah berada disini sekarang?" oke, sekarang kesabarannya sudah menipis.

Gadis cantik itu masih tersenyum, dan sekarang Baekhyun mulai membenci senyuman cantik itu.

"Maaf, kami tak bisa mengusahakan waktu untuk bertemu dengan Tuan Park hari ini. Mungkin kami bisa menjadwalkannya besok," tambahnya.

Dan Baekhyun mendengus kasar, memutuskan untuk menyerah bertemu dengan Chanyeol. Mungkin memang benar pria itu orang penting di dalam perusahaan ini dan itu membuatnya tak bisa menemui Baekhyun sesuka hati.

Permainan apalagi yang coba Chanyeol menangkan sekarang?

.

.

Menelan kekecewaannya karena gagal bertemu Chanyeol, Baekhyun memutuskan untuk pergi ke kantor, alasannya tak lain untuk bertemu Kris. Ia harus setidaknya mendapatkan jawaban atas semua kegilaan ini.

Baekhyun tak bisa menahannya lagi.

Dengan tidak sopan, Baekhyun membuka studio kerja Kris dengan kaki. Ia terlalu malas untuk bertingkah sopan sekarang ini. Tepat seperti dugaannya, studio itu kosong karena jam makan siang baru saja dimulai beberapa menit yang lalu.

Baekhyun sedikit melangkah maju ke dalam ruangan yang sering Kris tempati untuk memilih gambar yang sudah ia ambil sebelumnya, dan ia mendesah lega karena menemukan sosok pria itu duduk di atas meja dengan tangan menekan-nekan layar ponsel.

"Kris, apa yang sebenarnya kau dan Chanyeol rencanakan?" tanya langsung tanpa mengucap salam terlebih dulu. Ia terlalu tidak sabar untuk mendapat jawaban.

"Ya, aku juga senang bertemu denganmu," balasnya acuh, masih melakukan pekerjaannya pada layar ponsel tanpa memandang Baekhyun yang sudah merengut kesal.

Dengusan gadis itu terdengar kasar. "Berhenti bermain-main, Kris. Aku serius," ia sedikit mengentakkan kaki, kesabarannya menguap entah kemana.

"Kau yang harusnya berhenti bermain-main, Baekhyun," balas Kris, melemparkan ponselnya dengan kasar ke atas meja. Pria itu menegakkan tubuhnya untuk memandang Baekhyun dengan tatapan mata tidak menyenangkan –kali pertama Baekhyun melihat sorot mata mengerikan dari Kris.

Apa yang terjadi?

"Aku tidak mengerti,"

Kris berdiri, melangkahkan kakinya hingga berhadapan dengan gadis yang jauh lebih pendek darinya itu. "Sebenarnya kau mengerti, hanya saja kau tidak peduli, Byun," ucapnya, masih dengan nada bicara yang tidak bersahabat dan tatapan mata asing yang tajam.

"Kumohon, tak bisakah kau menjelaskan semuanya?" rengeknya, benar-benar sudah merasa kesal sekarang.

Cukup sudah Chanyeol mempermainkanku sejak dua hari yang lalu, jangan lagi Kris menambahnya.

"Apa yang ingin kau tau, Baekhyun?"

"Chanyeol," balasnya cepat.

Dan Kris lagi-lagi tertawa aneh. "Kau masih mengingat Chanyeol?"

"Kris, kumohon, katakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Jangan bermain-main lagi, aku benar-benar kehabisan petunjuk," ia meninggikan suaranya, benar-benar tidak bisa menahan diri lagi.

Tawa Kris terdengar mengejek. "Aku benci mengatakan ini karena mungkin Chanyeol akan menganggapku tukang gossip tidak penting, tapi aku tak bisa menahannya lagi,"

Apa maksudmu?

"Kau pikir Chanyeol tak mengerti apa yang sudah kau lakukan bersama Sehun?"

Tunggu dulu.

Apa maksudnya?

Bersama Sehun?

Dan saat potongan puzzle dalam kepalanya mulai membentuk gambaran jelas, Baekhyun kehilangan fokus pandangan. Seperti orang bodoh yang melamun, ia mulai memainkan adegan demi adegan yang sudah ia lakukan dengan Sehun.

Perasaan bersalah lagi-lagi memenuhi hatinya.

"Apa yang sudah kulakukan dengan Sehun?" tanyanya, seolah berbicara dengan diri sendiri.

"Apa yang sudah kau lakukan dengan Sehun?" ulang Kris, kemudian mendenguskan ejekan ringan. "Chanyeol melihat semuanya,"

Apa kau bilang?

Mata gadis itu membulat sempurna, ia memandangi Kris dengan tatapan menyelidik yang jelas. Jantungnya mulai berdegup dengan cepat, mengulang semua kejadia-kejadian yang terjadi padanya belakangan ini.

Baekhyun mulai merasa gugup.

"Chanyeol menyusulmu ke Shanghai dimalam kau berciuman dengan Oh Sehun. Dia melihatnya dengan jelas, semuanya,"

Tidak mungkin.

Serasa kehilangan kekuatan pada kakinya, tubuh Baekhyun melemas. Lututnya nyaris membentur lantai jika Kris tak menahan tubuhnya dan sedikit mengangkatnya ke atas meja. Membiarkan Baekhyun tenggelam dalam pikirannya sendiri dengan tatapan mata yang tidak lagi fokus.

Baekhyun mulai memikirkan semua.

Memikirkan kesalahannya.

Otak tumpulnya mulai memikirkan hal itu, halusinasinya kemarin saat bertemu Chanyeol di bandara adalah kenyataan. Itu bukan hanya ada dalam pikirannya, tapi memang sungguh terjadi.

Chanyeol berada disana, mengawasinya dari jauh, dalam diam.

Tapi kenapa ia menghindar?

"Tidak mungkin," suaranya habis, terdengar seperti bicara sendiri, sementara matanya masih melamun. Baekhyun kehilangan dunianya.

"Kau mungkin lupa Chanyeol itu sudah pernah gila dan mencoba menghilangkan sifatnya itu. Tapi sekarang kau seolah menyulutnya kembali, Baekhyun. Kau pikir dia baik-baik saja?"

Tidak.

"Dia berusaha menghilangkan kegilaannya terhadapmu, tapi kau seolah membuat sifat buruk itu kembali menguasainya. Dia sedang tidak baik-baik saja, Baekhyun. Pria itu hancur," tambahnya.

Kris sedikit menundukkan kepala untuk melihat raut wajah Baekhyun yang seolah sedang kehilangan pikiran sehat. Gadis itu masih menatap lantai marmer dengan tatapan mata kosong.

"Dan itu sebabnya dia menghindariku?" hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya, padahal otaknya benar-benar dipenuhi pikiran-pikiran penuh spekulasi.

Kris mengangguk ringan. "Dia berusaha menenangkan diri,"

"Sampai kapan, Kris?" ucapnya, kali ini memandangi pria yang sedang duduk dihadapannya itu.

"Sampai Chanyeol siap melepasmu,"

Apa kau bilang?

.

.

TBC

.

.

Ini memang sengaja fast update soalnya mau cepet di-ending-kan (karena Authornya udah bikin FF baru sejenis ini tapi HUNHAN nanti takut rancu ceritanya, sedangkan yang FF HUNHAN itu chapter 2-nya masih mencari motivasi untuk menulis, mohon bersabar ini ujian)

Ada readers yang nanya chapter sebelumya kok terkesan bertele-tele alurnya, sebenarnya itu memang sengaja dibuat seperti ini sih /hehe/ Author sih mikirnya perasaan manusia itu kan seiring berjalannya waktu berubah-ubah, jadi hal itu yang ingin diungkapkan dalam FF ini.

Manusia itu tanpa kita sadari kadang labil #quotevibes

Hehe

Ada juga readers yang mungkin tidak suka dengan karakter yang dibuat dalam FF ini jadi Authornya minta maaf ya hahahaha. Ini sengaja dibuat semacam nobody's perfect gitu.

Semoga chapter ini tidak mengecewakan dan semoga juga masih ada yang mau nungguin kisah ChanBaek dalam FF ini /apaan sih/ hahaha

Ada komentar? Kritik? Saran? Silahkan sampaikan di kolom review ya~

Chapter depan enaknya gimana ya? hehehehe /ketawa jahat bareng Sehun/

Sekedar mengingatkan saja, ini BUKAN DEBUT FF ANGST lolipopsehun.

Dan satu lagi, jadwal update lolipopsehun tidak lagi setiap hari sabtu, tapi sebisanya hehehehe.

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa review ya semuanya.

With love,

lolipopsehun

Today update with princepink, oh yuri, pupuputri, redapple, cactus93 ft. Summerlight92, purflowerian, parkayoung, brida wu, blood type-B, hyurien92. Please kindly check their stories too~

HAPPY BIRTHDAY KA DEE STACIA AND KA GUSTIN. WISH YOU ALL THE BEST. GOD BLESS YOU.