"Kau,,," geram Itachi.
"Jika kau sudah tidak ada urusan kau boleh pergi." Kyuubi kemudian duduk kembali di tempatnya. "Apa yang kalian lakukan? Duduklah kita makan lagi." ujar Kyuubi pada ShuHiUtaKim.
.
Byur.
.
"Kuharap ini terakhir kalinya aku melihatmu dengan rambut pirang." dengan sengaja Itachi menyiramkan jus apel di atas rambut Kyuubi.
.
.
.
.
_MAKE YOU LOVE ME_
A Naruto Fiction
Disclaimer by Mr. Masashi Kishimoto
Kalo fict ini punya Dan (Daniel. Sandra aka Daniela Alexsandra)
Main Pair : Uchiha Itachi x Namikaze Kyuubi (female)
Pair : Uchiha Itachi x Namikaze Deidara (female)
Rating : T
Genre : Romance, Romance, Hurt/Comfort
Warning: Newbie dan ini fict kedua buatan saya, banyak sekali typo yang berserakan dan beterbaran dimana-mana plus EYD yang belum disempurnakan, ide cerita mainstream, human and female Kyuubi, GS, twins Dei-Kyuu, maybe OOC.
.
.
Dan tidak pernah memaksakan para reader untuk membaca fict saya, jika berkenan boleh baca yang enggak itu pilihan anda.
.
.
.
Okey,
.
.
.
Here we go
Waktu seakan berhenti berputar, Kyuubi masih memproses semua kejadian yang baru saja ia alami. Mulai dari saat Itachi yang mendatangi meja mereka dan berakhir dengan rambut Kyuubi yang basah oleh sesuatu yang beraromakan buah faforitnya. Seketika itu juga bulir-bulir air menetes dari iris rubynya bersama dengan tetesan air yang menetes lewat celah rambutnya.
.
Brak.
.
Bunyi meja yang terjatuh mengembalikan kesadaran Kyuubi dengan cepat. Mata Kyuubi membola melihat Itachi yang jatuh tersungkur disamping meja yang terguling dengan bibir yang berdarah. Tak jauh darinya ia melihat Shukaku dan Kimimaro tengah ditenangkan oleh Hidan dan Utakata.
Setelah berhasil mengendalikan diri, Kyuubi berjalan dengan tenang ke arah mereka. "HENTIKAN." serunya lantang.
Kyuubi kembali berdiri di depan Itachi yang sedang dibantu berdiri oleh Sasori. "Sepertinya pukulan Shukaku dan Kimimaro sudah cukup. Jadi bersyukurlah, aku tidak jadi menghajarmu." Kyuubi memandang sudut bibir Itachi yang sobek.
"Kau yang memulai semua ini terlebih dulu. Jadi kuharap kau tidak akan menyesalinya." ujar Kyuubi dingin.
.
Sret.
.
Byur.
.
"Ku anggap kita impas." setelah menyiram Itachi dengan segelas cola yang ia ambil dari meja terdekat Kyuubi berbalik berjalan menjauh dari kerumunan siswa yang sejak tadi menyaksikan insiden antara dirinya dan Itachi.
.
.
.
.
.
"Hiks,,,hiks,, sial kenapa air mata bodoh ini tidak mau berhenti." ujar Kyuubi untuk yang kesekian kalinya.
"Mengapa disini juga sakit sekali, hiks,,hiks,," Kyuubi memukul-mukul dada kirinya berharap rasa sakit itu akan mereda.
"Dasar bodoh, apa yang kau tangisi, huh."
"Hiks,,,hiks,,, sial. Kumohon berhentilah keluar." Kyuubi tak tahu lagi cara agar air matanya ini berhenti mengalir. Setelah insiden di kantin tadi, Kyuubi langsung mengurung dirinya di salah satu bilik toilet perempuan dan mulai menangis tanpa alasan yang jelas -menurut Kyuubi-.
Hampir tiga puluh menit Kyuubi berada dalam bilik toilet tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar.
Kyuubi tersenyum miris melihat keadaannya melalui pantulan cermin di depannya. Rambutnya lepek dan lengket karena jus apel yang disiramkan oleh Itachi tadi. "Dasar kakek keriput sialan." gerutu Kyuubi sambil mulai membasuh wajahnya agar tidak terlalu berantakan. Matanya merah dan sedikit bengkak. "Argh,, kalau seperti ini mana bisa aku kembali ke kelas. Ck, sial. Lebih baik aku ke UKS saja."
.
.
.
.
.
"Baiklah, kau bisa istirahat di sini."
"Terima kasih sensei, maaf merepotkan." ujar Kyuubi pada Hanare, guru piket di UKS hari ini. Dengan alasan sakit perut akibat haid hari pertama, Kyuubi berakhir disini.
"Tidak apa-apa, apa perlu aku mengambilkanmu obat haid."
"Ah,, tidak perlu. Mungkin berbaring sebentar rasa sakitnya akan mereda." jawab Kyuubi cepat.
"Baiklah, aku akan pergi ke ruang kepala sekolah dulu. Beliau tadi memanggilku. Apa tidak apa kau ku tinggal disini?"
"Hm, tidak masalah sensei."
"Kau bisa memakai bed yang di ujung, bed yang disana sudah ditempati siswa." ujar Hanare sambil menunjuk bed yang tertutup tirai."
"Terimakasih, Sensei."
Kyuubi pun melangkah menuju bed yang d tunjuk oleh Hanare, menutup tirai dan membaringkan dirinya di bed tersebut.
Kyuubi masih memikirkan kejadian yang baru saja ia alami. Beberapa kali ia menghembuskan nafas panjang.
"Apa yang harus kulakukan?" tangan putihnya meraba benda yg menggantung di lehernya. Ia menarik keluar benda yang senantiasa melingkar di lehernya sejak ia kecelakaan enam tahun lalu, kalung dengan bandul kipas merah putih dengah inisial UI.
"Kenapa kau sepertinya sangat membenciku?"
"Apa salahku padamu?" Kyuubi kembali terisak.
"Kau bahkan tidak mengenalku." Kyuubi menggenggam erat bandul kalung tersebut dan mendekapnya. "Hanya aku yang selalu memperhatikanmu dari jauh waktu itu." Perlahan-lahan Kyuubi jatuh tertidur dengan masih mendekap erat kalung tersebut.
.
.
.
Disisi lain, tepat di sebelah tempat yang Kyuubi tempati, seorang pemuda terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara isak tangis. 'Kenapa ada suara orang menangis?' batinnya bingung dan entah kenapa hatinya ikut merasakan kesedihan dan rasa sesak di dada. Pemuda yang diketahui sebagai Uchiha Itachi masih terdiam di posisi berbaringnya sambil terus mendengarkan suara isak tangis tersebut. Menghiraukan rasa penasarannya untuk mengetahui siapa orang yang sedang menangis di bilik sebelah tempat ia berbaring. Hingga beberapa saat sura isakan itu tidak terdengar lagi.
"Apa dia tertidur? atau sudah pergi?" gumam Itachi sambil beranjak dari tempat tidur dan berjalan menghampiri bilik di sebelah Itachi.
Itachi melangkah perlahan dan berhenti tepat di depan tirai bilik tersebut. Saat tangan Itachi akan menyingkap tirai tersebut suara keras dari arah pintu masuk menghentikannya.
.
Brak.
.
"Itachi-kun!" seru seorang gadis berambut pirang panjang dengan nafas yang sedikit tersenggal.
"Dei? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Itachi pada sosok tersebut
"Aku dengar dari Saso-kun kau terluka." Deidara mendekat ke arah Itachi, ia bisa melihat sudut bibir Itachi sedikit sobek dan membiru. "Apa sakit?" tanya Deidara sambil mengusap lembut sudut bibir Itachi yang terluka.
"Hn, sudah tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Itachi menggenggam tangan Deidara yang menyentuh sudut bibirnya.
"Aku sangat khawatir. Apa yang membuatmu bertengkar dengan mereka? Kau sendiri sudah tahu mereka kan. Kenapa kau mencari masalah dengan mereka." racau Deidara dengan mata berkaca-kaca. Melihat itu Itachi segera menarik Deidara dalam pelukannya.
"Sstttt,, sudahlah aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Kau jangan terlalu mencemaskannya." Tangis Deidara pecah saat Itachi merengkuhnya dalam pelukan.
"Apa Kyuubi juga terlibat perkelahian kalian? tanya Deidara. "Apa ini gara-gara dia?" Itachi terdiam, mulutnya seolah terkunci.
"Seharusnya aku menghentikannya saat ia masuk kesini dulu. Seharusnya aku melarangnya saat dia dulu dia ingin bertindak seenaknnya. Seharusnya ia tidak berada disini."
"Sstt,, sudahlah. Hal itu tak akan terjadi lagi. Lebih baik kita kembali ke kelas. Aku sudah lebih baik sekarang." ajak Itachi dan d balas anggukan lemah oleh Deidara.
.
.
.
.
Sepasang iris ruby tak hentinya meneteskan air matanya, apa yang dilihat dan di dengarnya saat ini benar-benar membuat hatinya sesak.
'Kami-sama' batin Kyuubi
Ia mendengar semua yang di katakan sepasang kekasih yang sedang membicarakan dirinya yang hanya terhalang sebuah tirai penyekat dan hal yang membuatnya bertambah sakit adalah orang tersebut adalah saudaranya, kembarannya.
Ingin sekali rasanya Kyuubi menghilang, lenyap saat itu juga. Ia dengan sekuat tenaga menahan isakannya. Tak berapa lama, Deidara dan Itachi meninggalkan ruang kesehatan, Kyuubi masih setia meringkuk di ranjang sambil sesekali terisak. Hingga getaran di saku celana trainingnya menghentikan isakannya sejenak.
.
Izuna-san calling
.
Sedikit mengernyit bingung melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Setelah memastikan suaranya kembali normal, Kyuubi mengangkat panggilan itu.
"Halo"
"Halo Kyuu, apa aku mengganggumu?"
"Eh, tidak."
"Ah,, syukurlah. Kau sibuk sekarang?"
"Er,, aku sedang di ruang kesehatan sekolah sekarang."
"Apa? Apa kau sakit? Pantas saja suaramu berbeda."
"Bu,,bukan begitu. Aku baik-baik saja Izuna-san."
"Benarkah?"
"Huum, aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir."
"Syukurlah."
"Er,, jadi ada apa kau menelponku Izuna-san?
"Ah,, benar aku hampir lupa. Besok aku akan meninjau proyek pembangunan Mall kita, apa kau bisa ikut denganku."
Kyuubi terdiam sejenak, menimbang usulan Izuna. " Baiklah Izuna-san aku akan ikut denganmu. Aku juga ingin tahu perkembangan di lapangan seperti apa."
"Bagus. Besok pagi aku akan menjemputmu."
"Eh,, tak usah repot-repot. Aku bisa-"
"Aku sama sekali tidak merasa di repotkan Kyuu. Jadi besok pagi aku akan menjemputmu."
"Ba,,baiklah."
"Bagus. Kalau begitu sampai ketemu besok. Semoga harimu menyenangkan Kyuu-chan." dan sambungan telpon itu pun terputus.
Kyuubi tersenyum pahit, "menyenangkan yaa! sepertinya itu kebalikannya." gumam Kyuubi.
.
.
.
.
Itachi sama sekali tidak bisa fokus dengan pelajaran yang tengah di paparkan oleh Asuma. Sesekali dia memandangi bangku kosong di sampingnya. Dan kejadian saat jam istirahat tadi terlintas di pikirannya. Ia menghela nafas berat dan memijat pangkal hidungnya. "Apa aku sudah keterlaluan padanya." gumam Itachi
"Uchiha-san apakah penjelasanku susah dimengerti hingga membuatmu seperti itu." ujar Asuma dari depan kelas. Sontak saja ucapan Asuma itu membuat Itachi jadi pusat perhatian.
"Hn, tidak Sensei."
"Benarkah?
"Iya."
"Kalau begitu, kau tidak keberatankan jika aku meminta mu menyalin apa yang sudah ku jelaskan barusan dalam bentuk portopolio. Aku harap besok kau bisa menyerahkannya padaku. Ah,, satu lagi tolong kerjakan juga soal di buku halaman 152-158."
"Hn."
"Baik, ada lagi yang mau meniru Uchiha-san? Ku harap kalian bisa fokus dalam mata pelajaranku."
.
Sret.
.
Serentak semua kepala menoleh ke arah pintu kelas yang baru saja di buka oleh seorang siswi berseragam olahraga.
"Maaf sensei, saya terlambat." ujar Kyuubi
"Tunggu dulu, kemari Uzumaki-san." ujar Asuma saat melihat Kyuubi akan berlalu menuju bangkunya.
"Kau tau sekarang jam berapa? Kau tau aku paling tidak suka ada muridku yang datang terlambat saat pelajaranku?" Kyuubi hanya diam, mendengarkan omelan Asuma.
"Biasanya aku menyuruh siswa yang terlambat berdiri di lorong sampai pelajaranku selesai." Tiba-tiba Kyuubi membungkuk dan berlalu meninggalkan Asuma.
"Kau mau keman?" Asuma melotot tak percaya dengan tingkah siswi barunya ini.
"Saya akan berdiri di koridor sesuai dengan apa yang seharusnya." ujar Kyuubi, ayolah Kyuubi sudah sangat tidak mood sekarang, di tambah lagi omelan dari Asuma yang malah membuat moodnya makin drop.
"Apa kau sangat tidak menyukai pelajaranku hingga kau memilih berdiri di koridor sekarang." Asuma memijit pangkal hidungnya yang mendadak pening.
"Bukankah anda sendiri yang bilang barusan kalau siswa yang terlambat harus berdiri di koridor!"
"Baiklah kau boleh berdiri di koridor sepuasmu setelah kau mengerjakan soal di papan tulis ini dengan benar, jika ada yang salah kau harus menyalin 10 kali penjelasanku hari ini dan soal di buku halaman 152-158 seperti yang Uchiha-san lakukan.
Mendengar nama Itachi di sebut membuat bola mata Kyuubi melotot tak percaya, 'apa yang sudah dilakukannya hingga mendapatkan hukuman juga dari Asuma sensei' batin Kyuubi.
Tanpa berlama-lama Kyuubi segera mengambil spidol yang ada di meja Asuma lalu dengan cepat mengerjakan soal-soal yang ada di papan tulis. Dia tidak ingin mendapatkan masalah baru lagi dengan Itachi bila ia tidak menyelesikan soal-soal di papan tulis ini dengan benar.
Semua siswa memandang tak percaya ke arah Kyuubi, bahkan Asuma. Kyuubi hanya butuh waktu 10 menit untuk menyelesaika soal-soal Fisika di papan dengan benar.
"Jadi boleh saya keluar?" tanya Kyuubi memecah keheningan di kelas.
"A,,apa?"
"Sensei bilang jika saya bisa mengerjakan soal-soal itu, saya hanya akan dihukum berdiri di koridor dan bukankah jawaban saya semuanya benar?"
"Hah,,, sudahlah. Kau boleh duduk di bangkumu."
"Tidak sensei, saya akan berdiri di koridor seperti yang seharusnya." Kyuubi berujar kala tanpa sengaja pandangannya dan Itachi bertemu. Kenapa dia bisa lupa jika bangkunya dan Itachi bersebelahan.
Kepala Asuma kembali berdenyut pening, "Jadi kau lebih suka berdiri di koridor dari pada mengikuti pelajaranku, begitu?"
Kyuubi kembali terdiam. 'Arrgh,,, sensei menyebalkan. Plin-plan.' batin Kyuubi tambah dongkol.
"Begini saja, hari ini kau ku berikan kelonggaran karena kau sepertinya benar-benar tidak menyukai pelajaranku. Kau boleh pulang lebih awal hari ini, tidak usah mengikuti pelajaranku dan juga tidak perlu berdiri di koridor. Bagaimana?" dan Asuma bisa melihat sorot tertarik dari Kyuubi.
"Kau hanya perlu mengikuti olimpiade fisika mewakili sekolah kita. Bagaimana?" Kyuubi terdiam, berfikir keuntungan yang akan dia dapatkan nantinya. 'pulang lebih awal, itu berarti aku tidak akan duduk bersebelahan dengan Itachi hari ini.'
"Bimbingan olimpiade akan di lakuakan mulai hari senin lusa hingga satu minggu kedepan. Dan itu Artinya kau hanya akan mengikuti pelajaran fisika bersamaku selama satu minggu penuh. Tapi jika kau menolak, nilai fisikamu akan kosong semester ini dan kau tau sendiri apa akibatnya."
"Deal." seru Kyuubi tanpa keraguan. 'tidak masalah yang terpenting aku tidak lagi bertemu dengannya walau hanya satu minggu.'
"Baiklah, sampai jumpa di kelasku Senin depan. Kau boleh pulang."
.
.
.
.
.
Suasana makan malam di kediaman Namikaze hari ini terasa sedikit berbeda. Bahkan Naruto yang terlenal kurang peka terhadap situasi menyadari hal itu.
"Apa Kyuu-nee dan Dei-nee sedang bertengkar?" Naruto berbisik ke sang kaasan.
"Kaasan juga kurang tau sayang."
"Ehem, ada apa ini kenapa kalian berdua hanya diam saja? Apa masakan kaasan tidak enak? ujar Kushina.
"Tidak kaa-"
"Aku sudah selesai, terima kasih makanannya?" Deidara berdiri dari meja makan menghampiri Minato dan mengecup pipinya pelan. "Selamat malam tousan." lalu beralih ke Kushina dan melakukan hal yang sama " selamat malam kaasan." kemudian berlalu dari ruang makan.
"Kalian bertengkar?" tanya Kushina pada Kyuubi.
"Tidak."
"Lalu?"
"Kami tidak ada masalah apa pun kaasan, sungguh." ujar Kyuubi. "Aku sudah selesai, terima kasih makanannya. Selamat malam kaasan, tousan, Naru." Kyuubi pun beranjak dari ruang makan.
"Aku yakin neesan sedang bertengkar." ujar Naruto cemberut.
"sudahlah, biarkan mereka terlebih dulu, nanti mereka pasti kembali seperti semula."
.
.
.
.
.
Hari sabtu pagi di kediaman Namikaze seperti biasanya, sang kepala keluarga Namikaze Minato sedang menikmati paginya dengan secangkir kopi dan koran di halaman belakang rumah. Sedangkan sang istri sedang menyiapkan sarapan untuk anggota keluarganya. Jika ada yang bertanya dimana ketiga putri mereka sekarang, mereka sedang asik dengan kegiatannya masing-masing. Si bungsu, Namikaze Naruto pastilah masih menjelajahi pulau kapuk. Sedangkan sang anak kedua, Namikaze Deidara seperti biasa tengah melakukan perawatan rutin -mempercantik diri-. Dan yang terakhir si sulung sekaligus saudara kembar Deidara, Namikaze Kyuubi baru saja pulang setelah jogging di sekitar kompleks perumahannya.
"Kau sudah pulang?" tanya Kushina saat melihat Kyuubi memasuki dapur.
"Iya, kaasan." ujar Kyuubi sambil membuka kulkas dan mengambil jus apel lalu menuangnya ke dalam gelas. Setelah meneguk jusnya hingga tandas, Kyuubi menghampiri Kushina yang masih sibuk bergelut dengan bahan-bahan makanan.
"Kaasan masak ap-"
"Maaf Kyuubi-sama, ada yang mencari anda di depan"
"Siapa?"
"Maaf, saya lupa menanyakan namanya."
"Oh, baiklah tidak apa-apa. Kau bisa kembali bekerja."
"Baik permisi Kyuubi-sama, Kushina-sama."
"Siapa sih yang datang mencariku sepagi ini." gerutu Kyuubi
"Sudahlah Kyuu, lebih baik kau segera menemuinya. Siapa tahu ada hal penting hingga dia datang sepagi ini."
"Hm, baiklah."
.
.
.
"Izuna-san?" panggil Kyuubi saat berada di ruang tamu
"Hai, Kyuu."
"Ada perlu apa mencariku sepagi ini? Apa ada ma-" Kyuubi menghentikan kalimatnya saat sudah ingat maksud kedatangan Izuna. "Astaga,,, bagaimana aku bisa lupa."
"Maafkan aku Izuna-san, aku lupa kalau hari ini kita akan meninjau proyek. Bi,,bisa kau tunggu aku sebentar untuk bersiap-siap."
"Hn, tak masalah. Kau tak perlu terburu-buru waktu kita masih panjang." ujar Izuna sambil tersenyum menanggapi sikap panik Kyuubi.
"Ka,,,kalau begitu aku akan bersiap dulu." dan Kyuubi pun melesat meninggalkan Izuna sendiri di ruang tamu.
.
.
.
.
Tiga puluh menit kemudian, Kyuubi sudah siap untuk berangkat. Rambut merah panjangnya ia ikat pony tail. Ia mengenakan blous berwarna peach dan celana jeans hitam, dengan flat shoes berwarna senada.
Dengan langkah lebar Kyuubi menuju ruanh tamu tempat dimana Izuna tengah menunggunya.
"Maaf telah membuatmu menung- gu" Kyuubi berdiri mematung melihat sosok lain yang ada di ruang tamunya.
"Kau,,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chap 10 up
.
.
Hola minna-san (^0^)/ Dan kembaliii ada yg masih menunggu kehadiran saya #PDmodeon
Hehe,,, maaf ye baru bisa update sekarang. semoga Chap ini memuaskan,,, Maaf yaaa alurnya lambat bgt,,, Dan nggak terlalu suka alur yg cepet 😝
yaaaa seperti peribahasa "alon-alon asal kelakon " pelan-pelan asalkan jalan 😜
#abaikan
Buat fict yg lainnya mohon bersabar,,, masih proses #d bakar
mungkin Dokter Kyuubi yg bakalan up duluan setelah sekian lama terabaikan,, tp kalo masih blm nemu ide mungkin Kimi to Boku yg bakalan di up duluan,,, so just wait 😁. 😊
.
.
.
Yosh,, gimme repiu ne minna-san
.
jaa ne (^_^)/
.
.
.
.
