Never Enough
By: Pingmoo
Warning: Boyxboy, TYPO. DLDR! Smut.
Pairing: Chanbaek, Hunhan
-Chapter 10-
.
.
.
.
"Jadi apa jawabanmu, Baekhyun?" Tanya Chanyeol. Raut wajahnya nampak sangat tegang.
"A-aku..."
.
.
Belum sempat Baekhyun menjawab pertanyaan Chanyeol sepenuhnya, Chanyeol sudah merengkuh pinggang rampingnya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman. Mata Baekhyun membelalak kaget dengan serangan Chanyeol yang mendadak ini, namun Baekhyun secara refleks menggertakkan giginya dan menolak memberi akses bagi lidah Chanyeol yang terus memaksa masuk ke dalam mulutnya.
Kedua tangannya berusaha untuk mendorong tubuh Chanyeol untuk menjauh tapi Chanyeol tetap pada posisinya. Bibirnya terus melumat bibir Baekhyun sementara giginya sesekali menggigiti kecil bibir bawah Baekhyun.
Baekhyun menahan napasnya ketika aroma tubuh Chanyeol seolah menguar memasuki indera penciumannya. Dia tidak boleh berlama-lama dalam posisi ini atau Baekhyun akan luluh. Sekilas dilihatnya cincin emas putih bertahtakan berlian melingkar di jari manis Chanyeol dan Baekhyun pun makin keras meronta-ronta untuk lepas dari cengkraman Chanyeol. Mengumpulkan seluruh tenaganya, Baekhyun pun meninju perut Chanyeol tepat di arah lambungnya. Spontan, cengkraman Chanyeol pun terlepaskan. Baekhyun langsung menyeka bibirnya dan sisa air liur Chanyeol dengan lengan bajunya.
"UKH!" Chanyeol meringis kesakitan memegang perutnya yang baru saja ditinju Baekhyun.
"Kau benar-benar sialan, Chanyeol! Kau sama sekali tidak berubah!" Maki Baekhyun.
"Dan tampaknya kau sudah berubah. Aku tidak ingat tinjumu sekuat ini dulu." Chanyeol mengelus-elus perutnya untuk mengurangi rasa sakit yang masih mendera di perutnya.
"Hidup sebagai seorang artis mengharuskanku untuk dapat melindungi diriku sendiri. Kurasa semua latihan bela diri yang kujalani ada juga gunanya." Ucap Baekhyun.
"Heh, aku sungguh yakin bahwa kau akan menjawab ya. Apa salahnya jika aku mencicipimu terlebih dahulu? Aku sudah sangat rindu melihatmu di bawahku, dengan kedua kakimu yang terbuka lebar.. Seperti dulu." Chanyeol menyeringai menatap Baekhyun dari atas ke bawah, membuat Baekhyun bergidik akan tatapan yang seolah menelanjanginya itu.
"Aku tidak mau." Suara Baekhyun terdengar final dan marah. Matanya menatap tajam Chanyeol dan digigitnya bibir bawahnya menahan amarah.
Senyuman Chanyeol luntur seketika. Chanyeol yakin betul bahwa Baekhyun akan takut pada gertakannya dan akan menerima tawarannya. Tapi Baekhyun malah menolaknya. Diraihnya vas bunga di meja di dekatnya lalu dipecahkannya karena emosi, namun Baekhyun tak bergeming sedikit pun.
"Apa kau sudah gila?" Tanya Chanyeol. Suaranya meninggi dan napasnya memburu.
Baekhyun hanya diam dan tetap pada posisinya.
"Jika video ini kusebarkan, karir beserta hidupmu akan hancur! Kau tak akan bisa berkarir di mana pun lagi." Teriak Chanyeol marah.
"Betul katamu. Jika video itu tersebar, bukan hanya aku yang menanggung malu. Agensiku pun akan menanggung malu, teman duetku pun mungkin harus berhenti berkarir karena skandal ini." Jawab Baekhyun tersenyum miris.
"Jika kau sudah mengerti akan hal itu maka sebaiknya kau cepat menerima tawaranku, Baekhyun. Aku bisa memberimu segalanya!" Ucap Chanyeol tak sabar.
Baekhyun tersenyum pahit mendengar ucapan Chanyeol. Betul, Chanyeol bisa memberikan dirinya apa saja. Apa saja kecuali cinta dan status. Yang ada hanyalah nafsu dan keterpaksaan.
Chanyeol panik bukan main. Dia hanya perlu satu kaya 'iya' dari Baekhyun dan dia bisa mendapatkan kembali kekasih masa lalunya. Kenapa Baekhyun membuat rencanaku menjadi semakin rumit dengan sikapnya?
"Well, Baekhyun?" Chanyeol semakin tak sabar.
"Kau betul-betul akan menyebarkannya jika aku menolak tawaranmu?" Tanya Baekhyun.
Chanyeol mengangguk. "Aku tidak pernah main-main."
"So.. if that happens, I swear I will kill myself."
Rahang Chanyeol mengeras mendengar penuturan Baekhyun.
"Kau mau bunuh diri katamu?" Mata Chanyeol menatap tajam Baekhyun. Tatapan mereka saling beradu.
"Kenapa tidak? Seperti katamu.. jika karir dan hidupku sudah hancur apa lagi yang bisa kuperbuat? Mungkin harusnya sudah sejak dulu aku menghilang selamanya." Lanjut Baekhyun, bibirnya tersenyum miris.
"Kau serius?" Teriak Chanyeol gusar. "Kau memilih kabur dengan cara seperti itu?!"
"Aku bertanya padamu, Chanyeol. Jika malam ini aku keluar dari ruangan ini tanpa menerima tawaranmu... Apakah kau sungguh-sungguh akan menyebarkan video itu?" Tantang Baekhyun.
"Aku—"
"Katakan, Chanyeol.. Kita menjalin hubungan sejak SMP bukan? Selama itu, apa kau pernah mencintaiku, Chanyeol?" Baekhyun memotong perkataan Chanyeol.
"Tentu saja!" Jawab Chanyeol tegas. Sekarang pun hanya kau yang selalu kupikirkan.
"Jika masih tersisa sedikit saja perasaan cintamu itu, kau tak akan tega memperlakukan aku seperti ini." Baekhyun membalas ucapan Chanyeol.
"Apa maksudmu? Memperlakukanmu seperti apa?" Tanya Chanyeol gusar.
"Seperti barang! Apa tengkorakmu begitu tebalnya hingga kau tidak sadar akan tindakanmu sendiri?!"
"Aku tidak—"
"Kau memperlakukanku seperti barang dan kau masih berani bilang kau mencintaiku?"
"Jika aku tidak mencintaimu aku tidak akan menunggumu selama 7 tahun ini!" Bentak Chanyeol.
"Kau menerima perjodohan dengan perempuan lain dan memintaku—tidak, kau memaksaku untuk mengerti situasimu. Aku berusaha untuk mengerti, tapi bagaimana dengan perasaanku?" Baekhyun mulai terisak.
"Kau ingat malam sebelum kau bertunangan? Kau mengajakku jalan-jalan—"
Chanyeol mengangguk, mendengarkan penuturan Baekhyun dalam diam. Ia ingin memeluk Baekhyun erat, namun Baekhyun tetap menjaga jarak di antara mereka.
"—lalu kau menyentuhku... sama seperti awal kau menyentuhku untuk pertama kali.. Penuh dengan kelembutan."
"Malam ini kau bilang kau mencintaiku." Baekhyun melanjutkan perkataannya.
"Aku memang mencintaimu saat itu.. hingga saat ini pun—"
"Kau tahu, malam itu aku begitu bahagia. Aku sudah berpikir, aku akan bersabar. Aku dengan bodohnya berpikir apakah mungkin itu adalah pertanda aku mendapatkanmu kembali."
"Tapi apa yang kudapat? Aku terbangun tanpa kau disampingku.." satu tetes air mata jatuh dari mata sayu milik Baekhyun.
"Aku ke sekolah dengan harapan akan bertemu denganmu. Tapi pagi itu kau tidak datang sekolah. Aku masih mencoba untuk berpikir jernih. Oh, mungkin Chanyeol sedang bersama ayahnya mengurus masalah perusahaan."
"Hingga.. hingga.. sore harinya... ada seseorang yang memberi tahuku.. bahwa dia akan menghadiri pesta pertunanganmu." Air mata yang ditahan mulai mengalir dengan bebas dari kedua air mata Baekhyun.
"Siapa yang memberi tahumu?" Chanyeol sangat penasaran. Seingatnya Baekhyun tidak memiliki teman sama sekali di sekolah.
"Tidak penting siapa." Baekhyun menghapus air matanya dengan lengan bajunya.
"Aku yakin kau tak sadar, tapi aku hadir di malam pertunanganmu, Chanyeol."
"Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku saat itu? Pria yang kucintai baru saja berkata bahwa dia juga mencintaiku. Aku berpikir kita akan baik-baik saja.."
"Tapi ketika malam itu aku melihatmu berdua dengannya, aku tahu bahwa aku tak akan kuat menjalani semua ini.." isak Baekhyun.
"Aku tak akan kuat, Chanyeol..."
Rahang Chanyeol mengeras. Di otaknya mulai memilah-milah siapa yang mengajak Baekhyun ke acara pertunangannya. Acara pertunangan Chanyeol saat itu merupakan acara eksklusif yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu.
"Apakah Junmyeon-hyung yang melakukannya? Ataukah Heechul-hyung? Tidak mungkin. Mereka tahu betul Baekhyun akan sangat sakit hati jika mengetahui hal itu. Buktinya setelah bertunangan, aku tidak pernah lagi melihat Baekhyun."
"Apakah ayahku... yang melakukannya?" Pikir Chanyeol dan seketika emosinya kembali naik.
Seharusnya Chanyeol sudah sadar dari dulu. Baekhyun tak mungkin pergi menghilang dari dalam hidupnya begitu saja. Tentu saja ayahnya turut menyimpan andil dalam perginya Baekhyun dalam hidupnya. Jika Chanyeol masih tinggal serumah dengan ayahnya mungkin dia akan pulang dan membunuh ayahnya dengan kedua tangannya sendiri. Chanyeol kehilangan rumahnya selama bertahun-tahun hanya karena ulah ayahnya yang sangat egois dan seenaknya mengatur masa depan Chanyeol.
Chanyeol mengeratkan pegangannya pada ponsel yang dipegangnya. Tapi tanpa diduga, dia melempar ponsel itu ke arah Baekhyun yang ditangkap secara refleks oleh Baekhyun.
"Ambil itu. Aku tidak butuh lagi!" Ujar Chanyeol. Sudah jelas bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan Baekhyun kembali dengan cara licik seperti ini. Chanyeol yakin Baekhyun serius dengan ucapannya, walaupun Chanyeol sendiri tidak berniat untuk menyebarkan video itu. Chanyeol hanya ingin menggertak Baekhyun untuk kembali dalam pelukannya tapi siapa sangka Baekhyun begitu keras pada pendirian dan harga dirinya. Oleh karena itu Chanyeol harus mencari cara lain.
Baekhyun memasukkan ponsel itu ke saku celananya dan menatap Chanyeol dengan tatapan bingung. Disekanya air matanya dengan cepat. Dari dulu sikap Chanyeol selalu membuatnya heran dan bertanya-tanya. Namun Baekhyun tidak perlu disuruh dua kali untuk menyimpan ponsel itu. Begitu dia keluar dari ruangan ini, seluruh data di ponsel ini akan diresetnya.
"Jangan salah paham, Baekhyun. Aku masih menginginkanmu." Kata Chanyeol pelan. Suaranya terdengar sangat mengintimidasi dan berat, bulu kuduk Baekhyun pun meremang karenanya. Tatapan tajam mata Chanyeol seolah menyudutkannya dan tanpa Baekhyun sadari kakinya mundur selangkah demi selangkah. Baekhyun ingin berkata sesuatu tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokannya, ingin keluar hanya saja tak bisa. Tenggorokannya seolah sesak menutup semua kata-kata yang ingin dia sampaikan.
"Aku masih punya 1001 cara untuk mendapatkanmu kembali. Aku harap kau camkan hal itu."
Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Bayang-bayang akan cincin emas putih di jari manis tangan kanan Chanyeol seolah menghantuinya.
"Aku serius. Tidak akan kubiarkan kau menghilang kembali dari hadapanku."
"Kau sudah menikah, Chanyeol..." Baekhyun kembali menemukan suaranya. Suaranya terdengar lemah dan memelas.
"Lalu?"
"Kau gila jika berpikir aku mau kembali padamu dengan statusmu sebagai suami orang." Baekhyun menghardik Chanyeol.
"Aku tak mau berbagi kekasih dengan orang lain. Aku sudah mengatakan hal yang sama 7 tahun lalu. Dan aku akan tetap mengatakannya." Jawab Baekhyun.
"Tidak masalah bagiku. Aku bisa menceraikan Seulgi kapan saja. Dia telah menyelesaikan tugasnya, melahirkan pewaris keluarga Park. Aku tak butuh dia lagi." Sanggah Chanyeol dengan entengnya. Selama ini hubungan rumah tangganya dengan Seulgi memang tidak ada masalah. Tapi tidak pernah ada cinta di antara mereka.
"Chanyeol!" Teriak Baekhyun marah.
"Kau sendiri yang bilang kau tak ingin berbagi!" Balas Chanyeol marah.
"Kenapa tidak dari 7 tahun lalu? Kenapa menerima perjodohan dengan Kang Seulgi?" Jerit Baekhyun kesal. Ingin rasanya menampar Chanyeol bolak-balik dengan kedua tangannya sendiri. Pemikirannya selalu tak pernah sejalan dengan Baekhyun dan selalu hanya keinginannya saja yang harus terus dipenuhi. Jika Chanyeol menceraikan Seulgi sekarang, untuk apa dia menerima pertunangan mereka dulu?
"AKU BISA APA 7 TAHUN YANG LALU!?" Teriak Chanyeol. Untung saja ruangan miliknya kedap suara sehingga orang luar tidak bisa mendengarkan percakapan mereka.
Baekhyun bergidik mendengar teriakan Chanyeol.
"Jika 7 tahun yang lalu aku menolak perjodohan dengan keluarga Kang, ayah akan mendepakku keluar dari rumah. Dia akan membuangmu ke jalanan dan Luhan-ge akan ditelantarkan di China begitu saja." Kata Chanyeol.
Mata Baekhyun membola mendengarnya.
"Saat itu kita belum lulus SMA, Baekhyun. Menurutmu bagaimana kita bisa menghidupi diri kita? Dengan koneksi ayah, bukan tidak mungkin dia bisa menyuruh orang-orang miliknya untuk menghalangi kita mendapatkan pekerjaan." Chanyeol mengusak rambutnya kasar.
"Yang ada dalam pikiranku saat itu hanyalah aku harus mengambil alih kepemilikan Park Enterprises terlebih dahulu, mendepak pak tua itu dan memilikimu seutuhnya. Tentu saja aku harus memiliki penerus terlebih dahulu."
Baekhyun memalingkan wajahnya ketika Chanyeol menyebut kata 'penerus'. Sedalam apapun cinta mereka, Baekhyun tetap tidak akan pernah bisa memberikan apa yang Chanyeol butuhkan. Seorang anak. Sungguh terkadang Baekhyun menyesali dirinya yang terlahir sebagai seorang pria. Mungkin jika Baekhyun dilahirkan sebagai perempuan semuanya akan lebih mudah bagi mereka. Tapi mengingat sifat ayah Chanyeol rasanya akan sama saja. Dirinya yang berasal dari kaum miskin tak akan mungkin diterima sebagai menantu keluarga Park.
"Tapi kau malah menghilang dari hadapanku!"
"Apa kau sedang menyalahkanku, Chanyeol?" Tanya Baekhyun.
"Aku—"
"Terdengar seperti kau sedang menyalahkanku." Baekhyun menggigit bibirnya. "Aku merasa kau menyalahkan kepergianku. Menyalahkan aku yang tak mau bertahan di sisimu. Padahal justru kaulah yang tak mampu memperjuangkanku."
"Bagiku terdengar seperti kau tak mau hidup susah. Secinta apapun kau padaku, kau tetap memilih harta kekayaanmu terlebih dahulu." Tutur Baekhyun lirih. Setelah mengetahui alasannya hati Baekhyun makin retak dibuatnya.
Memang terdengar seolah Chanyeol berusaha melindunginya dari ayahnya. Tapi di sisi lain, Baekhyun berpikir bahwa Chanyeol tak akan mau hidup susah demi mempertahankan dirinya. Chanyeol lebih memilih untuk menikah dengan perempuan lain dan berharap Baekhyun akan tetap di sisinya dalam diam. Harta dan keturunan di dapatkannya sementara dia tetap bisa memiliki Baekhyun. Betul memang semua manusia itu egois. Mereka hanya menginginkan semua yang terbaik untuk mereka tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Kau menginginkan harta milik ayahmu, di sisi lain tentu kau butuh penerus untuk Park Enterprises. I can't give you that. Jadi kau berpikir kau bisa menikah dengan Seulgi untuk menyenangkan hati ayahmu, sementara itu kau mendapatkan harta, keturunan dan posisi dalam hidupmu. Namun kau tetap menginginkan aku di sampingmu. Dibalik pintu yang tertutup, jauh dari mata orang banyak." Baekhyun tersenyum getir.
"Setelah bertunangan, kau akan meminta pengertian dan kesabaranku lagi. Lalu.. kau akan menikah? Saat itu mungkin aku sudah keluar dari rumah tuan Park dan tinggal di apartment sendiri. Mungkin kau akan mengunjungiku sesekali, tetap meminta kesabaranku melihatmu membangun keluarga kecil."
"Kau tetap akan berlindung dibalik kata-kata semua ini 'demi kita'. Demi kita atau demi egomu, Chanyeol? You can't have everything."
"Aku bersyukur aku pergi darimu 7 tahun yang lalu, Chanyeol. Kehidupan seperti itu.. yang kau ingin aku jalani.. aku tak akan mampu menjalaninya. Membayangkannya saja aku bisa gila."
Chanyeol terdiam membisu mendengar ucapan Baekhyun. Selama 7 tahun ini dia selalu berpikir bahwa dia sedang berkorban demi Baekhyun dan cinta di antara mereka. Namun mendengar penuturan Baekhyun, hatinya seperti tersembar petir dan berdenyut sakit. Perkataan Baekhyun benar adanya. Seperti itulah masa depan Baekhyun jika dia memutuskan untuk tetap bersama Chanyeol 7 tahun yang lalu.
Akan banyak malam-malam di mana Chanyeol akan meninggalkan Baekhyun seorang diri.
"Kenapa kau terdiam, Chanyeol? Kau sadar bahwa apa yang aku katakan itu benar, bukan?" Tanya Baekhyun.
Chanyeol menggigit bibirnya, tak mampu menyangkal setiap ucapan yang keluar dari mulut Baekhyun.
"Jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya permisi Direktur Park. Teman saya menunggu."
Baekhyun pun keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari Chanyeol.
.
.
.
"Tadi Direktur Park ingin membicarakan apa?" Tanya Zitao begitu Baekhyun masuk ke ruang istirahat.
"Hanya menanyakan kenapa orang Korea sepertiku bisa berkarir di China. Menurut beliau dia juga ingin artis lain debut di China tapi selalu terhalang bahasa dan respon positif dari masyarakat." Baekhyun berbohong dengan cepatnya.
"Hooo.. aku pikir dia mau merebutmu dari agensiku. Awas Baixian, jangan coba-coba kau!" Kata Baekhyun sambil menggerak-gerakkan jarinya ke kanan dan ke kiri.
"Hahaha! Dalam mimpi pun aku tak akan meninggalkanmuuu~" Guyon Baekhyun dengan nada manja kemudian memeluk Zitao.
"Hih! Jijik. Jangan sok manja seperti ini!"
"Aku lapar, ayo kita cari makan.." Baekhyun memelas dengan tampang seperti anak anjingnya yang sangat imut. Dalihnya saja lapar, padahal Baekhyun tak ingin berlama-lama lagi di tempat ini.
"Kau mau makan apa?" Tanya Yixing.
"Aku mau samgyeopsal. Aku tahu tempat mana yang enak." Jawab Baekhyun.
"Well, lead the way then!"
Mereka bertiga pun pergi ke restoran barbeque dan meminta untuk di tempatkan belakang restoran agar tidak terlihat terlalu mencolok. Memang mereka belum debut di Korea, tapi Duo Baixing memiliki fanbase di Korea juga jadi mereka harus selalu berhati-hati.
Baekhyun pun memesan berbagai macam daging untuk mereka nikmati. Sesekali bertanya pada Yixing dan Zitao apakah mereka ingin memesan menu lain. Akhirnya mereka memutuskan untuk memesan 4 jenis potongan daging, kimchi jiggae dan seafood pancake.
Tak lama setelah memesan, meja mereka pun dipenuhi makanan yang mereka pesan. Baekhyun makan dengan sangat nikmat. Di China tentu saja banyak restoran Korea tersedia, namun tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan cita rasa yang dihasilkan oleh restoran di tanah air sendiri. Yixing dan Zitao pun terlihat sangat menikmati potongan demi potongan daging yang disajikan.
"Sumpah, ini enak sekali. Lebih enak daripada di China." Seru Yixing sambil terus memasukkan potongan babi yang telah matang ke mulutnya.
Zitao yang cerewet pun memilih tak banyak bicara dan terus menerus mengambil makanan dan memenuhi piringnya seolah tak mau kalah dari Baekhyun dan Yixing. Tak butuh waktu lama bagi ketiga pemuda itu untuk menghabiskan semua makanan yang ada di hadapan mereka.
"Astaga aku kenyang sekali." Kata Baekhyun sambil mengelus perutnya. Jika tidak ingin menjaga image miliknya sebagai seorang idol mungkin sekarang dia sudah bersendawa.
"Kau makan banyak sekali, Baixian. Ingat ukuran pinggangmu!" Zitao menyeletuk sambil menajamkan matanya ke arah perut Baekhyun yang agak membuncit akibat terlalu banyak makan.
"Tenang. Aku akan ke gym hotel sebentar malam." Jawab Baekhyun sambil nyengir. "Mungkin kau mau bergabung juga? Aku bisa melihat perut buncitmu tumpah di atas ikat pinggang gucci-mu." Baekhyun balas meledek.
"Oh, apakah itu sebuah tantangan?"
"Entahlah, Huang. Menurutmu?"
Mereka pun saling melempar ejekan satu sama lain dan Yixing hanya bisa terkekeh melihat tingkah laku teman duetnya dan managernya saling meledek seperti anak kecil.
.
.
.
Malamnya di hotel, Baekhyun sama sekali tidak bisa tidur. Kejadian hari ini membuatnya terguncang. Pikirannya terus lari ke perkataan Chanyeol. Baekhyun pun mendadak teringat sesuatu lalu bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponsel yang dilemparkan oleh Chanyeol dari saku bajunya.
Ponsel tersebut terkunci tentu saja. Baekhyun mencoba memasukkan tanggal ulang tahun Chanyeol, tapi layarnya sama sekali tak bergeming. Baekhyun berdecih kecil, sebelum jemari lentiknya mencoba mengetik 6 angka.
920605
Dalam sekejap pun layar ponsel itu terbuka. Tentu saja Chanyeol menggunakan tanggal ulang tahunnya sebagai kode ponsel tersebut. Baekhyun pun langsung membuka galeri ponsel tersebut. Tak ada apapun dalam galeri tersebut kecuali video terkutuk yang Chanyeol tunjukkan padanya tadi. Entah apa yang merasukinya sampai dia menekan tombol play dan menonton video tersebut.
Hal pertama yang Baekhyun lihat adalah tempat tidur di kamar Chanyeol yang sangat tidak asing baginya. Dari arah rekamannya tampaknya Chanyeol meletakkan kameranya di atas nakas samping tempat tidurnya. Tak lama dia bisa mendengar suaranya sendiri dari kejauhan.
"Hari ini rasanya terasa lebih dingin dari biasanya, ataukah hanya perasaanku saja?" Suaranya dalam video itu terdengar seperti sedang mengeluh. Baekhyun pun berpikir bahwa Chanyeol merekam video ini saat sedang musim dingin.
"Apakah itu kode agar aku segera menghangatkanmu, hmm?" Suara Chanyeol terdengar.
"Ish! Mesum!"
"Ah!"
Baekhyun mendengar jeritannya sendiri sebelum dia melihat dirinya dilempar ke atas tempat tidur dan sungguh Baekhyun merasa geram pada Chanyeol yang merekamnya dengan seenaknya. Dalam video itu jelas sekali menampakkan wajahnya dan keseluruhan tubuhnya. Baekhyun pun langsung panik dan berpikir bahwa video ini bukan satu-satunya video yang direkam oleh Chanyeol. Terlihat jelas wajahnya yang masih terlihat seperti remaja layaknya pemuda berusia 16 tahun pada umumnya. Hanya saja tatapan yang ditampilkannya terlihat sangat vulgar untuk anak seusianya. Baekhyun tidak menyangka bahwa wajahnya terlihat sangat...erotis.
"Sentuh aku, Chanyeol." Baekhyun menjilat bibirnya seduktif.
Baekhyun memejamkan matanya. Bagaimana bisa dia lupa bahwa dulu dialah yang sering merayu Chanyeol untuk menjamahnya terlebih dahulu. Hanya saja sejak Chanyeol bertunangan dengan Seulgi, Baekhyun merasa tak ingin berhubungan sex dengan Chanyeol yang telah memiliki calon tunangan. Hingga biasanya Chanyeol-lah yang memaksanya untuk berhubungan badan.
"Kau ingin aku menyentuhmu di mana, sayang?"
"Hihihi.. jangan pura-pura bodoh, Chanyeol. Kau tahu di mana harus menyentuhku." Tangan Baekhyun membuka kancing kemejanya satu persatu dan menyibak kemejanya perlahan menampakkan pundak putihnya yang mulus. Jemari lentiknya pun menyapu pelan lehernya kemudian turun dan bermain di sekitar area putingnya.
"Di sini..." Desahan Baekhyun terdengar samar.
Chanyeol pun memanjat ke atas tempat tidur dan jemari lentik Baekhyun pun berganti dengan jemari Chanyeol yang besar. Jempol Chanyeol kemudian dengan pelan memutar puting Baekhyun yang sudah mengeras.
"Aah..." Desah Baekhyun pelan, wajahnya tampak sangat menikmati sentuhan Chanyeol di kedua putingnya.
"Di sini, Baekhyun?" Tanya Chanyeol sambil terus memutar kedua puting itu. Sesekali dikecupnya bergantian dan dijilatnya puncak puting itu perlahan seolah sedang menggoda puting tersebut.
"Yeah.. uhmm.." Baekhyun membusungkan dadanya ke arah Chanyeol. Chanyeol terlihat menyeringai sebelum mengulum kuat puting kanan Baekhyun sementara dijepitnya puting kiri Baekhyun kasar dengan jempol dan jari telunjuknya. Dimainkannya lidahnya di atas puting Baekhyun yang berada dalam mulutnya.Baekhyun melenguh pelan menikmati perlakuan Chanyeol pada putingnya.
"Hnnhh.. Chan.." Digigitnya jari-jarinya di mulutnya.
"Baby, andai kau bisa melihat betapa indahnya dirimu sekarang."
"Aku tidak butuh pujianmu, Chanyeol. Lebih baik mulutmu kau gunakan untuk hal lain! Ck!" Baekhyun berdecak kesal.
"Of course, baby." Mulut Chanyeol pun kembali melahap puting milik Baekhyun. Memainkannya dengan lidahnya sambil sesekali menggelitikinya dengan giginya kemudian dihisapnya.
Tangan kanan Chanyeol perlahan merangkak turun dan membuka kancing celana Baekhyun dan menurunkan resletingnya. Baekhyun pun sontak mengangkat bokongnya dan memudahkan Chanyeol untuk melepaskan celana dan pakaian dalamnya. Sekarang Baekhyun terbaring polos terkecuali kemeja terbuka lebar yang masih melekat di badannya. Penisnya sudah ereksi dan mengeluarkan cairan bening dari ujungnya. Baekhyun sudah sangat terangsang sekarang.
"Enjoying the view, Chanyeol?"
"Hell, yeah!"
Baekhyun terkekeh pelan kemudian membuka perlahan kancing kemeja Chanyeol. "Rasanya tidak adil kalau hanya aku saja yang telanjang, kan?"
Kemeja Chanyeol pun dilempar asal oleh Baekhyun ke atas lantai. Jari lentik Baekhyun tampak mengusap-usap gembungan di celana Chanyeol.
"Aku prihatin melihatnya. Penismu terlihat sangat sesak di dalam sini."
Chanyeol mendesis nikmat, "kalau begitu apa yang kau tunggu? Keluarkan dia dari sangkarnya."
Jari Baekhyun pun bangkit ke posisi duduk sama seperti Chanyeol kemudian menurunkan resleting celana Chanyeol dan mengeluarkan penis Chanyeol dari celananya.
Tanpa aba-aba, Baekhyun merubah posisinya menjadi menungging ke arah Chanyeol.
Baekhyun memejamkan matanya ketika melihat dirinya di dalam video menungging dan memamerkan bokongnya ke arah kamera. Memang dari sudut kamera ini, tidak terlihat tapi terdengar jelas bahwa Baekhyun yang berada dalam video itu sedang memberikan Chanyeol blowjob. Desisan nikmat yang ditimbulkan Chanyeol membuat tubuh Baekhyun serasa meremang, bercampur dengan suara hisapan dan kecapan yang dihasilkan oleh Baekhyun sendiri. Dilihatnya Chanyeol mengelus kepalanya dan menyelipkan jari-jarinya di antara rambutnya sementara kepalanya terlihat maju mundur menikmati penis Chanyeol di mulutnya.
"Cukup Baekhyun, aku tak ingin keluar di mulutmu." Baekhyun bergumam pun memberikan jilatan terakhir dari ujung hingga ke pangkal penis Chanyeol sebelum kembali berbaring ke posisi tidur dan mengangkang membuka kakinya lebar-lebar.
"Ready for the main course, Chanyeol?"
"Always."
Chanyeol mengambil botol pelumas dari dalam laci kemudian menumpahkan isi botol itu membasahi jari-jari tangan kanannya. Satu jari pun masuk perlahan ke lubang anal Baekhyun dan maju mundur perlahan, menyiapkan Baekhyun untuk sesuatu yang lebih besar.
"Kau bisa memasukkan jari berikutnya, Chanyeol." Baekhyun memejamkan matanya, menikmati permainan jari-jari Chanyeol di dalam dirinya. Terkadang jari-jari Chanyeol bergerak dengan tempo cepat sebelum bersilang di dalam sana, membuka akses lebih lebar lagi. Ditemukannya pula prostat milik Baekhyun dan digodanya sesekali yang membuat Baekhyun menjerit nikmat atas perlakuan yang diterimanya.
"Aku rasa kau sudah siap." Chanyeol pun menarik jari-jarinya dan menuangkan pelumas ke tangan kanannya lagi dan mengusapkannya ke penis miliknya sebelum memasuki Baekhyun. Rektum milik Baekhyun sangat ketat. Akan susah dimasuki tanpa jumlah pelumas yang banyak.
Chanyeol mengangkat pinggang Baekhyun hingga Baekhyun setengah melayang, pundaknya masih berada di atas tempat tidur sementara pinggangnya melayang, ditopang oleh kedua tangan Chanyeol yang melebarkan kedua pahanya di udara.
Baekhyun menelan ludahnya. Seharusnya dia menghapus video sialan ini, bukannya malah menontonnya. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Tapi kenapa dia malah membiarkan video ini terus terputar.
Desahan panjang keluar dari mulut Baekhyun saat dia merasakan ujung penis Chanyeol masuk menerobos rektumnya. Dengan sekali sentak, penis Chanyeol pun amblas seluruhnya ke dalam liang Baekhyun. Tak butuh lama bagi Chanyeol untuk menemukan tempo tusukan yang cepat. Baekhyun meremas sprei tempat tidur kasar tiap kali penis Chanyeol menyapa prostat miliknya.
"Ahh.. Chan.. Chanyeol.." Baekhyun mengerang. Chanyeol hanya menyeringai puas melihat dirinya yang mengakibatkan Baekhyun menggelinjang nikmat di atas ranjang. Satu hentakan keras ke prostat miliknya dan badan Baekhyun pun membusung layaknya busur sementara mulutnya berteriak tak tahan.
Secara refleks pun Baekhyun mengetatkan lubangnya.
"Ahhh.. Chan... Chan... Mmmhh.."
"Menggodaku, Baekhyun? Nakal sekali."
"Hihi.. tapi kau menyukainya..hnnn—ahhh..."
"Baekhyun—Ah! Ketat sekali.. sshhh.."
Baekhyun melihat perubahan raut wajah yang sudah tak asing lagi. Nampak jelas di video itu bahwa sebentar lagi Chanyeol akan keluar dan mendapatkan pelampiasannya. Dan betul saja. Tak lama dilihatnya Chanyeol menghentakkan pinggulnya makin dalam ke dalam dirinya di video itu. Suara geraman Chanyeol memenuhi ruangan dan bisa didengarnya suaranya sendiri juga menderu sebelum kemudian dia juga mencapai puncak kenikmatan bersama Chanyeol.
Chanyeol di dalam video itu pun jatuh ke atas Baekhyun. Lalu mereka berciuman panjang saling memanggut satu sama lain dengan napas yang terputus-putus tubuh mereka masih saling terkait satu sama lain.
"Aku mencintaimu, Baekhyun."
"Aku pun mencin—"
Baekhyun mematikan video tersebut dan melempar ponsel itu ke tempat tidur di sebelahnya. Ditariknya selimut membungkus seluruh dirinya. Bibirnya terkatup menahan emosi. 7 tahun lebih berlalu dan dia bahkan masih menyimpan rasa yang begitu besar pada Chanyeol. 7 tahun sudah berlalu. Baekhyun seharusnya sudah move on dari dulu.
Baekhyun tahu Jongin menyukainya. Setiap tahunnya Jongin selalu datang di bulan Mei, mengunjunginya di China untuk merayakan ulang tahunnya bersama. Jongin terlihat begitu tulus, tak pernah meminta apapun dari Baekhyun. Hanya terus menunjukkan perasaannya namun selalu ditepis oleh Baekhyun. Baekhyun lah yang terus menghindari topik menjalin sebuah hubungan.
Sekarang dia sudah kembali ke Korea untuk mungkin waktu yang cukup lama. Dia harus berusaha lebih keras untuk membuka hatinya untuk Jongin. Lagipula Chanyeol sudah menikah, apa yang bisa diharapkan dari seorang pria yang sudah menikah?
Bersama Jongin, semuanya akan lebih mudah. Kan?
Baekhyun pun akhirnya terlelap sambil mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Jongin lah jalan terbaik yang harus ditempuhnya.
Apapun yang terjadi dia tak akan membiarkan Chanyeol seenaknya kembali masuk dalam kehidupannya, atau lebih buruk lagi, hatinya.
TBC
.
.
.
A/N: halo readers sekalian, jumpa lagi di chapter terbaru ini. Semoga tidak mengecewakan ya. Chanbaek momentnya hanya flashback nonton video sih, tapi untuk sementara cukuplah ya. wkwkwkwk!
Jika kecewa maafkan, saya hanya manusia biasa TvT)/
Seperti biasa tidak menerima tagihan fic lain di kolom komentar ini. Masukkan tagihan di kolom yang sesuai ya. Chu chu~
See you in next chapter!
