x

Chapter 10:

— Good For You —

.

.

.

Saat Sayu keluar dari ruang latihan cheers dan menuruni tangga menuju lantai satu, ia langsung dihampiri Light yang juga sudah bersiap pulang. Tetapi Sayu berkata kalau mereka harus mampir sebentar ke lokernya untuk mengambil sesuatu. Ternyata hari ini Sayu mendapatkan banyak kue, dan karena terburu-buru, Sayu langsung menyimpan semuanya di loker.

"Kamu bisa jadi juragan kue kalau seperti itu, Sayu."

Sayu hanya tersenyum mendengar kata-kata kakaknya. Kue-kue ini memang terlalu banyak. Untung saja Light dengan sigap membantu membawakannya.

"Semuanya pemberian dari senior-seniorku," kata Sayu.

"Oh ya? Kedengarannya mereka orang-orang yang baik."

Sayu tak menjawab. Mereka berdua berjalan menuju parkiran dan masuk ke Mustang milik Light. Sejenak kemudian, mobil merah itu sudah meluncur di jalan raya.

"Uhm, semua kuenya enak, tapi ini terlalu banyak. Aku nggak yakin bisa menghabiskan semuanya sendirian," desis Sayu setelah mencicipi potongan kecil dari semua kue-kuenya. "Light, kamu serius nggak ingin coba?"

Light menggeleng. "Untukmu saja."

Sayu mengangguk paham. Makanan manis dengan kadar gula tinggi memang tak pernah ada dalam menu harian kakaknya. "Seharusnya tadi nggak kutaruh di lokerku. Semoga saja aku bisa menghabiskannya," keluh Sayu.

Light tersenyum. "Dalam rangka apa seniormu membagi-bagikan kue? Apa ada yang berulangtahun?"

"Sebetulnya mereka nggak sedang bagi-bagi, tapi hanya memberikannya padaku."

Light tertarik. "Kenapa begitu?"

Sayu mengangkat bahu. "Entahlah," ia menggigit roti keduanya. "Mungkin karena aku adikmu?"

Light menginjak rem mendadak, dan membuat Sayu memekik kecil karena kaget. Light menatap adiknya tajam seolah menuntut penjelasan soal kata-katanya tadi.

Sayu menggigit bibir, lalu berdehem rendah. "Aku nggak mengada-ada. Mereka—para senior cewek itu—tahu kalau aku adikmu. Semuanya bersikap baik dan manis. Kadang mereka juga tanya-tanya sedikit tentangmu." Sayu mengatakan semua itu dengan nada dan ekspresi yang sangat biasa seolah-olah hal itu adalah peristiwa wajar yang lumrah dialaminya.

Light masih menatap adiknya hingga beberapa saat, lalu kembali menjalankan mobilnya dalam diam. Ia tak mengatakan apa pun lagi. Sayu juga kembali menyantap kuenya dengan hening. Mereka terus seperti itu hingga akhirnya tiba di rumah.

Saat Sayu sudah melepas seatbelt dan bermaksud turun dari mobil, tiba-tiba Light memanggilnya.

"Sayu."

Sayu terhenti. Ia menoleh pada Light dengan tatapan tanya. "Ya?"

"Kalau ada satu pun orang yang menyakitimu, katakan padaku."

Sayu menjawab cepat, "Aku baik-baik saja kok." Namun Sayu terpaku saat menyadari sorot mata tajam kakaknya yang semakin menguncinya. "U-uh... hentikan, Kak," Sayu berusaha mengalihkan tatapannya. "Sudah kubilang, semuanya baik-baik saja..."

Light seolah tak mendengar. Ia justru menarik sebelah tangan adiknya dan menggenggamnya erat. "Bilang padaku, oke?" ujarnya serius.

Sayu luluh. Akhirnya ia mengangguk dan tersenyum manis. "Jangan khawatir."

Light membiarkan Sayu memasuki rumah lebih dulu. Adiknya itu langsung menaiki tangga menuju kamarnya, sementara Light berbelok ke arah dapur untuk mengambil air minum. Ia meneguk dua gelas sembari isi kepalanya sibuk memikirkan kata-kata Sayu.

Saat itu, ponselnya berbunyi.

Light meraih ponselnya dengan tangan kiri. Ia berniat hanya memeriksanya sekilas, namun buru-buru dibukanya saat mengetahui bahwa pesan itu berasal dari Misa.


[06:27 pm]
Soal kejutan Sayu yang kemarin, aku punya ide.


Light meletakkan gelasnya dan langsung mengetikkan balasan.


[06.27 pm]
Apa kita bisa membicarakannya secepatnya?


Light mengambil apel di atas meja, lalu menimbang-nimbangnya. Lima menit menunggu dengan separuh gelisah, Light masih jua tak mendapat balasan. Ia menaruh lagi apelnya di meja dan kembali mengetik.


Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Apa aku bisa meneleponmu?


Belum juga sempat terkirim, pesan itu sudah langsung dihapusnya. Ia kembali meraih apelnya, lalu naik ke kamarnya dan berganti baju. Light kemudian mengambil buku-buku, duduk di meja belajarnya, dan menyalakan komputer. Sejenak kemudian, ia sudah tenggelam dalam keasyikannya mengutak-atik soal analisis senyawa kimia dan hanya mengambil jeda untuk ke kamar mandi atau makan malam.

Jam 10 malam, Light baru menyadari kalau Misa telah membalas pesannya setengah jam yang lalu.


[09:31 pm]
Akhir pekan nanti gimana?


Light mendesah.

Itu terlalu lama. Kalau bisa, Light ingin sesegera mungkin membicarakannya. Tapi mungkin saja Misa punya banyak hal lain yang harus dilakukannya, dan Light akan sangat tidak sopan bila memaksanya. Lagi pula hari ini Light sudah dua kali melihat Misa sedang tidak dalam suasana bagus—meski sekali lagi itu bukanlah urusannya.

Akhirnya ia mengetikkan balasan.


[10:04 pm]
Baiklah.
Terima kasih, Misa.


Dahulu, ketika mereka pertama kali membahas soal kejutan ulang tahun Sayu, Light sebenarnya masih ingin mendiskusikannya lebih jauh lagi. Tetapi saat itu Misa tampaknya sedang terlalu lelah sehabis dari lokasi streetball. Misa hanya menanggapi kata-kata Light seadanya dan tak merespons dengan antusias seperti biasa. Light pun jadi membatalkan niatnya untuk menyinggung lebih jauh.

Lalu sekarang, Misa tiba-tiba membahasnya dan membuat Light penasaran. Light masih ingat jelas kata-kata Sayu tadi sore tentang sikap para seniornya. Ini membuat Light jadi semakin tak sabar ingin segera melakukan sesuatu untuk adiknya.

Satu-satunya yang bisa Light ajak bicara tentang Sayu hanyalah Misa. Namun tak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu hingga akhir pekan.

-xXx-

"Oh my..."

Misa membenamkan wajahnya ke dalam bantal sementara tubuhnya menelungkup di atas tempat tidur.

Seharian ini benar-benar seperti hari sial baginya. Bermula dari pagi, ia lupa mengerjakan PR-nya dan berujung dengan hukuman dari Mr. William. Sudah gitu, dia masih pula dipergoki Light tepat di depan mata.

Misa sebenarnya malu jika harus bertemu lagi dengan Light setelah kejadian itu.

Tentu saja, Misa sebetulnya termasuk tipe cewek yang penuh percaya diri. Dia hampir tidak pernah insecure. Tapi ada hal lain yang membuatnya kesal, selain kenyataan bahwa Takada—kapten cheers-nya yang tak hanya cantik tapi juga siswa terbaik Matematika di angkatannya—adalah mantan pacar Light.

Tadinya, seusai jam belajar sekolah, Misa sudah hampir melupakan tragedi pagi hari tentang dirinya yang dihukum Mr William karena lupa dengan tugas sekolahnya.

Sebabnya sederhana.

Misa sudah bertemu Sayu, berkenalan dengan Linda dan Wedy, lalu mereka bakal latihan cheers bersama-sama dengan serunya. Misa sangat menyukai segala aktivitas cheers. Dia sungguh jatuh cinta dan menikmati perannya sebagai pemandu sorak yang akan mendukung tim sekolahnya setiap kali berlaga. Cheers bisa membuat Misa melupakan masalah-masalahnya.

Akan tetapi, latihan hari ini diawali dengan mengukur tinggi badan, juga berat badan. Suatu hal rutin yang sewajarnya selalu dilakukan klub cheerleaders setiap periode waktu tertentu.

Sembari sesi pengukuran berlangsung, Takada juga mengumumkan bahwa event resmi pertama yang akan mereka ikuti di semester ini adalah tiga minggu lagi. Saat itu, para anak baru kemungkinan besar hanya akan menonton senior mereka tampil.

Misa nggak masalah karena dia paham betul bahwa mereka (para junior baru ini) masih perlu banyak berlatih dan membiasakan diri. Tapi yang membuatnya kesal adalah dia dengan mudahnya tersingkir dan menjadi cadangan dengan urutan terakhir dari seluruh anggota cheers yang ada di situ.

Ya, setelah sesi pengukuran tinggi dan berat badan selesai, Misa sadar satu kekurangannya yang paling mencolok dari semua anggota di situ. Tubuhnya paling pendek. Nggak sampai 160 senti, alias hanya 159 (atau lebih tepatnya 158.5 cm). Tentu saja itu termasuk pendek jika dibandingkan dengan yang lain. Tinggi Sayu saja 164 cm. Linda dan Wedy malah lebih tinggi lagi.

Tapi, apakah perkara tinggi badan betul-betul harus diperhitungkan sepenting itu? Bukankah Misa punya kemampuan kompeten untuk menjadi anggota cheers? Come on, dia bisa melakukan semua gerakan cheers dengan sempurna!

Lagi pula, bukankah dengan ukuran tubuh Misa yang paling kecil, akan sangat pas baginya untuk menempati posisi flyer? Katakanlah Takada keberatan menempatkan Misa sebagai flyer karena posisi itu terlalu mewah untuk anak baru seperti Misa, Misa sanggup kok berada di base paling bawah. Misa punya tenaga yang cukup kuat untuk menopang orang. Misa juga tidak keberatan kalau ditunjuk jadi spotter.

Jika dari awal mereka memperhitungkan tinggi badan, kenapa mereka meloloskan dirinya untuk masuk? Misa di sini menjadi satu-satunya anggota di bawah 160 cm sementara semua anggota lainnya di atas 163 cm dan tidak terlalu berselisih jauh.

Misa kesal.

Lebih membuat kesal lagi karena Misa paham, satu-satunya posisi yang paling umum bagi seorang bertubuh pendek seperti Misa adalah sebagai flyer, tapi Misa nggak akan mudah mendapatkan posisi itu.

Benar bahwa Misa kurus, punya pinggang ramping, dan perut yang kencang, tapi bagian tubuh tertentu Misa lebih berisi dan membuat berat badannya melonjak jadi 46,8 kg. Lebih berat 71 gram dari anggota paling ringan di situ.

Intinya, baik dari segi tinggi maupun berat badan, Misa tersingkir dari kualifikasi yang diinginkan kapten cheers-nya.

Misa sangat kaget, kecewa, sedih, dan campur aduk saat Takada menyebutkan keputusannya. Padahal Misa begitu menyukai cheers, lebih dari kehidupan sekolahnya. Dia amat sangat ingin bergabung dengan tim cheers, dan kalau bisa, ikut tampil sesegera mungkin.

Ya, Misa ingin tampil cheers selagi Light masih aktif di basket. Sebagai siswa tahun terakhir, Light pasti sebentar lagi akan mengundurkan diri dan fokus belajar. Sebelum itu benar-benar terjadi, Misa ingin sebanyak mungkin menjadi pemandu sorak untuk Light.

Tetapi keputusan adalah keputusan.

Apa pun argumennya, Takada selaku kapten tim telah menjatuhkan keputusan berdasarkan catatan tinggi dan berat badannya. Misa tidak bisa mengelak dari fakta itu. Sesi latihan cheers yang biasanya menyenangkan, kini jadi terasa sangat lama baginya. Bahkan Misa ingin lekas-lekas menyudahinya.

Seusai latihan, Sayu masih dikerumuni beberapa senior sementara Linda dan Wedy masih di shower room. Misa tidak menunggu dan pulang lebih dulu. Dia terus kepikiran kata-kata Takada di sepanjang jalan. Pun sesampainya di apartemen. Ya, Misa tahu kalau Takada punya imej kapten cheerleaders yang sempurna dengan catatan tinggi badan 169 cm dan berat 49,3 kg. Selisih lumayan jauh dengan Misa yang sepuluh senti lebih pendek dan hanya dua setengah kilo lebih ringan.

Tanpa sadar, Misa jadi membanding-bandingkan dirinya dengan Takada. Termasuk prestasi di sekolah dan performa dalam cheerleaders. Lama-kelamaan, ini justru semakin membuatnya tidak tenang. Ugh, apa dia sudah terserang virus insecure?

Misa menggigit bibirnya. Kepalanya penuh dengan berbagai macam hal dan bisa meledak kalau dia tidak segera membuat pelepasan.

Tahu-tahu Misa bangkit dan mengambil ponselnya. Ia membuka kontak seseorang, lalu mengetikkan sesuatu dan langsung mengirimnya tanpa pikir panjang.

Sesaat kemudian, ia terlonjak kaget.

Misa sama sekali tidak menyangka kalau Light, orang yang barusan dikiriminya pesan, langsung membalas dalam hitungan detik. Misa baru sepenuhnya tersadar dan jadi panik sendiri saat Light bertanya apa mereka bisa secepatnya bicara.

Tidak, jangan sekarang.

Misa butuh waktu. Selain untuk menata perasaannya, juga untuk mempersiapkan hal yang disebutnya sebagai kejutan untuk ulang tahun Sayu.

.

.

.


Author's note:

Aku menaikkan tinggi badan beberapa orang di sini. Misa yang seharusnya 152 menjadi 159 cm. Juga Light (dari 179 ke 182), Takada (dari 166 ke 169), dan Sayu (dari 163 ke 164).

Terima kasih banyak sudah berkunjung kemari yaa