Chapter 10

.

.

"Tunggu," sahut Mamori, sambil memandangi tempat tidur.

Hiruma menoleh, menghentikan kegiatannya yang sedang duduk membuka sepatu.

"Karena kemarin aku sudah tidur di kasur. Maka hari ini giliranmu."

Hiruma kembali melepas sepatu seolah tidak mendengarkan perkataan Mamori. Dia lalu berdiri dan melepas jaketnya. "Aku mandi dulu."

Mamori bertolak pinggang kesal mendengar jawaban Hiruma. "Tunggu. Kau dengar aku kan?"

"Tidak ada yang tidur di lantai. Kau dan aku akan tidur di kasur," jawab Hiruma.

"Kau bercanda?"

"Kau hamil. Masih butuh jawaban lain, heh?"

"Tapi kan-," Perkataan Mamori terpotong saat Hiruma sudah masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.

Sepuluh menit Hiruma keluar dari kamar mandi. "Aku mau keluar. Jadi jangan coba-coba tidur di lantai," sahutnya sebelum Mamori masuk ke kamar mandi.

"Mau kemana?"

"Bukan urusanmu," jawab Hiruma dingin.

Mamori tidak membalas. Dia hanya tersenyum pahit mendengarnya. Entah kenapa, Mamori merasa terusik dengan jawaban itu.

"Kunci saja pintunya," lanjut Hiruma.

"Ya," jawab Mamori sebelum menutup kamar mandi.

.

.

Hiruma berjalan di lobi hotel. Sudah hampir jam sembilan dan yang pasti tidak banyak orang berlalu lalang.

Udara dingin menusuk saat Hiruma sudah di luar dan langsung masuk ke taksi yang sudah di pesannya. Dia lalu memberikan secarik kertas bertuliskan alamat kepada sang supir.

"Baik," jawab supir itu lalu menyalakan mesin mobilnya.

Tidak sampai sepuluh menit Hiruma tiba di tempat tujuan. Sebuah hotel yang sama mewahnya dengan hotel yang ditempatinya. Hiruma lalu berjalan melewati lobi menuju lift.

Setelah tiba di lantai sebelas, Hiruma lalu menuju kamar yang akan dia kunjungi. Kamar 1104. Hiruma mengetuk pintunya. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan muncul seorang wanita yang sudah tidak asing lagi wajahnya.

"Aku sudah menunggumu," sahut wanita itu sambil tersenyum menggoda. Dia lalu menutup pintunya segera setelah Hiruma masuk ke dalam.

.

.

Matahari menyoroti gorden kamar hotel Mamori dan menyinari wajahnya. Perlahan dia terbangun dari tidurnya. Walau sudah tertidur, tapi wajahnya kusut dan tampak suntuk. Memang benar, dia tidak bisa tidur nyenyak semalam tadi.

Mamori melihat ke sekeliling yang tampak masih sama seperti kemarin. Tidak ada tanda-tanda Hiruma sudah kembali.

Mamori menghela napasnya. Seharusnya Mamori baik-baik saja. Dia seharusnya tidak peduli dengan apa yang dilakukan Hiruma diluar. Tapi sekali lagi, ada rasa yang seolah menusuknya menghadapi kenyataan ini.

Kenapa Mamori harus merasa resah dengan semua ini. Mereka jelas tidak melakukan pernikahan sesungguhnya. Hiruma mau melakukan apapun, itu urusannya. Mamori tidak berhak tahu ataupun melarangnya. Mamori bukan siapa-siapanya. Dia hanya istri di atas kertas. Tapi walaupun begitu, Hiruma adalah ayah dari bayi yang dikandungnya.

Ya. Ini bayinya. Ada satu hal yang bisa mengikatnya. Perlahan air mata menetes dari ujung mata. Mamori yang tidak sadar akan itu segera langsung menyekanya.

"Kenapa aku ini?" lirihnya sedih walau berusaha tersenyum untuk dirinya.

Suara pintu kamar terbuka dan Mamori melihat Hiruma disana.

"Sudah bangun, heh?" tanya Hiruma sambil membuka jaketnya.

Mamori berusaha tenang dan menghindari pandangan Hiruma. Walau tahu dirinya bukan siapa-siapa, Mamori berusaha keras untuk tidak bertanya.

Hiruma duduk di samping Mamori sambil memperhatikannya. "Kau lapar?"

Mamori menggeleng.

"Keh kalau kau tidak lapar. Tapi aku lapar. Jadi sekarang sebaiknya kau bangun dan ganti bajumu."

Mamori pun menurutinya dan berjalan kamar mandi. Beberapa saat setelah Mamori masuk, terdengar suara ketukan pintu. Hiruma lalu mengintip dari lubang dan melihat salah satu anggota timnya. Dia kemudian membukanya.

"Kau meninggalkan ini Kapten," ujarnya sambil menyodorkan dompet Hiruma.

Hiruma lalu menerimanya.

"Kita mau sarapan di luar. Apa kau mau ikut?" ajaknya.

"Tidak. Aku akan keluar bersama istriku," jawab Hiruma.

Lineman itu tersenyum. "Sepertinya dia sudah tidak marah lagi ya. Kalau begitu, sampai nanti Kapten," sahutnya kemudian berjalan menuju lift bersamaan dengan Hiruma yang menutup pintunya kembali.

"Ada siapa?"

Hiruma menoleh melihat Mamori yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya.

"Anggota Timku."

Mamori mengangguk angguk mengerti. "Ada apa kesini?"

"Dia ingin mengajak makan," jawab Hiruma lagi kemudian berjalan melewati Mamori yang masih berdiri di depan kamar mandi.

"Kenapa kau tidak ikut saja. Aku masih belum lapar."

Hiruma menghentikan langkahnya dan kembali menghadap ke Mamori. "Kau memang tidak lapar, tapi aku ingin memberi makan bayi itu."

Mamori menunduk melihat perutnya. "Dia juga masih belum lapar," jawabnya polos.

"Tahu dari mana, heh?"

"Aku yang mengandungnya," jawabnya sambil tersenyum.

Hiruma memasang wajah kesalnya. "Jangan mendebatku. Sekarang cepat bersiap-siap," sahutnya langsung masuk ke kamar mandi.

Mamori hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

Edo Yukina terbangun kesal dari tidurnya. Dia melempar bantal dan menendang selimutnya sambil berteriak meluapkan kekesalannya. Dia teringat kejadian semalam. Ketika dia merasakan kemenangan saat Hiruma mengajaknya bertemu. Ketika dia pikir dia akan menghabiskan malam bersama Hiruma. Dan saat itu pula Harga dirinya seakan terjatuh saat Hiruma datang untuk menolaknya. Menohok langsung di depan wajahnya.

Apa sebegitu berharganya wanita itu. Yukina bahkan tidak pernah mendengar namanya, apalagi melihat keberadaannya di samping Hiruma. Dimana wanita bernama Mamori itu selama ini. Hiruma tidak pernah membahasnya. Lelaki itu tidak bisa dimiliki. Dia lelaki yang tidak akan bisa terikat dengan pernikahan. Tapi kenyataannya, sekarang dia sudah menikah. Dan Yukina tahu pasti, bahwa Hiruma benar-benar mencintai wanita itu.

.

.

"Aku sudah menunggumu," sahut Yukina sambil tersenyum menggoda. Dia lalu menutup pintunya segera setelah Hiruma masuk ke dalam.

Hiruma lalu mengikutinya masuk ke dalam. Dia lebih memilh sofa yang terlihat nyaman walaupun Yukina menuntunnya ke tempat tidur.

Yukina menoleh melihat Hiruma. Dia kemudian tersenyum lagi dan mengambil tempat di sebelah Hiruma. Dengan gaun malam hitam yang dikenakannya saat ini, Yukina menyilangkan kedua kakinya dan mendekat rapat ke Hiruma. "Kau mau minum sesuatu sebagai permulaan?" tawarnya.

"Kau tahu, heh, aku kesini bukan untuk main-main denganmu," sahut Hiruma sambil menyingkirkan tangan Yukina yang terus membelainya.

"Kalau kamu hanya ingin bicara, kenapa mengajak bertemu disini?" godanya dengan berbisik tepat di wajah Hiruma. "Tidak masalah kalau kamu ingin bicara. Kita bisa melakukan keduanya sekaligus."

"Keh," balasnya. "Pertama jangan ganggu kehidupanku. Aku sudah menikah dan tidak ingin mendengar gosip-gosip murahan yang menyusahkanku."

"Apa kamu yakin itu pernikahan sungguhan?" uji Yukina masih tetap menggoda Hiruma.

"Kedua. Lupakan semua yang sudah terjadi. Jangan berani mengancamku dan jangan menghasut istriku dengan itu. Dia tidak akan terpengaruh," lanjutnya, kemudian langaung bangun dari duduknya sambil membetulkan jaket hitamnya. "Kau sudah paham yang kukatakan barusan?"

Yukina hanya terdiam melihat reaksi Hiruma.

"Aku pergi."

"Tunggu," cegahnya sambil menggengam tangan Hiruma dengan kedua tangannya. "Apa kamu serius Youichi?"

"Kau pikir aku hanya bercanda, heh?"

"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku. Kamu tidak boleh meninggalkanku begitu saja. Apa yang tidak aku miliki dibandingkan wanita itu? Aku juga mencintaimu."

"Sayangnya aku tidak pernah tahu rasanya mencintai wanita lain," sahutnya.

Yukina tertegun mendengar jawaban Hiruma yang diluar dugaannya. "Apa kamu... mencintainya, Youichi?"

Beberapa saat Hiruma terdiam mendengar pertanyaan itu. "Ya. Sangat," jawabnya, lalu melepaskan tangan Yukina dan pergi meninggalkannya di dalam keheningan.

.

.

Menemani Hiruma latihan hari ini, menjadi pilihan terakhir bagi Mamori di saat dia punya kesempatan untuk mengunjungi Korea. Mengingat bagaimana kemarin dia hanya menunggu kedinginan di bangku penonton, ditambah ada seseorang yang mengganggu ketentraman hatinya. Karena itu, sekarang Mamori memilih untuk jalan-jalan mengunjungi objek wisata di sekitar hotel. Tentunya tidak sendirian. Dia ditemani oleh supir yang waktu itu menjemput mereka di bandara.

Setelah akhirnya dia menemukan oleh-oleh untuk teman-temannya di Fukuoka, matanya bertemu dengan toko kue di seberang jalan. "Kita kesana dulu, Yoshihada-san," sahutnya girang menunjuk toko yang beruntungnya tidak bertuliskan huruf Korea. Jadi Mamori bisa mengerti toko apa itu.

"Tunggu disini saja sebentar," ujarnya lagi kepada Yoshihada. Mamori lalu masuk ke dalam toko.

Jika seseorang yang gemar membaca, perpustakaan dan toko buku adalah surganya. Tapi bagi Mamori yang sangat menggilai kue sus, maka toko yang penuh dengan kue sus dengan beraneka rasa inilah surganya. Mata Mamori tidak lepas dari kue-kue yang terpampang di etalase dengan sangat cantik.

"Ada yang bisa saya bantu?" sahut penjaga toko dalam bahasa Korea.

Mamori yang tersadar, langsung tersenyum. Dia lalu berkata dalam bahasa Inggris menunjuk beberapa kue yang dipilihnya.

"Terima kasih," sahut Mamori tersenyum. Dia lalu keluar toko dengan membawa dua kotak berisi kue sus. "Untukmu Yoshihada-san. Terima kasih sudah menemaniku."

"Tidak perlu repot-repot Hiruma-san. Tapi terima kasih," balasnya. Mereka lalu kembali berjalan menuju tempat parkiran mobil.

Lima belas menit Mamori sampai ke hotelnya. Dia berjalan di lobi dengan kedua tangan yang penuh dengan kantung belanjaan. Dua kantung di tangan kanan, satu kantung ditambah kotak kue sus di tangan kiri. Mamori menolak dibawakan oleh Yoshihada karena dia sudah banyak merepotkannya dari tadi. Mulai dari mengantarkannya dengan mobil, sampai ikut berkeliling di pusat perbelanjaan. Jadi sekarang, Mamori akan membawa barang belanjaan dia sendiri.

Di kala suasana hatinya yang sedang senang, tiba-tiba Mamori harus berhadapan dengan wajah yang paling tidak ingin dia temui. Yaitu wanita bernama Edo Yukina, yang mengaku sebagai kekasih Hiruma. Walau dalam hati Mamori tampak jengkel, namun di wajahnya, Mamori memperlihatkan senyum yang paling tegar.

"Wah... kebetulan yang tidak terduga kita bisa bertemu disini," ujar Yukina.

Mamori hanya balas tersenyum sambil menundukkan kepala. Dia tidak menghentikan langkahnya dan terus berjalan melewati Yukina.

"Jam berapa Youichi kembali ke hotel semalam?" sahut Yukina, menghentikan langkahnya dan menoleh melihat punggung Mamori.

Mamori pun perlahan berhenti. Tidak tahu harus membalas apa. Yang dia tahu, ternyata semalam Hiruma memang benar bersama wanita ini.

"Oh. Jangan-jangan kamu tidak tahu kalau dia semalam bersamaku di kamar hotel?" sambungnya lagi, merasa puas.

Mamori benar-benar tidak bisa berkata-kata. Dia tidak menoleh dan tidak bersuara. Pikirannya sibuk mencerna mendengar perkataan itu. Seolah sampai ke dalam jantungnya, dan menyayat langsung menyakitinya. Entah karena apa, mendengar itu membuat Mamori terluka.

"Tolong bilang padanya," lanjut Yukina. "Aku akan kembali ke Jepang. Jadi sampai jumpa lagi disana."

Mamori menarik napas menenangkan perasaannya. "Sudah itu saja yang mau kau katakan?" Akhirnya Mamori membuka suara. "Kalau begitu aku permisi." Tanpa menoleh, Mamori meneruskan langkahnya menuju lift. Dia sudah tidak kuat. Dia sudah tidak peduli lagi dengan apapun. Dia sudah tidak mau dengar tentang wanita itu, tentang Hiruma, dan tentang hubungan mereka.

.

.

Rasanya tidak karuan. Rasa pusing, mual, serta pikiran dan hatinya yang kacau balau sudah tidak bisa Mamori kendalikan. Sekarang dia hanya berbaring setelah pulang tadi. Setelah dia bertemu wanita itu dan mendengarkan sesuatu yang tidak enak dari mulutnya.

Mamori tidak tahu kenapa dia harus merasa menderita seperti ini. Bukankah dia sudah tahu lelaki macam apa yang sudah dinikahinya itu? Tapi kenapa sekarang rasanya sangat menyakitkan setelah mengetahui semuanya. Dia Hiruma Youichi. Seharusnya Mamori tahu hubungan apa yang mereka miliki sekarang. Seharusnya dia bisa menerimanya. Seharusnya dia tidak melibatkan perasaannya. Tapi kenapa sekarang ini dadanya terasa sesak dan tangisannya tidak mau berhenti.

Mamori benci dirinya yang seperti ini. Dirinya yang tidak bisa mengontrol perasaannya dan dirinya yang tidak tahu kenapa dia bisa seperti ini. Dia tidak mau seperti ini. Dia sedang mengandung. Semua ini hanya akan menganggu kesehatan bayinya.

Suara pintu kamar terbuka dan tertutup kembali, diikuti dengan suara langkah kaki. "Kau sudah pulang, heh?"ujar Hiruma yang melihat Mamori berbaring sambil memunggunginya. "Aku meneleponmu berkali-kali kenapa tidak kau jawab."

Mamori masih membisu dan berusaha mengatur napasnya yang terisak sambil memejamkan mata.

Hiruma meletakkan tas tentengannya dan melepaskan jaket kemudian menyampirkannya ke kursi. Dia masih tetap memperhatikan Mamori. "Kau tidur?" tanyanya lagi.

Mamori masih tidak menjawabnya.

Namun insting Hiruma tidak dapat dibohongi. Dia merasa ada sesuatu terjadi dengan Mamori. Dia lalu mengitari tempat tidur dan sekarang dia bisa melihat sepenuhnya wajah Mamori. Terlihat wajah yang merah, dan bekas air mata disana. Hiruma kemudian duduk sambil mengguncang perlahan pundak Mamori. "Apa yang terjadi, heh? Apa kau terluka? Apa ada yang terasa sakit?"

Mamori balas menggelengkan kepala.

"Bangunlah. Bicara padaku," sahutnya, terdengar kesal dan khawatir dari suaranya.

Masih dengan isakannya, Mamori perlahan membuka mata. Dia melihat Hiruma. Seketika tangisan Mamori langsung meledak lagi saat melihat Hiruma, melihat raut wajahnya yang menampakkan kekhwatiran.

"Sialan Mamori! Bicaralah padaku. Jangan menangis seperti ini!"

Mamori pun bangun dan langsung memeluk Hiruma. Dia memeluknya erat seolah takut Hiruma akan menghilang dari pandangannya.

Mendapati Mamori yang memeluknya seperti ini, membuat Hiruma kaget dan membeku seketika. Tangannya ragu untuk menyentuh Mamori. Namun akhirnya, tanpa kata-kata Hiruma kemudian membalas pelukan Mamori. Dia memeluknya sama erat sambil berusaha untuk menenangkannya. Hiruma membelai dengan halus rambut Mamori. Mendapati perasaan nyaman dengan memeluknya seperti ini, Hiruma lalu menghela napas pasrah karena tidak tahu alasan kenapa Mamori menangis.

Sementara itu, Mamori masih terisak tiada henti. Awalnya Mamori tidak tahu, kenapa dia bisa sampai memeluk Hiruma. Tapi karena melihat wajah itu, karena tahu Hiruma sudah berada di sisinya lagi, Mamori langsung memeluknya. Dan seketika itu dia baru menyadarinya. Alasan kenapa dia menangis seperti ini. Alasan kenapa dia tidak mau melepaskan pelukannya ini. Karena saat ini, Mamori menyadari, kalau dia mencintai Hiruma. Dia ingin memilikinya dan tidak ingin membaginya dengan wanita lain.

Dan sekarang entah Mamori harus berbuat apa agar bisa memilikinya. Agar Hiruma juga balas mencintainya.

.

.

Catatan Kecil :

Aku tidak berniat untuk mengaduk-aduk perasaan kalian. Sungguh

XD

Please Review and Support-nya guys~ !