Remake Story by Phoebe

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Others

[Chanbaek]

.

.

.

.

.

.

Baekhyun melangkah turun dari sebuah taksi yang mengantarnya sampai di pinggir jalan depan apartement. Hari ini kegiatan yang dilakukanya sangat padat. Bahkan ia juga bertemu dengan Minseok dan meminta maaf karena sudah membiarkan Minseok menanggung masalahnya sendiri. Semula Minseok agak sedikit marah, tapi pada akhirnya wanita itu mengakui kalau semua itu adalah salahnya dan meminta maaf karena sudah membuat Baekhyun terlibat. Satu hal lagi yang membuat Baekhyun merasa semakin lega. Ia sangat ingin bercerita kepada Chanyeol tapi sayang Chanyeol tidak bisa menjemputnya hari ini.

"Aku masih ada pekerjaan, Kau pulang sendiri ya? Naik taksi dan minta di antar sampai rumah. Jangan lupa sebelum masuk kedalam taksi perhatikan dulu nomor polisinya dan minta supir menunjukkan kartu identitasnya. Jadi kalau terjadi sesuatu, kita bisa tau harus menuntut siapa!"

Kata-kata Chanyeol membuat Baekhyun tersenyum sepanjang jalan tadi dan ia melakukanya lagi kali ini. Kali ini Chanyeol lebih terdengar seperti seorang Ayah, dan Baekhyun sudah terlanjur menikmati semua perhatian Chanyeol yang selama ini berusaha dia tolak. Tidak pernah ada seorangpun yang bersikap seprotektif ini kepadanya, bahkan ayahnya sekalipun. Chanyeol adalah orang yang pertama.

"Byun Baekhyun!"

Seseorang memanggil namanya. Baekhyun menoleh dan mendapati seorang laki-laki dengan pakaian berwarna gelapnya berdiri di bawah lampu jalan. Tangan kananya menenteng serangkaian minuman kaleng dalam jumlah yang cukup banyak. Laki-laki itu adalah Kim Jongin, orang yang pernah menduduki peran penting dalam hidupnya. Jongin membuka topi yang selalu di kenakanya lalu menyodorkan kaleng-kaleng minuman itu kepada Baekhyun.

"Kau mau menemaniku minum? Kau tidak sedang kelelahan karena baru pulang kerja, kan?"

Baekhyun mengusahakan sebuah senyum. Ia menggeleng lalu mendekati Jongin dan keduanya duduk di trotoar yang di terangi lampu jalan. Baekhyun membuka kaleng pertamanya dan minum beberapa tegukan. Jongin juga melakukan hal yang sama, tapi frekuensi minumnya nyaris tanpa jeda sehingga dalam waktu yang singkat ia sudah menghabiskan dua kaleng tanpa bicara apaapa. Sekarang Jongin sedang menggenggam kaleng ketiganya.

"Aku mengikutimu beberapa hari yang lalu. Ternyata kau tinggal disini!" Jongin akhirnya memulai pembicaraan. "Kau tinggal bersama laki-laki. Apa hubunganmu denganya?"

"Dia," Baekhyun tampak memikirkan jawabanya sekejap lalu memandang lurus kedepan jalaanan yang nyaris sepi. "orang yang pernah ku ceritakan waktu itu, ayah dari calon bayiku. Sayangnya anak itu tidak sempat lahir ke dunia!"

Sebuah senyum tipis tersungging di sudut bibir Jongin.

"Dia masih terlalu muda untuk menjadi ayahmu, Kan?"

"Muda apanya? Kau tidak lihat kerutan di wajahnya? Dia juga selalu bersikap seperti seorang ayah."

Perkataan Baekhyun membuat Jongin tersenyum sekali lagi. Ia lalu menenggak habis kaleng minumanya dan segera menggantinya dengan yang baru. Sesekali ia melirik ke kaleng yang di genggam Baekhyun, masih kaleng yang sama dengan yang di bukanya pertama kali.

"Belakangan ini kau tidak datang ke coffee shop lagi. Kau kemana saja?"

"Untuk apa aku kesana lagi!" Suara Jongin terdengar dingin.

"Kopi buatanmu sudah sempurna!"

"Ya?" Baekhyun tampak kaget. Selama ini Jongin tidak pernah memuji kopi racikanya sama sekali.

"Perasaanmu pasti sudah lebih baik. Kopi yang enak hanya bisa di hasilkan oleh perasaan yang bagus. Selama dua tahun aku menanti saat-saat dimana kau menyajikan kopi yang sempurna untukku, kau tidak pernah melakukanya sejak pertama kali."

Baekhyun mengangguk-angguk mengerti. Belakangan ini perasaanya memang sudah lebih baik. Selama ini, meskipun semua orang mengatakan kalau kopi racikanya sangat enak, bagi Jongin itu sama sekali belum sempurna. Jadi, karena itu Jongin terus datang ke coffee shop? Untuk menantikan Baekhyun menyajikan kesempurnaan itu padanya.

"Kapan aku mulai menyajikannya dengan rasa yang sempurna?" Tanya Baekhyun.

"Sejak kopi pertamaku di tumpahkan oleh laki-laki yang memaksamu memanggilnya suamimu. Kopi pertama itu masih sama seperti sebelumnya, lalu dia menggantinya dengan kopi baru racikanmu sebagai permintaan maaf. Kopi kedua itu, yang terbaik!"

Suasana menjadi hening kembali. Baekhyun memandangi Jongin dengan perasaan yang aneh. Ada sesuatu yang di sembunyikanya.

"Kai!"

Jongin spontan memandang Baekhyun yang juga memandangnya. Ia terkejut karena pertama kalinya setelah dua tahun Baekhyun memanggilnya dengan sebutan itu lagi.

Ada yang ingin kau katakan padaku? Batin Baekhyun. Ia hampir mengatakanya tapi segera mengurungkan niatnya dan menggantinya dengan kata-kata lain. "Aku sudah melihat berita tentang kematian kakakmu di televisi. Aku turut berduka atas kepergian Junmyeon, kau pasti sangat kehilangan karena aku tau, kau selalu menyayanginya!"

"Seharusnya kau senang dengan kematianya. Dia yang sudah membuat hidupku kacau, hidupmu juga. Selama ini kita selalu berusaha membenahinya bersama-sama, tapi melihatmu…" Jongin terdiam dan menunduk beberapa lama. Ia lalu menengadah ketika merasa kalau ada seseorang yang berdiri di hadapanya. Chanyeol bertolak pinggang memandanginya dan Baekhyun secara bergantian dengan mata yang membesar.

"Kau siapa!" Tanyanya. "Ini sudah jam berapa? Kenapa kau mengajak seorang perempuan muda minum-minum di pinggir jalan pada jam begini?"

Baik Jongin maupun Baekhyun bediri seketika untuk menyeimbangkan diri dengan Chanyeol yang kelihatanya berang.

"Aku hanya ingin mengajaknya bicara!" Jawab Jongin

"Kalau ingin bicara lihat waktu! Kau tidak perlu mengajaknya minum-minum seperti ini." Chanyeol lalu memandang Baekhyun. "Kau tau kalau minuman keras tidak baik bagi perempuan?"

"Aku bahkan belum menghabiskan satu kaleng!" Jawab Baekhyun pelan.

"Tetap saja minum-minuman seperti itu berbahaya. Jangan pernah kau melakukan ini lagi. Aku tidak mau melihatmu minum-minuman seperti ini lagi. Berjanjilah!"

Baekhyun menunduk. "Baiklah, aku akan jadi anak baik dan tidak akan minum-minuman seperti itu lagi!"

Jongin memandangi ekspresi langka Baekhyun kali ini, sejak kapan Baekhyun kalah terhadap seseorang? Baekhyun bahkan tidak pernah seperti ini denganya. "Dia tidak bersalah, aku yang mengajaknya!" Jongin berusaha membela.

Tatapan mata Chanyeol kemudian berpindah kepadanya. "Hei anak muda, siapapun kau, apapun hubunganmu dengan Baekhyun, bersikap baiklah! Kalau ingin bicara denganya datanglah untuk menjemputnya secara baik-baik ke rumah. Kau lihat gedung ini? Kami tinggal di lantai tiga." Chanyeol lalu mengeluarkan ponselnya dan memotret wajah Jongin dengan blitz yang menyilaukan, Jongin terlihat sangat terkejut. "Kau jangan tersinggung! Aku gampang melupakan orang jadi aku mengambil fotomu untuk mengingat-ingat kalau-kalau kau datang ke rumah dan menjemput anak ini! Sekarang sudah saatnya kalian berpisah!"

Jongin mengangguk. Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat Chanyeol memerintahkan Baekhyun untuk masuk bersamanya dan Baekhyun benar-benar mengikutinya tanpa paksaan. Jongin lagi-lagi menyunggingkan sebuah senyum sekali lagi dan kembali duduk untuk menghabiskan minuman yang di bawanya.

.

.

.

.

.

Chanyeol duduk di depan televisi seperti biasa. Weekend seperti ini selalu di habiskanya dengan cara yang sama karena Ia tidak tau harus kemana dan melakukan hal apa.

"Aku pergi kerja dulu. Minta uang!" Baekhyun berdiri di hadapan Chanyeol yang kelihatanya sedang melamun meskipun kedua matanya terarah ke televisi. Ia sengaja mengadahan tanganya di depan wajah laki-laki itu agar Chanyeol segera terbangun dari lamunanya dan menyadari kalau Baekhyun sudah berdiri di hadapanya sejak tadi. Kesadaran Chanyeol kelihatanya kembali pulih. Laki-laki itu mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Baekhyun dengan lebih jelas. "Kau mau berangkat kerja? Ini sabtu. Kau tidak bekerja pada hari ini. Mau main-main ya? Atau cuma cari-cari alasan supaya bisa pergi dengan laki-laki yang tadi malam?"

"Aku harus ke café untuk menggantikan temanku. Kemarin sewaktu kau sakit dia sudah menggantikanku untuk masuk kerja. Sekarang giliranku membayar hutang!"

Chanyeol berdecak. Kelihatanya ia masih belum sepenuhnya percaya, tapi ia tetap mengambil uang di saku celana katunnya dan memberikanya kepada Baekhyun dengan jumlah yang sama seperti biasa. "Sarapan dulu. Di atas meja ada sandwich!"

Baekhyun memasukkan uang jajanya kedalam tas dan berjalan mendekati meja makan beberapa potong sandwich ada di sana dengan aroma yang lumayan menggoda. Ia duduk dan menikmati sandwichnya pelan-pelan. Selama bersama Chanyeol Baekhyun sama sekali tidak pernah kelaparan.

"Laki-laki semalam itu siapa?"

Baekhyun memandang Chanyeol yang bertanya tanpa memalingkan wajahnya dari televisi. Semuanya bisa panjang kalau di ceritakan dan ia tidak akan menjamin kalau Chanyeol tidak akan ikut campur. Laki-laki itu selalu suka mengurusi urusan Baekhyun dan untuk kali ini Baekhyun berusaha menghindar sebisa mungkin. Ia membawa potongan sandwich sebagai bekal sarapanya di jalan. "Teman!"

Chanyeol diam sebentar. Baekhyun kemudian meminum segelas susu yang di ambilnya sendiri dalam kulkas lalu berjalan kedekat pintu untuk mengambil sepatunya. Ia membawa high heels nya kedekat Chanyeol dan memakai high heelsnya. "Aku pergi dulu ya?"

"Pulang lebih cepat ya? Aku sendirian di rumah!"

"Aku tidak bisa janji."

Chanyeol mendengus. "Kalau begitu jangan pulang sekalian sebelum malam. Aku akan cari orang lain untuk menemaniku!"

Chanyeol kemudian mengambil ponselnya di atas meja dan menghubungi seseorang.

Sayup-sayup terdengar suara perempuan yang menyapa Chanyeol dengan gembira.

"Kau ada waktu? Nanti ku jemput ya? Kita seharian ini mengobrol di rumahku saja…tidak, rumahku kosong…oh, jangan Khawatir. Tidak akan ada yang berani mengganggu kita!"

Baekhyun menggigit bibirnya. Manis sekali nada bicara Chanyeol kepada lawan bicaranya di telpon. Baekhyun sangat yakin kalau dirinya mendengarkan suara seorang wanita. Kau menghubungi siapa? Fikir Baekhyun geram.

.

.

.

.

.

"Siang sekali kau datang! Aku sudah lapar dan menanti ada seseorang yang memasak untukku!" Chanyeol mengeluh saat melihat Kyungsoo yang datang terlambat ke taman dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya di Seoul.

Kyungsoo tersenyum lembut. "Aku, kan sudah menelpon kalau aku punya urusan mendadak. Aku juga tidak bisa ikut kau kerumahmu, Chanlie! Tapi aku membawakan ini!"

Senyum Chanyeol mengembang. Kyungsoo membawa sebuah kotak makanan besar berwarna merah tua dan meletakkanya kepangkuan Chanyeol. Dengan semangat Chanyeol membukanya dan melihat sushi yang menggiurkan ada di dalamnya. "Wah, sudah lama aku tidak makan Sushi. Kau yang membuatnya?"

"Tidak. Aku membelinya agar kita bisa makan siang bersama disini. Aku tidak bisa masak Sushi!" Jawab Kyungsoo jujur. Ia lalu mengorek-ngorek tasnya dan mengeluarkan dua pasang sumpit kayu yang juga di dapatnya dari restoran Jepang dimana ia membeli sushi. Sepasang sumpit di berikanya kepada Chanyeol dan yang sepasang lagi untuknya. "Ayo makan. Aku sudah lapar!"

Chanyeol dengan senang hati menerimanya. Ia memakan Sushi beberapa potong dengan lahap. "memangnya kau mau kemana setelah ini?"

"Chanlie, kau juga pernah muda kan? Untuk apa bertanya?" Chanyeol mendesis. "Masa mudaku tidak seperti kalian. Kau mau pergi pacaran kan? Aku tidak pernah mencintai orang dengan serius pada masa mudaku karena seumur hidupku hanya memikirkan Baekhyun yang meninggalkanku. Aku lebih suka mencari teman dan sampai sekarang aku sudah mengumpulkan teman dalam jumlah yang banyak!"

"Wah, kalau begitu katakan padaku, apakah Baekhyun adalah cinta pertamamu?"

Chanyeol mengunyah makananya lebih pelan. "Ah, sudah! Untuk apa aku memberi tau? Aku ingin bertemu denganmu karena mau menanyakan sesuatu!"

"Sesuatu tentang Baekhyun? Kau bahkan belum bercerita kepadaku bagaimana kalian bisa tinggal bersama. "

"Karena aku fikir setidaknya kau tau sesuatu!" Chanyeol kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku Jas dan memperlihatkan sebuah foto kepada Kyungsoo. "Laki-laki ini. Siapa? Kau tau sesuatu?"

Melihat foto itu, wajah Kyungsoo langsung berubah. "Dia?"

"Dia bersama dengan Baekhyun semalam, mereka minum-minum di pinggir jalan. Aku sangat penasaran dengan orang ini, beberapa kali aku melihatnya di coffe shop tempat Baekhyun bekerja. Sebenarnya dia siapa?"

"Chanlie, Kau benar-benar ingin tau?" Tanya Kyungsoo masih dengan suara pelan.

"Tentu saja!"

"Baiklah, Namanya Kim Jongin. Barista senior berdarah Italia. Laki-laki ini juga Senior di kampus kami, satu jurusan dengan Baekhyun. Dia dan Baekhyun sempat menjalin hubungan beberapa bulan. Pada awalnya mereka memang tinggal bersama, tapi hanya beberapa bulan. Lalu Jongin kembali tinggal bersama kakaknya Junmyeon dan Baekhyun tinggal bersamaku, sampai akhirnya mereka berpisah dan Baekhyun meninggalkan flat yang kami sewa bersama untuk tinggal seorang diri."

Chanyeol mendengarkan dengan Konsentrasi. Junmyeon? Chanyeol seperti pernah mendengar nama itu, tapi ia sama sekali tidak bisa ingat dimana. "Kejadian apa? Bagaimana bisa Baekhyun dekat dengan laki-laki itu?"

"Kau masih tidak ingat Chanlie? Semuanya karenamu. Kau yang menyebabkan Jongin dan Baekhyun berkenalan, Kau yang menyebabkan Jongin berusaha melindungi Baekhyun sebisanya, menghiburnya dengan Capresso C3000 yang menginspirasinya untuk jadi barista seperti sekarang!"

Kening Chanyeol berkerut berlipat-lipat, karena dirinya? "Ada apa ini? Ceritakan semuanya padaku!"

.

.

.

.

.

.

TBC

READ , REVIEW , FAV PLEASE?