CHAPTER 10

..

..

..

Matahari bersinar dengan terik, angin musim semi membawa beberapa kelopak bunga yang berjatuhan, bau dari tanah yang di basahi embun, juga bau hutan dengan bunga bermekaran mendominasi suasana tenang dan damai di kerajaan Clarines.

Beberapa pedagang masuk untuk menjual hasil panen pertama dimusim semi, beberapa anak-anak menitipkan bunga-bunga cantik bukan untuk kedua pangeran, tapi untuk wanita berambut musim semi yang masih setia dalam tidur panjang nya, SakuraHaruno.

Sebulan sejak perang besar yang terjadi di kerajaan Fluther, sejak Oldtree mengalahkan saudaranya, ia memutuskan untuk tinggal bersama Frankie dan menyerahkan wilayah Fluther pada pihak Clarines, ia mengatakan bahwa ia akan senang jika Izana membuatkan sebuah kastil untuk Sakura.

Oldtree bahkan tidak menaruh dendam ketika anak nya terbunuh dalam pertempuran, ia menyalahkan dirinya, karena ketidakbecusan dari dirinya sebagai ayah Luna Oldtree menjadi jahat dan memilih jalan nya untuk mati bersama dengan William, kemudian mereka membebaskan Sandra yang terkurung di penjara bawah tanah, termasuk Haruka.

Kini Zen memerintah kerajaan seperti sebelumnya, Zen menerima dengan tangan terbuka orang-orang dari hutan terlarang, memberikan mereka tempat tinggal yang layak juga pekerjaan yang mereka inginkan.

Musim semi terasa sangat indah dan menyenangkan, sesekali Frankie, Ami, dan Nina juga teman-teman Sakuramengunjungi nya, berharap Sakuraakan bangun dari tidur nya.

Dalam pertempuran beberapa minggu lalu, Sakurasekarat karena tusukan belati yang di bubuhi oleh racun, namun Ryu, Shirayuki dan yang lain segera melakukan pertolongan pertama hingga kondisi Sakurastabil.

Izana tidak pernah membiarkan Sakurasendiri, Izana menerima bunga-bunga yang di bawakan oleh anak-anak dari luar gerbang, ia juga mengizinkan beberapa orang dari hutan terlarang untuk menemani Sakuraketika ia sedang mengurusi masalah kerajaan, itu adalah Ami dan Nina yang masih setia menemani Sakura.

Hari ini Sakuramasih tidur dalam diam, Izana hanya menatap wanita bersurai musim semi itu, ia menunggu Sakura, terus menunggunya.

Tiba-tiba Izana teringat ketika pertama kali ia bertemu dengan Sakura, satu hal yang Izana tau, menunggu bukanlah hal yang mudah.

Ini pertama kalinya ia menunggu, ia menunggu dalam kurun waktu yang lumayan lama, menurut dirinya.

Izana menggenggam tangan Sakura, membawa kehangatan pada tangan Sakura, Izana menekuri luka-luka Sakurayang mulai pulih, perban nya hanya sebagian dipakai pada perut dan dahi nya.

Ia kembali meneteskan cairan yang terhubung di nadi Sakura, kepala apoteker meresepkan cairan itu pada Sakura, cairan yang di buat dari kantung minuman diberikan selang juga terdapat jarum yang menusuk di nadi Sakura, memberikan akses langsung untuk nutrisi nya.

Hanya 60 tetes per satu jam, jadi ia harus meneteskan cairan itu dengan hitungan yang pas, agar Sakuramemperoleh nutrisi, dia akan bergantian dengan Shirayuki, Kiki, obi dan yang lain untuk menjaga Sakura.

Orang-orang di luar Istana membicarakan dirinya, banyak wanita dan anak-anak yang mengagumi Sakura, karena pada saat kejadian mereka melihat aksi Sakura, meskipun Sakurabukan berasal dari dunia ini mereka tetap mengagumi Sakura, mereka selalu mengirimkan doa atau bunga-bunga.

"Sakura... kita akan memasuki puncak musim semi, sampai kapan kau akan tertidur, padahal aku berencana untuk melakukan perjalanan dengan mu, kita akan pergi ke mana pun kamu mau."

Izana mengecup punggung tangan Sakura, ia selalu menyukai harum nya wanita itu, Izana menjaga Sakuraagar tetap rapih dan segar, ia selalu berbicara pada Sakuradan bercerita tentang dirinya, itu hal yang belum pernah ia utarakan pada Sakura.

"Di barat daya Clarines adalah daerah yang indah, disana banyak tumbuh bunga juga beberapa tumbuhan langka, aku pernah pergi kesana ketika melakukan perjalanan, aku menemukan desa di tepi danau, danau itu begitu indah berwarna hijau karena lumut yang tumbuh di dalam nya, juga airnya yang sangat jernih tertimpa matahari membuatnya berkilauan, saat melihat mata mu aku selalu teringat dengan danau itu, dan aku mulai merindukan tempat itu ..." ucap Izana menerawang ke arah jendela, ia memutar memori nya ketika melakukan perjalanan memperluas wilayah Clarines.

Izana menghela napas pelan, ia kembali menciumi punggung tangan Sakura"tapi jika kamu masih tetap pada tidur panjang mu, aku akan selalu menunggu mu, aku akan selalu berada di samping mu, Sakura..." sambung Izana melihat wajah cantik Sakura, ia membebaskan helaian rambut yang menutupi wajah wanita itu.

Kemudian dengan lembut Izana mengecup kening Sakura, ia menyentuh sebelah pipi Sakuradengan jemarinya, hanya dingin yang ia rasakan.

Izana sangat kesepian, ia sudah melakukan semua cara agar Sakurabangun dari tidurnya, namun tidak ada cara yang bisa membangunkan wanita ini.

Sekali lagi, untuk sekali ini saja, Izana mengutuk keegoisan nya, bahkan ia akan menanggung dosa nya sendiri dan akan menerima apapun yang Sakuraucapkan ketika wanita ini bangun.

Izana mengecup bibir Sakura, dengan hati-hati dan lembut seolah-olah ia mampu merobek nya sewaktu-waktu.

Hanya dingin yang ia rasakan, namun ini sudah cukup, ini sudah lebih dari cukup untuk membuat Izana menguatkan dirinya, bahwa Sakuraakan bangun dari tidurnya.

Beberapa jam berlalu dengan cepat, Izana bahkan tidak beranjak dari kamar itu

Izana membetulkan posisi selimut Sakura, kemudian laki-laki itu memutuskan untuk melihat keadaan dari jendela yang sengaja ia buka lebar di kamar itu.

Seperti biasa Izana menatap ke arah luar, pandangan nya bertemu dengan langit sebiru mata nya, langit biru itu sama sekali tidak di gelayuti oleh awan, membentang luas sampai ke sisi hutan yang mengelilingi Istana, beberapa penduduk desa memasuki Istana dengan tertib sambil membawa gerobak yang berisi rempah-rempah atau bahan pokok yang mereka akan jual pada pihak kerajaan.

Lonceng kembali berdenting dengan keras membawa keramaian dan hiruk piruk Istana di siang ini, Izana melihat beberapa pengawal berjaga dengan tenang dan untuk saat ini suasana bisa di bilang terkendali, Izana akan menetap disini beberapa jam lagi sampai Shirayuki atau Kiki menjaga Sakura.

Tapi setelah hampir satu jam baik Kiki atau Shirayuki tidak kunjung datang, tidak lama seorang pengawal menyampaikan pesan bahwa keduanya sedang melakukan tugas yang diberikan oleh Haruka, Izana hanya mengangguk sebelum pengawal itu pergi meninggalkan nya yang masih mematung di jendela.

Izana memutuskan untuk meminta beberapa gelas air karena ia sangat haus, ia menghela napas kemudian berbalik untuk melihat wajah putri tidur nya.

Mata nya seketika melotot, lidahnya kelu yang ada dalam pandangan nya hanya wanita nya, yang duduk bersandar di tempat tidurnya, mata nya senyuman nya masih seperti dulu.

Izana segera menghampiri Sakura, ia duduk di pinggir tempat tidur, ia menatap Sakuralekat-lekat, ia melihat kembali warna mata yang ia rindukan, senyuman yang tidak pernah diberikan hanya untuk nya juga semburat merah muda di tulang pipi wanita itu.

"I-Izana ..." ucap Sakuramenyentuh pipi Izana, ia merasakan kehangatan yang menelusup di jemarinya, Sakurameringis ketika mengangkat tangan kanan nya yang di infus.

Izana memandang Sakuradengan penuh kerinduan, Sakuramerasakan tangan Izana yang melingkari bahunya, membawa Sakurake dalam pelukan hangat yang sangat ia rindukan.

Ia merasakan bahu Izana bergetar, Izana memeluk Sakuradengan erat, bahkan Sakurasampai kesulitan untuk bernapas.

"Izana ... aku baik-baik saja, aku tidak tau sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri, tapi ... senang bisa melihat kamu saat aku sadar ..." ucap Sakuramengelus helaian pirang Izana, Sakuramencium bau yang ia rindukan, ia memutuskan untuk diam dan memeluk Izana menenangkan nya.

Beberapa menit berselang, Izana sudah lebih tenang, Sakuratidak merasakan tangan atau bahunya bergetar hebat seperti sebelumnya, Sakuramembisikan kata-kata menenangkan bahwa keadaan nya sudah lebih baik.

Kini ia melihat Izana dalam pandangan paling dekat nya, tidak bisa Sakurapungkiri bahwa ia melihat jejak air mata juga bulu mata Izana yang masih basah, namun laki-laki itu sangat pandai menyembunyikan emosinya.

Sakuramemutuskan untuk melepaskan infus di tangan nya, dengan sedikit cakra luka itu sembuh tanpa bekas, ia menggerak-gerakan jari nya berusaha menghilangkan kram yang ada pada tangan nya.

"Aku sudah menunggu untuk bertemu dengan mu..." ucap Izana tulus, Sakuramenggenggam tangan laki-laki itu kemudian tersenyum, Sakurakembali memeluk Izana.

"Aku tahu,aku tahu itu, aku mendengar semuanya, ketika kamu duduk disamping ku, kamu mulai berbicara padaku, kamu bercerita dan berharap aku akan bangun dan melihat mu, aku tau, aku tahu itu ... Izana ..." ucap Sakurapelan, Sakurayakin Izana bisa mendengar nya.

Tidak ada kata-kata yang bisa Sakuraucapkan lagi, ia hanya terdiam membiarkan dirinya hanyut dalam semua kata-kata yang Izana ucapkan.

Ketika Izana mencium nya, entah mengapa ia seperti memiliki kekuatan untuk membuka mata nya, Sakurabisa melakukan nya ia bangun dan bisa melihat matahari terik yang masuk dari jendela kamar ini.

"Apa kamu menginginkan sesuatu?" ucap Izana pada Sakura, Sakuraterlihat berpikir kemudian ia duduk di tepi tempat tidur, ia memandang ke arah luar jendela.

"Aku ... ingin keluar, sepertinya ini musim semi." Ucap Sakuramenarawang ke arah langit berwarna jingga, Izana mengikuti arah pandang wanita itu.

Izana menggeser sofa panjang yang ada di kamar nya, ia membuka jendela yang berada pada ruang tamu di kamar itu, menghadapkan sofa panjang tepat di balkon depan kamar milik nya.

Kamar Izana menghadap langsung ke arah laut, sudah beberapa tahun ia tidak menikmati pemandangan dari sini, ia terlalu sibuk dengan semua tugas kerajaan.

Izana kembali ke tempat Sakura, wanita itu masih duduk mengenakan piyama putih dengan pita merah yang mengikat bagian leher nya, Sakuramemandang langit merah di musim ini.

Sakuramenoleh ke arah Izana ketika laki-laki itu datang berjalan dengan pelan ke arah nya, Izana mengenakan rompi putih dengan aksen rantai emas dengan berlian yang menggantung di dada nya, ia masih setia dengan pedang yang selalu berada di pinggang nya, biasanya Izana selalu mengenakan jubah formal berwarna putih namun untuk saat ini dia begitu santai dan menawan.

Sakuramenyukai Izana yang apa adanya, helaian pirang Izana mulai panjang,ia bahkan tidak repot untuk menggerai nya, sepertinya Sakuraharus memaksa laki-laki ini untuk memotong rambutnya, beberapa centi saja.

Kini Izana sudah berada di depan nya, Sakuramencoba bangun namun ia merasakan kaki nya kram, ini akibat dari racun yang ada di dalam tubuhnya, Sakuramenyerit kesakitan saat ia berdiri tegak, namun Izana segera mengaitkan tangan nya di pinggang Sakura, kemudian dengan cepat Izana menggendong Sakura, Sakuratidak bisa membohongi dirinya bahwa ia akan seterkejut ini, dengan ragu ia melingkarkan tangan nya, di leher Izana, mereka terlihat seperti pasangan yang sedang berbulan madu.

Izana membawa Sakuradan mendudukan Sakuradi sofa yang mengarah langsung ke halaman belakang Istana, Sakuraberbinar melihat laut yang berkilauan, rumah-rumah penduduk terlihat seperti objek kecil yang ia pandang, ia melihat hutan hijau yang ada di sekitar Istana, Sakuratersenyum senang.

Kemudian Izana kembali membawa mantel coklat, ia memakaian nya pada Sakura, wanita itu tidak menolak.

"Izana tolong bantu aku, aku ingin berdiri dan melihat matahari terbenam ..." ucap Sakuradi jawab anggukan Izana, laki-laki itu memapah Sakuradengan perlahan, Sakuramelingkarkan sebelah tangan nya ke pinggang Izana, dan memegang tangan laki-laki itu.

Ia tersenyum melihat matahari yang semakin mengecil, tenggelam di ujung lautan, bahkan tanpa Sakurasadari Izana terus tersenyum melihat tingkahnya dan sesekali mengecup ringan pucuk kepala nya.

"Sakura..." ucap Izana menatap Sakura, wanita itu masih antusias melihat matahari tenggelam, kemudian Sakuramenoleh ke arah Izana, Sakuramemegang trails yang terbuat dari besi dan di ukir dengan sedemikian rupa.

Izana berlutut di hadapan Sakura, Sakuramenyeritkan dahi nya, ia bingung dengan apa yang Izana lakukan, laki-laki itu seperti menyimpan sesuatu yang akan diutarakan nya sekarang, Sakuraberharap itu bukan hal yang buruk.

"Ketika aku bertemu dengan mu, aku sadar satu hal, aku sadar bahwa aku harus berjuang dengan apa yang ingin aku miliki, mempertahankan apa yang aku punya, dan tidak menunggu untuk suatu perbedaan yang belum aku coba, selama ini aku begitu kolot karena aturan Istana yang selalu mengikat diriku, namun ketika bertemu dengan mu ... itu terasa berbeda, aku merasa seperti lebih 'manusiawi' banyak hal yang kamu ubah dan kamu berikan ketika aku bersama mu, kamu benar bahwa aku tidak perlu menunggu cinta ku datang meskipun dia berbeda ... meskipun aku mengatakan ini untuk keegoisan ku, untuk diriku yang terlanjur ingin memiliki mu dan untuk hatiku yang dengan terpaksa memerintahkan kamu untuk berada disini ..."

Ucap Izana dengan suara lantang, Sakurabahkan ingin menghentikan apa yang Izana ucapkan, namun ia tidak tau harus berkata apa-apa, ia merasakan mata nya memanas dan berdenyut sakit.

"Sakura... aku Izana Wistaria meminta mu dengan semua yang aku punya, dengan semua yang menjadikan aku rapuh ... maukah kamu berada di sisi ku, untuk sekarang dan melihat masa depan bersama, berada di sampingku sebagai teman hidup ku." Ucap Izana meletakan pedang nya di depan nya.

Sakurasangat sadar bahwa ini adalah sebuah lamaran, Izana baru saja meminta nya untuk berada di sisi nya, namun ia benar-benar sebuah kejutan, jantungnya berdetak lebih keras dan kepala nya pening, Sakuramerasakan cairan bening menuruni pipinya.

Selama ini ia hanya menganggap ini seperti mimpi, wanita sepertinya memimpikan Izana, itu hal yang mustahil.

Andaikan Sakuradan Izana lepas dari perang tempo lalu, ia berharap Izana bahagia meskipun itu berarti Sakuraharus melihat Izana menikah dengan wanita lain.

Baginya mendapatkan balasan perasaan dari Izana adalah suatu hal yang luar biasa, namun sekarang laki-laki ini melamarnya, dengan suara lantang juga tatapan mata bersungguh-sungguh.

"Izana, aku mohon berdirilah ..." ucap Sakura, Izana berdiri menyamakan posisi mereka, Sakuramencengkram rompi Izana.

"Bagaimana bisa, bagaimana bisa Izana?!" ucap Sakurapenuh penekanan, Sakuratahu, ia sangat tahu tentang aturan yang Haruka selalu bacakan di hadapannya.

Kitab kebangsawanan bab 3 halaman 1567 tentang pernikahan.

"Jika seorang pangeran menikah dengan seorang bangsawan putri, maka nama pangeran itu akan menjadi nama baru bagi bangsawan putri yang di nikahinya, namun jika seorang pangeran menikah dengan gadis biasa maka nama gadis itu akan di sandang oleh pangeran dan gugur sudah kewajiban nya untuk menjadi seorang raja."

Sakuramengulangi aturan yang sudah Haruka bacakan berulang kali padanya, Izana bahkan tidak mempermasalahkan aturan itu.

"Aku dulu akan berkata hal serupa dengan mu pada Zen dan Shirayuki, namun kali ini aku akan menemukan jalan ku, aku tidak peduli jika aku harus melanggar aturan itu. Aku memiliki kemampuan bertarung dan aku bisa memburu hewan, aku pintar dalam politik dan bernegoisasi, aku bisa menghidupi mu dengan menjadi seorang pedagang, atau aku akan menjadi seorang petani, kita bisa hidup di pinggiran kota dan hidup sederhana, itu pun jika kamu mau..." ucap Izana tulus, bahkan Sakuratidak bisa membayangkan hal itu, Izana yang angkuh memegang cangkul dan memakai pakaian sederhana.

"Kamu bisa menjadi tabib atau seorang dokter di desa, aku akan membantu kamu dan akan menjaga kamu ..." sambungnya, Sakurasemakin merasakan hatinya di sayat, ia bahkan bisa merenggut Izana dengan sangat menyedihkan, bagaimana bisa seorang seperti Izana ingin hidup dengan nya, bahkan meninggalkan kehidupan dan nama nya.

Namun Sakurajuga sangat menantikan hal itu, ia pernah bermimpi untuk menikah namun impian nya sekedar impian anak-anak berusia lima tahun.

"Jika bukan kamu yang menjadi raja, untuk apa aku mempertaruhkan semuanya ketika perang, Izana ... aku ingin kamu bahagia, aku ingin kamu duduk di singgasana mu dengan banyak orang yang meneriaki nama mu, bagaimana bisa kamu memilih hidup bersama dengan ku, apa kepala mu terbentur puing-puing di Istana tempo lalu?!" ucap Sakurakini menangis, bahkan Sakuramembenci pilihan ini, ketika ia harus memilih kebahagiaan atau dia memilih untuk merelakan cintanya pergi, menukar kebahagiaan nya.

Izana mengecup bibir Sakuradengan lembut, jantung Sakurasemakin berdetak lebih kencang, angin malam berhembus pelan, lampu-lampu mulai di nyalakan namun ruangan yang mereka tempati masih gelap.

"Aku bukan orang bodoh yang terbakar api cinta dan memutuskan hal bodoh, Sakura... aku sudah memikirkan nya ..." ucap Izana mengelus helaian merah muda Sakura.

Sakurakembali memeluk Izana.

"Aku juga mencintai mu, aku ingin bersama mu, namun keputusan mu ini akan membuat semua orang terkena serangan jantung..." ucap Sakurajujur, Izana tertawa kecil ketika mendapati jawaban wanita itu.

Kemudian Izana kembali berlutut, ia mengambil sesuatu dari kotak kecil di tangan nya, itu adalah sebuh cincin yang terbuat dari emas putih, di tengah-tengah nya terdapat berlian dengan warna sebiru samudra, Sakuratertegun ketika Izana memakaikan cincin itu di jari manis nya.

"SakuraHaruno,bersedia kah kamu menikah dengan ku?" ucap Izana lagi pada Sakura.

"ya, aku bersedia ..." ucap Sakuratersenyum.

Bintang-bintang mulai bermunculan, bulan mulai naik menemani bintang-bintang seolah-olah membuat sebuah pertunjukan di langit malam.

..

..

..

..

..

..

..

..

Beberapa hari berlalu, semua orang dikejutkan dengan bangun nya Sakura, mereka sangat senang dengan kabar itu dan mengirimkan banyak bunga juga makanan musim semi ke Istana.

"Bagaimana keadaan kamu, Sakura?" tanya Shirayuki kini duduk di kursi berukuran sedang disamping Sakura, Sakuratersenyum masih berbaring di tempat tidur milik Izana.

"Sudah lebih baik, aku hanya belum bisa bergerak seperti biasa karena beberapa saraf juga persendianku masih kaku, karena efek racun." Ucap Sakuratenang, ia melihat Shirayuki yang masih memperhatikan dan mencatat perkembangan nya.

Sakurasudah melepas perban yang ada di perutnya, ia berterima kasih pada semua teman-teman yang membantu juga mendukung nya, mereka dengan sabar merawat dan menjaga Sakurabergantian ketika ia tidak sadarkan diri.

"Aku akan meresepkan beberapa antibiotic juga obat penghilang rasa sakit, mungkin ini akan membantu kamu dan membuat kamu menjadi lebih baik." Ucap Shirayuki berhenti mencatat pada lembar laporan miliknya, ia menyentuh dahi Sakurakemudian menghela napas lega.

"Setidaknya kamu tidak mengalami hipotermia, aku sangat takut jika suhu tubuhmu akan turun lagi, Sakura." Ucap nya masih dengan wajah yang tenang, Sakuratertawa pelan kemudian ia bangun dan duduk di tepi tempat tidur.

"Baiklah pemeriksaan hari ini sudah cukup kan, Shirayuki?" ucap Sakuradi jawab anggukan Shirayuki, wanita itu membantu Sakuraberdiri kemudian menepuk pelan bahu Sakura.

"Beristirahatlah lebih lama ... Pangeran Izana bisa memarahi kamu jika ia melihat kamu berkeliaran di Istana." Ucap nya memandang Sakuraserius, Sakuratersenyum kemudian mengangguk.

Shirayuki pamit dan pergi, ia berkata akan membawakan Sakuraobat yang ia resepkan secepatnya, Sakuraduduk di ruang tamu kemudian membaca buku yang tersusun di meja itu, beberapa buku yang di bawa Izana untuknya adalah tentang pengobatan juga pembedahan, itu cara Izana membuat Sakuraagar tidak berkeliaran di Istana.

"Nona muda ..." ucap suara familiar di telinga Sakura, ia menoleh kearah Balkon dan menemukan Obi duduk dengan santai di Balkon itu, Sakuratersenyum kemudian mengangguk.

"Obi, bagaimana kabar mu?' ucap Sakurasenang, sudah lama ia tidak menemui Obi, Obi berjalan dan duduk disamping Sakura, ia membolak-balikan sebuah buku ditangan nya.

"Aku sudah lebih baik, aku lega nona tidak apa-apa, kepala apoteker terus menyandera aku dan memaksa aku untuk membantunya, itu membuat semua waktu ku terarah kepada nya." Ucap Obi menggaruk tengkuk nya, Sakuratersenyum kemudian terkikik geli.

Ia membayangkan kepala apoteker terus menyuruh ini dan itu tanpa henti kepada Obi.

"Oh ... ayolah tidak kah nona Garak peduli pada mu, Obi?" ucap Sakuramenggoda Obi, laki-laki itu terlihat tersipu dengan ucapan Sakura.

"Yeah ... aku hanya tidak terbiasa ..." ucap Obi memandang buku ditangan nya lekat-lekat.

Sakuratersenyum menatap Obi, laki-laki itu jarang bersikap seperti itu, dan Sakuramenangkap sesuatu, sepertinya ada yang terjadi diantara keduanya ketika ia tidak ada.

"Aku mendengar berita ... apa benar pangeran melamar nona?" ucap Obi memandang Sakura, tatapannya penuh dengan tanda tanya dan keterkejutan.

Sakuramengangguk dan membenarkan "iya, seperti yang kamu dengar." Ucap Sakuratersenyum, ia mengetahui perasaan Obi namun ia menganggap Obi hanya sebatas teman baik.

"Aku senang mendengarnya, meskipun begitu aku akan terus menjaga nona, jika pangeran tidak bisa membahagiakan nona maka aku akan maju dan mengambil posisinya." Ucap Obi serius, kemudian ia tertawa seperti biasa.

"Kamu juga berhak untuk bahagia, Obi ..." ucap Sakuramenepuk kepala Obi, laki-laki itu menunduk kemudian mengangguk sekilas, dengan berat hati Sakuratersenyum.

"Kebahagiaan ku berada pada nona, bagaimana pun aku akan melindungi nona sampai kapan pun, itu yang aku sudah putuskan." Ucap nya seperti bisikan namun Sakuramasih bisa mendengarnya.

Sakuramemeluk Obi "apa itu tidak membuat kamu sedih, aku sudah menetapkan jalan ku, bersama Izana?" ucap Sakura, obi memeluk Sakuradan menggeleng.

"Ini juga jalan yang aku pilih, nona ..." ucapnya melepaskan pelukan nya pada Sakura, Obi tersenyum sangat manis hingga memperlihatkan beberapa deret gigi nya, Sakuraterkikik geli melihat hal itu.

"Baiklah, aku tidak akan memaksa mu... tapi, jika aku bukan seorang 'nona muda' lagi apa yang akan kamu lakukan?" ucap Sakuramengangkat kedua bahunya, Obi berdiri kemudian berjalan kearah Balkon.

"kesetiaan ku akan tetap ada, meskipun kamu bukan 'nona muda' ku lagi, aku sudah memutuskan itu, bahkan jika Pangeran Zen dan Pangeran Izana bukan pangeran lagi, aku juga akan tetap melayani keduanya." Ucap obi tersenyum, wajahnya terpantul matahari hingga Sakuratidak bisa melihat ekspresi apa yang dikeluarkan laki-laki itu.

Kemudian Obi pamit dan pergi bersama dengan hembusan angin yang membawa beberapa kelopak bunga.

Sakura masih duduk dan memandang ukiran kuno di buku yang tertumpuk rapih di meja itu.

Kemudian pintu terbuka memperlihatkan dua orang yang cukup berumur untuk di panggil dengan sebutan 'ayah dan ibu'.

Di susul dengan kedatangan Haruka dan Izana, Sakuraberdiri melihat laki-laki dengan perawakan seperti Izana, mata berwarna sebiru langit, rambut berwarna putih dengan emas yang melingkar disekitar kepala membentuk tatanan mahkota kokoh, wajahnya tegas dengan beberapa garis di sekitar lekukan mata yang menandakan bahwa ia benar-benar sudah hidup lebih lama.

Izana berdiri disamping Sakura, ia memberikan tatapan dan menyuruh Sakurauntuk memberikan hormat, Izana tahu bahwa Sakurasangat terkejut, Izana sebenarnya lebih terkejut ketika ayah dan ibunya berkunjung setelah melakukan beberapa perjalanan dan kembali tiba-tiba ke Istana.

Sakuramembungkuk hormat kemudian kembali berdiri dengan tegak, kini ia memperhatikan wanita disamping laki-laki yang ia tahu adalah ayah Izana.

Wanita yang menggamit lengan laki-laki itu terlihat cantik, beberapa garis halus terlihat samar di kelopak mata dan pipi nya yang sudah mengendur karena usia, mata nya berwarna hitam namun dengan kilauan yang memukau, seperti permata.

Rambutnya berwarna sama dengan milik Izana, di tata sederhana dengan beberapa berlian melingkari kepalanya, mahkota yang ia gunakan lebih terlihat seperti hiasan rambut, dan satu hal yang membuat Sakuratidak nyaman.

Wanita itu tersenyum melihat Sakuradengan tatapan yang tidak bisa ia definisikan, kemudian kedua nya duduk, disusul dengan beberapa pelayan yang masuk dan membawakan teh juga makanan ringan, sementara itu Haruka hanya berdiri di samping ayah Izana, Izana sudah bersama Sakuraduduk sejajar menghadap kedua orang tua nya.

"Ekhem ... perkenalkan, saya Vincent Wistaria, sementara ini istri saya Katherine Wistaria, ayah dan ibunda dari Izana juga Zen, aku hanya ingin mampir dan melihat Istana juga menjenguk kedua putra kami, namun beberapa waktu lalu kami mendengar ada kesulitan yang mereka hadapi, jadi kami cepat kembali dari perjalanan dan ingin mengetahui apa yang Izana dan Zen ributkan sampai orang-orang di Desa tahu."

Ucapnya, Sakuramasih mengatur napas dan menatap manik biru milik Vincent.

"kemudian aku mendengar tentang wanita yang akan dinikahi oleh putraku, jadi aku penasaran ingin melihat kamu, SakuraHaruno..." ucap nya membuat Sakuratersenyum secara spontan.

"Saya merasa terhormat, yang mulia ..." ucap Sakurasopan, baik Vincent dan Kate tersenyum melihat nya.

"aku mendengar semua yang kamu lakukan demi Clarines, dan aku sangat berterima kasih kepadamu, Sakura." Ucap Kate tersenyum memegang tangan Sakura, ia sedikit terkejut kemudian kembali tersenyum, sesuatu yang hangat menelusup kedalam dadanya.

Itu adalah sebuah kata sederhana yang memiliki banyak makna, terima kasih.

"Saya hanya menjalankan tugas saya yang mulia, dan semua yang ada di Istana ikut andil dalam membela Clarines." Sambung Sakuramenatap manik hitam Kate, tiba-tiba ia merindukan ibu dan ayahnya, bagaimana pun sosok yang berada didepan nya sangat mewakili kedua orang tuanya, Sakurakembali merindukan mereka.

"Aku dan Haruka sudah membicarakan beberapa hal tentang mu, aku sudah mengetahui semuanya dan aku menerima kamu dengan tangan terbuka, Sakuramaukah kamu berada disini untuk menjadi pendamping Izana dan menjadi menantu kami?" ucap Vincent dengan nada tulus, Sakuramerasakan aliran darahnya berdesir dengan cepat, bahkan membuat jantung nya memompa dengan sekeras-kerasnya.

Izana memandang Sakuradengan tulus, hanya warna sebiru laut yang sangat jernih dan mampu menenggelamkan nya sewaktu-waktu, Sakurabersumpah dengan hal itu.

"Dan saya yang akan menjadi wali untuk mu, Sakura." Ucap Haruka tenang, Sakuramendengar ketulusan dari kata-katanya, jujur saat ini juga Sakuraingin meremukan rusuk laki-laki itu, memeluknya.

Namun ia urungkan karena ia harus menjaga sikapnya, bagaimana pun Sakuramenghormati Izana dan kedua orang tuanya.

"Tidak ada alasan bagi saya untuk menolak permintaan yang mulia." Ucap Sakuratersenyum, ia melihat Kate berdiri kemudian menghampirinya, wanita itu tersenyum kemudian memeluk sakura, menepuk punggung kecilnya.

"Selamat datang dikeluarga kami sakura, mulai sekarang panggil saja aku ibu dan anggaplah aku seperti ibu mu." Ucapnya pelan namun Sakurabisa mendengar apa yang dikatakan wanita cantik ini.

Izana melihat keduanya dengan tatapan lembut, entah mengapa Izana sangat senang ketika orang tuanya tidak mempermasalahkan soal status yang disandang sakura, keduanya memiliki sebuah 'alasan' yang tidak akan diberitahukan oleh Izana.

Bahkan Izana terkejut ketika Haruka dengan lantang menyebut dirinya sebagai 'wali' dari sakura, laki-laki itu adalah laki-laki yang kolot dan sangat patuh dengan aturan bangsawan, tapi mereka tidak mempermasalahkan itu, Izana benar-benar lega.

"Kamu juga boleh memanggil aku dengan sebutan apapun yang kamu suka, sakura. Aku sadar ketika melihat putraku, dia tumbuh kuat berkat adanya kamu disamping dia, dan aku tidak akan menghalangi kebahagiaan kalian berdua." Ucap Vincent mengelus-elus janggut berwarna senada dengan warna rambutnya.

"Terima kasih sudah mau menerima aku dalam keluarga anda, aku akan berusaha dengan baik." Ucap Sakuramenahan bendungan air mata yang akan turun sewaktu-waktu.

"Baiklah kami disini juga ingin membicarakan seputar pernikahan kamu dengan Izana." Ucap Vincent berdehem pelan kemudian membuang wajah ke samping Kate, wanita itu terkikik gelid an terlihat bersemangat, Sakuradibuat bingung dengan desain pernikahan yang disebutkan oleh Kate, Izana hanya menghela napas dan terkadang memijit dahi dengan apa yang ibunya katakan, namun Izana selalu bertanya kepada Sakuratentang setiap hal yang akan mereka setujui.

Sejujurnya ini adalah pertama kalinya Sakuraberada diposisi ini dan dia sangat gugup, namun ia berusaha mengimbangi apa yang diinginkan oleh Kate tentang tatanan pernikahan putra pertamanya itu.

..

..

..

..

..

..

..

..

Matahari bersinar dengan berani, namun beberapa awan putih menggelayuti sisi-sisinya sehingga sinarnya tidak begitu terik, keadaan Istana sangat ramai, banyak orang berlalu-lalang dengan gaun-gaun berwarna-warni juga hiasan rambut yang beraneka ragam.

Angin berhembus pelan menerbangkan beberapa bunga liar yang berguguran, bau anggrek putih yang bergelayut di pepohonan mendominasi suasana itu, bunga-bunga lili berada di sisi kanan dan kiri halaman Istana.

Pepohonan rindang yang disulap menjadi sebuah atap dengan banyak bunga rambat bermekaran dengan cantik, kain berwarna-warni menghiasi buket-buket mawar merah yang diletakan di sisi kanan dan kiri halaman itu membuat dekorasi perta diluar ruangan terasa indah.

Kursi-kursi yang terbuat dari kayu ditata rapih membentuk dua jajaran dengan jalan setapak yang sengaja dibuat ditengah, sebuah Altar sederhana dengan rangkaian mawar putih berada didepan kursi itu.

Tamu-tamu undangan yang telah hadir menggumamkan sepatah kata, juga beberapa dari mereka kembali memandangi anggrek gantung yang berada diatas mereka, beberapa pelayan tersebar dan memberikan minuman atau camilan kecil untuk menemani mereka menuju acara utama.

Ketika lonceng berbunyi sang Maestro memainkan Mars pernikahan, semua mata menoleh kebelakang kursi yang mereka tempati.

Beberapa berbisik dan mendesah kagum, mereka melihat gadis bersurai musim semi menggamit sebelah lengan orang terpercaya di Clarines, Haruka.

Dengan riasan wajah sederhana, rabutnya disanggul indah dengan kepangan-kepangan rumit dan beberapa mawar putih tertata rapih di rambut itu, sebuah tiara melingkar diantara mawar dikepala nya, tiara dengan ukiran rumit dan batu zambrud terpantul dan berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Gaun putih nya menyapu rumput beludru yang tumbuh di tanah itu, beberapa anggrek yang tumbuh tertiup angin membawa kelopak nya jatuh dan terbawa melayang diudara.

Mata emerald milik Sakuramemandang Izana yang kini berdiri didepan Altar bersama dengan pastur yang memegang alkitab, sebelah tangan nya memegang buket mawar berwarna merah, ukiran brokat rumit melekat sempurna dari punggung tangan hingga siku miliknya, sesekali Sakuramemandang Haruka yang berada disampingnya.

Laki-laki itu memandnag Sakuradengan lembut, bukan dengan pandangan sinis atau kejam seperti dulu, matanya mengisyaratkan keoptimisan dan semangat yang harus Sakuratiru.

Bahkan malam sebelum pernikahan nya, Haruka tidak repot membacakan beberapa kewajiban Sakurasebagai seorang istri, ia mengajarkan Sakurauntuk berjalan dengan benar ketika berada diAltar nanti, Sakurahanya tersenyum dan mengikuti apa yang Haruka inginkan, terkadang laki-laki itu mengeluarkan kata-kata sinis, namun sebenarnya ia ingin hal yang terbaik untuk sakura.

"Haruka ojisan ..." ucap Sakuramasih memandang kearah depan dengan tegap, Haruka melirik Sakuradari ekor matanya.

"hm...ada apa sakura?" ucap Haruka sama pelan nya, suara mars pernikahan terus mengalun bersama dengan hembusan angin musim semi, semua tamu undangan berdiri dan memberikan senyuman termanis mereka ketika menatap sakura.

Sakuraterus tersenyum "terima kasih, atas semuanya." Ucap Sakuramengeratkan pegangan tangan nya di lengan Haruka.

Laki-laki itu membelalakan mata nya kemudian tersenyum "aku merasa seperti seorang ayah yang sempurna." Ucapnya memejamkan mata dan terus melangkah, Sakuratersenyum kemudian menghirup sebanyak-banyaknya oksigen kedalam paru-parunya.

Sakuramelihat Zen dan Shirayuki bergandengan dan menebar beberapa kelopak bunga kearahnya, kemudian Obi melambai dan tersenyum menggandengan kepala apoteker yang kini dalam pakaian semi-formal, Sakuraingin sekali menggoda mereka, namun bukan saat ini.

Kemudian Mitsuhide bersama dengan Kiki tersenyum, Mitsuhide mengangkat sebelah tangannya yang bertautan dengan Kiki, sementara itu Kiki tersenyum malu, ia juga melihat teman-teman nya dari hutan terlarang, Frankie, raja Oldtree, Ami, Nina yang sedang bersama dengan Ryu melambai penuh semangat kepadanya.

Kemudian laki-laki yang mengaku teman Izana dan Zen, pangeran pertama Tanbarun, Raj juga hadir bersama pengawalnya, ia melambai dengan elegan, Sakurabersumpah ingin tertawa melihatnya.

Kemudian Haruka menyerahkan tangan Sakurapada Izana.

"sakura, setelah ini kamu harus memanggilku oto-san!" ucap Haruka undur diri, sekilas ia menepuk ringan pucuk kepala sakura, entah mengapa itu membuat Sakuramenjadi sedih dan bahagia.

Sedih karena sebenarnya kedua orang tuanya tidak berada disini, dan bahagia karena masih banyak yang menyayangi dan menerimanya disini.

Izana menatap Sakuradengan pandangan hangat, ia tetap membisu namun Sakuramengetahui bahwa ia sangat bahagia, sama seperti dirinya.

Kemudian mereka berdua menghadap kedepan Pastur yang sudah siap membacakan sumpah pernikahan.

"baik, pernikahan antara pangeran Izana dan nona SakuraHaruno akan segera berlangsung, saya pastur Gabriel akan memimpin jalan nya acara sakral ini, bagi yang keberatan atau tidak setuju bisa langsung berpendapat karena apabila kedua pengantin sudah mengucapkan janji, tidak akan ada yang bisa memisahkan nya lagi kecuali tuhan berkehendak dan kematian yang menjemput."

Ucapnya dengan suara lantang, beberapa detik setelah ia berucap suasana menjadi sepi, hanya gesekan dedaunan dan angin yang menerbangkan kelopak bunga yang menjadi suara satu-satunya di Altar itu.

"baiklah sepertinya semua sudah menyetujui nya, saya akan memulai, Izana wisteria apa kamu akan menerima SakuraHaruno dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kalian ?"

Ucap nya dengan lantang, Sakuramenahan napasnya ia melihat Izana dari ekor mata nya, laki-laki itu tampak tenang dan berwibawa, Sakuramenghembuskan napas perlahan merasakan sesuatu memasuki relung dadanya.

"saya bersedia." Ucap Izana membuat telinga Sakuraberdenging, bahkan Sakuratidak pungkiri ia sangat gugup, beberapa butir keringat turun dipelipis nya.

"SakuraHaruno, apa kamu akan menerima Izana Wistaria dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, sampai maut memisahkan kalian ?"

Ucap pastur menatap sakura, Sakuramendengar kata demi kata yang diucapkan dari bibir laki-laki yang berusia enam puluh tahun itu dengan fasih, Sakuramemejamkan matanya, sekilah semua memori dan ingatan dalam perjalanan hidupnya terbuka, terputar bagaikan film yang di replay, ia mengingat semua kejadian yang menyedihkan, memalukan, semua kejadian bersama dengan teman-temannya, semua perjuangan dan air matanya, semua senyuman juga kebahagiaan nya.

Sakuramengingat itu dan bersyukur bisa berada disini, bersama dengan Izana, ia tidak akan menyesali apa yang ia putuskan ketika ia bersumpah akan berada disisi nya.

Sakuramenghirup sebanyak-banyaknya oksigen kedalam paru-parunya.

"aku bersedia." Ucapnya dalam satu helaan napas, ia membuka kelopak matanya dan melihat rangkaian mawar putih yang disusun rapih bahkan ia bisa mencium wanginya, dan itu terasa sangat menenangkan.

"maka dari itu, saya tetapkan kalian sebagai pasangan suami-istri mulai saat ini." Ucap pastur memberkati, disusul dengan suara teriakan dan tepuk tangan dari belakang mereka berdua.

Izana menatap Sakuradengan tatapan yang tidak bisa Sakuradefinisikan, kemudian dengan sangat perlahan dan lembut Sakuramerasakan Izana menyentuh pipinya, sebelah tangan Izana memegang pinggang sakura.

Sakuraingin protes pada perlakuan Izana namun ketika ia ingin berbicara laki-laki itu sudah mencium nya dengan lembut, Sakurabahkan terkejut disusul dengan tepuk tangan dan siulan menggoda dari belakang keduanya.

Izana tersenyum melihat wajah Sakurayang salah tingkah.

"Izana!" ucap Sakuramendesis kesal, namun laki-laki itu hanya tersenyum kemudian mengecup pipi Sakuradan menepuk pelan pucuk kepalanya.

"mulai sekarang aku akan melindungi mu sakura, kemana pun kamu pergi aku akan selalu berada disampingmu, karena kamu adalah wanita musim semi yang datang dari konoha, wanita yang dihadiahkan untuk diriku." Ucap Izana pada sakura, tamu undangan menebar kelopak bunga hingga terlihat seperti hujan bunga di tempat itu, Sakuratersenyum dna mengangguk, bahkan wanita itu menitikan air mata.

Sakurakembali memandang kelopak bunga yang terbang bersama dengan angin musim semi, ia menggenggam tangan Izana dengan erat dan berjanji akan terus berada disisi laki-laki bersurai pirang itu, selama apapun sampai waktu yang menjadi pemisah keduanya.

FIN

A/N : hallo ... pertama-tama aku ingin berterima kasih kepada semua pembaca dan semua teman-teman yang mensuport aku dengan mereview cerita ini.

Aku berharap kalian senang dengan akhir yang aku buat, aku sama sekali ga menyangka akan mengakhiri cerita ini, jadi mudah-mudahan kalian akan puas.

Aku juga akan kembali dengan cerita-cerita yang baru, jadi mohon sabar menunggu. Hehehe...

Terima kasih kepada : dede Harulisnachan, L, Devi, Himenatlyschiffer, Hui-san, terima kasih atas dukungan juga semangat nya dan untuk semua reader yang membaca "Josei Wa Konoha Kara Haru" maaf apabila ada kesalahan kata, dan penempatan EYD juga typo yang sering didapatkan karena author ini adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan.

Hehe ... V(^^,)V

#membungkukhormat.

Sampai Jumpa!

SakuraH20