Maaf ye kalo udah ada yang nungguin. Ngehee~

Happy reading ya, btw. Jan lupa kasih review!

.

.

.

Baekhyun duduk di seberang Chanyeol yang sedang bercanda dengan Taehyung. Dia masih kesal dengan Chanyeol. Tapi dia juga takut karena cara bicara lelaki itu kaku padanya. Dia tahu jika Chanyeol sudah seperti itu, maka dia harus berhadapan dengan Chanyeol yang marah. Dan dia sudah tahu resikonya.

Chanyeol yang sedang marah bukanlah orang yang mudah untuk ditaklukan. Ucapannya selalu sulit untuk dikembalikan, atau bahkan sepertinya setiap kalimat yang diucapkan serasa penuh dakwaan saja. Itu yang menyebabkan Baekhyun tidak suka berhadapan dengan Chanyeol yang begini. Sejenak dia menyesali sikapnya tadi, tapi dia kesal. Hmm… kesal bukan alasan pembenar 'kan, Baekhyun-ah?

"Hei." Chanyeol membuyarkan lamunan Baekhyun.

"I-iya?"

"Mau pesan apa?"

"Bibimbap saja."

Chanyeol mengangguk dan menuliskan pesanan tanpa berkomentar lagi. Baekhyun membuka ponselnya dan mendapati Jongin yang mengirimkannya pesan untuk menjaga Kyungsoo sampai dia pulang nanti. Dia juga menyuruh Baekhyun untuk mengajak Chanyeol. Mungkin Jongin menginginkan jasa dokter gratis. Mungkin sih

Dia terus terdiam. Bahkan dia merasa ditinggalkan oleh Taehyung yang sedari tadi hanya menempel pada Chanyeol. Mungkin karena tadi Baekhyun menaikkan nadanya di depan Taehyung, maka Taehyung jadi takut padanya.

Selesai makan, dia ingin mengatakan sekali lagi pada Chanyeol jika mereka harus pergi ke rumah Kyungsoo. Tapi dia ragu untuk mengatakan hal itu. Dia tidak ingin mendapati nada dingin dari lelaki tersebut. Lagipula jika dia merasa benar, maka emosinya akan meledak-ledak dan itu tidak membuat masalahnya cepat selesai. Selain itu dia juga merasa gengsi untuk mengakui apa yang sedang dirasakan. Cemburu? Tidak, Baekhyun tidak merasa begitu. Hanya saja… dia kesal melihat Chanyeol menatap Kyungri begitu. Itu… bukan cemburu, 'kan?

Perjalanan menuju rumah Kyungsoo juga tidak begitu berubah dari sebelumnya. Suasana antara Chanyeol dan Baekhyun masih saja dingin. Taehyung, yang sekarang duduk di belakang sebenarnya sudah kembali seperti biasanya. Yang bertanya pada apapun yang dilihatnya. Tapi sayangnya, Chanyeol yang lebih banyak menjawab.

Baekhyun yang sedari tadi menghela nafas dan menatap jendela samping kanannya itu tidak sadar jika ada yang memperhatikannya. Akhir-akhir ini Baekhyun memang lebih sering diam daripada berteriak jika sedang kesal. Ah, Chanyeol merasa jika Baekhyun memang lebih jinak. Dan lebih perempuan jika dibandingkan sebelumnya. Jujur dia sedikit dilemma, harus bersyukur dengan Baekhyun yang begini, atau kecewa dengan perubahan tersebut.

"Kita sudah sampai!" seru Taehyung ketika sampai di depan rumah Kyungsoo.

"Kapten, bisa ambilkan tas yang ada dibelakang? Hyung membutuhkannya."

"Siap, Hyung!"

Baekhyun tersenyum kecil ketika melihat interaksi antara Taehyung dan Chanyeol. Mereka sangat lucu. Bahkan jika dipikir-pikir lagi, memang seperti seorang ayah dengan anaknya. Bisa dibilang Chanyeol benar-benar dewasa kalau begini. Apalagi kalau Taehyung menanggapinya, serasa interaksinya berubah menjadi hal yang paling adorable sedunia. Bagi Baekhyun begitu, sih.

Gadis itu menghela nafas seraya menundukkan kepalanya. Hingga menemukan jika tali sepatunya terlepas. Ah, sepatu yang dia kenakan adalah sepatu pemberian Chanyeol. Mungkin karena berharga mahal, maka dia benar-benar menyukainya. Lagipula dengan adanya sepatu itu, dia bisa lupa dengan kejadian sneakers incarannya yang terbeli oleh Jongin dan dipakai Kyungsoo. Meskipun dia masih sakit hati dengan kejadian itu, tapi mau bagaimana lagi. Toh yang memakai juga adiknya sendiri.

"Tunggu, Hyung!" seru Taehyung.

"Hm?"

"Noona masih membetulkan tali sepatunya—" Baekhyun yang mendengar hal itu mendongakkan kepalanya dan tersenyum, "Ah, cantiknya. Baekhyun Noona cantik, 'kan Hyung?"

"Hmm." Chanyeol menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Dia mengakui jika Baekhyun itu cantik. Tapi dia masih mengelak. Baginya, Baekhyun adalah Baekhyun. Dia cantik, tapi dia Baekhyun.

"Ayo, Noona!" seru Taehyung yang menarik tangan Baekhyun.

Taehyung dan Baekhyun berjalan di depan Chanyeol yang menenteng tasnya. Entah berisi apa, mungkin peralatan kedokterannya yang Baekhyun benar-benar tidak pernah paham apa gunanya. Bahkan pernah ketika di rumah, dia memainkan stetoskop milik Chanyeol yang berakhir dengan tawa pria itu karena Baekhyun tidak tahu mana sebelah kanan dan mana sebelah kirinya—yang dipasang di telinga. Walaupun akhirnya dengan sabar Chanyeol membetulkan bagaimana Baekhyun harus memakainya.

"Kyungsoo?" ucap Baekhyun yang menemukan Kyungsoo di ranjang dan terbungkus selimut tebal berwarna hijau layaknya kepompong.

"Baekkie…" rengeknya yang kemudian diselingi dengan bersin.

"Kalian datang juga. Aku hampir mati menanggapi rengekannya." Gumam Jongdae yang duduk tak jauh dari tempat Kyungsoo tertidur.

"YA!" Minseok mendorong kepala Jongdae, "Adikmu sedang sakit, bodoh!"

Jongdae selalu menciut jika Minseok sudah mengomel ataupun mendelik padanya. Jadi, Jongdae, orang yang super annoying menurut Baekhyun, bisa terdiam walaupun hanya satu kerlingan mata saja. Terkadang Baekhyun kagum dengan Minseok yang mampu mengendalikan Jongdae begitu. Bagus, sih. Kalau Jongdae sudah keterlaluan dia bisa menghubungi Minseok untuk sekadar menenangkannya.

"Ah, Baek. Ajak Taehyung keluar kamar. Aku takut jika dia bisa tertular." Gumam Chanyeol yang kemudian ditanggapi dengan anggukan Baekhyun.

Dia keluar bersama Jongdae dan Minseok. Dia membiarkan Chanyeol ada di dalam sendirian. Jongin belum pulang karena dia tidak ada disana. Taehyung dibiarkan sibuk dengan sebuah rubik yang tergeletak di sebelah televisi. Sesekali anak itu bertanya pada Baekhyun bagaimana cara menyelesaikannya, tapi selebihnya dia terpaku dengan rubiknya. Baekhyun sendiri memilih untuk diam. Belum ada mood untuk menumpahkan masalahnya sedikitpun. Hingga akhirnya ada seseorang angkat bicara disana.

"Mau ikut denganku sebentar?" tanya Minseok yang mengajak Baekhyun pergi ke dapur Kyungsoo.

"Ada apa, Unnie?" tanya Baekhyun ketika sudah sampai disana.

"Kau ada masalah?"

"Tidak. Tidak ada."

"Masih berani berbohong denganku? Kau terlihat murung hari ini."

Baekhyun menghela nafasnya, "Apa begitu terlihat?" Minseok mengangguk, "Hmm… sebenarnya aku baru saja bertengkar dengan Chanyeol."

"Masalahnya?"

Matanya berlarian. Dia tidak tahu harus memulainya darimana. Mengatakan masalah mantan Chanyeol yang sok seksi itu? Terlalu straightforward. Tapi mau bagaimana lagi, 'kan?

"Unnie, tadi aku berjalan dengan Chanyeol—dan Taehyung—di rumah sakit. Dan kami berpapasan dengan Kyungri, mantan Chanyeol. Disaat itu aku sedang mengajaknya berbicara untuk pergi kemari. Tapi dia tidak mendengarkanku dan memperhatikan wanita itu—eye-fucking malah. Aku kesal dia tidak mendengarku sama sekali. Padahal situasinya genting begini…" ucap Baekhyun lemah.

Minseok tertawa kecil dan memberikan senyum jahilnya, "Kau yakin karena Chanyeol tidak mendengarmu?"

"Tentu! Adikku sedang sakit! Bagaimana aku tidak kesal jika dia tidak mendengarkan keluhan masalah adikku?"

"Benarkah? Tunggu, apa Kyungri itu benar-benar cantik?"

Dia menghela nafasnya, "Cantik. Seksi bahkan. Aku tidak heran jika Chanyeol memperhatikannya, actually."

"Chanyeol benar-benar tidak memalingkan matanya sedikitpun?"

"Iya, Unnie! Apa dia tidak memikirkan aku yang berjalan disampingnya? What? For fuck sake, aku disampingnya, Unnie! Toh meskipun Kyungri itu cantik, wanita kadal itu sudah berselingkuh di belakangnya! Apa dia buta? Hm?" Baekhyun mendecakkan lidahnya dan bergumam, "Lagipula dia tidak secantik itu, sih. Aku bisa lebih cantik dari dia."

"Jadi?"

"Jadi apanya?" tanya Baekhyun dengan nada yang meninggi.

"Kau tidak suka karena Chanyeol tidak mendengarkan keluhanmu tentang Kyungsoo atau kau tidak suka Chanyeol memperhatikan Kyungri?"

"Ya jelas aku tidak suka karena dia memperhatikan Kyungri! Aku disampingnya, Unnie. Aku disampingnya—WAIT!"

Minseok menepuk pundaknya, "Kau cemburu, Adikku Sayang." Ucapnya yang kemudian tersenyum lembut seperti ibu yang bangga ketika melihat anaknya berjalan untuk yang pertama kalinya.

Dan disitulah Baekhyun tersadar jika Minseok menggiring ucapannya. Bahkan dia sekarang melihat Minseok sedang memberikan senyum jahil dan menunggu jawabannya. Baekhyun sendiri tidak tahu harus menanggapi apa. Sejak tadi dia berusaha menjadi seorang denial dengan mengatakan—pada dirinya sendiri—bahwa dia tidak sedang cemburu. Hasilnya? Minseok adalah pengacaunya.

"A-aku tidak cemburu!"

"Yakin?" Baekhyun mengangguk, "Kalau misalkan Chanyeol kembali dengan Kyungri, bagaimana?"

"Dia… dia bodoh! Kenapa mau kembali dengan wanita yang sudah selingkuh di belakangnya?"

"Tidak suka?"

"Ya… itu terserah Chanyeol saja, sih."

"Kau rela?"

"Memangnya aku siapa?"

"Calon istrinya?"

"Unnie!"

"Kenyataannya begitu, 'kan? Tunggu, kau ikhlas jika calon suamimu itu bersama wanita lain? Hm?"

Baekhyun terdiam sejenak. Sesaat kemudian dia membuka mulut, tapi menutupnya lagi. Persis seperti ikan yang diangkat dari air.

"Sulit memberikan jawaban? Aku anggap kau tidak ikhlas."

"Unnie! Kau ini!"

"Hm?"

Terdengar suara dari ruang tengah, "Minnie?"

"AH, calon suamiku yang teledor sudah memanggilku." Minseok melangkahkan kakinya tapi kemudian berhenti untuk menepuk pundak Baekhyun, "Jangan terlalu dipikirkan, Baekhyun-ah."

.

.

.

Baekhyun terpaksa menjadi asisten Chanyeol karena Taehyung yang tertidur. Mau tak mau dia membawakan peralatan lelaki tersebut. Meskipun dalam hatinya ada perasaan kesal, tapi mau bagaimana lagi. Toh Chanyeol menolong adik perempuannya.

Ah, Chanyeol bilang Kyungsoo terkena flu. Tapi karena gadis itu manjanya setengah mati, maka dia bersikap layaknya little brat yang tidak mau diatur. Bahkan tadi ketika Jongin pulang, Kyungsoo langsung bersikap clingy dan bahkan menyuruh Jongin untuk menyuapinya makan. Untung saja lelaki itu sangat sabar. Baekhyun tidak bisa membayangkan jika Jongin bersikap seperti Chanyeol. Mungkin bisa Chanyeol mencari wanita lain. Eh, tunggu dulu. Selama ini Baekhyun tidak tahu bagaimana sifat Kyungri yang membuat Chanyeol gagal move on itu, 'kan? Ah… Baekhyun-ssi, seperti kau terlalu cepat menarik kesimpulan.

Di dalam mobil Baekhyun berusaha membuat dirinya sibuk. Mulai dari memainkan air conditioner, memilin rambutnya, bahkan sekarang memainkan game di ponsel yang keadaannya mengenaskan itu. Dia baru sadar jika ujung kiri atasnya retak lagi. Mungkin karena dia melemparkannya pada Jongdae tadi ketika di rumah Kyungsoo. Dia bermaksud melemparkan remote televisi, tapi malah ponselnya yang terlempar.

"Ponselmu masih bisa dipakai?" tanya Chanyeol tiba-tiba.

"Masih. Meskipun keadaannya seperti ini." Jawab Baekhyun seraya tertawa dengan miris.

"Bukannya itu sudah tipe lama?"

"Uhum. Aku tidak punya uang untuk membeli yang baru. Kau tahu sendiri bagaimana keadaanku."

Chanyeol hanya mengangguk dan tidak memberikan tanggapan lebih lanjut. Semenjak kejadian di rumah sakit tadi suasana di antara keduanya memang berubah canggung. Baekhyun lebih menyibukkan dirinya dan Chanyeol lebih memilih untuk diam. Sejenak Baekhyun ingin menyalahkan dirinya sendiri karena dia yang membuat suasana menjadi kikuk. Tapi mau bagaimana lagi. Toh dia benar-benar kesal.

Ucapan Minseok benar-benar dia pikirkan. Dia masih berada dalam tahap sebagai seorang denial. Dia masih belum bisa mengakui jika dirinya cemburu—atau mungkin sebenarnya sudah tahu tapi tidak mau mengakuinya. Lagipula, punya hak apa? Baekhyun hanya menjalankan hubungan bohong saja tanpa ada ikatan apapun. Jadi, dia tidak punya hak untuk bersikap cemburu.

Mobilnya berbelok ke rumah Taehyung. Chanyeol segera meraih tubuh mungil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Baekhyun yang membawa tas Taehyung mengikutinya dari belakang. Ah, semua pekerja di rumah Taehyung sudah mengenali mereka berdua. Bahkan Sangmin, salah satu penjaga rumah itu selalu dengan cepat membukakan pintu jika mobil Chanyeol terlihat.

"Sangmin Oppa, kami pergi dulu." Ucap Baekhyun.

"Ah, hati-hati. Salam juga pada pacarmu itu."

"Chanyeol? Bukan, dia hanya temanku."

"Ehei~ jangan berbohong! Kalian benar-benar bisa menaklukan Taehyung, ya? Padahal semua pekerja disini mengeluh karena sikap anak kecil itu."

"Dia anak yang manis, Oppa. Dia hanya butuh perhatian." Baekhyun melihat Chanyeol yang sudah melambaikan tangannya, "Ah, kami pergi dulu, Oppa!"

Baekhyun melangkahkan kakinya perlahan. Masih sedikit nyeri, tapi sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Chanyeol sudah kembali ke belakang kemudi. Dia tidak mengatakan sepatah katapun—begitu juga Baekhyun. Lelaki itu hanya memperhatikan jalanan hingga tidak menyadari Baekhyun sudah tertidur setelah sekitar sepuluh menit keluar dari rumah Taehyung. Gadis itu terlihat lelah. Bahkan keringat di keningnya sudah merembes. Tidurnya sangat pulas hingga Chanyeol tidak tega untuk membangunkannya ketika sampai di suatu tempat. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar sendiri tanpa menyadarkan Baekhyun yang telinganya tersumpal headset itu.

Chanyeol semakin dilemma ketika mereka sudah sampai di rumah sekitar setengah jam kemudian. Dia tidak punya hati untuk membangunkan gadis itu. Bahkan, dari awal Baekhyun tidur hingga sekitar satu jam kemudian, dia tidak mengubah posisinya sedikitpun. Itu membuat Chanyeol yakin bahwa leher gadis itu akan sakit.

"Hei, Baekhyun-ah." Chanyeol menggoyangkan badan Baekhyun, "Baek. Ayo turun, kita sudah sampai di rumah."

Baekhyun menggerakkan badannya dan bergumam, "Sepuluh menit lagi, Soo."

Chanyeol tertawa kecil. Sudah bisa diketahui jika mungkin Kyungsoo yang membangunkannya jika di apartmentnya. Bahkan sekarang Baekhyun hanya mengubah posisi lehernya dan membiarkan poninya kemana-mana.

Lelaki itu menggaruk kepalanya dan tertawa kecil. Dia berusaha membangunkan Baekhyun dengan cara sekalem mungkin. Tentu dia tidak ingin membangunkan singa yang terlelap, 'kan? Dengan perlahan dia berusaha melepas sabuk pengaman Baekhyun. Kemudian dia menggoyangkan badan itu lagi sembari memanggil nama Baekhyun perlahan.

"Baek?"

Baekhyun mengerjapkan matanya dan mendapati wajah Chanyeol hanya berjarak beberapa senti darinya, "OH? Sudah sampai?" gumamnya dengan suara serak.

Lelaki itu terkekeh, "Sudah dari tadi. Aku berusaha membangunkanmu tapi tidak bisa. Lelah, hm?" Baekhyun mengangguk, "Ayo masuk ke rumah. Kau bisa tidur sepuasnya nanti."

Sesaat Baekhyun melupakan kejadian yang tidak mengenakan seharian tadi. Dia memilih untuk berjalan gontai beberapa langkah di depan Chanyeol. Matanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Bahkan ketika di dalam lift saja dia hampir tertidur. Untuk saja Chanyeol memegang lengannya agar dia tidak terjatuh.

Sesampainya di dalam apartment, Baekhyun tanpa mengganti pakaiannya langsung ke kamar dan melemparkan badannya ke ranjang. Entah, dia merasa sangat lelah hari ini. Yang ingin dia lakukan sekarang hanyalah tidur. Dia tidak mempedulikan apa yang dilakukan Chanyeol sekarang. Yang dia ingat Chanyeol membawa tasnya dan menenteng sebuah bungkusan berwarna biru. Entah berwarna biru atau ungu Baekhyun tidak bisa melihatnya jelas karena matanya terlalu berat.

.

.

.

Baekhyun membuka matanya perlahan. Dia berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk dari jendela yang semalam tidak tertutup kelambu. Ketika sadar matahari bersinar sangat terang, dia terperanjat dan duduk.

"What the fuck!" dia melihat sekelilingnya, "AH! Jam berapa sekarang?"

Dia melihat jam weker di samping lampu tidurnya, pukul sepuluh.

"ASTAGA! Kelas dimulai pukul sembilan! Kenapa alarm ponselku tidak berbunyi? AISH! Ponsel sialan! Ponsel busuk!"

Dia mencari-cari ponselnya dan tidak menemukan di sakunya. Baekhyun terus-terusan mengumpat. Bukan karena kelas yang terlambat. Dia tidak peduli akan itu. Lagipula Profesor Ha tidak akan membiarkannya masuk jika sudah sangat terlambat. Dia lebih memperdulikan dimana ponselnya berada. Hingga akhirnya, dia menyadari ada sebuah benda tergeletak di samping jam wekernya.

"Oh? Ponsel siapa ini?"

Baekhyun menghidupkan layer ponsel itu dan menemukan ada sebuah pesan masuk disana. Park Chanyeol.

Baekhyun-ah! Aku mengganti ponselmu dengan yang ini. Aku tidak tahu apa seleramu sebenarnya. Tapi karena kau semalam sedang tidur, maka aku memilihnya sendiri. Semoga kau menyukainya! Ah, aku tidak menyetel alarm karena aku tidak tahu bagaimana jadwalmu di hari Kamis begini. Have a nice day!

Baekhyun mengedipkan matanya. Dia memegang sebuah ponsel yang sama dengan milik Chanyeol. Keluaran terbaru dan berwarna hitam, warna kesukaannya. Dia masih ingat punya Chanyeol yang bertipe sama, hanya saja berwarna putih. Dia masih menerka apakah Chanyeol benar-benar membelikannya ponsel itu. Dan akhirnya Baekhyun memutuskan untuk keluar kamar. Dia ingin mencari Chanyeol dan menanyakan kepastiannya.

Rumah ternyata sudah sepi. Chanyeol sudah berangkat untuk shift paginya. Sedikit kecewa. Tapi rasa kecewanya terobati dengan adanya dua potong sandwich di meja makan. Baekhyun duduk disana dan melahap makanan itu. Tangan lainnya masih sibuk mempelajari kerja dari ponsel barunya. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Chanyeol.

Hei, kau benar-benar membelikannya untukku? Kau tidak bercanda? Jika tidak… terima kasih! ^^

Gadis itu masih berkutat dengan ponsel barunya. Dia tersenyum dan bahkan bersenandung dengan riangnya. Bahkan sekarang dia mencoba untuk mengambil selca meskipun dengan pipi yang tertempel serpihan roti. Kebahagiaannya tidak berlangsung lama sayangnya. Dia kembali memikirkan kata-kata Minseok sehari sebelumnya. Apa dia benar-benar cemburu? Berarti… dia menyukai Chanyeol? Lagipula, siapa yang tidak suka jika diperlakukan manis begini. Iya, 'kan?

Langkah kakinya menuju kamar mandi sedikit terseret. Ada kelas lagi jam satu siang dan dia super malas. Jika dia bisa memilih, mungkin tidur menjadi prioritas utamanya. Hanya saja, ujian sudah hampir tiba. Makanya Baekhyun merasa sayang untuk melewatkan kelasnya. Apalagi kelas metode numerik yang paling dia benci selama ini.

Baekhyun sudah bertujuan untuk memamerkan ponsel barunya pada Jongdae. Dia tahu jika sahabatnya itu akan iri. Sudah bisa dibayangkan bagaimana reaksi Jongdae yang akan berkata Waeee~ jika merasa dunia ini tidak berpihak padanya.

Belum ada balasan dari Chanyeol. Baekhyun yakin lelaki itu sedang sibuk jika jam-jam kerja begini. Ah, sudah mungkin lebih dari sebulan Baekhyun tinggal bersama Chanyeol. Tentu mau tak mau dia sudah tahu bagaimana dan kapan lelaki tersebut akan sibuk. Jika dipikir-pikir Baekhyun sudah secara tidak langsung menjadi istrinya. Hmm…

Dia menunggu di halte bis dengan ponsel yang masih di tangan. Dia baru saja mendownload game yang paling dia sukai, Seven Knights. Meskipun dia sudah agak bosan, tapi paling tidak sedikit mengusir kekikukannya jika menunggu begini. Dia melihat balasan Chanyeol yang ternyata berisi foto selca dan keluhan bahwa lelaki itu sangat lelah. Ah, tanpa Baekhyun sadari dia tersenyum sendiri seperti orang gila di halte. Bahkan ada seorang ahjumma yang menatapnya horor. Bagaimana tidak, pakaiannya yang super berantakan dan kuncir poni ala apple itu membuatnya terlihat sangar. Mungkin ahjumma itu masih berpikir yang di sampingnya itu laki-laki atau perempuan.

Ketika sedang sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba ada yang mengambil benda itu. Dengan refleks, Baekhyun berlari meskipun kakinya masih saja nyeri.

"YA! KAU BAJINGAN!" bukan Baekhyun namanya jika tidak bisa menyusul pencuri itu. Dengan kakinya, dia langsung menendang punggung si pria hingga jatuh tersungkur. Sayangnya, orang itu melawan. Baekhyun terkena tinju di bibir dan rahang sebelah kirinya. Selebihnya? Baekhyun menindih perut pria itu dan memberinya bogem mentah berkali-kali hingga orang-orang disekitarnya melerai dengan alasan tidak tega dengan si pria yang dihajar dengan liar.

.

.

.

"Dia mengambil ponselku, Pak! YA! Anak kecil!" seru Baekhyun.

Dia berada di kantor polisi setelah masyarakat akhirnya membawa mereka kesana. Ternyata pencuri ponsel Baekhyun masih seorang anak SMA yang butuh uang. Jika saja anak itu tidak mencuri, mungkin Baekhyun masih bersimpati. Lagipula, si anak SMA yang bernama Hoseok itu menggunakannya untuk minum. Ah, anak-anak sekarang ini…

"Kau bisa diam tidak—astaga!" polisi bernama Seunghyun itu meneriaki Baekhyun, "Kau—bukannya sudah pernah bertemu denganku?"

Baekhyun berusaha mengingat, "Eh? Dimana?"

"Sebentar… Byun Baekhyun? Ah! Bukannya kau yang mengajar Taekwondo untuk anak-anak kecil itu?"

"Bagaimana bapak tahu?" tanya Baekhyun tidak mengerti.

"Jungkook itu anakku—YA! Kau tidak mengajarkan anakku yang aneh-aneh, 'kan?"

Mati aku. Batin Baekhyun.

"Tidak, Pak. Aku mengajar dengan benar." Dia tertawa kikuk, "Kalaupun ada yang mengajarkan aneh-aneh itu namanya Kim Jongdae, Pak! Ah—dia benar-benar. Jika anak bapak sekarang pintar menjawab omongan orang dengan ucapan yang membuat kesal, itu ajaran Jongdae! Jongdae itu, sudah diingatkan tapi tetap saja." Ucapnya yang kemudian menggelengkan kepalanya layaknya heran.

Polisi itu bergumam, "Alasan." Dia menyerahkan ponsel Baekhyun, "Telepon siapapun yang menjadi walimu. Lihat, wajahmu babak belur begitu."

"Hehe—siap, Pak!"

Tidak banyak nomor yang tersimpan disana. Paling hanya ada nomor Chanyeol, Jongdae, Kyungsoo, Minseok, Jongin, Hyukjae, dan beberapa nomor lain yang tidak penting—nomor Daehyun dan nomor bos tempatnya bekerja. Menghubungi Jongdae? Tidak mungkin. Dia tahu jika jam seperti ini Jongdae mungkin di dalam laboratorium ataupun menjadi asisten. Kyungsoo? Dia sedang sakit. Minseok? Bekerja. Jongin apalagi. Hyukjae? Ah, cari mati itu namanya. Satu-satunya yang mungkin dihubungi adalah Chanyeol. Meskipun sebenarnya dia tidak tahu apakah lelaki itu sedang sibuk atau tidak.

"Haaaalo?" ucap Baekhyun ragu-ragu.

'Apa, Baek?'

"Hmm… sedang sibuk tidak?"

'Tidak. Aku sedang makan siang. Ada apa? Bukannya kau bilang kau ada kelas?'

"Hmm… Chan, aku baru saja mendapatkan insiden dan aku sedang di kantor polisi dekat rumah sekarang. Bisakah kau kemari?"

'WHAT? Ada apa denganmu? Kau tidak apa-apa—'

"Hei, tenang. Aku baik-baik saja. Tapi… bisakah kau kemari—"

TUT-TUT-TUT—

Baekhyun melihat sambungan ponselnya yang sudah tertutup. Seketika dia menghela nafas dan menyandarkan punggungnya. Dia mengamati ayah Jungkook yang sekarang menginterogasi si pencuri. Kakinya terasa nyeri setelah berlari tadi. Dipijatnya perlahan sembari menunggu Chanyeol datang. Dia sudah tidak ingat berapa kali datang ke kantor polisi, bahkan, kantor polisi yang ada di dekat SMAnya dulu sudah hafal. Jika diingat-ingat lagi, guru kedisiplinannya pun sudah bosan dengan kasus yang melibatkan nama Byun Baekhyun. Mungkin jika daftar pelanggaran dibuka lagi, namanya akan tertera banyak disana.

Tak lama setelah itu, muncul seorang pria dengan kemeja berwarna biru mudanya dan dengan keringat yang sudah mengucur di keningnya. Park Chanyeol. Baekhyun, dengan senyum sok polosnya berdiri dan menghampiri lelaki tersebut.

"Astaga! Ada apa denganmu?" ucap Chanyeol.

"Aku baik-baik saja. Lihat."

"Kenapa kau ada disini?"

"Ah, tadi ada yang berusaha mencuri ponselku. Lalu aku mengejarnya. Kuhajar sih tadi. Untungnya ponsel yang kau belikan itu selamat." Dia mengacungkan ponselnya, "TADAAA!"

Chanyeol terduduk lemas. Mungkin dia sudah panik, "Kau membuatku takut." Ucapnya.

"Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja. Hish!" Baekhyun duduk di samping Chanyeol.

"Aku pikir kau melakukan hal yang tidak-tidak—lihat bibirmu mulai biru. Sudah, ayo ke rumah sakit sekarang!"

"Ini tidak apa-apa. Nanti akan sembuh sendiri. Yang penting ponselku selamat!" ucap gadis itu ceria.

"Kau ini. Bisa-bisanya senang! Kalaupun hilang ponsel itu bisa dibeli lagi! Dirimu? Kalau terjadi apa-apa bagaimana?"

Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan bergumam, "Hish, buktinya aku tidak apa-apa, kok."

"Sudah," Chanyeol berdiri dan menarik tangan Baekhyun, "Pokoknya sekarang ke rumah sakit."

Baekhyun hanya menurut. Jika bisa dibayangkan, wajah Chanyeol sudah benar-benar memerah. Mungkin bisa berasap jika terus-terusan begitu.

"Jangan jalan cepat-cepat. Kakiku sakit—" keluh Baekhyun.

Dan Chanyeol memperlambat cara berjalannya. Karena Baekhyun sibuk memperhatikan lorong kantor polisi itu, dia tidak mendengarkan seseorang bergumam, "Berhenti membuatku khawatir, Byun Baekhyun."

.

.

.

"ACK! Sakit—"

Baekhyun terduduk di meja kerja Chanyeol. Chanyeol sendiri sekarang duduk di kursi dan mengobati lutut Baekhyun yang ternyata tergores—berterima kasihlah pada celana jeans yang robek itu. Berkali-kali gadis itu mengaduh tapi Chanyeol tetap tidak bergeming. Dia terdiam dan berkonsentrasi. Dan meskipun Baekhyun meremas kemejanya hingga lusuh, tapi Chanyeol tidak berkomentar sama sekali.

Hingga akhirnya, "Jangan cengeng."

"Kau sendiri, jangan kasar!"

Chanyeol tertawa kecil dan kembali sibuk dengan lutut Baekhyun yang satunya. Kedua lutut gadis itu memang tergores. Sebenarnya bukan hanya tergores, kulitnya itu mengelupas dan darah merembes dari sana.

Ketika masih dalam posisi yang sama, pintu ruangan itu terbuka dan munculah seorang gadis cantik dari sana, Kyungri.

"Oh, Chanyeol-ah!" serunya yang kemudian membuat Chanyeol mengalihkan perhatiannya—Baekhyun juga, "Sedang sibuk?"

"Seperti yang kau lihat." Chanyeol meletakkan kapas dan obat merahnya, "Ada apa?"

Baekhyun hanya terdiam ketika melihat bagaimana cara Chanyeol membalas ucapan Kyungri. Memang berbeda. Chanyeol menjawab Kyungri dengan cara yang lembut. Tidak seperti ketika berbicara padanya. Lelaki itu selalu berkata sinis dan sarkas padanya.

Helaan nafas dan wajah muak muncul dari diri Baekhyun. Apalagi melihat Kyungri yang berbicara dengan suara dan nada sok aegyo itu membuatnya ingin muntah saja. Ah, atau bahkan mungkin sekarang dia ingin menjambak rambut Kyungri—karena gadis itu terus-terusan memainkan rambutnya. Chanyeol juga, dia tidak mengerti mengapa Chanyeol menanggapinya dengan wajah dan sifat ramahnya. Baekhyun ingin berteriak pada lelaki itu dan membodoh-bodohinya saat itu juga.

"Chanyeol-ah, pasien di ruangan 302 itu tanggung jawabmu, 'kan?" tanya Kyungri.

"Pasien kecelakaan kemarin? Ah, benar. Ada apa?"

"Aku akan membantumu nanti. Bagaimana?"

"EH?" Chanyeol mengerutkan alisnya, "Tidak usah. Aku bisa sendiri—"

"Ayolah," Kyungri menggeser kursinya dan menempatkannya di hadapan Chanyeol, "Si nenek sihir itu selalu menceramahiku jika aku tidak mengerjakan apapun. Ya? Ya? Aku mohon—"

Baekhyun membelalakkan matanya ketika gadis itu menarik tangan Chanyeol dan menggenggamnya. Dia menggigit bibir bawahnya dan mendesis geram. Bahkan dia tidak peduli dengan rasa perih di sudut bibirnya. Pokoknya, jika dia bisa melakukannya sekarang, dia akan menendang kursi itu dan membiarkan gadis itu terjatuh. Sayangnya, dia tidak bisa melakukan itu sekarang.

"Ah—Baiklah. Kau bisa membantuku—"

"Benarkah? AAA! Kau yang terbaik, Chanyeol-ah!" Kyungri melirik ke arah Baekhyun, "Apa yang dia lakukan disini?" tanyanya pada Chanyeol.

"Baekhyun? Dia baru saja terjatuh dan aku mengobatinya."

Kyungri mengangguk, "Kenapa kau tidak meminta yang lain saja?"

"EHEM!" Baekhyun berdeham, "Hah, panas." Ucapnya.

"Panas? Sebentar aku kecilkan suhu pendingin ruangannya." Ujar Chanyeol yang kemudian pergi untuk mencari dimana remote AC ruangan itu.

"Hei." sapa Kyungri ketika Chanyeol sudah pergi entah kemana.

"Ah, hei."

"Kau… ada hubungan apa dengan Chanyeol?"

"Aku?" Baekhyun tertawa sarkas, "Aku calon istri Chanyeol. Ada masalah?"

"Gadis sepertimu? Aku pikir Chanyeol tidak suka dengan tipe gadis seperti dirimu. Kau… bukan gadis ideal untuknya."

"Begitukah? Ah…" Baekhyun menganggukkan kepalanya, "Lalu, gadis ideal untuknya? Seperti dirimu? Gadis yang berselingkuh dengan dokter lain? Gadis yang hanya menginginkan harta kekasihnya saja? Aah, hina sekali jika Chanyeol mendapatkan gadis sepertimu."

Baekhyun tersenyum puas ketika Kyungri melihatnya dengan mata yang memerah. Baekhyun sendiri menganggap pertengkaran seperti ini cenderung childish. Tapi mau bagaimana lagi, baginya, gadis itu harus tahu dimana dan seperti apa posisinya. Lagipula, Baekhyun merasa tidak lebih buruk dari Kyungri. Kecuali body, sih. Baekhyun mengakui itu.

Tidak bisa menjawab, Kyungri pergi setelah Baekhyun menyindirnya lebih pedas. Bahkan sebelum pergi Kyungri sempat memberikan death glarenya. Tapi Baekhyun santai, karena dengan satu pukulan saja mungkin gadis itu tidak akan pernah mengganggu dan mengatakan hal menyebalkan lagi.

Tak beberapa lama, Chanyeol kembali, "Sebentar…" dia menurunkan suhu ruangannya, "Sudah lebih baik?"

Baekhyun mengangguk. Dia memperhatikan Chanyeol yang kembali duduk dan mulai mengangkat kasa dan obat merahnya lagi.

"Kau tidak bertanya kemana Kyungri pergi?"

"Bertanya? Untuk apa?" tanyanya yang sudah berkonsentrasi dengan lutut Baekhyun lagi.

"Siapa tahu. Kau sendiri sepertinya sangat peduli padanya."

Lelaki itu terkekeh, "Tidak juga. Siapa yang mengatakan begitu?"

"Tidak ada, sih. Tapi cara bicaramu sangat lembut padanya. Padahal terakhir bertemu, kau masih menatapnya dengan kasar dan marah. Kenapa kau sekarang begitu? Kau masih menyukainya?"

"Aku pernah mengatakan itu padamu?"

Baekhyun menggeleng. Yang tidak ia mengerti adalah mengapa lelaki yang dihadapannya itu malah tertawa. Bahkan sekarang, dia meletakkan peralatannya lagi dan menatap Baekhyun dengan senyum jahilnya.

"Kau mengusirnya?"

"Ti-tidak! Untuk apa aku mengusirnya?"

"Benarkah? Tapi aku mendengarkan percakapan kalian."

Baekhyun mendelik, "YA! Kau menguping?"

"Maybe. Remote AC ini hanya terletak tidak jauh dari almari itu. Aku keluar hanya ingin tahu apa yang kalian bicarakan. Itu saja."

Wajah Baekhyun memerah. Entah mengapa dia merasa malu. Terlihat bagaimana nada tidak suka di setiap ucapannya ketika sedang berbincang dengan Kyungri tadi. Lagipula siapa yang memulai? Kyungri, 'kan?

Secara tiba-tiba Chanyeol berdiri. Dia menghadap ke arah Baekhyun dan meletakkan masing-masing tangannya di samping lutut Baekhyun. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah gadis itu. Baekhyun sendiri mengerutkan alisnya ketika melihat senyum bodoh dari wajah lelaki tersebut.

"A-apa yang kau lakukan?"

"Tidak ada. Hanya ingin melihat wajah bodohmu saja."

"YA!"

Chanyeol tertawa, "Kau harus tahu alasan mengapa aku bersikap lembut padanya."

"Apa?"

"Karena—"

Belum selesai kata-kata itu, pintu ruangan itu kembali terbuka, "Chanyeol-ah!"

Luhan.

Chanyeol—yang masih pada posisi yang sama—dan Baekhyun mengalihkan perhatian mereka, "Ah, maafkan aku mengganggu kalian! Chanyeol, bantu aku. Ada pasien yang baru saja datang," wanita itu sibuk memakai jas putihnya, "Cepat ke ruang operasi. Aku tunggu disana!" serunya yang kemudian pergi.

Lelaki itu, mengembalikan wajahnya kepada gadis yang ada di antara tangannya itu, "Duty is calling." Ucapnya.

"Tapi kau punya hutang."

Chanyeol tertawa kecil, "Aku tahu." Tanpa diduga, Chanyeol mengecup kening Baekhyun sekilas, "Aku akan menjelaskannya nanti. Aku pergi dulu."

Belum Baekhyun berhasil mencerna apa yang baru saja dialaminya, Chanyeol sudah pergi entah kemana. Dia, Baekhyun, hanya bisa membeku di tempat dan memegang keningnya.

Mungkinkah… alasan untuk berpisah itu perlu dipikirkan ulang?

.

.

.

TBC.