Hyung or Noona
.
.
.
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
and other...
.
.
.
This is
GS!
and
Rate – M
.
.
.
Summary :
Bagaimana cara Jongin beradaptasi dengan Kyungsoo yang sudah dianggap sebagai Hyung kandungnya sendiri telah berubah menjadi seorang perempuan cantik akibat meminum ramuan yang salah? Apakah Kyungsoo masih pantas dipanggil 'Hyung' atau lebih pantas dipanggil 'Noona' mengingat tubuhnya yang berubah menjadi perempuan?
.
.
.
Sorry for typo :'D
Happy Reading!
.
.
.
Previous Chapter
Berhubung Jongin belum mengetahui perubahannya sekarang, Kyungsoo akan membuat ini semua menjadi kejutan untuk Jongin.
Kyungsoo berharap hubungannya dengan Jongin bisa di terima, dan juga berharap esok hari akan menjadi lebih baik dari hari ini.
"Jongin, aku seorang perempuan sekarang." Kyungsoo bergumam ceria menatap wajah cantiknya pada pantulan cermin.
.
.
.
Chapter 10
Let Me Know
.
.
.
Paras cantik bak bidadari itu terus tersenyum, ia memperhatikan setiap inci wajahnya sendiri di cermin. Mulai dari menatap kedua mata bulat yang mengerjap indah, lalu pipi mulus yang terlihat merona samar, hidungnya yang bangir, bibir berbentuk hati berwarna merah muda yang menggoda, leher jenjang dengan bercak merah samar-samar yang masih membekas, serta surai cokelat bergelombang tergerai manis sampai ke pinggang.
Kyungsoo terus tersenyum-senyum sendiri menatap bayangannya pada cermin. Ia sangat bahagia. Sungguh menjadi perempuan membuatnya lebih nyaman. Kyungsoo tak menyangka bisa berubah semudah ini, dalam sekejap, dalam hitungan detik, benar-benar ajaib. Semuanya terasa seperti mimpi, bahkan ini lebih indah dari sekedar mimpi.
Mungkin Kyungsoo lupa dulu ia adalah orang yang terlahir sebagai laki-laki, yang terpenting baginya sekarang.. menjadi perempuan itu sungguh seperti kehormatan tersendiri. Keputusannya untuk menjadi perempuan sudah begitu mantap. Terlebih Kyungsoo jatuh cinta pada sosok laki-laki yang sudah di kenalnya dari kecil.
Benar, sihir memang ajaib, bukan? Sekali lagi Kyungsoo tersenyum menatapi dirinya sendiri, terlebih ukuran payudaranya sedikit lebih besar dari yang dulu, dan itu akan memuaskan Jongin. Astaga.. pikirannya mulai semesum kekasihnya sekarang. Ia menggeleng kecil menampik jauh-jauh pikiran vulgar itu.
"Sampai kapan kau terus berdiri disana? Kau sudah cantik, Kyung. Kalau tak percaya, tanyakan saja pada cermin. Halmeoni, cermin milikmu cermin ajaib 'kan?"
Jongdae dan Heechul tergelak bersama, sementara Kyungsoo mengerucutkan bibir sesaat lalu mendengus geli kemudian. Begitu berpuas-puas diri menatap rupa di cermin, seketika senyuman Kyungsoo memudar. Mendadak rasa cemas bercampur takut terbesit begitu saja. Ia beralih menatap Heechul dengan wajah memelasnya.
"H-halmeoni, kau yakin orang-orang yang sudah mengenaliku akan heran melihat genderku berubah menjadi yeoja?"
Heechul mengangguk sekali. "Sebelum diberi sihir, cairan merah yang kau minum tadi berwarna putih bening. Air bening itu adalah air yang dapat membuat kehidupan menjadi normal kembali, air itulah yang kugunakan sebagai bahan dasar untuk membuat ramuan penawarmu. Jadi, duniamu tetap normal. Hanya kau saja yang berubah.— Itu resikomu, Kyung. Halmeoni tidak mau orang-orang menganggapmu sebagai perempuan sejak lahir karna mereka ikut tersihir, halmeoni ingin mereka secara normal melihatmu sebagai perempuan, yah.. walaupun orang yang sudah mengenalmu akan bingung melihat kau berubah."
Menyadari Kyungsoo terdiam, Heechul pun menambahkan. "Kau ingat ketika meminum ramuan yang salah saat dulu? itu berbahan dasar air minum biasa. Jadi, duniamu ikut tersihir. Kalau ramuan yang tadi, tentu sudah halmeoni beri mantra dahulu. Itu adalah sisa air dari bahan dasar ramuan penawar kemarin. Kau setuju 'kan dengan dirimu yang berubah sementara dunia tetap berjalan normal tanpa ikut tersihir?"
Kyungsoo tertegun sejenak. Heechul benar, mana mungkin Kyungsoo menjalani hidup dengan dunia yang ikut-ikutan tersihir, cukup dirinya saja yang berubah. Lagipula mana ada orang yang ingin menjalani hidup dengan kepalsuan.
Melihat Kyungsoo tak bergeming, Jongdae pun berkata berniat mencairkan raut tegang di wajah seseorang yang baru saja kembali menjadi perempuan itu.
"Eyy.. kau kenapa? menyesal ya?" ledek Jongdae sembari cekikikan.
Langsung saja Kyungsoo mendelik tajam ke arah laki-laki itu. "Sama sekali tidak menyesal! A-aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi teman-teman di sekolah.." ia bergumam lemah di akhir kalimat.
"Wae..? kau bilang akan menjawab pertanyaan orang satu sekolah nanti?" Jongdae masih cekikikan membuat Kyungsoo merengek kesal.
Ia pun memutar otaknya dan berpikir keras, lalu dengan cepat tiba-tiba senyuman miring muncul ketika ide gila terlintas begitu saja di kepala Kyungsoo. "Jongdae, kau mau membantuku 'kan?" gadis ini merengek sambil memperlihatkan pesona yang terlihat imut sekaligus menggemaskan.
"Aigoo.. Kyung, jangan membuatku ingin berpaling dari Minseok."
Plak!
Jongdae lantas meringis sakit mendapat tamparan dari Heechul tepat di lengan kanannya. "Haish.. halmeoni, aku hanya bercanda saja!" sungut remaja itu mengerucutkan bibir lucu sambil mengusap-usap lengannya yang di rasa perih.
"Maka dari itu, jangan bercanda!"
Pertengkaran kecil antara nenek dan cucu ini sukses membuat Kyungsoo tak bisa menahan tawa. Sementara Jongdae berhenti menggerutu, Kyungsoo kembali menatap Heechul dengan senyum rasa berterima kasih.
"Bagaimana aku harus membalasnya, halmeoni? Kau sangat membantuku, begitu juga dengan cucumu yang tampan ini.. dia teman yang paling baik. Aku tak tahu harus berbuat apa selain berkata terima kasih.. aku sangat berterima kasih padamu.."
Dapat membantu Kyungsoo sudah cukup membuat Heechul senang. Ia sungguh tak menginginkan balasan apa-apa, bahkan niatan berharap sesuatu pun tidak ada dibenaknya. Heechul benar-benar tulus, terlebih secara tidak sengaja ia hampir menghabisi nyawa gadis ini. Melihat keadaan Kyungsoo yang sehat saja sudah cukup membuat Heechul lega.
"Kyungsoo, jadilah gadis yang baik untuk kehidupanmu sendiri, itu adalah balasan terima kasihmu untuk halmeoni." Heechul melangkah mendekat sambil merentangkan kedua tangan.
Setetes bulir air menelusuri pipi mulus Kyungsoo, segera saja ia memeluk erat wanita berhati ibu peri baginya. Kyungsoo tak tahu harus bagaimana lagi untuk mengungkapkan rasa terima kasih, Heechul membuat hidupnya tampak berarti. Ia menumpahkan semua perasaan bahagia dalam pelukan Heechul saat ini.
"Terima kasih banyak, halmeoni.. terima kasih.."
"Semoga dengan menjadi perempuan, kau tak sulit mendapatkan kekasih.— eh? tunggu dulu. Jongdae pernah bilang kau berpacaran dengan Jongin ya? ah.. aku lupa.."
Kyungsoo hanya terkekeh namun pipinya terlihat merona. Mendengar Heechul berkata 'sulit mendapatkan kekasih', ia pun mengingat masa-masa sulitnya ketika masih menjadi namja dulu.
"Kau tahu, halmeoni? Saat aku masih menjadi laki-laki, satu wanitapun tak ada yang ingin menjadi kekasihku, mereka menolak karna tubuhku mungil seperti perempuan, juga mereka mengatakan wajahku lebih cocok untuk menjadi perempuan. Dengan aku yang berganti gender, aku bisa mendapatkan namja tampan, dia adalah idola di sekolahnya. Dia Kim Jongin, salah satu namja yang selalu di perebutkan oleh para gadis-gadis di sekolah."
Giliran Heechul yang terkikik mendengar perkataan polos gadis ini. Sementara Jongdae bukan hanya cekikikan, ia sudah tertawa terbahak-bahak sekarang. Jongdae tahu betul bagaimana gerutuan Kyungsoo padanya saat tak kunjung mendapatkan kekasih dulu.
"Kau benar, Kyung. Wajahmu imut seperti perempuan, kenapa dulu kau tidak terlahir sebagai yeoja saja? dan malah repot-repot meminum ramuan halmeoni. Bhahahaha!"
Seketika Kyungsoo merasa kesal sampai melepas pelukan Heechul dengan pelan. Ia tak segan-segan menatap tajam ke arah remaja laki-laki yang masih terbahak-bahak itu.
"Yak! Jangan meledek! Aku tahu aku tidak pantas menjadi laki-laki. Karna itulah aku meminta bantuan halmeoni."
"Ya, ya, ya. Seingatku kau jadi bahan obrolan para namja di sekolah. Aku akui kau memang cantik, Kyung."
Seketika senyuman kembali mengembang manis di wajah Kyungsoo. Walaupun Jongdae masih terkikik geli saat mengatakannya, tetapi tatapan mata remaja itu begitu tulus hingga Kyungsoo dibuat merona mendengar pujian barusan.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang. Lagipula kau masih perlu banyak istirahat. Aku tak ingin appamu mencari-cari anak gadisnya."
Kyungsoo tertawa mendengar candaan barusan. Mereka pun berpamitan, Kyungsoo memeluk erat Heechul dan bergumam banyak terima kasih padanya, begitu pula dengan Jongdae.
"Halmeoni, kami pulang dulu.. terima kasih banyak."
"Iya, Kyung.. Jongdae, jagalah Kyungsoo. Hati-hati di jalan ya.." Heechul mengusap kepala Kyungsoo sambil tersenyum manis. Mengenal remaja berwajah cantik ini membuat Heechul serasa mempunyai seorang cucu selain Jongdae.
"Baik, halmeoni.. kalau begitu kami pulang. Kyung, kajja.."
.
.
.
Mobil sport hitam milik Jongdae berhenti di sebuah pekarangan luas mansion keluarga Do. Meski mesin mobil sudah mati, nampaknya Kyungsoo hanya terdiam sesekali meneguk air liurnya susah payah serta kedua tangan mengepal erat. Sesungguhnya Kyungsoo belum siap, lebih tepatnya belum siap bertemu dengan Baekhyun.
"Hey, turunlah.." Jongdae berkata pelan disertai dengan kekehan. Remaja ini sedari tadi sudah menangkap sinyal gugup dari wajah gadis disampingnya karna akan bertemu orang rumah.
Kyungsoo melirik Jongdae dengan tatapan memohon. "Sebentar lagi.."
"Hhh.. baiklah. Ngomong-ngomong, kemana Jongin? kenapa dia tidak ada di apartemen?"
"Dia sedang pulang ke rumah. Sebentar lagi mungkin dia akan datang kemari untuk menginap."
Jongdae hanya mengangguk paham. Mendengar itu sudah tidak asing baginya. Ia sudah tahu kalau hubungan keluarga Kim dan Do sangat dekat semenjak Kyungsoo dan Jongin belum lahir ke dunia.
Ya, setelah dari rumah Heechul mereka mampir dahulu ke apartemen Kyungsoo dan Jongin untuk mengemas beberapa setel pakaian perempuan dan perlengkapan sekolah mengingat Kyungsoo akan tinggal di rumah untuk beberapa hari. Sebelum pulang mereka berhenti sejenak di sebuah toko furniture dan aksesories, baru setelahnya melanjutkan perjalanan ke rumah Kyungsoo.
"Jongdae-ya, dulu kau yang memberitahuku kalau Heechul halmeoni adalah seorang pesihir, kau tak mengingatnya?"
"Entahlah, Kyung. Aku benar-benar lupa. Yang ku ingat, halmeoni memintaku untuk memberikan ramuan obat untuk seseorang, dan itu kau! temanku sendiri. Awalnya aku terkejut, takut kalau kau mengidap penyakit mengerikan. Tapi ternyata, lebih dari itu. Bagaimana bisa kau terkena efeknya? apa kau terjatuh?"
Kyungsoo menggeleng pelan. "Jariku tergores pisau saat memotong bawang."
"Pantas saja.."
Melihat Kyungsoo kembali terdiam, Jongdae menghela napasnya. Remaja itu mengetuk-ngetuk stir mobil dengan telunjuknya tanda sudah merasa bosan berdiam lama di dalam mobil seperti ini.
"Berapa lama lagi? Masuklah.. atau kau masih ingin berkencan denganku?" ucapnya bergurau.
"Yak! tadi itu bukan kencan Kim Jongdae!" Kyungsoo mengerutkan bibir, merasa sebal dengan guyonan Jongdae yang tidak tepat untuk moodnya saat ini.
"Hahaha! aku tahu.. aku tahu. Ayo masuk.. ku ambilkan kopermu dulu."
Jongdae sudah keluar dari mobil, sementara Kyungsoo masih diam terduduk. Sampai namja ini selesai mengambil barang milik Kyungsoo di bagasi dan menarik pegangan sebuah koper biru berukuran lumayan, tak besar dan tak kecil. Melihat Kyungsoo yang malah melamun, ia pun mengetuk kaca mobil di dekat yeoja itu.
"Kajja..!"
Dengan perasaan berat hati bercampur takut akhirnya Kyungsoo menuruni mobil Jongdae. Ia terus menggigiti bibir bawahnya sementara Jongdae sudah berjalan lebih dulu menarik koper mendekati pintu utama rumahnya.
Jongdae tersenyum melihat Kyungsoo yang berjalan lambat, setelah mereka berdiri berhadapan di depan pintu utama, ia mengusak puncak kepala Kyungsoo dengan gemas. Berpikir bahwa orang yang dulunya berjenis kelamin laki-laki itu terlihat sangat pantas menjadi perempuan.
Jongdae merasa menjadi orang nomor satu yang mendukung hubungan Kyungsoo dan Jongin. Melihat mereka berdua saling mencintai tanpa mempermasalahkan gender, dan akhirnya Kyungsoo berkorban untuk merubah hidupnya sebagai perempuan demi Jongin. Hal itu sangat membuat Jongdae terenyuh sekaligus salut pada sosok tegar seperti Kyungsoo.
"Masuklah.. dan mulai hidup baru bersama keluargamu." ujarnya masih memasang senyum menawan.
Kyungsoo ikut tersenyum, ia mendekat dan memeluk Jongdae sesaat kemudian melepasnya kembali. "Temanku, Jongdae. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?"
"Seperti yang halmeoni katakan. Jadilah gadis baik di kehidupan barumu. Jangan terlalu memikirkan orang-orang di sekolah, tenang saja.. aku akan membantu mengatasi mereka. Sekarang, kau harus menemui appa dan eommamu. Fighting!" Jongdae berujar ceria sambil mengepalkan sebelah tangan memberi semangat.
Air mata Kyungsoo serasa ingin menetes. Walaupun memang orang akan heran dan menjauhinya karna ia berganti gender, tetapi setidaknya ia masih memiliki orang-orang yang menyayanginya.
"Jongdae-ya.. terima kasih.." Kyungsoo berkata parau dan Jongdae hanya tersenyum sambil mengusak puncak kepala gadis itu sekali lagi.
Kyungsoo sangat bersyukur memiliki teman baik yang mempunyai halmeoni seorang pesihir. Ia sangat berterima kasih pada Jongdae, terlebih tadi remaja ini membantunya untuk memohon pada Heechul agar ia kembali menjadi perempuan, dan dengan mudah Heechul menuruti semua itu berkat sang cucu yang mendukungnya.
Kyungsoo merasa sangat berhutang budi pada Jongdae dan Heechul. Jika tidak ada mereka, mungkin sampai sekarang Kyungsoo tak akan pernah mempunyai kekasih. Dan berkat mereka, ia bisa berpacaran dengan seorang idola tampan di sekolah, yah.. walaupun sang idola sekolah itu sudah di anggap sebagai adik kandungnya sendiri, tetapi Kyungsoo bersyukur mempunyai kekasih tampan yang menjadi sosok namja idaman bagi para gadis-gadis disekolahnya.
Jari lentik Kyungsoo terangkat untuk menyeka air matanya yang mulai menggenang di pelupuk.
"Majja.. sekarang masuklah.." Jongdae melirik arloji hitam di pergelangan tangan kirinya sambil menggaruk tengkuk malu-malu. "Kali ini aku benar-benar ada kencan dengan Minseok. Tapi aku akan mengantarmu sampai ke dalam."
Kyungsoo tertawa kecil lalu menggeleng pelan kemudian. "Tidak perlu, terima kasih. Sekarang pergilah.. Minseokmu sudah menunggu."
"Hehehe.. baiklah. Aku pergi ya.."
Kyungsoo terus melambai sampai mobil Jongdae menghilang dari pandangannya. Menyadari kini hanya ia sendiri yang berdiri disana, ia pun mendesah pasrah. Berkali-kali Kyungsoo menarik napas untuk memantapkan hati, namun entah mengapa kaki mungil miliknya enggan mau melangkah. Kyungsoo mengepalkan kedua tangan, menarik napas panjang sekali lagi dan menatap daun pintu utama rumah besar keluarganya. Hari-hari selanjutnya akan lebih berat.
Sebelah tangan sudah menggenggam erat pegangan koper, dan dengan pelan sebelah tangan yang lain meraih gagang pintu lalu dibukanya sampai Kyungsoo berhasil memasuki ruang tamu yang luas.
Kyungsoo membuang napas, ia merasa sedikit lega untuk sekarang ini. Suasana rumah nampak sepi, Kyungsoo kembali menutup pintu dan menarik kopernya sampai memasuki kamar. Di kamar yang lumayan luas miliknya ia berdiri di depan cermin. Mengamati wajah dengan sorot mata yang terlihat sayu.
"Aku.. harus melakukan apa sekarang?"
Tanpa sadar, Kyungsoo menitikkan air mata. Ia tak tahu harus berbuat apa. Apa Kyungsoo perlu berteriak pada semua orang bahwa dia seorang perempuan sekarang. Apa Kyungsoo perlu memberitahu alasan mengapa ia seperti ini. Mustahil, itu akan membuatnya disebut gila. Keputusannya untuk berganti gender membuat ia bahagia bukan main, tetapi disisi lain Kyungsoo merasa takut mendengar respon orang-orang sekitar.
Serasa tenggorokan berubah kering, ia pun memutuskan untuk melangkah ke ruang dapur dan meneguk minuman orange juice yang sebelumnya sudah ia ambil dari dalam lemari pendingin. Kesegaran minuman jus membuatnya sedikit lebih tenang.
"Tu-tuan muda?"
Mendadak Kyungsoo tersedak minumannya ketika bibi Song menghampiri dengan mata yang membola terkejut. Ia pun terbatuk-batuk kecil dan berusaha bersikap setenang mungkin di hadapan wanita baya yang sudah menjadi maid di sini bahkan sewaktu Kyungsoo masih berusia delapan tahun.
"Tuan muda tidak apa-apa? A-anda tuan muda Do 'kan?" Bibi Song nampak tidak mempercayai wujud Kyungsoo yang seperti ini. Terlihat dari tatapannya yang menelisik tubuh gadis itu dari atas sampai bawah.
"Apakah anda sudah sehat, tuan? Dan.. terlihat sangat cantik sekali, apakah tuan muda Do sedang merayakan pesta kostum?"
Kyungsoo hanya menghela napas pelan mendengar itu. Apakah dress putih yang dikenakan serta rambut panjang asli miliknya terlihat seperti kostum atau wig di mata bibi Song? Mungkin ini saatnya memberi tahu bahwa ia berganti gender sekarang. Terdengar memalukan untuk mengungkapkan semua ini. Namun apa boleh buat. Yang Kyungsoo lakukan memang demi Jongin. Mengingat Jongin, Kyungsoo jadi frustasi karna belum dapat kabar apapun dari laki-laki itu.
"Bibi.." Kyungsoo berkata pelan menatap bibi Song lekat-lekat. "Aku... aku bilang, kumpulkan semua para pekerja dan maid untuk menemuiku. Aku menunggu kalian disini. Sekarang." Lalu ia memerintah dengan notasi suara santai sambil tersenyum. Senyuman itu terlihat memilukan di mata Bibi Song. Tak ayal jika wanita yang menyandang sebagai maid senior ini mulai bertanya khawatir lebih dulu.
"Apakah terjadi sesuatu, tuan?"
Tuan...
Gadis itu baru sadar sejak tadi bibi Song terus memanggilnya 'tuan'. Panggilan tuan jelas untuk laki-laki. Dalam hati Kyungsoo meringis melihat keadaannya yang menjadi wanita masih di panggil 'tuan'. Kyungsoo nampak tidak nyaman berada dalam situasi sekarang. Ia pun kembali mencoba tersenyum walau paksa dan menatap bibi Song yang membalas tatapannya dengan khawatir.
"Tidak apa-apa, bi. Panggilkan semua pekerja di rumah ini sekarang ya.." notasi suara Kyungsoo terdengar bukan sedang memerintah melainkan seperti meminta sesuatu pada maid senior itu.
Sebuah senyum dan anggukan dari Bibi Song sudah cukup membuat jantung Kyungsoo berdebar karna akan menghadapi orang-orang yang pasti bingung melihat perubahan pada tubuhnya.
Satu persatu para maid yang rata-rata sudah menginjak kepala empat atau bahkan lima yang masih terlihat aktif itu berkumpul di ruang dapur yang luas. Terhitung sekitar ada sepuluh orang pekerja termasuk bibi Song. Bahkan supir pribadi orang tuanya ada disana mengisyaratkan bahwa Chanyeol dan Baekhyun tidak pergi kemana-mana. Orang tuanya ada di rumah, dan Kyungsoo tak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini.
Ia terus menunduk sambil memainkan jari-jarinya seperti anak perempuan. Ini sikap alami Kyungsoo, dia tidak sedang berakting. Naluri laki-lakinya lenyap begitu saja semenjak ia jatuh cinta pada Jongin.
Wajah para pekerja memandang Kyungsoo bingung dengan penuh tanda tanya di kepala mereka masing-masing. Saat itu baru Kyungsoo berani mengangkat kepala ketika bibi Song mempersilahkan Kyungsoo untuk melakukan niatannya mengumpulkan para pekerja disini. Posisi bibi Song yang berjarak tak jauh dari tempatnya berdiri membuat Kyungsoo sedikit tenang karna merasa seperti ditemani.
Ketara sekali rasa gugup di wajah cantik Kyungsoo, terlihat dari bagaimana gadis itu meremas sisi rok dress yang dikenakan serta menelan ludah susah payah. Kyungsoo kini memberanikan diri menatap satu persatu wajah orang-orang yang memandangnya terkejut dan penuh tanya.
"Kalian heran melihatku, bukan?" walau bibirnya bergetar, Kyungsoo tetap berbicara jelas. "Mengapa aku terlihat seperti perempuan? Aku tahu pertanyaan itu ada dalam kepala kalian." Kyungsoo beralih menatap bibi Song dengan senyuman tipis sesaat lalu kembali menatap para pekerja.
"Aku bukan sedang merayakan pesta kostum atau memakai rambut palsu. Ini rambutku sendiri.. kalian boleh menariknya jika tidak percaya. Dan sebenarnya..." Kyungsoo membuang napas sejenak untuk sekedar menghilangkan rasa gugup. Sementara itu, wajah orang-orang di hadapannya semakin mengerut bingung dan diam mendengarkan perkataan sang majikan muda dengan seksama.
"Aku mengumpulkan kalian disini untuk memperkenalkan diriku yang baru. Ya, memang tidak ada yang berubah. Namaku tetap Do Kyungsoo, ayahku Chanyeol dan ibuku Baekhyun. Aku begitu malu mengatakan ini, tapi.. aku harus memberitahu kalian semua. Kalau aku—"
"Perempuan! Sebenarnya anakku itu perempuan. Dia sudah tidak bersikap tomboi lagi. Jangan karena kelakuan dan penampilannya seperti laki-laki, kalian dengan bebas memanggil dia 'tuan' muda. Maaf, aku tidak pernah membahas masalah gender putriku ini. Mulai sekarang panggil dia 'nona' muda. Kalian lihat sendiri dia menjadi feminim sekarang. Mengerti? Kembalilah bekerja."
Kyungsoo berjengit kaget ketika mendapati sosok ibunya menatap dingin seolah akan menelan Kyungsoo hidup-hidup. Tetapi disisi lain Kyungsoo merasa terharu karna Baekhyun membantunya menjelaskan pada para pekerja walau itu dengan sebuah kebohongan.
Di saat para pekerja sudah beranjak ke segala arah, sementara bibi Song masih diam di tempat. Kenyataan Kyungsoo berjenis kelamin perempuan benar-benar mengejutkan. Selama kurang lebih sembilan tahun lamanya bekerja pada keluarga Do. Dirinya tidak pernah menyadari bahwa anak satu-satunya dari sang majikan berjenis kelamin perempuan.
Bibi Song memang tidak pernah mengurus Kyungsoo mengingat Baekhyun dengan penuh hati merawat si kecil Kyungsoo dengan kasih sayang dan kedua tangannya sendiri. Sejak Kyungsoo kecil bibi Song tidak pernah di perintahkan untuk mengurus Kyungsoo. Mengurus dalam arti menyuapinya makan, menemani bermain, dan memandikan anak itu membuatnya tidak pernah melihat jenis kelamin Kyungsoo langsung.
Lagipula ketika ia pertama kali bekerja di rumah ini, Kyungsoo sudah berusia delapan tahun dan tidak perlu di mandikan lagi. Mendengar pengakuan dari nyonya besar yang mengatakan bahwa anaknya seorang perempuan, membuat bibi Song merasa bersalah karna selalu menganggap Kyungsoo sebagai laki-laki hanya karena anak itu berpenampilan seperti laki-laki sungguhan. Ya, dulu memang Kyungsoo laki-laki.
Bibi Song adalah pekerja paling lama dan senior di rumah ini, tetapi dirinya tidak tahu menahu jenis kelamin anak dari majikannya sendiri mengingat Baekhyun maupun Chanyeol tidak pernah membahas gender anak mereka. Karna tanpa majikannya memberitahu, tentu bibi Song mempunyai mata untuk melihat Kyungsoo dan mengenalinya.
"Bi, tolong ambilkan air hangat." Interupsi dari nyonya besar membuatnya sedikit gelagapan dan langsung melakukan hal yang di perintah.
"Ini, nyonya." Bibi Song menyerahkan segelas air putih hangat kepada Baekhyun dengan hormat.
Segera Baekhyun meneguk air itu hingga setengah lalu menyerahkan gelas kembali pada bibi Song. Sementara Kyungsoo masih menatap sang ibu dengan takut-takut, saat itu juga Baekhyun menarik tangan anaknya dan membawanya ke dalam kamar.
Sementara Chanyeol yang baru saja keluar dari kamar mandi tersentak kaget melihat istrinya membawa seorang gadis remaja menerobos masuk ke dalam sana. Pria ini kembali tersentak karna pintu yang di tutup dengan keras.
Anak gadis siapa yang Baekhyun bawa? Wajahnya persis seperti Kyungsoo.
Butuh beberapa detik untuk Chanyeol menyadari sosok gadis yang diseret Baekhyun tadi. Pikirannya mencoba mengingat jelas rupa gadis itu. Wajahnya memang sangat mirip dengan Kyungsoo. Ya, sangat mirip.
Dia sangat mirip dengan Kyungsoo. A-apa?! Mirip?! Oh! Jangan-jangan...
"Yak! Baekhyun, jangan macam-macam pada Kyungsoo! Argh! Sial, kau mengunci pintunya!"
Baekhyun tak peduli dengan teriakan sang suami serta pintu kamar mandi yang di gedor begitu keras. Wajah Baekhyun masih tak bersahabat, ia terus menatap ke arah wajah cantik ketakutan di hadapannya.
"Kau... Do Kyungsoo? Kau putraku? Kau anakku?"
Kyungsoo bisa merasakan matanya memanas untuk saat ini. Ingin rasanya bersimpuh dan memohon maaf pada ibunya. Namun Kyungsoo ingin memberi penjelasan lebih dulu. Ia mendongak untuk menatap wajah ibunya yang mengkilat emosi. Dengan bibir bergetar ia belum sanggup berkata apa-apa dan hanya menganggukkan kepala singkat sebagai jawaban.
"Tidak. Kau bukan Kyungsoo. Anakku itu laki-laki!"
"I-ini aku, eomma.."
Mata sipit Baekhyun menelisik tajam tubuh Kyungsoo dari atas sampai bawah kemudian ke atas lagi lalu kebawah sampai ia berhenti menatap wajah yang kembali menunduk takut. Baekhyun tak bisa memercayai apa yang ia lihat sekarang, mungkin lebih tepatnya belum.
"Kau benar-benar Kyungsoo?"
"I-iya.."
"Kau sungguh berubah... Bagaimana bisa kau berubah secepat itu, Kyung?!"
Bibir Kyungsoo terasa kelu, ia tidak bisa berbicara barang sedikit saja. Gadis ini benar-benar takut melihat respon ibunya. Bahkan untuk melirik wajah cantik sang eomma pun Kyungsoo tidak sanggup. Baekhyun tetap sama. Selalu meledak-ledak jika dirinya mendapati hal yang tidak mengenakan.
"Oh... aku bisa gila! Bagaimana ini terjadi?! KAU—!"
Napas Baekhyun mulai naik turun karna emosi. Wajahnya terlihat memerah menahan rasa marahnya. Sementara Kyungsoo menggigit bibir bawah dan mengepalkan tangan kuat-kuat, ia masih butuh waktu yang tepat untuk bisa menjelaskan perubahan ini pada orang tuanya.
"JANGAN DIAM SAJA!"
Notasi suara Baekhyun sungguh menyeramkan bagi Kyungsoo. Air mata gadis itu mulai berlomba-lomba melewati pipinya yang mulus. Baekhyun adalah sosok ibu dengan penuh perhatian dan kasih sayang, namun jika sudah membuat wanita ini marah, ia berubah menjadi sosok yang patut di hindari.
"Baek, kumohon keluarlah! Aku ingin melihat Kyungsoo. Jangan macam-macam padanya!"
Suara sang ayah terdengar lagi hingga ingin rasanya Kyungsoo berlari dan bersembunyi dalam pelukan Chanyeol.
Appa.. aku sudah berubah, tapi kau tetap mengenaliku? Appa.. aku takut. Aku tidak takut sama sekali jika eomma ingin memukulku, tetapi yang ku takutkan adalah jika dia tidak akan pernah menganggapku sebagai anaknya lagi. Kumohon.. semoga appa tidak kecewa dengan keputusanku untuk berganti gender menjadi perempuan.
Dalam hati Kyungsoo terus bergumam berharap Chanyeol tidak akan kecewa melihat wujudnya yang sekarang. Cukup Baekhyun saja yang kecewa melihatnya, ia tidak ingin melukai hati Chanyeol dengan keputusan konyolnya ini. Sungguh Kyungsoo tidak berniat membuat Baekhyun dan Chanyeol merasa kecewa.
"KYAAAAA! EOMMAAAAAAA!"
Tiba-tiba Baekhyun menarik rambut panjang Kyungsoo sampai gadis ini menunduk mengikuti gerak tangan ibunya. Rasa perih pada kulit kepala karna rambut yang di tarik paksa itu membuat Kyungsoo berteriak keras.
"Yak! Baekhyun, kubilang jangan macam-macam!" Chanyeol masih berseru lantang di luar sana, pintu kamar mandi kini bukan hanya di gedor dengan brutal melainkan di tendang dengan kaki.
Begitu ibunya melepas beberapa helai rambut dari cengkramannya yang ganas, Kyungsoo pun menarik napas lega.
"Ternyata.. ini rambut sungguhan.." Baekhyun bergumam menatapi rambut Kyungsoo yang tergerai indah nyaris sampai pinggang.
"AAAAAA! EOMMA, APA YANG KAU LAKUKAAAAAN!"
Kembali Kyungsoo berteriak ketika mendapati remasan kuat di dadanya. Gadis ini menggenggam tangan Baekhyun yang tengah meremas keras bongkahan kenyal di dada.
"Ini juga payudara sungguhan.." mengabaikan ringis sakit sang anak. Baekhyun terus meremasnya beberapa kali lalu menjauhkan tangan kemudian. Mata sipitnya beralih ke bawah tepat pada selangkangan Kyungsoo.
"Sekarang aku ingin melihat kelaminmu, buka baj—"
"Tidak! Tidak eomma! Apakah dengan begini belum cukup untuk meyakinkan dirimu?" Kyungsoo mundur satu langkah sambil menyilangkan kedua tangan menutupi dadanya sendiri.
Mendengar itu Baekhyun tertawa seolah meremehkan. "Ayolah.. jika memang kau sudah menjadi perempuan sungguhan. Apa salahnya jika eomma ingin melihat kelaminmu, kita sesama perempuan, bukan?"
Kyungsoo menelan ludah melihat ibunya mendekat. Ia pun pasrah saja ketika Baekhyun mengangkat rok dress dan menarik celana dalamnya hingga Kyungsoo dapat melihat ekspresi terkejut di wajah Baekhyun.
Untuk beberapa detik Kyungsoo kembali memakai celana dalam dan membenahi pakaiannya sendiri. Gadis ini menggit bibir bawahnya dan menatap takut-takut wajah Baekhyun yang masih terkejut.
"I-itu kelamin perempuan sungguhan.." Baekhyun bergumam lagi. Mata sipitnya masih membola. Wanita ini berpikir perubahan pada tubuh anaknya serasa mustahil. Bagaimana Kyungsoo dapat berubah menjadi perempuan dalam waktu cepat? Ini benar-benar di luar nalar akal sehat manusia. Sebenarnya hal apa yang dapat membuat Kyungsoo seperti ini? Berubah menjadi perempuan benar-benar ajaib. Menakjubkan.
Beberapa saat kemudian wanita itu membuka kunci pintu kamar mandi dan menerjang tubuh Chanyeol yang berada didepan disana. Memeluk sang suami begitu erat sampai Chanyeol dibuat terheran-heran.
"Ssshh.. sudah, sayang." Chanyeol sedikit panik mendapati istrinya menangis sampai sesenggukan. Ia terus membelai halus surai Baekhyun guna meredakan tangis sang istri. Kini Chanyeol menoleh ke arah seorang gadis yang berdiri mematung di hadapan mereka. Senyum Chanyeol mengembang membuat Kyungsoo merasa lega dan tanpa sadar air mata gadis ini kembali menetes.
"Perempuan tidak boleh lama-lama menangis, nanti cantiknya hilang.." Perkataan Chanyeol sengaja di tunjukkan untuk Baekhyun dan Kyungsoo yang sama-sama tengah menangis.
Bahkan sekarang Kyungsoo terisak melihat Baekhyun sesenggukan parah di dada ayahnya. Kyungsoo belum melakukan niatnya untuk meminta maaf, tetapi Baekhyun sudah menangis lebih dulu. Ini terasa menyakitkan melihat ibunya menangis akibat ulahnya sendiri.
Baekhyun tak pernah membayangkan anaknya yang semula berjenis kelamin laki-laki kini dengan sekejap berubah menjadi perempuan. Namun inilah kenyataan yang ada, Kyungsoo benar-benar berubah. Entah apa dalam pikiran Baekhyun, wanita itu terus menangis.
Sementara, Chanyeol tetap mendukung apapun keputusan anaknya, selagi Kyungsoo nyaman dengan pilihannya sendiri, Chanyeol tidak akan mempermasalahkan hal itu. Pria yang menyandang sebagai ayah Kyungsoo itu sama sekali tidak berniat bertanya dari mana dan bagaimana Kyungsoo dapat merubah tubuhnya dalam sekejap. Baginya yang terpenting Kyungsoo dalam keadaan sehat dan baik-baik saja sekarang.
"Yeol.. hiks.. anakku.. anakmu.. anak kita.. perempuan.. hiks.. tubuhnya persisi menyerupai diriku. Kyungsoo mempunyai rambut panjang, payudara, dan kelamin pe—"
"Ssshh.. sudah.. sudah.. bagaimana, hm? Sekarang dia semakin cantik 'kan? Sewaktu masih menjadi laki-laki pun anak kita berwajah cantik dan mempunyai tubuh ramping seperti perempuan. Bukankah saat mengandung dulu kau menginginkan anak perempuan? Dan aku malah menginginkan seorang anak laki-laki. Mungkin Tuhan bingung ingin mengabulkan doa siapa. Maka jadilah Kyungsoo seperti itu. Dan sekarang, Tuhan mengabulkan doamu, Baek. Sudah, jangan menangis.."
Perkataan Chanyeol barusan membuat Baekhyun tiba-tiba berhenti menangis dan mengangkat wajah sembabnya menatap hangat mata bulat sang suami. Rasa marah serta kecewa pada diri Baekhyun seketika lenyap entah kemana. Chanyeol membalas tatapan itu sambil tersenyum tampan dan mengecup pipi basah istrinya sekilas lalu menyeka sisa-sisa air mata disana.
"Chanyeol-ah, maaf karena dulu aku menginginkan seorang anak perempuan."
Chanyeol tertawa geli mendengarnya. "Semua orang punya selera masing-masing, sayang. Dan aku tidak peduli apapun jenis kelamin anak kita. Memiliki istri cantik seperti Baekhyun dan... putri yang tak kalah cantik seperti Kyungsoo sudah cukup membuatku bahagia setengah mati."
Tidak merasa malu sedikitpun di depan anaknya, Baekhyun mencium bibir Chanyeol dan melumat belah bibir suaminya sebentar. Tanpa di duga-duga setelahnya Baekhyun menghambur memeluk Kyungsoo yang otomatis berganti menangis haru. Apapun yang terjadi, tetapi Baekhyun telah menyayangi Kyungsoo teramat sangat. Ia adalah darah daging dan anak satu-satunya yang Baekhyun dan Chanyeol miliki.
"Maaf.. maafkan eomma, Kyungie. Aku tidak peduli dari mana kau mendapatkan tubuh seperti ini. Aku tidak akan mempertanyakan hal itu padamu. Ayo kita memulai dari awal. Kita jadi bisa berbelanja bersama, memasak, dan menghias bunga-bunga cantik. Kita juga bisa pergi ke mall atau butik untuk shoping, dan ke salon bersama-sama. Kau mau 'kan?"
"Ey.. kalian ingin menghabiskan uangku, ya?" Chanyeol menyahut dengan nada bercanda membuat Baekhyun mau pun Kyungsoo terkekeh bersama.
"Jangan dengarkan appa, Kyung. Tenang saja, uang appamu tidak akan habis."
Kali ini Kyungsoo tertawa mendengar ucapan Baekhyun. Pada dasarnya, Baekhyun adalah wanita yang menyukai fashion serta pintar merawat tubuh. Melihat perubahan gender pada anaknya membuat wanita itu senang karna akan melakukan aktifitas bersama-sama.
Awalnya memang Baekhyun sangat marah melihat Kyungsoo benar-benar berubah menjadi seorang perempuan, namun disisi lain Baekhyun sendiri merasa ingin mempunyai anak perempuan mengingat dirinya dulu di vonis oleh Dokter tidak akan bisa mengandung lagi karna suatu penyakit.
Hal itu membuat Baekhyun merasa bersalah pada Chanyeol karena ia tidak bisa memberikan keturunan kedua untuk mereka. Tetapi seperti yang Chanyeol bilang tadi, memiliki Baekhyun dan Kyungsoo saja sudah cukup membuat ayah ini bahagia setengah mati.
Kyungsoo sendiri menangis haru dalam pelukan Baekhyun. Walaupun nanti orang lain tidak menerima perubahan tubuhnya, tapi asalkan keluarga kecilnya menerima dengan penuh hati. Tuhan begitu baik, Kyungsoo yang mengira kalau Baekhyun tidak akan menganggap sebagai anak lagi kini malah mengajak ia melakukan hal-hal yang dilakukan perempuan pada umumnya.
Sementara itu Chanyeol tersenyum melihat istri dan anaknya yang masih berpelukan, pria itu pun lalu melangkah mendekat dan ikut serta memeluk tubuh kedua wanita yang sangat ia sayangi seumur hidupnya.
.
.
.
"Ayolah.. angkat teleponku.."
Jongin menggeram frustasi saat suara operator kembali menyahut. Remaja ini kemudian merebahkan diri di ranjang dengan lelah. Ponsel tergeletak begitu saja di sisi kepalanya. Ia ingin menenangkan pikirannya sejenak mengingat perdebatan hebat antara dirinya dengan sang ayah beberapa jam lalu membuat kepala Jongin terasa pening. Ia sudah berkali-kali mencoba menelepon Kyungsoo namun tak satupun panggilannya di jawab.
"Kyungie.. Kyungie.." Jongin bergumam membayangkan Kyungsoo berada didekatnya. Matanya terpejam sambil bibir terus menyerukan nama Kyungsoo dengan lirih.
Pada mata yang terpejam itu, bulir air tiba-tiba meluncur ke samping dari sudut matanya. Gumaman Jongin yang semula lirih berubah terdengar pilu. Ia terus memanggil nama Kyungsoo tanpa embel 'hyung' atau 'noona'. Jongin tak peduli kekasihnya itu berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Yang jelas, Jongin sangat mencintai Kyungsoo.
Mendadak Jongin membuka mata dan menatap kosong langit-langit kamar. Ia tercenung membayangkan wajah cantik Kyungsoo sedang tersenyum ke arahnya hingga Jongin merasa rindu yang amat dalam. Padahal baru beberapa jam ia telah bertemu Kyungsoo. Air matanya menetes lagi. Semakin deras.
Dengan cepat laki-laki itu mengubah posisi duduk lalu menyambar ponsel kembali dan mencoba menghubungi sang kekasih. Berharap besar kali ini Kyungsoo dapat menerima panggilannya. Beberapa detik menunggu akhirnya suara lembut yang Jongin rindukan itu telah menyahut, bukan suara nada sambung atau suara operator lagi.
"Jongin-ah.."
Begitu mendengar Kyungsoo memanggilnya dengan notasi suara ceria, membuat Jongin malah terisak kecil. Ingin rasanya memeluk erat pemilik suara ini. Membawanya ke dalam dekapan dan hidup berdua tanpa pantangan apapun. Jongin masih diam berusaha menghentikan isakan yang membuat ia terlihat lemah sebagai laki-laki. Ia tidak boleh seperti ini.
"Jongin.. ada apa, hm?"
"Sayang... aku mencintaimu... aku mencintaimu... a-ku...aku..." Jongin akhirnya bersuara walau terdengar bergetar. Mati-matian ia menahan isakannya namun isakan itu malah terdengar semakin keras.
Di seberang telepon ia dapat mendengar notasi suara Kyungsoo berubah khawatir. Dalam lima detik kekasihnya ikut terisak seiring terus bertanya apa yang terjadi pada dirinya. Jongin menyadari bahwa Kyungsoo sudah menangis juga sekarang. Isakan Kyungsoo di telepon begitu terdengar menyakitkan. Kyungsoo adalah kelemahannya.
Jongin tidak sanggup menjelaskan sesuatu yang terjadi. Ia tahu ini akan menyakiti Kyungsoo, bahkan dirinya sendiri. Dengan begitu ia hanya mampu berkata lirih sarat akan ketulusan. Jongin sebenarnya belum siap pada kemungkinan hubungannya bersama Kyungsoo akan berakhir akibat permasalahan ini. Ia sangat mencintai Kyungsoo.
"Percayalah.. walaupun tidak dalam jarak dekat, aku tetap mencintaimu, Kyungie..."
Beritahu aku.. ini belum berakhir 'kan? Beritahu aku, Kyungie.. kumohon, jangan memutuskanku. Katakan padaku bahwa ini belum berakhir!
Jongin sangat berharap Kyungsoo tidak akan terjekut dengan masalah yang ia hadapi sekarang. Ia merasa cemas kalau Kyungsoo akan berbicara sesuatu yang tidak diinginkan, namun Jongin malah mendapatkan jawaban pasti yang membuat hatinya seketika menghangat akibat suara yang mengalun lembut bagaikan melodi indah di telinganya.
"Aku percaya. Karna aku juga mencintaimu, Jongin."
.
.
.
TBC
.
.
.
Girl let me know.. girl let me know..
Imi da kkeutnan geon algo itjiman..
Miryeonirado namji ankeman..
Girl let me know.. girl let me know..
Girl let me know mworado malhaejwo..
Song's BTS – Let Me Know ^^
Huuee.. apaan ini? Maaf ya lama updatenya T_T Wey belum tau ini bakal sampe chapter berapa :3
Ada beberapa readers yang udah ngira kalo Kai bakal di jodohin atau dikirim ke luar negri. Huhuhu.. Wey nggak tega kalo ada perjodohan gitu. Jadi, seperti rencana Wey dari awal ketika nulis fic ini. Ya, Kai untuk sementara akan menetap disuatu negara. Wey bakal jelasin di chapter depan serta keseharian Kyung disekolah tanpa bang Kkamjong. Dan tulisan mesum ala Rendy bakal ada lagi nanti kalo Kai dan Kyung punya kesempatan. Wkwkwk!
Ada yang masih bingung soal sihir Chulie halmeoni? Wey jelasin ya..
- Di awal, Chulie itu bikin ramuan berbahan dasar air minum biasa dan salah ngucapin mantra. So, dunia Kyung ikut tersihir dan karna mantranya salah jadi berefek.
- Terus pas Chulie bikin ramuan penawar, pake air minum biasa tapi dikasih mantra dulu supaya dunia ga ikut kesihir, baru deh dikasih mantra lagi supaya sihir yg salah itu hilang.
- Nah, sihir terakhir sama kayak air minum bahan dasar penawar tadi. Terus air itu di kasih sihir supaya ga kena efek dan merubah Kyung jadi cewek untuk selamanya. Otomatis, Kyung bakal diliat sebagai cewek tanpa dunia ikut kesihir dan tanpa efek apapun. Kkkk~ :3 Masih ada yang ga ngerti? ya udah dipahami sendiri aja ya :Ds don't bash me :v
Oke, Wey dan Rendy ngucapin banyak-banyak terimakasih yang udah review kemarin, nge'fav and follow, for silent reader thanks u too. So, review please.. gomawo See u next chapter ^^
.
.
.
WendyXO
