A/N : Sebenarnya inti cerita ini tuh tentang ketidakpekaan Sarada dan besarnya rasa gengsi untuk mengakui perasaannya terhadap Boruto. Boruto suka, tapi Sarada gengsi. Belum lagi cara Boruto mendekati Sarada itu salah, bukannya bikin orang jatuh cinta, kesel iya. Dan dengan bumbu konflik masa lalu Boruto yang terbilang kelam. Sampai dia bertemu Sarada, makanya dia jadi semangat sekolah lagi. Begitu deh intinya, moga suka ya.
Dan maaf ga bisa bales komen manteman, soalnya aku login di hp, ga tau cara balesnya kalo lewat aplikasi ffn. Hehehe.
HAPPY READING
Mentari yang bersinar pagi itu mengundang langit cerah. Namun, tidak secerah hati Sarada. Gadis itu uring-uringan. Semua gara-gara Boruto dan pesan WhatsApp-nya semalam.
"Gue lupa tadi sore ngomong sama lo tentang taruhan itu. Lo dapet nilai sembilan puluh enam kan di ujian Matematika kemarin? Gue udah urus semua sama Pak Kakashi dan nilai gue resmi dapat seratus. Yang artinya lo kalah dari gue. Jadi gimana? Udah siap jadi budak gue, Dek Sarada?"
Sarada berjalan lunglai dengan kepala tertunduk. Memikirkan tentang bagaimana nasibnya setelah ini.
"Ish, nyebelin banget! Selalu aja bawa-bawa gue ke dalam masalah," gerutu Sarada.
Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak menyadari bahwa Chocho sudah berada di belakangnya lalu menepuk pundak Sarada.
"Kenapa lo?" tanya Chocho santai, "lagi PMS? Ngedumel nggak jelas aja dari tadi."
"Lah, kapan dateng? Kok gue nggak lihat?"
"Ya, lo-nya aja yang keterlaluan. Masa gue udah segede ini lo nggak lihat juga?" sahut Chocho memicingkan mata, "tubuh gue bohay udah kayak gitar Italia masa lo anggurin?"
"Ya, kali gitar Italia, Chocho? Yang ada juga gitar Spanyol."
"Emang orang Italia nggak boleh main gitar?" geruto Choho melipat tangan di depan dada. Kalau Sarada sudah bertemu Chocho, ya seperti ini. Obrolannya kadang suka tidak berfaedah. Namun, mereka tentu saling peduli satu sama lain mengingat persahabatan yang telah berjalin mulai SMP.
"Eh, eh! Ada ribut-ribut apa tuh di sana?"
"Kayaknya ada yang berantem deh, ke sana yuk!"
Tiba-tiba beberapa siswa menjadi riuh. Nyaris semuanya berlarian menuju arah kerumunan di samping sekolah, termasuk Chocho dan Sarada. Dengan tubuh ramping Sarada, gadis itu menyelip sampai ke baris depan kerumunan siswa. Hal itu tidak berlaku bagi Chocho yang memiliki tubuh gemuk. Sarada bisa melihat dengan keduanya matanya, satu manusia berkepala kuning sedang menghajar habis-habisan tiga orang sekaligus. Memukul, menendang dengan makian yang sesekali keluar dari mulutnya.
"B*ngsat lo! Berani-beraninya menghina Nyokap gue, cari mati, hah?!" ujar Boruto sembari menarik kerah baju siswa berjenis kelamin laki-laki itu.
"A-ampun, Boruto."
"Minta ampun lo sama Tuhan, supaya setelah gue bikin lo mati, lo masuk surga!"
Anak lelaki yang sudah babak belur itu, dipukul kembali di bagian pipinya hingga tersungkur. Dua rekannya yang lain juga sama, berwajah babak belur.
Mereka tidak terima diperlakukan serendah itu oleh Boruto yang notabane-nya adalah adik kelas mereka. Di mana harga diri mereka sebagai kakak kelas yang seharusnya lebih kuat dan dihormati? Jadi, mereka kembali bangkit dan menarik Boruto, memberinya pukulan-pukulan.
Boruto tidak tinggal diam. Meskipun wajahnya juga ikut babak belur, ia membalas kakak kelasnya dengan lebih beringas. Sampai akhirnya seorang guru berkacamata datang, barulah perkelahian itu berhenti.
"Apa-apaan ini? Kenapa kalian berkelahi?" tanya Pak Kabuto, guru Biologi.
Ketiga kakak kelas Boruto itu memasang wajah bingung. Salah satu dari mereka menyalahkan Boruto. "Dia yang mulai, Pak!"
"Lo yang mulai!" sangkal Boruto.
"Dia yang mulai duluan mukul temen saya, Pak!"
"Mereka menghina mendiang ibu saya!" Kali ini Boruto benar-benar tidak bisa menahan amarahnya. Ia dengan lantangnya berteriak di depan guru. Peduli setan terhadap kesopanan, justru menurutnya ketiga kakak kelas itulah yang seharusnya diajari sopan santun.
"Sudah, kalian diam! Sekarang kalian berempat ikut Bapak ke ruang BP," kata Pak Kabuto. "Yang lainnya bubar, bubar! Masuk ke kelas masing-masing."
Guru berkacamata itu berlalu pergi diiringi sorak siswa yang mulai berhamburan. Boruto dan ketiga kakak kelas-nya berjalan di belakang Kabuto. Saat matanya tak sengaja bertemu dengan kedua mata sehitam jelaga milik Sarada yang tampak khawatir. Boruto balik menatapnya seolah mengatakan jangan campuri urusan pribadi gue. Saat itu juga Sarada menunduk dan mengangkat kaki menuju kelas. Ada beragam hal yang ia pikirkan. Dan sialnya, hal itu semua berkaitan dengan Boruto.
"Sekarang gue jadi lebih banyak ... mikirin biang masalah itu," ungkap Sarada dalam batinnya.
..o0o..
Kali ini Boruto memang berada dalam mood yang tidak baik. Pertama, karena perkelahian tadi pagi. Kedua, ia dihukum membersihkan seluruh ruang kelas sepuluh. Mulai dari kelas X IPA 1 sampai X IPS 3. Meskipun hukumannya tidak seberat ketiga kakak kelas yang ia pukuli tadi pagi. Ketiga siswa itu di-skorsing satu minggu dengan poin tiga puluh tercatat di buku catatan kesiswaan mereka masing-masing, yang apabila poin itu terkumpul sampai seratus, maka mereka akan dikeluarkan dari sekolah.
Dan yang ketiga, satu hal yang membuat mood-nya benar-benar memburuk adalah perdebatannya tadi pagi sebelum berangkat sekolah bersama sang ayah. Memicu segala emosi dalam diri Boruto sampai dirinya sebrutal itu melampiaskan kemarahannya dengan ketiga kakak kelas tadi.
"Papa tidak akan menyerah untuk mendapatkan maaf kamu, Nak. Bahkan sampai nyawaku berada di ujung kematian pun, Papa tidak akan berhenti minta maaf."
Naruto menatap lurus Boruto yang mengeratkan pegangannya pada sendok dan garpu. Suasana sarapan pagi antara Naruto dan kedua putra-putrinya yang semula tenang, berubah menjadi lokasi bermulanya perang hati dan mulut.
"Sudah berapa kali gue bilang sama lo, Orang Tua? Sampai kapan pun, gue nggak bakal maafin lo!" bentak Boruto menghempaskan perlengkapan makannya di atas meja. Adiknya sampai terkejut dengan mata nyaris berair. "Gara-gara lo, hidup gue dan Himawari hancur berantakan! Gara-gara lo, Mama meninggal dengan luka di hatinya. Dan gara-gara kelakuan bejat lo juga, di sisa hidup Mama, dia nangisin lo yang sama sekali nggak berguna buat keluarga! Dan setelah semua hal yang udah lo lakuin ke keluarga lo, lo dapat maaf dari gue gitu aja? Cih, mending lo mati aja sekalian."
"Kalau memang kematian Papa bisa buat kamu memaafkan kesalahan masa lalu saya, saya bersedia untuk itu," sahut Naruto. Ia sudah tidak bisa mengira lagi berapa banyak jarum kenyataan yang menusuk-nusuk dadanya. Begitu sakit. Ia tidak takut mati asal bisa dimaafkan oleh Boruto. Sebab, kebencian yang berasal dari buah hatinya sendiri untuk dirinya, lebih menyakitkan dan mampu membunuh Naruto secara perlahan.
Pria itu tidak sanggup mengemban bebannya.
"Ok. Gue bakal bun—"
"Sudah, Kak!" Teriakan Himawari menghentikan pertikaian antara anak dan ayah itu. Bulir bebeningan yang mengalir deras di kedua sudut mata Himawari, menelan habis amarah Boruto. "Sudah, Kak, cukup."
Tidak ada yang lebih menyesakkan bagi laki-laki jika melihat perempuan yang ia sayangi di dunia ini menangis karena ulahnya. Inginnya Boruto mengatakan maaf pada Himawari dan menenangkan sang adik agar tidak menangis lagi. Akan tetapi, Naruto mendahuluinya.
Alhasil, Boruto memilih untuk melangkah pergi. Ke luar rumah yang dulu sempat diisi oleh kenangan indah bersama mendiang ibu, Uzumaki Hinata. Boruto menelan sendiri sakit hatinya dan pergi ke sekolah dengan beban pikiran yang tidak bisa dikatakan biasa.
..o0o..
"Minum?"
Boruto mengangkat kepalanya melihat tangan yang terulur menggenggam satu kaleng soda. Sejak kelas X IPS 3 itu kosong sepuluh menit yang lalu, Boruto terduduk dalam ruang kelas sambil melamun.
Tangannya meraih minuman itu. Boruto berkata, "Ngapain lo ke sini?"
"Tadinya sih gue mau nyari Namida, eh, nggak tahunya anak-anak IPS 3 udah pulang duluan." Sarada melangkah mendekati salah satu bangku deretan paling depan dan duduk di sana. "Lo kan disuruh bersih-bersih sama Pak Kabuto, bukannya melamun sambil duduk di lantai begitu."
"Kebetulan banget, ya nyari Namida sambil bawa minuman? Gue emang haus banget," kata Boruto. Sejujurnya pemuda itu ingin tersenyum melihat ekspresi terkejut Sarada. Bahkan, jika Boruto tidak salah lihat, gadis itu juga tersipu. Akan tetapi, Boruto ingat dirinya berada dalam kondisi hati yang tidak baik.
"Terus maksud lo, gue sengaja ke sini buat nganterin lo minuman gitu?"
"Maybe? Salah nggak pa-pa. Kalo bener gue terima dengan senang hati." Boruto sudah menghabiskan sekaleng soda itu dengan cepat karena ia memang belum meminum apa pun sejak tadi pagi setelah perkelahiannya. Kemudian melempar botol kaleng ke tempat sampah yang sebenarnya tidak masuk sama sekali. "Jadi?" tanya Boruto.
"Jadi, apanya?"
"Lo lihat, kan? Kelas udah kosong, lo mau ngapain lagi di sini?"
"Gue ... mau lihat lo bersih-bersih aja." Sarada menjawab kikuk. Kok tiba-tiba hati gue jadi lari marathon gini, ya? Berdegup nggak karuan.
"Segitu kangennya lo sama gue?" Boruto berdiri dan menepuk bokongnya yang berdebu kerena duduk di lantai. "Padahal baru kemaren ketemu. Jalan bareng malah."
"Idih, lo sekali-kali bisa nggak usah terlalu pede gitu?"
"Bisa," kata Boruto sudah berdiri di depan meja tempat Sarada duduk. Kemudian mengapit hidung mungil gadis itu begitu gemas. "Yang nggak gue bisa itu kalo mesti jauh-jauh dari lo."
"Sakit..."
"Gemesin, sih!" Boruto sudah melepaskan hidung Sarada yang memerah. Seperti apa yang ia katakan, bagi Boruto, Sarada itu menggemaskan.
Jika di satu sisi dunia ia memiliki Himawari sebagai adik lucunya. Di ujung dunia yang lain, Boruto ingin memiliki Sarada sebagai penyemangat hidupnya. Andai saja ada waktu yang tepat, ia ingin sekali memperkenalkan diri ulang pada Sarada sebagai Boruto yang baik dan berbudi luhur. Bukannya Boruto yang terkenal karena piawai dalam berkelahi atau mabuk-mabukan.
"Andai aja...," gumam Boruto membuat Sarada mengangkat kepalanya.
"Andai aja ... apa?" tanya Sarada.
"Andai aja ... bapakmu nggak galak, pasti Abang sudah melamarmu dari lebaran ketupat."
"Hah?"
"Kenapa oh kenapa? Cewek cantik bapaknya galak, Ya Gusti?" rengek Boruto memeluk sapu di tangannya.
Sarada merinding sendiri melihat tingkah Boruto yang semakin aneh. "Gue tahu, lo abis kena hukum bersihin enam ruangan kelas sekaligus dalam satu hari. Tapi nggak mesti mendadak gila gitu juga, kali?"
"Gue gila kerena lo?" kata Boruto dengan nada manja. Terdengar menjijikan di telinga Sarada.
"Lagian, ya, ini gara-gara kakak kelas b*ngsat itu!" sambung Boruto. Kali ini rasa marah itu datang lagi setelah hilang karena kehadiran Sarada. Dan lagi, Boruto tidak menyadari hal itu.
"Heh! Mulutnya, ya?"
"Oh, sorry." Boruto harusnya tidak berkata kasar di depan Sarada yang berasal dari keluarga terhormat.
"Emangnya mereka ngapain sih, Bor? Sampai lo sebegitu marahnya sama mereka?" tanya Sarada. Sejak tadi ia penasaran dengan hal itu.
Boruto menjawab dengan wajah mengeras, "Dia ngatain mendiang ibu gue liar."
"Hah? Kok bisa?"
"Gue itu, ya nggak masalah ada berapa puluh orang yang menghina gue karena gue emang pantas dihina. Ini mendiang ibu gue, orang yang gue sayangi walaupun dia nggak ada lagi di dunia ini." Boruto bisa mengingat dengan baik kata-kata yang meluncur dari mulut kakak kelas itu. Yang seenaknya menghina ibunya. Telinga Boruto benar-benar panas saat itu. Memicu tubuhnya untuk segera meledak dalam bentuk tinjuan dan tendangan.
"Lo itu dilahirin dari siapa, sih? Kok liar banget? Pasti nyokapnya juga liar!"
"Iya, liar di atas ranjang."
Tangan Boruto mengepal erat memegang sapu, mengingat cibiran yang dilayangkan ke tiga kakak kelas itu tadi pagi. Bahkan Sarada tahu, Boruto benar-benar marah. Dengan inisiatifnya sendiri, Sarada meraih sapu yang digenggam Boruto, menyentak pemuda itu.
"Gue bantuin biar cepet selesai."
"Hah?" Boruto tercenung.
Sarada mengedarkan pandangan ke seluruh area kelas. Ternyata seperti dugaannya, kelas itu sama sekali belum dibersihkan oleh Boruto.
"Lo bisa angkatin bangkunya ke atas meja? Biar gue mudah nyapunya," kata Sarada.
Maunya Boruto menolak, tetapi gadis itu sudah mulai menyapu dari belakang kelas. Akhirnya Boruto menuruti perintah Sarada dan memindahkan semua bangku ke atas meja.
"Oh, iya. Soal taruhan itu..." Kini mereka telah selesai membersihkan kelas X IPS 3, kelas terakhir yang harus Boruto bersihkan. "Gue itu bukan pengecut yang bakalan lari dari tanggung jawab," lanjut Sarada.
"Terus?"
"Gue ngaku kalah, lo emang lebih pintar dari gue dalam pelajaran Matematika. Tapi bukan berarti gue nggak lebih pintar dari lo dalam bidang lain," kata Sarada. Ia menarik napas dalam sebelum kembali berucap. "Gue ... siap jadi budak lo."
"Yakin, siap?"
"Ya, mau nggak mau. Asal lo nggak kurang ajar aja sama gue."
"Ok. Peraturan pertama gue sebagai majikan lo," tunjuk Boruto di depan hidung Sarada. "Panggil gue Tuan setiap kali lo menjalani tugas sebagai budak gue. Ngerti?"
"Hah?" Maunya Sarada menolak, tetapi ia ingat, Sarada harus profesional. "Ok, deh."
"Mana?" tanya Boruto mengangkat sebelah alis.
"Mana, apanya?"
"Hm? Panggil gue apa?"
Mata Sarada memicing. Lidahnya terasa agak kelu sekedar memanggil Boruto seperti yang diminta pemuda itu.
Sarada menghela napas berat. "Iya, Tuan Boruto."
"Nah, cakep." Boruto manggut-manggut. "Kedua, ini keuntungan buat lo. Gue bakalan jadiin lo budak selama di sekolah aja, kalo di luar sekolah lo bebas dari perintah gue. Tergantung sikon sih kadang-kadang."
"Gue setuju." Sarada mengangguk-angguk.
"Dan yang ketiga..." Boruto sedikit berbisik, kepalanya maju mendekati wajah Sarada. Gadis terdiam kaku dalam kurungan tangan Boruto sampai Sarada terduduk di atas meja. Jantungnya berdebar hebat. Hembus napas hangat Boruto, bertukar dengan napas Sarada. Pemuda itu ingin apa? Senyumnya terlihat sangat licik. " ... sebagai permintaan pertama karena di sini gue adalah majikannya, gue mau lo...
... jadi pacar gue."
TBC
#cmiwiw XD
