Happy Reading! :D


Chapter 7: Faeroe-chan Art Ability


Fiorel suka menggambar. Mathias sering melihatnya menggambar di meja belajarnya saat pulang dari World Meeting. Gambarnya memang tidak terlalu bagus karena dia masih belajar. Dia pernah menggambar Mathias lagi nebang pohon yang entah kenapa terlihat seperti singa megang tiang bendera (?).

Kalau kebanyakan orang menggambar menyerupai aslinya, Fiorel mempunyai bakat yang tidak dimiliki banyak orang: menggambar tidak mirip dengan aslinya alias melenceng jauh. Gambar lemari malah terlihat seperti tembok bata berpintu (?). Gambar burung hantu malah terlihat seperti bantal bermata besar (?).

Itulah sebabnya kenapa setiap kali Fiorel ngomong, "Aku mau gambar putri duyung, Aniki!", Mathias pasti bakalan ngomong begini, "Coba kamu gambar gayung, pasti mirip!".

Tapi bagaimanapun juga, sang Danish merasa kalau adiknya yang satu ini masih punya bakat walaupun gambar buatan gadis Faeroe itu memang melenceng jauh dari aslinya.

Mathias sempat berkhayal kalau nanti Fiorel bakalan jadi pelukis pesanan, mungkin pria jabrik itu akan memasang plat iklan yang berbunyi seperti ini: 'Anda ingin wajah anda digambar menyerupai tikus? Hubungi Fiorel di 021xxxxxxxxx. Pilihan gambar lainnya: simpanse, kuda nil, kucing tak bertelinga.'


Suatu hari, Emil melihat Fiorel sedang menggambar sepasang anak cowok (yang entah kenapa terlihat seperti sepasang unta kembar tak berpunuk (?)) di meja belajarnya.

Entah kenapa, Fiorel tidak sadar kalau dia diperhatikan dari tadi oleh sang Icelandic di sebelahnya.

"Kamu lagi gambar apa, Faeroe-chan?" tanya Emil.

"Hehe! Ada aja!" jawab Fiorel sambil nyengir.

"Kok ada aja?" tanya Emil lagi dengan bingung.

"Iya, ada aja!" balas gadis pirang itu. "Tapi Aisu-nii, gambarku bagus tidak?"

Sepertinya Fiorel salah nanya orang, deh!

Soalnya, Emil payah banget kalau mengenai seni! Bahkan, dia sampai kagak begitu ngerti dimana letak bagusnya sebuah lukisan terkenal.

"Bagus tidak, Aisu-nii?" tanya Fiorel lagi sambil memperlihatkan gambar-gambarnya.

"Iya, lumayan!" jawab Emil seadanya. "Memangnya gambarnya tentang apa, sih?"

"Tentang anak pungut!" balas gadis Faeroe itu.

"Anak pungut?" ulang pemuda berambut silver itu bingung.

Emil yakin kalau anak ini pasti kebanyakan nonton sinetron bareng Tino sampai segitunya.

"Iya, Aisu-nii!" Fiorel pun memasang tampang sok imut. "Ceritanya tentang anak kembar punggut yang kagak tau kalau mereka kembar! Pokoknya begitu, deh!"

"Memangnya siapa nama kembar pungut itu?"

"Namanya Toni dan Tito! Yang satu suka makan pisang, yang satu lagi suka minum jus jeruk!"

Karena kagak jelas, Emil pun meninggalkan Fiorel yang kembali mengerjakan gambarnya.


Beberapa hari belakangan ini, Fiorel masih sibuk mengerjakan gambar tentang 'sepasang kembar pungut'-nya. Tapi anehnya, dia tidak mau memperlihatkan gambarnya. Bahkan, gadis Faeroe itu sering meringkuk di mejanya untuk menyembunyikan gambarnya jika Mathias atau Lukas (yang juga penasaran dengan gambar Fiorel) berada di dekatnya. Entah karena malu atau memang lagi ketularan pelitnya Berwald.

"Kasih liat gambarnya, dong!" rayu Lukas suatu hari.

Tapi gadis pirang itu masih tidak mau memperlihatkan gambarnya.

"Kok tidak boleh diliat, sih?" tanya Lukas.

"Ini rahasia!" jawab Fiorel.

"Rahasia apa, sih? Nanti aku kasih Yoggi sekardus, deh!" bujuk sang Norwegian yang berniat menyogok sang Faeroese (atau apapun namanya) tersebut.

"Aku tidak mau!" tolak gadis itu.

"AKU MAU DONG, NORU-NII!" teriak Luthias yang lagi main PS 2 sama Luthfi di kamar Fiorel.

Ya elah! Giliran Yoggi malah dia yang mau!

"Aku kagak nanya kamu, Green!" bentak Lukas sambil menimpuk pemuda Greenland itu dengan buku terdekat.

Sulit sekali bagi para Nordic untuk membujuk Fiorel memamerkan gambarnya. Bahkan, mereka nyaris kehabisan akal untuk membujuknya. Mereka sebenarnya bukan tertarik, tapi malah pengen banget nertawain gambar unik tersebut.

Sebenarnya Berwald pengen banget menyiram Fiorel dengan bensin dan membakarnya agar bisa melihat gambar-gambarnya dengan tenang, tapi diurungkan karena takut Luthias bakalan menjadikannya santapan makan siang serigala peliharaannya di Greenland atau malah dilempar ke kandang singa di Denmark sama Mathias.


Kegemaran Fiorel ini berkembang menjadi cita-cita. Dia jadi sering ngomong, "Aku pengen jadi pelukis!" ke seluruh penghuni rumah Nordic.

Selain itu, sang Faeroese juga ingin jadi arsitek. Dia pernah bilang begini ke Idham, "Kalau nanti kamu mau punya rumah, aku yang gambarin ya!".

"Ada contoh gambar rumahnya, kagak?" tanya Idham.

"Ini!" Gadis Faeroe itu pun memberikan sebuah kertas kepada pemuda berkacamata tersebut.

Idham pun melihat gambar Fiorel dan langsung masang tampang skeptis sambil ngomong begini, "Maaf ya, Fiorel! Tapi gue kagak mau punya rumah kayak kandang burung merpati!"


Di antara anggota Nordic lainnya, sepertinya hanya Fiorel yang punya bakat seni walaupun keenam Nation Nordic lainnya juga punya bakat dan kelebihan masing-masing. Mathias punya bakat tidak mabuk walaupun udah minum lima puluh kaleng bir, Lukas punya bakat melihat makhluk gaib, Emil punya bakat ngabisin dua puluh bungkus licorice dalam waktu sehari, Tino punya bakat merawat hewan peliharaan walaupun agak merepotkan, Berwald punya bakat adu tatapan dengan burung hantu peliharaan Fiorel selama berjam-jam, dan Luthias punya bakat yang paling menantang: tidak takut main 'Five Night at Fredy' atau nonton film horror sendirian.


Ternyata bakat seni Fiorel menular ke bidang seni lainnya. Dia pernah mendatangi Girl-chan di NNG saat yang bersangkutan lagi piket sendirian di kelasnya sambil membawa sebuah buku tulis bersampul bendera negaranya.

"Girl-chan! Aku bikin cerita, lho!" kata Fiorel.

"Cerita apa?" tanya gadis berambut hitam itu bingung.

"Cerita horror, lho! Pokoknya serem, deh!" jawab sang Faeroese bersemangat.

"Cerita horror?" Girl-chan malah tambah bingung mendengarnya.

Sebenarnya, Girl-chan tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau horror. Bahkan, dia lebih memilih membaca sendirian di kamarnya daripada ikutan nonton film horror bareng teman-temannya di bioskop atau DVD Player di rumahnya.

"Errr, aku tidak suka baca cerita horror! Tapi, aku boleh liat tulisan kamu, kagak?" tawar Girl-chan.

Gadis Faeroe itu pun menyerahkan buku tulisnya kepada gadis di depannya tersebut. Girl-chan pun membuka buku itu dan membacanya.


Ada sebuah sekolah yang seorang muridnya meninggal karena dikurung di dalam gudang sampai mati, tapi gudang itu sudah diubah menjadi ruang olahraga.

"Eh, Siska! Tau kagak? Dulu sekolah ini ada hantunya, lho!" kata Melda.

"Itu cuma bohongan, kok!" balas Siska.

"Tapi ini beneran! Aku dengar dari anak kelas 5, lho!" teriak Melda.

"Terserah kau saja, deh!" ujar Siska cuek.

Ternyata kebohongan itu terungkap dan seluruh kelas 5 pun dibenci adik kelasnya.


Gadis berambut hitam itu pun hanya bisa bengong seketika dan langsung masang tampang skeptis membaca tulisan tersebut.

"Serem, kagak?" tanya Fiorel sambil mengambil kembali buku tulisnya.

'ITU MAH GOSSIP, BUKAN CERITA HORROR! ORANG NGEGOSIP KOK DIJADIIN CERITA HORROR?!' jerit Girl-chan dalam hati, tapi dia masih memasang tampang skeptis-nya.

Tiba-tiba, Fiorel terdiam sebentar dan memasang tampang memelas sambil bertanya, "Ceritaku kurang bagus, ya?"

Girl-chan merasa tidak enak hati. Dia tidak bisa bilang kalau tulisan Fiorel jelek, tapi dia juga kagak mungkin ngomong, "Aku penasaran banget, Fiorel! Banyak banget yang harus dijawab! Gimana nasib kelas 5? Apa hubungan Melda dan Siska? Bagaimana caranya kelas 5 bisa dibenci adik kelasnya dan berusaha untuk baikan dengan mereka? AKU PENASARAN BANGET!".

"Gimana?" tanya Fiorel lagi.

Girl-chan pun mengambil sebuah buku sketsa yang biasa dibawanya dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Fiorel sambil ngomong, "Mendingan cerita kamu dijadiin komik aja, deh!".


To Be Continue...


Review! :D