DON'T LIKE DON'T READ (DLDR)

CRACKHACKERZ

NARUTO © Masashi Kishimoto

STORYLINE & FICTION COVER:
CrackHackerz © Huicergo Montediesberg

The cover was created by Huicergo Montediesberg
"DON'T STEAL OTHER PEOPLE'S WORK, IF YOU DON'T WANT YOUR WORK BE STOLEN!"

WARNINGS:
OOC, OC, miss typo(s), WIP, terdapat adegan baku hantam, jadwal update tidak tetap,
and many more inside.

GENRE:
Crime, Action, Romance(Coming Soon), Thriller(maybe), Friendship

RATED:
Just T... perhaps

COMMAND:
"SSSHH... DON'T DISTURB!
BECAUSE
SASUKE IN HIS ACTIVITY NOW!"

.

"HAPPY READING AND ENJOY IT, PAL!"

.

.

ATTENTION!

COMPUTER WAS FOUND 10 BROKEN DATA

WHAT YOU WILL DO?

SEARCH THE PROBLEM

"Kau—"

Mata Sasuke terbelalak melihat siapa yang berada di balik daun pintu itu. Wanita berambut blonde. Sang pemilik ruangan ini. Tsunade.

Tidak ada yang berbicara satu sama lain, yang ada hanyalah sebuah tatapan mata dari satu pihak ke pihak yang lain. Sasuke bertanya-tanya di dalam dirinya seraya menatap tajam ke arah Tsunade. Dari mana ia tahu namaku yang sebenarnya?

"Kau pasti terkejut karena aku memanggilmu dengan nama Uchiha Sasuke, bukan Narukami Minato," tebak Tsunade seperti bisa membaca pikiran seseorang. Tsunade maju beberapa langkah—mendekat ke arah Sasuke—dari posisi berdirinya sekarang. "Tapi, sungguh sebuah kehormatan bagiku untuk bisa melihat salah satu perwakilan—maksudku, keturunan Uchiha secara langsung. My pleasure," lanjut Tsunade seraya membungkukkan badannya.

"Dari mana kau tahu namaku yang sebenarnya?"

"Jika tidak diberitahu oleh seseorang, aku pun juga tidak akan tahu hingga saat ini kalau seorang dari keluarga Uchiha berkunjung ke sekolahku."

Tsunade berjalan langkah demi langkah menuju ke balik meja kerjanya. Melewati Sasuke yang kini matanya mengikuti arah di mana Tsunade berada sekarang. Kepala Yayasan K-MOS itu menduduki kursinya, tangannya bergerak untuk mengambil sebuah amplop surat berwarna putih di salah satu laci mejanya.

"Ini. Aku mendapatkan sebuah surat dari pihak tertinggi sekolahmu, Konoha School of Art, Scince, and Public Relations," jelas Tsunade seraya menaruh secara perlahan surat itu di atas meja dan mendorongnya hingga ke sisi meja yang berlainan dengan posisi duduknya sekarang.

Sasuke menangkap semua kenyataan ini dengan wajah tak terkejutnya. Dugaannya saat ia bersedia menggantikan kedua murid perwakilan sekolahnya untuk belajar di sini kini menjadi sebuah kenyataan dan benar adanya. Semula Sasuke berhipotesis akan pengiriman surat pemberitahuan dari sekolahnya ke sekolah yang sekarang ia tempati sementara dan kini... hipotesis-nya menjadi sebuah fakta.

Pemuda berambut raven itu melangkahkan kakinya dengan santai—seolah tidak terjadi apa-apa—mendekat ke meja kerja Tsunade. Tangan kanannya bergerak untuk mengambil amplop surat itu dan dibaca olehnya satu persatu isi surat tersebut.

Salah satu sudut bibir Sasuke terangkat. "Moron," desis Sasuke.

"Apa?"

"Yah... orang bodoh. Baru kali ini ada seorang pihak tertinggi sebuah sekolah yang memberitahukan bahwa seorang murid special-nya sedang menjalani sebuah aktivitas ke sekolah lain." Sasuke menatap langit-langit ruangan. "Kurasa orang ini ingin dipecat dari kursinya sepulangku dari sini."

"Jadi, apakah kau sudah tertarik dengan sebuah kasus besar yang sengaja kupertahankan di sekolah ini?" Alis Tsunade terangkat.

Sasuke menatap tajam Tsunade. "Maksudmu?"

"Yah, bukankah besok salah satu dari mereka akan mengadakan sebuah pesta hari ulang tahun ibunya?"

Perkataan Tsunade membuat Sasuke sedikit terkesiap. Pikirannya tepat mengenai The Four Prince of Memoriam. "Tidak kusangka ternyata Anda sengaja membiarkan keempat anak itu berkeliaran bebas sementara perusahaan yang mereka miliki sedang berjalan di jalan yang salah."

Tsunade menyandarkan badannya di bantalan kursi belakangnya, terlihat menyesal. "Sebenarnya aku—"

"Lebih baik aku segera pergi sebelum semua murid di sekolah ini keluar dari ruang kelas mereka," Sasuke melanjutkan perkataannya setelah melihat jam arloji di pergelangan tangannya, "sebentar lagi sudah waktunya break time, 'kan?"

Tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, Sasuke melengos pergi ke luar ruang kepala yayasan Konoha Memoriam of School.

"Kita perlu membicarakan hal ini lebih lanjut," ujar Tsunade sebelum Sasuke menutup pintunya dengan rapat.

Sasuke menyunggingkan sebuah senyuman kecil. "I hope so." Dan pintu pun menutup meninggalkan sang pemilik ruangan itu sendiri di dalam ruangannya yang besar.

Pemuda yang bernama samaran Narukami Minato terus melangkahkan kakinya dengan wajah datar dan tanpa ekspresi, hingga tanpa disadari oleh dirinya sendiri, ia sudah berhenti tepat di depan kelas khususnya di lantai empat. Sudah berapa lama ia terlarut dalam pikirannya sendiri?

Sasuke memasuki ruang kelasnya setelah menge-scan barcode miliknya di alat scan yang sudah disediakan. Dilihat oleh matanya yang hitam kelam, sesosok pemuda berambut jabrik kuning bernama samaran Shirozaki Shiki tengah tertidur pulas di sofa belajar mereka.

Suara tawa kecil nan rendah Sasuke mulai keluar secara perlahan dan tidak lama kemudian menggema hingga ke seluruh ruang kelasnya. Bibirnya yang tipis membentuk sebuah senyuman yang tajam. Matanya menatap dingin ke arah lantai di bawahnya. Kepalanya tertunduk dalam hingga sejumput poni di kanan dan kirinya menutupi kedua matanya.

"Kurasa... kini aku harus terpaksa menyelesaikan kasus di sekolah ini."

.

~Crack or Hack?~

.

Esok hari, lebih tepatnya pada malam hari sekitar pukul delapan. Sebuah mansion klan Hyuuga kini telah dipadati oleh para pengunjung yang datang untuk memenuhi undangan pesta ulang tahun sang Nyonya besar Hyuuga, ibu dari Hyuuga Neji. Ruang bawah rumah yang dijadikan ruang pesta itu dipenuhi oleh cahaya dari beberapa lilin kecil di setiap meja bertaplak putih. Lampu hias berukuran besar yang berada di tengah ruangan pun ikut sibuk dengan aktivitas menerangi ruangan tersebut dengan lampu kuningnya yang sejuk di mata.

Di perkarangan mansion Hyuuga pun tak kalah padat dari keadaan dalam rumahnya. Berbagai merek mobil ternama dan terkenal—dari jenis SUV hingga sport pun masih setia mengantri untuk menurunkan sang tamu undangan tepat di depan pintu utama mansion Hyuuga. Masing-masing dari tamu tersebut tampak anggun dan kompak mengenakan topeng penutup mata dengan variasi warna yang berbeda-beda.

Mobil Roll Royce Phantom yang tengah berhenti tepat di tempat penurunan tamu menjadi sebuah sumber penarik perhatian di sekitarnya. Kedua pemuda yang berada di dalam Roll Royce itu keluar menunjukkan daya tarik tersendiri sesudah sang pelayan penyambut tamu membuka pintu mobil belakang dari sisi kiri dan kanan.

Pemuda yang berambut jabrik kuning menggunakan topeng penutup mata berwarna yellow lime, sedangkan pemuda berambut raven biru dongker di sebelahnya menggunakan topeng penutup mata berwarna dark blue. Kedua pemuda tersebut memakai setelan jas berwarna hitam legam yang berpola sama.

Saat ingin masuk ke dalam ruangan rumah, seorang pelayan menghalangi mereka masuk ke dalam ruangan dengan sebelah tangan.

"Permisi, para Tuan Muda! Bolehkah saya melihat kartu undangannya?"

Pemuda berambut kuning yang kita ketahui bernama kecil Naruto menunjukkan sebuah kartu undangan yang dimintanya dengan susah payah dari kedua orangtuanya. Terlihat sebuah lambang keluarga berbentuk lingkaran yang di tengahnya tergambar sebuah spiral yang memenuhi isi dari lingkaran tersebut, seperti pusaran air.

"Baiklah, terima kasih banyak! Silakan masuk, para Tuan Muda Uzumaki!" seru sang pengecek kartu undangan itu.

"Sama-sama," jawab Naruto singkat dan langsung melengos masuk ke dalam ruangan.

Sasuke yang sedari tadi di belakangnya hanya diam membisu dan mengikuti langkah Naruto dari belakang. Saat tiba di tengah ruangan yang megah, Naruto dan Sasuke memilih meja kosong yang berada di sekitar pinggir ruangan.

"Nah, kurasa meja ini sangat cocok untukmu, Mr. U," ucap Naruto dengan memanggil Sasuke dengan sebutan Mr. U sesuai keinginan—atau lebih tepatnya perintah dari Sasuke—seraya memperhatikan pandangan ke sekelilingnya. "Meja yang terletak strategis bagimu; tidak mencolok dan tidak terasingkan."

"Hn. Pas."

Tidak lama kemudian, datanglah seorang pelayan dengan membawa sebuah nampan yang berisi beberapa gelas minuman anggur di atasnya. "Permisi, Anda ingin minum anggur ini, Tuan Muda?"

Naruto memandang pelayan itu dengan pandangan berbinar. "Wah, kebetulan sekali, aku sedang haus sekarang, terima kasih, ya!" seru Naruto kepada pelayan dengan nada dan kalimat pembicaraan khas keluarga Uzumaki.

Sang pelayan minuman itu berpaling ke arah Uchiha Sasuke yang tengah bersembunyi di balik topengnya. "Apakah Anda juga ingin segelas, Tuan Muda?"

Sasuke tampak berpikir sejenak. "Apakah mengandung alkohol?"

"Tidak, Tuan Muda. Minuman ini sengaja dibuat untuk para tamu undangan yang masih di bawah umur seperti Anda dan teman Anda."

Sasuke menghela napas kecil. "Baiklah, berikan aku satu gelas."

Dengan senyuman ramah, pelayan itu memberikan segelas anggur kepada Sasuke. "Ini minumannya, Tuan Muda. Permisi." Dan pelayan itu pun berjalan menuju meja yang lainnya.

Setelah Naruto menghabiskan minuman yang berada di tangannya, matanya kembali beredar ke seluruh penjuru ruangan. "Standing party, hah?"

Sasuke meneguk minumannya. "Kau pasti sedang mencari makanan."

Naruto menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Sasuke. "Apa?"

Mata Sasuke tertuju ke satu titik tempat. "Jika kau sedang mencari makanan yang tersedia di pesta ini, kurasa di sanalah tempatnya." Kepala Sasuke sedikit bergerak, menunjukkan tempat yang ia maksud.

Arah pandang Naruto mengikuti titik pandang yang Sasuke maksudkan. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya yang tipis. "Ah, makananku." Kepala Naruto tertoleh ke arah Sasuke. "Tunggu di sini, Mr. U, aku akan mengambil makanan sebentar." Setelah melangkah sebanyak dua kaki, Naruto kembali berpaling ke arah Sasuke. "Kau tidak ingin makan?"

"Tidak."

"Bagaimana kalau kita berjalan bersama-sama untuk mengambil makanan?"

"Tidak."

"Kalau kuambilkan?"

"Tidak."

"Kalau satu piring denganku?"

Sasuke mendengus kesal. "Jaga sikapmu, Naruto. Jangan kau hilangkan harga diri keluarga Uzumaki-mu hanya karena persoalan makanan."

"Oh... Baiklah." Setelah mengucapkan satu kata penutup, Naruto langsung melesat menuju meja penyedia makanan itu berada. Tanpa pikir panjang, pastinya.

Melihat Naruto yang seperti itu, Sasuke hanya dapat menghela napas frustasi. "Benar-benar Dobe," gumamnya dengan nada diseret-seret.

Selagi menunggu Naruto mengambil makanan-yang-diincarnya-di-pesta-ini, Sasuke dengan santainya mengelilingkan pandangan ke seluruh penjuru hingga sudut ruangan di sekelilingnya—tanpa dicurigakan oleh orang lain, pastinya—sembari meneguk minumannya sedikit demi sedikit. Hitung-hitung sebagai 'basa-basi'-nya.

Tidak ada.

Sudah berkali-kali Sasuke melemparkan pandangannya ke segala arah, tapi anggota kelompok The Four Prince of Memoriam tidak ada yang menampakkan batang hidungnya sama sekali. Sehelai rambut pun tidak.

Beberapa hipotesis kembali bermunculan di pikirannya sebelum pada akhirnya suara khas Naruto yang kini sudah berada di sebelahnya memecahkan pemikiran sang Tuan Muda Uchiha itu menjadi berkeping-keping.

"Hai, Mr. U! Maaf menunggu lama!"

Sasuke berdecak kesal seraya masih mencari-cari mereka yang sedari tadi dicarinya. "Bisakah kau diam sejenak, Naruto? Suaramu mengacaukan seluruh pikiranku."

"Maaf, tapi aku membawakan ini untukmu karena aku merasa kau pasti akan suka," kata Naruto seraya menyodorkan sebuah piring kecil yang berisi sesuatu ke arah Sasuke.

Dengan rasa malas bercampur kesal, Sasuke melihat apa yang dibawa oleh rekannya yang tidak bisa diam di sebelahnya itu, tetapi secara mendadak pula tatapan mata Sasuke berubah menjadi tatapan yang biasanya.

"Terima kasih," balas Sasuke dengan perkatannya atas isi dari piring kecil pemberian Naruto.

Senyuman sumringah Naruto pun tidak dapat terelakkan lagi karena ia sudah bisa membaca respon apa yang akan diberikan Sasuke saat melihat apa yang dibawanya. "Sama-sama! Sudah kuduga kau akan menaggapi potongan buah tomat segar pemberianku dengan gaya yang seperti itu. Itu pertanda bahwa aku membawakan buah kesukaanmu ke sini tidak sia-sia."

"Hn." Sasuke menjawab segala perkataan Naruto dengan jawaban khasnya. Tatapan matanya masih berkeliling sambil sekali-sekali memakan potongan tomatnya.

Naruto memakan makanan yang dibawanya dengan sangat menikmati setiap gigitannya—walau terkadang juga menampilkan raut wajah mengernyit tidak suka akan makanan yang telah dimakannya. Naruto memang ahlinya menilai makanan.

"Bagaimana? Sudah melihat mereka berempat?" tanya Naruto setelah menelan makanan yang dikunyahnya.

"Belum. Mungkin mereka masih merias diri mereka sekarang," celetuk Sasuke asal-asalan seraya tertawa kecil merendahkan.

Tepat setelah Sasuke menyelesaikan perkatannya, tampaklah tiga orang—pria dan wanita dewasa serta satu anak muda menuruni tangga kediaman rumahnya dengan sangat beretika. Pakaian mereka sangat rapi dan apik.

Sang pria dewasa memakai setelan jas formalitas yang sangat pas dengan tubuhnya disertai dengan sebuah dasi berwarna merah. Dan sang wanita dewasa memakai sebuah long dress yang dirancang bermodel khusus dan mempunyai gradien warna yang sangat cocok dengan dirinya yang sedang berulang tahun saat ini. Sedangkan anak muda yang juga menuruni tangga beriringan dengan ayah dan ibunya memakai sebuah tuxedo yang menambah kesan elegan dan nilai plus pada dirinya. Sungguh sebuah keluarga yang sempurna.

"Selamat datang di kediaman keluarga Hyuuga! Dan terima kasih sudah bersedia menghadiri pesta ulang tahun istriku tercinta!" ucap sang kepala keluarga dengan sangat lantang sehingga kini sudah sepenuhnya menjadi sorot tatapan seluruh tamu yang ada. "Silakan menikmati jamuan yang telah kami sediakan di ruangan ini! Jangan sungkan-sungkan!"

Kepala keluarga itu pun tersenyum ramah kepada para hadirin yang telah diundangnya. Mereka bertiga mengunjungi para tetamu satu persatu. Pemberian ucapan selamat ulang tahun dan ucapan terima kasih sering terdengar di setiap mereka mengunjungi tiap keluarga yang hadir di pesta ini. Bisa dibilang cukup meriah untuk merayakan hari ulang tahun seseorang yang sudah sekian tahunnya.

Iris onyx pemuda berambut raven terus memantau dari jarak yang cukup jauh dan strategis tingkah laku keluarga kecil tersebut—lebih tepatnya anak tunggalnya, Hyuuga Neji.

Tidak ada keganjilan yang terlihat dari tingkah laku pemuda berambut hitam panjang. Pemuda yang sebaya dengannya itu menampilkan kelakuan yang cukup mencerminkan seorang Tuan Muda Hyuuga sejati. Setidaknya akting dia kali ini dapat diberi nilai hampir sempurna oleh seorang Uchiha Sasuke.

Beberapa menit tidak terasa telah berlalu dengan sangat cepat. Dan detik-detik inilah yang Sasuke tunggu sedari tadi. Detik-detik dimana mata onyx-nya yang kelam dan tidak rabun sedikit pun melihat sang putra keluarga Hyuuga pamit untuk memisahkan diri dari tengah-tengah anggota keluarga dan klien yang disapanya. Dan kejadian itu jugalah yang membuat bibir dingin Sasuke membentuk seringaian kecil nan tajam.

Setelah Hyuuga Neji menjauh beberapa meter dari keluarganya, Sasuke terus memperhatikannya seraya menyenggol lengan Naruto yang baru menyelesaikan makanannya dan berkata, "Naruto! Ikut aku!"

"Hah? Apa? Aku baru saja menyelesaikan makanan—"

Setelah melihat Sasuke menjauhi, Naruto langsung mengganti kalimatnya dengan sangat cepat. "Oi, tunggu aku!"

Naruto terus mengikuti punggung Sasuke dari belakang. Ia terus berusaha menyusul Sasuke yang hampir bisa ia jangkau. "Oi, Sasu—eh, maksudku—Oi, Mr.U! Tunggu aku, sejenak saja!"

Melihat Sasuke yang memperlambat langkah kakinya, dengan sangat cepat Naruto menyejajarkan dirinya dengan Sasuke. "Bisakah kau memperlambat langkah kakimu, Sasuke?" pinta Naruto.

Langkah Sasuke tiba-tiba terhenti. Mungkin jarak antara dirinya dengan Neji sudah hampir dekat, makanya ia mengulur waktu untuk membuat jarak yang lebih pas kembali. Matanya yang tajam melirik Naruto yang berada di sebelahnya sesaat, lalu kembali mengamati Neji dari kejauhan.

"Bukankah kau yang jalannya seperti keong dan siput?" balas Sasuke.

Naruto tertawa garing. "Maaf, Mr. U yang dingin dan ketus. Mohon sadar diri dengan kondisi Anda yang terlahir dengan kaki yang sedikit lebih jenjang sehingga menghasilkan langkah kaki yang sedikit lebih lebar dibandingkan dengan saya."

Sasuke berdecak tidak terima dengan ungkapan pernyataan dari Naruto, dan pada akhirnya kembali berkata dengan cepat, "Kita sudah berada dalam jangkauan aman darinya. Cepat!"

"Yah, yah, yah... Aku tahu."

Dan lagi-lagi Naruto mengikuti Sasuke dari belakang. Jika dipikirkan lagi, mungkin memang lebih baik Naruto berada di belakang Sasuke daripada ia berada di samping Sasuke. Mengapa? Yah, kalau Naruto berada di samping Sasuke masih dengan langkah seribu keongnya, bisa-bisa Sasuke berjalan seraya memencak-mencak dirinya yang lamban, bukan?

Sasuke dan Naruto terus mengikuti Neji dengan langkah yang setengah mengendap-endap. Melewati banyak kerumunan para tamu. Melewati anak tangga kediaman Hyuuga. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah koridor rumah yang terdiri dari banyak pintu di sebelah sisi kanan dan kirinya.

Saat Neji, yang berada di depannya, berbelok ke arah koridor yang lain, Sasuke dan Naruto memutuskan untuk berhenti dan menajamkan pendengaran sejenak tepat di ujung siku dinding persimpangan. Sesekali Sasuke yang berada di paling ujung siku dinding mencuri pandang, dan tertangkap tiga sosok teman yang lainnya. Untuk apa mereka berada di sana? Mengapa tidak bersama orangtuanya masing-masing?

Neji terus melangkahkan kakinya menuju ketiga temannya yang sedang menunggu kehadirannya. "Bagaimana? Apa ada kabar baik?"

Kabuto terlihat melepaskan kacamata yang dikenakannya, membersihkannya sesaat. "Tidak ada kabar baik, adanya kabar yang sangat baik."

Senyuman yang jarang diperlihatkan oleh Neji terkembang penuh. "Jadi..." Neji melipat kedua tangannya di dada, "adakah salah satu dari kalian yang bersedia menceritakan kisahnya untukku?"

"Sepertinya ada seseorang yang sedang tidak sabar menceritakannya kepadamu," ucap Kabuto seraya menggerakkan kepalanya ke arah seseorang yang berada di sebelahnya. Usai mengelap kacamatanya, ia mengenakannya kembali.

Neji melempar pandangan matanya ke arah Kiba yang ditunjuk oleh Kabuto tadi. "Jadi?"

Seketika senyuman Kiba yang lebar berubah menjadi gelak tawa yang menggema ke seluruh koridor. "Hei, Neji! Apakah kau tahu mengajak seseorang seperti dia untuk bekerja sama bukanlah hal yang sulit?"

"Jika dilihat dari ekspresimu, mungkin jawabannya tidak sulit."

Kiba melanjutkan. "Yeah, kami mengajak dia-yang-kau-suruh untuk bekerja sama dengan tawaran komisi seperti yang kau katakan. Dan saat kami menyebutkan nominal dari komisi tersebut, sepertinya ia sangat tergila-gila dengan tawaran kita dan langsung menyebut kata 'iya' tanpa berpikir panjang lagi. Coba tadi kau lihat ekspresi wajahnya, lucu sekali!" Ia kembali tertawa. Entah kenapa bagi dia raut wajah seseorang yang diajak bekerja sama itu sangat lucu.

Neji memutar bola matanya. "Lalu?"

"Seperti yang diceritakan oleh Kiba tadi, ia langsung menyetujuinya tanpa basa-basi lagi. Benar-benar manusiawi, bukan?" jelas Kabuto.

"Dan sepertinya, aku tidak memilih orang yang salah untuk berkompromi dengan mudah." Hyuuga Neji mengalihkan padangan matanya ke arah teman berambut merahnya dengan tatapan sulit diartikan. "Oi, Sasori. Mengapa sedari tadi kau terlihat pendiam seperti itu?"

Pemuda berambut merah yang sedang memikirkan sesuatu sedari tadi hanya bisa menatap Neji dan membalasnya, "Bukankah aku memang paling pendiam di antara kalian?"

"Yah... Memang. Tapi kau lebih pendiam dari biasanya, kau tahu?" jawab Neji seadanya.

Sasori menampilkan senyuman menawannya. "Oh, ya? Mungkin hari ini aku hanya malas berbicara. Aku sedang ingin berdiam diri."

"Oh," gumam Neji cukup tahu apa yang sedang diinginkan oleh Sasori hari ini.

Sasuke dan Naruto yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, kini merasa hampir tahu apa yang sedang direncanakan oleh The Four Prince of Memoriam di sana. Saat ini, Sasuke hanya ingin membutuhkan seluruh keterangan tentang keluarga mereka.

Sasuke menolehkan kepalanya ke arah Naruto di samping kirinya. Memberi bahasa tubuh agar Naruto berbuat sesuatu yang bising untuk menarik perhatian mereka berempat di koridor yang berlainan dengan mereka berdua. Jujur saja, sekarang ini bagi Sasuke keributan yang dibuat oleh Naruto sangat diperlukan karena inti pembicaraan The Four Prince of Memoriam sudah pada ujungnya.

Sedangkan Naruto hanya bisa membalas suruhan dalam bahasa tubuh dengan gelengan kepala dan tatapan mata yang seakan-akan mengatakan, oh... tidak, Uchiha Sasuke. Sekarang ini aku sedang tidak ingin memecah suasana.

Jawaban keengganan dari Naruto membuat tatapan mata Sasuke kepada Naruto berubah drastis. Tapi dengan waktu yang singkat pula, raut wajah Sasuke berubah setelah ia melihat keadaan di sekitar Naruto. Ia seperti mendapati suatu sinar terang.

Dengan santai, Sasuke mengambil Samsung S IV dari saku celana panjangnya dan menjentikkan jarinya sesaat di atas layar smartphone yang berteknologi touch screen itu. Tak lama kemudian, Sasuke tampak memasukkan kembali S IV-nya kembali ke saku celana kanannya.

Karena—berhasil dibuat—penasaran apa yang tengah dilakukan oleh Sasuke tadi, akhirnya Naruto membisikkan sesuatu kepada Sasuke, "Oi, Teme! Apa yang tadi kau lakukan?"

Secara tiba-tiba, Sasuke mendorong Naruto tanpa melihatnya dengan paksa hingga Naruto terjerembab ke belakang dan menabrak sebuah guci yang nampaknya mahal di balik punggungnya. Suara pecahan guci saat jatuh ke atas lantai menyusup masuk ke seluruh indra pendengaran orang yang berada di sekitar guci itu. Tak terkecuali The Four Prince of Memoriam.

Suara serpihan guci yang jatuh berserakan mampu membuat sang Hyuuga Neji was-was seketika dan dengan sigap berkata, "Siapa di sana?"

Naruto yang masih shock dengan keadaan yang tanpa diduganya akan terjadi ini, sekarang menatap Sasuke dengan kesal. "Teme! Apa yang kau lakukan, hah?"

"SIAPA DI SANA?" suara tanya Kiba terdengar sangat besar. Bisa dibilang sebuah teriakan.

Ketika mendengar suara derap langkah kaki The Four Prince of Memoriam mendekat ke arah mereka, Sasuke dengan gesit menarik lengan Naruto dan langsung berlari menjauhi lokasi itu ketika para The Four Prince of Memoriam berhasil menangkap siluet bayangan mereka yang sedang berbelok ke koridor kiri.

"BERHENTI!" teriak Kabuto seraya berlari mengejar dua orang pemuda yang ia rasa pernah melihat mereka. Tapi di mana?

Aksi kejar-mengejar bagian dua mereka di tengah koridor yang berbentuk lorong lurus ke depan terus berlangsung hingga tibalah mereka di pertigaan koridor itu. Naruto yang mengingat jalan kembali ke ruang utama dengan sangat jelas memerintahkan Sasuke untuk berbelok.

"Teme, belok kanan!" perintah Naruto dengan fasih.

Tapi sayangnya, entah Sasuke sedang tidak berkonsentrasi atau telinga Sasuke sedang bermasalah, pemuda penyuka tomat itu malah mengambil jalan lurus ketimbang berbelok. Dapat dipastikan sekarang Naruto sedang merutuk tidak jelas sendirian. Alhasil, pilihan Sasuke kini membawa mereka kepada ujung lorong buntu yang hanya terdapat sebuah jendela besar dan meja beserta pot bunga di atasnya di sisi kiri dan kanan sudut lorong. Ujung lorong itu berupa sebuah ruangan yang luas.

Sasuke memberhentikan langkahnya dan melepas cengkraman tangannya dari lengan Naruto. Kini yang dapat ia lakukan hanya menunggu waktu.

Sasuke tampak sedang melihat ke depan—dimana sisi ruang buntu di hadapannya hampir ditutupi seluruhnya oleh jendela kaca tembus pandang. Mata onyx-nya sedang menerawang ke arah rembulan yang sudah pada tingkat ke full-annya. Seakan berdoa kepada Tuhan.

Naruto yang melihat Sasuke seperti itu hanya berdiam diri dan menghela napas. Berbagai macam hipotesis mengapa Sasuke mengambil jalan lurus daripada menuruti perkataan Naruto yang bilang untuk berbelok mulai muncul. Dan itu mengakibatkan Naruto mulai merutuki Sasuke kembali karena ia merasa tidak bersalah.

Tidak berapa lama kemudian muncullah The Four Prince of Memoriam yang ternyata sudah jauh tertinggal di belakang mengingat kaki jenjang Sasuke beserta kecepatan Sasuke saat berlari. Dan Naruto pun merasa bersyukur juga pada hal itu.

The Four Prince Memoriam itu merubah gerakan langkah kaki mereka dari yang berlari menjadi berjalan santai ketika mereka berjarak beberapa meter jauhnya.

Inuzuka Kiba tertawa kecil. "Kalian tidak akan bisa ke mana-mana lagi, Tuan. Ruangan ini adalah ruang terakhir dari koridor ini," ucapnya seraya berjalan kecil mendekati Sasuke dan Naruto yang sudah terdesak.

Naruto dan Sasuke masih membelakangi mereka.

"Bagaimana kalau kita berbincang-bincang sedikit? Ada banyak hal yang ingin kami tanyakan kepada kalian," ujar Neji seraya menyunggingkan senyuman ramah kepada mereka—lebih tepatnya punggung mereka berdua.

Saat Sasuke dan Naruto tidak mendengar langkah kaki keempat lawan main mereka, mereka membalikkan badan dan langsung bertatapan mata dengan The Four Prince of Memoriam.

"Oh, ya? Kalau begitu mari kita berbincang sejenak," balas Sasuke dengan tersenyum kecil. Sangat kecil dan tipis hingga keempat orang yang berada di depannya tidak bisa memastikannya dengan pasti apakah ia tersenyum atau tidak.

Sedangkan Naruto hanya bisa menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Sasuke sambil berharap apa yang didoakan oleh Sasuke tadi—dan semoga Sasuke berdoa mengenai keselamatan mereka sekarang—dapat dikabulkan oleh Tuhan dengan sangat cepat dan mudahnya. Sekarang juga.

~CrackHackerz~

Tsuzuku

To be Continued...

Hari Selasa | Jakarta, 11 Desember 2012 | Pukul 18.05 WIB


Reply of Review:

Guest: Pairing SasuSaku di fict ini sudah ditentukan dan tidak bisa diganggu-gugat. Jika kau bertanya, "mana ada chara utama muncul di tengah cerita?" jawabannya ada, kok. Contohnya fict-ku ini, problem? Sakura akan kumunculkan jika sudah waktunya, jadi tolong sebelum review pikirkan secara matang pengertian dari "PHP" dan "modus". Atau kalau mau, buat cerita sendiri saja sana. Thanks for your review.

p.w: Sakura sedang "mempersiapkan diri". Thanks for your review!

Renvel: Konbanwa. Jawaban dari pertanyaanmu: menurutku tidak kecepatan karena mereka memberikan kerenggangan waktu hanya untuk menutupi alibi mereka saja, bukan untuk merusak apalagi menghancurkan. Yah, tak apa, aku maafkan, sudah banyak yang mengiraku seperti yang kau perkirakan, kok. Dan aku usahakan agar tidak hiatus. Thanks for your support and review!

Akira Takigawa: Tidak aada kata telat dalam me-review. Terima kasih atas pengoreksiannya miss typo-nya, dan harus kau ingat bahwa aku bukan Author yang perfect. Sakura tidak akan kuposisikan sebagai librarian, "jabatan"-nya lebih tinggi lagi. Kadar persentase humor tergantung komposisi genre cerita di otakku. Thanks for your waiting and review!

Maruyama Harumi: Kalau bersambungnya tidak membuat pembaca penasaran, bukan bersambung namanya. Maaf tak bisa update cepat. Thanks for your support and review!

Zecka S. B. Fujioka: Sepandai-pandai tupai melompat, pada akhirnya jatuh jua. Aku maklumi tebak-tebakkanmu, tapi apakah Sakura benar-benar ada di pesta itu? Di chap ini? Aku mengetik fict ini sudah setahun yang lalu dan saat itu aku menyelesaikan chap ini saat berada di sana. Maaf tidak bisa membalas ini di inbox FB. Sasori mengetahui mereka atau tidak, lihat saja nanti. Thanks for your review, Moon-nee!

Hikari Ciel: Seperti yang telah kau ketahui, yang memergokinya adalah Tsunade. Mengenai "ada apa dengan klan Uchiha" dan "Apakah Sasori tahu mengenai mereka berdua" akan dibahas di fict ini, kok. Tunggu saja. Thanks for your waiting and review!

Cheryxsasuke: Panggil aku Cergo saja, Chery. Jangan pakai embel-embel, kalau bisa. Jurusan Tarbiyah Prodi itu apa? Aku baru tahu. Maaf tak bisa update kilat. Thanks for your review!

Karikazuka: Hai juga. Sorry jika chap kemarin terasa hampa, walau aku tidak tahu maksud dari kata hampa itu apa. Terima kasih atas masukkannya, aku lupa memberi italic pada kata Jepang yang ada karena saking terburu-burunya untuk update karena sudah tenggat waktu. Thanks for your review!

MerisChintya97: Kalau tidak TBC, jadi kepanjangan jatah per chapter-nya. Lagipula, TBC-nya di waktu yang tepat, 'kan? Kalau membaca fict ini, apakah kau merasa bahwa Sakura muncul? Apa yang terjadi pada klan Uchiha akan dijelaskan nanti. Ingin jawaban lain? Yah, karena Sakura tidak rela kumasukkan di waktu yang cepat dibandingkan Sasuke. Bercanda. Sebenarnya, memang Sakura munculnya rada lama di dalam imajinasiku. Biar tidak kalah terlihat misterius dibandingkan Sasuke. Thanks for your review!

Eunike Yuen: Update-ku memang tidak tentu, tapi jika kau ingin memberi saran masukkan saja dalam review atau kirim ke inbox FB atau PM juga boleh. Tak apa, pentingkan UTS-mu dulu, baru baca dan review fict-ku. Terima kasih atas pujian dan pengertiannya, aku usahakan fict ini akan terus update tanpa gangguan hambatan sedikit pun. Thanks for your review!

Universal Playgirl: Chap 10 update, sudah dibaca? Thanks for your review!

Akasuna no Nagi-chan: Terima kasih atas pujiannya, tapi fict ini masih memiliki kekurangannya tersendiri—tidak sesempurna seperti apa yang kamu pikirkan, kok. Aku juga masih butuh masukkan dari para pembaca. Thanks for your support and review!

Shaun: Aku sendiri juga kurang tahu bahasa "baik"-nya dari menyelonjorkan itu apa, mungkin "meluruskan atau melemaskan badan"? Di chap ini sepertinya kau sudah tahu bahwa itu ruangan Tsunade dan memang dia yang datang. Mengenai kepanikkan Tsunade terhadap kerusakkan CCTV mungkin memang bukan akting belaka *memerhatikan ekspresi Tsunade*. Naruto tidak memberitahukan Sasuke mungin karena ia sedang sibuk di alam mimpinya. Thanks for your review!

Dkrisan-chan: Sudah update lagi! Dan fict ini tidka akan discontinued. Sakura-nya nanti keluar, kok. Sakura sedang "mempersiapkan diri". Maaf jika adegan action-nya rumit, terkadang aku sendiri juga harus baca bagian itu berulang kali agar dapat imajinasinya. Apakah di fict terdapat "flame"? Sepertinya tidak ada, yang ada hanyalah "bacotan" yang tidak berguna, kok. Thanks for your support and review!

Kazuran: Salam kenal juga. Terima kasih atas pujiannya, dan semoga saja tetap seru di chap selanjutnya. "Tunggu" sama-sama untuk kemunculan Sakura, ya.

Sheiyuki: Hai, salam kenal juga. Sudah lanjut, kok. Semoga sudah baca, maaf tidak bisa update kilat. Thanks for your support and review!

A/N: Hampir di setiap chapter fict CrackHackerz—CHz ini ada yang menanyakan, "Di mana Sakura?", "Kapan Sakura muncul?", "Kira-kira chap berapa Sakura muncul?", dan "Sakura sedang apa?"—abaikan contoh pertanyaan terakhir. Berhubung aku suka dengan sebuah MYSTERY dan beserta sanak saudaranya, jadi aku akan membuat 'beberapa' clue yang terpisah di tiap chapter dan mengarah ke rentetan pertanyaan sebelumnya itu. Lumayan untuk mengasah otak kalian, 'kan?

So, this is the first clue:

"THREE"

Kalian bisa menuliskan jawaban kalian di dalam review. Apa yang ada di otak kalian ketika melihat (membaca) klu tersebut bisa kalian tuliskan semua di sana. Jangan lupa.

See you soon at chapter 11, include the second clue.
Sorry for all miss typo.
And the last words,
"Let's searching out the clue one!"

Signature,

Huicergo Montediesberg