Mulut terkatup rapat serta langkah kaki terbawa semakin dekat, bocah itu berbalik hingga membuat tangan refleks bergerak secepat kilat,

"Cha-Hmmpt!"

Pupil mata Baekhyun sontak melebar, nafas tercekat hingga kedua kaki kecilnya bergerak menendang udara dalam spontanitas ketika tubuhnya sedikit terangkat.

Bibir dan hidungnya berhasil ia bekap erat hingga mungkin membuat dada pengap juga sesak untuk bernafas. Sedangkan tangan mungil itu masih memukul lengan dengan brutal, berusaha melepaskan diri.

"Lepaskan! Tolo—Eungh~"

Baekhyun melunglai tidak sadarkan diri sesaat setelah jeda pergantian tangan yang terdapat kain berisikan obat bius. Kepala si bocah terkulai ke belakang sedang mata hampir terpejam rapat dalam ketidakberdayaan kala tubuhnya direngkuh dengan perasaan bangga.

Di tatapnya wajah manis itu tanpa emosi, tak berniat beranjak tidak pula takut bilamana ada seseorang yang kemungkinan besar memergoki aksi nekadnya. Biarlah, dia tak lagi peduli.

Kecupan seringan kapas mendarat di pipi kanan si kecil, mendorong wajah semakin dekat pada telinga sedang otak memutar wajah manis orang lain di masa lalu.

Dia kemudian berbisik,

"Hey lihatlah, aku berhasil mendapatkan yang seperti dirimu…."

.

Come Back to Me

.

Pairing:
Park Chanyeol x Byun Baekhyun

.

Genre:
Crime. Drama. Mistery.

.

Warning: YAOI, BL. Reinkarnasi. MPREG. Italic word for flashback. Mature Content. Rape. Typo (s).

.

Original story by
Izahina98

Don't Like? Don't Read!

This Chapter maybe have some scene for raping and etc. if u don't like just skip or close u'r tab. Thanks.

.

.

Chanyeol pulang tepat saat jarum jam di dinding menunjukan pukul 3 dini hari. Pulang dalam keadaan yang sungguh memprihatinkan; rambut kusut, mata memerah dengan kantung hitam dan tebal di bawah mata. Terlihat sekali seperti orang-orang yang memiliki banyak beban pikiran.

Dan memang itu yang terjadi.

Sepatu kulit yang terlepas dari kaki ia sejajarkan dengan rapih di dekat pintu, menghela nafas setidaknya untuk menghilangkan beban berat yang mempersulit jalur nafas.

Dia sebenarnya masih belum siap bertemu lagi dengan Baekhyun, masih terbayang rasa bersalah dan perlu waktu untuk menata ulang kembali semuanya.

"Huh? Kenapa kau meninggalkannya sendiri, Hyung?"

—"Bila ada yang menculiknya bagaimana?"

Panggilan telepon serta ucapan terakhir yang Kai lontarkan benar-benar membuatnya tak mempunyai opsi lain untuk menolak, apalagi menghindar semakin jauh dan melalaikan tanggungjawab untuk menjaga si kecil, sesuai janji.

Gelas berisikan Americano coffee yang di beli bahkan masih terisi penuh dia tinggal di meja kantor bersama tumpukan sampah lainnya. Dia harus berpikir dewasa pula bertindak dengan seharusnya bukan malah pergi. Bodoh, ia akui itu.

"Baek, kau sudah tidur?"

Tidak ada sahutan dari dalam kamar, membuatnya menarik kesimpulan bila si kecil pastilah masih terlelap nyaman dalam tidur. Harusnya dia tidak usah bertanya. Mungkin otaknya mulai berjalan dengan tidak semestinya, yang jelas akibat ulahnya sendiri.

Chanyeol memilih membalik haluan, menuju dapur untuk sekiranya membasahi tenggorokan yang terasa begitu kering bagai gurun berpasir yang dipenuhi kaktus. Menenggak setengah isi air dalam botol dan baru menyadari akan satu hal yang ganjil.

Piring berisikan Lachashire Hotpot di meja, tersisa setengah.

Juga keseluruhan ruangan yang gelap terkecuali dapur.

Keadaan itu tak ubahnya seperti waktu ia pergi meninggalkan apartemen, masih sama dan terasa begitu sunyi seolah tak pernah ada orang yang tinggal di sini.

"Baekhyun!"

Satu panggilan dia teriakan dengan tak sabaran, lebih keras dan tegas. Melangkahkan kaki-kaki panjangnya dengan pasti pada setiap daun pintu yang ada. Membuka, menutup lalu mendesah berat saat matanya tidak menangkap Baekhyun di ruangan manapun.

"Jangan main-main, Baekhyun! Sembunyi dimana kau?"

Hanya satu hal yang Chanyeol pikirkan tentang Baekhyun yang mungkin menghindarinya karena marah juga sedih dengan cara bersembunyi.

Oke, dia cukup kesal dan menjadi begitu gelisah dalam satu menit berlalu saat kuping lebarnya tak mendeteksi suara riang si kecil yang selalu mengusiknya, bahkan suara deru nafasnya sekalipun.

"Kemana anak itu?" Bola matanya melirik pada langit-langit, terdiam ketika memikirkan tempat pertama yang selalu dikunjungi si mungil beberapa hari belakangan ini.

Kemudian segera meraih ponsel untuk menekan satu nomer dengan perasaan yang bercampur aduk,

"Oh Chanyeol? Ada apa—"

Ucapan Sehun di potong dengan cepat, "Apa Baekhyun bersamamu?" Sukses membuat orang di seberang sana diliputi kebingungan.

"Kau tahu aku sedang bertugas, Park. Memangnya ada apa dengan Baek—"

Dengan seenaknya dia mematikan sambungan telepon, juga meriject beberapa kali panggilan yang dilakukan oleh Sehun yang sepertinya juga menjadi penasaran karna ulahnya.

Chanyeol sudah tidak perduli pada sopan santun, malah menekan nomer yang berbeda, juniornya Kim Minggyu.

"Baekhyun di rumahmu 'kan? Cepat katakan!" Dia menodong langsung dengan pertanyaan yang menuntut akan jawaban. Perasaannya kalut dan gemetar sekarang. "Tidak Sunbae-nim. Aku sudah mengantar Baekhyun tadi, memangnya ada apa?"

Ponsel itu dia letakan pada meja dengan bantingan, tak khawatir sama sekali pada layar kaca yang bisa saja pecah atau rusak karna benturan.

Chanyeol melesat cepat bagai torpedo hingga melupakan alas kaki juga jaket ketika tubuhnya berhasil mencapai lokasi-lokasi terdekat. Baekhyun menyukai ikan, dan satu-satunya tempat yang memiliki ikan hias yang bebas untuk di lihat adalah Taman kawasan Gangnam.

Kepala menoleh pada sekitar sedang obsidiannya berpendar dalam lingkup yang temaram, mencoba mencari sosok si kecil yang mungkin saja tengah terduduk dengan ceria di bangku, seperti biasa.

Namun ketika putaran ke-3 berhasil dia tempuh, tak ada hasil yang di dapatkan selain peluh yang mengucur semakin deras.

"BAEKHYUN!"

Chanyeol bagaikan orang gila sekarang, berlari tidak tentu arah seiring dengan Matahari yang mulai naik ke permukaan. Orang-orang menatapnya dengan aneh, penampilannya begitu berantakan pula mengabaikan telapak kaki yang sudah berdarah tertancap bebatuan yang runcing.

"Kau tidak akan mendengarnya lagi besok. Aku pastikan itu…"

Tidak, bukan seperti ini yang dia mau. Dia tak sungguh-sungguh mengatakannya, pula menyesal kini. Hal yang dia takutkan selama ini menyentaknya lagi, membuat tubuh menjadi dingin seolah nyawa tertarik paksa keluar.

–"Bila ada yang menculiknya bagaimana?"

Semoga perkataan Kai tak benar menjadi kenyataan. Dia tak rela juga takkan sanggup membayangkan bagaimana akhirnya, bahkan tak pernah sekalipun terbayang dalam pikiran.

"Tolong jangan seperti ini…"

.

Come Back to Me

.

Nafas yang semula berhembus teratur itu perlahan tak beraturan, membuat dada sang empunya juga bergerak dalam tempo tarikan yang sama. Menandakan bila kesadaran telah merasuk pada tempat yang semestinya.

Aroma menenangkan lemon bercampur mint segera menyapu indera penciuman. Kepalanya masih berdenyut teramat sakit ketika memaksa mendongak, pula mata yang terasa berat saat di buka membuatnya bingung bukan main.

Entahlah, seolah ada sesuatu yang memang sengaja menghalangi pandangan.

"Ge-lap."

Sebanyak apapun dia berusaha, kegelapan itu tak kunjung meninggalkannya. Tubuhnya juga tidak dapat di gerakan dengan bebas, terjerat benda yang terasa mencengkram erat beberapa bagian tubuh.

"Kau sudah bangun?"

Baekhyun terlonjak, mendadak bernafas putus-putus. Dia panik dan takut setengah mati. Belum pernah dia merasakan ketakutan seperti ini, menyadari semua yang terjadi saat potongan-potongan memori yang sempat ia lupakan kembali menyatu di pikiran, melemparnya ke dalam rasa takut juga gelisah yang berlebih.

Dia di culik.

"Kita bertemu lagi."

Dan suara serak itu benar terasa begitu familiar, berdengung di dalam kepala seperti di malam saat dirinya terpisah dari sang Ibu pengasuh di keramaian sebuah pasar tradisonal.

Orang itu kah penjahat yang selama ini Chanyeol cari?

Suara derit pintu yang tertutup dan derap langkah kaki malah menambah ketakutanya, semakin kelabakan dan bergerak dengan tidak beraturan hingga jeratan itu meninggalkan rasa perih dan panas.

"Tidak, jangan mendekat!"

Air matanya turun melewati pipi, terus menyerukan kata 'jangan' saat merasakan sesuatu yang basah dan hangat membelai perut bawahnya.

Mata tertutupi kain hitam sedang tangan terikat dengan sesuatu yang padat pula keras permukaannya, terhubung pada langit-langit sebagai pondasi. Kaki tak dapat menyentuh lantai hingga menyisakan sakit yang luar biasa menyiksa pada pergelangan tangan saat di paksa menopang tubuh.

"Kau indah." Pose ini jelas memudahkan sang pria untuk mencumbu, pula menggerayangi tubuh dengan tangan nakalnya yang sudah tak lagi segan meremas juga menampar belah pantat sintalnya.

Tubuh Baekhyun mengigil seketika saat merasakan hembusan angin yang menerpa seluruh permukaan kulit yang polos, juga membatin dengan menyerukan doa pada Tuhan, berharap seseorang mau datang dan membantu. Instingnya mengatakan ini bukanlah hal yang baik.

"Jang-anh."

Sekuat tenaga Baekhyun berusaha melepaskan diri dengan meliuk-liukan tubuh kesana-kemari untuk menghindari kecupan yang semakin banyak intensitasnya pada sekitaran dada.

"Lepaskan! Aku tidak mau."

Suaranya berubah sengau, otot-otot tubuhnya menengang. Dia menjerit kuat, merasakan tenggorokannya berubah kering ketika tangan kurang ajar itu menekan puting kanannya.

"Aku benci penolakan." Suara bernada rendah itu menggatalkan telinga, memaksa jantung untuk berpacu dalam kecepatan tak normal.

Suhu sekitar mulai panas membara sedang mulut terbuka untuk mengais udara yang semakin menipis dia rasakan. Sungguh pemandangan indah yang mengundang libido berada di puncak teratas.

"Cha-Chanyeolie… Hiks.. Aku takut."

Dengusan sebagai jawaban di awal, "Jangan sebut nama dia lagi, Baby." Sang pria meniupkan nafasnya di depan bibir Baekhyun yang sedikit terbuka, "Kau milikku sekarang, bukan yang lain." Dia berkata, membiarkan nafas beraroma lemon dan mint itu menyapa wajahnya sekali lagi.

Baekhyun gemetaran hebat, semakin keras menangis dengan tangan yang terasa begitu perih mungkin bahkan sudah tergores dan meninggalkan guratan merah yang merekah.

"Tidak, Chanyeolie…" Dia ingin Chanyeolie-nya datang dan membangunkannya dari mimpi buruk ini, "Tolong aku-ahh! Chanyeolieee!" Menjerit adalah caranya melawan ketidakberdayaan, mencoba mencari peruntungan barangkali dengan dia yang berteriak bisa melepaskan dirinya dari kungkungan.

Si pria justru menghimpitnya semakin rapat, sengaja merengkuh pinggul rampingnya mendekat pada tubuh. Darah sudah naik dengan cepat ke ubun-ubun, merasa di rendahkan oleh bocah yang begitu berani menolak semua sentuhannya. Meneriaki sebuah nama yang bukan miliknya, dia cemburu, dia iri dan marah.

"Argh!" Lehernya di cengkram, membuat jalur nafasnya tertutupi dan ini begitu menyiksanya. "Aku harus menghukummu, Baby." Nada itu mengandung amarah dan kebencian, gigi saling bergesekan menimbulkan bunyi yang khas, pertanda bahaya.

"AH!"

Tubuh Baekhyun tersentak karena terkejut, kembali menjerit sangat kuat bersamaan dengan bunyi gemerincing rantai yang menjerat. Mulut terbuka sedang leher terdongak begitu hebat saat merasakan benda asing memasuki bagian bawah.

"Arkh-ahh hentikan!"

Merintih sakit pun malah membuat benda tersebut semakin dalam terdorong, menyentuh sesuatu yang menghantarkan sengat kejut yang langsung menjalari tubuh hingga kepala semakin terdongak, "Aa-aah!".

Mulut kecil tersumpal gigball pada akhirnya, membuat liur menetes menuruni dagu hingga sepanjang garis leher putih mulusnya.

"Kita lihat saja, apa Chanyeolie-mu akan datang menolong atau tidak."

Senyum meremehkan dia sematkan pada bibir, sudut matanya berkerut dengan kepuasan terpancar dari onyxnya yang indah. Menjilat juga menarik dengan gigi kain tipis lentur yang menjerat antara dada dan perut, serta melepas dengan sengaja untuk menciptakan cetakan merah lainnya saat benda itu memecut keras permukaan kulit si bocah.

Pun dengan sebelah tangan yang dia bawa untuk menggeser tombol kendali hingga jeritan Baekhyun semakin terdengar merdu di telinga, suara yang dipoles menawan.

"Baiklah Baby, aku harus pergi." Dijilatnya daun telinga si anak sebelum menarik wajah menjauh, tersenyum penuh arti ketika melihat tubuh kecil itu bergerak bagai cacing yang tersorot oleh panas Matahari. "Nikmati hukumanmu sebelum aku kembali mengurusi dia yang pastinya akan mengamuk mencarimu."

Kaki yang terbalut sepatu mahal serta mengkilap oleh polesan semir kini melangkah dengan pasti untuk menjauh, tertawa begitu nyaring dalam kebahagiaan. Menutup pintu dengan hati-hati kemudian berucap,

"Ini mengasikan.…"

.

-Come Back to Me-

.

Mata perih dan berair terserang debu, rambut berantakan pula kusut wajahnya. Kakinya sudah linu dan nyeri, namun perasaan takut dan cemas mendorongnya untuk terus melangkah.

Perpustakaan umum kota, menjadi tempat ke 5 dalam daftar pencarian. Juga menjadi tempat yang sering di kunjungi olehnya bersama Baekhyun saat sedang menghabiskan waktu di akhir pekan.

Chanyeol memasuki ruangan berkapasitas besar tersebut dengan terseok, meninggalkan sedikit bercak merah pada lantai. Pula menarik sebagian atensi dari pembaca di setiap sela rak tinggi yang berjajar.

Ketika kaki membawanya pada rak terujung yang sepi, matanya tak sengaja tergelincir ke direksi kiri. Melihat satu buku bersejarah yang tercetak judul "Eroupa's Dark Stories" di bagian terdepan, bersama tumpukan lain buku di atas meja.

Covernya bergambar sesuatu yang bertema hitam putih, usang dan agak kuno. Mungkin gambar dari tentara-tentara perang pada zaman terdahulu.

Entah dorongan darimana, tahu-tahu bokongnya sudah menyentuh permukaan kursi sedang tangan membuka langsung pada lembar ke 10. Disambut oleh deret daftar isi yang membingungkan. Berisi tentang semua tragedy di benua Eropa yang terkenal pada masanya, bahkan mungkin hingga kini.

Tentang Wabah Black Death yang hampir menyapu habis penduduk London di tahun 1348.

Kisah tentang Jack the Ripper yang melengenda pada tahun 1888 di Distrik Whitechapel, Inggris.

Juga tentang,

Pasangan kriminal legendaris di awal tahun 1930 yang identik dengan uang, pistol, cerutu, cinta, juga kematian yang tragis. Bonnie dan Clyde.

Semua Tragedy kelam yang menimpa Eropa ada di sana, lengkap. Dari yang terdahulu bahkan hingga kini, semua tersusun rapih sesuai dengan tahun terjadinya peristiwa tersebut. Sungguh ulasan menarik bagi pecinta sejarah.

Lalu pada lembar halaman berikutnya ia disambut pada satu kisah yang menarik penuh fokusnya, yaitu tentang…

—Kisah Tragis Pembakaran Rumah Pengusahawan Tersohor Park, Benarkah sebuah Pembalasan Dendam?—

… Kisah yang terdengar tidak asing baginya.

Chanyeol terdiam pada halaman yang memuat berita tersebut, meneliti kata yang dicetak kecil dan tersusun dengan rapih. Menemukan nama 'Richard Park' pada bagian pembuka paragraf, pula tanggal 6 Juni kemudian 1930 pada kata setelahnya.

Di dorong oleh rasa penasaran, dia membaca pada paragraf yang kedua.

—Dia diduga tewas oleh orang kepercayaannya, Matthew Kim. Dengan cara di tembak pada Dini hari sebelum perilisan brandnya yang ke 6—

"Kau memiliki luka tembak di dada kiri dan bahu kananmu."

Ucapan itu teriang lagi, seolah ingin menekankan kalimat sesuai dengan sejarah, juga membuatnya mulai meragu.

—Kedua anak kembar Richard Park juga di temukan meninggal dalam sebuah bagasi mobil beberapa jam setelah Polisi setempat bertindak—

"Bahkan kita memiliki dua bayi kembar."

Suara itu berdengung lagi dan lagi di dalam kepala, ingin terus membuatnya semakin yakin akan fakta yang selalu ia sangkal selama ini.

Sungguh, kenapa artikel ini benar sama dengan ucapan yang kerap Baekhyun lontarkan. Begitu mirip dan kecil kemungkinannya bila hanya sebuah kebetulan. Percayalah, tak ada kebetulan yang terjadi berulang kali.

Bola matanya kembali bergulir di paragraf berikutnya, mencari-cari kemungkinan ada satu ketidaksamaan dalam cerita.

—Lama tak terdengar kabar. Satu Bulan kemudian, seorang pejalan kaki mengaku melihat suami dari Richard Park menerjunkan diri dari atas London Bridge

Chanyeol tidak ingin percaya. Bagaimana semua kebenaran kini terpampang jelas di depan mata dan menggetarkannya. Sebuah hal yang selalu ia anggap hanyalah bualan dan cerita bohong, hal yang mustahil untuk terjadi.

Benarkan reinkarnasi itu ada? Dan dia terlibat di dalamnya?

Terdapat satu gambar hitam putih tentang rumah yang di selimuti api membara, pun dua gambar wajah tidak asing di bagian sisi kanannya. Lengkap oleh nama pula umur dan tanggal kelahiran.

Nafas tertahan spontan sedang mata melebar dalam keterkejutan yang lain, kembali tersentak ketika nama dan foto itu berada di sana,

Picture of Chanyeol and Baekhyun, Park—

Tercetak di bagian bawah gambar yang menampilkan wajah ceria dalam balutan pakaian formal.

Itu foto dirinya dengan sosok yang begitu polos dan riang sifatnya, sosok yang dikenalnya. Dan hal mencengangkan lainnya adalah saat seseorang itu benar Baekhyun, hanya saja lebih dewasa dan menawan.

Dia mulai merasa keraguan itu hilang, meruntuhkan dinding yang dia bangun susah payah. Membuat kepercayaan masuk dan menyerang balik dirinya. Memenuhi relung hati bersama rasa bersalah yang kian membesar. Kenapa fakta ini muncul di saat semua terasa sudah terlambat, sia-sia belaka.

Namun dia tidak ingin menyerah begitu saja, ini belum 24 jam berlalu dan masih tersedia harapan untuknya. Dia yakin itu.

Kemudian nama itu terlintas di kepala,

"Yifan?"

Satu-satunya orang yang bahkan masih terobsesi memiliki Baekhyun. Chanyeol jelas tahu ini. Dia sedang dalam masa pengawasan ingat? Jadi pria itu tahu benar waktu-waktu yang di gunakan oleh Yifan untuk menguntit si kecil kesayangannya.

Dia melangkah meninggalkan imajiner api membara di setiap jejak, menyetop taksi untuk melaksakan tindakan brutalnya yang sejak tadi ada di dalam kepala. Tangan gatal serta kepala memanas, dia ingin sekali merusuh di perusahaan besar tersebut.

"Kau mati hari ini, Wu!"

Minggyu dan Sehun benar-benar dibuat kewalahan, bahkan mendapat serangan tak terduga hanya untuk menenangkan Chanyeol yang menggila kehilangan separuh akalnya. Dia bahkan hampir menghancurkan wajah seorang bodyguard yang melindung Yifan.

Pria itu memang nekad dan tak pernah bermain-main dalam ucapan. Kerusuhan yang terjadi membuat meeting penting berhenti di tengah jalan.

Tidak sedikit pula karyawan yang berkerumun untuk saling berbisik dan menukar informasi tentang gossip hangat yang beredar tentang CEO muda mereka.

Yifan Wu, CEO baru WYF Micro Production kedapatan melecehkan anak dibawah umur—

Timeline tersebut berhasil menduduki peringkat teratas dalam seminggu di semua situs berita sebelum kemudian lenyap tanpa jejak, semua tahu ini hanyalah permainan uang. Namun biar kabar terus menjalar bagai virus ebola, nyatanya Yifan tidak terganggu sama sekali.

"Bukan aku yang menculiknya,"

Persetan, tidak akan ada penjahat yang mau mengakui kejahatannya sendiri di dunia ini.

"Jangan banyak bicara kau, bajingan!" Chanyeol menghempas lagi tangan Minggyu yang mengunci tubuh, "Aku tahu kau yang sudah membawa Baekhyun 'kan?!" Dia kalap, pikirannya hanya di penuhi dengan senyum manis si bocah yang malah menambah sakit hatinya.

Kemudian keadaan berubah tenang dalam beberapa saat, gerombolan orang-orang berjas juga berkacamata hitam berjalan mengikuti sang pemimpin yang melangkah dengan wibawa.

"Kau bisa saja aku tuntut atas pencemaran nama baik dan membuat onar di perusahaanku, Mr. Park."

Chanyeol tak peduli, alih-alih pergi dia malah meludah pada lantai dengan seenaknya. Melupakan sopan santun dan jabatan yang di sandingnya, dia sudah tidak peduli pada apapun lagi sekarang.

Perbuatan itu jelas saja membuat murka si pria tua hingga menyuruh beberapa bodyguard untuk meringkusnya.

"Sebentar tuan-tuan," Namun Minggyu menggagalkan, merentangkan tangan untuk melindungi sunbae yang begitu ia hormati. "Ini hanya salah paham. Tolong maafkan kesalahannya Presdir Wu." Memohon untuk berharap belas kasih, terpaksa oke.

Chanyeol pun tidak mengerti kenapa Minggyu bisa mengatakan jika ini hanyalah sebuah salah paham. Padahal dia yakin betul bila Yifan adalah dalang di balik hilangnya Baekhyun. Hanya dia yang memang terlalu mencurigakan selama ini.

"Maaf atas masalah ini Presdir Wu. Kami akan mengurusnya, permisi." Sehun membungkuk dengan hormat beberapa kali pada pria tua penuh uban di hadapan, berhasil sekiranya meringankan amarah sang pemilik perusahaan.

Chanyeol melepaskan diri dari cengkraman juniornya sesaat setelah kaki menginjak area luar perusahaan, nafasnya saling berkejaran hingga hidung menjadi kembang kempis juga menggeram marah hingga meninggalkan urat lehernya yang menyembul.

"JANGAN MENGHALANGIKU!" Dia berteriak seperti orang kesetanan, mata berkilat-kilat merah ketika menatap dua rekannya.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Park! Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?" Sehun mendorong pundak Chanyeol kuat, terlalu kesal dengan tingkah sahabatnya yang sering lepas kendali, "Kau menyinggung soal Baekhyun semalam."

Tubuh tinggi serta tegap itu terhuyung menabrak dinding di belakang, meremas surai sedang mata mulai memupuk air mata. Sesal, letih dan juga putus asa. Semua menjadi satu untuk membobol pertahanan hingga tak lagi dapat menahan amarahnya bila terlepas.

"Dia menghilang. Aku tidak bisa menemukannya," Suara melemah diakhir, "Seseorang menculiknya."

"Bagimana kau tahu? Apa sudah di cari ke semua tempat? Bisa jadi dia pergi ke rumah adikmu, Kai."

Pria itu menggeleng letih, "Tidak ada." Membuang nafas dalam keputusasaan yang jelas, mengusap wajah pula meremas rambut dengan kasar. "Aku sudah mencari anak itu kemanapun."

Tidak bisa dipungkiri ada perasaan bersalah hinggap di hati, membuat batinnya berontak sambil meneriaki kebodohannya sendiri. Dia lalai dalam menjaga seseorang yang kini sudah diam-diam masuk ke dalam relung hati.

Sehun menepuk juga mengusap punggung Chanyeol untuk memberi rasa tenang, "Aku akan meminta bantuan dan mencarinya ke Barat. Cobalah tenangkan pikiran dan mari berpencar untuk mencari Baekhyun."

Matanya teralih pada pria yang lain, "Minggyu, kau laporkan masalah ini pada Suho sunbae -nim dan carilah bantuan untuk menyisir di bagian Utara." Sehun memerintah, di jawab oleh anggukan dari Minggyu yang anehnya terlihat begitu tenang.

"Akan kukabari bila sudah menemukannya."

"Baik."

Minggyu menjawab pelan, menyunggingkan senyuman miring seolah mengejek sesuatu. Menatap kedua Sunbae nya dengan wajah yang kembali bersandiwara. Sungguh lucu, pikirnya begitu.

Sesaat setelah mobil melesat jauh, Chanyeol digiring masuk pada mobil polisi yang di kendarai oleh Minggyu. Mata anak itu terlihat begitu tenang, mendekatkan earpiece sambil menunjukan seringaian. "Ikuti, jangan biarkan dia lolos." Setelah berkata demikian mobil berbelok pada arah yang tak semestinya.

"Kenapa ke arah sini?" Chanyeol bertanya dengan nada meninggi, hampir berteriak marah ketika Minggyu tak kunjung menjawab. "Kau ikutlah dulu denganku Sunbae, ada hal yang ingin aku tunjukan." Minggyu berkata tanpa menoleh, terfokus pada jalanan yang lenggang kini.

Hal yang tidak terduga lainnya adalah semua anggota inti ternyata sudah berkumpul di sana, kecuali Sehun dan Jongdae. Menunjukkan wajah serius pula lelah yang ketara.

Mereka duduk saling berhadapan di ruang rapat, melirik satu sama lain dalam pertanyaan yang sama.

"Maaf sudah memanggil kalian semua kemari, tapi aku membawa kabar yang penting." Minggyu memulai pula meletakkan satu tas berukuran sedang pada meja.

Semua atensi tertuju pada tas sedang si pembicara memilih untuk lekas mengeluarkan isinya tanpa mau menjawab pertanyaan yang mulai terlontar dari masing-masing mulut anggota, penasaran.

Pada akhirnya kerutan di dahi yang keluar kemudian, terutama Chanyeol yang tak bisa lagi menahan kebingungan saat benda-benda itu tergolek di atas meja.

"Aku harap kalian akan mendengar penjelasanku dengan baik,"

.

Come Back to Me

.

Chanyeol dibuat tercengang oleh kenyataan, merasa begitu bodoh atau bahkan dungu saat semua bukti terpampang di depan mata. Ini adalah kali kedua takdir membuatnya terkejut oleh sesuatu yang tersembunyi.

Minggyu betul bisa mengungkap itu dengan mendetail hingga ke akar-akarnya sekalipun, juga sukses membuat Suho diam seribu bahasa saking tak menyangka.

"Jadi semua CCTV itu ada dan sudah di ambil?"

Si surai kecokelatan menganggukan kepala, "Dan di dalam rekaman selalu di sertai dengan tanggal dan waktu, benar?" Dia bertanya seperti tengah memancing kata yang lainnya. Mereka serempak menjawab dengan anggukan tanpa mau bersuara.

"Tanggal 25 bulan Juni?"

"Betul, apa benar rekaman itu hilang?"

"Semua rekaman tak memiliki kendala selama ini. Lagipula bukankah kami sudah memberikannya pada kalian waktu itu?"

"Ah, ba-baiklah. Tapi bolehkah aku mendapatkan rekaman di tanggal 6 Oktober dari sudut yang berbeda?"

Masih melekat di ingatan pada malam sebelum korban terakhir di temukan, dia memutuskan untuk mencari tahu seorang diri, mendatangi pusat pemantauan dan inilah hasil yang dia dapatkan dengan jerih payah.

Sebenarnya dia ingin bergerak untuk menangkap sang pelaku sendirian, namun itu akan sulit mengingat jika dia adalah salah satu yang terbaik. Nyawa orang lain atau dirinya sendiri bisa saja melayang jika bertindak gegabah.

Flashdisk tersebut segera dia tancapkan pada laptop yang terhubung di layar proyektor, membuat ruang yang semula gelap menjadi temaram. Menampilkan sebuah gambar bergerak, kemudian mengetuk sekali pada sisian layar proyektor untuk menarik perhatian.

"Pertama adalah rekaman di tanggal 6 Oktober ini, ternyata jeda waktu saat ditemukan korban sangatlah panjang." Dia menunjuk pada bagian atas layar sebelah kiri. "Rekaman ini menunjukan pukul 15:40:20 sedangkan seperti yang kita tahu korban di temukan pada pukul 3 dini hari."

"Seharusnya bila pelaku meletakkan jasad korban pada sore hari, besar kemungkinannya seseorang mengetahuinya diatas waktu saat kita menemukannya kan?" Minseok berseru lantang di barisan belakang. "Dan harusnya ada saksi mata juga."

Minggyu berseru sedang tangan terjentik senang, "Tepat sekali." Dia lantas menggeser durasi menjadi lebih cepat. "Ini adalah rekaman tersembunyi yang berhasil aku dapatkan dari sudut berbeda."

Slide bermula saat sebuah mobil silver tiba, seseorang keluar bersama wanita setengah baya yang elegan. Terlibat perbincangan hal penting pada bangku taman yang di lewati oleh beberapa orang. Durasi semakin di percepat oleh Minggyu hingga pada menit terakhir yang sudah memasuki pukul 6 sore.

"Kenapa dia kembali lagi?"

Benar, tidak ada hal yang janggal dari rekaman itu kecuali Yifan yang kembali lagi ke tempat semula dengan tangan kosong pula raut wajah yang cemas, seperti mencari sesuatu.

Dan benar Chanyeol menyadari hal yang sama saat dia menonton rekaman yang di dapatkan sahabatnya sehari sebelum Baekhyun tertangkap oleh Yifan. Saat itu rekaman tertutupi sesuatu hingga tak dapat ia simpulkan dengan jelas apa yang terjadi.

"Dari mana kau mendapatkannya? Aku mencari cincin ini kemanapun."

Jadi apa yang Yifan katakan waktu itu adalah benar? Sungguh, kepalanya berubah pening sekarang.

"Aku yakin sekali jika bukan Yifan pelaku pembunuhan ini, seratus persen."

Ucapan pria tan itu tak pelak membuat semua yang hadir saling melempar pandangan, antara bingung dan tidak percaya.

"Bagimana dengan alibi yang kau katakan waktu itu?" Chanyeol bertanya, masih mencoba menerka hal yang di sampaikan oleh sang junior.

"Itu memang alibi, tapi alibi yang di buat oleh pelaku yang asli."

Suho yang terbiasa banyak bicara menjadi bungkam sedang otak memproses semua yang terjadi membentuk satu kesatuan, memunculkan sebuah nama yang dia yakin benar menjadi satu-satunya tersangka yang memenuhi syarat dari semua bukti.

"Aku juga mencurigai tentang luka tusuk itu."

"Dari mana dia bisa tahu luka tersebut berasal dari belati sedang orang yang menjadi ahlinya pun tak bisa asal menebak?" Suho menambahkan, membuat Minggyu menarik kedua sudut bibir tanpa sadar. Merasa penyelidikannya tak berbuah sia-sia.

Mungkin hanya Chanyeol yang merasa tidak benar-benar mengerti semuanya, otaknya serasa buntu oleh banyak hal mengejutkan. Juga tentang bagaimana nasib si bocah yang dia sendiri tidak tahu dimana keberadaannya. Cemas hingga jantung terus memproses detakan yang diluar batas kewajaran.

"Dan juga selonsong yang aku temukan, peluru dari pistol jenis FN 57 dengan kode cyber W751."

"Kita semua memakai pistol jenis FN 57 yang di buat khusus untuk kepolisian Korea Selatan dan ya aku tidak perlu menyebutkan lagi siapa pemilik kode itu." Lanjutnya kemudian.

"Tidak mungkin."

"Aku juga memiliki alibi sendiri untuk membebaskan Yifan dari tuduhan sepenuhnya."

Chanyeol menyentak kursi tanpa sadar, berdiri dengan mata melotot serta wajah kaku dan mengeras. "Jadi kau memihak padanya, begitu?" Dia sudah kepalang kesal juga marah, otaknya benar tak dapat berpikir dengan jernih.

"Faktanya karena angka 9 disini bukanlah patokan umur si korban." Si pembicara menjawab cepat, tak ingin ucapannya di sela hingga membuyarkan semua rangkaian kata yang sudah dia rancang agar mudah dimengerti.

"Baekhyun yang mengatakannya sendiri jika dia berumur 11 tahun sekarang, bukan 9."

Mereka semua seperti sudah menemukan jawabannya namun masih terhalang oleh keraguan, Minggyu mengerti itu. Di awal dia pun terkejut, bingung dan ragu.

"Aku akan menjelaskan kodenya…"

Satu note dan pulpen berada di genggaman tangan, semua tertarik bagai magnet untuk berkumpul di tempat yang sama pula ekspresi yang sama. Minggyu memulai dengan menulis kode yang selama ini menjadi misteri secara vertikal.

Akan

9

19

Dia tidak menaruh peduli lagi, tugasnya hanya untuk menjelaskan secepat mungkin dan mereka bisa bertindak. Entah mereka mau percaya atau tidak nantinya, yang jelas tangan itu tetap bergerak untuk menyelesaikan hitungan kode yang tertulis di atas kertas.

Setiap polesan huruf dan angka tak luput sedikitpun dari penglihatan mereka, bola mata bergerak seiring dengan alur tangan membawa tinta.

Chanyeol berdiri di paling belakang, sedang hati berubah menjadi tak enak. Pikirannya bercabang banyak, kalut memikirkan kemungkinan terburuk yang menimpa bocah manisnya bila dia tidak segera mengambil tindakan.

Matanya bahkan kerap melirik ponsel yang masih juga sunyi tanpa tanda-tanda orang itu akan menelpon untuk memberinya kabar.

"Apa maksudnya ini?"

Suara itu menarik fokus kembali semua orang yang semula tengah berbisik, kedua mata Chanyeol sontak melebar ketika menangkap satu goresan yang tercetak dengan tinta hitam.

Sekali lagi dia berpikir, mencoba mencari-cari kepastian di dalam memorinya yang kusut.

"Aku juga menyukai anak itu,"

"Dia mengingatkanku pada seseorang."

Hanya kalimat itu yang menjadi pembuka,

"Itu adalah namaku sebelum memutuskan pindah kesini, kampung halamanku."

"Jangan pikirkan, itu hanyalah foto lama yang tidak penting."

Siluet tentang percakapan kecil dirinya dengan seseorang, tentang sebuah lembaran foto yang terjatuh pada lantai, pula tentang tulisan dengan tinta usang yang tersemat di bagian belakangnya.

Dia melirik sekali lagi pada kertas dan merasakan jelas oleh satu kata yang serupa,

"Tidak."

Chanyeol tidak ingin melihatnya lagi. Sayangnya mata itu justru tergelincir jatuh hingga membuatnya kembali pada kenyataan yang tak terduga. Kaki melemas hingga rasanya tak sanggup lagi menopang tubuh, juga mata yang berubah kehilangan fokusnya.

Sungguh dia tidak ingin percaya jika satu kata yang tertulis di sana adalah…

.

.

.

Di lain tempat namun di menit dan detik yang sama. Tubuh bergerak gelisah sedang desah nafasnya terus keluar tanpa bisa dia tahan. Otot perutnya mengeras ketika sesuatu mendesak keluar.

"Nghh!"

Punggung terdorong ke depan hingga rantai yang mengikatnya kendur lalu semakin tegang karna tarikan tubuhnya yang bergoyang. Otak berubah blank ketika cairan yang sama keluar membasahi lantai. Bercampur dengan cairan lainnya yang telah mengering.

Pemandangan erotis itu mengundang tawa puas dari seseorang di ambang pintu. Dia bertepuk tangan diatas penderitaan si bocah yang malang. Kaki melangkah dengan pasti juga menjilat bibir dengan tatapan berkabut nafsu.

Gigball yang menghalangi ia lepas, membuat Baekhyun langsung mengatupkan rahang yang pegal juga mengirup begitu rakus oksigen untuk mengisi paru-paru yang hampir mengosong. Pula mencabut benda aneh dari bagian bawah tubuh si kecil hingga meninggalkan ringisan kesakitan.

Bau khas sperma bahkan sudah sangat menyengat di dalam ruangan, menusuk penciuman.

"Aku suka melihat wajahmu seperti ini." Dia justru menghirupnya dengan dalam seperti orang kehilangan akal, membungkukan tubuh untuk menjilat tubuh polos yang telah basah oleh keringat. "Sangat cantik dan menawan."

Dada itu bergerak naik turun dalam kecepatan, "Ber-hentihh!" Baekhyun berkata di sela desahan, tubuhnya letih hingga tak bisa banyak melawan kekuatan yang jelas takkan bisa dia tandingi. "Lepaskan aku."

Sang pria mendekatkan bibir, meninggalkan satu hickey besar dengan jemari yang menusuk lubang itu tanpa aba-aba. "Bukankah kau bilang ingin bermain denganku?" Tertawa dan semakin dalam menggerakan jari.

"Masalahku dengan mereka sudah selesai karena kau sudah kutangkap," Rahangnya di cengkram, "Jadi kita bisa bermain lagi."

Baekhyun mulai menyadari sesuatu yang aneh, bagaimana kalimat dan suara yang membelai telinga terasa mirip dengan seseorang yang begitu ia kenal. Memiliki perangai yang baik pula sabar kala menghadapi kelakuannya.

Kepala dia gelengkan dengan brutal, berharap kain yang menutup mata bisa terlepas. "Biarkan aku bertemu dengan Chanyeolie…" Nada bicaranya gemetar, menahan lenguhan akibat prostat yang kembali tersentuh. Dengan sengaja mengigit bibir bawah yang sudah pecah karna terlalu sering tergigit.

"Jangan sebut namanya."

"Hiks… Kumohon, aku hanya ingin bertemu Cha—AHH!"

Di tampar kedua belah bokong itu dengan tangan kekarnya bergantian, meremas juga mencubit kulit sekitaran perut yang tentu meninggalkan ruam merah kebiruan yang kontras dan panas.

Baekhyun semakin berontak ketika kedua kakinya diangkat dengan paksa, di tekuk hingga nafas itu membelai lagi wajah juga merasakan sesuatu yang mulai membentur mulut lubangnya. Dia ketakutan, sangat.

Hingga kain itu mengendur dan merosot turun tertahan pangkal hidung, membuat mata sukses terbelalak dalam keterkejutan saat pandangannya berubah jelas, saat netranya pula bertemu pada mata teduh yang kini berubah dingin penuh kepalsuan.

"Ka—Kau?"

Pria itu menyeringai, menatap begitu puas si bocah yang masih terbelalak tak percaya. Sungguh menggemaskan juga membuatnya muak dalam satu waktu karna teringat seseorang di masa lalu.

"Ya, ini aku."

Baekhyun menendang sebagai perlawanan, gemetar tubuhnya ketika meneriakan nama Chanyeol-nya lebih keras dan jelas hingga menambah geram dalam hati.

Dia sudah sangat kesal saat seseorang membuntuti bahkan hampir menangkapnya barusan, dan suara panggilan itu justru membuat hati semakin panas seolah ada bara api di dalamnya. Dia cemburu dan marah, tak terima saat perasaannya kembali di tolak.

Tanpa buang waktu sang pria mengangkat tubuh kecil itu dengan kasar, mengabaikan si bocah yang menggeleng dengan mata pias oleh air mata. Kemudian mencengkram pinggul sebelum,

BLESH.

Kedua mata sontak terbuka lebar sedang leher terjulur, suara lenyap seolah pitanya terputus bahkan saat mulut terbuka sekalipun. Terkejut oleh rasa sakit yang teramat sangat kala sesuatu mengoyak dan meninggalkan tetesan darah pada lantai.

Hingga hentakan terakhir memaksa jeritan pilu itu untuk keluar,

"ARGHH!"

.

.

.

.

.

.

Karna apa yang tertulis di sana adalah satu kata yang familiar dan tak pernah Chanyeol bayangkan sebelumnya. Begitu mustahil untuk terjadi namun takdir memang benar-benar tengah mengujinya.

"Kau tidak bisa memandang seseorang hanya dari luarnya saja…"

Kalimat yang selalu ia tekan dan lontarkan malah berbalik dan menghianati dirinya. Merasa bodoh karna tak benar bisa menanamkan ucapan itu dalam diri.

Sebab hasil yang terbentuk dari rangkaian huruf dan angka tersebut adalah,

"Willis…"

Sang sahabat yang begitu dia percayai.

.

To Be Countinue—"

.

.

.

Hayo udah tahu kan siapa orangnya? Gimana, kaget? Atau masih bingung sama kode?

Tenang, chapter besok tinggal penjelasan gimana kode itu bisa ngebentuk kata tersebut dan sisa-sisa penjelasan lainnya.

Buat yang prediksinya benar di Chapter sebelumnya, selamat ya^^ Ada beberapa yang nyerempet bener kok tebakannya, ehe.

Banyak juga yang kesel ternyata sama si Chanyeol kemaren. Tahu nih, coba aja kalau dia nerima pastinya babybaek gak bakal kena tangkep lagi, jahat kamutu mas T^T

Penasaran gimana nasib Baekhyun selanjutnya? Jangan lupa review biar Iza semangat. Kritik dan saran Iza terima kok:*

Halo para sider, sudikah kau meninggalkan jejak untukku ~ *nyanyi

Dan Hello reader juga tamu baru, terimakasih sudah mau mampir ya. Di tunggu reviewnya loh:*

Pokoknya, No Review No Lanjut! :'v

Sekian bacotan unfaedah dari saya. Salam,

#ChanbaekisReal!

#ChanbaekMenujuHalal