You and I

EXO Fanfiction

Pairing: ChanKai

Cast: Chanyeol, Kai (Jongin), Chen, and others

Rating: T-M

Warning: YAOI, M-preg

Halo semua ini bab sepuluh selamat membaca maaf atas semua kesalahan, sampai jumpa di bab selanjutnya…..

Previous

Jongin menoleh ke kanan, memperhatikan Sehun dan Lauren, mereka berdua juga bersiap pergi. Mobil bergerak pelan melewati mobil sedan merah Sehun, Jongin menajamkan pandangannya. Sehun, apa hubungan Sehun dengan Kai, kenapa Sehun memanggilnya dengan Kai, ada apa lagi dengan Kai?

"Apa yang kau perhatikan?"

"Ah!" Jongin tersentak oleh pertanyaan Chanyeol yang sarat akan kecemburuan.

"Kau tak sedang memperhatikan dokter itu kan?"

"Aku memperhatikannya."

"Jongin…," Chanyeol membalas dengan nada memperingatkan.

"Seragamnya bagus, Taemin mungkin cocok jadi dokter."

"Biar anak kedua kita saja yang jadi dokter." Balas Chanyeol, Jongin melirik malas kemudian mengacuhkan Chanyeol. Memilih memejamkan kedua matanya, dia tidak lelah, tidak sama sekali, hanya mencoba untuk berpikir tentang hubungan Sehun dan Kai.

BAB SEPULUH

Jongin berjalan seorang diri menyusuri trotoar, dia baru saja pulang dari membeli buku. Chanyeol tidak bisa mengantar karena dia sedang sibuk, tadi Taemin ingin ikut tapi tugas anak malang itu benar-benar menumpuk Jongin bahkan merasa iba melihatnya. "Wah!" Pekik Jongin tertahan melihat kafe es krim, tiba-tiba dia menginginkan es krim maka tanpa perlu berpikir ulang iapun melangkah masuk.

Jongin berdiri di depan konter mengatami menu yang tertulis, sayang tidak ada es krim rasa tomat di sini, jika ada pasti sempurna sekali hari ini. Mendapatkan buku yang diinginkan ditambah es krim tomat. Benar-benar sebuah keberuntungan. "Satu es krim rasa cokelat dan vanilla, topingnya potongan stroberi saja." Jongin menyebutkan pesanannya, setelah membayar ia berjalan menuju meja yang tadi memang diincarnya.

"Jongin!"

Jongin langsung mencari sumber suara yang memanggil namanya, setelah celingukan akhirnya dia menemukan siapa si pemanggil itu. "Sehun."

"Ya, ini aku."

"Kau ada di sini?"

"Rumah sakit tempatku bekerja ada di sana." Jongin mengikuti arah yang Sehun tunjuk, bahkan dirinya tak menyadari jika ada bangunan rumah sakit besar di hadapannya. "Aku selalu datang ke sini setiap istirahat pukul sepuluh pagi."

"Hmmm." Jongin menggumam.

"Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku dari toko buku lalu mampir ke sini."

"Hmmm. Apa kita bisa duduk bersama?"

"Tentu." Jawab Jongin diiringi dengan senyuman lebar.

Keduanya menempati meja di dekat jendela, Jongin meletakan plastik sedang berisi tiga buku yang baru dia beli. "Kau membeli buku apa?"

"Hanya buku tentang cara menjadi seorang pendidik yang baik dan menginspirasi."

Sehun menyungging senyum tipis. "Kau benar-benar bersemangat mengajar rupanya."

"Ya, tentu saja aku bersemangat berbagi ilmu itu menyenangkan." Jongin menatap lekat-lekat kedua mata Sehun yang kembali terlihat sembab, ia yakin Sehun pasti merindukan seseorang, mungkin orang itu Kai. Dahi Jongin berkerut, baiklah, hari ini dia harus tahu hubungan Sehun dengan Kai.

Tak lama pesanan keduanya datang, tak diduga mereka memesan rasa es krim yang sama. Keduanya tertawa bersama menyadari selera mereka yang sama. "Sehun."

"Jongin." Keduanya memanggil nama masing-masing secara bersamaan. Sehun tersenyum dan mempersilakan Jongin untuk mengatakan apapun yang ingin dikatakannya lebih dulu.

"Itu—waktu itu kau memanggilku Kai, kalau boleh tahu apa hubunganmu dengan Kai?"

"Apa hubunganmu dengan Chanyeol?" Sehun langsung membalas Jongin dengan pertanyaan yang menyebalkan. Jongin tersenyum miring, ternyata selain Chanyeol, Kai dikelilingi oleh orang keras kepala lainnya.

"Jawab dulu pertanyaanku baru aku akan menjawabmu, bukankah aku dulu yang bertanya."

"Baiklah, aku dan Kai pernah menjalin hubungan sebelumnya."

Jongin mengerutkan keningnya, menatap lekat-lekat wajah tegas Sehun. "Aku yakin hubungan kalian bukan sekedar teman biasa kan?"

"Kau pintar dalam menebak, Jongin."

"Begitulah, Chanyeol mengganggapku Kai begitu awal pertemuan kami, tapi kau bisa menguasai dirimu sat kita bertemu."

"Aku sudah bisa menerima jika Kai meninggal, aku hadir di pemakamannya."

"Hubungan kalian sangat rumit."

"Lauren anakku dengan Kai."

"A—apa?!"

"Dan kurasa kematian Kai ada hubungannya denganku dan Lauren, aku berusaha menyelidikinya tapi entahlah ada sesuatu atau mungkin seseorang yang menghalangiku. Kai tidak akan seceroboh itu hingga mobilnya terjun ke jurang. Kau ingin mendengar hal lain tentang Kai?"

Jongin menelan ludahnya kasar, ia harus menekan perasaan mualnya, jika Lauren adalah anak Kai dengan Sehun berarti Kai sudah berselingkuh di belakang Chanyeol. Lauren berusia enam tahun sekarang, Taemin berusia delapan tahun, saat Taemin berusia dua tahun Lauren lahir, Jongin meninggal saat Taemin berusia empat tahun. Jongin benar-benar merasa pening dan mual sekarang, Kai yang dipuja oleh Chanyeol, kenapa penuh dengan misteri dan penuh dengan kebobrokan. "Ya, aku ingin mendengar lebih banyak tentang Kai."

"Tapi aku butuh bantuanmu. Jongin apa kau bisa membantuku?"

"Mem—membantu apa?"

"Menyelidiki kematian Kai."

Kedua mata Jongin membulat sempurna, menyelidiki kematian seseorang bukan keahliannya. "Aku—aku akan mencoba mencari tahu, tapi aku tidak janji." Bisik Jongin, perutnya benar-benar mual sekarang dan es krim yang diinginkannya tiba-tiba saja menjadi Boomerang, ia ingin sekali melempar gelas es itu keluar.

"Terimakasih Jongin." Sehun tersenyum tulus ia berusaha untuk memegang telapak tangan Jongin, namun Jongin menarik tangannya. "Ah maaf, aku membuatmu tidak nyaman pastinya." Sehun tersenyum canggung.

"Aku tidak ingin terlibat masalah, kau tahu bagaimana Chanyeol."

"Apa Chanyeol memperlakukanmu dengan buruk?"

"Tidak, tidak!" Jongin ingin sekali pembicaraan ini berakhir, perutnya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

"Kau bisa menghubungiku di sini." Sehun menyerahkan kartu nama, Jongin menyambar kartu nama itu dengan cepat kemudian berdiri dari duduknya ia bergegas pergi ke belakang menuju toilet.

Fakta perselingkuhan Kai dan kemungkinan Kai tewas terbunuh, mengaduk perut Jongin sampai batas yang tak mampu ia tahan lagi. Setelah menutup pintu toilet, Jongin membuka tutup kloset dan mengeluarkan semua isi perutnya. Setelah isi dalam perutnya mungkin tak lagi bersisa, Jongin membersihkan mulutnya dan berkumur. Ia keluar dari toilet membasuh wajahnya, menatap bayangannya di dalam cermin lebar. "Kai," bisik Jongin. Jongin mengambil napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, ia simpan kartu nama Sehun, dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Chanyeol, ia tak akan menyimpan nomor ponsel Sehun, cukup menyimpannya atau mungkin menghapalnya nanti saat ada kesempatan. Hanya sekali nada sambung Chanyeol langsung menjawab panggilannya.

"Jongin kau dimana?!"

Jongin mengambil napas dalam-dalam, sambil menyeka keringat dingin yang mengaliri pelipis kanannya. "Apa kau sedang sibuk? Aku ada di toko es krim di dekat toko buku."

"Aku ada di rumah sedang mencemaskanmu, aku baru saja kembali dari kantor."

Jongin menggigit pelan bibir bawahnya, sepertinya menghubungi Chanyeol adalah pilihan salah. "Jemput aku, aku akan menunggumu di depan toko es krim." Jongin mengakhiri pembicaraan sebelum Chanyeol bertanya banyak topik yang merepotkan, ia masukan kembali ponselnya ke dalam saku belakang celana jins longgar yang ia kenakan. Perlahan Jongin meninggalkan toilet, kepalanya benar-benar pening dan rasa mual masih terasa meski tak seburuk tadi.

"Jongin! Kau baik-baik saja?" Sehun menatap wajah pucat Jongin dengan cemas.

"Aku baik-baik saja, sebaiknya kau pergi sebelum Chanyeol datang, aku akan membantumu."

"Jongin…,"

"Pergilah!" Tegas Jongin sambil mendorong bahu kanan Sehun menjauhi dirinya, iapun bergegas untuk keluar dari toko es krim dan menunggu di bangku panjang yang ada di depan toko es krim. Sehun melakukan apa yang Jongin perintahkan, ia bergegas kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja sebelum Chanyeol datang.

Lima menit kemudian Range Rover hitam berhenti di depan Jongin, pintu terbuka dan tentu saja Chanyeol keluar dengan tergesa menghampiri Jongin. "Sudah aku katakan agar kau tidak pergi seorang diri!" Chanyeol memulai sesi kemarahan awalnya.

"Bisakah kau simpan untuk nanti?" Pinta Jongin.

Chanyeol menatap wajah pucat Jongin dan keringat dingin yang membasahi dahi dan mengalir di kedua pelipis Jongin. "Astaga Jongin!" Chanyeol benar-benar panik ia langsung mengangkat tubuh Jongin dan membawanya masuk ke dalam mobil. Jongin benar-benar lelah, ia merasa kedua kelopak matanya berat dan terasa sangat nyaman saat dirinya mulai menutup mata.

.

.

.

Jongin membuka kedua matanya, menatap ruangan kamar tidur yang tidak asing lagi. Dia sudah sampai di rumah Chanyeol. "Kau kelelahan, itu yang dokter katakan. Sudah tahu gampang sakit kenapa pergi seorang diri? Kau tidur selama dua jam dan aku telat ke kantor."

"Aku tidak ingin mendengar omelanmu." Jongin membalas dengan suara parau.

"Kau harus istirahat selama tiga hari, tidak boleh mengajar, jika selama tiga hari keadaanmu tak membaik kau harus mengundurkan diri dari sekolah. Aku tidak menerima penolakan!" Tegas Chanyeol membuat Jongin ingin berteriak marah, tapi tubuhnya terlalu lelah untuk melakukan hal itu.

"Baiklah," gumam Jongin.

"Kau setuju?!" Astaga Chanyeol bahkan tak menyangka Jongin akan setuju.

"Ya, aku setuju."

"Baiklah kalau begitu aku harus kembali ke kantor dan Lay hyung akan menjagamu."

"Hmmm," Jongin hanya menggumam. "Lay hyung," bisik Jongin.

"Kenapa? Kau ingin orang lain yang menjagamu?"

"Bagaimana kau bisa mendengar kalimat yang aku ucapkan dengan pelan."

"Karena telingaku lebar."

"Hahaha, lucu." Ejek Jongin. Chanyeol apa kau tahu Kai-mu berselingkuh dengan dokter muda nan tampan bernama Sehun, mereka memiliki anak perempuan cantik berwajah kebaratan dengan rambut cokelat tebal.

"Jongin! Jongin!"

"Ah! Ya ada apa?!" Pekik Jongin, kaget dengan Chanyeol yang meneriakkan namanya.

"Kau benar-benar kelelahan, sudah, aku berangkat dulu sampai nanti malam." Chanyeol mencium kening Jongin sebelum beranjak pergi. "Hyung tolong jaga Jongin," Jongin tak perlu melihat dengan siapa Chanyeol berbicara.

Jongin mendengar langkah kaki mendekat, ia berusaha untuk tidur karena tubuhnya sangat lelah, tapi permintaan tolong dari Sehun dan berbagai pemikiran tentang Kai membuatnya sulit untuk terlelap kembali. Menyerah, Jongin menyingkap selimutnya kemudian mendudukan diri. Untuk saat ini ia akan mengabaikan urusan Chanyeol, Chanyeol berhak untuk tahu kebenaran tentang Kai, tapi sekarang Jongin ingin fokus mencari kebenaran dulu.

"Tidurlah." Jongin menoleh ke arah sumber suara, ia melihat Lay duduk di atas single sofa berwarna biru di depan perapian dengan sebuah buku tebal bersampul cokelat di tangannya. Lay membalas tatapan Jongin. "Mau makan sesuatu?"

Jongin mengerjapkan kedua matanya. "Apel." Ucapnya, Lay mengangguk dan berjalan mendekati meja oval di tengah ruangan, ia mengambil sebuah Apel. "Tidak usah dikupas Hyung." Lay menurut ia berjalan mendekati ranjang dan menyerahkan Apel di tangannya kepada Jongin.

"Semoga cepat sembuh atau kau harus berhenti mengajar."

"Jangan sampai itu terjadi, aku bisa mati bosan," keluh Jongin kemudian menikmati Apelnya. Lay hanya tertawa pelan dan duduk kembali di sofa.

"Kau sangat menikmati mengajar dan berdekatan dengan anak-anak?"

"Ya, aku menyukai anak-anak sebenarnya." Lay tersenyum tulus menampilkan lesung pipit dalamnya. "Taemin masih sibuk?"

"Chanyeol melarangnya menemuimu ia ingin kau beristirahat, Chanyeol mengajaknya ke kantor agar anak itu tak merengek meminta bertemu denganmu."

"Hmmm." Jongin menggumam, ia mulai berpikir bagaimana caranya memancing Lay untuk membuka mulutnya, Jongin masih yakin bahwa Lay tahu banyak tentang Kai. "Apa ada hal yang menarik selama aku mengajar Hyung?"

"Ah itu—Mungkin Taemin yang memaksa Chanyeol berenang. Lucu sekali ekspresi Chanyeol aku tak menyangka dia bisa membuat ekspresi bodoh seperti itu…," Lay tak mampu melanjutkan kalimatnya karena tawanya sudah lebih dulu meledak.

Jongin tertawa bersama Lay membayangkan ekspresi bodoh Chanyeol seandainya dirinya ada di sana, pasti ia akan membantu Taemin untuk mengerjai Chanyeol lebih jauh lagi. "Ah ya ampun….," desah Lay. "Kau sendiri ada yang menarik selama mengajar?"

"Ah!" Jongin memekik pura-pura antusias, padahal ia harus mati-matian menyembunyikan seringai kemenangan, Lay masuk perangkap. "Chanyeol terlambat menjemput, lalu aku mengancamnya dan kurasa dia mengeluarkan ekspresi bodohnya tapi karena kami bicara lewat sambungan telepon aku tidak bisa melihat ekspresi apa yang dia buat."

"Sayang sekali." Balas Lay sambil menutupi bibirnya karena menahan tawa.

"Ya sayang sekali Hyung, lalu karena panas aku putuskan untuk masuk ke gedung sekolah. Hyung tahu aku mendengar suara tangisan padahal kukira sekolah sudah kosong!" Jongin memekik antusias.

"Benarkah?! Apa itu hantu?!" Lay menanggapi dengan baik membuat Jongin mulai bersiap untuk memojokkan Lay.

"Awalnya kukira hantu, padahal aku sudah siap-siap merekam ternyata itu hanya gadis kecil." Lay tertawa terbahak-bahak, Jongin menguyang Apelnya sambil tersenyum. "Hyung tahu gadis kecil itu sangat cantik, berwajah campuran Asia-Eropa."

"Ahhhh, dia benar-benar cantik?" Jongin mengangguk mantap menjawab pertanyaan dari Lay.

"Ya, rambutnya kecoklatan tebal, sedikit bergelombang, aku jadi ingin memiliki anak perempuan secantik dia."

"Kurasa Chanyeol menginginkan anak laki-laki lagi, tapi kukira dia tak akan keberatan dengan anak perempuan. Ah kenapa anak itu menangis apa dia belum dijemput?"

"Tebakan Hyung tepat!" Jongin memekik girang, Lay sebagai mangsa sudah terpojok. "Dia belum dijemput karena kami sama-sama belum dijemput maka kuputuskan untuk menemaninya, di ada di TK Nol Besar jadi aku belum pernah melihat wajahnya sebelumnya, kami mengobrol cukup akrab aku memberinya jus karena dia terlihat ingin menangis." Jongin berhenti menatap wajah Lay lekat-lekat.

"Teruskan, aku benar-benar tertarik dengan ceritamu."

"Ah benarkah?! Kupikir Hyung bosan mendengar racauanku." Lay menggeleng cepat. "Baiklah aku lanjutkan, kami berkenalan namanya Lauren." Ekspresi terkejut Lay, kedua matanya yang membola meski hanya sepersekian detik tak luput dari perhatian Jongin. Jongin berpura-pura untuk tidak tahu hal itu dan melanjutkan ceritanya. "Ayahnya datang, dia dokter muda namanya kalau tidak salah Sehun, lalu Chanyeol datang tidak lama kemudian, dia terlihat kesal, kapan orang itu berhenti menjadi pencemburu?" Jongin berpura-pura mengeluh tentang sikap Chanyeol.

"Aku rasa Chanyeol tidak akan berhenti bersikap cemburu." Lay membalas diiringi sebuah senyuman manis, Jongin hanya mengangguk pelan ia lempar sisa apelnya ke dalam keranjang sampah, tepat masuk.

"Yes!" Pekik Jongin bahagia, ia melirik Lay dari ekor matanya pria itu tak terpengaruh dengan perayaan konyolnya. "Ahhh, aku mau tidur lagi Hyung."

"Oh! Tidurlah, tapi apa tidak sebaiknya kau makan dulu?"

"Nanti saja." Jawab Jongin sambil membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur dalam posisi miring memunggungi Lay, ia tarik selimutnya sebatas leher, setelah ini yang akan dia lakukan adalah bersikap tenang selama tiga hari, jika Lay terlibat ia yakin ia tak terlibat seorang diri dan Jongin yakin Lay pasti menghubungi orang lain yang terlibat itu. Jongin akan bersikap seolah-olah bukan sebagai ancaman. Mungkin karena lelah dan hal yang ingin ia pastikan sudah sedikit terkuak, maka Jongin tertidur kembali dengan cepat.

Jongin menggeliat pelan dan tangannya menyentuh sesuatu, ia langsung membuka kedua kelopak matanya dengan cepat. "Ah, Taemin." gumam Jongin sambil tersenyum, ia mengusap pelan rambut Taemin. Anak laki-laki itu terlihat tenang dalam tidurnya. Jongin mengecup pelan dahi Taemin sebelum menyingkirkan poni Taemin yang menutupi seluruh dahinya. Jongin turun dari tempat tidur, merapikan selimut yang menutupi Taemin kemudian melangkah keluar meninggalkan kamar.

"Jongin kau sudah bangun?" Lay menyambut kedatangan Jongin dengan senyum ramah.

"Aku ingin makan Hyung, sudah berapa lama aku tidur?"

"Tiga jam."

"Hmmm, Taemin, Taemin kapan dia menyusulku ke kamar?"

"Baru satu jam yang lalu." Jongin mendudukkan dirinya tepat di hadapan Lay, tak lama Lay berdiri dari kursinya dan mengambil makanan yang sudah diletakan di atas konter. "Kentang panggang, daging giling, dan pudding buah, kau masih ingat harus makan dalam porsi kecil lima kali sehari kan?"

"Ya Hyung. Chanyeol dimana?"

"Kau merindukannya?" Jongin ingin menjawab Tidak dengan keras namun wajahnya sudah lebih dulu memanas. "Wajahmu merona, jangan malu Jongin mungkin itu bawaan bayi yang ingin dekat dengan ayahnya." Lay semakin menggoda Jongin.

"Bu—Bukan seperti itu! Chanyeol harus berbagi susu denganku." Jongin menjawab dengan cepat, membuat Lay menampilkan seringaiannya semakin gencar menggoda Jongin.

"Kalian membicarakan aku?" Suara berat itu membuat Jongin mencebik, bagaimana dia bisa muncul tiba-tiba? Batin Jongin.

"Jongin merindukanmu." Lay menjawab tanpa basa-basi membuat Jongin kelabakan.

"Apa yang Hyung katakan?" Desis Jongin memprotes ucapan Lay.

"Apa?! Ah benarkah?!" Chanyeol semakin menyebalkan bagi Jongin, kemudian dapat Jongin rasakan bibir Chanyeol mendarat pada permukaan pipi kanannya. "Benarkah kau merindukanku?" Chanyeol menatap Jongin dengan kedua mata bulatnya.

"Tidak. Kau harus minum susunya." Jongin menjawab ketus meski detak jantungnya sudah tak karuan.

"Haah," desah Chanyeol. "Aku akan minum susunya, habiskan makananmu dulu. Aku akan melihat Taemin dulu."

"Dia tidur di kamar, dia baik-baik saja kan?"

"Semalam dia mimpi buruk—tentang Kai, Taemin selalu murung setelah bermimpi tentang Kai." Jongin hanya melempar tatapan iba kepada Chanyeol. "Sudah tiga hari terakhir ini Taemin terus mimpi buruk, aku berpikir untuk membawanya terapi."

Jongin mengerutkan keningnya. "Biarkan dia tidur denganku."

"Dengan kita?" Koreksi Chanyeol.

"Ya, ya, terserahlah." Jongin membalas asal.

"Jongin, aku pergi dulu sebentar." Jongin mengangguk pelan memberi izin kepada Lay, meski tak terdengar nada dering atau getaran tangan kiri Lay yang menyentuh saku celana depannya membuat Jongin yakin jika laki-laki itu menerima panggilan. Jongin meneruskan acara makannya dengan tenang meski otaknya mulai berpikir bagaimana langkah selanjutnya untuk membongkar semua.

"Dimana Lay hyung?"

"Pergi." Balas Jongin singkat, ia pura-pura sibuk memotongi puding buahnya.

"Itu Puding buah?" Chanyeol menunjuk Puding buah berwarna bening dengan potongan-potongan buah di dalamnya. "Aku boleh minta?" Jongi mendengus, tapi dia tetap membagi Pudingnya dengan Chanyeol. "Kecil sekali?" Keluh Chanyeol.

"Minta staf rumah tangga membuat yang lebih banyak untukmu."

"Tidak, aku ingin berbagi denganmu." Jongin melirik Chanyeol, mulutnya masih sibuk mengunyah Puding buah yang kenyal, manis, dan segar itu.

Jongin meletakkan siku kanannya ke atas meja makan, menumpukan dagunya pada telapak tangan kanan. "Kenapa kau berubah jadi manis dan manja Park Chanyeol?"

"Kau juga berubah manis."

"Aku tidak seperti itu!" Pekik Jongin kesal, enak saja dia dikatai manis? Sejak kapan dirinya berubah manis?! Chanyeol tertawa pelan membuat Jongin melirik tajam.

"Bagiku kau berubah manis, mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kau tetap manis." Jelas Chanyeol kemudian menyentil pelan ujung hidung Jongin.

"Apa-apaan kau ini? Aku bukan anak kecil," gerutu Jongin sambil mengusap-usap ujung hidungnya. Ia sodorkan gelas besar berisi susu hamil ke hadapan Chanyeol. "Minum ini." Ucapnya tak lupa diiringi senyum lebar tanpa dosa. Tanpa protes Chanyeol meminum setengah susu yang Jongin sodorkan. Jongin memerhatikan dengan antusias.

"Selesai, sekarang giliranmu." Jongin tersenyum miring, ia raih gelas susu yang tersisa setengah itu dan menenggak isinya dengan cepat. Chanyeol mengerutkan keningnya rasa amis susu mulai mengganggunya. Jongin mendorong Puding buahnya ke hadapan Chanyeol. "Kau bisa makan ini." Chanyeol tertawa pelan, namun ia melakukan apa yang Jongin katakan, memakan Puding buah untuk meredakan perutnya yang sedikit bergejolak. "Chanyeol."

"Ya?"

"Aku ingin libur mengajar selama satu minggu. Aku benar-benar kelelahan, ternyata mengajar saat hamil muda itu tidak mudah." Jongin terpaksa berdusta.

Chanyeol tersenyum lebar. "Akhirnya kau setuju juga dengan pemikiranku, kurasa lebih baik jika kau mengundurkan diri saja."

"Mungkin—aku akan memikirkannya." Jongin tersenyum lembut agar Chanyeol percaya. "Aku bisa jalan-jalan kan dengan Taemin? Dia butuh libur Chanyeol, tolong kasihani anakmu sendiri." Chanyeol terlihat ragu mendengar permintaan Jongin. "Mungkin, dengan jalan-jalan dan liburan Taemin tidak akan bermimpi buruk lagi."

"Ya, kurasa idemu bagus. Baiklah kalian boleh jalan-jalan dan liburan tapi harus ada yang menjaga kalian."

"Masalah itu bisakah dilewatkan?" Rajuk Jongin.

"Haahh," Chanyeol mendesah sulit untuk tidak luluh pada tatapan Jongin yang memelas seperti itu. "Baiklah, jika jauh harus ada yang menemani jika dekat kalian bisa pergi sendiri." Jongin masih terlihat tidak puas dengan jawaban Chanyeol. "Jika kau sehat dan dalam keadaan baik kau bisa pergi hanya dengan Taemin saja!" Putus Chanyeol dengan nada kesal, Jongin tersenyum lebar kemudian memeluk Chanyeol singkat, membuat Chanyeol tersentak dengan tingkah laku Jongin.

Pelukan itu seketika menghilangkan semua kekesalan Chanyeol, ia tersenyum kemudian mengusak rambut Jongin dengan gemas. Jongin menyingkirkan tangan Chanyeol dari kepalanya, namun bukan Chanyeol namanya jika dia tak bersikeras dan melakukan apapun yang diinginkannya. "Ayah, Jongin."

"Halo Taemin." Jongin menyambut dengan ramah dia mengisyaratkan Taemin untuk mendekat dan bergabung ke meja makan. Taemin mendudukkan dirinya di antara Chanyeol dan Jongin, tentu setelah dirinya menyuruh sang Ayah untuk bergeser. "Taemin lapar?" Taemin hanya mengangguk pelan.

Jongin berdiri dari duduknya, ia menghangatkan makanan yang memang disediakan untuk Taemin. "Tunggu sebentar Taemin, kau bisa makan Pisang untuk mengganjal perutmu." Taemin kembali mengangguk, Jongin memperhatikan Taemin dengan seksama, sepertinya mimpi buruk tentang Kai benar-benar mengganggu Taemin. "Setelah makan, Taemin bisa bermain."

"Benarkah?!" Kedua mata Taemin nampak berbinar, anak itu tidak diragukan lagi butuh hiburan. Tanpa diduga Chanyeol mengangguk setuju, Jongin lega tak perlu ada perdebatan tentang memberi waktu bermain untuk Taemin. "Taemin boleh berenang?"

"Udara di luar mulai dingin." Jawaban Chanyeol membuat Taemin kembali murung.

"Bagaimana jika yang lain?"

"Taemin ingin bersama Ibu Jongin, boleh?"

"Tentu saja Taemin." Chanyeol dan Jongin menjawab bersamaan. Jongin menuang ayam cincang yang baru selesai di hangatkan ke atas piring lebar, meletakkan saos secara terpisah dan mengambil segeals jus Apel untuk Taemin.

"Makan yang banyak Taemin." Jongin berucap lembut kemudian mengecup pelipis kanan Taemin dengan sayang dan tulus. Selanjutnya Jongin membereskan peralatan makannya, mencucinya dan menatanya kembali.

"Taemin bermain dengan Jongin setelah ini?" Taemin menggangguk menjawab pertanyaan sang Ayah karena mulutnya sibuk mengunyah. "Baiklah, Ayah mau mandi dan tidur sebentar."

"Hmmm." Taemin menggumam. Chanyeol mengusak rambut cokelat Taemin kemudian ia berdiri dan menghampiri Jongin mencium singkat bibir Jongin sebelum beranjak pergi. Jongin melirik Taemin, bocah itu tersenyum jahil melihat Chanyeol yang menciumnya tadi, di dalam hati Jongin berjanji akan memberi pelajaran pada Chanyeol dengan memberinya lebih banyak porsi susu, biar saja si telinga lebar itu muntah. Jongin menyeringai licik tanpa sadar.

"Kenapa tersenyum menyeramkan seperti itu?" Taemin bertanya polos.

"Siapa?! Aku?!" Jongin menunjuk dirinya sendiri, Taemin mengangguk pelan.

"Ah itu—aku hanya ingat pernah mengalahkan seseorang, itu kenangan yang menyenangkan."

"Benarkah?! Ceritakan padaku!" Tuntut Taemin.

"Habiskan makananmu dulu lalu kita akan berbagi semuanya di kamar Taemin, bagaimana?" Taemin mengangguk antusias dan jangan lupakan senyuman bahagianya, Jongin menyentuh puncak kepala Taemin lembut. Bagaimana Kai setega itu mengkhianati keluarganya, ah tidak! Jongin yakin pasti ada alasan kuat dibaliknya, untuk saat ini dirinya harus bersikap netral menyalahkan Kai sebelum semuanya terbukti kebenarannya, terdengar sangat tidak adil.

"Selesai!" Taemin memekik girang, Jongin tersenyum dan mulai membereskan semua peralatan makan Taemin.

"Tinggalkan saja! Kita ke kamar sekarang!" Taemin mulai menuntut dan menarik lengan kanan Jongin. "Tinggalkan saja!" Jongin ingin bersikeras menolak, namun Taemin terlihat hampir menangis, baiklah tidak biasanya Taemin bersikap seperti ini, dia memang manja tapi Taemin cukup dewasa selama ini, kecuali jika itu menyangkut tentang Kai. Masih segar diingatan Jongin kala Taemin berlari memeluk kakinya dan menangis keras, pada pertemuan pertama mereka.

"Baiklah, ayo pergi sekarang." Jongin menyerah, digandengnya pergelangan tangan kanan Taemin kemudian keduanya melangkah memasuki kamar Taemin. Taemin langsung menyuruh Jongin untuk duduk di atas tempat tidur, Jongin yang masih bingung dengan tingkah Taemin hanya menurut.

Berikutnya Taemin duduk di pangkuan Jongin, memeluk, menenggelamkan wajahnya pada perpotongan bahu dan leher Jongin. "Kenapa Taemin?" Jongin bertanya dengan nada lembut sambil mengusap pelan punggung Taemin.

"Taemin mimpi buruk Ibu terjatuh di kegelapan, lalu hilang, Taemin memanggil-manggil nama Ibu tapi Ibu tidak menjawab."

"Aku?" Jongin masih belum paham yang dimaksud Ibu oleh Taemin itu dirinya atau Kai.

"Tidak tahu, wajah kalian sama." Taemin melonggarkan pelukannya pada Jongin, menarik tubuhnya, keduanya bertatapan, kedua mata Taemin mulai sembab. "Jongin jangan pergi seperti Ibu."

"Aku tidak akan pergi."

"Janji?" Taemin mengangkat kelingking kanan mungilnya ke hadapan Jongin.

"Ya." Jongin menjawab singkat ia tautkan kelingking kanannya pada Taemin. Taemin tersenyum lebar, kemudian ia mencium kedua pipi Jongin membuat Jongin tertawa melihat tingkah manja Taemin.

TBC

Terimakasih untuk para pembaca sekalian, terimakasih untuk: sayakanoicinoe, winter park chanchan, GaemCloud347, steffifebri, hunexohan, jjong86, , Park Jitta, LoveHyunFamily, namayou, chotaein816, harmiyunia, geash, deathangel94, sejin kimkai, Sung208, , nandaXLSK9094, , Puji Haruharu, yayasuke, Adinka K.P, Waniey318, Wiwitdyas1, yuvikimm97, laxyvrds, cute, kanzu jackson, miss leeanna, YooKey1314, yuyu, ren chan, Jiji Park, BabyWolf Jonginnie'Kim, KalunaKang61, Kamong Jjong. Terimakasih atas review kalian, maaf untuk yang terlewati atau tidak disebut, ini yang review chapter 9 kemaren.