Bagian 1 "Aerial Negeri Cahaya, Negeri Kegelapan"
~ Chapter 08 ~
Cast :
VIXX N (GS) & Leo
DBSK U-Know
EXO Chanyeol (GS)
Go Sohyun
Wu Yifan/Kris
SHINee Minho
Super Junior Siwon
VIXX Ken (GS)
~ AERIAL ~
Merasa kenal dengan suara itu, Yeonie langsung meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Tapi pelukan yang tadinya longgar kini berubah menjadi cengkraman kuat yang membuatnya sesak napas.
Seseorang melintas di depan mereka tapi terhalang oleh lapisan tirai yang berkibar-kibar. Orang ini berhenti dan mengendus-enduskan hidungnya.
"Leo, aku—HEI!" belum sempat Yeonie berkata lagi, dengan kasar Leo mendorong Yeonie dengan telapak tangannya.
Yeonie nyaris menubruk tiang di belakangnya seandainya selama ini ia tidak digembleng latihan fisik yang kuat oleh Jenderal U-Know.
Orang yang tadi melintas—dan tampak curiga akan sesuatu—kembali berjalan pergi. Kini tidak ada siapa-siapa di sekitar mereka.
"Kau—!" Yeonie mengacungkan tinjunya kearah Leo dan dengan mudah pemuda ini mengakisnya.
Leo tersenyum melecehkan, seakan-akan tanpa dirinya saat ini hidup Yeonie akan berakhir dalam waktu kurang dari lima menit.
Dan ketika Yeonie melihat sesuatu di gaunnya—rosa arancia baru telah tertempel di situ—barulah ia mengerti apa yang tadi dilakukan Leo.
Leo tersenyum penuh percaya diri, cenderung sinis sambil melipat tangan di dada. "Kali ini kamu keterlaluan kalau tidak berterima kasih padaku."
Yeonie tahu nyawanya baru saja diselamatkan. Tapi membayangkan Leo dan Chanyeol di tepi sungai semalaman membuatnya naik pitam kembali. Jadi ia bukan satu-satunya, kan?!
Dengan mimik cemberut, Yeonie langsung buang muka. "Menyelamatkanku begini… itu pilihanmu, Pangeran." Ujarnya keras kepala.
Brak!
Leo menggebrak dinding pilar di sisi wajah Yeonie keras sekali hingga gadis ini terkejut. "Dasar tidak tahu—"
"Kenapa aku harus berterima kasih pada laki-laki hidung belang, hah?!"
"Hi… dung belang?" Leo menatapinya kebingungan.
HIDUNG BELANG? Dua kata itu terngiang-ngiang di otaknya.
Apakah ia tidak salah dengar? Sohyun dan hampir seluruh gadis di negeri Kegelapan mengatakan ia adalah lelaki paling kaku dan paling tidak mengerti apa yang diinginkan wanita. Tapi Yeonie malah mengatakan sebaliknya. Benar-benar pendapat yang aneh!
"Kamu bertemu Chanyeol di tepi sungai malam itu dan kini padaku…" Yeonie bungkam. Ia tidak sanggup meneruskan. Rasanya dari detik ke detik ia malah semakin mempermalukan dirinya.
"Chanyeol? Siapa pula Chanyeol?" Leo tampak tidak terlalu peduli apa penyebab kemarahan Yeonie. Diraihnya pergelangan tangan gadis itu, lalu diciumnya ujung jari telunjuknya. "Aku sudah memutuskan, Putri." Bisisknya.
"Memutuskan apa?"
"Kita harus jadi lebih dari sekedar teman." Yeonie mencibir, hampir saja tertawa keras mendengar ide konyol itu.
"Ayolah, Yeonie." Leo si Pangeran Kegelapan yang (seharusnya) menakutkan, kini malah tengah merayunya dengan sangat memaksa. "Untuk apa kita mengikuti sumpah leluhur atau kata-kata orang sekitar yang tujuannya tidak jelas? Hanya untuk perang sematakah? Tak ada gunanya."
"Tapi ramalan itu? Exitium—"
"Hidup adalah milik kita sebagai penentunya. Bukan ramalan konyol!" Leo memotong keras, terkesan membentak. Perang tidak akan menyelesaikan masalah. Ia teringat perkataan kakaknya dan kini tergerak untuk melakukan yang sama.
Saking tidak mempercayai pendengarannya, Yeonie sampai terdiam lama. Ada apa dengan perubahan sikap Leo yang sangat tiba-tiba ini? Apakah Leo hanya berpura-pura? Merayunya… lalu menjeratnya? Apakah semua ini hanya jebakan?
"Leo benar, Yeonie."
Yeonie terenyak. Suara dalam yang sangat menggetarkan sukma ini—mengapa terasa familiar baginya?
Dan bukan Yeonie saja yang setengah mati terkejut, Leo juga.
Terutama Leo.
"Kris, kau…" saking bengongnya, hanya itu yang mampu terlisankan oleh pemuda ini.
Di sisi kakaknya terdapat sosok wanita manis yang tadi menyertai Yeonie dan seorang lagi adalah gadis yang pernah dilihatnya tatkala jembatan kayu di Aerial rubuh.
"Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman disini," Kris berkata. Senyumnya tersungging mendapati dua sejoli di hadapannya yang saling berkacak pinggang. "Malam itu bukan Leo yang menemui Chanyeol, tapi aku. Chanyeol adalah kekasihku."
Seharusnya berita ini sudah bisa ditebak oleh Leo—segala alasan mengapa Kris begitu gigih membela bangsa Cahaya—tapi tetap saja ia terkejut tatkala mendengar pengakuan keluar secara gamblang dari mulut kakaknya.
"Chanyeol…" Yeonie memandangi sepupunya, tak mampu berkata-kata lebih banyak untuk mengomentari keputusannya—keberaniannya.
"Kalau sampai kalian ketahuan—kalau sampai ayahmu, Penasihat Minho tahu, ia pasti akan murka sekali," Ken berbisik jujur walau gesturnya tidak menunjukkan dirinya benci malihat dua orang yang sangat berbeda ini bersama-sama.
Suasana riuh-rendah pesta membuat mereka dapat berbicara dengan leluasa. Bahkan baik Kris dan Leo sudah mempersiapkan diri apabila mawar oranye ketiga gadis ini luruh lagi, yang berarti penyamaran mereka di antara orang-orang Kegelapan dapat terbongkar.
"Tentang aku dan Yang Mulai… jangan khawatir, Yeonie. Biarkan ini menjadi konsekuensi kami," ujar Chanyeol.
Yeonie tertegun. Melihat Kris dan Chanyeol di depannya, tangan saling berpegangan serta mata tidak bisa lepas satu sama lain, hanya membuatnya kagum sekaligus iri.
Iri karena mereka berdua begitu serasi, sejiwa… dan berani.
"Apa hubungannya Exitium, mawar hitam, dan bangsa Kegelapan?" Yeonie—terbiasa dengan sikap bossy sebagai anak pertama, sekaligus putri dengan tahta tertinggi—bertanya tegas pada sepupunya.
"Aku berhasil menemukan komposisi ramuan ekstrak mawar hitam dan serpihan Batu Perak yang apabila dioleskan pada kulit ras Kegelapan, mereka jadi tahan terhadap sinar matahari. Dulu Kris yang mengambilkan Batu Perak ini untukku." Chanyeol menjawab penuh semangat, merasa bangga sekali karena karyanya mendapat tanggapan positif, tidak seperti di negerinya di mana kebanyakan orang—termasuk ayahnya sendiri—menganggap ia perempuan aneh.
"Benarkah?" Leo ingin melihat dari dekat benda kecil yang dibawa Chanyeol. Di luar dugaan, dia yang paling antusias dan penasaran saat itu.
"Seharusnya dengan penemuan ini bangsa kita tidak perlu berperang lagi." Kris mengepalkan tangan kanan, berharap penuh itu dapat terwujud.
"Jadi klan kita akan benar-benar dapat menikmati matahari tanpa takut kulit jadi melepuh?" Leo masih tidak percaya, rasa senang dan ngeri menyusupi hatinya kini. Memang penemuan Chanyeol adalah ide yang sangat brilian, tapi bagaimana konsekuensi ke depannya?
Kris mengangguk. "Yang jelas rencana ini tidak boleh sampai bocor ke siapa pun. Hanya beberapa orang yang tahu. Orang-orang yang pro perdamaian."
Leo mengiyakan walau sesungguhnya ia merasa tidak nyaman dengan konspirasi ini. Kris mungkin saja nekat melakukan semua ini demi cinta, tapi Leo masih ragu terhadap penerapannya.
Bangsa Kegelapan dan Cahaya bersatu… semudah itu? Leo menggeleng-geleng. Mengingat ia kenal sekali siapa ayahandanya, ia jadi tahu siapa orang pertama yang tidak boleh mengetahui "kudeta" ini.
"Terutama Ayah, Kris."
Kris tersenyum. "Dan Siwon. Berada di dekat orang itu bikin bulu kudukku merinding!"
Beberapa tangan meraih-raih ujung tirai tempat mereka berkumpul, ingin menyibaknya sambil bertanya-tanya "siapa gerangan di sana."
Leo menarik tangan Yeonie. "Kita harus segera keluar dari sini. Aku tidak nyaman dengan situasi sekitar. Bagaimana pun juga Yeonie adalah putri dari raja dari negeri musuh. Terlalu berbahaya kalau mereka terekspos di alam terbuka tanpa penjagaan seperti ini. Kalian duluan."
Kris mengangguk, mengajak Chanyeol dan Ken menyingkir ke luar.
Ada sesuatu yang membuat Yeonie sedih tatkala Leo mengucapkan kata "musuh", seakan-akan walau mereka berdiri berdekatan, mereka tidaklah dekat.
Tepat ketika tirai terbuka lebar, Leo menarik Yeonie ke pelukannya dan menciumnya di bibir, setengah badannya menutupi figur Yeonie.
Seorang lelaki dan dua orang perempuan yang berjalan di belakang terenyak melihat pemandangan sepasang kekasih ini.
Leo melepaskan kecupannya, menatapi dingin si penginterupsi. "Ada perlu apa?"
"P-Pangeran! Kami, kami—MAAF!"
Tirai kembali ditutup. Dan belum sempat Leo memalingkan wajah ke arah Yeonie lagi…
Plak!
"Awas kalau kamu mengulangi itu sekali lagi. Huh!"
Yeonie mengangkat dagu lalu berjalan mengikuti arah kepergian Kris.
Di luar, tanpa bantuan penerangan, Dataran Kegelapan adalah ruang hitam yang lapang dan tak terbatas. Mereka melintasi padang rumput yang ilalangnya sangat tinggi, sekilas mirip Padang Rumpul Illya.
Yeonie yang tadinya berjalan angkuh tanpa melihat ke belakang lagi, menghentikan langkahnya karena ia tidak bisa melihat sosok Kris, Chanyeol, maupun Ken, namun terlalu gengsi untuk meminta bantuan Leo.
"Perhatikan langkahmu, Putri. Kamu bisa jadi mangsa yang enak bagi ular-ular raksasa di sini."
Yeonie langsung diam di tempat tapi tetap bersikeras tidak mau menengok ke belakang. Sambil bersiul riang, Leo meraih tangannya, tanpa berkata-kata mengharuskan gadis itu mengikutinya.
"Leo, kau mau ke mana? Leo!"
Dari kejauhan terdengar Sohyun memanggilnya—membuat Leo panik—dan berlari ke arahnya.
"Sohyun."
Doojoon muncul tepat di depan gadis itu, menghadang langkahnya.
"Pangeran Leo dan Yang Mulia Kris harus menghadiri acara lain. Mohon dimengerti."
Sohyun tidak menerima alasan ini begitu saja. Ia bertolak pinggang di depan Doojoon, menantangnya. "Acara apa? Tidak ada acara lain pada malam Pesta Topeng, Doojoon."
"Pertemuan rahasia, membahas strategi perang terhadap bangsa Cahaya."
Leo terkejut—salut melihat tindakan yang diambil anak buahnya. Ia tidak pernah meyangka Doojoon mengetahui kegiatan Kris selama ini, sementara Leo sendiri tidak tahu apa-apa. Padahal dia anak buahku, pikirnya.
Sohyun melempar tatapan menyelidik sekali lagi ke sosok Leo yang semakin menghilang ditelan kegelapan, lalu balik badan kembali menuju Pesta Topeng.
Setelah situasi aman. Leo kembali menarik tangan Yeonie keras—posesif. Maksudnya begitu, namun di mata Yeonie tindakannya sangat kasar.
"Kita mau ke mana?!" tanya Yeonie.
"Mana aku tahu! Kris yang tahu. Diam dan ikuti aku. Kakakku dan kekasihnya itu sepertinya telah menggarap ini sejak lama."
"Jangan berteriak padaku." Yeonie menarik tangannya, enggan terus-menerus digenggam seakan-akan Leo berhak penuh atas dirinya. Diempaskannya topeng dekoratif dari wajahnya, yang baginya terasa mengganggu sudut penglihatannya.
Setelah padang ilalang tidak tertangkap pandangan mata lagi, akhirnya mereka berlima tiba di jalan buntu bertebing yang dikenali Yeonie sebagai perbatasan wilayah Cahaya dan Kegelapan.
Sesaat Yeonie tertegun, ia pernah datang kesini berdua dengan Jenderal U-Know, memperhatikan segala kemungkinan pertahanan yang dapat diupayakan seandainya suatu saat bangsa Kegelapan menyerang.
Dari inspeksi tersebut, ia menyadari bahwa posisi negerinya berada di atas tebing.
Di tempat yang lebih menguntungkan.
Leo muncul dari samping Yeonie, melihat lebih dekat tekstur tebing. Ketika ia menyentuhkan telapak tangannya di permukaan tebing, ia tersentak sampai mundur beberapa langkah.
"I-ini…" Leo terbata. Sekilas ia meliht beberapa kilatan imaji dari masa lalu, dari sesuatu yang sebenarnya ia yakin belum pernah ia alami, namun eksis di bagian lain ingatannya.
Aku pernah ke sini. "Di balik tebing ada gua, bukan?"
Semua orang, terutama Kris, terkejut akan tebakan jitu Leo. "Leo… sejak kapan…? Tidak pernah ada yang tahu keberadaan gua ini selain diriku dan Chanyeol."
Tidak salah lagi, aku memang pernah ke sini. Sekali lagi Leo memperhatikan area sekelilingnya. Semakin lama kilasan kejadian yang terasa asing muncul di kepalanya, seolah-olah memperlihatkam serpihan kehidupan yang hilang darinya.
"Kalau begitu, sekarang ada." Leo tidak dapat menjelaskan bagaimana dirinya bisa tahu.
Kris memutar batu yang letaknya tersembunyi di antara rerumputan, sesuai dengan batas-batas angka yang telah ditetapkan. Kemudian, terbukalah pintu pada dinding tebing setinggi tubuh manusia. Yeonie menebak bahwa kombinasi kunci rahasia seperti ini pasti hasil karya Chanyeol.
Ketika mereka masuk, ternyata di dalam perut tebing terdapat gua yang separo dinding atasnya terbuka sehingga langit dapat terlihat. Karena daerah ini berada di perbatasan kedua negeri, uniknya setengah area gua terpapar sinar mentari, setengahnya lagi tidak. Dan pada bagian yang mendapatkan cahaya, terbentang lahan berkotak-kotak yang isinya tak lain adalah mawar hitam.
"Ini kebun untuk membudidayakan mawar hitam. Agar tidak menarik perhatian orang, maka gua ini menjadi pilihan yang tepat," Chanyeol memamerkan. Diambilnya sebatang lalu di ciumi bau wanginya yang khas. "Semoga dengan ini tidak ada lagi perbedaan yang dapat menyebabkan perpecahan."
"Tapi walau terlindungi tebing, tempat ini cukup riskan. Yeonie, bukankah ini salah satu jalur yang dilalui patroli pasukan Jenderal U-Know?" tanya Ken.
Yeonie mengangguk. "Aku dapat meminta Jenderal U-Know mengganti rute patroli."
Leo tertegun mendengar jawaban Yeonie. Putri ini… ia turun ke lapangan juga?
Bangkit dari posisi berjongkok, Leo menepuk punggung sang kakak, kagum. "Urusan pasukan pengawal kerajaan, serahkan padaku." Awalnya ia ingin menjadi oposisi, mendukung penuh usaha ekspansi ayahnya, tapi ia tahu apa yang sebenarnya diinginkan hatinya… Ia menoleh ke Yeonie sambil tersenyum lebar, namun gadis ini langsung memalingkan wajahnya… Leo tahu ia hanya butuh waktu lebih.
"Aku berharap semua yang hadir di sini mau memberi dukungan penuh… untuk kebaikan kita bersama-sama." Kris berdiri di tengah-tengah dengan wibawa yang terpancar alami.
Dengan gaya serampangan, Leo maju ke depan. "Kau sudah tahu jawabanku, Kak."
"Saya ikut, Yang Mulia." Walau kebimbangan terus merayapi hatinya, Yeonie tetap berbicara kebalikan dengan yang ia rasakan. Ia memberi hormat, badannya sedikit membungkuk. Nuansa respek baru pada calon raja Kegelapan ini tercermin di mata bulatnya.
Semua yang hadir di gua membuat sumpah setia di dalam hati, bahwa mereka akan menjaga proyek rahasia ini—bahkan dengan nyawa sekalipun bila diperlukan.
Tapi apa yang diraskan hati Leo tidak seintens, tidak sama sunguh-sungguh, seperti tekad Kris. Apabila ide ini berhasil mungkin memang akan mempersatukan bangsanya dengan bangsa Cahaya, tapi sejujurnya Leo tidak terlalu peduli isu itu. Ada hal lain yang lebih menarik baginya. Baginya tidak usah bersatu pun tidak apa-apa selama ia bisa bertemu dengan si putri bangsa musuhnya ini.
Berbeda dengan Kris dan Chanyeol yang terlihat ibarat pasangan sehidup-semati, Leo mempunyai rencana lain terhadap Yeonie. Mungkin dia bisa membantu menerjemahkan mimpi anehku. Mungkin perempuan ini tahu kuncinya.
Dan untuk ini, mulai sekarang Leo harus bekerja keras mencari jalan agar dapat terus bersama Yeonie—dan ia tidak akan mengikuti jejak Kris. Kris mungkin di pangeran teladan, kebanggaan Raja. Seorang laki-laki yang memiliki determinasi jelas dan kokoh dalam hidupnya, tapi Leo akan melakukan ini dengan caranya sendiri.
"Hei, Yeonie…" Leo menatap Yeonie langsung di mata.
Sebuah tatapan tajam yang Yeonie tahu artinya… dan tidak mampu dijawabnya.
Yeonie hanya memalingkan wajah. Tidakkan kaulihat, Leo? Kau dan aku—kita berdua hanya akan menjadi pasangan di dalam mimpi.
"Hari sudah semakin larut," Kris berkata pada Chanyeol. "Aku dan Leo akan mengantar kalian sampai Aerial. Sebentar lagi matahari akan terbit dan kalian tahu kami—"
Tiba-tiba Ken roboh ke sebelah Yeonie, mengerang kesakitan. Di dalam kegelapan Yeonie tidak dapat melihat dengan jelas, namun ia yakin ada sesuatu yang berkilatan menancap di lengan kiri sahabatnya.
Sebuah jarum kecil—jarum yang sama yang mengenai Jongup di tepi Aerial.
"Orang asing, menyingkir dari Paduka Leo."
~To Be Continued~
