Learn To Lovig You
.
.
.
10
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Ciiiiittttt!
Mobil Chanyeol berhenti tepat di depan toko bunga milik Baekhyun, pria berambut ikal itu keluar dari mobilnya dan melangkah lebar masuk ke dalam toko itu.
Satu bulan pasca kejadian itu, Chanyeol memang terlihat sering menyambangi toko bunga milik Baekhyun itu. Hubungannya sudah membaik dengan Baekhyun? entahlah, dikatakan tak baik, mereka masih baik-baik saja, layaknya teman yang selalu bekerjasama satu sama lain untuk merawat Jaehyun. Benar, sejak kejadian itu, Jaehyun semakin tak mau lepas dari Baekhyun. Setiap pulang sekolah, bila biasanya dia ada dalam pengawasan Jaejoong, sekarang dia ingin bersama Baekhyun. Dan malamnya sepulang kerja, Chanyeol akan menjemput si kecil di toko gadis itu.
Ehm...
Sebenarnya, bisa saja Chanyeol menyuruh Shin ahjussi untuk menjemput bocah lima tahun itu di sore hari, lalu membawanya ke rumah Jaejoong, tapi kalau seperti itu, kesempatan Chanyeol untuk bertemu dan berbicara dengan Baekhyun semakin sedikit bukan. Jadi... meski dia cukup lelah, dia selalu menyempatkan dirinya untuk menjemput Jaehyun karena dengan alasan itu, dia bisa berbincang dengan Baekhyun. Walaupun perbincangan yang terjadi cukup singkat dan hanya seputar Jaehyun. Chanyeol harus puas sebatas itu.
"Hai!" sapa Chanyeol pada Kyungsoo yang tengah sibuk merangkai bunga.
Kyungsoo mendongak dan tersenyum kecil.
"Jaehyunie?"
"Diatas, baru selesai makan tadi. Naik saja."
Chanyeol tersenyum lalu berlari kecil menaiki tangga menuju lantai dua yang di gunakan Baekhyun sebagai ruangan pribadinya.
Jaehyun tengah menggambar ketika Chanyeol datang menghampirinya.
"Appa!" pekik bocah lima tahun itu senang.
Chanyeol tersenyum sembari mengusak pelan kelapa sang anak dengan sangat lembut.
"Baekhyunie imo eodi?" tanya Chanyeol yang di balas Jaehyun dengan isyarat telunjuk ke satu tempat yang ada di pojok ruangan itu. Chanyeol mengangguk dan kemudian duduk bersila di samping anaknya.
"Sedang menggambar apa sayang?"
"Sebuah taman dimana kita sedang piknik di sana. Ini appa, ini Baekhyunie imo dan ini Jaehyunie."
Chanyeol menatap lembut putranya, kemudian mengusap lembut kepala bocah itu.
Hah...
Satu bulan berlalu dari hari itu dan hubungannya dengan Baekhyun tak kunjung membaik. Baekhyun tak membatasi pertemuan mereka, tapi... gadis itu memberi jarak akan hubungan mereka. Baekhyun selalu menyambut baik kedatangan Jaehyun, tersenyum lebar untuk anaknya itu tapi bila dengannya, sikap Baekhyun akan berubah sedikit dingin.
Beberapa kali Chanyeol meminta maaf, dan Baekhyun juga sudah memaafkannya atas tindakannya saat itu, namun hanya sebatas itu, untuk meyakinkan Baekhyun agar mau sekali lagi menjalin hubungan dengannya, sepertinya dia harus berusaha lebih keras lagi.
Satu-satunya yang membuat dia merasa beruntung adalah Jaehyun yang semakin tak mau lepas dari Baekhyun. Hal itu membuka peluang baginya untuk terus berada di dekat gadis itu.
Klek
Chanyeol mendongak mendengar suara pintu di buka. Baekhyun di dapatinya baru keluar dari ruangan kecil yang tadi di tunjuk Jaehyun.
"Kau sudah datang?"
Chanyeol mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Tunggu sebentar ya, aku belum membereskan perlengkapan Jaehyunie."
"Eoh."
Baekhyun berjongkok dan mulai membereskan mainan yang tadi di bawa Jaehyun, juga beberapa buku yang berserak di lantai.
"Jaehyunie merepotkanmu?"
"Aniya. Dia selalu manis seperti biasanya." Sahut Baekhyun sambil mengusap pelan kepala Jaehyun, si kecil menatap imo kesayangannya itu dengan senyum merekah lebar di bibirnya.
Pemandangan yang selalu menghangatkan hati Chanyeol, sayangnya semua harus ternoda dengan ulahnya yang terlalu tergesa-gesa menuduh Baekhyun beberapa waktu lalu.
"Kau ada waktu akhir pekan ini?" tanya Chanyeol. Dia memiliki rencana untuk mengajak Baekhyun ke taman bermain. Bukan hanya berdua, tapi bertiga dengan Jaehyun. Karena kalau berdua saja, sudah pasti Baekhyun akan menolak.
Hmm... mungkin alasan Baekhyun masih menjaga hubungan baik denganya adalah hanya karena Jaehyun. Chanyeol tak bisa membayangkan seandainya Jaehyun tak ada di antara mereka, hubungannya dengan Baekhyun mungkin sudah karam sejak hari itu.
"Aku ada acara di Daegu."
"Ke panti asuhan? Ada urusan apa?"
Baekhyun menatap Chanyeol, dari tatapan itu, Chanyeol seolah melihat Baekhyun mengutarakan protesnya 'Kau siapa? Kenapa aku harus memberitahumu urusanku?'. Dan Chanyeol merasa tertampar akan kenyataan bahwa saat ini, dia tak lagi memiliki hubungan dengan Baekhyun kecuali untuk urusan Jaehyun.
"Mian."
Baekhyun kembali melanjutkan kegiatannya.
"Doyoung ulang tahun akhir pekan ini, seperti biasanya, aku akan ada di sana untuk merayakan bertambahnya usia dia."
Jaehyun menghentikan kegiatannya, lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Baekhyun. Tanpa di sangka-sangka, bocah lima tahun itu memeluk erat Baekhyun. Dia masih sangat cemburu dengan Doyoung kalau untuk urusan Baekhyun.
"Wae sayang?" tanya Baekhyun yang keheranan.
"Kalau imo menemui Doyoung hyung, aku ikut."
Baekhyun mengusap pelan punggung sempit Jaehyun.
"Tentu saja Jaehyunie boleh ikut."
"Jinjja?"
"Ehm."
Jaehyun melonjak kegirangan. Bocah yang memiliki potongan rambut jamur itu tersenyum lebar, memamerkan gigi putihnya, dia juga berputar-putar mengelilingi ruangan itu, bibir mungilnya tak berhenti menggumamkan kata 'ye' berulang-ulang. Dia tampak sangat bahagia.
Hah!
Chanyeol merasakan hatinya tercubit atas kenyataan itu. Semua yang sudah di rencanakannya seharusnya berjalan lancar. Bahkan kalau tak ada kejadian itu, mungkin saat ini dia sudah menikah dengan Baekhyun. Tapi... karena kebodohannya saat itu, menghancurkan apa yang menjadi sumber kebahagiaan untuknya dan putra kecilnya.
Lihatlah! Cara Baekhyun membuat Jaehyun bahagia sangatlah sederhana. Bersama Baekhyun, Jaehyunnya tak membutuhkan mainan mewah untuk bisa tertawa bahagia. Cukup dengan kehadiran wanitanya itu, maka senyum bahagia tak pernah lepas dari bibir putranya.
"Aku akan mengantar kalian."
Baekhyun kembali menoleh pada Chanyeol.
"Ehm... saat kau sibuk, aku bisa menjaga Jaehyun. Aku juga bisa membantu kalian mempersiapkan semua keperluan untuk pesta Doyoung."
"Aku pergi sendirian. Yang lainnya tak ikut karena harus mengunjungi panti asuhan di daerah sekitar Gyeonggie."
Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan terkejutnya. Ehm... ada kesempatan baginya untuk memperbaiki hubungannya dengan Baekhyun melalui perjalanan ini nantinya.
"Kalau begitu, biar aku yang menemani kalian."
Baekhyun diam sejenak. Sebelum mengangguk kecil.
Chanyeol ingin bersorak setelah jawaban Baekhyun. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, ada juga kesempatan baginya untuk mendekati Baekhyun. Hah! Dia akan menyusun rencana indah untuk di Daegu nanti. Harus! Saat kembali nanti, hubungannya dengan Baekhyun harus sudah lebih baik dari sebelumnya. Itu tekadnya.
.
.
.
"Ada apa lagi, Jaejoongie?" tanya Heechul begitu dia duduk di hadapan sahabat yang akhir-akhir ini sangat suka mengundangnya untuk sekedar duduk berdua menikmati secangkir kopi. Heechul tahu alasan Jaejoong melakukan itu, apalagi kalau bukan untuk urusan Baekhyun dan Chanyeol.
"Tak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengajakmu minum kopi disini." Sahut Jaejoong sambil menyeruput kopi dari cangkirnya.
Heechul menatap menelisik pada perempuan yang sudah sangat lama di kenal itu. Kenapa hatinya ragu saat Jaejoong menjawabnya seperti itu?
"Kalau tak ada apa-apa, kenapa kau mengajakku bertemu disini?"
Jaejoong menatap Heechul dengan mata bulatnya yang memancarkan kepolosan.
"Kalau kau ingin mengatakan hal yang sama seperti kemarin-kemarin sering kau katakan saat kita bertemu, simpan saja. Aku sudah bosan mendengarnya dan jawabanku tetap sama."
Jaejoong mendengus pelan.
"Aku melihat masih tak ada yang berubah dari hubungan dingin itu eonni."
"Ya sudah. Aku tak bisa berbuat banyak Jaejoongie. Hankyung sudah memperingatkan aku agar kali ini aku tak ikut campur terlalu banyak dalam hubungan mereka. Baekhyun sudah dewasa, dia tahu apa yang di lakukannya dan aku rasa Chanyeol juga tahu 'kan? Semua butuh waktu, Baekhyun sendiri juga sudah mengatakan pada Chanyeol bahwa mereka perlu mengevaluasi hubungan mereka bukan?"
Jaejoong memasang raut wajah sedih. Semua terlihat baik-baik saja, iya Chanyeol mengerti akan apa yang di sampaikan Baekhyun hari itu, tapi yang tak di ketahui banyak orang, adik sepupunya itu sedikit berubah sejak kejadian itu. Chanyeol sering melamun bahkan ketika malam menjelang, dia sering terjaga sampai dini hari. Chanyeol tak baik-baik saja. Meski setiap hari mereka bertemu, tapi tentu hubungannya tak sama seperti sebelum kejadian itu bukan?
Kalau sebelum kejadian itu mungkin Chanyeol bebas menggenggam tangan Baekhyun, memeluk tubuhnya dan mungkin juga berciuman, sekarang... tentu hal itu tak lagi bisa di lakukan Chanyeol. Ada jarak tak kasat mata yang terbentang luas di hadapan dua insan itu.
"Tak bisakah kau membujuk Baekhyun untuk melanjutkan hubungannya dengan Chanyeol?"
"Baekhyun hanya butuh waktu, Jaejoongie."
"Sampai kapan?"
"Molla. Hanya dia yang tahu jawabannya."
Jaejoong merebahkan kepalanya diatas meja. Dia tak tahu lagi harus mengatakan apa, Heechul tak membantunya sama sekali, sementara beberapa waktu yang lalu dia pernah menemui Baekhyun dan jawaban gadis itu hampir mirip dengan jawaban yang di berikan Heechul padanya.
Tak bermaksud memaksa, dia hanya tak tega pada Chanyeol yang akhir-akhir ini sangat berbeda dari biasanya.
"Chanyeol pasti menemukan caranya untuk mendapatkan Baekhyunie lagi, Jaejoong-ah." Ujar Heechul sembari mengusap pelan kepala sahabatnya itu.
.
.
.
Hari yang di tunggu datang, sabtu pagi sekitar pukul setengah enam, mobil Chanyeol sudah terparkir di depan rumah Hankyung. Sesuai dengan apa yang mereka rencanakan, mereka akan bertolak ke Daegu dengan menggunakan mobil dan akan berangkat pagi-pagi, agar ketika sampai tempat yang di tuju tak terlalu siang.
Chanyeol saat ini sedang duduk dengan Hankyung, di ruang tengah. Sedangkan Jaehyun sudah melesat ke kamar Baekhyun.
"Apa ini tak terlalu pagi?" tanya Hankyung. Sikap Hankyung sudah melunak pada Chanyeol, setelah pria berambut ikal itu memohon agar Hankyung lebih mengerti posisinya saat itu. Chanyeol juga berjanji pada pria itu, bahwa kesalahan yang di lakukannya tak akan pernah terulang lagi di kemudian hari kalau Hankyung bersedia memberinya kesempatan untuk dekat kembali dengan Baekhyun.
Hankyung bukan tipe orang yang keras pada setiap keputusan yang sudah di buatnya. Melihat kesungguhan yang di tunjukkan Chanyeol, akhirnya dia memutuskan memberi Chanyeol kesempatan pada pejuang cinta itu untuk kembali dekat dengan Baekhyun dengan catatan, saat Chanyeol mengulang lagi kesalahannya, maka semua akan berakhir. Hankyung tak hanya akan memisahkan Baekhyun darinya tapi juga dari anaknya.
"Baekhyunie merencakannya seperti itu, katanya biar tak terlalu siang ketika sampai di tujuan nanti."
Hankyung mengangguk-angguk mengerti.
"Kau terlihat lebih kurus dari yang terakhir ku lihat Chanyeol-ah."
Chanyeol meraba pipinya, kemudian tersenyum canggung. Nafsu makannya tak berubah, hanya pikirannya yang kadang membuatnya tak bisa tidur tenang. Mungkin itu yang mempengaruhi berat badannya.
"Sepertinya masalahmu dengan Baekhyun mempengaruhi pikiranmu."
Chanyeol mengangguk kecil. Selain pekerjaannya yang semakin hari semakin bertambah banyak, masalah yang di hadapinya dengan Baekhyun juga mempengaruhi pikirannya saat ini.
"Bagaimana sikapnya sekarang?"
Chanyeol menatap Hankyung. Pria itu seharusnya lebih tahu darinya tentang sikap Baekhyun terhadapnya, kenapa juga harus bertanya? Ada niat apa di balik pertanyaan itu?
"Aku tak bermaksud mengejekmu atau sengaja menanyakan hal ini karena tahu sikap Baekhyun terhadapmu, aku hanya sekedar bertanya dari sudut pandangmu, bagaimana dia bersikap padamu?"
"Sama seperti sebulan terakhir ini. Dia tak membatasi pertemuan kami, tapi dia menjaga jarak denganku, hyung."
Hankyung mengangguk-angguk kecil.
"Maaf aku tak bisa banyak membantumu Chanyeol-ah."
"Tak apa hyung. Aku sendiri yang akan berusaha mendekatinya."
"Appa! Ayo berangkat!" pekik Jaehyun sembari berlari menghampiri Chanyeol.
"Baekhyunie imo sudah siap?"
Jaehyun mengangguk dengan penuh semangat.
"Baiklah. Aku permisi dulu hyung!" Chanyeol berdiri dari duduknya, kemudian melangkah dari ruang tengah. Pada saat yang bersamaan, Baekhyun turun dari kamarnya, menapaki tangga dengan tas besar.
Bukan tas besar yang di bawa Baekhyun yang menjadi pusat perhatiannya, tapi dandanan Baekhyun yang terlihat casual, yang selalu berhasil menunjukkan sisi lain dari kecantikan seorang Byun Baekhyun.
Baekhyun mengenakan celana Jeans dengan aksen sobek-sobek di bagian lutut hingga paha. Untuk bagian atasnya dia menggunakan kaos berwarna putih, make upnya di sapu tipis di wajahnya serta rambutnya hanya di kuncir kuda. Penampilan Baekhyun sangat sempurna dengan di padu sneaker putih yang membungkus kakinya.
Sneaker?
Bicara tentang jenis sepatu itu, Chanyeol boleh tersenyum bahagia karena saat ini Baekhyun memakai sepatu yang dia belikan beberapa waktu lalu.
"Sini aku bantu." Chanyeol mengambil tas besar yang di bawa Baekhyun. Gadis itu membalasnya dengan sebuah senyum tipis sebagai tanda kalau dia berterimakasih atas bantuan Chanyeol.
Chanyeol menyimpan tas besar itu di bangku belakang mobilnya. Setelah itu dia kembali ke hadapan Hankyung dan Heechul untuk ikut berpamitan.
"Hati-hati di jalan dan kau harus menjaganya dengan lebih baik Chanyeol-ah. Aku tak akan memaafkanmu seperti saat ini kalau sampai terjadi hal buruk pada Baekhyunie!" ujar Heechul mengingatkan. Tak lupa, matanya membulat tajam.
Chanyeol tersenyum dan mengangguk. Dia tak akan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Kejadian satu bulan yang lalu yang membuatnya saat ini meski dekat namun terasa begitu jauh dari Baekhyun, sangat di sesalinya hingga saat ini.
"Kami berangkat dulu eonni!" pamit Baekhyun, dia kemudian memeluk Heechul.
"Eonni akan berdoa, semoga hubungan kalian membaik saat pulang dari Daegu nanti. Sampaikan salamku pada Jungsoo ahjumma dan juga anak-anak." Bisik Heechul.
Baekhyun tersenyum lalu mengangguk kecil.
"Kami berangkat!" pamit Baekhyun sekali lagi. Gadis bertubuh mungil itu kemudian memutari mobil Chanyeol, dengan Jaehyun dalam gandengan tangannya.
Dia lalu masuk ke dalam mobil, di susul Jaehyun yang langsung duduk nyaman di atas pangkuannya. Chanyeol menyusul mereka kemudian, setelah berpamitan pada Heechul dan Hankyung.
"Seat beltnya sudah di pasang?"
"Ehm."
"Baiklah! Kita berangkat!"
Jaehyun memekik kegirangan saat mobil Chanyeol mulai berjalan meninggalkan halaman rumah Hankyung. Dalam bayangannya, dia akan kembali bertemu dengan hyung yang di sukainya di Daegu nanti.
"Kau senang Jaehyunie?" tanya Chanyeol.
"Eoh. Sebentar lagi Jaehyunie akan bertemu dengan Doyoung hyung." Senyum Jaehyun terkembang dengan sangat lebar. Baekhyun mengelus lembut kepala Jaehyun dari belakang.
"Kau sepertinya sangat menyukai Doyoung hyung?"
Jaehyun menatap ayahnya, kemudian mengangguk dengan penuh semangat.
"Neomu joahae."
"Bagaimana kalau Doyoung hyung di bawa ke Seoul?"
Jaehyun memasang tampang berpikirnya.
Ucapan Chanyeol tak hanya mengejutkan Jaehyun, tapi juga Baekhyun. Gadis itu serta merta menatap Chanyeol dengan kerutan jelas di dahinya.
"Dari sekian banyak anak yang tinggal di panti, sepertinya Doyoung memiliki tempat istimewa di hatimu. Ehm... kalau kita menikah nanti, kau tak keberatan kalau kita mengadopsinya untuk menjadi bagian dari keluarga kecil kita. Aku, kau, Doyoung dan Jaehyunie serta anak-anak kita nantinya."
Dasar hati Baekhyun yang paling dalam sangat tersentuh dengan ucapan Chanyeol. Doyoung memang memiliki tempat istimewa di hatinya. Baginya, Doyoung bukan hanya anak yang di asuh di panti milik Park Jungsoo. Baginya, Doyoung adalah anak yang harus rela dia titipkan di panti itu karena jika dia ingin mengadopsi Doyoung dia harus memiliki suami terlebih dahulu.
"Dia anakku." Baekhyun tercekat dalam ucapannya. Kedua matanya berkaca-kaca saat ingatannya kembali di tarik pada kejadian enam tahun yang lalu.
Saat itu dia menginap di panti dengan Kyungsoo. Di sore menjelang malam, dia mendengar suara tangis anak kecil dari pintu gerbang panti. Mengabaikan Kyungsoo yang memintanya tak mengindahkan suara itu, Baekhyun mendekati pintu gerbang. Disana, dia menemukan Doyoung kecil, menjerit ketakutan di tengah hawa dingin yang melanda Korea saat itu.
Baekhyun langsung mengangkat tubuh kecil Doyoung dan mendekapnya hangat dalam gendongannya.
"Aku menemukannya menangis di pintu gerbang panti enam tahun yang lalu. Dia masih sangat kecil, usianya kira-kira baru satu tahun. Aku memeluknya, mendekapnya hangat. Sejak hari itu, bagiku dia adalah anakku."
Chanyeol terhenyak mendengar cerita singkat Baekhyun.
"Bagaimana dengan orangtuanya? Mereka meninggalkan surat atau..."
"Molla. Aku tak peduli dengan mereka yang sudah membuang Doyoung. Bagiku, mereka orangtua yang tak bertanggungjawab apapun alasannya melakukan hal itu."
Chanyeol diam, Baekhyun terlihat cukup sensitif membahas masalah ini. Ada kemarahan yang tersimpan di balik kalimat yang utarakan Baekhyun tadi.
"Uljima imo." Jaehyun mengusap lembut pipi Baekhyun yang basah dengan jari-jari mungilnya. Baekhyun tersenyum kecil.
"Ani. Imo tidak menangis sekarang, karena ada Jaehyunie."
Jaehyun tersenyum lebar, lalu di peluknya Baekhyun.
Hati Chanyeol menghangat melihat semua itu. Inilah dunia kecil yang diinginkannya. Dia dan sumber kebahagiaannya.
"Aku ingin bersamanya Tuhan. Bersama dia dan anak-anak kami nanti. Bahagia dalam rencana indahmu."
.
.
.
Kedatangan mereka di panti asuhan itu di sambut antusias oleh penghuni panti.
Doyoung yang paling bersemangat menyambut Baekhyun. Bocah yang hari ini genap berumur tujuh tahun itu memeluk pinggang Baekhyun, lalu setelah itu memeluk Jaehyun. Dua bocah kecil beda usia itu kemudian saling tertawa.
Baekhyun tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Setelah berpamitan, Doyoung membawa Jaehyun masuk ke dalam panti asuhan.
Baekhyun membuka pintu belakang mobil Chanyeol, mengambil tas besar serta beberapa kantong kresek dari sana.
"Sini, biar aku yang membawa kesana."
"Ini berat."
"Justru karena ini berat, biar aku yang membawanya, kau membawa yang ringan saja." Sahut Chanyeol dengan sedikit penekanan pada kalimatnya. Baekhyun merengut, kemudian membawa dua kantong kresek yang tak terlalu banyak isinya.
Chanyeol tak tahan hanya diam melihat hal itu, tangannya terulur dan mengusak lembut kepala Baekhyun.
Gadis mungil itu mengalihkan tatapannya pada pria yang membuatnya jatuh cinta itu. Debaran itu masih hadir di dadanya, jadi kalau ada yang mengatakan Baekhyun tak lagi mencintai Chanyeol setelah kejadian itu, salah besar. Baekhyun masih dan sepertinya akan selalu mencintai Chanyeol.
Baekhyun menjauhkan kepalanya dari jangkauan Chanyeol, membuat pria itu salah tingkah. Hah! Tindakannya sepertinya membuat Baekhyun tak nyaman.
Baekhyun melangkah lebih dulu, meninggalkan Chanyeol yang masih memikirkan sikap gadis itu padanya beberapa saat lalu. Hubungan mereka, apakah sudah separah itu? Sampai-sampai Baekhyun menghindari sentuhannya, batin Chanyeol bertanya-tanya.
"Ahjumma!" pekik Baekhyun senang, di hampirinya wanita yang usianya sudah tak lagi muda. Di peluknya wanita yang di anggapnya seperti ibunya sendiri itu.
"Kau selalu repot di tanggal dan bulan ini Baek-ah. Seharusnya kau tak melakukan hal ini, kau datang saja, Doyoung dan kami semua yang berada disini sudah senang."
"Tak apa ahjumma. Hanya ini yang bisa ku berikan untuknya."
Jungsoo mengusap lembut punggung Baekhyun.
"Annyeonghashimika Ny. Park!" sapa Chanyeol. Jungsoo tersenyum menatap Chanyeol, lalu mengangguk membalas sapaan Chanyeol padanya.
"Mari masuk!" ajak Jungsoo. Dia berjalan beriringan dengan Baekhyun sedangkan Chanyeol di belakang mereka, barang bawaannya sebagian sudah berpindah ke tangan pengurus panti yang kebetulan turut menyambut kehadiran mereka tadi.
"Setelah kau bercerita tentang kejadian itu, ahjumma pikir kau tak lagi berhubungan dengannya, tapi yang terlihat sepertinya hubungan kalian baik-baik saja."
Baekhyun menoleh ke belakang, pada Chanyeol yang jaraknya cukup jauh darinya. Yang saat ini pria itu tengan bicara dengan salah satu pengurus panti yang membantunya membawa barang-barang.
"Kami tetap menjaga hubungan baik itu ahjumma, meski hubungan kami tak seperti sebelumnya."
"Kau masih belum memaafkannya?"
"Aku sudah memaafkannya, hanya saja rasa kecewa ini terlalu dalam hingga..."
"Baek-ah!"
"Nde."
"Kau mencintainya?"
Baekhyun menghentikan langkahnya. Dia menatap Jungsoo, lalu tertunduk seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri makanan kecil di dapur.
Cinta? Apakah dia masih mencintai Chanyeol? Jawabannya tentu saja iya. Tapi selain rasa itu, dia juga menyimpan kekecewaan atas sikap Chanyeol padanya satu bulan yang lalu. Dan saat ini, rasa kecewanya mengalahkan cintanya pada pria itu.
"Dengan perasaan cintamu itu, tak bisakah kau mengikis kecewamu padanya. Dia salah, itu benar. Tapi dia sudah meminta maaf dan dia sudah berusaha menjadi pria baik untukmu. Jangan menuruti rasa kecewamu, karena kita tak pernah tahu kapan Tuhan membalik perasaan seseorang pada kita. Saran ahjumma, mulailah hubungan kalian dengan lebih baik lagi. Bicarakan apapun dengan kepala dingin dan katakan semuanya, hal-hal yang mungkin tak kau sukai darinya dan hal yang membuatmu sangat menyukainya, minta padanya untuk mengatakan padamu tentang hal yang sama. Melihat Jaehyun, tidakkah kau kasihan pada bocah kecil itu, yang terlanjur menyayangimu dan kau sayangi itu?"
Baekhyun menyimak dengan seksama apa yang di katakan Jungsoo, sesaat setelah Jungsoo menyelesaikan kalimatnya, matanya menangkap Jaehyun yang tengah bermain bola di tengah lapangan dengan Doyoung. Jaehyun di takdirkan untuk hadir mewarnai harinya yang selama ini hanya terdiri dari dua warna, hitam dan putih. Kehadiran Jaehyun di hidupnya, juga menghadirkan Chanyeol di hatinya. Dua orang beda usia itu, memiliki tempat khusus di hatinya. Mimpinya adalah bahagia bersama keduanya lalu di tambah Doyoung. Dan sekarang, mimpi yang di bangunnya itu sedikit terkikis akibat ulah Chanyeol.
Lalu, karena kesalahpahaman itu, haruskah dia kehilangan mimpinya?
"Dia pria yang baik Baekhyunie."
Baekhyun kembali menoleh pada Chanyeol. Pria yang berdiri tak jauh darinya itu, kebetulan juga tengah menatapnya. Mereka beradu pandang dan Baekhyun merasakan bumi yang dia pijak berhenti berputar. Semua orang di sekitarnya hilang, di lorong ini hanya ada dia dan Chanyeol.
Gadis berperawakan mungil itu merasakan debaran luar biasa dalam hatinya. Dadanya terasa seperti akan pecah saking kerasnya debarannya itu. Dia mencintai pria itu, dia ingin bersama dengan pria itu, untuk saat ini dan selamanya.
.
.
.
Saegil Chukkae hamnida
Saegil Chukkae hamnida
Saranghaneun Doyoungie
Saegil Chukkae hamnida
Suasana riuh terdengar di aula panti di sore menjelang malam ini, semua penghuni panti berkumpul untuk merayakan ulang tahun Doyoung. Aula tempat di selenggarakannya acara itu, di sulap sedemikian rupa oleh Baekhyun dengan bantuan pengurus panti dan Chanyeol tentu saja.
Senyum Doyoung mengembang saat acara tiup lilin berlangsung. Sebelum meniup lilin yang berjumlah tujuh yang tertancap di kue ulang tahun yang di siapkan Baekhyun, Doyoung menangkupkan kedua tangannya di muka, matanya terpejam dan mulutnya bergerak memanjatkan doa.
Lalu tak berapa lama kemudian Doyoung bersiap meniup lilinya. Tapi hal itu di hentikan oleh Jaehyun yang berdiri tak jauh darinya.
"Hyung! Aku boleh ikut meniup lilinnya?"
"Sayang, biarkan Doyoung hyung yang melakukannya. Jaehyunie nanti kalau ulang tahun juga akan melakukan hal yang sama 'kan?" Jaehyun mempoutkan bibirnya mendengar kalimat Baekhyun.
"Satu saja hyung." Pinta Jaehyun dengan mimik wajah memelas.
Doyoung menghampiri Jaehyun, lalu menarik bocah lima tahun itu agar lebih dekat dengannya.
"Kita tiup sama-sama ya." Ujar Doyoung yang di sambut Jaehyun dengan senyum lebar dan anggukan penuh semangat.
Keduanya kemudian menunduk dan meniup lilin itu bersama-sama. Saat dua bocah itu sedang meniup lilin, secara kebetulan tangan Chanyeol dan Baekhyun menyentuh kepala Doyoung. Tangan kecil Baekhyun menimpa tangan Chanyeol yang lebih dulu mendarat di kepala Doyoung.
Baekhyun terpaku, setelah satu bulan berlalu, tangannya kembali bersentuhan dengan Chanyeol dan semua itu terasa mendebarkan. Mata kecilnya menatap tangannya yang berada di atas tangan Chanyeol.
Tak berapa lama keduanya tersadar setelah Doyoung menjauhkan kepalanya dan berakhir kedua tangan itu terpisah. Baekhyun menatap Chanyeol dengan senyum canggung terukir di bibir keduanya. Kenapa rasanya dia begitu jauh dengan Chanyeol padahal mereka sangatlah dekat saat ini?
Pesta ulang tahun itu berlanjut dengan permainan-permainan kecil yang nyatanya mampu menebarkan kebahagiaan di wajah anak-anak itu.
Baekhyun tak ikut ambil bagian di sana, dia hanya duduk di pinggir bersama Jungsoo. Sedangkan permainan itu di pandu pengurus panti.
Beberapa kali senyum Baekhyun mengembang, melihat kebahagian anak-anak itu, tak terkecuali Jaehyun yang semakin baik berinteraksi dengan teman-temannya itu. Beberapa kali bocah berambut jamur itu harus menerima hukuman berupa menyanyi di depan anak-anak panti.
Awalnya Jaehyun malu-malu dan masih di temani Doyoung, tapi lama-lama si kecil mulai terbiasa dengan hukumannya itu.
"Ahjumma! Bisakah aku membawa Doyoung ke Seoul?"
"Syaratnya masih tetap sama Baekhyunie. Kau harus menikah kalau ingin menjadikan Doyoung anakmu. Aku sudah menawarkan padamu agar Doyoung di adopsi saja oleh kakak sepupumu, tapi kau menolak karena menurutmu, itu artinya dia menjadi anak kakakmu, bukan anakmu, ya 'kan?"
"Chanyeol oppa tadi mengatakan akan mengadopsi Doyoung kalau kami menikah nanti." Lirih Baekhyun tanpa mengalihkan tatapannya pada dua bocah yang memenuhi ruang di hatinya dengan kepolosan mereka.
"Bukankah itu kabar yang bagus. Tak mudah mendapatkan pasangan yang mengerti apa yang menjadi keinginan kita Baekhyunie." Jungsoo meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Hmm... saat aku mendapatkan Youngwoon sebagai pasanganku, aku sangat mensyukurinya Baek-ah. Dia memiliki watak yang keras, tapi dia selalu lunak untuk setiap mimpi yang ingin ku wujudkan, termasuk salah satunya ketika kami di vonis tak akan memiliki keturuan lalu kemudian kami mendirikan panti asuhan ini." lanjutnya dengan pandangan matanya yang menerawang jauh, seolah dari kejauhan dia bisa melihat kembali kejadian di masalalunya itu.
"Ahjumma!" keluh Baekhyun dengan tatapan sendunya. Dia sudah pernah mendengar cerita itu sebelumnya dan dia selalu terharu bila Jungsoo mulai membahas suaminya yang sudah meninggal itu. Jungsoo tak pernah menggambarkan suaminya adalah sosok yang sempurna, tapi dari cerita Jungsoo padanya, Baekhyun dapat mengambil kesimpulan Kim Yooungwoon sempurna karena Jungsoo di sisinya, demikian juga sebaliknya.
Lalu dia, apakah suatu hari nanti, dia bisa menceritakan tentang Chanyeol kepada orang lain seperti Jungsoo menceritakan suaminya padanya? Chanyeol sempurna bila ada dia atau justru dia yang merasa sempurna karena adanya Chanyeol?
Baekhyun merasakan hatinya tergerak untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Dia harus bicara dengan Chanyeol. Ya! Harus!
.
.
.
Seperti dejavu, malam ini kaki Baekhyun kembali menapaki jalan kecil di belakang panti dan menemukan Chanyeol duduk sendiri di sana.
Kehadirannya di tempat itu, di sadari oleh pria berambut ikal itu. Chanyeol tersenyum kecil lalu menggeser duduknya, seakan memberi tempat pada Baekhyun untuk duduk di sampingnya.
"Ada yang kau pikirkan?" tanya Baekhyun saat keduanya kini duduk di bangku yang sama.
"Banyak, sangat banyak yang ku pikirkan hingga aku tak tahu harus mendahulukan yang mana." Sahut Chanyeol dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Mau membaginya denganku?"
Chanyeol menatap Baekhyun dengan mata membulat terkejut. Satu bulan terakhir ini, kebiasaannya berbagi cerita dengan Baekhyun hilang. Ada rasa canggung saat dia ingin menelpon untuk menceritakan apa yang membebani pikirannya, karena dia pikir, Baekhyun tak mungkin ingin menanggapinya. Dia mengirim pesan singkat saja di balas sekenanya oleh Baekhyun, apalagi kalau dia telpon. Hhh!
"Hmm... sudah lama aku tak pernah mendengarmu mengeluh dengan pekerjaanmu oppa."
"Mian."
"Untuk apa permintaan maaf itu?"
"Semua salah yang aku lakukan padamu. Aku sudah memikirkan semuanya dan aku memang bersalah. Tak ada pembenaran atas sikapku saat itu."
Baekhyun menyesap coklat hangat yang di bawanya. Kenapa hatinya begitu sakit mendengar Chanyeol mengatakan semua itu? Benarkah yang di katakan orang-orang, bahwa ketika kita menyakiti orang lain, sebenarnya saat itu kita tengah menyakiti hati kita sendiri. Dia dan Chanyeol sama-sama terluka saat ini.
"Aku berharap masalah ini cepat selesai Baekhyunie, aku ingin bersamamu lagi. Melewati hari-hari indah bersama-sama sebagai sebuah keluarga. Ehm... aku tak tahu bagaimana caranya meyakinkanmu akan perasaanku ini, karena mungkin kau tak akan mempercayainya. Yang bisa ku katakan aku menyesal melakukan semua itu padamu dan aku meminta maaf yang sebesar-besarnya. Tolong jangan berpikir untuk pergi meninggalkanku, aku pernah merasakan apa itu kehilangan dan itu sangat menyakitkan. mendapatkanmu kemudian lalu kehilangan dirimu merupakan pukulan telak. Aku berusaha terlihat tenang dan baik-baik saja, tapi kenyataannya aku tak pernah baik-baik saja setelah itu. Aku selalu memikirkan segala kemungkin yang bisa terjadi di hubungan kita ke depannya dan aku tak menemukan kata lain selain aku tak bisa tanpa dirimu."
Baekhyun menatap Chanyeol, ingin rasanya memeluk pria itu. menumpahkan segala beban yang di pikulnya selama satu bulan ini. Sama halnya seperti yang dirasakan Chanyeol, dia juga tak baik-baik saja satu bulan terakhir ini. Dia juga berusaha bersikap tenang tapi nyatanya, setiap kali Chanyeol datang menjemput Jaehyun dan bicara padanya, hatinya kembali di buat tak tenang. Baekhyun merindukan saat-saat mereka masih sangat dekat.
"Aku berjanji padamu Baekhyunie, kalau kau mengijinkan hubungan kita berlanjut, maka aku akan berusaha menjadi pria yang jauh lebih baik dari sebelumnya, aku tak akan membentakmu atau berkata kasar padamu apapun yang kita hadapi nantinya. Aku akan mendengar alasanmu terlebih dahulu sebelum memarahimu kalau kau membuat kesalahan. Aku ak..."
"Setiap kali melihatmu, aku ingin berlari memelukmu. Melepas semua beban yang menghimpit dada dan menumpahkannya dalam pelukanmu. Tapi... setiap aku ingin melakukannya, perasaan kecewa itu kembali muncul. Rasanya sangat sakit dan... entahlah, aku tak bisa menggambarkannya."
Chanyeol menunduk, dia tahu rasanya kecewa dan itu lebih menyakitkan daripada sebuah luka.
Mereka saling membisu, beberapa saat yang terdengar hanya suara kodok yang bersahutan. Mereka larut dalam pikiran masing-masing sampai kemudian Baekhyun kembali membuka suaranya.
"Buat aku percaya kalau kau tak akan lagi melakukan kesalahan yang sama."
Chanyeol menatap Baekhyun. Bagaimana caranya membuktikan apa yang di minta Baekhyun padanya?
"Aku tak suka di bentak, karena aku tak pernah melakukannya. Sebuah bentakan bagiku sangat menyakitkan. Aku juga tak suka ada orang bersikap kasar. Aku tak suka bawang putih. Aku tak suka cuaca yang terlalu terik dan juga aku tak suka menunggu."
"Sekali lagi maaf kalau kata-kataku saat itu membuatmu kecewa dan sakit."
"Aku sangat menyukai bunga mawar, aku suka musik Jazz, aku suka melihat film bergenre komedi romatis, aku sangat menyukai Doyoung, Jaehyunie dan... kau."
Chanyeol terhenyak. Dia menempati urutan ketiga di hati Baekhyun. Biar demikian, dia tetap merasa senang. Hhh! Ingin sekali rasanya memeluk Baekhyun.
"Kau tak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Baekhyun.
Chanyeol menatap Baekhyun kebingungan. Mengatakan apa?
"Setelah apa yang kukatakan tadi kau tak ingin mengatakan apapun?"
Chanyeol semakin terlihat seperti orang bodoh. Dia menatap Baekhyun dengan berbagai pertanyaan yang menghinggapi pikirannya. Sebenarnya, apa yang sedang coba Baekhyun beritahu padanya. Tentang sesuatu yang tak di sukainya dan apa yang di sukai gadis itu, apakah itu berarti Baekhyun menginginkan hubungan mereka berlanjut.
Benarkah demikian? Baekhyun mengatakan semua itu agar dia mengerti ada beberapa hal yang tak disukai dan yang di sukai gadis itu. Agar dia tak lagi melakukan kesalahan yang sama, begitu 'kah maksud Baekhyun? Itu tandanya...
Baekhyun berdiri dari duduknya, tapi belum sempat dia melangkah pergi, Chanyeol mencekal pergelangan tangannya dan sekali sentak tubuh kecil itu sudah terduduk di pangkuannya.
"Aku akan berusaha tak melakukan kesalahan yang sama. Byun Baekhyun! Mari kita rangkai kembali cerita indah cinta kita."
Di tengah suasana belakang panti yang temaram oleh cahaya lampu kecil, Baekhyun menatap dalam irish gelap milik Chanyeol, berusaha mencari-cari kebohongan yang mungkin tersimpan di sana, tapi yang mampu dia temukan hanya sebuah kejujuran dan ketulusan dari pria yang selalu membuatnya jatuh cinta itu.
"Berjanjilah padaku, apapun salah yang ku buat, kau akan menegurku dengan lembut."
Chanyeol mengangguk.
"Ajari aku untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya sayang."
"Kita belajar bersama-sama, untuk menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya."
Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan mengenggamnya dengan sangat erat.
"Jangan pernah lepaskan genggaman ini, aku tertatih berjalan tanpamu Byun Baekhyun."
Keduanya saling menyelami mata pasangannya, tak berapa senyum keduanya terukir indah menghiasi bibir mereka. Setelah itu, Chanyeol memberanikan diri untuk mencium Baekhyun.
Malam ini, segalanya terasa lebih indah, kesalahpahaman itu luruh dengan duduk berdua dan bicara dari hati ke hati. Benar, hanya itu yang mereka butuhkan karena semua tak akan selesai bila salah satunya masih bersikukuh pada egonya. Yang merasa menyakiti meminta maaf dan yang tersakiti dengan lapang dada memaafkan dan membuka jalan untuk mereka kembali melangkah bersama.
"Aku mencintaimu Byun Baekhyun."
Baekhyun menatap Chanyeol sebentar, lalu kedua tangannya menangkup wajah kekasihnya itu. sebuah senyum tipis terukir di bibir tipis itu.
"Aku juga mencintaimu Park Chanyeol-ssi."
Baekhyun melumat lembut bibir Chanyeol, yang di balas pria itu dengan sebuah senyum dan lumatan lembut juga. Mereka larut dalam ciuman hangat itu, mengabaikan suara kodok yang menjadi backsound bersatunya kembali dua hati.
.
.
.
TBC
Note : Terimakasih untuk cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.
Ehm...
Saya tak berniat membuat masalah yg di hadapi tokoh utama berlarut-larut lama, jadi di chap ini masalah mereka selesai.
Maaf kalau terlalu lam menunggu kelanjutan cerita ini.#Bow
Oh ya...
Ada yang bertanya pada saya, darimana datangnya ide untuk membuat satu buah cerita? saya juga tak tahu, bisa kadang terlintas begitu saja. Saat menemukan satu ide untuk membuat satu cerita, saya sudah memikirkan mau seperti apa jalan ceritanya dan endingnya seperti apa, tapi terkadang di tengah jalan semua berubah, itu yang kadang membuat saya kesulitan. Jadi maaf kalau akhir-akhir ini saya menjadi cukup lama update chap baru.
Saya ada cerita baru, rencananya mau saya buat one shoot. Semoga nanti kalian suka ya ^_^
Big Love For You Guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
