.

Iris hazel itu terpancang ke suatu arah, tanpa menatap iris jeruk nipis milik sang pemuda berambut merah yang tengah berdiri kaku di hadapannya. Tak dapat disangkal lagi, kali ini sang pemilik iris jeruk nipis merasa terpancing emosinya karena perilaku sang tahanan yang seperti tak mengindahkannya.

"Jawab aku, pengkhianat," kalimat itu terucap lambat-lambat dengan nada pelan, namum menusuk bak racun.

Hening sesaat. Sang tahanan berambut merah tak juga merespon, sementara para Anbu di sekeliling mereka sudah mulai mengira-ngira kalau-kalau sang Kazekage mereka bertindak seperti kemarin. Itu bukan pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat, sungguh.

Sejurus kemudian, bibir pucat dengan darah yang telah mengering di sudutnya itu akhirnya bergerak samar.

"Heh," ia menyeringai tipis, "sudah kubilang, aku tak punya urusan lagi dengan Sunagakure," tukasnya serak, namun dengan nada datar seakan sedang memberitahukan cuaca hari ini.

Kali ini, emosi sang Kazekage agaknya telah terpancing lagi. Tanpa aba-aba, segumpal pasir tebal telah merayap naik ke arah jemari kiri sang tahanan, diikuti suara benda keras yang terlepas menyakitkan.

Dan sedetik kemudian, cairan pekat berwarna merah pun mengucur dari sela-sela pasir—menetesi lantai dingin ruang interogasi di pagi buta itu.


Katalis

A SasoSaku (maybe..) fanfiction

Genre: Drama/Hurt/Comfort

Rate: T

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: Setting canon yang dimodifikasi, OOC (mungkin), romance gagal.


.

Matahari sudah menampakkan sinarnya perlahan di balik ufuk pasir Sunagakure. Gadis berambut merah muda itu membuka gorden jendela di samping tempat tidurnya yang terbuat dari kain tipis bermotif kaktus kecil-kecil, sebelum bergegas ke kamar mandi untuk merapikan diri.

Setelah bersiap-siap, ia mengeringkan rambutnya yang masih basah cepat dengan menggunakan handuk katun merah mudanya. Lalu segera melangkahkan kaki ke dapur, memikirkan makanan apa yang enak dimasak untuk sarapan pagi ini.

Ketika ia sedang sibuk menjerang teh, sebuah ketukan di pintu depan memecah keheningan di apartemennya.

"Sakura? Kau sudah bangun?"

Ia mematikan api di kompornya dan mengangkat panci berisi teh hitam panas itu ke dekat wastafel, sebelum bergegas ke depan untuk membukakan pintu.

Sesosok gadis berkuncir empat yang familiar tengah berdiri di ambang pintu.

"Temari? Silakan masuk," sambut Sakura ramah. Tamu yang berusia beberapa tahun lebih tua itu tersenyum, sebelum melangkahkan kakinya ke dalam mengikuti sang tuan rumah.

"Selamat pagi, Sakura," sapa kakak Kazekage itu ramah, "maaf merepotkan pagi-pagi begini."

Sakura yang tengah berjalan ke ruang tamu sembari mengangkat nampan berisi dua cangkir teh hangat tersenyum. "Ah, tidak apa-apa Temari," balas gadis berambut harummanis itu ramah, "aku malah senang menerima kunjungan darimu." Ia meletakkan cangkir tehnya ke meja di hadapan mereka berdua, dan duduk.

Setelah mengobrol sebentar tentang berbagai macam topik ringan—seperti perbedaan cuaca dan kebiasaan di Konoha dan Suna—suasana pun segera mencair. Biarpun berpembawaan tegas dan kelihatan tak terlalu suka berbasa-basi, Sakura berpendapat kalau kakak Kazekage itu ternyata cukup ramah dan menyenangkan untuk diajak mengobrol. 'Berbeda jauh dengan adiknya ya,' Inner Sakura menyeletuk jahil di dalam hati, tapi pikiran itu segera ditepisnya.

"Sakura," panggil Temari setelah terdiam sebentar, kali ini ekspresinya berubah serius. "Ada yang ingin kutanyakan padamu." Pandangan matanya menerawang sesaat, seakan sedang mencoba mengingat sesuatu.

Sakura terdiam. "Apa yang ingin kau tanyakan, Temari?"

Gadis berambut pirang itu menghirup tehnya sesaat, sebelum melanjutkan lagi.

"Mengenai Akasuna no Sasori.." kata Temari lambat-lambat. "Kesan apa yang kau dapatkan sewaktu bertarung dengannya, bersama Chiyo-baasama?"

Gadis berambut merah muda itu tercenung. Sekelebat ingatan tentang sesosok makhluk bungkuk menyeramkan dengan ribuan jarum beracun yang menukik dari mulut mekanisnya—kemudian berganti dengan figur pemuda berwajah polos berambut merah—yang ternyata menyimpan seribu tipuan di balik rupa tanpa dosanya—dengan iris hazel besar yang menatap sayu seakan sedang menilai sekaligus menyimpan sesuatu.

Dua sosok berlawanan dalam satu tubuh. Bagai hitam dan putih yang menyatu—namun tak membaur.

"Aku..menurutku, ia hampir mirip dengan sesosok monster," Sakura menelan ludah. "Seperti yang kautahu..ia sudah bukan manusia lagi."

Temari mengangguk. "Ya, ia telah mengubah hampir seluruh tubuhnya menjadi boneka—meskipun saat ini entah mengapa tubuh manusianya sudah kembali lagi."

Iris plum milik gadis berambut merah muda itu terlihat menerawang sesaat, seakan tengah memikirkan sesuatu.

"Ya..sewaktu sedang bertarung dengannya, aku sampai merasa kalau yang tengah kuhadapi itu bukanlah seorang manusia," ia memberi jeda sesaat.

"—melainkan..lebih menyerupai sesosok mesin pembunuh yang hidup."


.

Gelap.

Ia hanya ingat kalau barusan ia tengah berada dengan kondisi terikat—dalam kondisi duduk di atas sebuah kursi—di sebuah ruangan gelap. Sebelum sebuah rasa sakit yang amat sangat timbul menusuk ujung-ujung jemari kirinya. Perih. Setelah itu, ia tak begitu mengingat apa yang terjadi sesudahnya.

Tapi..ingat ataupun tidak, bukanlah suatu masalah. Seperti ia peduli saja.

CKIT.

Rasa sakit itu lagi. Nyeri yang diikuti dengan rasa kebas terasa di ujung-ujung jemari kirinya yang menempel menyentuh lantai dingin ruangan sel lembab itu. Ia mencoba untuk tak menghiraukannya—

—tapi sia-sia. Cih. Tubuh yang menyebalkan.

Kali ini, pemuda berambut merah itu merasakan sesuatu yang aneh menelusup di hatinya. Ia merasa lemah. Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, ia membenci dirinya sendiri.

Digigitnya bibirnya yang terkelupas dengan kulit mengering di beberapa bagiannya—mencoba menahan rasa sakit itu. Cih. Emosi brengsek.

Ia tercenung sambil menatap kosong ke jeruji di depannya sesaat, sebelum mengerjapkan kelopak matanya yang terasa berat. Jam berapa ini? ia tak tahu berapa hari yang telah berlalu semenjak pertarungan dengan Neneknya dan bocah kunoichi berisik itu. Tapi ia tak begitu memedulikan hal itu..

—karena walaupun seminggu atau bahkan sebulan pun telah berlalu, pada akhirnya ia akan mati juga, bukan?

Waktu pelaksanaan eksekusinya masih ambigu. Ia tak ambil pusing sama sekali—bahkan lebih bersikap mengacuhkan hal itu, seakan pemberitahuan eksekusi sama saja dengan pengumuman misi yang akan dilakukan untuk tugas berikutnya. Tapi yang pasti—ia benci menunggu.

Karena hampir seluruh hidupnya telah dihabiskan untuk menunggu.

Menunggu untuk hal yang tak pasti. Tersenyum dalam harapan kosong. Alasannya tetap hidup adalah karena ia merasakan adanya secercah harapan dalam penantian masa kecilnya bertahun-tahun yang lalu—meskipun akhirnya ia menyadari kalau semua itu tak lebih dari impian semu belaka.

Mereka takkan pulang.

Ketika harapan yang tak lebih dari seutas benang tipis itu putus, segalanya sudah berakhir. Takkan ada kesempatan kedua lagi. Impian itu telah hilang, lenyap ditelan kegelapan dalam segala emosinya yang bertumpuk tanpa ada pelampiasan—bersamaan dengan pupusnya dunia khayalan kecilnya yang pecah berkeping-keping.

Semenjak usia belia—Akasuna no Sasori telah belajar kalau harapan adalah sesuatu yang terlarang baginya. Sesuatu yang tak bisa dimilikinya—atau mungkin itu hanya omong kosong belaka.

.

—CKIT.

Rasa sakit itu lagi. Akhirnya ia tak tahan terus menerus mengacuhkan sinyal darurat dari tubuhnya itu, dan memutuskan untuk melihat penyebabnya.

Diangkatnya jemari kirinya perlahan—dan kedua iris hazelnya melebar sesaat.

Ada sesuatu yang menghilang disana.


.

.

Bersambung..

.

Catatan Penulis: Chapter 10, update. Semoga menikmati ya.

Terima kasih kepada Moku-Chan, miikodesu, Sherry Hoshie Kanada, taintedIris, SparkSomniAO321, sasa-hime, akasuna no ei-chan, Mizuira Kumiko, dan poetry-fuwa yang telah mereview chapter 9 kemarin. Dukungan kalian sangat berarti untuk saya, terima kasih sudah menyukai cerita ini. :)

Terima kasih juga untuk yang telah membaca. Bagaimana kesanmu terhadap chapter 10 ini, da?