Disclaimer: NARUTO © Masashi Kishimoto

Tittle : Beautiful Liar

Genre : Frienship, Angst, Drama, Family

Rating : M

Pairing: NaruIno, slight! NaruSaku and SasuSaku.

Summary:Uzumaki Naruto adalah mantan berandalan dan dia memiliki rahasia. Rahasia besar, yang tidak pernah ia ceritakan pada orang lain. Sementara itu, Haruno Sakura adalah seorang gadis berandalan yang keras kepala. Sahabat-nya melakukan yang terbaik untuk membuatnya berubah. Namun akankah Sakura bisa meninggalkan dunia gelapnya itu?

Warning! : AU, OOC, typo(s), maybe annoying,banyak kata2 kasar, dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.

Enjoy and Hope You Like It!

.

Chapter 10

.

Sakura menatap Sasuke geram. Ia benar-benar tak menyangka Sasuke melakukan hal seegois itu.

"UCHIHA SASUKE! JAWAB PERTANYAANKU!"

Sakura berharap Sasuke akan menyangkal tetapi ia tahu, harapannya tak akan menjadi kenyataan karena Sasuke justru menundukkan kepalanya dan menghela nafas berat.

"Gomen..."

Sakura menatap Sasuke tak percaya, kakinya terasa lemas seketika.

'Mengapa kau tak berubah Sasuke-kun?'

Sakura bisa merasakan dadanya terasa ditusuk-tusuk dan kepalanya terasa berat. Ia mendongakkan kepalanya, menatap Ino. Perasaannya semakin memburuk ketika melihat Ino.

Ino menatap kosong Sasuke beberapa saat sebelum menolehkan kepalanya, menatap Naruto.

'Katakan itu tidak benar Naruto...'

Mata Ino tak lepas menatap Naruto, mengamati setiap ekspresi yang akan terpasang di wajah pemuda itu. Ino berharap akan ada ekspresi penyangkalan di sana. Namun harapan Ino sia-sia. Ia hanya bisa menemukan ekspresi penyesalan di wajah Naruto dan hal itu membuat perasaannya memburuk. Ino tak bisa menahan air matanya lagi. Ia lelah menahan semua perasaannya. Kenyataan yang terungkap hari ini, membuatnya lelah.

"Ino—"

"Sudahlah, aku akhirnya mengerti mengapa sampai hari ini kau bahkan tak pernah membalas ucapan sayangku. Aku mengerti."

"Ino bukan begitu, dengar—"

"Aku lelah."

Ino menghela nafas sebelum melirik Naruto, Sakura dan Sasuke.

"Ino…" ucap Sakura merasa bersalah.

"Sakura kumohon, jangan bicarakan hal ini sekarang!"

Ino memejamkan matanya sebelum melangkah pergi meninggalkan Sasuke, Naruto dan Sakura yang terdiam mendengar perkataannya. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi sekarang. Yang ia tahu, ia hanya ingin sendiri. Menenangkan pikirannya.

Sasuke mendesah frustasi saat Ino berjalan meninggalkan mereka. Ia melirik Naruto. Sahabatnya itu terlihat tak bergerak dari tempatnya berdiri.

"Naruto maafkan aku. Aku tak tahu bahwa kau belum memberitahu Ino-san."

Naruto memejamkan matanya sebelum mendesah panjang.

"Tidak apa-apa! Cepat atau lambat Ino akan mengetahui hal ini. Kau tak salah. Aku yang salah. Kau benar, seharusnya aku memberitahunya sejak awal."

Naruto menghela nafas panjang. Ia tahu ini semua salahnya. Jika saja ia lebih cepat menyadari perasaannya kepada Ino. Jika saja ia tahu akan begini akibatnya karena rencana awalnya dengan Sasuke. Jika saja ia tahu ia akan jatuh cinta pada Ino.

Naruto mendesah. Lagi. Ia melirik Sasuke sekilas sebelum melangkah pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura. Ia butuh waktu. Waktu untuk sendiri dan memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

.

Sasuke mendesah panjang, berkali-kali ia mengumpat kesal, mengutuki dirinya sendiri.

'Kuso! Uchiha Sasuke! Mengapa kau bisa seteledor itu?'

Sasuke mengumpat lagi. Ia mendesah lagi. Matanya melirik Sakura. Gadis itu terlihat menatap punggung Naruto yang semakin menjauh dari hadapannya dan hal itu membuat hati Sasuke sakit.

"Sakura aku—"

"Bagaimana bisa kau berbuat begitu Sasuke-kun?"

Sasuke terdiam. Ia bisa melihat air mata menetes pelan dari sudut mata Sakura tetapi gadis itu masih menatap punggung Naruto yang terlihat semakin mengecil.

"Sakura…"

"Apa kau tak tahu betapa sakitnya dipermainkan oleh orang yang kita sayangi? Kau sudah menyakiti Ino! Dan kau membuat masalah antara Ino dan Naruto semakin rumit."

Sasuke terdiam. Ia membiarkan Sakura meneruskan kata-katanya.

"Kau tahu Sasuke-kun? Tidak ada yang berubah sejak awal! Kau masih tetap saja egois!"

"Aku melakukan itu semua untukmu Sakura."

"Ya, itu benar. Kau hanya bisa memikirkan dirimu sendiri. Yang kau bisa hanya menyakiti Naruto lagi dan lagi, padahal kau tahu dia baru saja mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Dia baru saja kehilangan Ibunya dan sekarang kau membuatnya kehilangan Ino. Yah, memang tidak sepunuhnya hal itu merupakan kesalahanmu karena Naruto sendiri yang setuju untuk mengikuti rencanamu, tapi tetap saja aku…"

Sakura mengangkat wajahnya. Ia menatap Sasuke dengan tatapan terpedih yang pernah Sasuke lihat dari gadis itu.

"Aku kecewa padamu. Aku pikir, kita tidak akan pernah bisa memulai semuanya dari awal lagi."

'Deg!'

Dada Sasuke terasa dipukul dengan kuat. Sasuke menatap Sakura tak percaya. Rasanya ia tidak ingin mendengar ucapan Sakura selanjutnya. Ia tak mau dan takkan pernah mau.

"Kita lebih baik bersikap seperti kita tidak pernah mengenal satu sama lain!"

Sasuke tak bisa menjawab perkataan Sakura. Kedua kakinya terasa berat untuk sekedar bergerak. Ia bahkan tak bisa berbicara. Matanya hanya menatap Sakura kosong.

.

Hancur. Hanya itu yang bisa menggambarkan perasaan Sakura. Semua kenyataan yang kini terungkap membuat Sakura kembali ingin menjauh dari Sasuke.

'Kau benar Hinata. Mungkin memang seharusnya aku menjauh dari kehidupan mereka berdua selamanya…'

Sakura memejamkan matanya, membiarkan bulir-bulir air mata membasahi pipinya. Tanpa banyak bicara, Sakura melangkah meninggalkan Sasuke. Ia hanya ingin pergi menjauh dari Sasuke. Ia tak ingin melihat pemuda itu lagi.

Sasuke sedikit tersentak saat Sakura melangkah meninggalkannya. Hatinya terasa sakit. Amat sangat sakit.

'Apa aku akan membiarkannya pergi lagi?'

Tidak. Sasuke tahu, ia mungkin takkan mendapat kesempatan kedua untuk menaklukkan hati Sakura. Ia sudah sejauh ini. Ia bahkan sudah menyadari perasaannya dan ia harus merelakan Sakura pergi?

"Choto matte!"

Sasuke berkata pelan tetapi dingin. Ia membalikkan tubuhnya, menatap sosok Sakura yang terlihat berhenti berjalan.

"Aku mencintaimu Sakura. Aku ingin kau meninggalkan dunia gelapmu itu. Itulah sebabnya aku meminta bantuan Naruto untuk mendekati Ino-san, agar Ino-san membujukmu untuk meninggalkan dunia itu. Aku hanya tidak ingin ada semakin banyak musuh yang mengincarmu dan ingin menghancurkanmu Sakura. Aku—"

"UCHIHA SASUKE! AISH! DI MANA KAU?"

'Kuso!' Sasuke menolehkan kepalanya. Ia bisa melihat Gaara menatapnya dengan geram. Sasuke menghela nafas.

"Gaara, jangan sekarang!"

"…tapi ini berita penting Sasuke!"

"Jangan sekarang!"

Sasuke menatap Gaara geram, sebelum kembali menatap sosok Sakura yang terlihat mulai berjalan menjauhinya. Tanpa sadar, Sasuke berlari mengejar Sakura dan menggenggam erat lengan Sakura, membuat gadis itu berhenti dan tubuhnya sedikit berputar, menghadap ke arah Sasuke.

Sasuke menatap serius kedua mata Sakura. "Dengarkan aku dulu! Aku belum selesai bicara!"

"SASUKE, AKU TAK PUNYA BANYAK WAKTU!"

"NANTI SAJA SABAKU GAARA!"

"…TAPI INI BERITA PENTING!"

Sasuke memejamkan matanya sebelum menolehkan kepalanya, menatap Gaara geram. Gaara -entah sejak kapan- kini berdiri tak jauh darinya.

"Kau tak bisa lihat aku sedang apa?"

"Aku rasa kau lebih baik mendengar penjelasan temanmu!"

Sakura menepis tangan Sasuke tetapi dengan cepat Sasuke kembali menggenggam lengan Sakura membuat gadis itu menatap Sasuke kaget.

"Dengarkan aku terlebih dahulu!"

"Sasuke—"

"Gaara, sudah ku bilang jangan sekarang!"

"…tapi ini tentang Adiknya Suigetsu dan tentang Lee! Ini juga berhubungan dengan Haruno Sakura dan Yamanaka Ino! Aku tahu semua informasi tentang mereka!"

Sasuke terdiam. Ia mendesah panjang. Ia menatap Gaara kesal. Ia hendak mengumpat ketika Gaara berbicara.

"Hyuuga Hinata adalah nama Adik tirinya Suigetsu. Hyuuga Hinata juga sepupu Hyuuga Neji dan gadis itulah yang merencanakan semua ini, bukan Suigetsu!"

'Deg!'

Seketika genggaman tangan Sasuke di lengan Sakura mengendur. Ia menatap Gaara tak percaya.

"Siapa?"

Gaara mendesah panjang. Ia melirik sekilas gadis di samping Sasuke yang terlihat pucat. Ia bisa menebak bahwa gadis itu adalah Sakura. Haruno Sakura, gadis istimewa yang membuat Sasuke berfikir sedikit tidak rasional. Namun Gaara tak peduli. Ia hanya ingin menyampaikan informasi ini secepatnya. Ia tak mau menunda-nunda lagi.

"Hyuuga Hinata. Namanya Hyuuga Hinata."

Seketika jantung Sasuke terasa berhenti berdetak. Matanya menatap Gaara tak percaya. Apa pendengarannya salah? Namun Sasuke yakin mendengar Gaara menyebut 'Hyuuga Hinata' dan hanya satu hal yang bisa meyakinkan Sasuke.

Sasuke mengambil ponselnya dan menunjukkan dengan cepat sebuah foto kepada Gaara.

"Apa gadis ini yang kau maksud?"

Sasuke berharap Gaara akan berkata tidak.

Gaara mengamati seksama foto di ponsel Sasuke sebelum mengerutkan keningnya.

"Bagaimana kau bisa mendapatkan foto Hinata?"

'Deg!'

Bagai dipalu, tubuh Sasuke terasa lemas seketika. Ponsel di tangannya terjatuh saat itu juga. Ia mundur beberapa langkah sebelum akhirnya ia bisa menstabilkan tubuhnya.

"Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin! Gaara, kau pasti berbohong kan?"

"Aku tidak berbohong. Aku jujur—"

"ITU TIDAK MUNGKIN! GADIS YANG KAU KATAKAN ITU SUDAH MATI!"

"Mati? Apa yang kau katakan? Dia itu masih hidup Sasuke! Masih sangat sehat! Kau pikir, selama ini aku berkerja untuk hantu? Bagaimana itu mungkin?"

"Tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Dia sudah mati, benarkan Sakura?"

Sasuke menolehkan kepalanya. Ia menatap Sakura penuh harap. Berharap gadis itu akan mengatakan hal yang sama dengannya. Namun hati Sasuke mencelos, saat melihat tatapan kosong di wajah Sakura. Tatapan kosong yang sama yang diperlihatkan gadis itu di hari kematian Hinata.

"Sakura?!"

Sasuke memanggil nama Sakura sekali lagi tetapi gadis itu tidak mengubah tatapannya dan Sasuke tahu jelas apa arti dari tatapan gadis itu.

"Kau... membohongiku? Kau tahu bahwa Hinata masih hidup.. selama ini?"

Sakura tidak menjawab. Gadis itu malah menundukkan kepalanya, berusaha menghindari tatapan Sasuke.

Seketika amarah Sasuke meluap. Ia meraih kedua bahu Sakura dan memutar tubuh gadis itu sehingga Sakura kini menatapnya.

"Katakan Hinata sudah meninggal! Katakan Sakura! Katakan ini semua tidak benar!"

Sakura masih tak menjawab. Ia hanya menatap Sasuke kosong dan Sasuke tahu arti tatapannya. Seketika, hati Sasuke terasa sakit. Seluruh udara di sekitarnya terasa hilang, membuat Sasuke susah bernafas. Sasuke melepaskan pegangannya pada bahu Sakura, menatap pedih gadis itu.

"Haruno Sakura… Bagaimana bisa kau melakukan ini terhadapku?"

oOOo

.

.

Ino menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Matanya terpejam. Air mata tak henti mengalir dari sudut matanya.

'Doushite?'

Hanya itu yang ada di kepalanya. Berkali-kali perkataan itu terngiang-ngiang di kepalanya.

Mengapa?

Ino menghela nafas panjang. Rasanya berat untuk mengangkat wajahnya. Ia merasa benci pada dirinya saat ini. Ia benci dengan kehidupannya. Ia benci dengan situasinya saat ini. Ia benci dengan segalanya sekarang.

'Doushite?'

Ino bahkan tidak bisa membuka mulutnya untuk sekedar bersuara. Ia hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya. Ia menyalahkan dirinya sendiri.

Mengapa hari itu ia harus melewati jalan itu? Mengapa hari itu ia bertemu Naruto? Mengapa hari itu ia harus diselamatkan oleh Naruto? Mengapa?

Ino menghela nafas lagi.

Mengapa ia harus mengenal Sakura? Mengapa ia harus mengenal Suigetsu? Mengapa ia harus mengenal Sasuke? Mengapa ia harus menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu tentang semua ini?

Ino kembali menghela nafas. Berharap hal itu bisa membuatnya sedikit tenang. Terlalu banyak 'mengapa' dalam kepalanya dan semua hal itu takkan bisa diucapkan satu-persatu. Ino semakin membenamkan kepalanya ketika sebuah kalimat terlintas di kepalanya.

'Mengapa aku harus mempercayai semua perkataanmu Naruto?'

.

Naruto berjalan tak tentu arah. Ia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Ia bahkan meninggalkan tasnya di sekolah dan ia tak peduli. Saat ini di kepalanya hanya ada raut wajah Ino yang terlihat kecewa. Sangat kecewa.

Tidak. Mungkin terluka lebih tepatnya.

'Oh, God! Mengapa aku harus melakukan semua hal ini? Meskipun aku mendapatkan bayaran dari Sasuke, aku bahkan tak sempat menggunakan uang itu untuk menyelamatkan Ibuku! Okaa-san sudah tiada dan kini aku juga harus kehilangan Ino?'

Naruto mengumpat dalam hati. Ia tak pernah bermaksud untuk menyakiti Ino. Tak pernah terbersit sedikitpun dalam kepalanya untuk menyakiti Yamanaka Ino, bahkan ketika Sasuke memintanya menjalankan rencananya –untuk mendekati Ino demi menyadarkan Sakura– ia sudah bersumpah, takkan menyakiti hati Ino. Ia berkata kepada hatinya bahwa ini semua hanya sebuah rencana. Dan Ino pasti mengerti, jika semua ini dijelaskan secara baik-baik. Toh ini semua demi kebaikan Sakura juga, sahabat Ino. Namun sebuah rencana belum tentu akan berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Naruto sendiri tak tahu, bagaimana mungkin ia melupakan rencana yang telah disusun Sasuke hingga ia akhirnya jatuh cinta kepada Ino? Seandainya... seandainya saja ia tahu akan seperti ini jadinya.. mungkin ia takkan menjalankan rencana 'gila' milik Sasuke.

Naruto memejamkan matanya. Kilasan memori saat Ino tersenyum ke arah Suigetsu membuat dadanya nyeri.

"Ino… Apa yang harus kulakukan sekarang?"

.

.

Sunyi. Ruangan OSIS milik Sasuke terasa sepi. Meski Sakura, Gaara dan Sasuke berada di dalamnya.

Sasuke dan Sakura sibuk dengan fikirannya sendiri. Sementara Gaara sibuk mengamati kedua manusia itu.

Gaara berdecak kesal, ia sedikit mengacak rambutnya.

"Aish! Kalian mau sampai kapan dalam posisi seperti ini?"

Tidak ada jawaban.

Gaara hanya bisa melihat Sasuke yang meliriknya sekilas sebelum kembali terbenam dalam dunianya sendiri. Gaara memejamkan matanya, entah mengapa dia merasa kesal.

"Jika kalian tidak bicara sekarang juga, aku akan bertanya langsung kepada Suigetsu!"

Gaara menatap serius kedua manusia di hadapannya tetapi kedua manusia itu masih terdiam. Ia menghela nafas panjang sebelum menegakkan tubuhnya dan berjalan cepat menuju pintu ruangan Sasuke.

Baru saja Gaara hendak memutar knob pintu ruangan OSIS, ia mendengar sebuah suara.

"Dame!"

Gaara menghentikan tindakannya. Ia memutar tubuhnya, menatap Sakura dengan pandangan bingung.

Sakura menghela nafas panjang. Ia tahu, tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain membeberkan semuanya.

"Aku akan menjelaskan semuanya, tapi tolong.. jangan sampai Suigetsu dan Hinata mengetahuinya."

Gaara terdiam. Ia menatap wajah Sakura serius sebelum menghela nafas dan berjalan pelan mendekati gadis itu. Ia merebahkan tubuhnya di kursi sebelah Sakura. Ia melirik sekilas Sasuke yang terlihat masih di dalam dunianya sendiri.

"Okay, tell me then~"

Sakura memejamkan matanya, kepalanya terasa berat. Ia tahu ia harus mengungkapkan rahasia yang ia pendam selama ini tetapi ia tak menyangka akan secepat ini. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya memulai ceritanya.

"Aku bertemu dengan Hinata tanpa sengaja. Beberapa tahun yang lalu, pada suatu malam aku mendengar suara teriakan seseorang dan tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menghampiri suara teriakan itu."

"Lalu?"

Sakura menatap Gaara kosong.

"Aku melihat seorang gadis hendak diperkosa oleh seorang pria paruh baya. Saat itu tempat itu terlalu gelap. Aku sampai tak bisa melihat apapun dengan jelas. Namun aku yakin, aku melihat seorang gadis berusaha meminta bantuan dan berteriak meminta tolong."

Sakura menghentikan ucapannya sejenak, melirik sekilas Sasuke. Pemuda itu sama sekali tidak menampilkan sebuah ekspresi di wajahnya.

"Aku menolongnya. Aku berusaha membantunya untuk menjauhkannya dari pria tua itu."

"Menjauhkannya?"

Sakura menatap Gaara malas sebelum mendesah panjang.

"Oke, mungkin lebih tepatnya memukul pria tua itu agar dia menjauh dari gadis itu."

"Hanya memukulnya?"

Sakura terdiam, matanya menatap Gaara tajam. Ia merasa Gaara seperti mendesaknya.

"Apa kau mengetahui sesuatu tentang ini?"

Gaara terdiam. Matanya menatap Sakura kosong.

"Aku tak berhak menjawab pertanyaanmu, maaf."

"Apa? Apa maksudmu? Oi! Kau bertanya kepadaku dan aku menjawabnya, tapi mengapa ketika aku bertanya kau tak mau menjawabnya?"

Gaara mengedikkan bahunya. Ia tak mau menjawab perkataan Sakura. Ia yakin, urusannya akan menjadi panjang jika ia menjawab pertanyaan Sakura. Lagipula, ia memang tak berhak menjawab pertanyaan Sakura karena itu sama saja membongkar seluruh pekerjaan yang ia lakukan selama ini untuk Sasuke.

"Teme! Mengapa kau tak mau menjawab pertanyaanku!"

"Aku tak berhak menjawabnya. Bukankah sudah kukatakan kepadamu?"

"Aish! Memangnya kau siapa? Lagipula, aku bertanya karena aku merasa kau mengetahui sesuatu tentang diriku, padahal aku baru saja mengenalmu hari ini!"

Gaara terdiam. Berpura-pura tak mendengar perkataan Sakura.

"Aish! Jawab pertanyaanku!"

"Sudah kubilang, aku—"

"Jawab saja pertanyaannya Gaara, tidak apa-apa."

Gaara melirik ke arah Sasuke. Sementara Sasuke hanya menatap Gaara dingin.

"…tapi Sasuke, bukankah—"

"Tidak apa."

Sasuke mengalihkan matanya, menatap Sakura tajam. Ia bisa melihat raut sedih dari wajah Sakura dan itu cukup membuat ngilu di dadanya kembali terasa. Namun Sasuke berusaha tak memperlihatkannya. Ia tak mau terlihat lemah di depan Sakura.

"Lagipula, siapa yang bisa menebak secara pasti.. sikapnya sekarang asli atau sedang berbohong?"

Sasuke menghela nafas panjang tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Sakura.

"Selain itu, aku tak ingin menambah kebohongan yang cukup banyak sekarang~"

Sakura terdiam, tatapan mata Sasuke yang begitu tajam cukup membuat nyeri di dadanya.

'Apa kau tak mempercayaiku Sasuke-kun?'

Sakura mendesah pelan. Wajar jika Sasuke kini tak mempercayainya, toh ia memang sudah terlalu banyak berbohong selama ini. Dan Sakura tahu, hal itu tentu membuat Sasuke kecewa kepadanya. Bagaimanapun juga, Sasuke dan dirinya berteman dekat sebelum Hinata masuk ke dalam kehidupannya mereka.

"Baiklah, jika kau berkata begitu Sasuke."

Sasuke tersentak dari fikirannya. Matanya kini menatap Gaara. Pemuda itu terlihat menatap Sakura serius.

"Aku tahu semua hal yang terjadi di sekitarmu."

'Apa?'

Sakura mengerutkan keningnya. Meski sedikit takut, ia menatap Gaara bingung.

"Apa maksudmu?"

Gaara mengulas senyum kecil di wajahnya sebelum melirik Sasuke sekilas dan menatap Sakura lagi.

"Aku tahu semua hal yang berhubungan dengan masa lalu kalian."

"Dari mana kau tahu?"

Gaara tersenyum lagi.

"…karena aku mengenalmu sejak lama, meski kau tak mengenalku."

"Bagaimana bisa kau mengenalku sejak lama? Aku bahkan tak pernah mengingat pernah mengenal atau bertemu denganmu sebelumnya!"

Sakura nyaris berteriak sekuat tenaga, membuat Gaara sedikit mengernyitkan keningnya.

"Woy! Tidak usah berteriak! Dasar cewe, semuanya sama saja!"

"…tapi kau membuatku takut! Kau bukan stalker ku, kan?"

Gaara memutar kedua bola matanya dan menatap Sakura serius.

"Percaya diri sekali! Aku mengenalmu sejak lama karena seseorang memintaku untuk selalu mengawasimu!"

Sakura terdiam, matanya menatap Gaara kosong.

"Se.. se-seorang memintamu untuk mengawasiku?"

"Ya!"

"…tapi untuk apa? Mengapa kau harus mengawasiku?"

Gaara terdiam sejenak. Sakura bisa melihat tatapan Gaara kepadanya sedikit melembut.

"Mungkin karena seseorang itu sangat menyayangimu."

Sakura terdiam. Matanya menatap Gaara tak percaya.

'Apa? Seseorang yang menyayangiku?'

Sakura mengerutkan keningnya, mencoba berfikir keras tetapi otaknya seperti buntu. Ia tak bisa menebak siapa yang menyuruh Gaara untuk mengawasinya.

"Astaga~ kau bahkan tidak bisa menebak siapa orang itu? Kasihan sekali orang itu!"

Sakura menatap Gaara kesal. Ia hendak membentak Gaara ketika sebuah suara berat terdengar berbicara di ruangan itu.

"Aku yang memintanya untuk mengawasimu."

Sakura terdiam. Perlahan ia memutar kepalanya, menatap sosok pemuda yang masih memasang ekspresi kosong di wajahnya.

"Sasuke-kun?"

"Hn."

"Doushite?"

Sakura menatap Sasuke bingung. Sementara pemuda itu masih mempertahankan ekspresi kosong di wajahnya.

"Aku melakukannya karena sampai sekarang, kau selalu melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirimu sendiri. Kau selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu, tetapi kau seolah tak pernah peduli pada dirimu sendiri."

"Apa?"

Sakura hendak berbicara lagi ketika ia melihat ekspresi wajah Sasuke yang berubah.

"Kau bahkan tak peduli tentang perasaanku untukmu. Yang kau pikirkan hanya Naruto dan Naruto. Kapan kau akan sadar bahwa dia tak akan pernah memilihmu! Cintamu padanya hanya cinta sepihak! Lalu, apakah kau merasa senang hanya menjadi pengamat saja?"

Gaara melirik Sakura dan Sasuke bergantian. Kedua manusia itu masih saling bertatapan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

'Dasar Sasuke bodoh! Kau jelas-jelas mencintai gadis ini sejak dulu, tapi kau selalu saja menyangkalnya?'

Gaara menggelengkan kepalanya. Ia tak mengerti mengapa kedua manusia di hadapannya ini begitu keras kepala.

"Can both of you stop arguing over nothing? I'M HERE! PLEASE, stop talking in your head!"

Sasuke mengalihkan matanya dari Sakura saat mendengar suara Gaara. Ia memang selalu lupa waktu jika berhadapan dengan Haruno Sakura. Sasuke menghela nafas sejenak sebelum menatap Gaara.

"Aku hampir lupa, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan tadi kepadaku?"

Gaara memutar kedua bola matanya, tak mengerti dengan sikap Sasuke.

"Sasuke, kurasa sekarang bukan saat yang tepat—"

"Tidak, Gaara! Sekarang saat yang tepat."

Gaara bisa melihat Sasuke kembali menatap Sakura tajam. Gaara menghela nafas. Ia tahu, tak ada gunanya melawan perintah Sasuke.

"Aku berbicara dengan Lee dan aku mengetahui semuanya. Tentang Hyuuga Hinata, Hozuki Suigetsu dan..."

Gaara terdiam. Ia melirik Sakura sekilas, merasa tak nyaman karena gadis itu berada di sini.

"Tidak apa-apa Gaara. Katakan saja semuanya."

Gaara melirik Sasuke beberapa saat sebelum menghela nafas.

"Baiklah. Kini aku sudah tahu semua hal tentang Hyuuga Hinata, Hozuki Suigetsu, dan Rock Lee."

Sakura menatap Gaara bingung.

"Rock Lee?"

"Ya, Rock Lee. Pemuda yang sering berada di sekitarmu itu."

"Ada apa dengan Rock Lee? Mengapa kau membawa-bawa Lee dalam masalah ini?"

Gaara terlihat terdiam beberapa saat sebelum menatap Sakura serius.

"Rock Lee adalah anak buah Hozuki Suigetsu."

'Deg!'

Sakura terdiam. Matanya menatap Gaara kaget.

"A-apa?"

"…"

"Kau becanda, kan? Kau tidak serius dengan ucapanmu, kan?"

"Apa aku terlihat sedang becanda?"

Sakura menatap Gaara seksama. Pemuda itu memang terlihat tidak sedang becanda.

"…tapi ini mustahil! Tak mungkin Lee adalah anak buah Hozuki Suigetsu!"

"Kau fikir aku sedang berbohong?"

Sakura tak menjawab. Ia hanya menatap Gaara bingung.

'Bagaimana mungkin Lee adalah anak buah Suigetsu dan aku tak mengetahuinya?'

Kepala Sakura terasa berat seketika. Ia fikir, ia telah mengetahui segala sesuatu tentang Suigetsu.

Sakura tahu bahwa Suigetsu dan Hinata merupakan saudara tiri. Sakura juga tahu bahwa Hinata memang berencana menghancurkannya dan membuatnya tersiksa. Sakura mengetahui semua rencana Hinata selama ini tetapi ia bersikap seolah-olah tidak tahu apapun, karena ia merasa bersalah telah membunuh Ayah Hinata. Meski secara tak sengaja. Tapi Rock Lee…

'Anak buah Suigetsu?'

Sakura baru mengetahui hal itu hari ini.

Gaara menatap serius wajah Sakura. Ia bisa melihat kebingungan dan ketidakpercayaan di wajah gadis itu.

"Percayalah, yang aku katakan adalah kebenaran!"

"Aku tahu."

Sakura menjawab singkat, membuat Gaara mengangkat alisnya.

"Kau mempercayaiku?"

Sakura mengangkat wajahnya. Ia menatap Gaara kosong.

"Tentu saja, karena kau adalah anak buah Sasuke-kun bahkan Sasuke-kun lebih mempercayaimu daripada temannya. Jadi apa lagi yang harus kuragukan darimu?"

"Aku bukan anak buahnya! Aku hanya membantunya!"

"Itu sama saja."

"Itu tidak sama!"

Sakura memutar bola matanya.

'Whatever~'

Sakura kembali masuk ke dalam dunianya sendiri. Kepalanya berfikir keras. Mengapa ia tak mengetahui bahwa Rock Lee adalah anak buah Suigetsu.

'Semua ucapannya itu benar. Aku bahkan berani bersumpah, aku mengingatnya bahwa malam itu.. aku menolong Lee saat dia sedang dikeroyok anak buah Naruto! Dan salah satu anak buah Naruto yang mengeroyoknya saat itu adalah Sasuke-kun.'

'Deg!'

Seketika Sakura terdiam. Kepalanya terasa kosong seketika.

'Tunggu! Malam itu Lee dikeroyok anak buah Naruto, dan Sasuke-kun adalah salah satu dari mereka, benar kan?'

Sakura menatap Gaara serius.

"Apakah alasan Lee menjalankan semua rencana Suigetsu adalah karena Sasuke-kun?"

Sasuke mengerutkan keningnya. "Mengapa aku?"

Gaara memutar kedua bola matanya. Ia menatap Sasuke kesal.

"Teme! Apa kau tak ingat dengan apa yang kau lakukan pada Lee beberapa tahun yang lalu? Saat kau dan anak buah Naruto lainnya menghajarnya hingga dia nyaris mati?"

"Eh?"

Sasuke menatap Gaara kosong.

"Beberapa tahun yang lalu? Maksudmu saat pertama kali aku bertemu dengan Sakura dan dikalahkan olehnya?"

"Benar! Saat itu kalian hampir membunuhnya, kau tahu?"

"Hanya karena alasan itu? Apakah semuanya masuk akal? Mengapa dia menjadi dendam kepadaku hanya karena alasan sepele seperti itu?"

"Sebenarnya bukan hanya karena alasan itu. Hal ini juga berhubungan dengan apa yang dilakukan Naruto 10 tahun yang lalu."

"Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh Naruto 10 tahun yang lalu?" tanya Sakura mengerutkan kening.

"Lee tinggal di Panti Asuhan sejak dia masih bayi karena dia dibuang oleh orangtuanya. Suatu hari, Ibunya Naruto dan Ayahnya datang ke Panti tersebut untuk mengadopsi seorang anak dari sana agar Naruto mempunyai teman, karena baik Kushina-san maupun Zabuza-san sering sibuk dengan pekerjaan mereka. Namun, Naruto tidak ingin kasih sayang orangtuanya terbagi. Dia hanya ingin menjadi satu-satunya anak yang disayang oleh kedua orangtuanya. Itulah sebabnya Naruto menghina Lee di depan anak-anak Panti lainnya. Dia bilang dia tidak ingin mempunyai seorang Kakak ataupun Adik. Dia bahkan melakukan berbagai cara agar Kushina-san dan Zabuza-san tidak jadi mengadopsi Lee."

"Dari mana kau tahu semua itu?" tanya Sasuke.

"Lee sendiri yang bercerita kepadaku. Dia bahkan mengubah namanya supaya Naruto tidak tahu identitasnya yang sesungguhnya. Dia ingin membalaskan dendamnya kepada Naruto. Oleh karena itu, saat kalian masih menjadi yankee.. dia berteman dengan Suigetsu. Dia selalu mencari gara-gara dengan gank kalian. Dia bahkan menyetujui semua rencana ini karena dia pikir… ketika Sakura-san menolongnya saat itu, sebenarnya Sakura-san sudah mengenal Uzumaki Naruto."

"Mengapa dia berpikir seperti itu?" tanya Sasuke mengerutkan kening.

"Itu karena… pada hari itu dia melihat Sakura-san digendong oleh Naruto. Dia bilang, wajah Sakura-san bahkan merona merah saat itu."

Sasuke memejamkan matanya. Ia tak menyangka semua hal yang terjadi pada Lee telah menyisakan dendam di dalam hatinya.

"Lee berencana menghancurkan hati Sakura-san untuk melemahkan Uzumaki Naruto. Dia tahu bahwa kau dan Sakura-san adalah orang yang paling penting baginya."

Sakura terdiam. Ia tak bereaksi dengan perkataan Gaara. Semuanya terasa klop sekarang, semuanya terasa cocok. Ia menghela nafas.

'Mengapa semuanya harus menjadi seperti ini?'

Sakura menyalahkan dirinya sendiri. Walau bagaimanapun, ini semua karena dirinya. Semua masalah ini bersumber pada dirinya. Jika saja dia tidak membunuh Ayah Hinata malam itu, mungkin semua ini takkan terjadi.

Mungkin Lee takkan mendekati Suigetsu dan mencari cara untuk membalas dendam kepada Naruto. Mungkin Naruto tak harus bertemu Ino dan jatuh cinta, hingga akhirnya harus terluka sekarang. Mungkin Hinata takkan pernah bertemu dengan Sasuke dan Naruto dan mereka akan hidup lebih nyaman daripada sekarang. Mungkin Ino akan lebih nyaman tanpa harus menerima teror setiap hari karena Sakura. Mungkin Sasuke dan Naruto akan hidup lebih damai karena mereka tak harus bertemu Hinata dan jatuh cinta kepada gadis itu. Mungkin semua ini akan terasa lebih mudah.

"Hanya karena alasan itu, seseorang bisa berubah menjadi sangat jahat? Naruto tidak pernah tahu siapa Ayah kandungnya. Itulah mengapa saat dia punya Ayah, dia tidak ingin kasih sayang Ayahnya terbagi, bahkan meskipun Zabuzaberubah jahat semenjak Naruto tumbuh dewasa… dia tidak pernah berniat melaporkan Zabuza kepada polisi. Dia menanggung semua siksaan Zabuza sendirian. Dia masih berharap Ayah tirinya yang dulu sangat menyayanginya itu kembali."

"Sasuke, kau pikir aku becanda tentang ini semua? Sudah terlalu banyak kebohongan yang terjadi dan kau pikir aku akan menambah kebohongan lagi?"

Sasuke memejamkan kepalanya. Ia tahu perkataan Gaara benar. Namun tetap saja ia masih tak mengira Lee begitu dendam pada Naruto hanya karena kejadian 10 tahun yang lalu.

"Demi Tuhan Gaara! Saat itu Naruto masih berusia 7 tahun. Bagaimana bisa Lee tidak memaklumi sifat kekanakannya."

"Hinata bahkan begitu dendam padaku hanya karena aku tak sengaja membunuh Ayahnya. Seseorang bisa menjadi sangat jahat jika dibutakan oleh rasa cinta yang terlalu berlebihan," sahut Sakura.

"Itu benar. Lee juga mencintaimu Sakura-san makanya dia merasa muak melihatmu begitu mencintai Naruto."

"A-apa? Lee mencintaiku, kau bilang?"

"Ya~"

Sasuke terdiam beberapa saat. Kini ia tahu, mengapa Lee selalu lengket pada Sakura. Lee bukan hanya melakukan itu untuk melancarkan rencananya semata tetapi pemuda itu melakukannya karena dia juga mencintai Sakura. Terlalu banyak kebohongan dalam hidupnya dan saat kebohongan itu terungkap, hanya ada fakta-fakta mengejutkan di balik semua itu dan hal itu memang cukup sulit dicerna.

Gaara menghela nafas sejenak sebelum mengalihkan wajahnya menatap Sakura.

"Nah, aku sudah menceritakan semua hal yang aku tahu. Sekarang giliranmu, Sakura-san… jelaskan semua kebohongan yang kau sembunyikan selama ini!"

oOOo

.

.

"Ino-chan?"

Ino mengerjapkan matanya. Ia mendengar seseorang menyebut namanya.

"Sedang apa kau di sini?"

Ino mengangkat wajahnya dan memutar kepalanya, menatap bingung sosok gadis yang kini terlihat sedang berjalan ke arahnya.

"Kau sendirian? Di mana Naruto-kun?"

"Tenten-senpai?"

Ino yang sudah tidak tahan lagi memendam semua masalahnya sendirian, akhirnya mulai bercerita kepada Tenten setelah memastikan bahwa Kakak kelasnya tersebut dapat dipercaya.

"Jadi… begitu yang terjadi?"

Tenten menatap Ino simpati. Sementara Ino hanya membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Ino menceritakan semuanya kepada Tenten… mulai dari pertemuannya dengan Sakura, Naruto dan Sasuke. Ia menceritakan semua rencananya untuk menolong Sakura dengan mendekati Suigetsu, juga kenyataan yang baru diketahuinya beberapa waktu yang lalu.

"Apa yang harus kulakukan senpai? Aku bahkan tidak mengerti dengan perasaanku sekarang! Apa aku masih mencintainya?"

Tenten terdiam beberapa saat sebelum tersenyum kecil. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding, tepat di sebelah Ino.

"Apa kau tak pernah berfikir jika kau berada di posisinya, Ino?"

"Eh?"

Tenten menghela nafas panjang. "Coba kau ingat-ingat, mengapa kau mencintainya?"

"…karena dia menolongku disaat aku membutuhkannya."

"Hanya karena itu kau mencintainya?"

Ino terdiam. Matanya menatap Tenten bingung.

"Maksudmu?"

Tenten menatap Ino dan sebuah senyum terpasang di wajahnya.

"Tidak pernah ada alasan untuk mencintai seseorang. Jika kau mencintainya maka kau akan menerima semua hal yang berada di dalam dirinya. Entah itu kelebihannya ataupun kelemahannya.. bukan karena perbuatannya kepadamu."

Ino menatap Tenten bingung.

"Maksudmu.. aku tak benar-benar mencintai Naruto?"

"Apa benar begitu?"

"Senpai, mengapa kau malah balik bertanya kepadaku? Kau yang membuatku berfikir begitu!"

Tenten tertawa kecil melihat reaksi Ino.

"Maaf, aku tak bermaksud mengatakan itu padamu. Kau menarik kesimpulan yang salah."

"Aish! Jadi apa yang ingin senpai katakan sebenarnya?"

Ino menatap Tenten serius. Sementara gadis itu menolehkan matanya menatap langit.

Saat ini mereka berdua memang sedang berada di belakang gedung sekolah. Tepat berada di dekat taman belakang, tempat Tenten biasa makan siang bersama Neji.

"Apa kau pernah merasa akan merelakan segala sesuatu agar orang yang kau sayangi tidak terluka?"

Ino terdiam. Ia memang selalu berfikir seperti itu. Ia akan merelakan segala sesuatu agar orang yang ia sayangi tidak terluka.

"Ya. Aku selalu berfikir begitu, lalu apa hubungannya dengan masalah ini?"

Tenten terdiam, ia menatap Ino sejenak. Tak lupa senyum terpasang di bibirnya.

"Apa kau tak merasa Naruto-kun juga melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan?"

"Maksudmu?"

Tenten tersenyum kecil saat melihat ekspresi bingung di wajah Ino.

"Kau mendekati Suigetsu karena ingin menyelidikinya, bukan? Apa yang sebenarnya dia rencanakan, jadi kau bisa menggagalkan rencananya itu, benar kan?"

"Ha'i."

"Apa kau tak pernah berfikir bahwa tindakanmu akan menyakiti Naruto-kun?"

Ino mendesah panjang.

"Aku bahkan yakin seratus persen bahwa tindakanku takkan menyakitinya."

"Mengapa kau bisa seyakin itu?"

"Senpai, bukankah aku sudah bercerita bahwa dia hanya menjadikanku alat untuk menyadarkan Sakura? Dia mendekatiku hanya karena Sakura!"

"Mengapa kau begitu yakin?"

"…karena-"

Ino terdiam. Seketika kepalanya terasa kosong.

'Tunggu! Mengapa aku begitu yakin?'

"Apa karena Sasuke-kun mengatakannya padamu secara tak sengaja?"

Ino terdiam. Ia melirik Tenten bingung. Sementara gadis itu hanya tersenyum kecil.

"Ino-chan, apa kau sudah mendengar penjelasan dari bibir Naruto-kun tentang semua ini?"

Ino menggigit bibir bawahnya. Ia bahkan tidak mendengar penjelasan Naruto. Ia terlalu lelah untuk mendengarkan itu semua.

"Kau seharusnya mendengar penjelasan dari Naruto-kun. Tidak baik jika menarik kesimpulan sendiri."

"… tapi Naruto tidak membantah apa yang Sasuke-kun katakan!"

Tenten mengulas senyum di bibirnya. Ia menghela nafas sebelum menjawab perkataan Ino.

"Tidak membantah bukan berarti mengiyakan, Ino."

"… tapi Tenten-senpai, bagaimana jika dia memang melakukan itu?"

"Jika memang dia melakukan hal itu, pasti ada alasan yang tepat mengapa ia harus melakukannya. Dan kau harus mendengar alasannya~"

Ino terdiam, ucapan Tenten benar. Kini ia bahkan tak bisa membantah perkataannya.

"Dengar, Ino! Aku tahu Naruto-kun mencintaimu. Aku bisa melihatnya dari cara dia memerhatikanmu dan mencemaskanmu waktu itu, ingat? Saat kita pertama kali berkenalan?"

Ino terdiam. Ia sedikit tersenyum mendengar perkataan Tenten.

"Jika memang Naruto-kun benar-benar melakukan hal itu, dia pasti memiliki alasan mengapa ia harus melakukannya. Sama seperti yang kau lakukan sekarang, kau memiliki alasan mengapa kau mendekati Suigetsu 'kan?"

Ino mengangguk pelan.

"Kau harus mendengarkannya Ino. Setelah itu, baru kau putuskan apa yang harus kau lakukan sekarang. Lagipula, sepertinya rencanamu itu terlalu berbahaya. Aku mengerti mengapa kau tidak memberitahu Naruto karena dia pasti akan menolaknya. Namun jika kau memang mencintainya, kau harus memberitahunya… kau tak ingin dia terluka, kan?"

Ino terdiam. Lagi. Apa yang diucapkan Tenten benar. Ia memang tak mau melihat Naruto terluka. Hatinya ikut terluka setiap kali melihat ekspresi terluka dari wajah Naruto.

Ino mendesah panjang. Ia sadar dengan kecerobohannya sekarang. Ia menatap Tenten sebelum tersenyum lebar.

"Arigatou senpai karena telah membuatku berfikir jernih."

Tenten tertawa kecil sebelum tersenyum lebar.

"Tidak perlu berterimakasih. Aku senang menjadi tempat curhatmu. Kau membuatku berpikir bahwa kita akan menjadi teman baik. Aku senang kau memercayaiku meskipun kita belum lama saling mengenal."

"Itu karena kupikir senpai adalah orang yang baik."

"Terima kasih. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang pasti ada alasannya."

Ino terdiam. Perkataan Tenten lagi-lagi benar. Dewasa sekali. Ia jadi semakin mengagumi Kakak kelasnya ini.

'Tak seharusnya aku melarikan diri dari ini semua. Aku yakin Naruto punya alasan sendiri mengapa dia melakukan ini kepadaku.'

Ino tersenyum lega. Ia tahu, ia harus mempercayai Naruto. Ia mencintai Naruto dan ia percaya bahwa Naruto juga mencintainya. Ia mendekati Suigetsu hanya untuk mengetahui rencana rahasianya untuk menghancurkan Sakura. Semua itu untuk menolong Sakura.

'Deg!'

Seketika Ino terdiam. Sesuatu terlintas di kepalanya.

'Tunggu sebentar! Bukankah aku juga melakukan hal yang sama? Aku bahkan memutuskan Naruto karena ingin menolong Sakura, dan Naruto juga mendekatiku karena ingin menolong Sakura, kan? Lagipula, mereka berdua bersahabat! Wajar jika Naruto peduli pada Sakura~'

Ino tertawa kecil sebelum menggeleng pelan.

'Baka! Aku dan Naruto melakukan hal ini hanya karena ingin menolong seorang Haruno Sakura?'

Ino mengulas sebuah senyum di wajahnya. Setidaknya ia tahu satu hal yang bisa meyakinkannya bahwa Naruto melakukan ini semua bukan karena alasan yang buruk. Ino menatap Tenten sejenak, mengulas sebuah senyum di wajahnya.

"You're right, Tenten-senpai! Every little thing has a reason."

.

.

Naruto terus berjalan tanpa arah hingga tanpa sadar, ia kini berhenti tepat di depan rumah Ino. Naruto menatap kosong halaman rumah Ino, tempatnya melihat gadis itu tersenyum kepada Suigetsu. Rasa perih kembali terasa di dadanya.

'Ino? Mengapa kau melakukan itu?'

Naruto menghela nafas, ia tahu ia bersalah. Ia memulai hubungannya dengan Ino dengan cara yang salah dan ia bahkan tidak memberitahu Ino tentang hal itu.

'Aishiteru yo Ino...'

Naruto mengucapkannya dalam hati. Ia memejamkan matanya sejenak saat perih kembali terasa di hatinya. Ia benar-benar mencintai Ino. Ia tidak mempermainkan Ino. Ia hanya ingin membawa Sakura kembali ke jalan yang benar. Ia tidak ingin Sakura mengambil jalan gelap itu sendirian. Ia hanya ingin menjadi cahaya untuk Sakura. Ia ingin dia, Sakura, dan Sasuke kembali bersama seperti dulu.

'Hhh… meskipun itu keinganku sendiri, aku malah bersikap egois dengan mengambil keuntungan dari Sasuke. Yappari.. uang itu harus ku kembalikan padanya!'

'...tapi mengapa Ino? Mengapa kau mencampakkan aku? Karena Suigetsu kah? Kau bahkan tidak memberikan alasan kepadaku! Kau mulai berkencan dengannya saat aku tidak masuk sekolah karena alasan pribadi! Apa salahku? Mengapa kau meninggalkanku dan memilih Suigetsu? Apakah karena selama beberapa hari itu aku tidak menghubungimu dan malah mematikan ponselku?'

Naruto menghela nafas panjang. Rasanya seluruh tubuhnya kini terasa hampa dan sakit. Bayangan wajah Ino saat meminta putus dan ekspresi terluka Ino saat tahu rencana awalnya dengan Sasuke memenuhi kepalanya.

'Saat itu aku hanya butuh waktu untuk sendiri dan aku belum siap untuk menceritakan masalah pribadiku padamu. Aku bukannya tidak ingin dan sengaja merahasiakannya darimu. Aku juga bukannya tidak memercayaimu Ino. Aku hanya masih mencari moment yang tepat untuk menceritakan semuanya.'

"Aku bahkan tak tahu siapa yang harus disalahkan sekarang Ino?!"

Naruto memejamkan matanya. Semuanya terasa begitu berat saat ini. Ia ingin menjelaskannya semuanya kepada Ino tetapi ia tak punya keberanian untuk melakukan itu. Ia merasa bersalah. Ia tak mau melihat air mata Ino lagi.

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Let her go!"

'Deg!'

Naruto terdiam. Sebuah suara yang ia kenal membuatnya membuka matanya dan mengangkat wajahnya. Ia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Seketika seluruh rasa pedih di dalam dirinya menguap begitu saja. Tak berbekas. Kedua tangannya mengepal kencang tanpa ia sadari. Matanya menatap tajam sosok orang yang berdiri beberapa meter di hadapannya.

Orang itu tengah tersenyum kepadanya. Senyum yang cukup membuat Naruto muak.

"Apa yang kau inginkan Suigetsu?"

.

.

Sakura terdiam. Ucapan Gaara terdengar memojokkannya. Ia memang berbohong tapi ia terpaksa melakukan itu.

Sakura menghela nafas panjang. Ia tahu tak ada gunanya berbohong lagi sekarang. Semua situasi dan kondisi saat ini sudah cukup rumit dan semakin tak masuk akal dan ia tak ingin menambah kerumitan itu.

Sakura mendongakkan kepalanya, menatap Gaara sejenak, sebelum menatap Sasuke kosong.

"Gomennasai.. hountou ni gomennasai."

"Jelaskan semuanya, Sakura!" desak Sasuke.

"Selama ini aku sudah membohongi kalian semua…"

"Bisa kau jelaskan sekarang? Semuanya! Semua hal yang kau rahasiakan dariku dan Naruto agar situasi ini tak menjadi semakin rumit!" tegas Sasuke sambil memandang Sakura dengan tatapan tajam.

Sakura menundukkan kepalanya dan mendesah panjang.

"Ya, akan kuceritakan semuanya dengan sejalas-jelasnya."

Sakura memejamkan matanya sebelum menghela nafas panjang.

"Seperti yang kubilang tadi… Malam itu aku mendengar suara teriakan seseorang dan aku berlari menghampiri suara itu. Saat itu, aku melihat seorang gadis hendak diperkosa seorang pria paruh baya dan aku menolongnya."

Gaara dan Sasuke mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang dilontarkan oleh Sakura.

"Disaat aku sedang berusaha menjauhkan pria itu dari gadis tersebut, aku mendengar suara besi dari arah belakangku. Saat aku berbalik, aku melihat gadis yang ku tolong sedang mengangkat besi. Dia hendak memukulku. Aku bingung tetapi saat itu aku melihat arah pandang gadis itu berbeda. Dengan cepat aku berbalik dan melihat pria itu telah bangkit. Pria itu hendak menyerangku lagi…"

Sakura terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.

"Saat itu, aku sangat panik dan keadaan di sana sangat gelap. Tanpa sadar aku menendang pria itu terlalu kuat dan akhirnya... Pria itu mati karena tanpa sengaja sebuah besi menembus dadanya."

Sasuke menundukkan kepalanya. Matanya menatap lantai. Ucapan Sakura terdengar jelas di telinganya tetapi entah mengapa ia sedang tak ingin mendengarkannya. Meski ia tahu, ia harus mendengarkannya hingga selesai. Ia ingin semua ini jelas. Ia tak ingin ada rahasia lagi diantara mereka.

"Lalu?"

Suara Gaara terdengar di telinga Sasuke. Hening kemudian.

"Aku tak menyadari apapun, sampai akhirnya suara teriakan gadis itu menyadarkanku. Gadis itu menangis terus menerus sambil berkata 'Ayah... Ayah..' dan hal itu membuatku semakin merasa bersalah. Akhirnya, aku menelpon polisi. Saat itu aku begitu takut hingga aku berkata bahwa pria itu sudah begitu saat aku menemukannya."

Sasuke memejamkan matanya. Ia tak bisa membayangkan gadis yang ia cintai pernah melakukan hal seperti itu.

'Ya Tuhan~ Haruno Sakura… Kau.. bagaimana bisa kau...'

"Tentu saja sebelum polisi datang, aku memohon kepada gadis itu untuk tidak mengatakan yang sebenarnya dan aku berjanji padanya akan melakukan apapun untuknya agar kesalahanku bisa ditebus."

Sasuke mendesah panjang. Semua ini terasa tak masuk akal baginya.

"Namun saat polisi datang, gadis itu berkata pada mereka bahwa akulah yang sudah membunuh orang itu. Dia menuntutku dan mengatakan bahwa pria yang telah ku bunuh itu adalah Ayahnya. Kedua polisi itu pun membawa kami berdua ke kantor polisi. Mereka ingin melakukan interogasi."

"Lalu?" Gaara kembali bertanya.

"Polisi yang menanyaiku bernama Namikaze Minato. Dengan bijaksana, dia memintaku untuk menceritakan semua hal yang terjadi. Aku menceritakan kepadanya bahwa aku tak sengaja membunuh Ayah Hinata. Aku hanya ingin menolongnya saat itu. Lalu, dia berkata akan mengurus kasus ini. Dia bilang, dia akan membantuku karena aku masih anak di bawah umur. Dia menyimpulkan bahwa aku tidak salah. Dia berkata, bahwa tindakanku termasuk dalam pembelaan diri. Namun, seseorang yang menayai Hinata adalah seorang polisi yang jabatannya di atas Namikaze-san. Aku benci orang dewasa itu. Orang itu benar-benar memenjarakan aku!" cerita Sakura panjang lebar.

"Itulah sebabnya kau pernah ditahan selama satu tahun penuh?" tanya Sasuke pula.

"Benar. Namikaze-san meminta maaf kepadaku karena tidak bisa membantuku lebih dari itu. Saat itu aku berjanji, sebagai ucapan terimakasih, aku akan melindungi anaknya. Namun Namikaze-san berkata, aku tidak perlu repot-repot karena dia bahkan belum bisa menemukan anak dan wanita yang dicintainya."

"Tunggu! Kau bilang nama petugas polisi itu Namikaze Minato?"

"Ada apa Sasuke-kun? Apa kau mengenal Namikaze-san?" tanya Sakura.

"Tidak. Hanya saja nama itu sama dengan nama sahabat Ayahku saat mereka masih SMA dulu. Orang itu Ayah kandungnya Naruto."

"A-apa.. kau bilang?"

"Ayahku pernah bercerita bahwa saat mereka masih SMA dulu~ mereka (Ayahku, Ibuku, Minato-san, dan Kushina-san) berkemah bersama di gunung. Saat Minato-san dan Kushina-san mencari kayu bakar… mereka tersesat. Tiba-tiba hujan turun saat itu. Ayahku dan Ibuku yang menunggu mereka di tenda merasa khawatir. Keesokan harinya mereka berhasil menemukan Minato-san dan Kushina-san. Lalu, Minato-san bercerita pada Ayahku… bahwa dia dan Kushina-san menemukan sebuah pondok di tengah hutan. Mereka memasuki pondok kosong itu untuk berteduh dan bermalam di sana. Lalu, karena Kushina-san kedinginan dan terkena demam… tanpa mereka sadari mereka 'melakukan itu' atas dasar suka sama suka."

"EH?" kaget Gaara dan Sakura serentak.

"Stop! Jangan bicarakan hal itu! Lebih baik lanjutkan ceritamu Sakura-san!"

"…tapi—" Sakura mencoba menyanggah Gaara.

"Itu memalukan! Mereka melakukan itu saat mereka masih SMA? Dan lagi.. sesuatu seperti itu tidak pantas diceritakan kepada anak remaja sepertimu Sasuke! Apa Ayahmu itu sudah gila?"

"Teme! Jangan mengatai Ayahku!"

"Cukup! Jangan bertengkar kalian berdua! Sasuke-kun, mari kita kembali ke topik pembicaraan saja! Mengenai Namikaze-san, bisa kita bicarakan lain waktu. Lagipula, belum tentu petugas Namikaze-san adalah orang yang sama dengan sahabat Ayahmu itu Sasuke-kun! Siapa tahu kebetulan saja mereka memiliki nama yang sama."

"Ya, lebih baik kita kembali ke topik semula. Silakan dilanjutkan Sakura-san!" sahut Gaara.

"Sejak saat itu Hinata tinggal bersama wali ku dan akhirnya setelah aku dibebaskan dari sel tahanan, aku memasukkannya ke sekolah ini agar dia berada di sisiku terus. Aku ingin menebus seluruh kesalahanku kepadanya."

"Jadi gadis yang kau tolong itu adalah Hyuuga Hinata?"

Suara Gaara membuat Sasuke memejamkan matanya lagi. Ia nyaris menutup telinganya. Ia tak mau mendengar nama gadis itu disebut. Ia benci kenyataan yang harus ia terima saat nama itu disebut.

'Jangan sebut nama itu!'

"Ya, gadis itu adalah Hyuuga Hinata. Orang yang kuperkenalkan sebagai sepupuku kepada Sasuke dan Naruto."

Gaara terdiam. Sesekali ia melirik Sasuke dari sudut matanya. Pemuda itu terlihat sangat tertekan.

'Aku bisa mengerti mengapa kau seperti itu Sasuke, tapi lebih baik kau mengetahui kebenarannya daripada kau tidak pernah tahu sama sekali.'

"Lalu, karena kau merasa bersalah kau menuruti semua keinginannya?"

Sakura menghela nafas sebelum mengangguk pelan.

"Ya, karena aku merasa bersalah.. aku menuruti semua keinginanya, termasuk keinginannya supaya Sasuke-kun dan Naruto mengira dirinya mati."

Sakura terdiam. Ia tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Sasuke.

"Dia meminta kau memberitahu bahwa dirinya sudah mati?"

"Ya. Dia memintaku seperti itu. Dia juga memintaku untuk menjauh dari Naruto dan Sasuke-kun."

"Kau mengetahui ini semua? Dan selama ini kau terus merahasiakannya dari Sasuke dan Naruto? Kau bahkan tahu bahwa Suigetsu adalah Kakak tiri Hinata?"

Sakura memejamkan matanya sebelum mendesah kesal.

"Aku tak tahu kalau Suigetsu adalah Kakak tiri Hinata. Aku baru mengetahuinya akhir-akhir ini, setelah aku bertemu dengan Ino. Dan Hinata tidak tahu bahwa aku telah mengetahui hal ini. Oleh karena itu, kumohon, jangan beritahu Hinata dan Suigetsu!"

Gaara menatap Sakura tak percaya.

"Apa kau gila? Kau mengetahui bahwa Hinata dan Suigetsu secara diam-diam berencana menghancurkanmu tetapi kau membiarkannya? Hanya karena rasa bersalahmu?"

Sakura tak menjawab. Ia hanya menatap kosong lantai di ruangan itu.

"Sebenarnya bukan karena itu aku membiarkan Hinata dan Suigetsu."

"Bukan karena itu? Jadi ada lagi alasan mengapa kau melakukan ini semua?"

Sakura terdiam sebelum menghela nafas.

"Aku melakukan ini semua karena seseorang berkata, bahwa dia jatuh cinta pada Hinata sejak pertama kali melihatnya. Dan aku tak mau menghancurkan hatinya jika dia tahu siapa Hinata sebenarnya."

Gaara menatap Sakura tajam. Menyelidiki apakah gadis ini sedang berkata jujur atau tidak. Namun dari ekspresinya Gaara tahu, Sakura tidak sedang bercanda.

"Seseorang yang kau maksud… apa mungkin—"

"Naruto," potong Sakura.

"Jangan bercanda!"

Gaara terdiam. Sebuah suara dingin membuatnya mengalihkan matanya. Menatap sang pemilik suara.

'Sasuke?'

"Setelah semua kebohonganmu, kau pikir aku akan percaya dengan apa yang kau katakan, Haruno Sakura?"

Sasuke menatap Sakura dingin. Meski dalam hati, ia tak ingin melakukan itu. Semua perkataan Sakura cukup masuk akal dan ia tahu, Sakura jujur mengucapkan itu semua. Namun sesuatu dalam hatinya tidak bisa menerima. Sasuke tak bisa menerima kenyataan bahwa Hinata... gadis yang pernah ia cintai, sejahat itu. Ia tak mampu dan tak ingin membayangkan bahwa itu semua adalah nyata.

"Berhenti menyalahkan orang lain Haruno Sakura! Akui saja ini semua kesalahanmu dan jangan memfitnah orang lain!"

'Deg!'

Ucapan Sasuke terasa menusuk jantung Sakura dalam, hingga gadis itu tak bisa berbuat apa-apa. Mata Sakura menatap Sasuke tak percaya. Sementara pemuda yang ia tatap hanya memandangnya dingin tanpa ekspresi.

"Sasuke-kun..."

Sakura berharap dengan memanggil namanya, Sasuke akan melunak tetapi pemuda itu bahkan tak merubah ekspresi wajahnya. Dan Sakura cukup tahu, Sasuke mungkin membencinya sekarang.

Sakura menghela nafas. Ia menatap Sasuke seraya tersenyum lemah.

"Aku tahu kau takkan mempercayaiku setelah aku mengatakan ini. Aku juga tak berharap kau mempercayaiku tapi…"

Sakura terdiam. Setetas air mata mengalir dari sudut matanya.

"Itu adalah kenyataan. Aku memang melakukan ini semua karena tak ingin kau dan Naruto menderita saat mengetahui masa lalu seorang Hyuuga Hinata. Gadis yang kalian cintai."

Sakura mencoba mengatur nafasnya, suaranya sedikit bergetar karena tangisnya.

"Sasuke-kun... aku tak sanggup melihat kalian terluka. Lebih baik aku yang terluka dan menanggung semuanya."

Sasuke terdiam. Perkataan Sakura serta ekspresi wajah gadis itu membuat dada Sasuke ngilu.

'Apa dia sedang berbohong?'

Tidak. Sasuke tahu, Sakura tak sedang berbohong. Namun fikiran Sasuke tidak bisa menerima kenyataan itu. Ia lebih bisa menerima kenyataan bahwa Sakura lah penyebab semua masalah ini tanpa harus membawa Hinata. Meski begitu, mengapa hati Sasuke berlawanan dengan fikirannya.

Sakura mengusap air matanya. Ia menghela nafas sejenak sebelum mengulas sebuah senyum di wajahnya. Ia menatap Sasuke.

"Maaf, kalau aku sudah mengecewakanmu atau sudah membuatmu sedih tapi Sasuke-kun, aku tulus melakukan ini karena aku tak mau kalian berfikir bahwa Hinata gadis yang jahat. Aku tahu, semua ini terjadi karena ulahku. Aku benar-benar minta maaf."

Sasuke tak membalas perkataan Sakura dan hal itu membuat hati Sakura perih.

'Apa kau benar-benar membenciku sekarang, Sasuke-kun?'

Sakura hendak berbicara lagi ketika ia mendengat ponselnya berdering. Sakura terdiam dan mengangkatnya.

"Moshi-moshi?"

"Haruno Sakura, di mana kau?"

'Deg!'

Kedua mata Sakura seketika terbelalak.

"Hozuki Suigetsu?"

"Kau masih mengenal suaraku? Luar biasa!"

Sakura menggertakkan giginya. Entah mengapa ia merasa marah saat ini.

"Apa yang kau mau?"

"Hm, let me see! Kau tahu apa yang ku mau, kan?'

"Ino takkan pernah kuberikan padamu!"

"It's okay! Jika kau tak mau memberikannya padaku maka aku harus memaksamu!"

"Apa maksudmu?"

'Cklek!'

"Brengsek! Woy, Suigetsu sialan!"

Sakura menatap layar ponselnya ketika sesuatu berbunyi menandakan ada pesan masuk. Sakura terdiam sejenak sebelum membuka pesan tersebut. Mata Sakura terbuka lebar saat melihat foto seorang pemuda tengah diikat, lengkap dengan memar di seluruh tubuhnya.

"Na-naruto?"

.

.

"Jadi, kau sudah semangat lagi?"

Ino tertawa kecil mendengar ucapan Tenten. Ia akui, perasaannya kini menjadi ringan dan tidak seberat tadi. Ia tahu, ia harus percaya kepada Naruto.

"Ya. Terima kasih Tenten-senpai."

"Sama-sama, Ino-chan."

Ino menghela nafas. Ia meraih ponselnya dan hendak menekan nomor Naruto, ketika ponselnya tersebut berdering.

"Sakura?"

"Dare?" Tenten menatap Ino.

"Haruno Sakura."

Tenten mengerutkan keningnya sejenak sebelum membuat bentuk 'o' di mulutnya tanda mengerti.

Ino tersenyum sebelum mengangkat telpon dari Sakura. "Moshi-moshi?"

"Ino, kau di mana sekarang?"

"Aku? Mengapa kau tiba-tiba bertanya?"

"Aish! Ada masalah penting. Ini tentang Naruto."

'Deg!'

"Naruto? Ada apa?"

"Ino… sekarang Naruto berada di tempat Suigetsu!"

"Eh? Doushite?"

"Suigetsu… dia ingin kau ditukar dengan Naruto. Dia bahkan menyuruhku untuk tidak melapor kepada polisi. Jika aku menghubungi polisi, mereka akan membunuh Naruto."

Seketika ponsel di tangan Ino terjatuh. Jantung Ino berdetak cepat.

'Apa Hozuki-kun mengetahui semuanya? Semua rencanaku? Apa Hozuki-kun sudah tahu?'

"Ada apa Ino?"

Ino terdiam. Ia menatap Tenten kosong.

"Naruto… kini berada di tangan Hozuki-kun."

"Bagaimana bisa?"

"Wakanai~"

.

.

"Masih tak mau menyerah?"

Suigetsu tersenyum kecil. Sementara Naruto menatap Suigetsu penuh benci.

"Tidak akan pernah!"

"Ow, kau mencintai Ino? Mengapa kau tak mau melepaskannya?"

"Ya. Aku takkan melepaskannya karena aku mencintainya!"

"Sungguh? Lalu bagaimana dengan.. Hyuuga Hinata?"

'Deg!'

Naruto terdiam. Matanya menatap Suigetsu tak percaya.

"Dari mana kau tahu nama itu?"

Suigetsu tertawa sebelum berjalan pelan menuju pintu ruangan tersebut. Ia membukanya dan meraih sebuah tangan dari balik pintu itu.

"…karena Hyuuga Hinata menceritakan semuanya kepadaku, benar 'kan?"

Naruto terdiam. Matanya menatap tak percaya sosok gadis yang kini berada di hadapannya. Gadis itu tampak tersenyum manis seperti dulu. Senyum yang mampu membuat Naruto jatuh cinta padanya.

"Sudah lama tak bertemu, Naruto-kun."

Perasaan Naruto campur aduk. Ia tak tahu harus berkata apa dan melakukan apa.

'Hinata?'

.

To Be Continued

.

.

A/n : Well, seperti yang saya ceritakan di chapter sebelumnya.. chapter kali ini panjang. Fanfic ini memang bersumber dari dua ide yang berbeda, yang kemudian saya gabungkan menjadi satu. Mengenai ide dasar, yang nentuin adalah yang request… author hanya mengembangkannya dan menambah sedikit ide yang mengandung genre family antara Naruto dan MinaKushiZabu. Sankyuu for RnR. Tak lupa juga terima kasih untuk flamers, siders, juga yang nge-fav and follow. See you next chapter! ^^