Wahh, akhirnya chapter terakhir untuk fanfic pertamaku ini. Maaf banget telat updatenya -_- banyak tugas sama ulangan
Makasih banyak buat para pembaca dan reviewers yang nunggu cerita ini ^^ semoga chapter kali ini gak ngecewain :)
DISCLAIMER! Fairy Tail punya Hiro Mashima
PREVIOUSLY
Ini sungguh bagaikan mimpi jadi kenyataan. Semua teman dan sahabatku―semuanya―ke Kota Seni! Hebat sekali.
Orang-orang yang mengenali kami mengucapkan selamat sepanjang jalan menuju lobby sekolah. Ini memang hari terbaik dalam hidupku. Selama belasan tahun aku hidup, tidak pernah aku merasa sesenang ini.
"Hei," Erza menunjuk ke luar pintu lobby. Dia menatap mata Mira dan Levy, lalu ketiganya mengangguk singkat. Apa-apaan ini? Mereka merencanakan sesuatu di belakangku?
Sebelum aku mampu bereaksi, mereka bertiga sudah menyeretku ke depan. Ke arah kerumunan murid-murid itu.
CHAPTER 10
"Hei, apa yang kalian lakukan?" kataku kaget kepada Erza, Mira, dan Levy yang tengah menyeretku ke arah kerumunan murid di lapangan. Mereka saling berteriak dan bersiul dengan luar biasa kencangnya sampai-sampai satpam-satpam yang lagi berjaga di pos memperhatikan dengan heran. Ketika aku sampai di depan mereka, kerumunan tiba-tiba membelah, memberikanku jalan. Ada sekitar seratusan anak di sini dan kerumunan ini terus membelah dan terus membelah. Aku tidak bisa melihat ujungnya tapi Levy dan Mira tetap menyeretku melewati satu demi satu anak, sementara Erza mendorongku pelan-pelan dari belakang.
Akhirnya kerumunan itu benar-benar terpisah menjadi dua kelompok besar, satu di kananku dan satu di kiriku. Lalu aku mengarahkan pandanganku ke ujung jalan ini. Cahaya matahari bersinar terlalu terang sampai aku tak bisa melihat siapa yang ada di ujung. Aku memicingkan mata dan sementara aku lebih dekat beberapa meter dengannya aku akhirnya mengenalinya.
Mira dan Levy menghentikan langkahnya dan tanpa sengaja aku menabrak punggung mereka berdua. Kedua sahabatku ini lalu kompak berjalan meninggalkanku, bergabung ke kerumunan di sebelah kiri.
Erza meremas pundakku lalu berbisik di telingaku, "Dia menunggumu," sebelum akhirnya berdiri di samping Mira.
Aku tidak sanggup menatap matanya karena aku takut jantungku akan berdetak terlalu cepat apalagi di situasi macam ini. Tapi, perlahan kuangkat wajahku dan menemui mata hitamnya yang berkilau sedemikian rupa di bawah cahaya matahari. Aku tersihir, tak dapat bergerak.
Gray maju. Setiap langkahnya membuat jarak di antara kami semakin kecil. Momen inilah momen yang kutunggu-tunggu, yang menjadi inspirasiku menulis lagu dan yang menjadi motivasiku untuk memenangkan kompetisi. Apa ini sungguh menjadi kenyataan?
"Eh-em," Gray berdeham, kelihatan gugup. Ya, bukan cuma dia yang gugup, aku juga nervous.
"Ya?" Aku nggak percaya kalau dalam keadaan seperti ini aku masih bisa bersuara, walaupun hanya sekedar bisikan.
"Jadi..." Gray berhenti sejenak seraya tangannya meraih tanganku dengan mantap dan lembut. "Hari ini mungkin hari bersejarah bagi kita, Luce."
Luce. Panggilan Gray untukku. Aku tidak ingat kapan terakhir kalinya dia memanggilku seperti itu. Dulu sewaktu SMP, hanya dia yang memanggilku begitu dan sampai sekarang pun demikian.
"Luce, kamu udah ngerjain PR belum?"
"Hei, Luce, pulang sekolah mau ke kantin bareng?"
"Kamu mau es krim rasa apa, Luce?"
Panggilan itu sangat akrab di telingaku. Gray selalu memanggilku 'Luce' selama kami duduk di bangku SMP. Tapi, semenjak pertemanan kami merenggang, sejak dia memperingatkanku untuk tidak jatuh cinta pada Natsu, aku tidak pernah mendengarnya lagi. Kecuali saat aku mendengarkan rekaman yang diberikan Gray kepadaku. Dan baru saja dia memanggilku dengan sebutan yang diam-diam sangat kurindukan itu.
Gray mempererat genggamannya terhadap tanganku dan berkata, "Three magic words. Waktunya sudah tepat. Saatnya aku menepati janjiku."
Kalau tadi jantungku berdetak sangat cepat, sekarang berdetak sangat amat cepat. Aku tidak percaya Gray bisa menyebabkan efek samping macam ini―efek samping yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, bahkan ketika aku menyukai Natsu. Barangkali Natsu hanya sekedar orang yang kusukai. Tapi efek samping ini... Mungkinkah... First love?
Sorakan teman-teman di sekelilingku memuncak. Mereka berbahagia untuk kami. Loki yang sekarang berada di ujung barisan sebelah kanan mengangkat tangannya, menyuruh para siswa untuk tenang. Ketika keheningan sudah benar-benar menyelimuti kami, aku rasa aku bisa mendengar detak jantungku dengan jelas.
"I love you... Will you be my girlfriend?" Gray tersenyum gugup. Kulitnya yang biasanya sedingin es sekarang menjadi hangat.
Tapi Luce, terus ingat dan percayalah kalau tiga kata itu cuma buat kamu. Sampai kapanpun.
Jadi... Kau akan menungguku mengatakannya?
Aku janji. Suatu hari akan kukatakan. Kalau sudah pas waktunya.
Inilah waktunya. Bahagia. Senang. Lega. Dan semua emosi lainnya bercampur dalam suaraku ketika aku menjawab, "Ya. Tentu saja." Aku tersenyum, meyakinkannya. "Karena aku sudah menunggu lama. Dan kau juga sudah menunggu lebih lama."
"Indah sekali," ucapku saat kembang api meledak di langit, menyemburkan warna-warna terang di atas langit yang hitam.
Hari ini satu minggu setelah Gray nembak aku. Kami resmi pacaran, lho. Dan untuk memperingatinya, Gray mengajakku ke cafe di pinggir pantai. Kami baru saja menyaksikan acara puncaknya. Kembang api!
"Aku tahu kalau kamu bakalan suka," katanya sambil tertawa kecil. Setelah berhenti tertawa, Gray menunjuk ke arah sebuah stan es krim. "Mau aku traktir?"
Aku tersenyum dan mengangguk. "Hanya kalau kamu juga makan."
Kami mendekati stan itu dan aku mengamati berbagai macam rasa es krim yang tersedia. Mataku tertuju pada es krim berwarna merah muda.
"Es krim vanilanya dua." Gray menyodorkan sejumlah uang ke pemilik stan itu.
Namun aku menghentikan tangannya dan berkata, "Aku ingin stroberi kali ini."
"Bukannya di pestanya Jellal terakhir kamu mengambil yang rasa vanila?" Gray kelihatan terkejut dan dahinya berkerut. "Kukira kamu sudah berganti selera rasa."
Aku menggeleng. "Berkat kamu, aku jadi suka stroberi lagi," kataku malu-malu.
Rasanya hidupku sekarang tidak setawar dan sepolos vanila. Melainkan penuh cinta seperti rasa stroberi. Penuh warna seperti kembang api. Semua perubahan itu terjadi berkat Gray. Mungkin dari dulu hidupku sudah seperti stroberi, tapi aku belum menyadarinya dan terus tenggelam dalam ketawaran dan kepolosan vanila. Dan Gray ada di sini untuk menyadarkanku.
Sementara aku asyik menjilat es krimku, Gray menyikut lenganku dan menarikku ke belakang pohon. Awalnya aku bingung, namun kemudian kulihat sebuah pasangan juga dari kejauhan berdiri di tepi pantai. Pasangan yang sama sekali nggak asing karena setiap hari aku bertemu mereka di sekolah. Mungkin ini tidak sopan, tapi aku dan Gray memutuskan untuk menguping.
"Aku akan memberimu kesempatan," kata si perempuan. Rambut panjangnya berkibar terkena hembusan angin. "Mengingat kamu menepati janjimu. Sudah lihat papan nilainya kan?"
Si cowok sangat antusias menjawab pertanyaan perempuan itu, "Tentu. Aku sudah cukup berusaha kan, Erza?" Dia tertawa bangga.
"Ya... Harus kuakui aku terkesan dengan usahamu." Erza sekarang menatap Natsu dengan lembut. Aku tidak pernah melihat Erza menatap cowok seperti itu. "Aku belum pernah lebih rendah dari peringkat satu, apalagi kalah dari cowok. Kurasa kau sudah membuktikan kalau segala sesuatu itu mungkin, Natsu."
"Kau tahu Erza?" Natsu bertanya sambil membetulkan posisi selendangnya. "Aku menunggu lama sekali tahu."
Erza membalas dengan cepat. "Yaa... Kamu kan tahu sendiri kalau aku keramas lama banget. Aku juga sibuk memilih baju."
"Bukan itu maksudku..." Natsu merengek dan menunduk. Dia tiba-tiba menjadi sibuk memainkan jari-jarinya karena gugup. "Ma-Maksudku menunggu jawabanmu yang lama. Padahal pengumuman nilainya kan ditempel minggu lalu."
"Maaf deh aku baru bilang iya dua hari lalu." Erza tersenyum menenangkan. "Tapi yang penting kita bersama kan sekarang?"
Lalu aku melihat Natsu meraih tangan Erza dan mengajaknya ke cafe tempatku makan bersama Gray. Kurasa semua orang sedang berbahagia. Dugaanku, Erza memang udah dari dulu suka sama Natsu, tapi pura-pura jual mahal saja. Sebagai teman baik Erza, aku juga turut senang kalau dia senang. Soalnya kalau dia lagi bad mood, pasti kamarku jadi suram karena nggak ada yang berani ngomong. Begitulah Erza.
"Jadi..." Gray memecah keheningan di antara kami. "Kamu tadi bilang mau ke Magnolia World kan? Ayo, aku antar," katanya sambil menggandeng tanganku.
Pagi ini suasananya sangat sempurna. Posisi matahari belum terlalu tinggi dan angin bertiup lembut. Setelah melewati puluhan pagi yang sama, rasanya pagi hari ini terasa jauh lebih indah. Mood semua orang lagi bagus, kecuali Jellal yang kelihatan jelas-jelas sedih akibat hubungan Natsu dan Erza. Loki memungut ransel dan kopernya, sambil bersiul naik ke mini bus. Levy dan Mira cekikikan. Bahkan Erza yang biasanya datar-datar saja, tersenyum lebar seraya menarik koper-kopernya. Natsu lalu menawarkan diri untuk membantunya, yang diterima Erza dengan senang hati.
Setelah semua orang sudah berada di atas mini bus, si supir menginjak pedal gas dan perjalanan kami pun di mulai. Perjalanan kami ke Kota Seni yang berlokasi di pinggiran kota Magnolia. Loki langsung mengeluarkan kameranya dan mengambil gambar-gambar kami secara acak. Mira dan Levy berpose imut sambil menunjukkan brosur Kota Seni ke kamera.
Aku, yang tengah berdiri sambil menumpukan beratku ke kursi Levy di depanku dan bergurau dengan teman-temanku, tiba-tiba dikejutkan oleh sepasang lengan dingin yang merangkulku dari belakang.
"Gray!" seruku, terkejut namun jauh di dalam hatiku ada rasa senang karena kami bersentuhan.
Gray melepaskan pelukannya dan maju ke sampingku dengan santai. "Aku tak menyangka kamu bisa dikejutkan dengan mudah." Dia lalu menambahkan, "Cuma bercanda, kok."
"Tanganmu dingin sih," jawabku asal karena aku tidak punya alasan lain untuk menjelaskan pipiku yang mungkin memerah ini.
Gray tertawa kecil dan membalas, "Tapi kamu menyukainya kan?"
Aku mengalihkan pandanganku ke jendela, mengamati setiap pepohonan yang kami lewati sebelum berkata dengan jujur, "Ya."
Sesampainya kami di gerbang Kota Seni, kami disambut rasa takjub. Bukan hanya karena bangunannya yang megah, tapi juga karena rasa bangga dan bahagia. Nggak sembarang orang yang bisa menimba ilmu di Kota Seni. Tempat ini hanya untuk murid-murid berbakat dan terlatih.
"Kita sudah sampai," Jellal akhirnya bersuara setelah sepanjang pagi membisu. "Di sinilah kalian akan menghabiskan waktu liburan kalian selama sebulan. Aku diundang menjadi salah satu instruktur tahun ini. Sedangkan kalian mendapat kesempatan untuk belajar di sini. Artinya, kalian memang berbakat. Dan aku sebagai instruktur sudah sepatutnya merasa bangga."
Tak ada satu pun yang menjawab karena kami sibuk mengamati gedung di hadapan kami.
"Keren kan? Aku dulu juga merasa begitu," ujar Jellal. Senyum tipis mengukir wajah muramnya. "Yah... Sebaiknya kita segera masuk."
"Tunggu dulu!" Loki tiba-tiba berseru. Aku tidak jadi melangkah, begitu pun yang lainnya.
Loki meneruskan, "Bagaimana kalau kita foto dulu? Kenang-kenangan. Jellal, kau juga harus ikut." Dia kedengaran agak memaksa, tapi aku seratus persen setuju dengannya.
Momen ini hanya terjadi sekali. Kami harus menjaga dan mengabadikannya dengan baik. Mungkin saat inilah kesempatan pertama dan terakhir kami, menjejakkan kaki dengan penuh rasa bangga di depan pintu gerbang Kota Seni. Yah, kesempatan kedua bagi Jellal, mengingat dia juga pernah ke sini sebelumnya, dan kemungkinan akan ke sini lagi untuk tahun-tahun berikutnya sebagai instruktur. Tapi, saat ini adalah saat ini. Kami tidak boleh melewatkannya.
Loki menegakkan tripod dan memosisikan kameranya. Dia melakukan beberapa pengaturan lalu kembali berdiri di antara Natsu dan Gray. Kami berbaris, mengatur posisi, dan berpose se-fun mungkin. Bahkan Jellal berusaha untuk kelihatan gembira.
JEPRET!
Loki berlari ke arah kamera kesayangannya dan melihat hasil gambarnya. "Sempurna," ucapnya sambil nyengir.
Loki menunjukkan fotonya kepada kami semua.
Waktu tidak dapat diulang kembali. Waktu terus berjalan, tak pernah berhenti. Detik menjadi menit, menit menjadi jam. Bahkan ketika kami melangkahkan kaki kami, masuk ke Kota Seni, waktu tak pernah berhenti. Saat ini sangat indah. Tapi aku tak dapat membayangkan, seindah apakah waktu kami di tempat ini nanti.
THE END
Argghhh akhirnya selesai juga fanfic pertamaku ^^
Jangan lupa review yah :* mungkin kalo yg review banyak aku bakal bikin sequelnya... tentang Fairy Tail di Kota Seni! ;)
