Precious Love
Lumin
Author : Kyugyu
Rate T, BL
Annyeong~
Gyu balik lagi setelah lama tidak update. Gyu mau minta maaf karena telat update lagi, mungkin readers-nim sudah bosan dengar Gyu minta maaf. Gyu mengakui bahwa keterlambatan update ini sepenuhnya adalah kesalahan Gyu sebagai Author yang tidak bisa menghandle waktu dengan baik, sehingga Gyu keteteran dengan semua aktifitas Gyu di dunia nyata. Selain itu flashdisk Gyu ke format karena virus dan buat semua file ff Gyu hilang. Untuk sekedar informasi Gyu memang selalu nyimpen data ff di FD karena jujur orang disekitar Gyu cukup Kepo dan anti K-pop apalagi fanfiction. Gyu merasa tidak enak hati sama readers-nim semua, mianhae jeongmal mianhae~. Gyu akan terima semua kritik dan saran para readers-nim sekalian dan terima kasih pada salah satu reader yang sudah PM Gyu dan itu baru Gyu buka beberapa hari lalu karena HP Gyu rusak dan mati. Oh iya kalau boleh jujur, Gyu sedih untuk ngelanjutin ff ini, karena setiap Gyu ngetik Gyu pasti inget sama Luhan,Kris, dan Tao yang sudah tidak ada di EXO. Dan kemarin malam Gyu habisin kuota buat liat momen mereka OTP 12 di Y**T***, dan sukses buat Gyu mewek (T_T). Setelah puas sama acara mewek ria , akhirnya Gyu merasa harus membuat mereka tetap bersama meski hanya di sebuah cerita fiksi. Mungkin di antara para reader ada yang mengalami hal serupa dengan Gyu Oh iya kalau para readersnim mau ingetin Gyu buat update atau tanya-tanya, kalian bisa invite/Add Line Gyu (ID : kyunim). Gyu sengaja buat akun baru biar bebas ngobrol soal K-Pop tanpa harus diganggu orang-orang syirik anti K-Pop ^^, jangan lupa kasih tau Gyu dulu yah, soalnya Gyu trauma sama 'orang-orang' itu hehehe.
Sebagai tanda permintaan maaf Gyu update dua chapter sekaligus.
Happy Reading~...
Chapter 10
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ia hanya mengalami hiportemia ringan. Istirahat yang cukup dan makan teratur akan mengembalikan kondisi tubuhnya"
Minseok menghela nafas—lega—saat dokter paruh baya didepannya menjelaskan kondisi namja yang tengah berbaring di ranjang UGD rumah sakit. Namja itu—Sehun—tengah menatap langit-langit ruang UGD dengan tatapan lemah. Beberapa saat yang lalu Minseok nyaris dibuat jantungan saat menemukan Sehun terkulai lemas di bangku taman dengan wajah pucat dan tubuh sedingin es, ia kemudian membawa sehun secepat kilat ke rumah sakit terdekat meski harus menyeret tubuh Sehun yang jauh lebih besar darinya.
"Setelah kondisinya cukup kuat ia sudah bisa pulang dan saya akan memberikan resep vitamin untuk mempercepat pemulihannya" Lanjut dokter sebut kemudian meninggalkan Minseok dan Sehun.
Dengan langkah sedikit ragu Minseok menghampiri Sehun untuk mengecek kondisi namja pucat itu. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Minseok hati-hati, terlebih melihat tampang Sehun yang tidak bersahabat itu.
Sehun melirik Minseok dari sudut matanya, kemudian berkata "Sudah lebih baik. Gomawo"
Meskipun terdengar lirih, tapi Minseok masih dapat mendengar dengan jelas setiap kata-kata Sehun terutama ucapa terima kasih yang membuat hatinya hangat.
"Tidak usah dipikirkan! Itu sudah menjadi kewajibanku" Ucap Minseok sambil tersnyum hangat. "Dokter bilang kau sudah bisa pulang jika kondisimu cukup kuat. Mmm...apa kau ingin aku menghubungi Luhan untuk datang kesini?" Lanjut Minseok.
"Jangan! Jangan pernah menghubunginya! Aku lebih baik mati kedinginan daripada harus mengemis-ngemis padanya" Ucap Sehun penuh emosi.
"Jangan berkata seperti itu! Kau harus bersyukur karena kau masih baik-baik saja saat ini" meski tidak tahu mengapa Sehun marah, Minseok tetap berusaha bersabar dan berbicara sehalus dan sepengertian mungkin.
"Tapi aku tidak mau bertemu dengan si rusa itu lagi" Kata Sehun yang terdengar seperti sebuah rengekan di telinga Minseok.
"Lalu aku harus mengantarmu kemana?Aku tidak menemukan alamat tempat tinggalmu dan aku juga tidak tahu kerabat atau temanmu yang bisa aku hubungi, Sedangkan aku tidak bisa membiarkanmu sendiri tanpa adanya orang yang merawatmu. Bukankah lebih baik jika aku menghubungi Luhan yang jelas-jelas mengenalmu?" Ucap Minseok yang mulai sebal dengan Sehun yang keras kepala.
"SUDAH KUBILANG JANG—AAKKHHH" Sehun mengerang kesakitan saat rasa nyeri itu menyerang kepalanya.
"Sehun! Astaga! Jangan memaksakan diri" Kata Minseok panik, kemudian ia menuntun Sehun untuk kembali berbaring di ranjang.
Minseok menghela nafas lelah, ia berusaha untuk tidak menumpahkan emosinya pada Sehun yang sedang dalam kondisi sakit. Ia tidak mau membuat kondisi Sehun semakin buruk, karena bagaimanapun Sehun adalah kenalan dari atasannya.
"Kau tunggulah disini, aku akan menyelesaikan biaya administrasi dan setelah itu aku mengajakmu pulang ke rumahku, bagaimana? Apa kau setuju?"Kata Minseok sambil mengusap lembut kepala Sehun.
"Hmm" Gumam Sehun
"Aku anggap itu sebagai jawaban iya" ucap Minseok, kemudian segera bergegas menyelesaikan urusannya di rumah sakit ini.
"Noona"lirih Sehun.
.
.
.
Di dunia ini ada tiga hal yang dibenci oleh Byun Bekhyun. Pertama, orang yang jauh lebih tinggi darinya. Kedua, orang yang memiliki senyum seperti orang idiot. Ketiga, namja yang jauh lebih tampan darinya. Kini ketiga hal yang paling dibenci Baekhyun itu tepat berada di depannya dengan wujud seorang namja yang sedang susah payah ia jauhi—Park Chanyeol.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Baekhyun ketus
"Tentu saja untuk menemui Baekpy~. Aku sangat merindukanmu" Jawab Chanyeol sambil tersenyum lebar.
"Memangnya kau tidak punya pekerjaan sampai kau mengikutiku ke Busan?" Kata Baekhyun sama ketusnya. "Dan aku sama sekali tidak merindukanmu" lanjutnya.
Baekhyun mundur beberapa langkah dan berniat menutup pintu kamar hotelnya, namun Chanyeol yang mengetahui niat Baekhyun itu segera menjegal pintu dengan salah satu kakinya dan merangsek masuk ke dalam.
"YAAKK! Apa yang kau lakukan huh? Cepat keluar!"Pekik Baekhyun kesal.
Hati Chanyeol serasa teriris saat Baekhyun menolaknya untuk kesekian kali, ia tetaplah manusia biasa yang dapat marah bila terus disakiti. Dengan mata berkilat tajam, Chanyeol mendorong Baekhyun hingga namja mungil itu terjepit diantara pintu dan dan tubuh besarnya.
"Appo!" rintih Baekhyun saat punggunya membentur keras pintu. Ia menatap tajam namja didepannya, " Apa yang kaummpphh—"
Chanyeol dengan cepat membungkam mulut Baekhyun dan menciumnya dengan kasar. Baekhyun berusaha menorong Chanyeol menjauh dari tubuhnya namun usahanya tersebut sia-sia mengingat tubuh Chanyeol yang jauh lebih besar dan kuat dibanding dirinya.
Chanyeol menekan tengkuk Baekhyun dan merapatkan tubuhnya untuk memperdalam ciumannya. Ia menjilati kedua belah bibir Baekhyun—meminta akses untuk memasuki rongga hangat milik namja manis dipelukannya, namun Baekhyun tetap keras kepala dan membungkam mulutnya.
"AKKHH!" Baekhyun memekik sakit saat Chanyeol menggigit bibirnya dan secara otomatis memberikan akses bagi lidah Chanyeol untuk mengeksplor rongga mulutnya.
"Mpphh...lepashh..ahhnn" desah Baekyun disela ciuman .
Chanyeol menulikan telinganya dari segala protes yang Baekhyun ucapkan dan segala pukulan serta cakaran yang Baekhyun, baginya saat ini yang terpenting adalah menumpahkan semua emosi dan perasaannya pada Baekhyun. Namun, Chanyeol tersentak dan memutus kontak bibir mereka saat indera pengecapnya merasakan cairan asin yang turun membasahi pipi putih baekhyun yang kini berwarna merah karena kesal,marah,dan malu.
"Baek.." panggil Chanyeol—hatinya terasa jauh lebih sakit saat melihat namja yang dicintainya itu meneteskan air mata dengan pilu.
Namja tinggi itu membawa tubuh yang lebih mungil darinya ke dalam pelukannya dan mengusap punggung yang tengah bergetar itu dengan sayang. "Mianhae"bisiknya penuh penyesalannya.
"Hiks..Kau..hiks..memang..berengsek!" ucap Baekhyun sambil memukuli punggung Chanyeol dengan brutal.
"Ya aku memang brengsek...Mian" kata Chanyeol sambil terus mengelus punggung sempit itu.
"Aku..hiks...a-aku...hiks membencimu!"
"Kau boleh membenciku sepuasmu, sayang"
Chanyeol menepuk lembut punggung baekhyun dan secara ajaib tangus Baekhyun mereda. Ia melepaskan pelukannya dan memandang wajah Baekhyun yang memerah dan air mata yang menggenang di mata sipit itu. Dengan lembut Chanyeol menyeka sisia air mata di sudut mata Baekhyun kemudian dengan sayang Chanyeol mengecup kedua mata , hidung, dan bibir Baekhyun.
"Saranghae Baekhyun-ah...jeongmal saranghae" ucap Chanyeol penuh kesungguhan.
"Geotjimal!" ucap Baekhyun sinis
"Kenapa kau selalu saja meragukanku , Baek? Aku tahu aku memang pernah melakukan kesalahan di masa lalu, tapi tdak bisakah kau melihat kesungguhanku?"
"JIKA KAU BERSUNGUH-SUNGGUH LALU KENAPA KAU JUSTRU MENCIUM YEOJA LAIN DI RUANGANMU?!" jerit Baekhyun yang sudah tak mampu menahan perasaannya. "kau menyakitiku Chanyeol" lirih Baekhyun.
"Mencium sia— ASTAGA!"
"Sudah ingat sekarang , Park Chanyeol?" sinis Baekhyun.
"Aku memang berciuman dengan seorang yeoja di ruanganku, tapi yeoja itulah yang menciumku terlebih dahulu! Bahkan itu bukan berciuman tapi hanya sebuah kecupan. Dan yeoja yang mencium ku itu adalah noona ku—Park Yoora"
"M-MWO?"
.
.
.
Minseok tengah mengaduk sup buatannya sambil terus mengawasi Sehun yang tengah terduduk lesu di meja makan yang berada di ruangan yang sama dengan dapur. Ia mencicipi sup butannya dan mematikan kompor saat rasa sup nya sudah pas. Dengan telaten namja mungil itu menata semua masakannya di atas meja makan.
"Sehun-ssi, ayo kita makan" kata Minseok.
Sehun mengangkat kepalanya dan melihat berbagai macam makanan telah tersaji di meja yang tadinya kosong itu dan tanpa sadar perutnya berbunyi saat mencium aroma sedap dari makanan tersebut.
"Nah, ayo makanlah yang banyak~" Kata Minseok sambil menyerahkan mangkuk yang telah berisi nasi kepada Sehun, sementara namja albino itu hanya menganggukkan kepalanya.
Ini adalah pertama kalinya Minseok melewati makan malam bersama dengan seseorang yang bukan keluarga serta sahabatnya, namun meskipun begitu Minseok cukup senang karena ia memiliki teman di meja makan. Sesekali ia melirik Sehun untuk memastikan bahwa namja itu memakan makanannya dengan baik, dan Minseok tersenyum saat Sehun nampak lahap memakan masakan buatannya.
"Apa kau ingin tambah?" Tanya Minseok saat melihat mangkuk nasi Sehun telah kosong.
"Hmm" Dengan malu-malu Sehun mengangguk dan memberikan mangkuk nasinya kepada Minseok, sedangkan Minseok dengan senang mengisi kembali mangkuk kosong itu dengan nasi dan memberikannya pada Sehun.
.
.
"Sehun-ssi, waktunya minum obat!" seru Minseok dari arah dapur. Beberapa menit kemudian Sehun sudah berada tepat dibelakang Minseok yang tengah mencuci piring.
"ASTAGA, SEHUN-SSI! Kau mengagetkanku!" Minseok terkejut saat punggungnya membentur dada bidang Sehun.
"Sehun...panggil aku Sehun tanpa embel-embel ssi" Kata Sehun.
Minseok tersenyum, "Ne Sehun-ah~. Oh iya...apa kau sudah meminum obatmu?"
"Belum—aku tidak tahu dimana kau meletakkan obatnya"
Minseok mematikan keran dan mengeringkan tangannya dengan handuk yang tergantung di samping rak cuci piring, kemudian ia menuntun Sehun untuk duduk di meja makan sebelum ia pergi mengambil obat di laci dapur.
"Minumlah!" kata Minseok sembari menyodorkan beberapa butir obat dan segelas air putih kepada Sehun.
Minseok menatap dengan intens namja di hadapannya. Jika diperhatikan wajah Sehun tidak ada mirip-miripnya dengan Luhan dan entah mengapa kenyataan itu membuat Minseok kecewa. Jika Sehun bukan saudaranya, lalu ada hubungan apa Sehun dengan Sajangnimnya? Apa mungkin mereka sepasang kekasih? Tapi jika begitu, lalu siapa yeoja di foto itu?.
"Katakan saja!" Ucap Sehun membuyarkan lamunan Minseok.
"E-eh..I-itu—"
"Jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, lebih baik kau katakan saja!" Ucap Sehun dengan tatapan dan ekspresi datar andalannya.
Minseok berpikir mungkin inilah saat baginya untuk mendapat titik terang dari segala hal yang membuatnya resah dan bingung. Ia tidak ingin berada di tengah situasi yang tidak ia mengerti dan ia juga tidak ingin menjadi mainan Luhan.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Sajangnim?" Tanya Minseok mantap sambil menatap langsung iris Sehun.
"Ckk, aku sudah menduga kau akan menanyakan ini" Sehun berdecak sebal. " Apa kau menyukai si rusa itu?" tanya balik Sehun dan pertanyaan yang terlontar dari bibir tipis itu sukses membuat pipi chubby Minseok merona.
"A-aku yangpertama kali bertanya , jadi kau harus menjawab pertanyaanku dulu! Aku sudah lelah dengan situasi seperti ini!" Kata Minseok sedikit emosi saat mengingat semua hal yang terjadi belakangan ini.
Sehun menatap Minseok lekat, ia tahu bahwa namja manis di depannya ini memiliki perasaan khusus pada Luhan meskipun masih ragu dan ia tidak dapat menjawab pertanyaan Minseok apabila Minseok tidak bisa jujur dengan perasaannya.
"Jika kau tidak bisa jujur dengan perasaanmu sendiri, maka aku pun tidak dapat menjawab pertanyaanmu! Kebenaran yang keluar dari mulutku akan berpengaruh pada apa yang kau rasakan pada Luhan dan jawabanku mungkin saja akan menyakitimu, jadi lebih baik kau—"
"YA! AKU MEMANG MENCINTAINYA!" Jawab Minseok dengan nafas tersenggal, mata almondnya bahkan sudah berkaca-kaca. Jemari lentik Minseok meremas celananya untuk mencegah isakan lolos dari bibirnya—ia tidak ingin di bilang cengeng atau bahkan lemah.
"Aku sadar bahwa aku juga mencintainya, meski aku tidak tahu sejak kapan rasa ini ada. Karena itulah aku butuh jawabanmu Sehun-ah—aku sudah tidak sanggup menyimpan prasangka terhadap Luhan. Sungguh aku—"
"Uljima!" Sehun menyeka air mata di pelupuk mata Minseok, kemudian menangkup wajah Minseok agar bertatapan dengannya. "Aku akan menjawab semua yang ingin kau ketahui" lanjutnya.
Sehun menarik nafas panjang sebelum menceritakan hubungannya dengan Luhan. " Sebenarnya Luhan adalah mantan kakak iparku!".
"Ka-kakak ipar?" Minseok terbata. Perkataan Sehun bagaikan petir di siang bolong.
"Aku akan menceritakan semuanya" Kata Sehun sambil menatap hujan di luar jendela.
"Ce-ceritakan! Ceritakan semuanya!" Titah Minseok. Ia merasakan perasaan yang campur aduk di hatinya. Minseok senang karena ternyata Luhan dan Sehun tidak memiliki hubungan asmara, tapi ia juga merasakan sakit saat tahu jika Luhan pernah menjadi miliki seseorang secara resmi.
"Aku memiliki seorang noona bernama Oh Sohee, ia adalah seorang yeoja yang cantik dan baik hati, meskipun ia keras kepala. Noonaku bertemu dengan Luhan saat ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studinya di kanada. Aku dan noonaku sangat dekat hingga, ia menceritakan semua hal yang ia lakukan dan alami di kanada, termasuk kisahnya bersama Luhan—"
Sehun menarik nafas panjang untuk meredakan rasa sakit di hatinya saat mengingat kebersamaannya bersama sang noona. Bayangan sang noona muncul dalam pikirannya layaknya kaset yang di putar.
"Awalnya noona ku mengatakan bahwa ia kesal dengan sikap Luhan yang selalu menganggunya bersama dengan teman tiang listriknya—Kris. Namun, lambat laun hati noonaku akhirnya luluh dengan sikap Luhan yang meskipun menyebalkan tapi penuh perhatian... dan mereka pun memutuskan untuk berpacaran. Hubungan mereka berjalan baik hingga noonaku bersedia untuk tinggal di aprtment yang sama dengan Luhan. Namun, tepat sehari setelah hari kelulusan, Luhan berencana memperkenalkan noonaku kepada keluarganya. Noonaku cukup terkejut saat mengetahui bahwa Luhan adalah anak dari pengusaha sukses yang kaya raya, dan hal itu cukup membuatnya takut dan rendah diri dihadapan mereka—"
Tangan sehun mengepal kuat, seakan menahan amarah yang amat besar. Sedangkan Minseok hanya terdiam meresapi cerita Sehun.
" Pada pertemuan itu, Luhan mengungkapkan keinginannya untuk menikahi noonaku dihadapan keluarganya dan respon yang diberikan sungguh sangatlah buruk. Keluarga Luhan terutama nenek dan ibunya menentang habis-habisan keinginan Luhan, bahkan mereka juga menghina dan merendahkan noonaku hanya karena ia berasal dari keluarga sederhana dan mahasiswi beasiswa—"
"Lalu apa yang dilakukan Luhan?" Potong Minseok.
"Luhan membela noonaku. Rasa cinta yang besar membuatnya rela melawan keluarganya. Dengan menggenggam tangan noonaku Luhan meninggalkan pertemuan itu dan memilih untuk pulang ke apartment mereka. Beberapa minggu setelah hari itu, Luhan memutuskan untuk menikahi noonaku meskipun hanya secara agama saja dan lagi-lagi karena cintalah noonaku menerima lamaran Luhan—"
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Mengapa mereka bercerai?Apa yang mebuat mereka berpisah?" tanya Minseok penasaran meskipun hatinya kini telah berdarah membayangkan Luhan yang mencintai orang lain dengan begitu tulus.
"Mereka tidak bercerai—" Sehun menahan sakit yang menyesakkan dada. "Mereka dipisahkan oleh kematian" lanjutnya dengan nada pedih.
"Ke-kematian?"
"Pernikahan yang dilakukan Luhan dan noonaku sampai ke telinga keluarga Luhan dan mereka tidak tinggal diam. Mereka berusaha membuat Luhan meninggalkan noonaku, tapi gagal karena Luhan mengancam akan meninggalkan keluarganya. Khe...mereka dengan rencana licik mereka berpura-pura menerima noonaku, bahkan mereka bersikap ramah terhadap orang tua ku. Atas permintaan mereka, Luhan memboyong noonaku untuk tinggal di mansion utama keluarga Xi...dan dari situlah penderitaan noonaku dimulai—"
"Mereka berpura-pura baik pada noonaku di depan Luhan dan memperlakukannya dengan buruk saat Luhan tidak ada di dekat noonaku. Noonaku terus menerima berbagai siksaan batin dari mereka dan ia pun di perlakukan seperti seorang pelayan di mansion itu—"
"Kenapa kau tidak mengataknnya pada Luhan?" sela Minseok
"Karena noonaku dengan bodohnya mengatakan bahwa semua itu hanya ujian dan ia percaya bahwa suatu hari nanti keluarga Luhan akan menerimanya. Namun, hari itu tidak kunjung tiba—yang ada noonaku mengalami stress berat setelah keluarga sialan itu membuat ayah kami meninggal terkena serangan jantung karena di PHK secara sepihak dan ibu kami yang tidak lama menyusul ayah kami. Noonaku tahu bahwa ini adalah perbuatan keluarga Luhan dan ia mencoba memberitahu Luhan yang semakin sibuk di kantor, tapi Luhan mengatakan bahwa apa yang dikatakan noonaku hanyalah prasangka buruknya terhadap keluarga sialan itu dan Luhan hanya menanggapinya dengan meminta noonaku untuk terus bersabar disisinya. Hingga malam itu—"
"ia memutuskan untuk bunuh diri"
Minseok membekap mulutnya—menahan isakan yang lolos dari bibirnya, air matnya pun mengalir deras membasahi pipi putih bersihnya.
"Ia sudah tidak sanggup menahan semuanya, hingga ia memilih untuk meninggalkan semua yang ia miliki, termasuk diriku—satu-satunya keluarga yang ia miliki" ucap Sehun lirih dengan air mata yang mengalir. Pikirannya melayang pada kata-kata terakhir sang noona yang ia dengar lewat telepon.
"Hunnie~. Noona sungguh sangat menyayangimu, maaf noona tidak bisa menahannya lagi. Mianhae...jeongmal Mianhaeyo Hunnie~"
"Noona ada apa denganmu,eoh? Kembalilah ke korea, Noona! Tinggalkan rumah terkutuk itu! Aku akan bekerja keras agar dapat membahagiakanmu noona!"
"Jika mencintai akan membuat noona merasakan sakit dan membuat keluarga kita menderita, maka sedari awal noona tidak akan pernah mau untuk jatuh cinta kepadanya. Sehunnie, jangan menyalahkan siapapun, arrachi? Ini semua adalah salah noona yang telah berani mencintai seseorang yang tidak pantas untuk noona mu ini"
"Noona, Hajima! Kumohon..hiks...jangan berkata seperti itu! Hajima!"
"Saranghae... Mianhae"
GREPP
"Hiks...Jangan di teruskan...hiks...Jangan! Mianhae~" Minseok memeluk tubuh Sehun yang gemetar karena menahan tangisannya. Ia membawa tubuh yang lebih tinggi darinya kedalam pelukan hangatnya dan menyalurkan bahwa ia juga merasakan kesedihan yang sama seperti yang namja pucat itu rasakan.
Sehun melepaskan pelukan Minseok dari tubuhnya dengan pelan, kemudian ia menangkup wajah Minseok dan menatapnya dalam. Jemari Sehun menghapus liquid bening yang terus mangalir dari dari mata indah itu.
"Seharusnya aku tidak bercerita jika itu membuatmu menangis seperti ini" Ucap Sehun lembut. Entah mengapa melihat wajah Minseok mengingatkannya pada wajah sang noona yang telah meninggalkannya. Saat rasa rindu itu membucah, Sehun menarik Minseok ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat.
"Kenapa kau mirip sekali dengannya?" Lirih Sehun. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Minseok—mencoba menghirup sebanyak mungkin aroma Minseok yang menenangkan.
"A-apa maksudmu, Sehun-ah?" Tanya Minseok.
Sehun tak menjawab. Ia melepaskan pelukannya pada tubuh Minseok dan mengeluarkan ponselnya dan sibuk mencari sesuatu disana.
"Lihatlah! Ini adalah noona ku" Kata Sehun sambil menunjukkan potret seorang yeoja yang tak asing dimata Minseok.
"I-ini...J-jadi ini noona mu?" tanya Minseok terbata—sungguh ia tak menyangka bahwa foto yang ia temukan di laci kerja Luhan adalah foto seorang yeoja yang pernah menjadi orang terdekat Luhan.
Sehun mengangguk, kemudian berkata " Jika diperhatikan wajah mu sangat mirip dengan wajah noonaku. Yang membedakan kalian hanyalah model rambut dan sedikit garis maskulin di wajahmu".
Minseok mengambil ponsel Sehun untuk dapat melihat wajah yeoja itu lebih jelas dan benar saja jika wajah mereka memanglah mirip. Dengan tangan gemetar Minseok mengembalikan ponsel Sehun dan berlalu meningalkan namja pucat itu yang menatapnya bingung.
"Kau ingin pergi kemana?" Tanya Sehun.
"A-aku hanya ingin masuk ke dalam kamar. A-aku lelah dan...dan ingin istirahat" Jawab Minseok dengan suara parau.
.
.
Disinilah Minseok sekarang, meringkuk dan menangis dalam diam. Ia sakit. Terlalu banyak kebenaran yang ia dapatkan dan salah satunya adalah tentang kemiripannya dengan wajah Oh Sohee—mantan Istri Luhan.
Segala pikiran berkecamuk di kepalanya dan hatinya seakan di aduk oleh berbagai macam perasaan yang membuat dadanya sesak. Ia menggigit selimut yang dipeluknya untuk meredam tangisannya. Ia tidak mau Sehun mendengar dan melihat sisi lemah dirinya.
'Apa mungkin Luhan menaruh rasa padaku karena wajahku mirip dengan mendiang istrinya?'
'Apa mungkin aku hanya dijadikan pengganti dan pelampiasannya?'
'Apa semua perhatian dan cinta Luhan adalah semu?'
Hati Minseok semakin sakit saat pikiran-pikiran negatif itu bermunculan di kepalanya. Sungguh ia tidak menyangka bahwa jatuh cinta akan semenyakitkan ini. Luhan adalah orang pertama yang mampu membuat hatinya berdebar kencang dan orang pertama yang membuatnya menangisi namja menyebalkan itu seperti orang bodoh. Minseok bukanlah orang yang senang dibanding-bandingkan dengan orang lain dan ia tentu tidak akan sudi bila hanya dianggap sebagai pengganti, tapi di satu sisi ia tidak akan sanggup untuk menjauhi Luhan—karena ia memang telah jatuh cinta pada namja itu.
.
.
.
Minseok bangun dengan perasaan yang lebih baik setelah menangis semalaman. Ia bergegas bangun dan mandi. Ia meringis ketika melihat penampilannya yang sangat mengerikan di cermin wastafel. Dengan cepat ia mulai membersihkan dirinya dan setelah selesai ia menuju kembali ke kamar dan dirasa penampilan terutama wajahnya jauh lebih baik ia keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Minseok tersenyum kecil saat melihat Sehun yang masih tertidur di Sofa.
Ia membuka kulkas dan mengeluarkan semua bahan yang ia perlukan untuk membuat sarapan. Jari-jari lentiknya nampak terampil saat mencuci dan memotong sayuran. Ia pun tidak lupa untuk membuat teh dan susu untuk Sehun.
Drrt...Drrt..Drrrt
Minseok mencuci dan mengelap tangannya saat merasakan ponselnya bergetar dan ia tersenyum kecil saat melihat siapa orang yang menelponnya sepagi ini. Kemudian ia menyentuh tombol loudspeaker agar dapat berbicara dengan si penelpon sambil tetap melanjutkan kegiatan memasaknya.
"Yobseo, Jongin-ah~. Ada apa pagi –pagi kau sudah menelpon?"
"kkk, Apa aku menganggumu?" terdengar nada jenaka dalam pertanyaan Jongin.
"Aniyo. Hanya saja apa kau tidak pergi bekerja?" Tanya Minseok sembari memasukkan potongan sayur ke dalam panci.
"Sebentar lagi aku berangkat. Bagaimana denganmu? apa kau tidak bekerja hari ini?"
"Mmm..itu...aku sedang mengambil cuti, temanku sakit dan tidak ada yang merawatnya" Ucap Minseok bohong. 'Mianhae Sehun-ah' batin Minseok.
"Benarkah? Apa teman yang kau temui kemarin?"selidik Jongin
"N-ne" jawab Minseok gugup. "Oh iya sebenarnya ada apa kau menelponku?" tanya Minseok, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ah...hampir saja aku lupa! Tadinya aku ingin menanyakan keadaanmu, karena aku merasa khawatir padamu yang pulang sendirian. Tapi, sekarang aku lega karena kau baik-baik saja"
"Gomawo karena sudah mengkhawatirkan aku" ucap Minseok tulus.
"Minseok-ah, apa kau punya waktu siang ini? Aku ingin mengajakmu minum kopi dan makan cake di sebuah cafe yang baru buka" ajak Jongin, dari suaranya saja nampak bahwa kini Jongin tengah malu.
"Hmmm, baiklah. Nanti kau kirimkan saja alamatnya"
"Benarkah? Kalau begitu kita bertemu jam 1 siang nanti, aku akan mengirim alamatnya ke email mu" Minseok tersenyum mendengar antusiasme Jongin di sebearang sana.
" Jongin-ah, lebih baik kita tutup teleponnya. Aku rasa kau akan telat jika tidak berangkat sekarang" kata Minseok sambil melirik jam dinding di ruang tamu yang menghadap langsung ke dapur.
"Baiklah, sampai jumpa nanti siang Minseok-ah"
"Ne"
Minseok memasukkan kembali poselnya ke dalam saku celana setelah Jongin mematikan sambungan teleponnya. Kemudian iya kembali melanjutkan acara masaknya.
"Apa kau akan pergi dengan namja itu?
"ASTAGA, SEHUN KAU MENGAGETKANKU" pekik Minseok terkejut sementara Sehun hanya mengedikkan bahunya acuh dan duduk di meja makan.
"Apa kau akan pergi?" tanya Sehun.
"ya begitulah" jawab minseok sembari meletakkan segelas susu di hadapan Sehun, lalu mendudukan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Sehun.
"Bukannya kau mencintai Luhan? Lalu kenapa kau masih memberi harapan pada namja yang menelpon mu?" terdengar nada tidak suka dalam suara Sehun.
Minseok menghentikan tangannya yang baru saja akan mengambil makanan saat mendengar pertanyaan Sehun. Dilihatnya Sehun yang menatapnya penuh selidik, entah apa yang tengah dipikirkan namja pucat itu.
"Aku rasa...aku harus memikirkan kembali perasaanku ini. Dan aku juga tidak memberikan harapan apa-apa pada Jongin, kami hanya teman" Ucap Minseok sambil memainkan sumpitnya.
Sehun menghela nafas, kemudian berkata , " Kau harus lebih peka lagi Minseok! Dari nada suaranya saja aku bisa tahu kalau dia memiliki rasa padamu".
"Aku pikir kau membenci Luhan? Tapi saat ini kau seperti membelanya" Kata Minseok .
"Ugh...itu...karena apa yang kuceritakan tadi malam padamu hanya berasal dari sudut pandangku saja. Aku rasa tidak bijaksana jika kau menjauhi Luhan hanya karena mendengar ceritaku, setidaknya kau harus mendengar penjelasan Luhan tentang semua bukan membelanya, hanya saja...hanya saja aku tidak mau kau menyesal jika suatu saat kau menyesal meninggalkan Luhan tanpa mendengar penjelasannya" Sehun berkata tanpa menatap Minseok, ia memalingkan wajahnya guna menyembunyikan rona malu di pipinya.
Sebenarnya, semalam bukan hanya Minseok saja yang berpikir tentang masalah ini. Sehun pun tak mampu memejamkan matanya dan terus terjaga dan memikirkan semua hal yang terjadi pada masa lalu mereka. masa lalunya, noonanya, dan Luhan. Hatinya kecilnya seakan terbuka bahwa kematian noonanya secara langsung bukanlah kesalahan Luhan. Mungkin orang lain akan berpikir bahwa dirinya adalah seorang yang plin plan, namun terkadang manusia membutuhkan proses dan waktu untuk menerima hal pahit di dalam hidup ini.
Ia tidak mau menyesal karena telah menceritakan masa lalu Luhan dan Noonanya. Ia tidak mau Minseok dibutakan amarah dan sakit hati hingga menolak hati kecilnya yang menjeritkan kata cinta untuk mantan kakak iparnya itu. Ia tidak ingin Minseok menyesal...
"Pikirkanlah" ucap Sehun,kemudian ia memakan sarapannya dengan tenang.
"Akan ku pikirkan"
.
.
.
Minseok duduk menatap ke luar jendela. Ia kini tengah menunggu Jongin yang katanya akan datang terlambat karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya terlebih dahulu sebelum bisa menemui Minseok di Cafe tersebut.
Mata almond itu menatap lurus ke depan. Pikirannya melayang jauh memikirkan perkataan Sehun tadi pagi. Ia tersenyum miris menyadari bahwa semua perkataan Sehun benar adanya, tapi tetap saja Minseok merasa takut. Ia hanya manusia biasa dan untuk 'hubungan' seperti mereka yang sangat sensitif, tentu kepercayaan sangat sangatlah penting.
"Hahh~" Minseok menghela nafas.
" Jika Kau terus menghela nafas seperti itu, maka kebahagianmu akan habis"
Minseok menoleh dan mendapati sosok Jongin yang tengah berdiri dihadapannya sambil tersenyum tampan menjurus mesum saat melihat Minseok yang nampak manis sekaligus menggoda . Bagaimana tidak? Saat ini Minseok menggunakan sweater rajut lengan panjang berwarna hijau pastel dengan kerah baju yang sedikit lebar yang mempertontonkan sedikit kulit bahunya yang putih mulus. Wajahnya yang bulat semakin menggemaskan dengan rambut honey brown nya yang dibiarkan sedikit berantakan tanpa minyak atau gel rambut.
"Maaf, apa kau sudah menunggu lama?" tanya Jongin sembari mendudukan dirinya disebelah Minseok.
"Tidak, aku juga belum terlalu lama sampai disini" Jawab Minseok sambil sedikit menggeser posisi duduknya menjauhi Jongin. Ia merasa tidak nyaman jika terlalu dekat dengan orang yang sebenaranya baru dikenalnya. Jongin terlalu agresif meskipun enak diajak mengobrol karena pembawaannya yang santai.
" Apa kau sudah memesan?"Tanya Jongin
" Belum, aku menunggu mu" ucap Minseok .
"Kalau begitu biar aku yang traktir sebagai permintaan maaf ku" Kata Jongin , kemudian ia beralih melihat buku menu untuk memilih makanan dan minuman yang akan dipesannya.
.
.
"Ish...makhluk hitam itu benar-benar cari kesempatan" gerutu namja pucat a.k.a Sehun. Yap...Sehun yang merasa khawatir dengan Minseok dan kekhawatiran Sehun semakin menjadi saat melihat siapa namja yang ditemui Minseok itu.
Namja itu adalah Si Hitam yang mengaku Eksotis a.k.a Kim Jongin. Bagaimana Sehun bisa mengenal Jongin? Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa dunia itu sempit, karena Sehun dan Jongin merupakan rival sekaligus teman sekelas saat SMA dulu. Tiga tahun berturut-turut selalu sekelas dengan Jongin membuat Sehun hafal dengan semua sifat dan kelakuan bejat playboy cap botol kecap itu.
"Minseok, benar-benar tidak peka! Bagaimana ia bisa membiarkan namja yang separuh otaknya berada di selangkangan itu mendekatinya? Aish aku harus benar-benar mengawasi Minseok dan namja kelebihan testosteron itu!" Gerutu Sehun.
Dapat dilihatnya Jongin dan Minseok yang asyik mengobrol diselingi dengan candaan yang terlontar dari mulut Jongin. Sesekali Sehun menggeram kesal saat melihat tangan Jongin yang beberapa kali mencuri-curi kesempatan menyentuh tubuh Minseok.
"Yakk! Apa yang mau dilakukan si hitam itu?"
Mata Sehun terbelalak saat melihat Jongin yang mendekatkan wajahnya kearah Minseok yang sedang menutup mata—entah apa yang membuta namja chubby itu sampai memejamkan mata.
Dengan langkah besar dan dihentak dengan keras, Sehun menghampiri meja Minseok dan Jongin. Sepertinya namja albino itu sudah kehabisan kesabarannya dan berniat memberikan pelajaran pada Jongin. Mungkin ia akan sedikit memberikan tonjokan di pipi tan itu.
.
.
'Omona~ kenapa bisa ada makhluk semanis dan semenggoda dia? Ahh..Tuhan pasti sangat menyayanginya hingga memberikan semua hal yang indah pada dirinya' batin Jongin.
"Jongin-ah , ada apa? Apa ada sesuatu diwajahku?" Tanya Minseok yang heran melihat jongin yang terus saja menatap wajahnya.
"Eoh..? A-ani hanya saja mata mu sangat indah dan bentuknya sangat lucu" ucap Jongin gugup karena kepergok memeperhatikan Minseok.
"Ugh...bilang saja kalau mataku ini aneh kan?" Minseok mempoutkan bibir merah alaminya saat mendengar jawaban Jongin yang ia salah artikan bukan sebagai pujian.
Jongin mengigit bibirnya gemas. Ingin rasanya ia mengecup,mengulum, dan mengigit bibir tipis itu. Jantungnya berpacu cepat dan memompa aliran darah lebih cepat dan banyak ke seluruh tubuhnya termasuk ke 'adiknya' yang tertidur.
"A-ani...mmm...bentuk mata mu memang sangat indah dan menggemaskan" jawab Jongin senormal mungkin tanpa menunjukkan gairahnya. Ia merutuk otak mesumnya yang bekerja lebih cepat dibanding saat mengerjakan tugas kantornya.
"Benarkah? Lihat! Mataku besar tapi hanya memiliki satu garis mata, bukankah itu aneh?" kata minseok polos sambil mengedip-ngedipkan matanya untuk menunjukan garis matanya yang hanya segaris.
"Coba pejamkan matamu. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas" kata Jongin penuh makna tersirat, dan dengan mudahnya dituruti Minseok.
"Jangan buka matamu sebelum aku bilang ya! Aku akan memfotonya agar aku bisa menunjukan bahwa kau punya mata yang indah" kata Jongin yang tentu saja adalah kebohongan karena ia sama sekali tidak menyiapkan ponselnya untuk memfoto minseok.
"Ne" Ucap Minseok sambil mengangguk imut.
'Jongin inilah saatnya! Kau harus bisa merasakan bibir tipis dan kenyal itu! Lalu ucapkan perasaanmu dan jadikan ia milikmu!' Batin Jongin dengan segala pikiran kotornya.
Dengan penuh tekad Jongin mendekatkan bibirnya ke wajah Minseok. Jantungnya berdetak cepat dan bagai adegan di drama yang sering ibunya lihat, ia memejamkan matanya. Sedikit demi sedikit jarak diantara mereka menipis dan kemudian ...
BUGGHH
"Brengsek!"
T.B.C
Read and Review
Juseyo~
Saran dan Kritik diterima, so jangan ragu memberikan masukan pada ff ini
