Title : Through The Years
Genre : Romance/Fluff
Characters : Main! HunHan
Length : Chaptered (setiap chapter berisi drabble)
Summary : Kejadian-kejadian di kehidupan Sehun dan Luhan yang tumbuh bersama
Disclaimer : The Story is not mine! The translation in mine! This story belongs to rosavine and blake_maclaren
The original story can be found at asianfanfics . com story/view/690323/through-the-years-drabbles-fluff-romance-luhan-sehun-hunhan
Thanks for the authors who give me permission to translate it^^
Warn : Typo(s), aneh, rancu.
Payback
Ada suatu saat dimana Luhan yang berumur delapan tahun harus menahan teriakannya pada tiga bocah lelaki yang mendorongnya ke dinding. Tidak ada jalan keluar dan satu-satunya jalan untuk lolos dari situ adalah berkelahi. Berkelahi bukan pilihan yang dia pilih untuk keluar dari masalah ini atau keadaan apapun itu. Dia tidak akan menggunakan tinjunya kecuali itu benar-benar di butuhkan.
Untuk situasi ini Luhan bisa saja melawan tapi Luhan tidak yakin kalau dia dapat menangani tiga bocah ini sendirian. Kalau hanya satu atau dua, dia bisa menanganinya karena dia petarung yang cukup baik. Tapi di sini ada tiga bocah dan berkelahi tidak akan membantu. Lagian bocah-bocah itu lebih tinggi darinya, lebih besar darinya dan terlihat lebih tua darinya. Hanya karena nasib nya saja sehingga dia dijadikan sasaran oleh mereka.
"Kau terlihat seperti perempuan, kau yakin kau anak laki-laki?" salah satu dari mereka mencibir.
"Lagian apa yang dilihat anak-anak perempuan darinya?" anak yang lain bertanya.
Ini salah satu masalah yang menyebabkan orang memutuskan untuk membullynya, karena dia sangat disukai. Dia menebak kalau ini adalah alasan Sehun memperingatinya agar berhati-hati sebelum mereka masuk ke kelas masing-masing pagi tadi.
Yang membuatnya bingung, kenapa orang-orang ini harus mengganggu nya? Kalau diganggu karena banyak disukai, mengganggu Sehun lebih masuk akal, lagipula siapa yang berani membully Sehun? Teman-teman nya mungkin ketakutan saat itu juga.
Satu dari mereka mencoba memegang pergelangan tangan Luhan dan yang lain menggapai celana Luhan. Tapi sebelum mereka sempat melakukan itu, Luhan memukul wajah anak itu. Wajah anak itu terlihat sangat berharga untuk dilewatkan dan jika Luhan tidak berada dalam situasi ini, dia mungkin sudah tertawa. Setelah bocah-bocah itu menyadari apa yang terjadi dan satu dari mereka mengangkat lengannya bersiap-siap memukul Luhan.
Sebelum pukulannya sampai ke wajah Luhan, anak itu terdorong ke lantai. Sehun berdiri di depan Luhan, menatap tajam ketiganya. Menelan ludahnya perlahan, bocah-bocah itu melangkah mundur tanpa disadari.
Sehun menoleh pada Luhan, memeriksa Luhan sampai dia melihat pergelangan tangan Luhan, "Siapa?" Siapa yang membuat ini?"
"Biarkan saja, Sehun." Luhan menahan lengan Sehun karena jika mereka berkelahi, mereka semua akan dikenai detensi. Sehun adalah salah satu murid terkenal di sekolah dan dia tidak seharusnya terkena detensi karena bocah-bocah bodoh ini. "Mereka hanya membuang waktumu- "
Luhan bahkan belum menyelesaikan kalimatnya dan Sehun sudah meninju anak itu. Luhan sudah mau ikut berkelahi ketika Jongin datang. Dia meminta Luhan untuk tetap di sana dan hanya melihat mereka berdua.
Semua terjadi begitu saja dan semua nendapat detensi kecuali Luhan karena Sehun meyakinkan kalau Luhan tidak bersalah. Sebenarnya guru-guru terkejut karena Sehun terlibat perkelahian tapi dia memang berkelahi jadi mereka tidak punya pilihan kecuali menghukumnya juga.
.
.
.
"Berhenti tersenyum seperti itu," Sehun berkata dengan kejengkelan di suaranya mengelus pipinya sendiri, "Itu mengerikan."
"Apa ini imbalan?" kata Luhan, senyum lebar masih di wajahnya. "Kau ingat waktu saat aku melindungimu?"
"Kau sengaja bertanya?" Sehun bertanya retoris. "Aku tidak ingat hal itu."
"Itu terjadi saat kita berumur empat atau lima tahun, saat itu kau masih lebih pendek dariku dan ada anak-anak yang mengganggumu karena cara bicaramu yang tidak jelas." Luhan mengingatkan Sehun, senyumnya bertambah lebar. "Kau ingat sekarang?"
"Tidak." Sehun bersikeras tapi ada senyum kecil di wajahnya saat mengingat bagaimana Luhan membelanya mati-matian.
Luhan bangkit dari lantai dan menghampiri Sehun yang ada di ranjangnya. Luhan mengacak rambut Sehun, dia tau seberapa bencinya Sehun terhadap hal itu. "Sehunnie, sejak kapan kau jadi lebih tinggi dariku?"
"Aku selalu lebih tinggi." Sehun menunjuk Luhan. "Kau saja yang tidak sadar."
"Sehunnie, sejak kapan posisi kita berubah? Biasa aku yang selalu melindungimu, sekarang sudah terbalik." Luhan bertanya, mengambil kotak P3K dari Sehun. "kau tumbuh dengan sangat baik. Aku bangga padamu."
"Jadi biarkan saja aku melindungimu, oke? Mulai sekarang, jangan libatkan dirimu dalam perkelahian apapun. Beritahu aku jika ada sesuatu yang mengganggumu." Sehun membiarkan Luhan membersihkan lukanya. "Jika ada orang yang mengganggu mu, aku akan ada untuk mu."
"Bagaimana dengan membuat Jongin berhenti memanggil ku Tuan Putri?" Luhan menyarankan.
"Yang itu? Kau harus memberitahu nya sendiri." Sehun meringis saat Luhan menempelkan plester dengan tambahan sedikit tenaga.
-x-end-x-
T/N : Makasih bgt sebelumnya yang udh memberi Park semangat buat nulis...
o ya,, Park mw ksh tau aja bagi yg g tw, A/N itu Author Note, bearti di buat oleh penulis nya, sedangkan T/N itu Translator Note, bearti yang menerjemahkan nya. Karna bukan Park yg membuat ff ini jdi Park pikir pake T/N aja sbg pembeda A/N.
Untuk guest bernama Line96, kalau Park bongkar semua ceritanya jdi ga seru dong.. Kalau mau tau ceritanya tunggu aja ya, atau mau baca ff aslinya juga gapapa kok.
Sekali lagi Big Thanks buat semua review, yang udh favorite, dan follow. Juga siders yang ngotot amat ngak mau review - _ -.
Last but not least, review again please?
