Park Chanyeol/Byun Baekhyun

The Sweetest Things

Book II: The Circus of Sorrows


Now the years go by,

and my heart—

has hardened.


Chapter 9: A Heavy Heart


Kekhawatiran Chanyeol terbukti. Tengah malam anak itu tiba-tiba saja menggigil dan Chanyeol langsung menyumpahi diri sendiri karena anak itu terserang demam. Ia mengecek suhu badan Baekhyun, mengompres dahinya, dan secara teratur mengganti air di dalam baskom. Baekhyun tidak tampak kesakitan tapi dahinya berkerut dan ia kelihatan lelah sekali. Malam itu Chanyeol tidak tidur karena sibuk mengkhawatirkan temannya dan takut sesuatu yang buruk terjadi. Untung saja jam empat pagi demam anak itu turun dan ketika akhirnya Baekhyun tidur dengan ekspresi nyaman dan damai seperti malaikat, baru Chanyeol bisa menghela napas lega.

Selama berjam-jam Chanyeol duduk di tepi ranjang, menatap wajah anak itu dari dekat. Pada saat itu ia membiarkan emosinya meluap tanpa harus menutupinya lagi. Sejujurnya, ia lelah sekali. Chanyeol bukannya tidak berusaha. Ia tidak pernah mau mengangkat telepon dari Baekhyun dan menolak pesan suara dari temannya karena ia tahu itu akan menggoyahkan pertahanan dirinya. Satu-satunya yang Chanyeol lakukan adalah mengirim surat dan email.

Tahun pertama tanpa Baekhyun merupakan neraka. Ia memikirkan anak itu di mana-mana, bahkan ketika ia tidak sengaja melihat anak kecil yang duduk di ayunan di taman dekat apartemennya. Tapi ia terus berusaha. Chanyeol bahkan secara terbuka menerima ajakan kencan dari gadis-gadis di kampusnya dan mencoba dekat dengan mereka. Tapi kemudian bayangan Baekhyun yang sedang tersenyum seperti orang yang tidak memiliki beban hidup menghancurkan segalanya.

Chanyeol pikir ia sudah berhasil mengendalikan hatinya, bahwa ia akan baik-baik saja tanpa Baekhyun di sisinya. Tapi kemudian anak itu muncul di depan pintu apartemennya, kelihatan luar biasa bahagia di pelukan Chanyeol. Pada saat itu Chanyeol tahu perasaannya masih sama seperti dulu ketika ia pertama kali menatap mata Baekhyun yang indah sekali saat mereka masih kelas tujuh.

"Lihat apa yang sudah kau lakukan padaku, Baekhyun." bisik Chanyeol di dalam kegelapan. Ia mengusap wajah temannya, merasakan jantungnya berdebar ketika anak itu seperti tersenyum di dalam tidurnya.

Malam itu Chanyeol tidur di sofa yang tidak nyaman dan bangun dengan hati remuk redam karena terlalu mencintai temannya.


Baekhyun sedang menonton televisi sambil meminum susu kotak yang sudah Chanyeol siapkan saat pintu apartemen diketuk dari luar. Anak itu bangkit menuju pintu, hendak menyapa siapapun yang ada di depan pintu, tapi langsung berhenti begitu melihat seorang perempuan yang tinggi dan cantik berdiri dihadapannya.

"Siapa?" tanya anak itu, tidak sadar bahwa nadanya terdengar agak kasar.

Perempuan itu tersenyum. Dan Baekhyun tidak tahu kenapa ia merasa sangat tidak nyaman melihat kilat di dalam mata perempuan itu, seolah-olah ia mengetahui sesuatu yang tidak Baekhyun ketahui.

"Chanyeol ada? Kemarin saat di Gansu aku meminjam hoodie-nya."

"Oh. Silakan masuk."

Mengabaikan perasaan aneh di dadanya, anak itu menyingkir untuk memberi jalan. Perempuan itu masuk ke dalam, menaruh sepatunya di rak di sebelah sepatu Chanyeol dan Baekhyun gatal sekali ingin bertanya siapa gadis itu sebenarnya. Dan kenapa pula Chanyeol meminjamkan hoodienya pada gadis itu? Sekarang tangan Baekhyun gatal sekali ingin merebut hoodie yang dibawa gadis itu dan memberitahu Chanyeol bahwa ia tidak boleh meminjamkan bajunya secara sembarangan.

Mereka lalu duduk di sofa sambil menonton Mulan, disney favorit Baekhyun, tapi anak itu sama sekali tidak nyaman karena perempuan itu kelihatan nyaman sekali seolah sudah sering kemari. Ia dengan sopan mengenalkan namanya pada Baekhyun tapi tidak menyebut mengenai statusnya dengan Chanyeol dan anak itu cuma bisa menggumamkan namanya dengan ekspresi linglung.

Tiba-tiba saja pemikiran bahwa Chanyeol sudah memiliki kekasih membuat pikiran Baekhyun mendadak blank.

"Nana?"

Nana menoleh ketika Chanyeol memanggil namanya. Gadis itu bangkit menghampiri Chanyeol dan Baekhyun cuma bisa duduk di sofa sambil menonton mereka berdua. Mata Baekhyun berkedut melihat jarak mereka yang terlalu dekat.

"Chanyeol-ie, aku mau mengembalikan hoodie-mu. Kutaruh di dalam, ya?"

Chanyeol mengangguk. "Taruh saja di lemari. Kau harusnya tidak usah kemari. Jauh. Aku, kan, bisa datang ke rumahmu dan mengambilnya sendiri."

Nana mencubit perut Chanyeol main-main dan mereka berdua tertawa bersama, tidak sadar kalau sejak tadi Baekhyun memperhatikan mereka dengan perasaan tidak karuan. Anak itu memalingkan wajah ketika Nana secara casual masuk ke dalam kamar Chanyeol dan temannya itu sama sekali tidak keberatan dengan itu. Kenapa? Bukankah tindakan Nana barusan melanggar privasi?

"Baekhyun, mau makan apa? Mau kubelikan makanan China?"

Ini aneh. Baekhyun tidak tahu kenapa mendadak pikirannya jadi rumit begini dan perasaan aneh di dadanya juga sama sekali tidak membantu. Apa mereka sepasang kekasih? Nana pasti spesial karena Chanyeol meminjamkan hoodienya dan mengijinkan gadis itu masuk ke kamarnya dan membuat semua itu terlihat seperti hal yang paling wajar di dunia.

"Baekhyun?"

Tapi, memangnya kenapa kalau Nana memang pacarnya Chanyeol? Baekhyun harusnya sudah bisa memprediksikan ini. Lagipula bukan hal yang aneh, kan, jika temannya memiliki kekasih?

"Baekhyun!"

Baekhyun tersentak ketika Chanyeol berteriak tepat di telinganya. Anak itu gelagapan ketika melihat wajah Chanyeol begitu dekat dengan wajahnya. Tiba-tiba saja wajahnya merah padam karena malu.

"Baek, kau baik-baik saja?"

Anak itu mengangguk tapi tidak mau melihat mata Chanyeol.

"I-iya. Aku baik-baik saja."

"Karena ini sudah hampir jam makan siang, aku akan membeli makanan di luar. Tunggu di sini, ya. Aku harus mengantar Nana pulang."

Baekhyun melirik Nana yang berdiri di sebelah Chanyeol dan dadanya terasa sakit karena mereka terlihat cocok sekali. Anak itu cuma bisa mengangguk dan ia duduk diam di sofa bahkan setelah Chanyeol dan Nana pergi.

Baekhyun lalu memegang dadanya sendiri dengan pandangan kosong.

"Apa yang sebenarnya terjadi denganku?"


Karena Baekhyun hanya bisa berada di Beijing selama dua hari, akhirnya hari terakhir Chanyeol gunakan untuk menyenangkan anak itu karena kemarin sudah membuatnya menunggu di depan pintu apartemennya dalam keadaan basah sampai terserang demam. Meskipun itu sama sekali bukan salah Chanyeol karena Baekhyun datang begitu saja dan tidak memberitahunya. Tetap saja Chanyeol merasa gagal karena tidak bisa menjaga anak itu dan merasa perlu menebus sikapnya yang lalai.

Pagi-pagi sekali Chanyeol membangunkan anak itu setelah memastikan demamnya tidak akan kembali lagi. Baekhyun mengeluh di dalam tidurnya, masih ingin tidur. Tapi Chanyeol dengan lembut mendudukkannya di atas ranjang dan memberitahunya bahwa hari ini Chanyeol akan mengajaknya jalan-jalan. Awalnya Baekhyun menolak. Anak itu menunduk sambil memainkan ujung kaos Chanyeol—dia sebenarnya masih punya baju bersih dan kering tapi lebih suka saja memakai baju Chanyeol.

"Kenapa tidak mau?" tanya Chanyeol, terkejut mendengar penolakan anak itu.

Baekhyun menggeleng seperti bayi anjing yang ketakutan.

"Tidak punya...uang."

"APA?!"

Baekhyun berjengit mendengar Chanyeol berteriak padanya. Anak itu menarik selimut lalu berbaring lagi di ranjang sambil menutupi seluruh tubuhnya sedangkan Chanyeol masih menatap anak itu dengan pandangan tidak percaya.

"Dari mana datangnya pemikiran itu?" tanya Chanyeol tidak habis pikir, ia kelihatan benar-benar terguncang. "Byun Baekhyun, kau punya aku dan masih mengkhawatirkan soal uang?! Astaga. Kau benar-benar pandai membuatku sakit kelapa! Bangun, kau pemalas!"

Baekhyun merengek ketika Chanyeol menarik selimutnya. Tapi anak itu tidak protes ketika Chanyeol menggendongnya seperti bayi koala menuju kamar mandi. Chanyeol mendudukkan Baekhyun di atas kloset yang tertutup, menyiapkan sikat giginya seperti kebiasaannya dulu saat mereka masih sekolah. Baekhyun memerah ketika Chanyeol berlutut dihadapannya sambil menyerahkan sikat gigi yang sudah diolesi dengan pasta gigi.

"Mandi dulu, ya. Nanti kupinjami hoodie-ku. Kau mau sarapan di rumah atau membeli di luar?"

"Mau makan masakan Chanyeollie."

Chanyeol tersenyum. Ia mengelus kepala temannya lalu mencium kening temannya, lembut sekali sampai-sampai Baekhyun bersumpah merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat selama sepersekian detik.

"Baiklah. Mandi yang bersih ya, Byunbaek."

Setelah itu Chanyeol keluar dari kamar mandi meninggalkan Baekhyun yang masih duduk di atas kloset dengan ekspresi terguncang.


Baekhyun muncul di dapur menggunakan jins warna biru pudar dan hoodie milik Chanyeol yang kelihatan terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Rambutnya masih basah tapi anak itu terlalu malas untuk mengeringkannya jadi ia langsung duduk di kursi sambil menunggu Chanyeol memberinya sarapan.

Beberapa saat kemudian Chanyeol menyerahkan sandwich hangat dan segelas susu stroberi dingin. Ketika Baekhyun sedang makan, Chanyeol pergi ke kamar untuk mengambil handuk untuk mengeringkan rambut anak itu.

"Kau harusnya mengeringkan rambutmu dulu, Byunbaek. Kalau kau demam lagi bagaimana? Kepalaku sudah cukup pusing gara-gara ulahmu kemarin. Jadi sekarang makan saja yang benar dan bairkan aku mengeringkan rambutmu, oke?"

Baekhyun menggerutu soal betapa cerewetnya Chanyeol, bahkan melebihi Luhan, sambil memakan sandwichnya dengan hati-hati meskipun gagal karena ia tidak sengaja menjatuhkan seladanya dan jari-jarinya terkena mayones. Chanyeol cuma geleng-geleng kepala melihatnya tapi Baekhyun tetap melanjutkan makannya. Setelah rambut Baekhyun sudah setengah kering, Chanyeol duduk di sebelah anak itu.

"Ya ampun, Yifan hyung pasti lelah kalau melihat cara makanmu tidak berubah."

Baekhyun menatap temannya dengan alis berkerut.

"Tidak sengaja, oke? Biasanya aku tidak seceroboh ini!"

"Yeah, yeah."

Chanyeol mengambil tissue basah lalu membersihkan jari-jari anak itu. Setelah membereskan meja makan ia menyuruh Baekhyun menunggu di ruang tamu karena ia harus berganti pakaian.

"Kita mau pergi ke mana?" tanya Baekhyun begitu Chanyeol keluar dari kamar. Ia mengamati hoodie yang Chanyeol pakai dan baru sadar jika hoodie itu sama seperti yang ia pakai.

Untuk beberapa alasan, Baekhyun mendadak menjadi malu dan salah tingkah karena mereka terlihat seperti akan berkencan. Tapi, bukankah hal seperti ini sangat wajar? Dulu mereka memang sering pergi berdua menggunakan pakaian kembar. Baekhyun pusing memikirkannya jadi dalam hati ia meyakinkan diri sendiri bahwa ini tidak berarti apa-apa.

"Kau yang tentukan."

"Boleh?"

Chanyeol tertawa melihat ekspresi antusias Baekhyun. Ia mengangguk sambil tersenyum.

"Iya, boleh."

"Aku cuma mau ke Tian Tan saja. Setelah itu ke supermarket membeli snack dan es krim. Malam harinya kita nonton film bersama."

"Tidak mau ke Tembok China?"

Baekhyun menggeleng. "Jauh. Aku cuma punya waktu sehari. Kapan-kapan saja."

"Baiklah."

Chanyeol membungkuk sedikit dan mengulurkan tangannya dengan sikap formal seolah-olah ia sedang berhadapan dengan Raja Sejong.

"Permintaan Anda adalah perintah bagi hamba. Mari, Yang Mulia."

Baekhyun melompat ke pelukan temannya dan tertawa keras sekali sampai-sampai Chanyeol merasa hidup untuk pertama kalinya setelah datang ke Beijing.


Ketika Chanyeol bilang mereka akan pergi naik mobil, Baekhyun sama sekali tidak menyangka bahwa temannya punya Mercedes Benz baru dan langsung marah-marah karena Chanyeol tidak memberitahu apa-apa padanya. Chanyeol bilang ia lupa bilang pada Baekhyun dan bahwa itu sebenarnya tidak begitu penting karena ia takut Baekhyun akan berpikir bahwa ia sombong. Awalnya anak itu tidak mau mendengar penjelasan apa-apa. Tapi akhirnya luluh juga ketika Chanyeol memutar lagu Tender Love dan membujuknya untuk bernyanyi bersama-sama.

Selama perjalanan menuju Tian Tan, mereka menghabiskan waktu dengan bernyanyi bersama, mengulangi kebiasaan mereka saat dulu masih sekolah. Chanyeol bilang ia menyimpan tracklist demo lagu milik Baekhyun yang dibuat anak itu saat kuliah juga lagu-lagu yang mereka buat saat dulu masih sekolah. Mengesampingkan alasan kenapa Chanyeol ada di Beijing saat ini, Baekhyun tersenyum lembut dengan mata berkilau ketika mereka bernyanyi Heaven bersama-sama.

Saat sampai di Tian Tan, Baekhyun menatap bangunan dihadapannya dengan pandangan takjub dan ia mulai melompat-lompat dengan ekspresi seperti anak umur lima.

"Biasanya orang ingin melihat tembok China yang historis itu. Kenapa kau malah ingin ke sini?"

"Aku ingin berdoa. Bisa jadi, kan, kalau aku berdoa di sini langsung sampai ke surga?"

Chanyeol cuma tertawa sambil menggeleng. Hari itu, entah secara sadar atau memang itu adalah hal paling natural yang bisa dilakukan saat itu, tangan mereka menemukan satu sama lain. Jari-jari Baekhyun menyelip diantara ruang kosong di jari-jari Chanyeol yang lebih besar. Bahkan ketika mereka sadar bahwa mereka saling bergandengan tangan ketika memasuki kuil tersebut, keduanya hanya saling menatap dan tersenyum seolah-olah dunia sedang berada dipihak mereka.

Baekhyun benar-benar berdoa ketika mereka sampai di bangunan utama di dalam kuil. Ia menyuruh Chanyeol untuk berlutut dan menangkupkan kedua tangan di dada, sama seperti yang ia lakukan. Baekhyun tampak begitu hikmat ketika memejamkan mata dengan kepala sedikit menunduk sedangkan Chanyeol tidak melakukan apapun selain menatapnya. Tapi, ia mengucapkan doanya sambil menatap wajah anak itu.

"Apa yang tadi kau minta?" tanya Chanyeol saat mereka berjalan menuju tempat parkir.

"Aku tidak meminta apa-apa."

Chanyeol menatapnya dengan alis berkerut.

"Lalu? Kau berdoa apa?"

"Sebenarnya, aku hanya menanyakan beberapa hal yang menggangguku. Hal-hal yang membutuhkan jawaban karena sampai saat ini aku tidak tahu jawabannya. Kalau kau, apa yang kau minta?"

Chanyeol berhenti berjalan sehingga Baekhyun berhenti berjalan juga. Mereka berdiri saling berhadapan tapi tidak sadar jika kedua tangan mereka masih saling menggenggam.

"Aku meminta sesuatu yang tidak bisa kuraih. Aku tahu aku tidak bisa meraihnya, tapi aku tetap berdoa dan berharap seperti seorang petapa yang tidak pernah kehilangan harapannya pada situasi apapun."

Baekhyun menurunkan padangan matanya karena tatapan Chanyeol terlalu dalam baginya. Ia merasakan sesuatu yang aneh di perutnya ketika menatap mata Chanyeol yang ternyata sangat jernih. Kemudian, ia merasakannya lagi, debaran aneh di jantungnya. Entah bagaimana Baekhyun merasa situasi disekelilingnya sangat hening padahal ia sedang berada di keramaian. Terlalu hening sampai-sampai ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

"Kau... terdengar seperti seorang sastawan." kata Baekhyun setelah berhasil menemukan suaranya.

Chanyeol tertawa, dan suaranya membangkitkan sesuatu di dalam diri Baekhyun. Bukan, ini bukan sesuatu yang baru yang tidak dikenalinya. Tapi ini terasa familiar sekali, Baekhyun bisa merasakannya dengan seluruh indra yang ia punya. Hanya saja, ia tidak tahu perasaan macam apa yang sedang ia rasakan.


Nana muncul lagi keesokan harinya saat Chanyeol hendak mengantar Baekhyun ke bandara. Nana bilang ia harus meminjam salah satu buku catatan Chanyeol untuk kelas paginya dan Chanyeol secara casual melemparkan kunci apartemennya. Baekhyun, di sisi lain, merasa terganggu sekali dengan fakta bahwa temannya mengijinkan orang lain masuk ke apartemennya seenaknya saja dan bertanya-tanya apalagi yang sudah Chanyeol lakukan bersama dengan Nana ketika Baekhyun tidak ada.

Tunggu, Baekhyun menghentikan diri sendiri dengan ekspresi terguncang. Untuk apa ia merasa terganggu dengan semua itu? Chanyeol temannya. Ia bebas berhubungan dengan siapa saja tidak peduli betapa anehnya hal itu terdengar bagi Baekhyun.

Akhirnya sepanjang perjalanan menuju bandara anak itu berubah menjadi sangat pendiam. Ia bahkan tidak terlihat antusias melihat makanan dan es krim yang Chanyeol belikan saat mereka berhenti di supermarket. Ia bertingkah terlalu aneh sehingga Chanyeol menjadi khawatir. Untuk mengalihkan perhatiannya, Baekhyun memikirkan keluarga dan teman-temannya yang ada di Seoul.

Baekhyun membayangkan Luhan menyumpahinya menggunakan bahasa ibunya. Ia bahkan tidak berani mengecek kotak email dan aplikasi Katalk karena Luhan membombardirnya dengan pesan suara berisi sumpah serapah. Kyungsoo dan Junmyeon pasti bakal menangisinya sedangkan Yifan akan mengajaknya bicara empat mata sambil menyongoknya dengan Sundae. Tapi tidak peduli seberapa keras Baekhyun berusaha, tetap saja pikiran tentang Chanyeol dan Nana tidak mau pergi dari otaknya.

Baekhyun yang sudah tidak tahan akhirnya bertanya langsung pada temannya.

"Uh, a-apa Nana tadi itu kekasihmu?"

Chanyeol sama sekali tidak kelihatan terkejut mendengar pertanyataan Baekhyun, seolah-olah tahu temannya pasti akan bertanya seperti itu karena memang itu satu-satunya hal rasional untuk dilakukan. Ia menatap anak itu dan tersenyum kecil.

"Mantan kekasih."

Jantung Baekhyun berhenti selama dua detik.

"M-mantan?"

"Ya. Kami sempat menjalin hubungan selama beberapa bulan. Tapi sekarang kami berteman. Nana juga sudah memiliki kekasih lagi. Lelaki yang bisa memperlakukannya lebih baik dari aku."

Ada nada pahit di dalam suara Chanyeol sehingga Baekhyun semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua. Tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya karena tidak mau mengusik privasi temannya. Kalau saja anak itu tahu bahwa hubungan percintaan Chanyeol tidak pernah berhasil karena mereka bukan Baekhyun.

Bahkan Nana langsung bisa membaca perasaannya ketika melihat bingkai foto di samping tempat tidurnya. Itu sebabnya ia masih berteman dengan gadis itu karena ia bersedia mendengarkan semua omong kosong Chanyeol tentang bagaimana ia seharusnya tidak jatuh cinta dengan temannya sendiri.

Baekhyun tiba-tiba meraih satu tangan Chanyeol, meremasnya lembut. Chanyeol terlihat terkejut dengan aksi temannya dan menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.

"Chanyeol, kalau nanti kau punya kekasih, siapapun orang itu pasti akan sangat beruntung bisa mendapatkanmu."

Chanyeol ingin tertawa dan berkata bahwa itu semua hanya omong kosong karena ia bahkan tidak dapat memiliki satu-satunya orang yang ia cintai. Namun ia tetap tersenyum dan membiarkan Baekhyun menggenggam tangannya sampai mereka sampai bandara.


Sebelum berpisah dengan Chanyeol, anak itu memainkan ujung kaos Chanyeol seperti bayi anjing yang tidak mau berpisah dengan pemiliknya.

"Maaf sudah membuatmu khawatir. Apa punggungmu masih sakit karena tidur di sofa?"

Chanyeol tersenyum sambil mengelus kepala temannya, lagi-lagi merasa takjub karena rambut Baekhyun lembut sekali.

"Sudah lebih baik. Janji tidak begitu lagi, ya? Kalau kau mau ke sini, bilang dulu padaku."

Baekhyun mengangguk.

"Um. Aku janji. Pastikan kau memakan lebih banyak sayur dan buah. Tidak boleh hanya makan daging dan makanan instan. Kau masih ingat janjimu untuk tidak minum alkohol dan pergi ke klub, kan?"

Chanyeol tertawa. Ia dengan gemas menyundulkan ujung hidungnya dengan hidung Baekhyun, tersenyum ketika anak itu memerah.

"Baik, Ibu. Dilaksanakan."

Baekhyun cemberut. "Aku hanya khawatir, oke?"

"Baekhyun, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku karena aku bahkan lebih mengkhawatirkan kondisimu." kata Chanyeol, nadanya serius sekali. "Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau harus lebih memperhatikan kesehatanmu. Mengerti?"

Baekhyun mengangguk. Ia merentangkan kedua tangannya, meminta Chanyeol untuk memeluknya. Mereka berpelukan selama beberapa saat sebelum melepaskan diri karena sudah waktunya bagi Baekhyun untuk pergi.

"Cepat pulang, ya?"

Chanyeol tidak ingin membuat kebohongan maupun janji yang tidak dapat ia penuhi jadi ia hanya tersenyum pada Baekhyun. Ia mencium kening Baekhyun dan mengingatkannya untuk berhati-hati. Kali ini giliran Baekhyun yang tidak menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Chanyeol masih ada di sana atau tidak. Selama di dalam pesawat, anak itu bingung kenapa ia tidak merasa lega bahkan setelah bertemu dengan Chanyeol. Saat sampai di Seoul pun perasaan aneh itu tidak mau pergi dan Baekhyun pulang ke rumah dengan hati yang berat.


TBC