Saya mengucapkan terima kasih atas atensi para pembaca untuk fiksi absurd ini. Anda semua adalah penyemangat saya, karena Anda tak lelah untuk selalu hadir dalam kolom review chapter demi chapter.
Me, LSP, present :
Heroes
The tenth chapter
"Even, whether we've started?"
InoShikaChou VS Zabuza-Haku
Zabuza berlari di dinding tanpa menoleh ke belakang, ia melompat satu lompatan di penghujung dinding dan berlari di atap Rumah Sakit nan luas. Ia berbalik dengan pedang terayun, Chouji yang pertama muncul di ikuti dua bayangan di belakang punggungnya.
Sejenak, Zabuza mengawasi lokasi pertarungan. Tempat yang luas cukup untuk jangkauan serangannya yang memakan banyak tempat, serta banyaknya tanki air yang di susun acak di atas atap Rumah Sakit sebagai persediaan air bersih juga memberikan satu keuntungan baginya nanti.
Berdiri terpisah jarak, Zabuza pasang kuda-kuda bertarung, sekilas ia mencoba melirik ke belakang Chouji, tubuh tambun yang kini sedikit membesar itu menghalangi Zabuza melihat ke belakang. Namun ia yakin ada dua bayang-bayang disana.
"Kau mau mati, bola hidup?"
"Bola hidup?" Chouji mengepalkan tangannya yang membesar lalu menghantam ke Zabuza.
"Bodoh? Menyerangku secara langsung, hah?" Zabuza siap mengayunkan pedang.
Baaam!
Zabuza sedikit pening saat tangan raksasa itu menghantam sekujur tubuhnya karena ia tak bisa mengelak.
"Tubuhku tidak bisa digerakan?" gumam Zabuza.
Ia berusaha menoleh ke belakang, "Me-mereka?! sial!"
Beberapa meter di belakang Zabuza, Shikamaru berdiri bertumpu satu lutut dan menjalarkan bayanganya ke posisi berdirinya Zabuza. Di belakang Shikamaru ada Yamanaka Ino berdiri dengan tautan jemari berada di pelipis.
Zabuza kembali mengarahkan pandangan ke depan, melihat posisi Chouji yang sudah bergeser, ada dua titik bayangan yang terhubung dengan bayangannya sendiri dan juga Shikamaru.
"Jadi begitu... dia sengaja membuat dua bayang bayang dan si gemuk ini berdiri paling depan agar aku berasumsi mereka semua ada di hadapanku. Menunggu kelengahnku, mereka berdua muncul dari belakang."
"Kenapa kau menyerang komandan S.A.C yang sedang sekarat itu?" tanya Shikamaru garang.
"Ini terasa familiar olehku..." tutur Zabuza, "Biarkan aku menebak, kau hero bertopeng rusa waktu itu?
"Dan kau si pengacau dengan motor besar itu." Tegas Shikamaru.
Shikamaru membuka telapak tangannya, tubuh Zabuza mengikuti hal yang sama sehingga otomatis pedang besarnya terjatuh.
"Saat itu aku sempat melirik ke arah mereka, formasi mereka saat itu aneh sekali... ada yang janggal dari cara mereka berdiri..." pikir Zabuza, ia terkejut karena tangannya bergerak sendiri. Zabuza melihat ke arah Shikamaru yang kini mencekik lehernya sendiri.
"Kau bodoh? Kau mau mencekik lehermu sendiri agar aku melakukan hal yang sama?" cibir Zabuza saat kedua tangannya sudah berada di leher.
"Untuk apa aku melakukan hal merepotkan begitu?" ujar Shikamaru sambil menguap.
Zabuza tiba-tiba kehilangan kesadarannya, tubuh seperti tanpa roh, lalu Zabuza mulai mencekik lehernya sendiri. Cukup lama ia begitu hingga Zabuza terjatuh ke lantai.
"Apa itu tadi? Aku kehilangan kesadaranku?" Nafasnya tersengal dan mencoba bangkit, tapi kepalan tangan Chouji membentuk seperti godam dan menghantam punggungnya. Zabuza kembali tersungkur.
Zabuza melihat ke posisi Shikamaru, "Kemana mereka?"
"Disini." Panggil Shikamaru.
Zabuza berbalik, lagi tubuhnya terasa kaku karena bayangan Shikamaru kembali memanjang ke posisinya.
"Chouji! Ringkus dia!" teriak Ino yang berdiri ditengah.
Chouji yang berdiri paling belakang membesarkan kembali tangannya lalu memanjang dan mengenggam tubuh Zabuza hingga pria perban itu tak mampu lagi berkutik.
"Terlalu mudah, skakmat!" Shikamaru menatap Zabuza yang takkan bisa lagi bergerak, "Ino, perintahkan pihak keamanan Rumah Sakit menghubungi S.A.C agar meringkus bajingan ini."
"Begitu rupanya... pengendali bayangan dan transformasi, yang aneh adalah perempuan yang berdiri di tengah itu, seolah dilindungi dari dua sisi oleh mereka... dia sedari tadi tidak menunjukkan jenis kekuatannya, tapi tadi aku kehilangan kesadaran dan tersadar dengan nafas sesak, berarti aku mencekik leherku sendiri... perempuan itu kemungkinan sejenis pengendali pikiran." Pikir Zabuza.
"InoShikaChou formation, complete!" seringai senang Shikamaru.
"Terlalu mudah katamu?" Zabuza menaikkan alis, "Dasar anak kecil..."
"Apa ini? Kabut?" Shikamaru terkejut karena atap Rumah Sakit perlahan di penuhi kabut.
"Arrrgh!" jerit Chouji.
"Choji! Ada apa?" tanya Ino panik dan melihat ke belakang.
Tubuh Chouji kembali seperti sedia kala, ia mengusap lengan kanannya, "Ada yang menusuk tanganku dengan jarum."
"Pria perban itu lepas!"
"Sial! kabutnya makin banyak, jarak pandangku terbatas!" umpat Shikamaru. "Semuanya! Berpegangan tangan!"
Tangan kanan Ino menjangkau tangan Shikamaru dan tangan kirinya berpegangan pada lengan Chouji.
"Ino, baca serangannya!" teriak Shikamaru.
Ino memejamkan mata, berkonsentrasi.
"Jam dua!" teriak Ino.
Chouji menghantamkan tinju ke arah jam dua.
Bugh!
"Tepat di belakangmu, Chou!"
Bugh!
Chouji mendaratkan satu tendangan pada sosok yang sama sekali tak terlihat.
"Kabut ini memerangkap jarak pandang kita, aku bahkan tak bisa melihat jemari kakiku sendiri." Shikamaru berpikir keras, "Pengendali kabut? Aku baru sekali ini bertemu dengan jenis kekuatan seperti-" Shikamaru tak sempat melanjutkan kalimatnya saat merasakan ayunan pedang di dekat telinganya.
"Tiarap!"
Wuuzz!
"Chouji! Besarkan dirimu!" teriak Shikamaru.
"Aku sudah tidak marah lagi mendengar kata gendut, Shika! Itu masalahnya!" Chouji menimpali.
"Ck! Kita akan kerepotan kalau kau tidak full dalam bertransformasi!"
"Chou! Ingat kata-kata Naruto saat itu!" perintah Ino.
"Kata-kata Naruto?" tanya Chouji balik, "Maksudmu penisku kecil?"
Tubuh Chouji tergegar menahan amarah, "Naruto sialan! Itu fitnah! Fitnah!"
Chouji membesar dengan tinggi tiga meter, lalu menepukkan tangannya sekali. Kabut langsung terhalau perlahan.
"Bagus... ini yang kumaksud." Shikamaru menajamkan mata.
Lalu terbelalak saat kabut mulai berpendar dan penglihatan mereka mulai jelas.
Ujung pedang Zabuza sudah tepat di depan hidungnya. Shikamaru bergidik ngeri melihat kilau bilah tajam pedang pemenggal tersebut.
"Matilah, bocah!" Zabuza menghentakan pedangnya ke depan, namun tertahan.
Booong!
Ino menautkan jemarinya ke arah Zabuza.
"Haah... hampir saja..." Shikamaru melompat mundur.
Zabuza kembali mendapatkan kesadarannya.
"Sial! lagi?" Zabuza menatap Ino yang berdiri di belakang Shikamaru dan di depan Chouji.
"Jadi begitu, pantas saja formasi mereka begitu... mereka berdua melindungi si perempuan karena kemampuan membaca pikirannya. Jadi si perempuan pirang itu adalah pusatnya..." Zabuza mengucapkan kata-kata tersebut cukup lantang.
"Apa maksudnya berbicara sekeras itu?" gumam Shikamaru.
"Baiklah anak-anak... aku terlalu tua untuk melayani kalian bermain... mari kita sudahi saja semua ini dengan cepat.." Zabuza memasang kuda-kuda bertarung.
"Kalau kau cukup sadar akan usiamu, lebih baik gali kuburmu sendiri sekarang!" bentak Ino.
"Pirang... entah kenapa tiba-tiba aku berhasrat kepadamu?" cibir Zabuza.
Ino mengepalkan tangan, "Kuhajar kau, sialan! Eh?" Ino tertegun sejenak, "Salju?"
Salju perlahan turun dari langit, mereka bertiga mendongak.
"Salju macam apa yang turun dimusim ini?" Shikamaru memasang sikap waspada.
Bola-bola kecil nan dingin itu tiba-tiba berubah menjadi runcing.
"Oh damn!" umpat Shikamaru.
Puluhan jarum itu melesat ke arah mereka bertiga.
Chouji dengan cepat memeluk kedua rekannya dengan posisi membungkuk, punggungya kini dihujam jarum-jarum kristal es tersebut. Bunyi es beku pecah berdentang-dentang beradu dengan zirah besi yang di kenakan Akimichi Chouji.
"Chou!"
"Ini bukan masalah..." Chouji kembali berdiri tegak.
"Sekarang... serang!" teriak Zabuza tiba-tiba.
Puluhan jarum menyerang bertubi-tubi dari berbagai arah, mereka bertiga meringis kesakitan sesekali Chouji menghadang. Rima dari serangan terhenti dan Chouji berdiri tertatih kesakitan.
"Ada orang kedua..." Shikamaru mencabut satu jarum yang menempel di pipinya. Ia meraih dua pisau belati di tas pinggangnya, Shikamaru melempar ke arah Zabuza.
Pria perban itu dengan mudah berkelit dari lemparan silang Shikamaru.
Kedua pisau belati menancap di dua tanki air jauh di belakang Zabuza. Perlahan, air merembes dari tanki dan menjalar ke lantai.
"Kau tak apa, Chou?" tanya Ino.
Chouji mencabut jarum di sekujur kulitnya. "Ya... aku tak apa, Ino."
"Shika! Aku akan urus rekannya yang tak tampak!" teriak Ino.
"Ck! Kau tak perlu berteriak, Ino." decih Shikamaru.
Zabuza berlari dengan sabetan pedang yang menyapu dari kanan ke kiri. Shikamaru melompat sementara Ino dan Chouji melompat mundur. Shikamaru menahan pergelangan tangan Zabuza yang menggenggam pedang, Zabuza memberi tinju ke wajah Shikamaru dan melempar bocah nanas itu ke belakang.
Ino berkonsentrasi, menajamkan alam bawah sadarnya. "Chou! Jam tiga!"
Praannkk!
Chouji memberi satu pukulan telak pada sebuah kaca yang tiba-tiba muncul dari tanah. Satu orang berguling di pecahan kaca.
"Kembali ke formasi!" teriak Shikamaru.
Mereka bertiga segera kembali berdiri berjejer ke belakang dengan Ino di tengah. Peserta yang baru datang mendekat pada Zabuza.
"Itu dia, orang kedua." Shikamaru menatap sosok perempuan yang berdiri di samping Zabuza.
"Ck! Merepotkan!" Zabuza berdecak kesal melihat Shikamaru.
"Oi... itu gayaku..." ralat Shikamaru.
Ino diam-diam mengetik sebuah pesan di ponsel. "Shikamaru... aku akan..."
"Baiklah, aku mengerti." ujar Shikamaru saat Ino berkata melalui pikirannya.
Zabuza berlari zigzag di ikuti Haku, Zabuza menghantamkan pedang ke posisi Shikamaru. Pecahan beton berhamburan, beruntung Shikamaru telah lebih dahulu melompat mundur lalu berlari cepat kedepan dan sliding. Shikamaru berhenti di belakang punggung Zabuza sehingga pria perban itu berbalik sambil mengayunkan pedangnya.
Beberapa jarum panjang berkilau di sela jemari Haku. Ia melempar jarum tersebut ke arah Ino, si barbie lincah meloncat kesana kesini. Tangan Chouji yang sudah berbentuk palu juga memberikan hantaman berkali-kali kepada Haku.
Dengan tubuhnya yang langsing, Haku dengan mudah mengelak dari pukulan Chouji. Haku melompat tinggi sejajar kepala Chouji, pria tambun yang kini dalam mode 'giant' dengan mudah menepukan kedua tangannya bak menepuk nyamuk.
Telapak tangan Chouji yang terkatup kini di buka, namun tak ada sosok Haku yang seharusnya gepeng di tangannya. "Kemana dia?!"
Shikamaru hanya bisa mengelak dari tebasan-tebasan Zabuza, "Sial! kalau saja aku punya senjata yang cukup besar!" ia merogoh tas kecil di pinggangnya dan kini menggenggam pisau belati dengan bagian gagang berlubang empat.
"Jangan mengelak terus, nak! Hadapi aku sebagai lelaki!" Zabuza menebas vertikal dan Shikamaru kembali mengelak.
"Laki-laki tidak harus beradu tinju untuk menunjukkan kejantanannya... itu hanya lelaki korban iklan esktra jus! Roso!" cibir Shikamaru. Empat jemarinya sudah dimasukkan ke dalam lubang pada gagang belati.
"Kita takkan selesai kalau kau terus mengelak, sorongkan kepalamu ke pedangku..."
Shikamaru melirik ke arah Ino dan Chouji.
"Kemana dia?" tanya Ino.
"Dia menghilang begitu saja." Terang Chouji.
Dengan cepat satu kaca yang terbuat dari beningya bongkahan es muncul tepat di depan Ino. Ada sosok Haku di dalamnya. Secepat keluar, secepat itu juga bongkahan es itu pecah, Haku melompat keluar dengan mencekik satu leher Ino.
"Muncul secara langsung dihadapanku... kau melakukan kesalahan besar!" Ino menahan cekikan Haku.
Booong!
Haku tiba-tiba berdiri mematung tanpa gerakan apapun.
"Sekarang, Chou!" teriak Haku namun sudah dikendalikan Ino.
Shikamaru menyeringai melihat satu lawan siap ditumbangkan. Zabuza melirik ke direksi yang menahan perhatian Shikamaru.
"Sial!" jerit Zabuza sambil berlari.
.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Orochimaru dingin.
Naruto membiarkan kunyahanya selesai dan menelan makanannya. Ia meminum sedikit air dan mengelap mulutnya dengan tisu.
Sejenak, bungkam menjadi suasana mutlak.
Hingga Naruto menoleh pada ayahnya.
Iris khas reptil beradu tajam dengan safir yang tergerus dendam.
"Kebenaran dari kenyataan tentang kematian orangtuaku. Orangtua kandungku." Tantang Naruto.
"Kebenaran?" ulang Orochimaru dalam bentuk tanya. "Kebenarannya adal dalam sebuah file yang selama ini kucari di S.A.C. Di dalam sana, tertera nama dari lima orang pembunuh Kushina dan Minato..."
"File?" Naruto menatap tajam Orochimaru.
"Ya, sebuah file yang kini dihilangkan oleh orang kelima." Orochimaru membalas tatapan tajam Naruto.
Sebuah nada dering pertanda pesan masuk menginterupsi ketegangan di meja makan. Naruto meraih ponselnya yang tertelungkup disamping piring, sejenak iadmembaca pesan tersebut dalam hati.
"Nama orang kelima bisa kita dapatkan dari Zabuza ataupun Kizashi, tapi jika mereka tetap tutup mulut, ." Orochimaru menekankan kata demi suku kata yang di ucapkannya, "Aku harus tetap dapatkan file itu untuk mendapatkan nama orang kelima."
"Jadi, di dalam file itu, semua kebenaran dari cerita pembunuhan orangtuaku?" Naruto melempar pandang ke direksi lain.
"Ya, seperti yang telah kuceritakan padamu selama ini..."
Terdengar suara kursi bergeser, Naruto berjalan menjauhi meja makan. Namun, ia sengaja menahan langkah saat akan meninggalkan ruang dapur.
"Ayah, apa kau yakin tidak ada yang kau sembunyikan dariku selama ini?" tanya Naruto tanpa berbalik.
Orochimaru menoleh pada Naruto, menatap punggung remaja delapan belas tahun tersebut dalam bungkam.
"Mulai sekarang, aku akan bergerak dengan caraku sendiri." Tegas Naruto dalam kalimat datar namun tak bisa disanggah. Ia mengangkat satu kakinya untuk melangkah pergi tapi Orochimaru mampu menghentikannya dengan satu kalimat singkat.
"Gadis itu."
Orochimaru menyeringai.
"Adalah gadis yang sama yang membuat dirimu pulang dalam keadaan berantakan tempo hari."
Naruto menunduk dalam dan mengepalkan tangannya.
"Haruno Sakura..." Orochimaru terkekeh kecil. "Bergerak dengan caramu sendiri? Kau akan tahu apa yang terjadi jika mencoba menantangku, Naruto. Aku adalah perintah bagimu, aku adalah hukum untukmu, aku adalah hidup bagimu, Uzumaki Naruto."
"Toh aku tidak akan di lempar ke neraka karena menjadi anak durhaka," ujar Naruto sinis. "Karena aku bukan anakmu." Sambungnya dalam sela langkahnya meninggalkan Orochimaru.
Orochimaru menjilati bibirnya sendiri melihat Naruto yang pergi dengan keangkuhan pada kalimat terakhirnya.
Sementara Naruto yang makin menjauh hingga tepat di depan pintu rumah juga menjilati bibirnya sendiri sembari memukul pelan kepalanya berkali-kali. "Aku adalah Naruto, aku bukan Orochimaru. Aku adalah diriku. Aku bukan Orochimaru. Aku bukan Orochimaru."
.
Chouji menghantamkan satu pukulan dari samping untuk Haku. Zabuza berhasil menahan pukulan itu dengan menancapkan seperempat pedangnya ke lantai beton, sehingga kepalan tinju raksasa dari Chouji tertahan oleh pedang besar yang kini beralih fungsi sebagai tameng. Zabuza lihai berbalik dan melayangkan satu tinju ke wajah Ino.
Ino menyilangkan kedua tangannya lalu salto ke belakang.
"Apa?" Zabuza melirik ke arah Shikamaru karena melakukan gerakan yang sama dengan Ino. "Jadi selama dia mengendalikan pikiran, si pengendali bayangan mengendalikan tubuh perempuan ini dengan kekuatan bayangannya..."
Shikamaru berkonsentrasi dengan bayangannya yang kini bersatu ke posisi Ino.
Tanpa di duga, Zabuza meninju wajah Haku sekuat tenaga hingga topeng porselen itu hancur.
"Gawat! Chouji tangkap Ino!" Shikamaru berlari dari posisinya.
Tubuh Ino berlari juga menghindari Zabuza dan ditangkap oleh Chouji. Darah perlahan keluar dari satu lubang hidung Ino yang kini telah kembali ke tubuhnya sendiri. Shikamaru berlari mendekati mereka berdua.
Haku meringis menahan sakit di wajahnya.
"Begitu, kau bisa masuk ke tubuh orang lain, tapi disaat bersamaan tubuhmu sendiri kosong, jika aku melakukan suatu serangan pada tubuh yang kau masuki, tubuh aslimu akan mendapat efek serangannya." Zabuza mengayunkan pedang sejajar dada. "Aku sudah mengerti, Haku, habisi perempuan itu!"
"Siap, Tuan!"
Trio hero kembali ke formasi, Ino meraih belati yang sama di gunakan oleh Shikamaru dari tas pinggang rekan di depannya.
"Shikamaru, kau bisa hadapi pria perban itu sendirian?"
"Tidak masalah, Chouji akan membantumu menghadapi perempuan dengan jarum itu."
Shikamaru berlari menerjang Haku, sementara Haku berkelit dan melewati Shikamaru. Ia berlari dan memberikan tendangan berputar pada Ino, barbie itu melompat mundur hingga punggungnya membentur Chouji.
Zabuza menebas pedangnya tegak lurus, Shikamaru berkelit langsung melompat saat pedang Zabuza meluluh lantakkan lantai beton. Belatinya mengarah ke kepala Zabuza. Pria berperban itu dengan mudah menangkap pergelangan tangan Shikamaru dan memberinya satu tendangan di perut.
Shikamaru terlmepar beberapa meter, ia tertatih berdiri. "Ini tempat awal dia berdiri tadi..." Shikamaru melihat posisinya berpijak.
Haku melempar belasan jarum pada Ino, wanita muda itu segera berlari kebelakang tubuh Chouji. Jarum-jarum tersebut hanya mengenai zirah besi yang di kenakan Chouji. Chouji melayangkan pukulan ke arah Haku namun ia terlebih dahulu menjadi bongkahan es lalu menghilang ke dalam lantai.
Tiba-tiba Ino dan Chouji di kelilingi puluhan cermin es yang membentuk seperti kubah.
"Ino, kita terkurung."
"Tenang, Chou, aku akan membaca arah serangannya." Jawab Ino sambil berkonsentrasi.
Shikamaru melirik ke arah rekan-rekannya, "Kubah dari cermin es? Apakah Ino dan Chouji baik-baik saja di dalam sana?"
"Itu adalah serangan terkuat milik Haku, takkan ada seorangpun yang bisa lolos dari serangan itu." Kekeh Zabuza, "Bukankah sebaiknya aku lekas menghabisimu, nak?"
"Nak?" Shikamaru memasang pose bertarung, ia menatap tajam lelaki tinggi yang terpisah jarak beberapa meter di hadapannya. "Kau takabur sekali mentang-mentang sudah lama hidup..."
Zabuza melompat sambil mengayunkan pedang ke arah Shikamaru.
Lagi dan lagi, Shikamaru hanya berkelit dan ia berlari merunduk menghidari serangan Zabuza. Kini posisi berdiri mereka terbalik, Shikamaru berdiri di posisi Zabuza tadi dan Zabuza berdiri di posisi Shikamaru tadi.
"Ini dia!" seringai Shikamaru.
"Aku lelah dan lapar jika kau terus menghindar..." Zabuza kembali siap menyerang.
Shikamaru memanjangkan bayangannya ke posisi Zabuza. "Sayangnya aku tak punya sniker..."
"Trik ini lagi!" Zabuza menacanp sedikit pedangnya ke lantai dan ia melompat tinggi.
Bayangan Shikamaru melewati Zabuza dan terus memanjang ke tangki air di belakang Zabuza. Zabuza menjejakan kaki di lantai dan menghindari bayangan Shikamaru.
"Matilah, Bocah!" Zabuza meraih pedangnya dan berlari ke Shikamaru.
Bayangan Shikamaru membelit dua belati yang menancap di tanki air, dengan sekali sentakan ia menarik bayangnnya.
"Matilah!" Zabuza menebas horizontal pedang besarnya.
Crasss!
Zabuza tak sempat menyelsaikan ayunan pedangnya karena dua belati menancap di punggungnya.
"Sial! sejak kapan dia membuat serangan dari belakang?" Zabuza menjatuhkan pedangnya. Dengan erangan kesakitan dia mencabut belati di punggungnya.
Denting belati terdengar di lantai beton bersama darah yang menetes dari punggung Zabuza. Air dari tanki ikut membasahi lantai dan membuat genangan kecil di beberapa tempat. Zabuza kembali tak bisa menggerakkan badannya, ia melihat ke bawah.
Bayangan Shikamaru kembali memerangkapnya.
"Sampai kapan kau akan menahanku, bodoh?"
Kening Shikamaru di banjiri peluh, "Ino, Chouji, cepatlah..."
Sementara di dalam kubah yang tersusun dari puluhan cermin, Ino dan Chouji berhadapan dengan Haku yang menampakan diri dari satu cermin ke cermin lainnya.
"Chou, belakang!" pekik Ino.
Chouji spontan berbalik dan meninju ke arah belakang.
Haku dengan cepat masuk kembali ke dalam cerminnya lalu menghilang.
"Bersembunyi dalam cermin. Sial! Kau mau bermain petak umpet, hah?!" tantang Ino.
"Chou, jam tiga!"
Chouji kembali menghantam tinju ke arah yang dimaksud, namun Haku terlebih dahulu menghilang.
"Jam lima!"
Prank!'
Chouji meninju dengan tangannya yang membesar dan mengahncurkan kaca es tersebut. Dengan cepat cermin es kembali terbentuk.
"Dia tak bisa di sentuh, Ino..."
"Shikamaru, bagaimana caranya mengalahkan dia yang bersembunyi dalam cermin kaca?"
"Oi.. aku juga sedang kesulitan menahan manusia perban ini..."
"Ck! Sialan!" umpat Ino.
Dari puluhan kaca tersebut, refleksi Haku muncul.
"Kau kira bisa mengalahkan ku di dalam sini?" ejek puluhan bayangan Haku. "Rasakanlah ini..."
Semua bayang bayang Haku mempersiapkan jarum-jarum tajam di sela jemarinya, lalu secara bersamaan melempar benda tajam tersebut.
"A-apa?" Ino terbelalak.
Puluhan jarum menancap di tubuh Ino. beberapa bagian tubuh Chouji yang tak terlindung zirah juga tak luput dari serangan. Kedua rebah dan berusaha berdiri sembari mencabut beberapa jarum yang berhasil menembus kulit mereka.
"Ino, ada apa? Jawablah?" Shikamaru melirik ke arah kubah cermin. "Ino?!"
Shikamaru tanpa sadar mengendurkan pertahanannya.
"Ada apa, nak?" Zabuza meraih pedangnya dengan cepat saat bayangan Shikamaru terlepas.
Tebasan demi tebasan di hindari Shikamaru dengan terus melompat mundur. Dengan sengaja Shikamaru melompat mundur ke arah kubah cermin milik Haku.
Ino meningkatkan konsentrasinya.
"Jika dia ingin menyerang, dia pasti memusatkan pikirannya pada target, disitulah aku memiliki kesempatan membaca pikirannya."
Chouji kembali bersiaga degan tinjunya.
"Chou... ikuti arahanku lagi..." perintah Ino via pikiran dengan Chouji. "Shikamaru, bersiaplah..."
Sejenak, ketenangan melingkupi suasana dalam kubah cermin. Tak ada dari sisi manapun Haku akan menunjukkan tanda-tanda kemunculannya.
"Jam 11!" pekik Ino tiba-tiba.
Haku yang setengah badannya keluar dari cermin dengan jarum yang siap menembus leher Ino kini berhasil di cengkram tangan raksasa Chouji. Satu bantingan terdengar keras pada lantai beton disusul robohnya kubah dari cermin es tersebut.
"Terkuat katamu?" cemooh Shikamaru pada Zabuza. "Temanku dengan mudah menghancurkannya..."
Dari pecahan es yang masih bertaburan, sosok Haku berlari menerjang keluar dan mengarah pada Shikamaru. Si rambut nanas meraih satu belati lagi dari saku pinggangnya dan itu adalah belati terakhir. Haku terus berlari seolah tak akan menyerang. Ia seolah-olah dengan sengaja menyerahkan diri pada Shikamaru.
"Ada apa dengan Haku? Mu-mungkinkah?!" Mata Zabuza melebar, dengan sekali hentakan pada kakinya, ia secepat kilat maju dan menghunuskan pedang.
Jarak Shikamaru dan haku tinggal seangin, Shikamaru menghitung langkah.
"Tiga, dua, satu, sekarang!" Shikamaru melompat dan melempar belati ke tengah kening Haku.
Sementara Haku tiba-tiba tersadar atas apa tindakannya, tak sempat berkelit.
Blarrrm!
Pertemuan pedang besar dengan lantai beton mengahiskan ledakan besar. Shikamaru melompat salto ke belakang berkali kali.
"Hampir saja... aku terbelah dua." Shikamaru menatap tajam kedepan, terlihat Haku terlentang kesakitan dengan belati yang menancap di pundak. "Ck! merepotkan. Dia bisa menghindar disaat-saat terakhir..."
"Tadi itu, teman perempuanmu masuk ke dalam diri Haku, bukan?" tanya Zabuza dengan marah.
Shikamaru menoleh ke samping, "Se-sejak kapan kau di sampingku?!"
Zabuza mengangkat pedang ke atas kepalanya, siap mengayunkan pedang penjagalnya ke Shikamaru. Bocah berambut nanas itu membelalakan mata, ia tak berkesempatan berkelit lagi.
Gerakan Zabuza terhenti dengan tangan menggenggam pedang masih di atas kepala. Ujung pedangnya di apit oleh telapak tangan Chouji yang membesar.
"Kau melupakan kami?" sindir Chouji.
Shikamaru dengan cepat memanfaatkan kesempatan, ia berdiri dengan satu lutut tertekuk ke lantai dan menjalarkan bayangannya lagi ke posisi Zabuza. Pria perban tersebut makin terkunci.
Ino berlari datang entah darimana dengan belati yang sedari tadi digenggamnya kini terhunus di depan wajah. Haku yang masih tergeletak karena belati yang menancap di pundaknya menganga melihat kondisi tuannya terpojok.
Ino berlari melewati Shikamaru dan dengan sekali lompatan menerjang Zabuza.
"Membuat sahabatku menderita, takkan kumaafkan!" teriak Ino dengan segala kemarahannya.
Crasssh!
Darah tertumpah.
Ino membelalakan mata.
Shikamaru mendecih tak suka.
Chouji melenguh dalam.
Ino masih dalam gestur menancapan belati.
Tepat di kening,
Haku.
"Seperti yang kuharapkan... kau memang hebat, Haku." Ujar Zabuza santai.
Haku tersenyum di ujung ajalnya.
Ino melepaskan pegangannya pada belati yang kini melekat di kening Haku. Tubuhnya gentar gemetar, wajahnya pucat pasi.
Kemarahan telah membutakannya, sehingga untuk pertama kalinya seorang Yamanaka Ino mengambil paksa nyawa orang lain.
Ia berdiri teramat dekat dengan Haku, aquamarine-nya masih menggigil menatap sosok yang masih berdiri dalam cermin es yang perlahan mencair.
Perlahan, dari kelopak mata Ino mengalir air mata tanapa isakan.
Begitu pula dari sosok Haku, yang juga meneteskan air mata dengan senyuman.
Zabuza melepaskan tangannya dari peganganya pedangnya lalu mencabut belati yang tertancap di pundak Haku. Darah segar muncrat dari pundak Haku yang langsung rebah di kaki Zabuza.
"Gawat! Ino, sadarlah!" teriak Shikamaru.
Ino yang masih shock tak mendengar teriakan Shikamaru.
"Matilah kau, wanita j*lang!" umpat Zabuza dan hendak melayangkan belati ke kening Yamanaka Ino sebagai aksi pembalasan terhadap Haku.
"Kau lakukan, maka kau mati." Suara dingin terdengar mengancam di balik tubuh Zabuza.
"Kapan dia datang?" Chouji yang berdiri jauh di belakang Zabuza membuang pedang besar Zabuza yang diapitnya kesembarang arah. "Aku tak menyadarinya kehadirannya." Ia menatap Sasuke yang teramat santai berdiri dan bersandar kepada punggung Zabuza.
Zabuza terbelalak mendengar cicitan listrik dari arah belakangnya. Ia mencoba melirik siapa yang berani kurang ajar bersandar kepunggungnaya namun kilatan dari listrik yang menyambar di tangan orang tersebut membuatnya silau.
"Jadi Sasuke sudah membaca SMS yang di kirimkan Ino, jika Sasuke sudah dapat pesan dan membacanya, kenapa yang satunya belum datang?" batin Shikamaru berlari dan meraih tubuh Ino yang tiba-tiba ambruk.
"Ino, sadarlah!"
Chouji juga mendekati kedua rekannya, "Ino, kau tak apa?"
"Chouji, menjauh dari sini." Tukas Shikamaru.
Zabuza melihat bahwa Ino digendong Shikamaru menjauh dari posisinya kini. Ia menunduk dan menatap tubuh tak bernyawa Haku. Sekilas, mimik kepedihan tergurat di wajahnya.
Lalu dengan cepat berbalik.
Sasuke juga membalikan badan dengan cepat dan menghunuskan tangannya yang meruncing ke depan, Zabuza lebih dahulu menangkap pergelangan tangan Sasuke.
"Kau minim pengalaman dalam pertarungan, nak." Cemooh Zabuza sambil memelintir tangan Sasuke lalu membantingnya.
Sasuke bergulinmg di lantai dan menjaga jarak dengan Zabuza. Zabuza melirik ke arah pedangnya yang cukup jauh. Sasuke mengerti kemana tujuan mata Zabuza.
Zabuza mendekati jasad Haku, mengambil belati milik Shikamaru yang ditancapkan Ino di kening Haku. Zabuza mengusapkan tangannya sekali ke wajah Haku, menutup mata Haku yang basah oleh airmata dan teraliri darah dari kening yang terluka lebar. Dengan tenang, belati tersebut diselipkannya di pinggang.
Zabuza berlari dengan kecepatan gila ke arah Sasuke, namun remaja tersebut dengan mudah menghindar. Zabuza terus berlari dan menuju pedangnya yang tergeletak. Sasuke berusaha mengejar.
Kubikiribochou kembali ke tangan pemiliknya. Saat telapak tangannya meraih pedang besar tersebut, tanpa menoleh Zabuza mengayunkan pedangnya kebelakang hingga tubuhnya sendiripun ikut terputar akibat sentakan penuh tenaga darinya.
Sasuke melompat tinggi dan dari mulutnya keluar peluru-peluru api yang melesat ke arah Zabuza. Pedang besar terangkat ke atas kepala menjadi tameng dari serangan peluru api Sasuke.
Sasuke menjejakan kaki ke tanah. Sasuke menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghebuskannya dengan kuat ke arah Zabuza. Bola api raksasa terbentuk dan menyembur ke arah Zabuza.
Zabuza berlari menjauh menghindar.
Sasuke tetap tak mau kalah dan mengejar, Zabuza melayangkan pedangnya berkali-kali. Berbeda dengan Shikamaru, Sasuke menghindari tebasan pedang Zabuza dengan gerakan yang pasti. Zabuza mencoba melirik ke arah mata Sasuke.
"Sharingan?! Pantas saja dia bisa membaca gerakanku. Tak kusangkah aku akan bertemu pengguna sharingan di masa kini."
Zabuza memberikan satu tendangan yang diblok oleh kedua lengan Sasuke yang menyilang di depan dada. Sasuke terlompat mundur terjaga jarak beberapa meter dengan Zabuza.
"Tak kusangka, melawanmu bocah seperti kalian aku harus mengeluarkan semua kekuatannku." Zabuza menancapkan pedangnya di depan posisi berdirinya, lalu menyatukan dua telapak tangannya.
"Apa yang akan dilakukan si kampret ini?" gumam Sasuke.
"Apa yang akan dilakukannya?" Shikamaru yang menonton dari kejauhan berspekulasi. Ia lantas melirik Ino yang masih pingsan di gendongannya, "Suara gemuruh apa ini?"
"Shikamaru, lihatlah ke belakang." Tunjuk Chouji.
Shikamaru melirik ke blakang, "A-apa itu?"
Tanki air yang trsusun seolah teguncang, lalu dari bagian atas semua air menyembur keluar seolah ditarik oleh sesuatu. Gelombang air tersebut bersatu di belakang tubuh Zabuza dan membentuk seekor naga air yang cukup besar.
"Dia bisa mengendalikan air?" Shikamaru terkejut.
"Bukankah sudah kutanya di awal tadi," ujar Chouji, "Saat dia berlari di dinding?"
"Benar, dia bisa berlari didinding, namun sedari tadi dia tak menunjukkan penggunaan kekuatan hero, berarti dia hanya menggunakan serum ekstrak DNA hero." Shikamaru menatap jasad Haku.
"Dia memakai ekstrak DNA dari hero tersebut, berbeda dengan hero yang menyerang Ino, dia bisa memanipulasi air menjadi salju dan es, pria perban itu hanya akan bisa menggunakan dasar dasar kekuatan jenis air, dia takkan bisa lebih karena dia bukan hero murni!"
"Apakah Sasuke bisa mengatasinya?" tanya Chouji.
"Bukan Sasuke yang ku khawatirkan, tapi satu orang lagi." Jawab Shikamaru.
"Eh? Siapa?"
"Saat berbalik melihat tangki air tadi, aku melihat bayangan seseorang di balik tangki, Jangan menoleh!" cegah Shikamaru melirik Chouji yang hendak menengok ke belakang.
"Berwaspadalah akan serangan dadakan." Tegas Shikamaru pada Chouji. "Siapa yang bersembunyi disana? salah satu investigator S.A.C? atau mungkinkah dia?"
Zabuza berdiri angkuh menatap Sasuke yang terlihat tenang.
"Kalian benar-benar merepotkan..." keluh Zabuza. "Tapi ayo kita akhir ini."
Naga air di belakang Zabuza meliuk-liuk. Dengan satu gerakan tangan dari Zabuza, naga air itu melesat ke arah Sasuke.
Sasuke mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya sekuat mungkin.
Bola api raksasa terbentuk dan menjadi penghalang naga air memasuki area Sasuke. Ledakan besar terjadi akibat dua benturan kekuatan tersebut.
Baik Sasuke maupun Zabuza terengah-engah. Zabuza tak mau membuang waktu, ia berlari dan menyabetkan pedangnya menyapu melebar ke arah Sasuke.
Remaja itu berkelit lalu sliding dan menjegal Zabuza yang langsung jatuh terlentang.
Sasuke sekejap berdiri dan tangannya sudah berselimut petir yang siap merobek apapun.
"Chidori!"
Tap!
Pergelangan tangan Sasuke ditahan oleh seseorang. Ujung jemarinya yang teraliri petir sedikit menimbulkan robekan terbakar pada pakaian di dada Zabuza.
Shikamaru menatap tajam sosok yang baru datang dan melirik ke belakang tanki, "Jadi, dia yang sedari tadi bersembunyi?"
"Singkirkan tanganmu, keparat!" maki Sasuke.
Naruto menatap tajam sharingan di dalam kelopak mata Sasuke. "Aku ada urusan dengannya, brengsek..."
Sasuke mengalah meski dongkol teramat sangat karena dua kali chidori-nya terhalangi dengan mudah.
Naruto menatap tajam pada Zabuza yang masih terlentang.
"Mengingat kondisimu yang terpojok saat ini, lebih baik kau patuh ... Momochi Zabuza." Naruto dengan dingin mendekati Zabuza.
"Aku terpojok?" Zabuza tertatih berdiri, "Hahaha... lelucon yang sama sekali tak konyol." Ujar Zabuza sarkatis.
"Setidaknya aku tidak membunuhmu, jadi kau bisa tetap hidup dalam kesedihanmu..." Naruto melirik ke arah jasad Haku.
Zabuza terdiam.
"Sasori berulang kali mengatakan bahwa S.A.C tidak membunuh kedua orangtuaku, kau adalas satu diantara lima orang S.A.C tersebut, bersama Mizuki, Akasuna Sasori dan Haruno Kizashi apakah itu benar?" tanya Naruto tanpa basa-basi.
"Orangtuamu?" Zabuza terlihat berpikir, "Jika yang kau maksud adalah Yellow Flash dan Red Hanabero, maka kau..."
Zabuza sengaja menggantung kalimatnya.
"Kau benar." Sambungnya menatap tajam sosok remaja di depannya.
"Lalu bagaimana bisa orangtuaku terbunuh? Bukankah kalian yang menyergapnya?" nada Naruto meninggi.
"Bagaimana kami tahu, saat kami datang mereka sudah terbunuh." Zabuza mengendikkan bahu.
Naruto menahan amarah dengan mengepalkan kedua tinjunya.
"Jadi itu alasan Naruto menyerang Sakura, bukan, menyerang ayah Sakura, jadi kehadiran Sakura saat itu faktor ketidaksengajaan..." Shikamaru mengamit dagu mendegar percakapan tersebut, "Hmm... sudah kuduga."
"Bagaimana bisa kau berkata seringan itu!" Naruto membentak, "Bagaimana bisa orangtuaku mati begtu saja! Kalian yang menyergapnya! Mana mungkin orang lain yang membunuh mereka!"
"Sepertinya ... kau dipermainkan takdir selama ini, hm bocah?" Zabuza menaikkan dagu. "Benar, kan?"
"Tutup mulutmu!" Gahar Naruto.
"Tidakkah otakmu itu terlalu tumpul untuk berpikir, hah?" cibir Zabuza. "Uzumaki Kushina dan Minato berada di peringkat teratas daftar buronan S.A.C."
Naruto menahan amarah menunggu kelanjutan kalimat yang akan dicetuskan Zabuza. Sementara Sasuke yang berdiri di belakang Naruto hanya diam menyimak.
"Mana mungkin, kami berlima, yang saat itu S.A.C masih menggunakan senjata manual tidak seperti saat ini, bisa menghadapi mereka berdua dengan selamat? Seharusnya kami mati jika menghadapi dua hero yang disebut-sebut pasangan terkuat itu..."
"Kau tahu kenapa kami masih hidup hingga kau datang meneror, Killer Hunter?" Sambung Zabuza dengan memberi penekanan pada panggilan Naruto dalam bentuk hero.
Naruto menatap tajam manusia perban dihadapannya.
"Karena... kami harus menghadapi Densetsu no sannin."
Shikamaru terkejut alang kepalang, mulutnya menganga lebar mendengar siapa yang disebutkan oleh Zabuza. "Tidak mungkin! Densetsu no sannin hanyalah mitos! Mana mungkin mereka tokoh nyata! Ini benar-benar tidak mungkin!"
"Shikamaru, apakah Densetsu no sannin benar-benar ada?" tanya Chouji.
Shikamaru mengehal nafas panjang, "Selama ini, semua orang berpikir bahwa tiga hero tersebut hanyalah tokoh fiktif atau majas dari kekuatan yang tak sanggup d lawan oleh manusia biasa. Kebijaksanaan didalam keburukan, kekuataan perusak didalam kesedihan, dan kegelapan didalam kemisteriusan."
"Tiga hal itu disebut sebagai Densetsu no sannin..." sambung Shikamaru.
"Apakah Tiga hero legendaris itu tokoh nyata?" sela Sasuke, "Selama ini mereka dianggap mitos atau dongeng, jadi mereka benar-benar ada?"
"Menurutmu?" tanya balik Zabuza. "S.A.C tidak memasukkan Densetsu no sannin ke dalam daftar buronan, karena itu sama saja mencoba menusuk langit dengan galah, melakukan sesuatu yang sia-sia... Densetsu no sannin tak mampu dijangkau, karena itu mereka berada dalam kategori yang berbeda..."
"Lalu kenapa kalian berlima masih bisa hidup jika kalian bertemu Densetsu no sannin?" tanya Naruto.
"Pikirkanlah sendiri, kami hanya menghadapi dua di antara mereka."
Naruto terpaku. "Dua diantara mereka? satunya lagi, mengarah untuk menyelamatkanku! Apakah itu ayah?"
"Tapi kedua hero legendaris itu," sambung Zabuza, "Tak terlalu lama bermain bersama kami, sepertinya terjadi sesutau hal yang besar saat Yellow Flash dan Red Hanabero melarikan diri dari kami..."
"Hal yang besar?" Naruto meninggikan alis.
"Saat kami menghadapi Sannin Katak dan Sannin Siput, ada ledakan berenergi sangat kuat terjadi jauh di dalam hutan tempat kami menyergap Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina." Jelas Zabuza, "Dan itu tak lama setelah Sannin Ular meninggalkan kami pada dua rekannya."
Naruto terdiam sejenak, keningnya berkerut menerima informasi dari Zabuza.
"Densetsu no sannin, Sannin Katak, Sannin Siput, Sannin ular, menagap aku tak pernah mendengarnya dari ayah? Mengapa cerita pembunuhan orangtuaku berbeda dari yang kudengar dari ayah selama ini?"
"Kedua Hero hebat itu meninggalkan kami, kami juga mencoba mengejar kedalam hutan ke lokasi ledakan, dan saat kami tiba disana..." Zabuza menatap tajam Naruto, "Kami sudah menemukan dua kayu yang ditumpuk terbakar seperti upacara kematian. Semuanya telah menjadi abu, kami bahkan tak mendapatkan sedikitpun jejak dari jasad Yellow Flash dan Red Hanabero,"
"Dengan kata lain, ada orang lain yang membunuh mereka?" tanya Naruto tajam.
"Pikirkanlah sendiri, salah satu Sannin saat itu tak bertarung dengan kami malah menyusul orangtuamu ke dalam hutan." Ejek Zabuza.
"Siapa... siapa orang kelima?"
Zabuza menghela nafas berat, "Maaf, kau takkan bisa menyentuh orang kelima. Bagaimanapun kau mencobanya."
"Katakan padaku!"
Zabuza pasang pose bertarung, "Percuma saja, jika kukatakan pun kau takkan mampu berbuat apa-apa... dan terima kasih telah mengulur waktu untuk memberikanku tenaga, saatnya kalian tidur anak-anak, ini sudah terlalu malam untuk bermain."
"Orang kelima... di dalam file itu pasti tercantum nama orang kelima, file yang dicari-cari oleh ayah..." batin Naruto.
"Aih kenapa orang ini membuat tanganku geli..." rutuk Sasuke melewati Naruto lalu berlari menerjang Zabuza. Sambil berlari, Sasuke menyempatkan diri menembakan beberapa peluru api ke arah Zabuza.
Zabuza berkelit, satu tendangan berputar dari Sasuke mudah ia hindari dengan merunduk. Zabuza tak punya waktu meraih pedangnya yang tergeletak di lantai di antara serangan Sasuke, tapi ia masih punya satu senjata lagi.
Belati yang menancap di kening Haku tadi masih terselip rapi di pinggangnya.
Sasuke memberikan satu tinju, Zabuza menyilangkan kedua lengan sebagai blokade. Ia menghantamkan satu tendangan lutut namun Sasuke lebih dahulu melompat mundur.
"Shikamaru.." Naruto setengah berteriak, "Kalian pergilah dari sini, Ino butuh istirahat di tempat yang nyaman."
Shikamaru menggendong Ino ala bridal, "Baiklah... pastikan darah dan rambut kalian tidak tercecer dilantai, berjaga-jaga jika S.A.C mendapatkannya."
Naruto menggangguk kecil.
"Ayo, Chouji!"
Chouji mengikuti langkah Shikamaru yang kini melompati atap bagunan Rumah Sakit ke bangunan lain.
"Apa tak apa meninggalkan Sakura sendirian?" tanya Chouji.
"Hn. Mendengar motif Naruto menyerang ayah Sakura, aku yakin Naruto takkan sampai hati mencelakai Sakura, meskipun saat ini mereka berdua punya masalah lain..."
"Pria berperban itu.. apakah bisa mengatasi Naruto dan Sasuke?"
Shikamaru terus berlari diatas bangunan pencakar langit dan melompat. "Soal itu... entahlah, memikirkan itu sangat merepotkanku."
"Berbeda dengan kami, InoShikaChou, Aku dan Chouji sangat perhitungan menghabisi lawan, sebisa mungkin kami tidak membunuh jika tidak terpaksa, tapi bagi mereka berdua..."
Naruto berdiri disamping Sasuke.
"Katakan padaku, siapa orang kelima, Zabuza, maka aku akan mengampunimu..." tegas Naruto.
Shikamaru masih bergumul di dalam hati, "Bagi mereka berdua, mengambil paksa nyawa orang lain seperti menginjak semut," Shikamaru menatap Ino yang pingsan dalam gendongannya, "Sementara, ini adalah kali pertama Ino membunuh, ia mengincar Zabuza, tapi tak diduga rekannya menjadi tameng... Ino, pengalaman pertama ini pasti berat buatmu."
"Kita akhiri saja hal bertele-tele ini, anak-anak..." Zabuza menatap tajam kedua remaja di hadapannya.
Sasuke meraih pedang besar yang tergeletak di dekat kakinya, lalu melemparkan pedang tersebut pemiliknya. "Maka persiapkan dirimu menemui Shinigami." Sharingan berputar.
Zabuza lari menerjang. Sasuke yang kini berdiri sendiri menghirup nafas dalam-dalam.
"Katon : Gokakyu no jutsu!"
"Dasar tukang pamer," Cibir Naruto melirik Sasuke. "Aku juga bisa."
"Fuuton : Daitoppa!
Bola api raksasa menyembur dari mulut Sasuke, ditambah hembusan angin super kuat dari mulut Naruto membuat bola api berukuran super besar itu semakin garang dan gahar. Zabuza menebaskan pedangnya horizontal membelah bola api.
"Dia bukan manusia sembarangan, hah?" Sasuke menaikkan dagu dan bersedekap melihat Zabuza yang masih berdiri meski sekujur badannya kini berkobar nyalang api.
"Kau pengguna api, itu dasar gen chakra -mu..." Ujar Naruto tak nyambung.
"Dan kau pengguna angin." Balas Sasuke, "Itu tak jauh beda dengan kentut."
"Cih." Naruto tak terlalu menggubris Sasuke, "Aku masih bisa menyelamatkanmu saat ini... katakan padaku siapa orang kelima?" teriaknya pada Zabuza.
Zabuza menatap sekujut tubuhnya yang terbakar. "Yagura..." gumamnya, "Aku merasakan kesakitan yang kau alami saat ditinggal oleh S.A.C... ini sangat sakit..." ia melirik ke arah jasad Haku, "Dan sepi."
Zabuza mengayunkan pedangnya. "Bwuahaha... Aku akan menyusulmu sekarang, Yagura! Haku!"
Ia berlari dengan pedang terhunus dan tawa yang menggelegar. Lilitan perban pada tubuhnya telah habis terbakar, kini kulitnya di panggang api.
"Hyiaaat!"
Sasuke menahan pedang besar itu dengan kedua tangannya yang teraliri listrik sementara Naruto berlari melewati Zabuza dan berbalik.
Listrik dari tangan Sasuke sontak membuat tubuh Zabuza yang terbakar makin mengejang.
Pedang besar itu terlepas dari tangannya.
Zabuza merobek dadanya sendiri dan berteriak kesakitan.
"Arrrghhh!"
"Chidori!"
"Rasengan!"
Crasssh!
Dua tangan remaja itu menembus tubuh Zabuza.
Sasuke melubangi dada Zabuza dengan serangan pamungkasnya. Semenatara Rasengan Naruto melubangi dan meluluh lantakkan organ dalam Zabuza dari punggung.
Jeritan Zabuza terhenti, berganti dengan suara parau nan menyayat. "Akh... akh... khu... aaakkhhh..."
Kedua remaja itu menarik tangannya.
Tubuh Zabuza makin hangus hingga wajahnya terlihat seperti setengah tengkorak. Zabuza masih mampu meraih belati milik Shikamaru yang terselip di pinggangnya dan menebaskannya ke perut Sasuke.
Tangan kanan Sasuke dengan mudah menepis serangan tak bertenaga itu, tangan kirinya kembali teraliri listrik mega voltase.
Craasssh!
Dan Chidori menembus kepala Zabuza.
Darah dan cairan otak terciprat ke wajah Naruto yang berdiri di belakang Zabuza.
Akhirnya, mantan anggota S.A.C yang dulunya sangat disegani dan tak pernah membunuh hero berakhir ambruk diantara kedua remaja hero murni berdarah panas. Tubuhnya makin hangus terbakar dengan kepala yang tak lagi berbentuk.
Sasuke menatap tajam Naruto. "Aku harus mengakui meski tak suka, aku merasa terhormat bisa bertarung dengan pria keras kepala seperti dia."
Narutu menunduk menatap jasad Zabuza yang terbakar. "Zabuza..." lirihnya, "Semoga kau tenang di alam sana."
Sasuke berbalik membelakangi Naruto, "Aku harap, kau bisa menyelesaikan urusanmu dengan Sakura, tapi jika kau melakukan sesuatu yang membahayankan nyawanya atau nyawa ayahnya..." ia melirik ke belakang.
Naruto menatap sharingan Sasuke yang berputar lalu menjadi bola mata onyks penuh kekelaman seperti biasa.
"Aku akan membuatmu menjadi daging panggang, Naruto."
Naruto menatap dalam diam kepergian Sasuke. Ia kembali melihat jasad Zabuza yang masih dilalap api, ia juga memutar kepala melihat jasad Haku.
Hela nafasnya terdengar berat saat Naruto menatap kedua telapak tangannya sendiri, "Ini balas dendam... atau murni pembunuhan?"
...
Sakura terbangun dengan kepala terasa berat, ia mengerjapkan matanya yang perih berkali-kali sebelum benar-benar bisa melihat dengan jelas. Ia mencoba bangkit dan terasa ada seseorang yang membantunya duduk.
"Anda sudah sadar, Nona..."
Sakura menoleh pada suara feminim tersebut, matanya menyipit, "Suster?"
Lalu bola lampu di dalam kepalnya menyala terang.
"Ayahku?!" kejutnya sambil menyibak kasar selimut.
Tiit~
Tiit~
Tiit~
Bunyi EKG terdengar pelan seirama detak jantung sosok yang berbaring di ranjang lain. sosok tersebut masih lelap dalam tidurnya. Sakura menatap lama ayahnya yang terbaring di ranjang lain yang cukup jauh dari ranjangnya.
"Para dokter berhasil menyelamatkan ayah Anda, Nona..." ujar suster tersebut. "Kami juga memindahkan Anda ke ruangan baru karena ruangan lama tak bisa dipakai untuk sementara waktu..."
"Haaah..." Sakura menghela nafas lega. "Syukurlah... terima kasih, Tuhan."
"Anda pingsan karena shock, Anda juga harus beristirahat..." saran suster tersebut sambil membereskan obat pada meja di samping ranjang Sakura, "Disini ada beberapa multivitamin agar Anda tidak jatuh sakit selama menunggu ayah Anda sadar..."
"Jadi, ayah masih koma?" tanya Sakura.
Suster tersebut hanya sedikit memberi anggukan, setelahnya membungkukan badan dan meninggalkan Sakura.
Gadis musim semi itu duduk di tepi ranjang yang seharusnya untuk orang sakit tersebut, ia memendarkan pandangan ke sekeliling kamar. Meraih remote di meja kecil samping ranjang dan mematikan lampu ruangan secara otomatis.
Si merah muda tercenung dalam ruangan nan kini temaram. Hembus nafasnya terasa berat, sekilas ia mengingat Ino yang tadi bersamanya.
Juga orang dengan pedang besar yang berusaha membunuh ayahnya.
"Apa yang telah dilakukan oleh ayahku sehingga begitu banyak orang yang menginginkan nyawanya?"
Petir tiba-tiba menggelegar seolah merobek langit. Kilat juga sesekali membiaskan cahaya kedalam ruangan VIP tersebut. Sakura melirik ke belakang, jendelanya terbuka, mungkin suster tadi lupa menutupnya.
Sakura turun dan beranjak ke sisi kamar, sejenak ia menatap hamparan kerlap-kerlip kota dari jendela. Angin malam dengan nakal memainkan surai lembutnya. Sakura menutup jendela saat jilatan angin makin menggigit kulitnya.
Sakura menatap lekat kaca jendela yang mulai di singgahi setetes demi setetes air. Telunjuknya menempel di kaca, mencoba mengikuti bercak air hujan yang mulai turun dan menyatu dengan bercak lainnya. Menjadi tetes yang lebih besar.
Kilat kembali menyilaukan semesta. Sakura membelalakan mata ketika bayangan seseorang yang ia sangat kenali berdiri di belakangnya. Namun kaca kembali temaram, wajah Sakura menegang menunggu kilat kembali mebuat kaca menjadi lebih terang.
Dia ada di belakangnya.
Sakura berbalik.
Gelegar petir dan membahana dari yang sebelumnya.
Dan hujan semakin deras membasahi bumi.
Sakura menatap sosok berwajah sendu yang kini enggan menatap emerald miliknya.
"Naruto..."
Jemari lemahnya singgah di pipi pemuda yang tatapannya kini sedang menjelajah lantai.
"Kenapa... kenapa?" tanyanya lemah.
Naruto paham apa yang ditanyakan Sakura. Karena itu, ia yang seharusnya beridri disini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi namun hanya bisa terpasung diam.
Nada kontinu khas EKG mengisi jeda duan anak adam tersebut, sesekali langit marah dengan kebungkaman mereka dan menghardik mereka dengan halilintar.
"Bukan seperti ini akhir yang kunginkan, Sakura-chan..." ujar Naruto getir.
Sakura hendak menarik tangannya dari pipi Naruto namun tangan Naruto menahan tangan terlebih dahulu. Seolah Naruto sangat enggan jika Sakura tak membelainya.
""Kita bahkan belum memulainya sama sekali..." jawab Sakura.
"Begitukah...?" lirih Naruto.
"Kita akan memulai dengan langkah berajut kasih atau kebencian tanpa dasar?" tanya Sakura pelan dan menarik tangannya dengan sedikit tarikan tenaga.
Naruto tertunduk dalam.
"Kau tak menjawabku, kenapa kau menyerangku? Atau kau menyerang ayahku?"
Sakura tak melepaskan geseran emeraldnya pada sosok yang sedikit lebih tinggi darinya. Berdiri dengan jarak sedekat ini, seharusnya Sakura melayangkan pukulan ala karate dan bantingan ala juudonya ke Naruto.
Tapi ia tak sanggup.
Tapi ia tak mampu.
Tatkala menatap pemuda penakut hantu itu berdiri lemas di depannya, bahkan tak memiliki keberanian beradu pandang dengannya.
Sayup-sayup sampai terdengar kegaduhan di luar kamar, Sakura bisa mendengar sedikit pembiacaraan dan beberapa orang yang mendekat ke kemarnya.
"Seharusnya kita dari awal menjaga komandan, kenapa setelah baru diserang markas mengirim anggota khusu untuk menjaga? Ini bukan tindakan preventif namanya..."
"Sudahlah Anko, yang penting komandan baik-baik saja..."
Sakura maju selangkah dan berdiri disamping Naruto yang masih menunduk. Ia berbisik pelan namun sangat menyayat.
"Aku membencimu."
Dan tubuh pemuda lunglai itu menggigil. Bibirnya gemetar seperti orang kedinginan.
Terdengar satu isakan dalam ruangan gelap itu.
Entah isakan siapa.
Sakura berjalan menuju pintu dan membukanya.
Sosok Anko dan Yamato langung muncul dengan gestur juga akan membuka pintu.
"Kenapa ruangannya gelap sekali? Apakah komandan sudah menunjukkan tanda-tanda siuman? Kau sendiri tak apa Nona? Apa Zabuza melukaimu?" cecar Anko sembari mengintip ke balik punggung Sakura.
Sakura memiringkan posisi berdiri agar Anko dan Yamato bisa masuk ke dalam kamar. Gadis itu berbalik dan sedikit menyembunyikan keterkejutannya.
Naruto sudah tak lagi ada disana.
Namun kaca jendela yang tadi ia tutup kembali terbuka.
Yamato mencari remote dan menghidupkan beberapa lampu sementara Anko berjalan ke arah jendela dan menutupnya. "Angin malam tidak bagus untuk kesehatan Anda, Nona Sakura..."
Tatapan sedih emerald masih tak berpaling dari posisi remaja berambut hitam berantakan berdiri tadi. "Naruto..."
...
Di atap Rumah Sakit, beberapa petugas S.A.C memeriksa TKP. Terlihat dua kantong mayat diletakkan sejajar. Dibawah guyuran hujan, Rock Lee coba memahami makna dari ekspresi kapten sekaligus idolanya.
"Mahaguru... ada apa gerangan dirimu berwajah sesedih itu?" tanya Lee sesopan mungkin. Bahkan dengan kata-kata jadul.
Dua orang petugas mendekat dengan membawa satu tandu, satu kantong mayat dengan identifikasi tak dikenal terlebih dahulu diangkat dan dibawa menjauh dari TKP.
Guy menatap sedih satu-satunya kantong mayat yang tersisa.
"Momochi Zabuza..." suara Guy tenggelam oleh bunyi hujan, "Kau adalah anggota terbaik yang pernah dimiliki oleh Special Army Commando, kau dan Yagura bahkan menjadi wajah keadilan dari kami, para pembunuh berseragam."
"Wajah keadilan?" batin Lee, "Momochi Zabuza dan Yagura terkenal karena tak pernah membunuh hero selama masa baktinya..."
Guy kembali melanjutkan kalimatnya dalam sesak, "Kematian Yagura mengubahmu cara padangmu dalam kehidupan fana ini menjadi predator berdarah kebencian. Juga mengubahku dan Akasuna Sasori. Meski jalan yang kita tempuh setelah saat itu berbeda, aku masih menganggapmu sebagai rekan yang sangat kusegani."
Petugas pembawa tandu yang hendak mengangkut kantong mayat berisi jasad Zabuza menunda kerjanya dan ikut berdiri di belakang Guy, beberapa petugas lainnya juga ikut merapat.
"Aku menghormatimu." Guy meletakkan jemarinya yang merapat pada pelipis."Sungguh."
Rock Lee juga memberikan hormat pada kantong mayat tersebut diikuti semua petugas S.A.C disana.
Momochi Zabuza mendapatkan penghormatan terakhir dari rekan yang dulu menyelamatkannya. Juga dari seluruh petugas yang selama ini ia buru untuk dibunuh.
Wajah keadilan dari pasukan pemunuh berseragam itu telah pergi selamanya bersama pedang besar yang kini tak bertuan.
.
Naruto berjalan seorang diri di trotoar yang sepi karena semua pejalan kaki berteduh. Sesekali Naruto memukul pelan kepalanya.
Berharap suara Sakura yang terus bergema di dalam kerangka otaknya enyah menghilang.
"Aku membencimu."
"Aku membencimu."
"Aku membencimu."
Naruto terjatuh dengan kedua lutut menghantam kerasnya beton trotoar, ia menjambak rambutnya sendiri dan menengadah. Siraman hujan pada wajahnya membuat samar matanya yang sembab. Tetes demi tetes yang mengalir di pipinya menjadi tetes ambigu karena entah siapa pemiliknya.
Milik safir yang digertak oleh gadis merah muda atau milik langit yang saat ini sedang berpesta pora.
"Aaaaarrrrgghhhh!"
Dan Naruto meneriakkan semua kesakitannya.
To be continued.
