.

.

.

* Hissing *

.

.

.

Chapter 10

Hari mulai terlihat beranjak sore Shixun melirik jam tangannya. Menunggu Sehun yang tak kunjung pulang juga padahal sudah cukup lama anak itu perginya, tapi kenapa belum kembali juga?, bukannya anak itu hanya membeli bubble tea?, kenapa lama sekali?. Jujur ia mulai merasa khawatir pada adik kembarnya itu, walau Sehun sudah tak bisa dibilang anak kecil lagi yah siapa tau, jika terjadi sesuatu yang buruk menimpah anak itu. Dan Shixun sebagai kakaknya sudah jelas merasa sangat cemas. Ia baru saja akan berniat menyusul adiknya itu, jika saja yang telah dicemaskan tak lekas muncul dari arah jalanan sana.

"Shixun hyunggg..." seru riang Sehun berlari kecil menghampiri hyungnya itu.

"Yak, kau lama sekali bocah aku baru saja akan menyusulmu" ujar Shixun

"Maaf, tadi Hun harus mengantri panjang dulu, ini bubble tea punya hyung" Sehun mengangkat satu cup bubble tea itu ke Shixun, diterima baik oleh sang hyung.

"Oh ya hyung, Hun bertemu seseorang tadi ditaman"

"Ehm, seseorang?, siapa?" Tanya Shixun sambil menyeruput bubble teanya.

"Dia..." Shixun yang awalnya tidak begitu perduli siapa orang yang Sehun temui, ikut menolehkan wajahnya kearah yang tengah Sehun tunjuk guna melihat siapa sebenarnya orang itu.

"Oh Shixun..." panggil seseorang itu, berhasil membuat Shixun melebarkan kedua mata tajamnya. Seorang wanita tinggi yang memiliki senyuman sama sepertinya ada dihadapan mereka saat ini.

BUG

Bubble tea itu berhasil mendarat ketanah, menumpahkan seluruh isinya tak Tersisa. Sang pemilik bahkan tak memperdulikannya lagi, karena rasa terkejutlah yang justru telah membuat cup bubble teanya terlepas dari tangannya itu.

"Shixun, anakku..."

"Kau... i-ibu?" Sehun tau pasti hyungnya itu akan merasakan hal yang sama sepertinya kala mengetahui siapa sosok wanita diantara mereka itu. Terkejut wajar karena telah beberapa tahun yang lalu mereka terpisah dan kini hari ini mereka dipertemukan lagi, siapa yang tidak akan terkejut?.

TAP

TAP

GREB

"Oh anakku, ibu merindukanmu xunnie" Shixun yang tadinya sempat begitu terkejut kini diam saat wanita itu berlari dan meraihnya dalam sebuah pelukkan. Menatap kosong arah depan, Sehun bisa melihatnya dimana tak ada ekspresi apa pun tercipta diwajah tegas sang kakak. Bahkan saat kedua manik tajam mereka bertemu, hyungnya itu menatapnya dengan tatapan kosong saja.

"Ibu merindukanmu sayang... hiks" terdengar wanita itu mulai terisak. Sebelum merenggangkan sedikit pelukkannya ditubuh anak tertuanya.

"Shixun-ah, apa kau juga merindukan ibu sayang?" Shixun beralih pada ibunya tanpa ekspresi. Ia bahkan tak merespon apa pun dari pertanyaan sang ibu.

"Merindukanku?" Ia malah bertanya dengan nada datar.

"Tentu saja sayang, kau dan juga Sehun"

"Kenapa?"

"Eh?"

"Kenapa ibu merindukan kami?" Wanita itu terdiam sedikit tak mengerti akan Shixun yang justru bertanya seperti itu padanya. Anaknya itu juga terlihat biasa saja, tak seperti adiknya yang jelas menangis karena begitu merindukan dirinya.

"aku pikir ibu sudah melupakan kami?"

"m-mana mungkin ibu melupakan kalian"

"benarkah?"

"hyung…"

"lalu, bagaimana bisa ibu meninggalkan kami begitu saja waktu itu?, aku, ayah dan Sehun," wanita itu masih pada keterdiamannya, tak tau harus mengatakan apa sekarang karena tampaknya anak pertaanya itu tak suka dengan keberadaannya sekarang.

"i-itu…"

"ibu tega sekali, disaat seperti itu kau malah justru pergi meninggalkan kami, apa ada ibu tega seperti itu pada anaknya sendiri, dan sekarang ibu mengatakan merindukan kami?, ck konyol sekali" Shixun tersenyum miring, sungguh emosinya saat ini dalam keadaan tak tertahankan karena wanita didepannya sekarang. Sementara wanita itu tampak menundukkan kepalanya, ia tau jika anaknya benar tak menyukai dirinya lagi yang sebagai ibunya sendiri.

"aku rasa tak ada gunanya lagi ibu ada disini, karena kami sudah hidup jauh lebih baik, tanpa kau kami masih bisa bertahan, jadi pergilah menjauh dari kami!"

"Shixun hyungg…" seru Sehun mulai merasa takut.

"dan kau bukan lagi ibuku" nyonya Oh melebarkan kedua matanya terkejut saat apa yang telah ia dengar dari mulut anaknya sendiri. Ia sungguh tak percaya jika anaknya berkata seperti itu padanya.

"S-shixun, i-ibu..."

"Sudah aku katakan kau bukan ibuku lagi, dan aku sudah terlanjut kecewa padamu nyonya, jadi bisakah anda untuk pergi sekarang!" Wanita itu kembali menitihkan air matanya anaknya sudah sungguh membencinya, bahkan anak itu tak memanggilnya dengan sebutan ibu dan justru memanggilnya nyonya. Menyedihkan dirinya telah diusir oleh anaknya sendiri.

"Shixun hyung..."

"Sehun ayo kita masuk sekarang!" Shixun beralih menarik paksa Sehun agar masuk kerumah mereka meninggalkan ibu mereka yang masih terisak ditempatnya. Sehun sendiri hanya bisa pasrah ditarik seperti itu oleh hyungnya, ia sesekali akan menoleh kebelakang guna melihat ibunya disana.

"Ibuu..." lirihnya. Wanita ibu mengelap air matanya yang tak berhenti mengalir. Cukup lama berdiam disana, sebelum ia memutuskan berbalik badan untuk kembali karena merasa tak ada yang bisa ia lakukan lagi disana. Namun saat baru saja ia berbalik alangkah terkejutnya ia begitu kedua mata basahnya menangkap sosok pria tinggi berdiri didepan sana tak jauh dari tempatnya. Sosok pria yang tampak sama terkejutnya pula.

"Kau?"

"Oh Sehyuk"

.

.

.

~ Hissing ~

.

.

.

Sehun tak bisa melakukan apa pun sekarang, selain hanya berdiam didalam pelukkan hangat sang kakak kembarannya yang berdiri didekat kamar mereka. Menatap secara bergantian kedua sosok orang dewasa disana tengah duduk berhadapan. Ia bisa melihatnya dimana pria dewasa yang masih berstatus ayahnya menampilkan raut wajahnya sangat tak bersahabat Berbeda dengan wanita itu yang malah terlihat biasa saja.

"Apa yang membawamu kemari?" Pria itu pun memutuskan untuk mengawali pembicaraan mereka.

"Tidak ada, hanya kebetulan bertemu dengan Sehun ditaman, memintanya untuk membawaku kerumah kalian dan tentu ingin bertemu dengan anak pertamaku" balas wanita itu sambil beralih menatap Shixun disana.

"aku pikir kau sudah melupakan kami?"

"Untuk kedua anakku, tentu saja tidak karena aku ibunya"

"Oh, masih beranggap sebagai ibu yah?" Ujar tuan Oh sedikit menyindir wanita itu.

"Tentunya, karena bagaimana pun juga mereka darah dagingku dan aku yang telah melahirkannya"

wanita itu pun terlihat tak ingin kalah dalam pembicaraan mereka saat ini.

"Baiklah, karena kau sudah bertemu dengan mereka, bisakah kau pergi sekarang"

"Kau mengusirku Oh Sehyuk?" Tuan Oh mengangkat kedua bahunya tak perduli, karena jujur saja ia sudah merasa risih dengan keberadaan wanita yang telah menghianati keluarga dan cintanya itu. Dan Hey, ia baru saja Pulang dari kerjanya sangat lelah dan saat pulang kerumahnya malah dikejutkan oleh keberadaan wanita penghianat itu yang bisa-bisanya berdiri didepan rumah mereka. Pria itu semakin merasa lelah saja.

"Baik aku akan pergi, tapi sebelum itu aku ingin mengajukan sebuah permintaan"

"Permintaan?, apa itu?"

Nyonya Oh kembali Membawa tatapannya pada kedua anak kembar disana, menatap secara bergantian kedua anaknya itu dan berakhir pada yang paling kecil. Sehun yang melihatnya dengan mata tajam polos dan sedikit terlihat berkaca-kaca. Sebelum wanita itu kembali pada pria mantan suaminya itu, berdehem sedikit guna menenangkan dirinya sendiri.

"Hanya satu yang aku minta darimu..." tuan Oh mengernyit saat wanita itu menggantungkan ucapannya, menunggu kelanjutan dari sang wanita tersebut.

"Sehun, aku ingin Sehun ikut denganku" wanita itu akhirnya melanjutkan ucapannya dengan penuh keyakinan yang ia miliki, dan justru karena ucapannya barusan telah membuat pria itu tersentak terkejut.

"A-apa?"

"Aku ulangi, biarkan aku membawa Sehun ikut bersamaku, dia akan tinggal denganku dan merawatnya"

sebenarnya tak hanya ayah mereka yang terkejut, tapi kedua anak kembar itu pun sama terkejutnya terutama Sehun. Dimana ibunya mengatakan akan membawanya pergi bersamanya. Saat itu pula ia tidak tau harus apa.

"Apa alasanmu ingin membawanya?"

"Seharusnya kau tau Oh Sehyuk, mereka masih kecil aku ibunya, terutama Sehun dia membutuhkan seseorang untuk merawatnya dan juga tentu ia harus belajar bukan"

"Jika dia masih bersamamu, apa kau yakin bisa melanjutkan pendidikkannya seorang diri?" Tuan Oh tampak terdiam mencerna perkataan wanita itu. Ada benarnya juga apa yang disampaikan oleh mantan istrinya itu, dan ini semua mengenai masa depan kedua putra mereka. Ia juga sadar jika kedua anaknya itu masih bersamanya entah Bagaimana nasib mereka?, masa depan mereka?, tidak mungkin anak mereka tidak melanjutkan sekolahnya. Ia tak mau membuat kedua putranya menjadi anak yang tak berpendidikan. Apa lagi Sehun masih terlalu kecil pula. Hah, apa ia harus menyetujui permintaan wanita itu?.

"Tapi, mengapa kau hanya memilih Sehun?, lalu bagaimana dengan Shixun?, bukan kah dia juga harus belajar?" Tanya tuan Oh dan wanita itu melirik kearah Shixun yang malah menatapnya tak suka.

"Aku sebenarnya ingin membawa mereka berdua, tapi melihatnya seperti itu, pasti anak itu menolaknya, jadi aku memutuskan hanya akan membawa Sehun"

"Jadi kau mau memisahkan mereka?"

"Yah, seperti itu dan ini demi masa depan mereka" tuan Oh kembali terdiam sambil menatap bergantian kedua anaknya disana yang diam terus mendengarkan pembicaraan mereka. Merasa tak tega sebenarnya karena jika ia menerimanya maka kedua anak kembarnya itu akan terpisah jauh. Dan ia ragu keduanya akan mau menerimanya. Ia pun akhirnya menghela nafas pasrah, berpikir mungkin itu adalah jalan yang terbaik untuk mereka semua.

"Baiklah, kau bisa membawa Sehun" akhir dari keputusannya.

"Kau yang terbaik Oh Sehyuk" wanita itu tersenyum senang merasa legah karena mantan suaminya itu telah menyetujui permintaannya tersebut dan ia bisa membawa sang anaknya.

.

.

.

~ Hissing ~

.

.

.

Sehun terbengong menatap tak mengerti kedua orang dewasa didepannya itu, terlebih lagi mengapa semua barangnya dikemas didalam tasnya itu?, apakah mereka akan pergi lagi?. Ia beralih pada Shixun dimana hyungnya itu terlihat terdiam saja tak berbicara apa pun setelah usai pembicaraan ayah dan ibunya. ia didalam situasi membingungkan lagi. Ingin menanyakan sesuatu Sehun pun melangkah mendekati hyungnya itu.

"hyungie" panggilnya tanpa mendapatkan respon apa pun dari hyungnya itu yang masih dalam keterdiamannya. Ia pun bergerak menyentuh satu tangan hyungnya menggenggamnya erat seakan mereka tak bisa dipisahkan.

"Shixun hyung" panggilnya yang untuk kedua kalinya dan kini berhasil membuat Shixun mengangkat wajahnya menatap adik kembarannya itu.

"apa kita akan pergi lagi?, kemana?, kemana kita akan pergi?" Shixun masih terdiam untuk beberapa saat, sebelum membalas genggam tangan Sehun tatkala eratnya.

"kita tidak akan pergi, tapi Sehun harus ikut kesuatu tempat bersama ibu"

"kesuatu tempat?, tapi kenapa hanya Sehun saja?, hyung juga ikutkan?" Shixun tersenyum miris sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"hanya Sehun, hyung bersama ayah disini" saat itu Sehun terdiam sesaat, kedua manik tajamnya bergerak kesana-kemari menatap wajah rupawan sang kakak dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

"hyung, kita akan berpisah?" hanya senyuman lembut yang bisa Shixun berikan kepada adiknya itu, yang Sehun tau itu pertanda 'iya' dari jawaban hyungnya. Dan mulailah ia terisak pelan.

"hiks...hiks..."

"hey, kau menangis?" seru Shixun menyadari Sehun mulai terisak. adiknya itu justru menggelengkan kepalanya berkali-kali ingin menyangkalnya.

GREP

"Cengeng, itu saja menangis, bukan jagoan Sehun namanya, heum"

"hiks...hiks... Hun mau tetap bersama hyung hiks..." isak Sehun kini dalam pelukkan hangat Shixun.

"hyung tau, tapi kau harus tetap bertahan kau masih memerlukan keberadaan ibu"

"lalu hyung hiks... juga ayah?"

"kami bisa bertahan kok, hyung kuat tidak seperti Sehun yang masih cengeng"

"Hun tidak cengeng!"

Shixun terkekeh gemas melihat Sehun yang tengah mengerucutkan bibirnya begitu ia melepaskan pelukkan mereka.

"kalau tidak cengeng, berhentilah menangis!" dengan sayang ia mengelus kepala sang adik sambil tersenyum lembut.

"arra"

"jadi, Sehun akan ikut dengan ibu?"

"heum, tinggal bersama ibu diseoul" Sehun kembali memasang wajah murung menatap malu-malu pada hyungnys itu, sebelum kembali balik memeluk tubuh Shixun erat.

"Sehun akan merindukan Shixun hyung" lirihnya.

"hms, nado hyung juga akan merindukanmu adik kecil"

"Sehun, Shixun!" mereka terpaksa melepaskan pelukan itu saat ayah mereka memanggil. lantas keduanya pun berjalan keluar rumah menghampiri kedua orang tuannya. Sehun rasanya kembali ingin menangis kala melihat sudah ada sebuah mobil hitam didepan halaman rumah mereka dan juga tasnya sudah dimasukkan kedalam bagasi mobil tersebut.

"Sehun ayo kita pergi sekarang" Seru ibunya disana. Ia tak hiraukan yang justru berbalik menatap ayah juga hyungnya dengan tatapan sendu.

"ayah... S-Sehun tak ingin pergi" lirihnya, membuat tuan Oh berdelik padanya.

"Sehun jangan manja, cepat pergi bersama ibumu"

"tapi, Sehun ingin bersama ayah juga hyung hiks..."

"Sehun!" Sehun kembali menangis karena ayahnya terlihat mengusirnya sekarang.

"tidak, kau harus ikut dengan ibumu!" tuan Oh menegaskan walau sebenarnya ia tak tega, tapi apa daya demi masa depan anaknya ia harus melakukannya.

"hyungg... hiks...S-Sehun hiks..."

"Sehun pergi!" bentak tuan Oh, membuat Sehun terkejut takut untuk pertama kalinya ayahnya itu membentaknya.

"hiks... ayah...hiks..."

"Sehun kita harus pergi sekarang" Sehun mulai meronta saat ibunya mulai membawanya paksa.

"Tidak, lepaskan Sehun hiks... Sehun tak mau pergi, Sehun ingin bersama ayah... hyunggg... hiks" rontanya histeris, bergerak kesana-kemari ingin dilepaskan tapi sulit baginya karena ia justru dipegang oleh dua orang pria berjas hitam suruan ibunya itu. membawanya menuju mobil hitam didepan sana.

"lepaskan, hiks... aku tidak mau pergi!, lepaskan akuuu... hyungg... tolong Sehun...Shixun hyunggg..." jerit Sehun menjadi dengan wajah basahnya mengulurkan satu tangannya kearah beradanya ayah dan hyungnya itu, hendak meminta dilepaskan. Namun ayah dan hyungnya hanya bisa melihatnya terdiam bahkan Shixun tanpa sadar sudah ikut menangis pula. sungguh ia tak tahan melihat Sehun seperti itu.

"AYAH, HYUNGGG... LEPASKAN SEHUNNN... SEHUN TIDAK MAU PERGI...AYAHHH...SHIXUN HYUNGGG HIKS...HIKSSS..." Hingga akhirnya Sehun telah berhasil dimasukkan kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumah mereka.

"Sehun maafkan ayah" lirih tuan Oh sebelum memutuskan masuk kedalam rumahnya. meninggalkan Shixun yang mematung pada tempatnya.

"selamat tinggal adikku..."

.

.

.

~ Hissing ~

.

.

.

Satu Tahun Kemudian...

PRANG

"SUDAH KUKATAKAN AKU TIDAK MAU MAKAN BODOHH..."

"Tapi tuan mudah, anda harus makan ini perintah dari nyonya Jang"

"siapa yang perduli, jadi keluar sekarang juga!"

seorang pelayan memutuskan untuk menyerah keluar dari kamar tuannya yang luas itu setelah memungut beberapa alat makan yang telah dibuang oleh tuan mudanya itu. Sementara itu didalam kamar tersebut seorang namja tinggi dengan murkanya menghamburkan semua barang-barang yang ada didalam kamar miliknya itu tak perduli. bahkan beberapa kali ia melemparkan bantal kesana-kemari membuat kamar yang luas itu jadi terlihat berantakan seperti kapal pecah.

Drrtt...Drrtt...

Ia menghentikan aksinya saat sebuah ponsel diatas nakas berdering, dengan cepat ia raih ponsel itu.

"ada apa?"

"..."

"benarkah?, kalau begitu besok aku akan kesana"

"..."

"tentu saja mengunjunginya, kau tau aku sudah sangat merindukan kembaranku itu"

"..."

"okeh, jemput aku yah besok, aku tunggu!"

PIP

Ia tersenyum lebar saat baru saja ia mendapatkan sebuah kabar gembira dari seseorang yang menelphonenya tadi. kabarnya sungguh membuatnya begitu tak sabar menanti datangnya hari esok.

"Shixun hyung, aku akan segera bertemu denganmu dan juga ayah" serunya riang.

.

.

.

~ Hissing ~

.

.

.

Sehun dengan diam-diam keluar dari kelasnya, berlari secepat mungkin agar dirinya tak tertangkap basah oleh gurunya didepan kelas sana tengah menerangkan pelajarannya. Berhasil kabur ia langsung keluar dari gedung sekolah itu menuju gerbang utama. Ia terhenti mendadak karena mendapati dua orang pria penjaga gerbang berdiri didepan sana. ahh sial ia harus menghadapi dua orang dewasa itu terlebih dahulu sebelum benar-benar bisa meninggalkan area sekolahnya. maka dengan bersikap santai ia melanjutkan langkahnya.

"hey, kau mau kemana bocah?" tanya salah satu penjaga itu tengah menghadangnya langsung.

"bisakah ahjussi minggir, aku ingin lewat!" balas Sehun santai.

"kau membolos yah?, hey sebaiknya kau kembali bocah sebelum gurumu menghukummu" Sehun terkekeh mengejek.

"siapa takut?, kalian tidak tau siapa aku?"

"wahh, bocah ini kurang ajar sekali dia, cepat kembali sebelum kami melaporkanmu pada guru disini!"

"Oh Sehun, anak tunggal keluarga Jang!, kalian pasti tau siapa keluarga Jang itu?" kedua pria itu tampak terkejut mendengar ucapan Sehun barusan. tapi sedetik kemudian mereka malah tertawa menyebalkan bagi Sehun.

"oh, jadi kau bocah yang bernama Sehun itu?, bocah berandal yang selalu mencari masalah"

"hahaa... aku pikir seperti apa bocah berandalan itu, ternyata benar seorang bocah" Sehun mulai kesal dengan dua pria ini, mereka berkata seakan mengejeknya bahkan mengatainya bocah. ck, itu adalah hal yang paling Sehun benci dari dulu. Lantas Sehun mulai memasang ekspresi datar andalannya jika ia sudah mulai merasa kesal.

"Minggir kalian!" pintanya tegas. menghentikan tawa aneh dari kedua pria itu.

"wahh, sungguh berani yah, mau melawan heoh?!"

"bocah sepertimu bisa ap-"

BUG

"AKHH"

BUG

BUG

BRUK

"akhh... s-sial"

"jangan meremehkanku ahjussi, sudah kubilang minggir, ck dasar orang tua payah!" setelah mengucapkan itu Sehun langsung pergi meninggalkan kedua pria yang sebelumnya telah ia pukul mereka hingga keduanya tersungkur ditanah dengan menahan rasa sakit akibat pukulan keras dari Sehun.

"sial, lebih baik kita laporkan langsung kepada nyonya Jang"

"eoh, biar bocah itu tau rasa, akhh... sial rahangku sakit sekali"

Sementara itu didalam sebuah mobil...

"kau memang hebat soal melarikan diri Hun"

"hehe... siapa dulu Oh Sehun"

"ck, dasar bocah"

"hey, siapa yang kau sebut bocah hyung?, aku bukan bocah ingat itu!"

"okeh, baiklah kau bukan bocah"

Sehun tersenyum senang bukan karena apa, sebentar lagi ia akan bertemu dengan Hyungnya itu. Namja yang sama tampannya dengan dirinya sekarang, ia merasa penasaran seperti apa sekarang wujub hyung kembarannya itu?, apa tak jauh beda dengan dirinya?, atau malah jauh lebih tampan darinya?. ahh sungguh seperti apa pun penampilan hyungnya itu yang terpenting sekarang Sehun merindukannya. Ia ingin lekas sampai dirumah mereka dulu yang jelas masih ditempati oleh ayah dan juga hyungnya itu. Saat ini ia sengaja membolos hanya untuk bertemu dengan mereka, tak perduli jika saat pulang nanti dirinya akan dimarahi oleh ibunya itu. yang terpenting sekarang ia akan bertemu dengan kedua orang yang sangat ia cintai dan itu membuatnya tampak bahagia.

"Sehun ada yang aneh" Sehun tersentak dari lamunannya saat seorang namja yang tengah duduk disampingnya itu memanggilnya.

"aneh apa hyung?" tanya tak mengerti.

"coba kau lihat, dua mobil dibelakang kita!" tanpa basa-basi Sehun menolehkan kepalanya kearah belakang mereka. Terlihat dimana dua mobil melaju tepat dibelakang mobil yang mereka kendarai, mobil hitam yang seperti tak asing bagi Sehun. Saat itu ia menggeram kesal.

"Shit, itu mobil pesuruh ibuku!" geramnya kembali berbalik kedepan.

"apa?" "sebaiknya kau harus melaju hyung, mereka mengikuti kita!"

"oh, okeh"

BRAMMM...

Mobil mereka semakin melaju guna menghindar cepat dari kedua mobil dibelakang sana dan sialnya benar apa yang Sehun duga, mereka memang mengikuti mobil Sehun bersama Young Jin namja yang duduk disampingnya itu.

"cepat hyung!, mereka semakin dekat" teriak Sehun.

"sial, mereka benar-benar menantang rupanya" Young Jin membanting setirnya kekanan guna menyelip laju pada mobil didepan mereka semakin menghindar tentunya. Tapi tampaknya kedua mobil yang tadinya berada dibelakang mereka, kini telah disisi kanan-kiri mobil mereka tak mau kalah. Cepat sekali lajunya pikir Sehun.

"Brengsek, mereka cepat sekali" Umpat Sehun cukup merasa panik.

"tengang Hun, serahkan semuanya pada Hong Young Jin ini!" Sehun menyeringai mencoba tetap bersikap santai, karena ia yakin hyungnya satu ini pasti akan membuatnya merasa percaya akan kemampuan namja itu.

"Baiklah, aku akan menikmatinya" seru Sehun sambil menolehkan wajahnya kesamping tepat pada mobil yang tengah mengejar mereka. sebelum ia kembali menyeringai dan mengayungkan satu tangannya memberi mereka satu jari tengahnya keatas.

.

.

.

~ Hissing ~

.

.

.

"wuhh... yang tadi itu keren hyung"

"hahaha... siapa dulu Hong Young Jin" Mereka tertawa bersama saat akhirnya mereka berhasil lolos dari kedua mobil yang mengejar mereka tadi, dan saat ini mereka berada dijalan pinggir sungai Han.

"lain kali aku mau seperti itu hyung"

"oh, tentu saja kau bisa, asalkan kau mau belajar dengan hyung"

"jinjja?, jadi aku bisa belajar mengemudi dengan hyung?" seru Sehun terlihat antusias.

"geurae, aku akan mengajarimu menyetir"

"yes, thanks hyung, aku ingin seperti hyung menjadi pembalap"

"haha... kau ini" Young Jin tertawa melihat Sehun yang sepertinya begitu ingin belajar menyetir darinya, baginya Sehun itu sudah seperti adik kandungnya sendiri. makanya ia selalu menuruti apa kemauan bocah itu karena ia juga tau bagaimana permasalahan keluarga Sehun.

"jja, kita pergi sekarang?, kau mau kerumah ayahmu bukan"

"ah, ne kajja kita pergi hyung"

"okeh" Mobil mereka pun kembali melaju yang kini menuju sebuah alamat tepat dimana rumah ayahnya berada, karena memang itulah tujuan Sehun sebenarnya.

Setelah menempuh beberapa menit diperjalanan kini kedua namja itu sampai pula disebuah alamat. Tepat didepan sebuah rumah yang tak asing mobil itu berhenti. Sehun melihat sejenak kearah rumah tersebut sebelum ia memutuskan untuk keluar dari mobil itu.

"ini alamat rumahnya?" tanya Young Jin yang juga sudah keluar dan berdiri disamping Sehun. "yah, ini alamatnya"

"mau masuk?" sekilas Sehun menatap Young Jin sambil mengangguk hingga mereka pun melangkah mendekati rumah tersebut.

"kenapa terlihat sepi?"

"ah, mungkin mereka sedang keluar" mereka telah berdiri didepan pintu rumah itu melihat sekitar. Dan Sehun pun mulai mengetok pintu tersebut.

TOK

TOK

TOK

"permisi, Ayah, Hyung... ini Sehun, apa kalian ada didalam?" seru Sehun sambil terus mengetok pintu itu.

TOK

TOK

TOK

"ayah, Hyung ini Sehun, ayah..."

"sepertinya mereka memang tak ada dirumah Hun" kata Young Jin, membuat Sehun menghela nafas. mungkin benar apa yang dikatakan Young Jin mereka sedang diluar. padahal Sehun sudah benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan mereka.

"lalu sekarang apa?"

"mungkin menunggunya sebentar, tak jadi masalahkan?"

"terserah kau saja"

Hhhh...

kembali menghela nafas menunggu mungkin memang tak masalah, siapa tau mereka sebentar lagi akan pulang bukan. Sehun memutuskan untuk melihat-lihat sekitar rumah mereka. memang tak ada yang berubah semenjak ia meninggalkan rumah ini. ahh mengingat masa lalu membuat Sehun semakin tak sabaran dan sangat merindukan mereka.

"ehemm... permisi, maaf kalian siapa?" Sehun berpaling saat mendengar seserang bertanya dan datang entah darimana menghampiri mereka. seorang nenek tidak terlalu tua sebenarnya, tapi wajahnya malah tak asing bagi Sehun.

"ah, kami dari Seoul ingin bertemu dengan pemilik rumah ini, apa mereka ada?" Young Jin yang menjawab.

"pemilik rumah ini yah, sebenarnya sejak setahun yang lalu rumah ini sudah kosong"

"A-apa?" itu suara Sehun yang terkejut.

"ne, karena pemiliknya tak lagi menempatinya"

"l-lalu dimana mereka sekarang?, apa mereka pindah?, jika benar apa anda tau dimana mereka pindah?" Sehun terlihat antusias menunggu jawaban dari nenek itu, karena jujur ia begitu terkejut saat nenek ini bilang bahwa pemilik rumah ini telah tiada. itu tandanya ayah dan hyungnua tak lagi tinggal dirumah mereka. dan ia semakin dibuat penasaran karena nenek itu terlihat aneh raut wajahnya terlihat cemas dengan kedua tangannya bergerak gelisah.

"mereka tidak pindah, hanya saja karena memang mereka tidak bisa menempati tempat ini"

"maksud nenek apa?"

"mereka..."

.

.

.

~ Hissing ~

.

.

.

BRAK

"Ah, yaampun siapa yang-, Sehun?" wanita itu terkejut saat pintu ruangan kerjanya didobrak kasar oleh seseorang dan terlebih lagi pelakunya adalah anaknya sendiri.

"Sehun, kau mengejutkan ibu kau tau itu, dan ada apa datang kemari heum?, bukannya ini belum jam pulang?" Sehun tak berkata apa pun diam berdiri menatap tajam pada wanita itu.

"Sehun kenapa diam?" ibunya pun membalas tatapannya menunggu ia berucapkan sesuatu.

"kau... katakan apa yang terjadi pada ayah dan Shixun hyung?" dengan nafas yang naik-turun Sehun pun bersuara pula.

"a-apa maksudmu sayang?"

"cepat katakan!, apa yang terjadi pada mereka?, dan dimana mereka sekarang?" wanita itu mulai terlihat gelisah dengan air muka yang memucat. secepat itu kah Sehun mengetahuinya?.

"S-Sehun, ibu tak mengerti apa yang-"

"keterlaluan!" nyonya Oh tersentak tubuhnya menegang seketika Sehun sungguh terlihat dalam keadaan yang memburuk.

"Sehun, ibu bisa jelas..."

"tak perlu, aku sudah mengetahui semuanya, sungguh kau begitu keterlaluan nyonya Jang"

"begitu inginnya kah kau memisahkanku dengan mereka?, SAMPAI HAL SEPERTI INI PUN KAU MENYEMBUNYIKANNYA DARIKU?" Wanita itu tetunduk sedih menyembunyikan wajahnya yang mulai terbasahi oleh air mata, ia tau setelah ini anaknya itu akan semakin membencinya.

"ck, dasar wanita jahat, kau telah memisahkan kami, sekarang kau menyembunyikan semua ini padaku, sungguh keterlaluan" Sehun tersenyum miris betapa sakitnya hatinya sekarang. ibunya itu sudah sungguh keterlaluan padanya. ini adalah sebuah kenyataan yang sangat terpahit ia rasakan Lebih kejam saat ia kecil dulu.

"Aku membencimu ibu..." nyonya Oh terdongak saat mendengar dengan jelas apa yang telah Sehun ucapakan.

"sehun, hiks dengarkan ibu dulu hiks..."

"aku tak mau mendengar apa pun darimu, dan aku sungguh membencimu nyonya Jang, JIKA SAJA WAKTU ITU KAU TIDAK MEMISAHKAHKU DENGAN MEREKA, SEMUA INI TIDAK AKAN PERNAH TERJADI, MEREKA TIDAK AKAN MENINGGALKANKU SEPERTI INI...mereka...mereka benar-benar pergi"

"dan aku pastikan, kau akan mendapatkan balasannya, jadi mulai saat ini, aku Oh Sehun bukan lagi anakmu... aku membencimu nyonya Jang!"

setelah meluapkan keemosiannya, Sehun berlalu keluar dari ruangan itu. meninggalkan ibunya seorang diri.

BRUK

"Hiks...Sehun... hiks...maafkan ibu nak...hiks m-maafkan ibu hiks..." merosotkan tubuhnya jatuh kelantai dengan tangisan pilu. pada akhirnya anaknya akan mengetahui semua yang telah ia simpan rapat. Saat Sehun mengetahui semuanya.

Sementara itu Sehun berlari keluar dari rumah besar keluarga Jang. terus berlari entah kemana. pikirannya sangat kacau balau, hatinya pun berdenyut sakit, sangat sakit saat ia telah mengetahui satu fakta mengenai ayah dan hyungnya selama ini. kedua orangnya selalu ia rindukan.

'mereka sudah tiada, sekitar satu tahun yang lalu, mereka seorang pria dan anaknya mengalami sebuah bencana, maksudku kabarnya mereka telah meninggal, karena sebuah kecelakaan menimpah mereka'

'sebuah bus wisata dinyatakan lepas kendali dan berhasil menabrak dua orang dipinggir jalan, mengakibatkan semuanya dilarikan kerumah sakit, dan satu orang tersebut telah tewas ditempat sementara seorang lainnya yang diyakini anak dari seorang pria yang tewas itu, dinyatakan mengalami sekarat sempat dirawat dirumah sakit beberapa hari, sebelum akhirnya anak itu menghembuskan nafas terakhirnya, aku mengetahuinya karena mereka berdua adalah ayah dan anak yang dulu menanyakan tempat tinggal padaku beberapa tahun yang lalu, aku sangat tak menduganya jika mereka pergi secepat itu, aku sangat sedih menerima kabar duka yang menimpah mereka'

TES

TES

"Ayah... hyung...hiks...hiks... mengapa kalian pergi meninggalkanku?, kenapa harus secepat ini?, kenapa?, hiks..." Sehun berhenti berlari berdiri mematung didepan sebuah danau ditaman. menangis pilu akan berita tersebuh ia sangat terlihat kacau.

BRUK

Sebelum ia menjatuhkan pula tubuhnya kebawah sambil meremas kepalanya yang terasa pusing.

"hiks... kalian tega padaku hiks, meninggalkanku sendiri hiks... aku harus apa sekarang?, ayah dan Shixun hyung...hiks"

tangisnya tak berhenti ini sungguh kenyataan yang sangat pahit dan mengapa ini terjadi padanya?, seakan Tuhan benar mempermainkan hidupnya. sudah cukup dulu ia dicampakkan oleh ibunya dan kenapa sekarang ia harus kehilangan dua orang yang ia cintai?. apa salahnya selama ini?, adakah ia berbuat dosa?, dosa besar hingga Tuhan memberikan semua cobaan ini padanya. yang jelas ia sendiri sekarang, seorang diri tanpa ayah dan hyungnya yang ia rindukan itu. seorang diri merasakan semua kepahitan ini.

entah apa yang ada dipikiran Sehun saat ini, tanpa ragu ia menceburkan dirinya kedalam danau tersebut. membiarkan dirinya tenggelam didasar danau itu. membiarkan nafasnya yang mulai habis, bahkan mengacuhkan rasa sesak serta sakit luar biasa dihatinya. ia tak perduli karena yang inginkan sekarang menyusul mereka dialam sana, bertemu dan melepas rindu pada ayah juga hyungnya. hanya itu yang saat ini Sehun inginkan.

'Ayah dan Shixun hyung... tunggu aku, Sehun akan ikut bersama kalian dan kita akan tetap bersama selamanya...'

Flashback End

~ Hissing ~

"ARRGHHH..."

"SEHUN HENTIKANN!"

BUG

BRUK

"OH SEHUNNNN!" Kai mencoba memdekat hendak menahan Sehun yang terus bertindak kacau.

GREB

Hingga ia menahan tubuh Sehun dari belakang, tapi bukannya berhenti Sehun justru semakin bergerak tak terkendali membuat Kai mulai kewalah sendiri.

"Sehun kumohon sadarlah, Sehun"

"lepaskan aku!" ujar Sehun penuh penekanan.

"tidak, sebelum kau berhenti"

"AKU BILANG LEPAS BRENGSEK!"

SRET

BUG

"Akh" Kai terlempar begitu saja karena Sehun dengan kuatnya menyentakkan tubuhnya. mengakibatkan sahabatnya itu tersungkur ketanah.

"Kai, ah sial, Sehun berhenti bodohh!" kini Chanyeol yang bertindak dengan sigap ia melakukan hal yang sama seperti kai, bedanya ia menahan tubuh Sehun dari samping yang masih saja bergerak seperti kesurupan setan.

"Sehun berhenti dan sadarlah!"

"kau minggir"

"tidak akan"

"Minggir!"

"tidak, tak perduli kau memukulku sekalian" Sehun semakin geram ia juga menyentakkan tubuh Chanyeol, namun tak berhasil kali ini. Hingga Suho datang pula mengambil tempat berdiri didepan Sehun.

"Sehun dengarkan aku, sadarlah jangan dengarkan perkataan mereka!, kau taukan mereka hanya ingin membuatmu kalah, jadi jangan seperti ini, hentikanlah sebelum kau membuat mereka terbunuh heum!"

mendengar ucapan Suho entah mengapa Sehun sedikit menenangkan dirinya. tatapannya tak lagi setajam tadi, tapi kini justru terlihat teduh dan kosong. Sebelum akhirnya Chanyeol dapat merasakan tubuh Sehun melemah dan jatuh terduduk ditanah.

"Chan, kau bantu Kai disana, beres mereka semua!" Pinta Suho.

"ne, hyung"

Chanyeol pun langsung membantu Kai yang menghajar para anak buah Ha Jin. sedangkan ketua Devil itu entah sejak kapan sudah menghilang dari lapangan itu bahkan Ji Hoo pun juga sudah kabur, sungguh sial padahal Kai tadi ingin sekali memberi pelajaran pada namja pengecut itu. Suho yang masih pada posisinya, menatap prihatin akan kondisi Sehun saat ini, ia tau apa yang tengah dirasakan oleh ketua mereka. Dengan perlahan ini kembali menenangkan namja pucat itu, ia berjongkok didepan Sehun yang menunduk.

"hey, jagoan kau tidak apa-apa?" Sehun menghela nafas pelan, nafasnya sudah terdengar stabil tidak seperti tadi yang sangat kacau.

"hmm, aku tak apa" balas Sehun

"lupakan, apa pun yang telah mereka katakan padamu" Suho menyentuh satu pundak Sehun.

"aku tau, hyung... gomawo" senyuman tipis tercipta diwajah rupawan Suho merasa sedikit legah karena ketuanya itu dapat dikendalikan lagi.

"itu gunanya sahabat dan juga... hyung untukmu" Sehun mengangkat wajahnya untuk tersenyum pula, kemudian ia beranjak bangun dari duduknya. hendak berbalik tapi sesuatu hampir saja terjadi jika ia tak sadar dan bergerak lagi.

"Sehun"

Ia sedikit menahan sakit saat tangannya menahan kuat pisau itu. yah salah satu anak buah Ha Jin menyerangnya tiba-tiba dengan sebuah pisau ditangannya. karena terkejut Sehun berhasil menghindar, namun ia menahan pisau itu dengan tangannya. hingga menyebabkan telapak tangannya itu robek dan teriris.

SRET

BUG

selanjutnya ia langsung menendang anak buah Ha Jin hingga terhempas ketanah.

"hey, tanganmu"

"tak apa hyung, kalau begitu aku pergi dulu, tolong bereskan mereka semua"

Suho terdiam menatap kepergian Sehun bersama mobil sport hitam itu. Memaklumi mungkin saja ketua mereka butuh waktu sendiri, karena bagaimana pun juga ia tau apa yang telah menyebabkan namja bermarga Oh itu sempat menjadi tak terkendali. Karena semua itu berkaitan dengan masa lalu sang penguasa tersebut.

.

.

.

~ T.B.C ~

.

.

.


hay Hissing chap 10 hereee...

huft... akhirnya chap flash back sehun udah kelar, maaf yah bagi kalian yang udah minta hunhan moment untuk chap ini author belum bisa kasih soalnya emang mau kelarin dulu masa lalunya sehun, dan InsyAllah next chapnya bakal author kasih...

okeh nin dah lanjut yah, soal kemarin itu kepotong lhoo... jadi kemarin tuh lagi mau update, ehh pas udah gitu malah jadi kepotong makanya nama-nama pada readers cuma sebagian yang kesebut, yaudah ni author ulang moga gk kepotong, pa lagi cuap-cuap panjang yang author beri kkkk~

Thanks to :

All Guest/ Oh Grace/ ChagiLu/ ParkNada/ tchandra07. tc/ Junia. Angel. 58/ Okta HunHan/ mr albino/ Khalidasalsa/ hihinvitaa/ Devia494/ laabaikands/ hunexohan/ exoinmylove/ Ohluhan07/ Choikim1310/ Aura626/ Arifahohse/ nhiehhs520/ Vietrona chan/ karinaalysia2047/ BigSehun'sJunior/ Lisasa Luhan/ yeolbuzz/ LufansIna/ Oohdeerlu/ Hhslovers/ renaldooo/ Oktaviana pyromaniacs/ Summer Mei/ laskha40hunhan/ Sherli898/ nik4nik/ Albino's Deer/ A. hunhan. taoris/ heeli/ DEERHUN794/ Kim lulys/ Dewi Ratna/ ChikasikiHunHan947/ Rikailu/ Vyrexo's/ ZzzxHan/ Elisye Het/ deerwinds947/ Siti409/ WulanLuLu/ Honeybbh/ Ori. aurel/ liu13769/ Wijayanti628/ nandaputri/ Nia Luhannie/ deerhanhuniie/ Novey/ Chan963/ Vadiapark936/ Skymoebius/ LisnaOhLu120/ anisaberliana94/ aka410/ Kim213/ Wind Blow/ Seravin509/ Evil L/ Oh Zhiyulu Fujoshi/ Samiyatuara09/ Kiney/ hunhan1220/ Karina/ Nicky Kim/ HunHan.

And special to leemomo. Chan520, eonniku yang cantik jeonmal gomawo... karena dirimu adalah penyemangat utama diriku untuk ff ini *alahhapadah XD... eonni selalu memberi author pendapat untuk ff ini saat diriku dilanda dilema... tanpa dirimu ff ini gk maju-maju hehehee... XD mulai ngaco dah, okeh untuk semuanya terima kasih yahh... karena sudah mau memberi berbagai macam kesan untuk ff author dan juga thanks yang sudah follow dan favorite ff ini... Mian yang namanya gk kesebut dan kalo ada penulisan nama yang salah, karena manusia tak luput dari kesalahan, yo wess udahan dulu... Sampai jumpa dinext chap depan

ByeByeee...

xdhinnie0595

17/01/16